Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika. Vol. No. Des. Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika e-ISSN: 2621-8135 Terakreditasi No: 79/E/KPT/2023 (Sinta . http://w. stt-tawangmangu. id/e-journal/index. php/fidei p-ISSN: 2621-8151 Vol. 8 No. 2 (Des. hlm: 257-276 DOI: https://doi. org/ 10. 34081/fidei. Diterbitkan Oleh: Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu Panggilan Perempuan Perspektif Edith Stein dan Relevansinya bagi Kehidupan Gereja Katolik Masa Kini Petrus Thomas Sama Kowe,1 Herman Punda Panda,. * Oktovianus Naif3 1,2,. Fakultas Filsafat. Universitas Katolik Widya Mandira. Indonesia *) Email: Hermanpanda02@gamail. Diterima: 27 Feb. Direvisi: 06 Agustus 2025 Disetujui: 08 Agustus 2025 Abstract This article examines the calling of women from the perspective of Edith Stein and its relevance to contemporary church life. Despite the significant contributions women have made throughout the history of the church, they are often marginalised in leadership roles and active participation. This research aims to explore Stein's thoughts on the identity and role of women to address the challenges faced by women within the Catholic Church. Drawing on literature studies and a comprehensive analysis of Stein's works, this article demonstrates that an understanding of women's experiences and callings can enrich pastoral and theological practices. This study aims to connect Stein's philosophical insights with contemporary gender issues and provides practical recommendations for enhancing the voice and role of women in ecclesiastical life. Consequently, the article contributes to the discourse on gender justice within the contexts of theology and pastoral care, while providing a fresh perspective on the role of women in the church's mission in the modern era. The conclusion drawn is that Stein's thought remains relevant and can be applied to foster a more inclusive environment for women within church communities. Keywords: Catholic Church. Edith Stein. Feminist Theology. Gender Justice. Women's Calling. Abstrak Artikel ini mengkaji panggilan perempuan dari perspektif Edith Stein dan relevansinya bagi kehidupan Gereja Katolik masa kini. Meskipun perempuan memiliki kontribusi signifikan dalam sejarah gereja, mereka seringkali CopyrightA2025. Petrus T. Kowe. Herman P. Panda. Oktovianus Naif. Lisensi karya ini di bawah: Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License (CC BY-SA 4. | 257 Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika. Vol. No. Des. terpinggirkan dalam peran kepemimpinan dan partisipasi aktif. Tujuan penelitian ini adalah mendalami pemikiran Stein tentang identitas dan peran perempuan sebagai solusi untuk menjawabi tantangan yang dihadapi perempuan dalam Gereja Katolik. Dengan menerapkan metode studi pustaka, dan analisis mendalam terhadap karya-karya Stein, artikel ini menunjukkan bahwa pemahaman akan pengalaman dan panggilan perempuan dapat memperkaya praktik pastoral dan Penelitian ini berupaya menghubungkan antara pemikiran filosofis Stein dan isu-isu gender masa kini, serta memberikan rekomendasi praktis untuk meningkatkan suara dan peran perempuan dalam kehidupan gerejawi dalam konteks Gereja Katolik. Dengan demikian, artikel ini berkontribusi bagi diskusi mengenai keadilan gender dalam konteks teologi dan pastoral, serta menawarkan perspektif baru tentang peran perempuan dalam misi gereja di era modern. Kesimpulan yang diambil adalah bahwa pemikiran Stein tetap relevan dan dapat diterapkan untuk menciptakan lingkungan yang lebih inklusif bagi perempuan dalam komunitas gereja. Kata-Kata Kunci: Edith Stein. Keadilan Gender. Gereja Katolik. Panggilan Perempuan. Teologi Feminis. Pendahuluan Peran perempuan dalam kehidupan gerejawi telah menjadi topik yang menarik perhatian dalam beberapa dekade terakhir. Dalam sejarah dan tradisi gereja, perempuan memainkan pula peranan penting dalam kehidupan dan kegiatan kerasulan gereja. Dewasa ini pada umumnya peranan perempuan dalam kehidupan tampak mengalami perkembangan yang begitu signifikan. 1 Namun demikian, masih terdapat marginalisasi kaum perempuan, terutama mereka yang hidup di wilayah-wilayah yang belum berkembang, di mana masih sering suara dan kontribusi mereka diabaikan dalam struktur kepemimpinan, dan juga masih terpinggirkan dari pengambilan keputusan. Selain itu mereka juga rentan terhadap 2 Situasi seperti ini menciptakan kesenjangan yang signifikan antara ideal gerejawi dan praktik aktual dalam kehidupan komunitas beriman. Dalam konteks ini, pemikiran Edith Stein, seorang filsuf dan teolog yang berfokus pada identitas dan panggilan perempuan, memberikan wawasan yang mendalam tentang pentingnya peran perempuan dalam gereja. Dalam sejarah, gerakan peranan perempuan dalam Gereja Katolik dapat Ardianto Lahagu et al. AuKesetaraan Gender Dan Panggilan Perempuan Dalam Pemberitaan Injil,Ay Jurnal Teologi Gracia Deo 6, no. : 12, doi:10. 46929/graciadeo. Fransesco Agnes Ranubaya and Yohanes Endi. AuKesetaraan Gender: Perempuan Dalam Perspektif Ajaran Gereja Katolik Menurut Gaudium Et Spes,Ay Kamaya: Jurnal Ilmu Agama 6, no. : 8, doi:10. 37329/kamaya. Panggilan Perempuan, . (Petrus T. Kowe. Herman. Oktovianu. A(Petrus Yuniant. beberapa gelombang. Gelombang pertama . ntara abad ke-4 . Santy Sahartia. dikenal sejumlah perempuan kudus dan pelayan rohani seperti Santa Monika. Santa Perpetua. Santa Felisitas, dan Santa Katharina dari Siena. Karakteristik mereka berfokus pada kehidupan mistik, dan beberapa di antaranya adalah pendiri tarekat religius. Gelombang kedua . khir abad ke-19 - awal abad ke. ditandai dengan kesadaran intellektual, dan munculnya sejumlah perempuan Katolik yang menulis, berteologi secara sistematik, terlibat dalam diskursus filsafat dan pencarian identitas kaum perempuan. Santa Edith Stein berada pada gelombang ini, bersama dengan Simone Weil. Dorothy Day. Gelombang ketiga yaitu setelah Konsili Vatikan II . 0-an -1990-a. , muncul sejumlah teolog feminis Katolik dengan tokoh-tokoh penting seperti Rosemary Radford Ruether. Elisabeth Schyssler Fiorenza, dan Ivone Gebara. Mereka mendorong partisipasi perempuan dalam struktur gerejawi, termasuk diskusi tentang kemungkinan tahbisan perempuan dalam Gereja Katolik. Paling akhir . 0-an Ae sekaran. , pembicaraan berfokus pada representasi perempuan dalam kepemimpinan Gereja, sinodalitas, dan keadilan sosial. Salah satu contoh kemajuan adalah peranan Sr. Nathalie Becquart menjadi wakil sekretaris dalam sinode para uskup sedunia di Roma. Walaupun demikian, persoalan ketidak-adilan gender masih terdapat sehingga tetap penting untuk dibicarakan karena tantangan yang dihadapi perempuan dalam gereja tidak hanya berpengaruh pada kehidupan spiritual mereka, tetapi juga pada dinamika komunitas gerejawi secara keseluruhan. Keterlibatan aktif perempuan dalam kepemimpinan dan pengambilan keputusan sangat penting untuk menciptakan lingkungan yang inklusif dan memberdayakan, yang pada akhirnya dapat meningkatkan vitalitas dan misi gereja. Oleh karena itu, pemahaman terhadap panggilan perempuan melalui lensa pemikiran Stein dapat menawarkan solusi bagi masalah yang ada, serta memberikan landasan teologis yang kuat untuk memperjuangkan keadilan gender di dalam gereja. Sejumlah penelitian telah dilakukan untuk menggali peran kaum perempuan dalam konteks teologi dan spiritualitas. Daly mengeritik sexisme dalam gereja, dan menurutnya terdapat penindasan kaum perempuan dalam Gereja Katolik. 3 Dengan kritik tersebut. Daly sesungguhnya telah memicu suatu kesadaran baru tentang pentingnya peran kaum perempuan dalam Gereja Katolik. Begitu pula Johnson mengeritik pola pikir teologis yang berpusat pada laki-laki dan menekankan Mary Daly. The Church and the Second Sex (Boston: Beacon Press, 1. , 45. Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika. Vol. No. Des. pentingnya pengalaman kaum perempuan dalam membangun diskursus teologis. Sedangkan dalam konteks Indonesia. Penelitian Ardianto mengexplorasi peranan perempuan dalam gereja dengan menekankan kesetaraan gender, dan juga mengamati semakin meningkatnya tanggungjawab perempuan dalam gereja. Namun demikian, masih sedikit ulasan tentang pemikiran Edith Stein di Indonesia, sementara pemikirannya memiliki kontribusi penting dalam teologi. Pemikiran Stein ini dapat diterapkan dalam kehidupan gerejawi untuk mendukung dan memberdayakan kaum perempuan. Penelitian ini dapat menjembatani kekosongan tersebut dengan meneliti pemikiran Stein dan relevansinya untuk konteks gereja masa kini. Metode Penelitian Dalam penelitian ini, metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan analisis isi dari sejumlah pustaka, 6 yang memungkinkan peneliti untuk mendalami pemikiran Edith Stein mengenai panggilan perempuan serta relevansinya bagi konteks kehidupan Gereja Katolik masa kini. Pendekatan ini dipilih karena dapat memberikan wawasan yang lebih mendalam tentang makna dan implikasi dari pandangan Stein, yang tidak hanya terikat pada data numerik, tetapi lebih kepada konteks sosial, budaya, dan spiritual. Prosedur penelitian dimulai dengan pengumpulan data primer dan sekunder. Data primer diperoleh melalui analisis karya-karya utama Edith Stein, seperti "Feminine Spirituality" dan "Essays on Women," yang menjadi fondasi pemikirannya tentang peran dan identitas perempuan. Sementara itu, data sekunder diambil dari literatur terkait, termasuk artikel jurnal, buku, dan penelitian terdahulu, baik yang mengulas tentang pemikiran Stein maupun yang secara umum membahas peran perempuan dalam Hal ini bertujuan untuk memberikan konteks yang lebih luas dan mendukung analisis yang dilakukan. Setelah pengumpulan data, langkah berikutnya adalah analisis teks. Peneliti menggunakan teknik analisis konten untuk mengeksplorasi tema-tema utama yang muncul dalam pemikiran Stein. Proses ini mencakup identifikasi dan kategorisasi ide-ide kunci, serta mengeksplorasi hubungan antara pemikiran Stein dengan isu-isu kontemporer yang dihadapi perempuan dalam gereja. Pendekatan hermeneutik juga diterapkan untuk Elizabeth Johnson. She Who Is: The Mystery of God in Feminist Theological Discourse (New York: Crossroad Publishing, 1. , 87. Lahagu et al. AuKesetaraan Gender Dan Panggilan Perempuan Dalam Pemberitaan Injil. Ay Nana Syaodih Sukmadinata. Metode Penelitian Pendidikan (Bandung: PT. Remaja Posdakarya, 2. ,1-326. Panggilan Perempuan, . (Petrus T. Kowe. Herman. Oktovianu. A(Petruskonteks Yuniant. filosofis dan sejarah yang melatarbelakangi karya Stein, ( Santy Sahartia. pemahaman yang lebih holistik tentang pandangannya. Selanjutnya, hasil analisis dikaitkan dengan kondisi dan tantangan yang dihadapi perempuan dalam gereja saat ini. Peneliti mencermati berbagai aspek, seperti partisipasi perempuan dalam kepemimpinan gereja, akses terhadap pendidikan teologis, dan peran perempuan dalam komunitas beriman. Dengan cara ini, penelitian tidak hanya menyoroti kontribusi Stein, tetapi juga menggali potensi aplikatif pemikirannya untuk menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dan memberdayakan perempuan dalam kehidupan gerejawi. Hasil dan Pembahasan Hidup dan Perjalanan Intellektual Edith Stein Edith Stein lahir pada 12 Oktober 1891 di Breslau. Jerman, dalam keluarga Yahudi yang religius. Ia adalah anak bungsu dari sepuluh bersaudara, tetapi empat di antaranya meninggal saat bayi. Setelah kematian ayahnya. Sigfried Stein, ketika Edith berusia dua tahun, ibunya. Augusta Stein, berjuang untuk menghidupi keluarga dan mengelola bisnis kayu yang ditinggalkan. Pendidikan formal Edith dimulai di Victoriaschule pada tahun 1897, di mana ia menunjukkan prestasi akademis yang luar biasa, sebelum melanjutkan ke Breslau GirlsAo Gymnasium. Pada tahun 1911, ia memasuki Universitas Breslau dengan minat khusus pada filsafat, di samping sejarah dan bahasa. 7 Meskipun dibesarkan dalam tradisi Yahudi yang ketat. Edith mengalami krisis iman yang mendalam, dan pada usia 31 tahun, ia memutuskan untuk berhenti berdoa. Namun, hidupnya berubah setelah membaca biografi St. Teresa Avila pada Agustus 1921, yang mengarahkannya pada penyerahan diri kepada Allah. Setelah berkarir sebagai pendidik dan advokat untuk peran perempuan dalam gereja dan masyarakat. Edith Stein bergabung dengan biara Karmel OCD di Kyln pada 14 Oktober 1933. Di sana, ia diizinkan untuk melanjutkan kegiatan ilmiahnya. Namun, situasi politik yang memburuk di bawah rezim Nazi memaksanya untuk berpindah tempat demi keselamatan. Pada 2 Agustus 1942, ia ditangkap oleh Nazi dan dieksekusi di Auschwitz pada 7 Agustus 1942. Edith Stein dibeatifikasi pada 1 Mei 1987 dan dikanonisasikan pada 11 Oktober 1998 oleh Paus Yohanes Paulus II, menandai pengakuan atas kontribusinya dalam teologi dan spiritualitas. Mary Catharine Baseheart. Person In The World Introduction to the Philosophy of Edith Stein (Dordrecht: Springer Science & Business Media, 1. , 16Ae19. Ibid. , 20. Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika. Vol. No. Des. Pemikiran Edith Stein dipengaruhi oleh beberapa tokoh filsafat dan teologi terkemuka, termasuk Edmund Husserl. Martin Heidegger, dan Thomas Aquinas. Dari Husserl, ia mengadopsi metode fenomenologi dan konsep intentionalitas, yang menjadi pusat dalam pemikirannya tentang empati dan pengalaman Ia mengembangkan ide-ide ini dengan menggabungkan fenomenologi dengan teologi Katolik. Pengaruh Heidegger terlihat dalam karyanya "Finite and Eternal Being," di mana ia mengaitkan konsep "ada" dengan pencarian makna spiritual. 9 Sementara itu, pemikiran Aquinas, meskipun tidak pernah bertemu langsung, mempengaruhi Stein melalui terjemahan karya-karyanya, yang membantunya memahami hubungan antara iman dan akal. 10 Selain itu, pengaruh spiritualitas mistikus seperti Teresa Avila dan Yohanes dari Salib menambah kedalaman pemikirannya, yang menekankan pentingnya kontemplasi dan pengalaman batin dalam perjalanan spiritual. Pengaruh ini menjadikan Stein sebagai tokoh penting dalam sejarah pemikiran feminisme dalam Gereja Katolik, dengan kontribusi yang signifikan terhadap teologi feminis yang terus berkembang hingga saat ini. Pemikiran Stein Tentang Perempuan Profesi Natural Perempuan Profesi natural perempuan menggambarkan bagaimana tradisi perbedaan gender telah membentuk kehidupan modern, dengan pengaruh yang mendalam mulai dari masa kanak-kanak. Pembatasan gender mencakup berbagai aspek kehidupan, seperti pilihan berpakaian, cara berbicara, dan peran dalam masyarakat. Dalam banyak budaya tradisional, perempuan sering kali terjebak dalam peran domestik, sementara kepemimpinan dan keputusan dipegang oleh laki-laki. Hal ini menjadi norma yang diterima tanpa banyak dipertanyakan. Selain itu, perempuan sering kali dianggap tidak berdiri sendiri, melainkan selalu terkait dengan laki-laki, yang menciptakan pandangan bahwa keberadaan mereka tidak memiliki kekhususan kodrati. 11 Untuk mengeksplorasi pertanyaan tentang panggilan feminin alami, penting untuk memahami bahwa perempuan memiliki jiwa dan tubuh yang diciptakan dengan cara tertentu, yang menunjukkan sifat dasar manusiawi yang Edith Stein. AuFinite and Eternal Being (Translated by Kurt F. Reinhar. ,Ay in The Collected Works of Edith Stein, vol. 2 (Washington DC: The Catholic University of America Press, 2. , 71Ae Stein. AuFinite and Eternal Being (Translated by Kurt F. Reinhar. Ay Indriani Bone. Perempuan. Agama & Seksualitas (Pener. Dari Buku Asli Women. Religion, and Sexuality: Studies On Impact of Religious Teachings on Women (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. , 118. Panggilan Perempuan, . (Petrus T. Kowe. Herman. Oktovianu. A(Petrus Yuniant. laki-laki, tetapi dengan kemampuan yang berbeda. Edith Stein ( Santy Sahartia. bahwa perempuan secara alami cenderung mengejar kehidupan, kepribadian, dan integritas. Dalam konteks ini, perempuan memiliki kecenderungan untuk menghargai, menjaga, dan melindungi kehidupan serta mendorong pertumbuhan pribadi, bukan semata-mata untuk kepentingan diri 12 Perempuan juga menunjukkan ketertarikan pada hal-hal yang tampaknya tidak bermanfaat, asalkan dapat membantu orang lain berkembang. Mereka tidak terlalu tertarik pada konsep-konsep abstrak, melainkan lebih pada kehidupan dan kepribadian secara keseluruhan, yang dilindungi dan didorong untuk kepentingan orang lain tanpa mengorbankan siapapun. Dengan demikian, pengakuan terhadap perbedaan jiwa antara perempuan dan laki-laki menjadi penting dalam memahami peran perempuan dalam masyarakat. Jiwa Perempuan Jiwa perempuan memiliki kesamaan dan perbedaan fisiologis dengan lakilaki, yang berimplikasi pada perlakuan yang tidak adil terhadap perempuan. Menurut Freud, perbedaan anatomi ini diartikan sebagai "anatomi adalah takdir", namun pandangan ini tidak sepenuhnya tepat karena perbedaan gender lebih merupakan hasil konstruksi sosial. Hal ini menunjukkan bahwa jiwa perempuan mengandung nilai-nilai kemanusiaan yang universal dan dapat dikembangkan untuk membentuk karakter mereka. Sejak awal, perempuan memiliki rasa kemanusiaan yang berfokus pada pribadi manusia dan kebaikan. 13 Dalam konteks ini, jiwa perempuan memiliki karakteristik harapan atau kerinduan untuk memberi dan menerima cinta, serta keinginan untuk bertransformasi dari kehidupan seharihari menuju tingkatan yang lebih tinggi. Perempuan berhasrat untuk mencapai potensi jiwa mereka, yang mencerminkan kemanusiaan yang tersembunyi, dan berupaya mencapai perkembangan yang optimal. Oleh karena itu, pencapaian persatuan cinta menjadi hal yang sangat penting bagi perempuan. Proses ini tidak hanya memvalidasi pemahaman cinta, tetapi juga mendorong keinginan untuk kesempurnaan orang lain. Kerinduan ini dapat diekspresikan dalam berbagai bentuk dan merupakan komponen penting dari takdir abadi perempuan. Dalam hal Edith Stein. Woman. Edisi Revisi II (Washington DC: ICS Publications, 1. , 45. Muhammad Khoirul. AuPeran Perempuan Dalam Penanganan Bencana: Studi Rasa Kemanusiaan Pada Jiwa Perempuan Dalam Penanganan Bencana. Dalam An Nisa,Ay Jurnal Studi Gender Dan Anak 12, no. Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika. Vol. No. Des. ini, kerinduan yang dimiliki perempuan bersifat unik dan berbeda dari sifat maskulin, mencerminkan kedalaman pengalaman emosional mereka yang khas. Nilai Intrinsik Perempuan Nilai intrinsik perempuan adalah kualitas positif yang dimiliki oleh perempuan itu sendiri. Stein berpendapat bahwa singularitas feminin merupakan bentuk bukti diri yang disadari oleh perempuan, dan ini mendasari gagasan bahwa singularitas tersebut mengandung nilai-nilai feminin intrinsik. Terdapat dua kriteria yang membedakan perempuan dari laki-laki yang membantu dalam memahami nilai intrinsik perempuan. 15 Pertama, laki-laki cenderung lebih objektif dan berkomitmen pada kedisiplinan, sementara perempuan lebih bersifat individual, terlibat secara emosional dalam kehidupan dan masalah pribadi. Kedua, laki-laki mengalami perkembangan sepihak karena ketaatan pada kedisiplinan, sedangkan perempuan memiliki dorongan alami untuk mengendalikan diri dan totalitas, yang berasal dari keinginan untuk berkembang secara utuh dan membantu orang lain. Akibatnya, takdir abadi perempuan adalah menjadi pendamping dan ibu, di mana peran ini mengharuskan perempuan untuk memiliki kemanusiaan sejati agar dapat mendukung dan melindungi orang lain. 16 Nilai intrinsik perempuan dapat diterapkan di berbagai konteks dan mencerminkan rahmat, terlepas dari profesi yang dipilih. Perempuan akan selalu menemukan kesempatan untuk memberikan dukungan dan bantuan kepada orang lain, dan istilah "keibuan" dapat digunakan untuk menggambarkan nilai dasar perempuan. Dengan demikian, tujuan tertinggi dari singularitas feminin adalah mewujudkan kemanusiaan sejati dalam diri sendiri dan orang lain untuk mencapai perkembangan yang optimal. Tantangan Perempuan dalam Kehidupan Gerejawi Dewasa ini, pada umumnya perempuan telah berperan secara signifikan dalam pelayanan dan komunitas gereja. Walaupun demikian, mereka sering kali menghadapi berbagai tantangan yang menghambat partisipasi penuh mereka. Berikut adalah beberapa tantangan utama yang sering dialami perempuan di zaman Ketidaksetaraan dalam Peran Kepemimpinan Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi perempuan dalam Gereja Katolik adalah kurangnya kesempatan untuk memegang posisi kepemimpinan. Gereja Stein. Woman. Edisi Revisi II, 94. Ibid. , 254Ae55. Ibid. , 256. Panggilan Perempuan, . (Petrus T. Kowe. Herman. Oktovianu. A(Petrus Katolik secaraYuniant. resmi tidak membolehkan tahbisan perempuan menjadi klerus. Paus ( Santy Sahartia. Yohanes Paulus II menegaskan bahwa AuThe Church has no authority whatsoever to confer priestly ordination on women. Ay 17 Meskipun banyak perempuan terlibat dalam pelayanan, mereka seringkali tidak diberikan akses ke posisi strategis atau pengambilan keputusan. Menurut penelitian, banyak gereja masih mengadopsi struktur yang patriarkis yang membatasi keterlibatan perempuan dalam 18 Contohnya, dalam Konferensi Wali Gereja Indonesia, hanya sedikit perempuan yang menduduki posisi sebagai sekretaris eksekutif komisikomisi. Kritik atas ketidaksetaraan ini telah dikemukakan sejak beberapa dekade yang lalu oleh beberapa teolog feminis yang menyuarakan kesetaraan dalam kepemimpinan gereja. Fiorenza menyoroti bahwa ketidak-setaraan dalam gereja merupakan warisan budaya patriarki yang disahkan atas nama tradisi, padahal dalam gereja mula-mula banyak perempuan yang memainkan peranan penting dalam kepemimpinan jemaat . Rom. 16: . 19 Hal yang sama dikemukakan pula oleh Zagano, yang menegaskan bahwa dalam gereja mula-mula pernah ada diakon 20 Paus Fransiskus, walaupun tidak membuka pintu bagi tahbisan kaum perempuan tetapi memperkenalkan model sinodalitas gereja sebagai paradigma baru dalam kepemimpinan, yang membuka lebih banyak ruang bagi perempuan dalam kepemimpinan gereja. Stereotip Gender Stereotip gender yang kuat seringkali membatasi pemahaman tentang kemampuan dan peran perempuan dalam gereja. Perempuan seringkali dipandang hanya cocok untuk peran-peran tertentu, seperti mengajar anak-anak atau kegiatan sosial, sementara posisi kepemimpinan dan teologis lebih sering dialokasikan untuk laki-laki. Hal ini menciptakan hambatan bagi perempuan untuk berkembang dalam Paus Yohanes Paulus II. AuApostolic Letter Ordinatio Sacerdotalis. No. 4Ay (The Holy See. May 22, 1. , https://w. va/content/john-paul-ii/en/apost_letters/1994/documents/hf_jpii_apl_19940522_ordinatio-sacerdotalis. Smith. AuGender Inequality in Church Leadership: A Global Perspective,Ay Journal of Ecclesiastical Studies 15. : 115. Elisabeth Schysser Fiorenza. In Memory of Her (London: SCM Press, 1. , 181Ae83. Phyllis Zagano. Holy Saturday: An Argument for the Restoration of the Female Diaconate in the Catholic Church (Washington D. C: Crossroad, 2. , 25. Pope Francis. AuApostolic Constitution Praedicate Evangelium On The Roman Curia And Its Service To The Church In The WorldAy (The Holy See. March 19, 2. , https://w. va/content/francesco/en/apost_constitutions/documents/20220319-costituzioneap-praedicate-evangelium. Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika. Vol. No. Des. bidang teologis dan kepemimpinan. 22 Sebagai contoh, di banyak paroki. Dewan Pastoral Paroki didominasi kaum pria, sementara Perempuan lebih banyak menjadi sekretaris atau koordinator konsumsi. Begitu pula dalam banyak keluarga tradisional, keputusan strategis seperti pendidikan anak, urusan keuangan atau relokasi, dianggap sebagai tugas suami sementara istri hanya menyetujui dan mengikuti saja. Stereotip seperti ini beranggapan bahwa laki-laki diciptakan sebagai pemimpin dan pengambil keputusan karena dianggap lebih rasional dan lebih kuat, sementara perempuan dianggap lebih emosional dan lemah. Kenyataan ini telah banyak dikritik oleh beberapa teolog perempuan. Ivone Gebara (Brasi. menulis "The image of woman in many Catholic discourses is reduced to virgin, mother, or whore. This moralistic framework fails to capture the complexity and dignity of womenAos lived reality. Ay 23 Begitu pula Ruether mengatakan bahwa stereotip gender merupakan distorsi teologis yang lahir dari tafsir patriarkal terhadap Kitab Suci dan Tradisi. 24 Titik temu di antara dua posisi ini adalah teologi kesetaraan dalam keanekaragaman. Visi Alkitabiah bahwa laki-laki dan perempuan diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kej 1:. merupakan dasar dari kesetaraan dalam martabat dan panggilan. Selain itu prinsip komplementaritas antara laki-laki dan perempuan merupakan visi kristiani, sebab keduamya memiliki karunia yang berbeda tetapi setara dalam hak dan tanggungjawab. Upaya untuk mewujudkan hal ini, menurut Inayah, et. al, diperlukan kerjasama di antara semua pemangku kepentingan, dan strategi pendekatan partisipatif dan edukasi dan pemberdayaan perempuan. Kurangnya Dukungan dan Mentorship Banyak perempuan yang ingin lebih terlibat dalam kehidupan gerejawi mengalami kesulitan untuk menemukan mentor atau dukungan yang cukup. Dalam banyak kasus, struktur gereja tidak menyediakan peluang bagi perempuan untuk mendapatkan bimbingan dari mereka yang sudah berpengalaman dalam posisi J Anderson. AuThe Role of Women in the Church: Historical Context and Contemporary Issues,Ay Theology Today 76, no. : 48. Ivone Gebara. Longing for Running Water: Ecofeminism and Liberation (Minnesota: Fortress Press, 1. , 132. Rosemary Radford Ruether. Sexism and God-Talk. Toward a Feminist Theology (Boston: Beacon Press, 1. , 54. Nafisah Widhah Inayah et al. AuMembongkar Stereotipe: Peran Sosio-Antropologi Dalam Mendorong Pemberdayaan Perempuan Dan Mengatasi Pernikahan Dini,Ay in Seminar Kesehatan Nasional Sexophone (Sex Education. Health Policy, and Nutritio. , vol. 4 (Kekerasan Dalam Pacaran : Hubungan Romantis Berujung Tragis. Malang: Prosiding Seminar Kesehatan Nasional Sexophone, 2. Panggilan Perempuan, . (Petrus T. Kowe. Herman. Oktovianu. 26 Kurangnya jaringan dukungan ini sering kali membuat A(Petrus Yuniant. ( Santymerasa Sahartia. terasing dan kurang percaya diri untuk mengambil peran yang lebih besar. Sebagai contoh, banyak biarawati muda yang kurang mendapat mentor teologis yang berpengalaman terutama mereka yang bertugas di wilayah pedesaan. Sementara kaum awam perempuan banyak yang terlibat dalam pelayanan rohani tetapi kurang mendapat pendampingan teologis dan kepemimpinan. Desakan untuk mentorship ini, telah banyak disuarakan. Misalnya Sr. Joan Chittister, mengungkapkan bagaimana perempuan religius harus berjuang keras untuk memperoleh akses terhadap pendidikan dan kepemimpinan dan menyerukan pentingnya sistem formasi dan mentorship umtuk aktualisasi peran perempuan dalam komunitas iman. 27 Begitu pula Stevens menggarisbawahi bahwa banyak perempuan religius yang menjalani formasi tanpa arahan mentor yang seimbang secara spiritual dan personal. 28 Untuk memperjumpakan dua posisi yang berbeda ini, diperlukan upaya membangun budaya mentorship yang inklusif. Mentorship dalam Gereja seharusnya tidak dibatasi pada klerus, tetapi perempuan, baik religius maupun awam, dapat dan harus menjadi mentor dalam spiritualitas, pelayanan sosial, pendidikan iman, dan kepemimpinan komunitas. Ini sejalan dengan semangat Konsili Vatikan II, sebagaimana terdapat dalam Lumen Gentium. Ekspektasi Sosial dan Keluarga Tuntutan untuk menjalankan peran tradisional sebagai ibu dan istri sering kali bertabrakan dengan panggilan mereka dalam pelayanan gereja. Banyak perempuan merasa terjebak antara tanggung jawab domestik dan keinginan untuk terlibat dalam pelayanan. Penelitian menunjukkan bahwa ekspektasi sosial yang tinggi terhadap perempuan sering kali membuat mereka merasa tidak memiliki cukup waktu dan energi untuk melayani gereja secara aktif. 29 Sebagai contoh, dalam homili pernikahan atau perayaan Hari Ibu di tingkat paroki, figur perempuan sering kali dibatasi pada kesetiaan domestik, pengorbanan, dan kelembutan, dan jarang menyinggung potensi kepemimpinan rohani. Selain itu, banyak perempuan mengundurkan diri dari pelayanan setelah menikah karena tekanan keluarga dan K Brown. AuMentorship and Women in Ministry: Overcoming Barriers to Leadership,Ay Journal of Ministry and Leadership 10. : 310. Sr. Joan Chittister. The Way We Were: A Story of Conversion and Renewal (New York: Orbis Books, 2. , 84. Maryanne RSM Stevens. AuWomen Mentoring Women in Religious Life,Ay Review for Religious 60, no. R Miller. AuBalancing Family and Faith: The Challenges Faced by Women in Church Service,Ay WomenAos Studies International Forum . , 215. Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika. Vol. No. Des. masyarakat untuk memprioritaskan rumah tangga. Di kalangan para teolog feminis, tidak kurang pula kritikan terhadap pembatasan peran perempuan seperti di atas. Johnson menyatakan bahwa membatasi perempuan hanya pada peran domestik berarti menyangkal gambaran Allah yang hadir secara penuh dalam keberagaman pengalaman perempuan. 30 Demikian pula Beattie mengritik teologi tradisional yang mengidealisasi keibuan dan kesetiaan rumah tangga sebagai satu-satunya bentuk identitas perempuan. 31 Untuk mengatasi ketidakadilan gender ini, perlu dibangun budaya komunikasi dalam keluarga dan pembagian peran yang berkeadilan 32 Selain itu diperlukan pemberian waktu fleksibel dan struktur pelayanan inklusif di paroki. Diskriminasi dalam Pengakuan dan Penghargaan Banyak perempuan merasa kontribusi mereka dalam gereja tidak mendapatkan pengakuan yang layak. Hal ini dapat menciptakan rasa frustrasi dan ketidakpuasan, yang pada gilirannya dapat mengurangi motivasi mereka untuk terlibat lebih jauh. Diskriminasi ini seringkali terlihat dalam cara pengambilan keputusan dan penghargaan terhadap pelayanan yang dilakukan oleh perempuan. Sebagai contoh, dalam struktur penghargaan institusi Katolik, penghargaan kehormatan seperti Pro Ecclesia et Pontifice atau Benemerenti Medal masih didominasi oleh pria, khususnya klerus. Hal ini telah mendapat kritik dari para teolog feminis dalam Gereja Katolik. Johnson menulis bahwa ketidakadilan terhadap perempuan dalam hal pengakuan adalah bentuk penyingkiran teologis dari narasi keselamatan. 34 Sejalan dengan itu Russell menyebutkan bahwa struktur penghargaan dalam gereja sering kali bersifat vertikal dan eksklusif, sehingga suara perempuan hanya didengar bila sesuai dengan sistem yang sudah ada. 35 Terhadap hal ini. Paus Fransiskus menegaskan melalui ensiklik dan himbauan pastoral seperti Evangelii Gaudium bahwa AuGereja harus belajar menghargai cara khas perempuan Johnson. She Who Is: The Mystery of God in Feminist Theological Discourse. Tina Beattie. New Catholic Feminism: Theology and Theory (New York: Routledge, 2. , 104. Yulianti. AuMelawan Konstruksi Sosial Dan Budaya Terhadap Perempuan: Mewujudkan Keadilan Gender Dalam Rumah Tangga,Ay Jurnal Ilmu Sosial Indonesia (JISI) 4, no. T Johnson. AuRecognition and Reward: WomenAos Contributions to the ChurchAy 14, no. : 195. Elizabeth Johnson. Truly Our Sister: A Theology of Mary in the Communion of Saints (New York: Continuum, 2. , 87. Letty M Russell. Church in the Round: Feminist Interpretation of the Church (Westminster: John Knox Press, 1. , 44. Panggilan Perempuan, . (Petrus T. Kowe. Herman. Oktovianu. A(Petrus Yuniant. Injil,Ay dan mendesak agar peran perempuan tidak hanya ( Santy padaSahartia. dimensi emosional atau pelayanan saja. Penerapan Pemikiran Stein tentang Perempuan dalam Kehidupan Gerejawi Dalam karya-karyanya Edith Stein mengemukakan tema-tema yang dapat diterapkan dalam gereja masa kini untuk mengatasi tantangan yang dihadapi kaum Tema-tema tersebut dikemukakan di bawah ini. Menghargai Keterampilan Unik Perempuan Stein menekankan bahwa perempuan memiliki kepekaan emosional dan kemampuan dalam membangun hubungan yang kuat. Ia percaya bahwa kualitas ini sangat penting dalam pelayanan gereja. Gereja harus menghargai dan memanfaatkan keterampilan ini untuk mendukung pengembangan komunitas yang lebih inklusif. Pemikiran Edith Stein tentang penghargaan keterampilan unik perempuan menawarkan solusi yang kuat untuk tantangan yang dihadapi perempuan dalam kehidupan gerejawi. Beberapa keterampilan unik perempuan yang patut dihargai ialah: Pertama, kepekaan emosional dan hubungan Stein menekankan bahwa perempuan seringkali memiliki kepekaan emosional yang lebih tinggi, yang memungkinkan mereka untuk membangun hubungan yang mendalam dengan orang lain. Dalam konteks gereja, kemampuan ini sangat berharga untuk pelayanan pastoral dan dukungan komunitas. Keterampilan ini dapat membantu dalam menciptakan lingkungan yang lebih hangat dan penuh empati, yang mendukung pertumbuhan spiritual semua anggota Kedua, peran dalam pendidikan dan pembinaan. Perempuan sering terlibat dalam pendidikan anak-anak dan pembinaan spiritual dalam gereja. Stein percaya bahwa dengan menghargai peran ini, gereja dapat memperkuat pondasi iman generasi mendatang. Dengan mendorong perempuan untuk mengambil peran lebih aktif dalam pendidikan akan membantu mengembangkan kurikulum yang lebih inklusif dan responsif terhadap kebutuhan spiritual dan emosional anak-anak. Ketiga, kontribusi dalam pelayanan sosial. Kemampuan perempuan dalam berempati dan memahami kebutuhan orang lain membuat mereka sangat cocok untuk terlibat dalam pelayanan sosial. Paus Fransiskus. AuEvangelii Gaudium Sukacita Injil. No. 103Ay (Departemen Dokumentasi Dan Penerangan Konferensi Waligereja Indonesia. November https://w. org/wp-content/uploads/2017/08/Seri-Dokumen-Gerejawi-No-94EvangelII-Gaudium-1. Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika. Vol. No. Des. Stein mengajak gereja untuk memanfaatkan keterampilan ini dengan memberikan kesempatan kepada perempuan untuk memimpin program-program sosial, yang pada gilirannya dapat mengatasi isu-isu dalam masyarakat. Gereja perlu mengembangkan komunitas yang inklusif, yang terbuka bagi kedua gender, dengan menghargai keterampilan unik perempuan. Stein berpendapat bahwa dengan melibatkan perempuan dalam proses pengambilan keputusan dan perencanaan program, gereja akan mendapatkan perspektif yang lebih beragam, yang akan memperkaya kehidupan komunitas secara keseluruhan. Selain itu, gereja juga perlu mengupayakan penguatan identitas perempuan. Stein percaya bahwa pengakuan atas keterampilan unik perempuan dapat berkontribusi pada penguatan identitas mereka dalam gereja. Dengan memberikan penghargaan yang layak atas kontribusi perempuan, gereja tidak hanya meningkatkan rasa percaya diri mereka tetapi juga mendorong lebih banyak perempuan untuk berpartisipasi aktif dalam kehidupan gerejawi. Dengan mengakui dan memanfaatkan kualitas ini gereja dapat menciptakan lingkungan yang lebih memberdayakan, inklusif, dan responsif terhadap kebutuhan semua anggotanya. Hal ini bukan hanya tentang keadilan gender, tetapi juga tentang membangun komunitas yang lebih kuat dan seimbang. Pendidikan dan Pemberdayaan Stein berargumen bahwa pendidikan merupakan kunci untuk memberdayakan perempuan. Dengan memberikan akses yang lebih baik kepada perempuan untuk pendidikan teologis dan kepemimpinan, gereja dapat membuka peluang bagi mereka untuk mengambil peran aktif dalam pelayanan. Pendidikan yang baik akan membekali perempuan dengan pengetahuan dan kepercayaan diri untuk berkontribusi secara lebih signifikan. Edith Stein sangat percaya bahwa pendidikan adalah kunci untuk memberdayakan perempuan, terutama dalam konteks kehidupan gerejawi. Pemikirannya menawarkan perspektif yang relevan untuk mengatasi tantangan yang dihadapi perempuan dalam gereja. Stein berargumen bahwa pendidikan tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter dan meningkatkan kepercayaan diri. Dalam konteks gereja, pendidikan teologis yang baik akan membekali perempuan dengan pemahaman yang mendalam tentang iman Edith Stein. Women and the Church: A Philosophical Perspective (New York: Crossroad Publishing, 2. , 45Ae60. Edith Stein. AuEducation as a Means of Empowerment: Insights from Edith Stein,Ay Journal of WomenAos Studies 12, no. : 82. Panggilan Perempuan, . (Petrus T. Kowe. Herman. Oktovianu. Yuniant. danA(Petrus tradisi gereja. Hal ini akan memungkinkan mereka untuk berkontribusi secara . ignifikan Santy Sahartia. dalam diskusi teologis dan pelayanan. Stein menekankan pentingnya memberikan akses yang setara kepada perempuan untuk mendapatkan pendidikan. Ia berpendapat bahwa gereja harus menciptakan program-program yang mendukung pendidikan teologis bagi perempuan, sehingga mereka tidak hanya menjadi peserta pasif, tetapi juga mampu mengambil peran aktif dalam pengajaran dan kepemimpinan40. Melalui pendidikan, perempuan dapat mengembangkan keterampilan kepemimpinan yang diperlukan untuk terlibat dalam struktur gereja. Stein percaya bahwa dengan mengajarkan keterampilan manajerial dan kepemimpinan, gereja dapat mempersiapkan perempuan untuk mengambil posisi yang lebih tinggi dalam pelayanan, sehingga meningkatkan representasi mereka di level keputusan. 41 Stein juga menyarankan pentingnya sistem mentoring dalam gereja yang dapat membantu perempuan dalam pendidikan dan pengembangan diri. Dengan adanya mentor yang berpengalaman, perempuan akan merasa lebih didukung dan termotivasi untuk mengejar pendidikan yang lebih tinggi dan mengambil peran yang lebih aktif dalam Stein melihat pendidikan sebagai alat transformasi yang dapat membantu perempuan menyadari potensi dan panggilan mereka. Dengan mendapatkan pendidikan yang baik, perempuan dapat lebih mudah mengatasi hambatan-hambatan yang ada dan berkontribusi secara maksimal dalam kehidupan Hal ini menciptakan ruang bagi perempuan untuk menjadi agen perubahan dalam komunitas mereka. Mendorong Keterlibatan Aktif Pemikiran Stein tentang pentingnya peran perempuan dalam komunitas mendukung ide bahwa perempuan harus terlibat secara aktif dalam pengambilan keputusan dalam gereja. Stein mendorong gereja untuk menciptakan ruang bagi perempuan dalam proses kepemimpinan dan pengambilan keputusan, sehingga mereka dapat membawa perspektif yang berbeda dan memperkaya kehidupan 43 Pemikiran Edith Stein mengenai keterlibatan aktif perempuan dalam Stein. Women and the Church: A Philosophical Perspective, 72Ae75. Stein. AuEducation as a Means of Empowerment: Insights from Edith Stein,Ay 83Ae85. J Miller. AuLeadership and Women in the Church: The Philosophical Foundations of Edith Stein,Ay Journal of Ecclesiastical Studies 15, no. : 149. K Brown. AuBuilding Mentorship Networks for Women in Ministry: Lessons from Edith Stein,Ay Journal of Ministry and Leadership 10, no. : 310Ae12. Miller. AuLeadership and Women in the Church: The Philosophical Foundations of Edith Stein,Ay 155. Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika. Vol. No. Des. kehidupan gerejawi menawarkan solusi konkret untuk tantangan yang dihadapi Dengan mengakui peran unik mereka, memberikan kesempatan dalam pengambilan keputusan, serta menyediakan program pelatihan dan dukungan, gereja dapat memberdayakan perempuan untuk berpartisipasi secara penuh dan signifikan dalam komunitasnya. Mentorship dan Jaringan Dukungan Stein juga menggarisbawahi pentingnya hubungan antar individu untuk pengembangan pribadi yang profesional. Adanya jaringan dukungan dan mentorship bagi perempuan dalam gereja akan memberikan bimbingan dan dorongan yang mereka butuhkan untuk berkembang dalam peran kepemimpinan. Dengan adanya mentor yang berpengalaman, perempuan akan lebih termotivasi untuk mengambil langkah berani dalam pelayanan mereka. 44 Edith Stein menekankan pentingnya mentorship dan jaringan dukungan sebagai solusi kunci untuk tantangan yang dihadapi perempuan dalam kehidupan gerejawi. berargumen bahwa hubungan mentor-murid dapat memberikan bimbingan yang diperlukan untuk membantu perempuan mengatasi hambatan dalam mencapai potensi penuh mereka. Dengan adanya mentor yang berpengalaman, perempuan akan lebih termotivasi dan percaya diri untuk terlibat dalam pelayanan dan kepemimpinan gereja. Stein juga menggarisbawahi pentingnya membangun jaringan dukungan di antara perempuan, yang memungkinkan mereka untuk saling berbagi pengalaman, pengetahuan, dan sumber daya. Jaringan ini tidak hanya memperkuat rasa kebersamaan tetapi juga mendorong pertumbuhan spiritual dan profesional. Dengan menciptakan komunitas yang saling mendukung, gereja dapat memberdayakan perempuan untuk mengambil peran aktif dalam kehidupan gerejawi, sehingga meningkatkan kontribusi mereka dalam membangun komunitas yang lebih inklusif dan responsif terhadap kebutuhan semua anggota. Secara keseluruhan, pemikiran Stein tentang mentorship dan jaringan dukungan menawarkan strategi yang relevan dan praktis untuk mengatasi tantangan yang dihadapi perempuan, menjadikan mereka agen perubahan yang aktif dan berdaya di dalam gereja dan masyarakat. Brown. AuBuilding Mentorship Networks for Women in Ministry: Lessons from Edith Stein,Ay 312. Panggilan Perempuan, . (Petrus T. Kowe. Herman. Oktovianu. A(Petrus Yuniant. Mengatasi Ekspektasi Sosial ( Pemikiran Santy Sahartia. Stein juga menyoroti bahwa perempuan memiliki panggilan unik yang tidak seharusnya dibatasi oleh ekspektasi sosial. Dengan membebaskan perempuan dari tuntutan peran tradisional yang sempit, gereja dapat membantu mereka mengeksplorasi dan mewujudkan panggilan spiritual mereka dengan lebih Ini menciptakan ruang bagi perempuan untuk menemukan keseimbangan antara tanggung jawab domestik dan pelayanan gereja. 45 Edith Stein menekankan pentingnya mengatasi ekspektasi sosial yang sering kali membatasi peran perempuan dalam kehidupan gerejawi. Ia berpendapat bahwa perempuan memiliki panggilan dan potensi yang unik yang tidak seharusnya dibatasi oleh norma-norma Dalam pandangannya, gereja harus berperan aktif dalam membebaskan perempuan dari ekspektasi sosial yang sempit, yang seringkali memaksa mereka untuk memilih antara tanggung jawab domestik dan panggilan spiritual. Stein mendorong gereja untuk menciptakan lingkungan yang mendukung perempuan dalam mengeksplorasi dan mengaktualisasikan potensi mereka. Ini termasuk memberikan ruang bagi perempuan untuk terlibat dalam pelayanan yang lebih luas dan memungkinkan mereka untuk mengambil peran kepemimpinan yang sesuai dengan bakat dan minat mereka. Dengan demikian, gereja dapat berkontribusi pada transformasi sosial yang lebih besar, di mana perempuan dapat berpartisipasi penuh dan setara dalam semua aspek kehidupan gerejawi. Dengan menantang ekspektasi sosial yang ada, pemikiran Stein membuka jalan bagi perempuan untuk meraih kepercayaan diri dan mewujudkan panggilan mereka dalam konteks yang lebih luas. Ini bukan hanya tentang keadilan gender, tetapi juga tentang membangun gereja yang lebih inklusif dan dinamis, di mana semua anggota dapat berkontribusi secara maksimal demi kebaikan komunitas. Simpulan Edith Stein, melalui pemikirannya, menekankan bahwa perempuan memiliki peran unik yang tidak hanya terbatas pada aspek domestik, tetapi juga dalam sfera spiritual dan intelektual. Perempuan adalah individu yang dapat berkontribusi secara signifikan dalam membangun komunitas beriman. Stein menggarisbawahi pentingnya pengembangan diri perempuan, yang dapat dilakukan melalui pendidikan dan refleksi spiritual. Dengan memanfaatkan bakat dan kemampuan perempuan, mereka dapat memainkan peran aktif dalam gereja, baik sebagai T Johnson. AuThe Role of Women in Modern Church: Overcoming Societal Expectations,Ay Theology Today 78 . : 305. Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika. Vol. No. Des. pemimpin maupun sebagai penggerak perubahan sosial. Pemikiran Stein memberikan inspirasi untuk terus memperjuangkan keadilan gender dan mendorong keterlibatan perempuan dalam semua aspek kehidupan gereja, sebab panggilan perempuan tidak terlepas dari panggilan universal semua umat untuk melayani dan mencintai. Panggilan ini juga menuntut semua pihak untuk saling mendukung dan menghargai, sehingga setiap individu dapat berkontribusi dengan cara yang unik sesuai dengan karunia yang mereka miliki. Dengan mengintegrasikan pemikiran Edith Stein, gereja diharapkan mampu merangkul semua potensi perempuan, membuka jalan bagi partisipasi aktif mereka dalam kehidupan beriman. Hal ini tidak hanya akan memperkaya pengalaman spiritual, tetapi juga memperkuat komunitas gereja dalam menghadapi tantangan zaman. Daftar Pustaka