RISTANSI: Riset Akuntansi. Volume 3. Nomor 1. Juni 2022. Hal 41-62 E-ISSN: 2775 - 2267 Email: ristansi@asia. https://jurnal. id/index. php/ristansi AuDIILA OAoONTO BO WOLU-WOLUWOAy (Potret Distribusi Keuntungan oleh Pedagang di Warung Makan Gorontal. Mohamad Anwar Thalib. Nurahmi Tiara. Miftahur Rizkah. Sulis Lia Syamsudin Institut Agama Islam Negeri Sultan Amai Gorontalo mat@iaingorontalo. DOI: 10. 32815/ristansi. Informasi Artikel Tanggal Masuk Tanggal Revisi Tanggal diterima Keywords: Gorontalo Kata Kunci: Gorontalo 31 Mei, 28 Juni, 28 Juni. Abstract: This study aims to reveal the use of profits by food stall entrepreneurs in Gorontalo. The informant determination technique used in this research is purposive sampling. The informants in this research are three food stall The type of method used in this research is The results show that restaurant traders used a portion of the profits they earned for charitable activities such as giving alms, sharing food, and free basic necessities. The conclusion of this research is that traders use/distribute profits from selling not only to fulfill personal interests, but also to do charity in the form of helping people in need. the culture of the Gorontalo people, parents . he elder. often give advice about these charitable activities through the expression diila o'onto bo wolu-woluwo/invisible but This research provides benefits regarding the presence of the concept of profit accounting based on the value of local wisdom of the Gorontalo community. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk memotret penggunaan keuntungan oleh para pengusaha warung makan di Gorontalo. Teknik penentuan informan yang digunakan dalam riset ini adalah purposive sampling. Informan dalam riset ini berjumlah tiga orang pengusaha rumah makan. Jenis metode yang digunakan dalam riset ini adalah Hasil penelitian menunjukkan bahwa para pedagang rumah makan menggunakan sebagian dari keuntungan yang mereka peroleh untuk kegiatan amal seperti bersedekah, berbagi makanan, dan sembako gratis. Kesimpulan dari riset ini adalah para pedagang menggunakan/mendistribusikan berjualan bukan sebatas untuk memenuhi kepentingan pribadi, namun juga untuk beramal dalam bentuk membantu orang yang membutuhkan. Dalam kebudayaan masyarakat Gorontalo, para orang tua . ua-tu. sering RISTANSI: Riset Akuntansi. Volume 3. Nomor 1. Juni 2022. Hal 41-62 memberikan nasihat tentang kegiatan amal tersebut melalui ungkapan diila oAoonto bo wolu-woluwo/tidak kelihatan tetapi ada. Penelitian ini memberikan manfaat tentang hadirnya konsep akuntansi keuntungan berbasis nilai kearifan lokal masyarakat Gorontalo. PENDAHULUAN Kajian akuntansi berbasis nilai-nilai kearifan lokal selalu menarik untuk dilakukan hal ini disebabkan dengan mengkaji praktik akuntansi berbasis nilai kebudayaan selalu bisa menghasilkan keunikan-keunikan praktik akuntansi yang dimiliki oleh masingmasing daerah di Indonesia. Sebagai contoh riset-riset akuntansi kearifan lokal yang pernah dilakukan oleh (Arena. Herawati, & Setiawan, 2. , (Lutfillah. Q, 2. , (Rahman. Noholo, & Santoso, 2. , (Randa. Triyuwono. Ludigdo, & Sukoharsono, 2. , (Thalib. Mohamad. Ibrahim, & Ahaya, 2. , (Thalib, 2022. , (Thalib. Rahman. Abdullah, & Gobel, 2. , (Thalib, 2019. , (Thalib, 2019. , (Thalib, 2. , (Thalib. Sujianto. Sugeha. Huruji, & Sahrul, 2. , (Thalib, 2. , (Totanan. Chalarce. Paranoan, 2. , (Wahyuni, 2. , (Widhianningrum & Amah, 2. , (Zulfikar, 2. Meskipun telah ada sejumlah kajian yang menggali serta merumuskan praktik akuntansi lokal, namun jumlahnya masih sangat sedikit jika dibandingkan dengan jumlah riset akuntansi modern yang diterbitkan pada jurnal terakreditasi nasional masih. Pada tahun 2020, total jumlah riset akuntansi yang diterbitkan pada jurnal akuntansi terakreditasi nasional (SINTA) adalah sebanyak 3. Dari jumlah ini, riset akuntansi budaya hanya berjumlah 17, sisanya sebanyak 3676 merupakan kajian akuntansi bukan berbasis kearifan lokal1. Dengan kata lain, pengembangan keilmuan akuntansi berbasis nilai-nilai budaya kedaerahan masih sedikit. Keadaan tersebut bukan tanpa masalah, namun sebaliknya, minimnya pengembangan keilmuan akuntansi berbasis kearifan lokal, berpeluang untuk memarginalkan bahkan menghilangkan nilai-nilai kearifan lokal dari praktik akuntansi. Hal ini disebabkan minimnya riset akuntansi lokal diperparah dengan keadaan tentang dominasi pengadopsian dan pengimplementasian akuntansi modern. Dampak hilangnya fitrah kedaerahan ketika mengamalkan akuntansi dari negara lain telah diingatkan juga oleh (Shima & Yang, 2. bahwa adanya standar tunggal . engadopsi IFRS) dapat membunuh keunikan sebagai bangsa, dan hal ini tidak menjadi 1 https://sinta. id/journals?q=akuntansi&search=1&sinta=&pub=&city=&issn . RISTANSI: Riset Akuntansi. Volume 3. Nomor 1. Juni 2022. Hal 41-62 perhatian utama para pengambil keputusan profesi akuntansi Indonesia. (Cooper. Neu, & Lehman, 2. dengan mengikuti standar tunggal internasional (IFRS), norma dan budaya lokal akan tergerus globalisasi menunjukkan drive ke arah homogenisasi. (Kamayanti & Ahmar, 2. IFRS yang merupakan pelebaran sayap dari globalisasi akan menghasilkan keterasingan budaya atau budaya 'ngeri' yaitu kehilangan identitas Permasalahan yang dipaparkan sebelumnya secara spesifik juga terjadi dalam kajian tema akuntansi keuntungan yang mayoritas didominasi oleh pengembangan keilmuan tentang keuntungan sebatas pada materi serta kering dari nilai-nilai kearifan Beberapa contoh tentang akuntansi keuntungan terbatas pada teknik dan kalkulasi tersebut diantaranya dilakukan oleh (Ridzal, 2. , (Paraswati, 2. , (Jermins, 2. , (Nurwanah. Muslim, & Sari, 2. , (Samsu, 2. Berangkat dari permasalahan yang dibahas sebelumnya, maka yang menjadi tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengungkap akuntansi keuntungan yang dipraktikkan oleh para pedagang di warung makan Gorontalo. Praktik akuntansi keuntungan yang dimaksudkan dalam riset ini bukanlah sebatas pada materi ataupun angka-angka, namun juga syarat dengan nilainilai kearifan lokal dari masyakat setempat. METODE PENELITIAN Jenis Metode. Penelitian ini menggunakan jenis metode kualitatif deskriptif. (Suwardi & Basrowi, 2. menjelaskan bahwa penelitian kualitatif merupakan penelitian yang dilakukan berdasarkan paradigma, strategi, dan implementasi model secara kualitatif. Peneliti memilih jenis riset ini disebabkan oleh beberapa alasan mendasar pertama adanya permasalahan atau isu yang perlu dieksplorasi. Tujuan penelitian ini sejalan dengan alasan pertama yang disampaikan oleh Creswell yaitu untuk menggungkap akuntansi keuntungan yang dipraktikkan oleh pedagang di warung makan Gorontalo. Di mana untuk mencapai tujuan tersebut tentu haruslah mengeksplor akuntansi keuntungan syarat dengan nilai budaya Islam. Kedua membutuhkan suatu pemahaman yang detail dan lengkap tentang permasalahan tersebut. Senada dengan alasan kedua ini saya membutuhkan data yang lengkap dan juga detail, data ini akan didapat dengan cara terjun langsung pada aktivitas para pedagang di warung makan. Ketiga melakukan penelitian kualitatif ketika kita ingin memberdayakan individu untuk menyampaikan cerita mereka, mendengarkan suara mereka dan meminimalkan RISTANSI: Riset Akuntansi. Volume 3. Nomor 1. Juni 2022. Hal 41-62 hubungan kekuasaan selama proses penelitian. Pada penelitian ini untuk dapat menjawab masalah, salah satu langkah yang akan dilakukan adalah wawancara secara mendalam dengan informan. Wawancara ini dilakukan untuk mendapatkan pemahaman tentang bagaimana para pedagang mempraktikkan akuntansi keuntungan. Praktik akuntansi yang digerakkan oleh semangat nilai-nilai budaya Islam masyarakat setempat hingga berujung pada kesadaran akan Sang Maha Pencipta. Sejalannya alasan pemilihan metode kualitatif yang disampaikan oleh (Creswell, 2. dengan tujuan penelitian ini, maka dapat dikatakan bahwa metode kualitatif adalah metode yang tepat untuk digunakan dalam penelitian ini. Teknik Pengumpulan Data. Riset ini menggunakan tiga teknik pengumpulan data yaitu wawancara, dokumentasi dan observasi (Creswell, 2. , (Moleong, 2. , (Mulyana, 2. , (Sugiyono, 2. Observasi partisipatif adalah peneliti terlibat dengan kegiatan sehari-hari orang yang sedang diamati atau yang digunakan sebagai sumber data penelitian. Dengan observasi ini maka data yang diperoleh lebih lengkap, tajam, dan sampai mengetahui pada tingkat makna dari setiap perilaku yang tampak (Sugiyono. Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang (Sugiyono. Dalam riset ini, jenis dokumen yang akan dikumpulkan berupa foto-foto tentang aktivitas dari pedagang dalam mempraktikkan akuntansi keuntungan. Lebih lanjut, wawancara merupakan pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat dikonstruksikan makna dalam suatu topik tertentu. Teknisnya dalam riset ini, peneliti mendatangi para informan di tempat mereka berjualan kemudian menanyakan tentang bagaimana mereka mempraktikkan akuntansi Lokasi Penelitian. Penelitian ini berlokasi di Provinsi Gorontalo. Kabupaten Gorontalo. Kecamatan Limboto. Jl Daso Bobihoe. Peneliti memilih daerah Gorontalo sebagai lokasi penelitian disebabkan filosofi kehidupan masyarakat setempat yang didasarkan pada nilai-nilai dari ajaran agama Islam yaitu AuAdati Hula-Hula Syareati. Syareati Hula-hula to KitabullahAy . dat berdasarkan pada syariat, syariat berdasarkan pada kitab ALLAH (Al-Qura. ) (Ataufiq, 2. , (Baruadi & Eraku, 2. , (Jasin, 2. , (Lamusu, 2. , (Nadjamuddin, 2. , (Thaib & Kango, 2. , (Yunus, 2. Instrumen Penelitian. Sejalan dengan penjelasan bahwa penelitian ini menggunakan metode kualitatif, maka yang menjadi instrumen dalam penelitian ini RISTANSI: Riset Akuntansi. Volume 3. Nomor 1. Juni 2022. Hal 41-62 adalah peneliti . Menjadikan peneliti sebagai instrumen penelitian adalah ciri khas dari metode kualitatif (Creswell, 2. , (Sugiyono, 2. , (Suwardi & Basrowi, 2. , (Moleong, 2. Secara teknis peneliti mengumpulkan data dengan memasuki realitas objek dengan melihat, memperhatikan, merasakan, mendengar, apa dan bagaimana para pedagang mempraktikkan akuntansi keuntungan. Pembauran peneliti dengan subjek serta aktivitas subjek berimplikasi pada terciptanya pemahaman mendalam terhadap interaksi yang bersifat alamiah. Sehingga memungkinkan terbentuknya ruang diskusi dengan pedagang di warung makan terkait dengan tujuan penelitian ini. Informan Penelitian. Terdapat tiga pedagang di warung makan Gorontalo yang dijadikan sebagai informan dalam riset ini. Para informan tersebut ditentukan dengan menggunakan metode penentuan informan berupa purposive sampling. (Sugiyono, 2. menjelaskan bahwa dalam metode kualitatif terdapat dua teknik pengumpulan data salah satunya adalah purposive sampling. Purposive sampling merupakan teknik penentuan informan yang didasarkan pada kriteria tertentu. Para pedagang yang dipilih oleh peneliti untuk menjadi informan dalam riset ini didasarkan pada lamanya mereka menjadi pedagang di warung makan, serta ketiga pedagang bersedia untuk meluangkan waktu dan memberikan informasi terkait tema riset ini. Tabel 1 merupakan ringkasan informasi dari ketiga informan Tabel 1 Daftar Informan Penelitian Nama Usia Lama Berdagang Ibu Ina 47 Tahun 20 Tahun Ibu Asna Tahun 20 Tahun Ibu Ismi Tahun 8 Tahun Jenis dagangan Ayam lalapan. Ayam geprek. Nasi Goreng. Gado-Gado. Bakso. Soto Ayam. Es Teh. Kopi. Nutri Sari, dan Es Campur. Nasi Kuning. Nasi Putih. Pisang Goreng. Bakwan. Tahu Isi. Rokok. Sate. Sayuran, dan Teh Manis Nasi Putih. Ikan Putih. Ikan Bakar. Sayuran. Ikan Danau. Ikan Kuah, dan Sate Sumber: Hasil Olah Data Peneliti Lokasi Berdagang Shoping Limboto Shoping Limboto Menara Limboto RISTANSI: Riset Akuntansi. Volume 3. Nomor 1. Juni 2022. Hal 41-62 Pada tabel 1 sebelumnya memuat isi tentang informan dalam riset ini. Informan pertama bernama ibu Ina, beliau saat ini berusia 47 tahun, sementara itu, ibu Ina telah menggeluti usaha ini A 20 tahun. Jenis dagangan yang tersedia di warung makan beliau diantaranya Ayam lalapan. Ayam geprek. Nasi Goreng. Gado-Gado. Bakso. Soto Ayam. Es Teh. Kopi. Nutri Sari, dan Es Campur. Tempat ibu Ina berjualan berada di pasar tradisional Limboto (Shoping Limbot. Informan kedua bernama ibu Asna, saat ini beliau telah berusia 50 tahun. Ibu Asna telah menjadi pedagang di warung makan ini A 20 tahun. Jenis dagangan yang beliau tawarkan diantaranya Nasi Kuning. Nasi Putih. Pisang Goreng. Bakwan. Tahu Isi. Rokok. Sate. Sayuran, dan Teh Manis. Saat ini lokasi warung makan dari ibu Asna berada di pasar tradisional Limboto (Shoping Limbot. Informan ketiga bernama ibu Ismi, beliau berusia 26 tahun, sementara itu, pengalaman berdagang A 8 tahun. Beberapa jenis makanan yang tersedia di warung makan ibu Ismi diantaranya adalah Nasi Putih. Ikan Putih. Ikan Bakar. Sayuran. Ikan Danau. Ikan Kuah, dan Sate. Tempat usaha dari ibu Ismi berada di sekitaran menara Limboto. Teknik Analisis Data. Dalam riset ini peneliti menggunakan teknik analisis data dari Miles dan Huberman. Model analisis data tersebut dibagi menjadi tiga tahapan yaitu reduksi, penyajian, dan kesimpulan (Sugiyono, 2. , (Thalib, 2022. pertama reduksi data, mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya, dan membuang yang tidak perlu. Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas, dan mempermudah peneliti untuk melakukan penarikan kesimpulan (Sugiyono, 2. Teknisnya, dalam riset ini, peneliti hanya akan memfokuskan data-data yang nantinya akan ditampilkan sesuai dengan tema riset ini yaitu akuntansi keuntungan yang dipraktikkan oleh pedagang di warung makan. Tahapan kedua dari analisis data adalah penyajian data. Dalam metode kualitatif, penyajian data bisa dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori, flowchart dan sejenisnya (Sugiyono, 2. Dalam riset ini, penyajian data akan dilakukan dalam bentuk teks yang bersifat naratif. Tahapan ketiga kesimpulan. Kesimpulan dalam penelitian kualitatif yang diharapkan adalah merupakan temuan baru yang sebelumnya belum pernah ada. Temuan dapat berupa deskripsi atau gambaran suatu objek yang sebelumnya masih remang-remang atau gelap sehingga setelah diteliti RISTANSI: Riset Akuntansi. Volume 3. Nomor 1. Juni 2022. Hal 41-62 menjadi jelas, dapat berupa hubungan kausal atau interaktif, hipotesis atau teori (Sugiyono, 2. HASIL PENELITIAN Awal Mula Usaha Warung Makan Modal usaha warung makan yang telah berjalan lebih dari 5 tahun ini berasal dari usaha sebelumnya yang digeluti oleh para penjual rumah makan. Hal ini sebagaimana yang diungkapkan oleh ibu Ina: Ausekitar 20 tahun yang lalu saya berjualan bakso keliling bajalan pake gerobak, terus uangnya saya simpan untuk modal saya babuat ini tampa,saya pake modal sendiri sekitar yo yo banyak ada sampe Rp. 000 juta dari hasil ba jual keliling digerobak lalu kan bekeng roda,beli perkakas seperti kursi,meja,piring,dan gelas yang bakase sedia ini tempat pemerintah. Tidak ada bantuan dari jalur desa, ini langsung pemerintah tunjuk sendiri, maksudnya buat pedagang kaki lima dia kasih tempat begini untuk mereka bagung usaha rumah makan. Ay Ausekitar 20 tahun yang lalu, saya berjualan bakso keliling, berjalan menggunakan gerobak, terus uangnya . saya simpan untuk modal saya membuat warung makan, saya menggunakan modal sendiri, sekitar Rp 5. 000 dari hasil berjualan keliling menggunakan gerobak, lalu membuat roda, membeli peralatan lainnya seperti kursi, meja, piring, dan gelas, yang menyediakan tempat untuk berjualan adalah pemerintah, tidak ada bantuan dari desa, ini langsung dari pemerintah, mereka langsung menetapkan tempat ini digunakan untuk pedagang kaki lima, diberikan tempat seperti ini untuk mereka bangun usaha rumah makan. Ay Berdasarkan pada cuplikan wawancara sebelumnya, peneliti memahami bahwa sekitar 20 tahun yang lalu, ibu Ina berjualan bakso keliling, sebagian dari keuntungan usaha ini beliau gunakan sebagai modal usaha warung makan sekarang. Sementara itu, untuk tempat berjualan warung makan sekarang merupakan fasilitas yang diberikan oleh pemerintah kepada para pedagang makanan. Dengan kata lain, modal usaha warung makan yang sementara berjalan bersumber dari usaha ibu Ina sebelumnya dan ditambah dengan bantuan dari pemerintah kabupaten. Hal ini senada dengan yang dialami oleh ibu Asna, beliau memperoleh mengawali usaha warung makan melalui modal usaha sebelumnya, berikut cuplikan penjelasan beliau: Au ti Tante so pernah bajual milu siram, tahu, bakwan, dan sate. Dulu ti Tante ba pinjam orang pe warung belum ada ini warung. Baru so beli ini warung dari hasil masi ada ba kontrak-kontrak. Ada beli ini Rp. tapi belum bagini belum tadinding, belum ta atap, baru so kasih bae ada RISTANSI: Riset Akuntansi. Volume 3. Nomor 1. Juni 2022. Hal 41-62 ambe kredit dia punya barang-barang, baru so ini lain-lain banya ini ada kase bae ini, kursi ada ambe kredit, baru hari-hari bayar cuman sedikitsedikit bayar barang-barang. Kursi so berapa kali ini ada ambe Rp. 000 per lusin itu kursi, payung juga Rp. 000 tapi Alhamdulillah so lunas. Karna cuman tanah ini juga bantuan dari Dinas Kementrian Perdagangan. Ay AuTante sudah pernah berjualan sebelumnya, berjualan seperti milu siram, tahu, bakwan, dan sate. Dulunya tante meminjam warung tempat jualan, akhirnya bisa membeli warung makan sendiri. Warung makan ini dibeli dengan harga Rp 3. 000, tapi bentuknya belum seperti ini, belum dibangun tembok, belum ada atapnya, terus sedikit demi sedikit direnovasi, terus barang-barang keperluan untuk dagangan dibeli secara kredit, setiap hari dibayar sedikit demi sedikit barangnya. Kursi untuk pelanggan ini dibeli dengan harga Rp 1. 000 per lusin nya, terus untuk payung Rp 350. 000 tapi alhamdulillah semuanya sudah lunas. Semua peralatan dan perlengkapan warung makan dibeli dari modal sendiri meskipun harus berhutang, karena pemerintah. Dinas Kementerian Perdagangan, hanya menyediakan lahan untuk tempat Ay Bertolak dari cuplikan wawancara sebelumnya, peneliti memahami modal usaha untuk berjualan warung makan diperoleh dari usaha sebelumnya, sementara itu, untuk peralatan dan perlengkapan warung rumah makan diperoleh dengan cara berhutang. Hal ini dilakukan oleh ibu Asna disebabkan pemerintah hanya membantu menyediakan tempat . untuk berjualan, sementara itu, untuk warung makan dan perlengkapan usaha lainnya diusahakan sendiri oleh para pedagang. Informan selanjutnya yaitu ibu Ismi mengungkapkan hal yang serupa Aumodal awal itu dari 500 ribu kalo tidak salah, masih kecil masih di sebelum ini ee ada di petak situ di shoping ada gorden, penjahit gorden sebelumnya. Baru karna so tidak mampu so banyak skali to baru so cape pulang kantor lagi mo ini gorden jadi bagaimana torang dari rumah tidak mo kasana lagi bagaimana torang pe cara ini supaya berenti gorden ada lagi torang pe pendapatan lain. Alhamdulillah ada coba sadiki-sadiki rumah makan boleh alhamdulillah. Ay AuModal awal itu dari Rp 500. 000, usaha sebelumnya masih kecil, masih di etalase, saya dulunya sebagai penjahit gorden. Terus karena saya sudah tidak mampu lagi harus pulang pergi dari rumah ke tempat tersebut, ditambah lagi sepulang dari kantor saya harus menjahit gorden, akhirnya saya memutuskan untuk membuka rumah makan saja, alhamdulillah dari rumah makan ini boleh untuk saya jalankan usahanya . idak begitu menguras tenag. Ay RISTANSI: Riset Akuntansi. Volume 3. Nomor 1. Juni 2022. Hal 41-62 Berangkat dari penuturan ibu Ismi sebelumnya, peneliti memahami bahwa usaha awal mulanya beliau membuka usaha untuk menjual dan menjahit gorden, namun disebabkan usaha tersebut menguras banyak waktu dan tenaga, akhirnya beliau memutuskan untuk mengganti usaha mata pencahariannya menjadi usaha warung makan, awal mula modal yang beliau keluarkan sekitar Rp 500. Berdasarkan pembahasan sebelumnya, peneliti dapat memahami bahwa para informan pernah berjualan sebelum mereka membuka usaha rumah makan ini. Keuntungan yang mereka dapatkan dari hasil penjualan sebelumnya, digunakan sebagai modal awal untuk memulai usaha mereka. Selanjutnya bantuan dari pemerintah setempat dipahami dapat membantu mereka untuk mengembangkan usaha warung Keuntungan saat Kenaikan Harga Bahan Pokok Kenaikan harga bahan pokok menjadi tantangan tersendiri bagi para pedagang dalam memperoleh keuntungan, berikut merupakan penjelasan dari Selanjutnya dari Ibu Asna dalam menghadapi kenaikan bahan pokok: Aukalo terjadi bahan pokok saya tetap mo babeli, ini kan baru-baru minyak sudah mahal ini so turun sadiki lagi mau tidak mau tetap Baru tidak mo babeli kasana mo goreng pake apa . Tapi depe harga makanan yang tasadia disini kase naik, dulu Rp. 000 gorengan sekarang so Rp. 000 empat bisa juga Rp. dua biji, rokok, ikan juga begitu jaga naik-naik trus torang jaga kasih naik olo. Ay AuKalau terjadi kenaikan harga bahan pokok saya tetap akan membelinya, baru-baru ini kan minyak sudah mahal, ini sudah turun sedikit lagi harga minyak gorengnya. Mau tidak mau tetap akan membeli minyak goreng, terus kalau tidak dibeli akan menggoreng makanan pakai apa? Hehehe. Tapi harga makanan akan saya naikkan, sebelum harga naik gorengan Rp 1. 000 per bijinya, sekarang menjadi Rp 5. 000 empat, bisa juga Rp 2. 500 untuk dua biji, harga untuk ikan juga seperti itu, jika harganya sedang naik, maka harga jual di warung saja juga akan saya naikkan. Ay Bertolak dari cuplikan wawancara sebelumnya, peneliti memahami bahwa tindakan ibu Ina dalam menghadapi harga bahan pokok yang sementara naik adalah dengan menaikkan juga harga makanan yang berada di warung makannya. Hal ini beliau lakukan untuk tetap dapat memperoleh keuntungan saat harga bahan pokok sementara mengalami kenaikan. Lebih lanjut, sedikit berbeda dengan keputusan yang dilakukan oleh ibu Asna, ibu Ismi menerapkan strategi berupa mengurangi porsi makanan yang RISTANSI: Riset Akuntansi. Volume 3. Nomor 1. Juni 2022. Hal 41-62 nanti diberikan kepada pembeli dari pada harus menaikkan harga jualnya, berikut penjelasan beliau: Autorang kan kalo misalnya mo kase nae harga begitu kan di sinikan banyak saingan to jadi pikir-pikir depe nae ini berapa. Jadi mungkin dari depe porsi yang mo kurang depe porsi makanan harga tetap. Kecuali kalo yang harga ikan naik begitu baru bole kalo yang macam rica atau minyak begitu torang tidak bisa ba kase nae. Ay AuKami kan misalnya menaikkan harga begitu masih harus dipikir-pikir lagi, karena disini kan banyak saingannya, jadi mungkin dari porsinya saja yang dikurangi, dari pada menaikkan harganya. Kecuali kalau harga ikan lagi naik, maka akan menaikkan harga, tapi kalau rempahrempah dan minyak goreng begitu kami tidak bisa menaikkan harga Walaupun rempah-rempah naik harga jualan tetap sama. Ay Bertolak dari penuturan sebelumnya, peneliti memahami bahwa ketika harga rempah-rempah naik, maka pedagang tidak akan menaikkan harga jual, tetapi mengurangi porsi makanan yang nanti diberikan kepada pembeli. Hal ini mereka lakukan sebagai salah satu strategi dalam memperoleh keuntungan. Kenaikan harga akan dilakukan oleh pedagang di rumah makan hanya jika harga dari ikan sedang naik. Lebih lanjut informan berikutnya yaitu ibu Ina menjelaskan bahwa: Aucara saya menghadapi kenaikan bahan pokok sewaktu-waktu bagaimana ya namanya so naek yah sabar. Kalo barang tokoh boleh saja mo kasih naek kalo untuk yang begini susah tidak ada yang mo ba beli kalo so mahal. disini juga kan allhamdullilah so bayak langgangan jadi mbak memang nda kasih naek depe hargaAy Cara saya menghadapi kenaikan bahan pokok, bagaimana ya namanya kalau sudah harga naik, ya sabar sajaA kalau menjual barang-barang seperti di kios atau toko, boleh saja harganya akan dinaikkan, tapi kalau untuk rumah makan begini susah, tidak ada yang akan membeli kalau sudah mahal. Disini juga kan alhamdulillah sudah banyak langganan, jadi tante memang tidak akan menaikkan harga jualannya . eskipun harga bahan pokoknya sedang nai. Ay Pada cuplikan wawancara sebelumnya, peneliti memahami bahwa tindakan ibu Ina untuk tetap mempertahankan keuntungan meskipun harga bahan pokok tetap naik adalah tidak akan menaikkan harga dagangannya, hal ini disebabkan jika menaikkan maka akan sulit untuk menjualnya lagi, karena tidak akan ada yang membeli. Oleh sebab itu, ibu Ina tetap bertahan dengan harga jual yang sebelumnya, meskipun harga bahan pokok sementara naik. Sementara itu, ibu Ina menegaskan, meskipun dengan kondisi RISTANSI: Riset Akuntansi. Volume 3. Nomor 1. Juni 2022. Hal 41-62 demikian, beliau tetap dapat memperoleh keuntungan disebabkan ibu Ina telah memiliki banyak pelanggan yang setia untuk membeli di warung makannya. Pada pembahasan sebelumnya, peneliti dapat memahami bahwa terdapat beberapa cara yang dilakukan oleh para pedagang untuk tetap memperoleh keuntungan saat kenaikan harga bahan pokok. Beberapa cara tersebut adalah ikut menaikkan harga jualannya sebagaimana yang dilakukan oleh ibu Asna. Mengurangi jumlah makanan yang akan diberikan kepada pembeli, hal ini merupakan strategi yang dilakukan oleh ibu Ismi. Sementara untuk ibu Ina tetap bertahan dengan harga yang sebelumnya, meskipun tidak menaikkan harga jual, namun ibu Ina tetap memperoleh keuntungan disebabkan beliau telah memiliki banyak pelanggan tetap untuk warung makannya. Menggunakan Keuntungan untuk Membiayai Pendidikan dan Kesehatan Anak Keuntungan yang diperoleh dari usaha warung makan, akan digunakan oleh para pedagang untuk membiaya pendidikan dan kesehatan anak-anak mereka. Hal ini sebagaimana yang diungkapkan oleh ibu Asna: Autanggungan yang saya mobayar tinggal satu, karna saya pe anak ada tujuh semua yang bolo motanggung ini tinggal satu yang enam so menikah semua. Dia so tidak kuliah kasiang, kurang sehat dia soalnya tapi dia lanjut sekolah kelas dua Aliyah baru sampai tamat Aliyah. , dia adakalanya mo suru-suru baku bantu bekerja. Ay Tanggungan yang saya biaya hanya tinggal satu, karena anak saya kan ada tujuh, semuanya sudah bekerja dan menikah, jadi tinggal satu ini lagi anak saya yang jadi tanggungan, dia sudah tidak kuliah kasiang, kurang sehat juga, sering timbul penyakitnya. Terus pendidikannya sampai tingkat Aliyah. Kadang dia membantu juga saya bekerja di warung makan ini. Bertolak dari cuplikan wawancara sebelumnya, peneliti memahami bahwa keuntungan dari usaha warung makan yang diperoleh oleh ibu Asna salah satunya akan beliau gunakan untuk membiayai kesehatan dari anak beliau. Pada cuplikan sebelumnya juga memberikan informasi bahwa sebagian besar anak-anak dari ibu Asna telah bekerja dan memiliki kehidupan rumah tangganya masing-masing. Oleh sebab itu, keuntungan dari rumah makan ini sebagian akan beliau gunakan untuk membiayai kehidupan dia dan anaknya. Sementara itu, informan selanjutnya, ibu Ismi, mengungkapkan bahwa keuntungan dari membuka warung makan ini akan beliau gunakan untuk membiayai pendidikan dari adiknya, berikut cuplikan wawancara ibu Ismi: RISTANSI: Riset Akuntansi. Volume 3. Nomor 1. Juni 2022. Hal 41-62 Ausaya anak pertama yang kedua so nikah, yang terakhir masih SD. Tinggal 1 orang yang menjadi tanggungan, kebetulan saya juga so kerja baru kurang dia. Ay Saya anak pertama, anak kedua sudah menikah, dan yang terakhir masih SD, tinggal 1 orang yang menjadi tanggungan, kebetulan saya juga kan sudah bekerja, jadi tinggal adik saya yang ketiga. Pada penjelasan sebelumnya, peneliti memahami bahwa ibu Ismi memiliki tiga Ibu Ismi sendiri merupakan anak pertama, sementara itu adik ibu Ismi yang kedua telah menikah, sehingga yang menjadi tanggungan dari keluarga ibu Ismi hanyalah tinggal adiknya yang masih mengenyam pendidikan di tingkat Sekolah Dasar. Keuntungan yang diperoleh dari warung makan ini salah satunya akan beliau gunakan untuk membiayai pendidikan adiknya. Membiayai pendidikan anggota keluarga juga merupakan salah satu tujuan dari perolehan keuntungan warung makan, hal ini diungkapkan oleh Ismi bahwa: Auanak saya ada dua perempuan semua yang pertama sudah menikah dan yang ke dua masih kuliah di UG (Universitas Gorontal. semester enam jadi selain ba urus ini usaha keuntungan yang saya dapatkan saya sisipkan untuk memenuhi kebutuhan kuliah anak saya yang keduaAy AuAnak saya berjumlah dua orang, keduanya perempuan, anak pertama sudah menikah, dan anak kedua masih kuliah di UG (Universitas Gorontal. , sekarang semester enam, jadi keuntungan dari usaha yang saya dapatkan ini saya sisipkan untuk memenuhi kebutuhan kuliah anak saya yang kedua. Ay Pada penuturan ibu Ina sebelumnya, peneliti memahami bahwa meskipun latar belakang pendidikan beliau hanya sampai tingkat Sekolah Dasar, namun beliau mampu untuk membiayai pendidikan anaknya sampai dengan di tingkat pendidikan di perguruan tinggi, biaya tersebut beliau dapatkan dari menyisihkan sebagian keuntungan yang diperoleh dari warung makan, untuk biaya pendidikan anaknya. Pada pembahasan sebelumnya, peneliti dapat mengambil kesimpulan bahwa keuntungan yang diperoleh oleh pedagang dari usaha warung makan akan mereka gunakan untuk membiayai pendidikan anak, keluarga, dan kesehatan. Menggunakan Keuntungan untuk Kegiatan Tolong Menolong Keuntungan yang diperoleh dari usaha warung makan tidak saja digunakan oleh para pedagang untuk kebutuhan pendidikan dan kesehatan mereka, namun juga RISTANSI: Riset Akuntansi. Volume 3. Nomor 1. Juni 2022. Hal 41-62 sebagian akan mereka gunakan untuk membantu di antara sesama, hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh ibu Asna: Au saya sering ba kase uang sama saya pe saudara atau keluarga saya yang mo datang walaupun cuman sadiki-sadiki tapi dorang bersyukur Baru adakalnya tidak mo habis makanan saya mo kase pa saudara-saudaraAy. Ausaya sering juga memberikan uang sama saudara atau keluarga yang datang walaupun hanya sedikit-sedikit, tapi ketika menerima itu mereka sangat bersyukur. Terus adakalanya juga kalau makanan di warung makan tidak habis terjual, akan saya berikan kepada saudarasaudara sayaAy Cuplikan wawancara ibu Asna sebelumnya memberikan pemahaman kepada peneliti bahwa kadang keuntungan yang beliau peroleh juga beliau bagikan kepada saudara ataupun keluarga yang mengunjungi beliau saat itu, meskipun keuntungan yang diberikan tersebut hanya sedikit, namun anggota keluarga yang menerima itu sangat bahagia dan juga bersyukur, kemudian pada penuturan sebelumnya juga, ibu Asna menjelaskan bahwa jika ada makanan warung yang tidak habis terjual, akan beliau bagikan secara gratis kepada keluarga dan saudara beliau. Jika pedagang sebelumnya, ibu Asna, akan membagikan sedikit rezeki yang beliau peroleh dari warung makan kepada keluarganya, maka informan selanjutnya, ibu Ismi, akan memberikan pinjaman kepada karyawannya yang pada saat itu membutuhkan dana, berikut penjelasan ibu Ismi: Aukalo misalnya ada karyawan mo pinjam uang kan torang kan ada ba jual to hari-hari, otomatis ada simpanan selain modal kan inikan karyawan to, orang yang ba bantu torang kalo misalnya ada lebe mo Dorang kan karyawannya torang, dorang suka, torang juga suka bantuAy. AuKalau misalnya ada karyawan akan meminjam uang kan, kan kami berjualan sehari-hari, otomatis ada simpanan keuntungan selain modal kan, ini kan karyawan saya yang bekerja bersama-sama, kalau misalnya ada keuntungan yang lebih, maka akan digunakan untuk membantu karyawan. Ay Pada penjelasan ibu Ismi sebelumnya, peneliti memahami bahwa keuntungan yang beliau peroleh sebagiannya akan beliau gunakan untuk membantu karyawannya yang mengalami kesulitan keuangan saat itu. Meskipun keuntungan yang beliau peroleh jumlahnya tidak begitu banyak, namun beliau bersedia untuk membantu karyawan yang RISTANSI: Riset Akuntansi. Volume 3. Nomor 1. Juni 2022. Hal 41-62 saat itu meminta bantuan kepada beliau. Selanjutnya ibu Ina menjelaskan hal yang serupa bahwa: Aykalo misalnya ada pelanggan yang datang makan bakso atau makan nasi goreng disini tapi bakso dan nasi gorengnya saya sudah habis saya tetap mo bilang ada. padahal yang sebenarnya bakso dan nasi gorengnya saya ada ambi di l rumah makan sebelahnya dan uangnya juga saya akan kasih sama rumah makan yang saya ada ambe akan bakso dan nasi goreng itu. dan disini kami pedagang saling tolong menolong satu sama lain seperti saya kehabisan telur,rica,lontong saya bisa mengambil di rumah makan sebelah dorang tetap mo kaseAy AuMisalnya ada pelanggan yang datang untuk membeli bakso atau nasi goreng di sini, tapi makannya yang saya jual sudah habis, maka saya akan tetap mengatakan kepada pelanggan bahwa makanan yang mereka cari masih tersedia, kemudian nasi goreng atau baksonya akan saya ambil dari rumah makan di sebelah saya, jadi disini antara pedagang makanan saling membantu satu sama lain, seperti saya kalau kehabisan telur, rica, lontong, saya bisa mengambil di rumah makan sebelah, dan mereka pun tetap akan memberikannyaAy Pada penuturan sebelumnya, peneliti memahami antara sesama pedagang saling membantu dalam memperoleh keuntungan. Bentuk tolong menolong ini tercermin melalui jika bahan makanan salah satu pedagang habis, maka mereka bisa meminjamnya pada pedagang lainnya, hal ini juga berlaku, jika ada pembeli yang mau membeli makanan di tempat ibu Ina, namun makanan yang disediakan tersebut sudah habis terjual di warung makan beliau, maka ibu Ina akan tetap memberitahu bahwa makanannya masih ada, dan mengambil di warung sebelah yang kebetulan makanan yang pelanggan cari tersebut masih belum laku terjual. Hal ini ibu Ina lakukan untuk membantu sesama pedagang makanan dalam memperoleh keuntungan. Menggunakan Keuntungan untuk Bersedekah Keuntungan yang diperoleh oleh para pedagang sebagian akan mereka gunakan untuk kegiatan amal seperti bersedekah, hal ini sebagaimana yang diungkapkan oleh ibu Ismi: Aukalo ada pengemis yang mo minta makan mo kase, karna kan sumbangan kah atau sumbangan masjid begitu yang eto-eto, tetap torang mo kase kan dorang juga butuh makan ati. Kalo ada keuntungan sedikit torang rutin ba kase ke panti baru ke kas masjid. Karna torang ba prinsip, kan torang juga kan semakin banyak torang pe rezeki yang torang dapat torang juga kalo lebe banyak ba kase alhamdulillah Tuhan mo bantu olo, perbanyak sedekah kalo misalnya ada makanan yang ta sisa, kalo torang kalo yang kuah-kuah begitu kan RISTANSI: Riset Akuntansi. Volume 3. Nomor 1. Juni 2022. Hal 41-62 karyawan mo pulang to kalo memang yang tidak boleh mo simpan torang mo suruh bawa sama karyawan, dorang tiap pulang kalo ada ikan kuah yang ta sisa mo kase yang memang tidak boleh mo simpan. Walaupun mbak napa ada mbak-mbak di muka kalo sayur-sayur santan begitu kan tidak boleh mo simpan jadi somo bagi-bagi. Baru ada lagi makanan gratis itu tiap hari jumat dan kalo Ramadhan ee Bagi-bagi di masjid sini. Kalo Ramadhan bubur torang tidak jual bubur Cuma dibagi-bagi begituAy Kalau ada pengemis yang meminta makanan, akan saya berikan, kalau ada sumbangan masjid juga maka akan diberikan, tetap kita akan memberikan makanan secara gratis bagi yang membutuhkan makanan kasihan, kalau ada keuntungan sedikit akan kami gunakan untuk memberikan ke panti asuhan atau ke kas masjid. Prinsipnya semakin banyak rezeki yang kami dapat, maka semakin banyak juga yang akan kasih, alhamdulillah Tuhan membantu juga, perbanyak Misalnya ada makanan yang tersisa, maka makanan yang berkuah akan dibagikan kepada karyawan untuk dibawah pulang, para karyawan setiap pulang dari sini membawa lauk pauk. Terus juga saya suka memberikan makanan gratis setiap jumat dan kalau bulan Ramadhan itu saya membagikan bubur. Membagikan di masjid. Kalau bulan suci Ramadhan, bubur tidak akan kami jual, hanya dibagi-bagi begitu kepada orang-orangAy Pada penuturan ibu Ismi sebelumnya memberikan pemahaman kepada peneliti bahwa beliau menggunakan sebagian keuntungan yang diperoleh untuk bersedekah seperti memberikan sumbangan di masjid, panti asuhan, dan memberikan makanan gratis kepada yang membutuhkan. Hal ini dilakukan atas dasar rasa kemanusiaan, serta keyakinan bahwa rezeki yang dititipkan oleh Sang Pencipta sebagiannya memanglah harus dibagikan kepada orang-orang yang membutuhkan. Menurut penuturan ibu Ismi, semakin banyak bersedekah, maka semakin banyak pula rezeki yang dititipkan oleh Tuhan kepada beliau. Hal serupa juga dilakukan oleh pedagang bernama ibu Asna, berikut cuplikan wawancara beliau: "kalo ada pengemis yang baminta makanan mo kase kasana, ada olo yang jaga ba minta sumbanggan titante mo kase kasana biar cuman Baru kalo ada kelebihan biar cuman sadiki mo kase, saya tida rasa rugi, tetap mo dapat rezeki. Ay Aukalau ada pengemis yang meminta makanan, akan diberikan, ada juga yang meminta sumbangan, maka tante akan berikan juga, walaupun yang diberikan hanya sedikit. Terus kalau ada kelebihan rezeki walaupun hanya sedikit akan diberikan, saya ketika memberikan itu tidak merasa rugi, rezeki tetap akan didapat. Ay RISTANSI: Riset Akuntansi. Volume 3. Nomor 1. Juni 2022. Hal 41-62 Berangkat dari penjelasan ibu Asna sebelumnya, peneliti memahami bahwa beliau menggunakan sedikit dari keuntungan yang diperoleh untuk bersedekah serta membantu orang-orang yang meminta makanan secara gratis di warung makannya. Beliau tidak merasa rugi saat memberikan makanan secara gratis. Hal ini didasarkan atas keyakinan bahwa rezeki pasti tetap akan beliau dapatkan. Lebih lanjut, ibu Ina menjelaskan bahwa: Aukalo bakso boleh motaro di kulkas, kalo sayur apa nda boleh pake. Kalo ada orang yang mo makan mo kase. kalo ada kelebihan mau sisipkan untuk sedekah walaupun sedikit karna itu kan kewajiban sebagai orang muslim. Pas bulan ramadhan saya juga ada bagi-bagi takjil seperti kue, bubur, di masjid-mesjid, masjid torang punya lingkungan tempat tinggal,minyak kelapa, beras, super mie, teh,dan Saya mo kasih sama orang yang sekiranya membutuhkan begitu. Yaa saya kan dikasih kelebihan rezeki yaa kita bagi-bagi kepada orang yang membutuhkan dan yang tidak mampu begitu iya biar namanya saya so bilang biar sedikit itu kan sudah kaya kewajiban kita hari-hari harus makan nasi jadi so tau kalo waktunya sedekah yah sedekah ada rezeki biar sedikit yang namanya sudah kewajiban orang muslim. Ay Kalau ada yang meminta makanan, tetap akan diberikan, kalau ada kelebihan akan saya sisipkan untuk sedekah, walaupun sedekah yang saya berikan hanya sedikit, tapi itu kan kewajiban sebagai muslim. Pada saat bulan suci Ramadhan, saya juga memberikan takjil seperti kue dan bubur di masjid-masjid. Saya juga memberikan sembako seperti minyak kelapa, beras, mie, teh, dan gula. Saya berikan kepada orang-orang yang membutuhkan. Hal itu saya lakukan karena saya juga kan diberikan kelebihan rezeki oleh Tuhan, ya jadi dibagi-bagi kepada orang yang membutuhkan dan yang tidak mampu begitu, walaupun hanya sedikit, ada rezeki sedikit jadi berbagi lagi, yang namanya sudah kewajiban muslim seperti itu. Pada penuturan ibu Ina sebelumnya, peneliti memahami bahwa beliau akan menyisihkan sebagian keuntungan yang diperoleh dari warung makan untuk kegiatan amal seperti bersedekah, memberikan makanan gratis untuk buka puasa, serta membagikan bahan sembako kepada orang-orang yang membutuhkan. Hal ini beliau lakukan atas dasar kesadaran bahwa hal itu sudah menjadi kewajiban sebagai seorang muslim untuk menyisihkan sebagian rezeki yang diperoleh untuk membantu di antara Pada penuturan sebelumnya juga menginformasikan bahwa meskipun hanya bisa memberikan sedikit, namun beliau tetap mengusahakan untuk bisa bersedekah. Kesimpulan yang peneliti pahami dari pembahasan sebelumnya bahwa keuntungan yang diperoleh dari warung makan sebagian akan digunakan oleh para pedagang untuk kegiatan bersedekah. Kegiatan sedekah tersebut misalnya saja RISTANSI: Riset Akuntansi. Volume 3. Nomor 1. Juni 2022. Hal 41-62 memberikan makanan gratis, memberikan sembako, serta sedekah uang pada orangorang yang membutuhkan. Kegiatan ini sering diungkapkan oleh para informan dengan kalimat Aubakase biarpun cuman sadiki/ memberi walaupun hanya sedikitAy. Namun yang perlu digaris bawahi bahwa kata sedikit dari pemberian tersebut menurut peneliti hanya kiasan saja, karena pada kenyataannya jumlah yang diberikan oleh para pedagang untuk kegiatan amal merupakan sumbangan terbaik yang bisa mereka berikan. Hal ini juga berkaca melalui kondisi usaha mereka yang masih berbentuk warung . ukan rumah maka. , namun meskipun kondisi usaha yang masih serba pas-pasan, tetapi para pedagang tetap konsisten memberikan sedekah dengan jumlah yang terbaik sesuai dengan kondisi keuangan mereka masing-masing. PEMBAHASAN Hasil penelitian sebelumnya menemukan bahwa para pedagang di warung makan Gorontalo menggunakan keuntungan baik untuk membiayai kebutuhan pribadi dan keluarga seperti membiayai pendidikan anak, membiayai kesehatan keluarga, mengembangkan kembali usaha, serta memberikan bantuan kepada anggota keluarga masing-masing. Menariknya, selain menggunakan keuntungan untuk kebutuhan pribadi, para pedagang menggunakan keuntungan juga untuk membantu di antara sesama seperti memberikan bantuan pinjaman kepada karyawan yang saat itu sedang mengalami kesulitan, membantu para pedagang lainnya untuk memperoleh keuntungan. Dengan kata lain, para pedagang mempraktikkan akuntansi keuntungan dengan semangat tolong menolong di antara sesama. Dalam kebudayaan masyarakat Gorontalo, tolong menolong di antara sesama disebut dengan istilah huyula. Huyula merupakan suatu sistem gotong royong atau tolong menolong antara anggota masyarakat untuk memenuhi kebutuhan dan kepentingan bersama untuk didasarkan pada solidaritas (Sumar, 2. Praktik akuntansi berbasis semangat nilai tolong menolong di antara sesama telah ditemukan oleh beberapa peneliti diantaranya (Amaliah & Mattoasi, 2. , (Fauzia, 2. , (Hasni, 2. , (Khairi, 2. , (Prasdika. Auliyah, & Setiawan, 2. , (Thalib, 2019. , (Thalib et , 2. , (Thalib. Sujianto, et al. , 2. , (Thalib et al. , 2. , (Wahyuni, 2. , (Wahyuni & Nentry, 2. Selanjutnya, para pedagang juga mendistribusikan keuntungan yang mereka peroleh untuk bersedekah, seperti memberikan sumbangan kepada orang yang RISTANSI: Riset Akuntansi. Volume 3. Nomor 1. Juni 2022. Hal 41-62 membutuhkan, memberikan makanan gratis, menjadi donatur untuk kegiatan buka puasa di bulan suci ramadhan, serta membagikan sembako. Aktivitas tersebut sering diungkapkan oleh para pedagang dengan istilah tetap mobakase meskipun cuman sadiki atau tetap mengusahakan memberikan bantuan meskipun yang bisa diberikan hanyalah Meskipun diungkapkan dengan memberi walaupun hanya sedikit, namun dalam sudut pandang peneliti yang diberikan oleh para pedagang di warung makan merupakan pemberian terbaik yang bisa mereka sedekahkan. Kegiatan menyisihkan sebagian keuntungan tersebut digerakkan dengan kesadaran bahwa antara sesama Muslim haruslah bisa membantu di antara sesama. Dalam kebudayaan masyarakat Gorontalo, kegiatan tersebut dikenal dengan istilah Audiila oAoonto bo wolu-woluwo/ tidak kelihatan tetapi adaAy. Ungkapan ini mengajarkan bahwa dalam kehidupan jangan hanya mengejar yang kelihatan . , tetapi mencari juga sesuatu yang tidak kelihatan tetapi ada . ang memberikan materi yaitu Allah Subbahana HuwataAoal. (Daulima, 2. Dengan kata lain, peneliti memahami bahwa keuntungan yang dipraktikkan oleh para pedagang syarat dengan nilai-nilai keimanan mereka kepada Sang Pencipta. Praktik akuntansi yang syarat dengan nilai-nilai iman pada Sang Pencipta juga telah ditemukan oleh beberapa peneliti diantaranya (Farhan, 2. , (Pertiwi & Ludigdo, 2. , (Rizaldy, 2. , (Salle, 2. KESIMPULAN Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap praktik akuntansi keuntungan oleh pedagang di warung makan Gorontalo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa. modal dari warung makan yang menjadi usaha para pedagang saat ini bersumber dari keuntungan mereka dari usaha sebelumnya. kedua, para pedagang tetap memperoleh keuntungan meskipun harga bahan pokok sementara naik. ketiga, para pedagang menggunakan keuntungan untuk membiayai pendidikan anak dan kesehatan. para pedagang membagikan keuntungan yang mereka peroleh untuk membantu di antara sesama. kelima, para penjual di rumah makan menyisihkan sebagian dari keuntungan yang mereka peroleh untuk bersedekah, seperti memberikan makanan gratis, sembako, serta menjadi donatur untuk kegiatan buka puasa di bulan suci Ramadhan. Meskipun hanya bisa memberikan sedikit, namun para pedagang tetap mengusahakan untuk menyedekahkan sebagian dari rezeki yang mereka peroleh pada RISTANSI: Riset Akuntansi. Volume 3. Nomor 1. Juni 2022. Hal 41-62 orang-orang yang membutuhkan. Hal ini didasarkan atas kesadaran bahwa membantu di antara sesama merupakan kewajiban bagi seorang muslim, meskipun bantuan yang bisa diberikan oleh mereka hanyalah sedikit, atau dalam bahasa sehari-hari diungkapkan dengan kalimat Aubakase biarpun cuman sadiki . etap mengusahakan untuk memberi walaupun hanya sediki. Ay. Dalam kebudayaan masyarakat Gorontalo, para orang tua setempat sering memberikan nasihat untuk melakukan kegiatan amal dalam bentuk saling membantu di antara sesama, nasihat tersebut diungkapkan oleh para orang tua melalui lumadu . diila oAoonto bo wolu-woluwo atau tidak kelihatan tetapi ada. Kajian riset ini terbatas pada penelusuran tentang praktik akuntansi keuntungan pada pedagang di warung makan Gorontalo. Saran untuk riset selanjutnya adalah untuk mengkaji praktik akuntansi kerugian yang dipraktikkan oleh para pedagang di warung makan Gorontalo. Manfaat dari hasil kajian ini adalah menghadirkan temuan tentang praktik akuntansi keuntungan berbasis nilai kearifan lokal masyarakat Gorontalo. REFERENSI