Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 2192-2205 Analisis risiko Rantai Pasok Crude Palm Oil Menggunakan Metode House of Risk (Studi Kasus di PTPN IV Regional II Pagar Merba. Supply Chain Risk Analysis of Crude Palm Oil Using House of Risk Method (Case Study at PTPN IV Regional II Pagar Merba. Rangga Adi Prayoga. Wiludjeng Roessali. Suryani Nurfadillah Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro Jalan Prof. Jacob Rais Kampus Universitas Diponegoro Tembalang. Semarang 50275 *Email: ranggaadiprayoga15@gmail. (Diterima 17-02-2025. Disetujui 25-06-2. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan menganalisis tingkat risiko, risk event serta risk agent, dan strategi mitigasi risiko rantai pasok CPO di PTPN IV Regional II Pagar Merbau. Kecamatan Pagar Merbau. Kabupaten Deli Serdang. Provinsi Sumatera Utara. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan 23 September Ae 18 Oktober 2024 berlokasi di Pabrik Kelapa Sawit Pagar Merbau KSO PTPN IV Regional II Desa Pagar Merbau II. Kecamatan Pagar Merbau. Kabupaten Deli Serdang. Provinsi Sumatera Utara. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini yaitu studi kasus dengan analisis deskriptif kuantitatif. Metode koefisien variasi (KV) digunakan untuk mengukur tingkat risiko produksi. Metode SCOR digunakan untuk menggambarkan dasar proses rantai pasok produk CPO. Metode HOR fase 1 digunakan untuk mengidentifikasi dan penilaian risk event dan risk agent. Metode HOR fase 2 digunakan untuk evaluasi risiko dan menganalisis strategi mitigasi risk agent rantai pasok CPO yang telah menjadi prioritas. Hasil penelitian menunjukkan tingkat risiko menggunakan koefisien variasi berdasarkan kuantitas produksi tergolong pada kategori sangat tinggi yaitu sebesar 28,67%. Hasil identifikasi risiko menunjukkan identifikasi risiko diperoleh 17 risk event, 16 risk agent, dan 7 risk agent prioritas dengan nilai ARP tertinggi yang perlu penanganan adalah perencanaan target produksi yang tidak tepat (A. , kurangnya ketelitian sumber daya manusia (A. , ketidakpastian hasil panen TBS kebun inti (A. , pemeliharaan tidak rutin dan pelaksanaan overhoul tidak tepat waktu (A. , kondisi jalan inti di kebun mengalami kerusakan sehingga pengiriman TBS terganggu (A. , penggunaan cangkang sebagai bahan bakar melebihi norma (A. , dan kebocoran alat rebusan karena liner sudah aus (A. Hasil identifikasi 8 strategi mitigasi untuk mengurangi 7 risk agent prioritas yaitu mengkaji ulang perencanaan target produksi (PA. , memperbaiki jalan untuk memperlancar pengiriman TBS (A. , meningkatkan sistem pengawasan dan pelatihan kerja sumber daya manusia (PA. , melakukan audit maintenance secara berkala (PA. , memperbanyak pembelian TBS ke pihak ketiga (PA. , melakukan inspeksi rutin dan perbaikan kecil untuk menjaga kondisi mesin (PA. , melakukan pencadangan sparepart (PA. , dan penggantian liner rebusan secara periodik (PA. Kata kunci: CPO. House of Risk. Supply Chain Operation Reference (SCOR). ABSTRACT This study aimed to analyze the level of risk, risk events and risk agents, and risk mitigation strategies for the CPO supply chain at PTPN IV Regional II Pagar Merbau. Pagar Merbau District. Deli Serdang Regency. North Sumatra Province. This research was conducted from September 23 to October 18, 2024, at the Pagar Merbau Palm Oil Mill KSO PTPN IV Regional II Pagar Merbau II Village. Pagar Merbau District. Deli Serdang Regency. North Sumatra Province. The research method used in this study was a case study with quantitative descriptive analysis. The coefficient of variation (CV) method was used to measure the level of production risk. The SCOR method was used to describe the basic supply chain process of CPO products. The HOR phase 1 method was used to identify and assess risk events and risk agents. The HOR phase 2 method was used for risk evaluation and for analyzing mitigation strategies for CPO supply chain risk agents that had been prioritized. The results showed that the level of risk, based on the coefficient of variation for production quantity, was classified as very high at 28. The results of risk identification revealed 17 risk events, 16 risk agents, and 7 priority risk agents with the highest ARP values that needed to be handled improper production target planning (A. , lack of accuracy in human resources (A. , uncertainty in the yield of FFB in the core plantation (A. , non-routine maintenance and untimely overhaul implementation (A. , damaged core roads in the plantation that disrupted FFB delivery (A. , excessive use of shells as fuel (A. , and leakage of stewing equipment due to worn liners (A. The results identified 8 mitigation strategies to reduce 7 priority Analisis Risiko Rantai Pasok Crude Palm Oil Menggunakan Metode House of Risk Rangga Adi Prayoga. Wiludjeng Roessali. Suryani Nurfadillah risk agents was reviewing the production target plan (PA. , improving roads to facilitate FFB delivery (PA. , enhancing the supervision system and job training for human resources (PA. , conducting regular maintenance audits (PA. , increasing FFB purchases from third parties (PA. , performing routine inspections and minor repairs to maintain machine conditions (PA. , backing up spare parts (PA. , and periodically replacing stew liners (PA. Keywords: CPO. House of Risk. Supply Chain Operation Reference (SCOR). PENDAHULUAN Sektor agroindustri Indonesia yang berkembang dengan prospek baik yaitu komoditas kelapa sawit. Hal ini dibuktikan pada nilai ekspor terbesar sektor agroindustri triwulan i tahun 2023, yaitu minyak kelapa sawit sebesar US$22,94 Milyar (Kemenperin, 2. Kelapa sawit merupakan salah satu komoditas tanaman perkebunan industri yang mempunyai peranan penting pada sektor pertanian dengan menghasilkan minyak skala tinggi di dunia. Kelapa sawit memiliki keunggulan seperti produksi per hektar tinggi, umur ekonomis panjang, persediaan yang cukup, dan pemanfaatannya yang memiliki keanenekragaman (Siswanto, 2. Kelapa sawit dapat menghasilkan produk crude palm oil (CPO) sebagai bahan baku minyak nabati, minyak bahan bakar, dan minyak industri. CPO termasuk produk turunan dari kelapa sawit yang diproduksi melalui tahap penerimaan Tandan Buah Segar (TBS) dari perkebunan hingga proses pemurnian minyak kelapa sawit. CPO mempunyai manfaat bagi masyarakat dan industri dunia dalam kebutuhan sehari-hari berupa minyak goreng, sabun, serta mentega. Manfaat tersebut mengakibatkan produk CPO unggul dari hasil perkebunan negara Indonesia (Hamzah & Santoso, 2. Indonesia saat ini masih menduduki negara nomor satu sebagai produsen CPO, karena tingginya produksi serta luasnya perkebunan kelapa sawit (Turnip et , 2. Hal ini dibuktikan dengan total produksi CPO Indonesia tahun 2023 yaitu sebesar 100 ton dengan luas areal perkebunan komoditas kelapa sawit 15. 700 ha (BPS, 2. Hal tersebut juga dilihat dari persentase dan volume kontribusi ekspor CPO Indonesia terhadap pasar dunia, yaitu sebesar 55% dari total produksi minyak kelapa sawit dunia atau sebesar 26,600 juta ton (USDA, 2. Indonesia sebagai negara dengan kontribusi CPO terbesar di dunia, memiliki kompleksitas pada rantai pasok CPO. Kompleksitas rantai pasok CPO menghadapi berbagai risiko yang menyebabkan kegagalan tujuan yang hendak dicapai, seperti tidak tersedianya bahan baku TBS serta kualitas bahan baku tidak sesuai kriteria, perubahan cuaca dan iklim yang memengaruhi produktivitas perkebunan kelapa sawit, gangguan alat mesin, rendahnya produktivitas, hingga kelalaian dan tidak kompetennya sumberdaya manusia (Fahrianor et al. , 2. Berbagai risiko-risiko tersebut dapat mempengaruhi alur rantai pasok CPO tidak dapat berjalan lancar sehingga mengganggu kontinuitas dan target operasional perusahaan. PTPN IV Regional II Pagar Merbau merupakan perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak pada sektor perkebunan kelapa sawit serta olahannya yaitu. CPO dan palm kernel. PTPN IV Regional II Pagar Merbau adalah eks PTPN II yang mengalami penggabungan bersama eks PTPN I dengan wilayah kerja Regional I dan mengalami perjanjian Kerja Sama Operasional (KSO) ke Regional II PTPN IV Palm Co. PTPN IV Regional II Pagar Merbau berlokasi di Desa Pagar Merbau II. Kec. Pagar Merbau. Kab. Deli Serdang. Sumatera Utara. PTPN IV Regional II Pagar Merbau adalah salah satu produsen yang berkontribusi penyumbang CPO negara Indonesia. Faktanya. PTPN IV Regional II Pagar Merbau menghadapi adanya faktor-faktor risiko rantai pasok CPO. Rantai pasok pada PTPN IV Regional II Pagar Merbau masih menghadapi banyaknya risiko, dimana mengindikasikan bahwa belum menerapkan sistem manajemen risiko yang baik. Hal tersebut terbukti dengan risiko yang mempengaruhi aktivitas rantai pasok CPO yang terjadi, yaitu kurangnya pasokan bahan baku TBS pada loading ramp, delay aktivitas produksi, kerusakan mesin dan Maka dari permasalahan tersebut, manajemen risiko diperlukan untuk pengurangan tingkat risiko terkait dengan aktivitas bisnis rantai pasok produk CPO. Metode yang dapat digunakan dalam manajemen risiko rantai pasok yaitu House of Risk (HOR) dengan pemetaan model Supply Chain Operation Reference (SCOR). Pendekatan SCOR merupakan pendekatan pemetaan rantai pasok yang memudahkan identifikasi risiko pada seluruh aktivitas bisnis dalam rantai pasok (Rohimmah et al. , 2. Metode HOR dikembangkan Pujawan & Geraldin . yang merupakan pengembangan metode dari Failure Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 2192-2205 Mode and Effect Analysis (FMEA) konvensional serta House of Quality (HOQ) untuk mengidentifikasi dan mencegah adanya kegagalan suatu produk agar sesuai standar perusahaan. Pendekatan dengan HOR dapat dilakukan analisis terhadap peluang risiko perusahaan saat melakukan kegiatan rantai pasok, melihat tingkat probabilitas risiko serta dampak yang ditimbulkan, dan strategi mitigasi yang tepat. Berdasarkan urain tersebut tujuan penelitian ini yaitu menganalisis tingkat risiko produksi, risk event, risk agent, dan strategi mitigasi rantai pasok CPO di PTPN IV Regional II Pagar Merbau. Kecamatan Pagar Merbau. Kabupaten Deli Serdang. Provinsi Sumatera Utara. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan pada 23 September Ae 18 Oktober 2024 berlokasi di Pabrik Kelapa Sawit Pagar Merbau PTPN IV Regional II yang beralamat di Desa Pagar Merbau II. Kecamatan Pagar Merbau. Kabupaten Deli Serdang. Provinsi Sumatera Utara. Metode penelitian yang digunakan yaitu studi kasus dengan analisis deskriptif kuantitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan mengumpulkan data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dengan melakukan observasi lapangan langsung dan wawancara melalui bantuan kuesioner. Data sekunder diperoleh dari catatan arsip dan data internal PTPN IV Regional II Pagar Merbau terkait profil perusahaan, data kuantitas serta kualitas CPO, pedoman manajemen risiko, katalog risiko, serta literatur lain yang relevan. Tahapan penelitian yang pertama dilakukan dengan menggambarkan pemetaan rantai pasok produk CPO yang terdiri atas plan, source, make, deliver dan return. Tahapan penelitian berikutnya yaitu mengukur tingkat risiko produksi menggunakan standar deviasi dan koevisien variasi (KV). Menghitung rata-rata produksi dirumuskan sebagai berikut. Oc Xi Keterangan: = Rata-rata Oc Xi = Jumlah total produksi . = Jumlah data Menghitung standar deviasi dirumuskan sebagai berikut. E = Oc (Xi Oe X) Keterangan: yua = Standar deviasi . = Data produksi . = Data rata-rata produksi . = Jumlah data Menghitung koefisien variasi (KV) dirumuskan sebagai berikut. KV = y 100% Keterangan: = Koefisien Varians (%) yua = Standar deviasi . = Rata-rata produksi . Tingkat Risiko Berdasarkan Nilai Koefisien Varians (KV). Tingkat persentase risiko nilai KV yaitu sangat rendah O1, rendah 2 Ae 5, sedang 6 Ae 9, tinggi 10 Ae 20, dan sangat tinggi >20 (Kountur, 2. Tahapan penelitian berikutnya mengidentifikasi risk agent dan risk event dengan metode analisis HOR. Langkah dalam melakukan analisis HOR yaitu sebagai berikut (Pujawan & Geraldin, 2. Analisis Risiko Rantai Pasok Crude Palm Oil Menggunakan Metode House of Risk Rangga Adi Prayoga. Wiludjeng Roessali. Suryani Nurfadillah House of Risk Fase 1 Mengidentifikasi risk event serta potensi munculnya risiko pada rantai pasok CPO. Tahap selanjutnya dilakukan penilaian tingkat keparahan . pada risk event. Mengidentifikasi risk agent serta potensi munculnya risiko pada rantai pasok CPO. Hasil identifikasi diberi tanda Ai. Tahap selanjutnya dilakukan penilaian tingkat frekuesi kemungkinan . suatu agen risiko muncul. Hasil identifikasi occurrence diberi tanda Oj. Menentukan nilai hubungan atau korelasi antara risk event dengan risk agent dari hasil Korelasi tersebut diberi tanda Rij. Skala nilai yang digunakan yaitu 0,1,3,9. Nilai 0 menunjukkan tidak ada korelasi, nilai 1 korelasi rendah, nilai 3 korelasi sedang, dan nilai 9 korelasi tinggi. Menghitung nilai Aggregate Risk Potential (ARP) untuk menentukan peringkat masingmasing risk agent. Nilai ARP yang diperoleh digunakan sebagai penentuan prioritas dari risk agent pada input HOR fase 2. ARPj = Oj Oci Si Rij Keterangan : ARPj = Aggregate Risk Potential = Kemungkinan terjadinya agen risiko (Occurenc. = Dampak yang ditimbulkan (Severit. Rij = Nilai korelasi antara risk event i dengan risk agent j Menentukan ranking (P. risk agent yang tersusun dari nilai tertinggi ke nilai terendah dengan menggunakan model HOR fase 1. Ranking tersebut untuk menentukan prioritas risiko yang nantinya akan digunakan sebagai acuan penyusunan rencana mitigasi risiko. Penentuan ranking dilakukan dengan model HOR fase 1 sebagai berikut. SCOR Plan Source Make Deliver Return Occurrence ARP Rank (P. Tabel 1. Model matriks HOR Fase 1 Risk Agent (A. Risk Event (E. Oj1 Oj2 Oj3 Oj4 ARP1 ARP2 ARP3 ARP4 Severity (S. ARP Sumber: Sumber: Pujawan & Geraldin . House of Risk Fase 2 Menentukan prioritas risk agent berdasarkan yang terpilih dengan menggunakan diagram Penentuan pareto menggunakan prinsip 80:20, sehingga menangani 20% prioritas risk agent dapat mengurangi risiko kerugian sampai 80% (Kountur, 2. Mengidentifikasi strategi mitigasi agen risiko (PA. rantai pasok CPO yang relevan. Strategi mitigasi risk agent diberi tanda Pak (Preventive Action. Mengukur nilai tingkat derajat kesulitan (D. pada penerapan aksi strategi mitigasi risiko menggunakan bobot 3, 4, 5. Nilai 3 menunjukkan strategi mitigasi mudah diterapkan, nilai 4 strategi mitigasi agak sulit diterapkan, dan nilai 5 strategi mitigasi sulit diterapkan. Menentukan nilai hubungan atau korelasi antara mitigasi dan risk agent (Ej. Korelasi tersebut diberi tanda Ejk. Skala nilai yang digunakan yaitu 0,1,3,9. Nilai 0 menunjukkan tidak ada korelasi, nilai 1 korelasi rendah, nilai 3 korelasi sedang, dan nilai 9 korelasi Menghitung tingkat efektivitas terhadap masing-masing mitigasi risiko menggunakan rumus sebagai berikut. TEk = OcARPj y Ejk Keterangan: Tek = Tingkat efektivitas terhadap tindakan mitigasi Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 2192-2205 ARPj = Aggregate Risk Potential Ejk = Nilai korelasi antara mitigasi dan risk agent Mengkalkulasi rasio tingkat efektivitas strategi mitigasi (Te. dengan tingkat kesulitan penerapan mitigasi (D. dengan rumus sebagai berikut. ETDK = TEk / Dk Menentukan urutan prioritas (P. strategi mitigasi risiko rantai pasok CPO berdasarkan peringkat yang ditunjukkan dengan nilai ETD tertinggi sebagai prioritas utama Risk Agent (A. Tek ETD Rank (P. Tabel 2. Model Matriks HOR Fase 2 Strategi Mitigasi (PA. PA1 PA2 PA3 Sumber: Pujawan & Geraldin . PAk ARP ARP1 ARP2 ARP3 ARP4 ARP HASIL DAN PEMBAHASAN Pemetaan Aktivitas Rantai Pasok Pemetaan aktivitas rantai pasok CPO diperoleh dari hasil wawancara terstruktur pada key informant PTPN IV Regional II Pagar Merbau sebagai berikut. Tabel 3. Pemetaan Aktivitas Rantai Pasok Crude Palm Oil Berbasis SCOR SCOR Sub-Proses Plan Perencanaan produksi Source Menerima bahan baku dari pemasok Evaluasi pemasok Pengawasan penyimpanan bahan baku Make Proses produksi yang melalui tahapan dari: Penerimaan TBS Perebusan Perontokan Pemerasan minyak Pemurnian minyak Pengawasan mutu CPO Penyimpanan hasil produksi Deliver Pemilihan perusahaan jasa pengiriman Pengiriman produk ke pelanggan Return Pengembalian barang yang ditolak Penanganan barang kembali dari pelanggan Sumber: Data Primer . Analisis Kuantitas dan Mutu Produksi Crude Palm Oil Kuantitas serta kualitas produksi perusahaan merupakan indikator penting yang menunjukkan seberapa banyak dan berkualitas CPO yang dihasilkan selama periode tertentu. Pada kuantitas dan kualitas produksi CPO perusahaan sangat erat kaitannya dengan target yang telah ditetapkan dalam RKAP. PTPN IV Regional II Pagar Merbau menghasilkan CPO dengan total produksi yang berbeda tiap bulannya, seperti yang disajikan pada Ilustrasi 1. Analisis Risiko Rantai Pasok Crude Palm Oil Menggunakan Metode House of Risk Rangga Adi Prayoga. Wiludjeng Roessali. Suryani Nurfadillah Jumlah Produksi (K. Perbandingan Realisasi Produksi CPO dengan RKAP Tahun 2023 RKAP 2023 Realisasi 2023 Gambar 1. Perbandingan Realisasi Produksi CPO dengan RKAP Berdasarkan Ilustrasi 1. diketahui bahwa grafik perbandingan antara realisasi hasil produksi CPO dengan RKAP untuk tahun 2023. Berdasarkan hasil tersebut produksi CPO pada tahun 2023 tidak berhasil mencapai target yang telah ditetapkan, sehingga proses produksi di PTPN IV Regional II Pagar Merbau dinilai belum berjalan secara optimal. Menurut Iskandar et al. bahwa ketidakseimbangan dalam perencanaan produksi kerap terjadi di lapangan dan pada akhirnya berdampak pada kelancaran rantai pasok CPO. Kegagalan produksi CPO untuk mencapai target yang telah ditetapkan disebabkan oleh beberapa faktor. Berdasarkan wawancara salah satu faktor yang mempengaruhi yaitu ketidakpastian hasil panen bahan baku TBS dari kebun inti mapun pihak ketiga. Berdasarkan wawancara hal ini disebabkan kondisi cuaca ekstrem seperti curah hujan tinggi dari tahun sebelumnya maupun pada tahun 2023 dapat memengaruhi hasil panen. Hal ini berdampak pada kegagalan panen kelapa sawit di kebun inti PTPN IV Regional II Pagar Merbau karena perbedaan antara proyeksi dan kondisi aktual, dimana buah yang diperkirakan akan panen ternyata bunga gagal Hal ini sesuai dengan Simanjuntak et al. bahwa tingkat curah hujan serta defisit air tinggi yang terjadi dapat memengaruhi produksi kelapa sawit di masa ini maupun mendatang karena berhubungan langsung dengan proses pembungaan dan pematangan buah pada tanaman kelapa sawit. Curah hujan yang tinggi mengakibatkan kurangnya penyinaran sinar matahari untuk proses fotosintesis kelapa sawit sehingga buah yang dihasilkan tidak maksimal. Hal ini selaras dengan data dari Badan Pusat Statistik . bahwa produktivitas perkebunan besar negara tahun 2023 terjadi penurunan, yaitu dari 4. 868 kg/ha tahun 2022 menjadi 4. 442 kg/ha pada tahun 2023. Faktor lain yang mempengaruhi tidak tercapainya kuantitas produksi yaitu rotasi panen yang tidak Rotasi panen seharusnya dilaksanakan satu minggu tetapi kondisi aktualnya bisa terlambat. Adapun berbagai risiko dalam rantai pasok, seperti keterlambatan pasokan TBS akibat masalah transportasi atau tantangan logistik seperti aktivitas panen terganggu serta jalanan yang berlumpur menjadi penyebab menurunnya hasil panen pemasok, kerusakan peralatan produksi yang mengakibatkan sering terjadi stagnasi sehingga mengurangi kapasitas olah pabrik, dan masalah teknis lainnya. Hal ini juga diakibatkan oleh pasokan bahan baku pabrik yang bergantung pada pemasok utama yaitu kebun inti PTPN sehingga ketersediaan bahan baku akan terhambat saat hasil panen pemasok utama tidak maksimal. Target produksi CPO yang tidak terpenuhi dapat berdampak pada kinerja unit PKS. Jika target produksi tidak tercapai, maka sanksi yang diberikan adalah penilaian rapor unit PKS menjadi buruk dan manajemen tidak akan naik golongan. Tindak lanjut yang dilakukan PTPN IV Regional II Pagar Merbau terkait hal tersebut yaitu melakukan evaluasi dengan meninjau masalah penyebab target produksi tidak tercapai. Jika penyebab berada di peralatan dan mesin maka pihak pabrik melalui Asisten Maintenance akan melaksanakan tindakan berdasarkan evaluasi manajer untuk meningkatkan perawatan serta melakukan perbaikan pada mesin yang mengalami kerusakan, sehingga dapat mengurangi potensi kerusakan. Jika kendala eksternal yang dihadapi pabrik meliputi kuantitas serta mutu suplai buah yang kurang baik, di mana terkadang ditemukan buah dari pihak ketiga yang tidak layak untuk diolah sehingga harus dikembalikan dan pemasok dikenakan sanksi surat peringatan. Oleh karena itu, sistem kontrak berbasis kemitraan diharapkan dapat menghadirkan mitra kerja yang memiliki loyalitas tinggi, sehingga suplai buah tetap lancar dan kualitas buah yang diterima sesuai standar pengolahan. Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 2192-2205 PTPN IV Regional II Pagar Merbau selain target kuantitas produksi, perusahaan juga diharuskan mencapai target mutu CPO. Mutu produk CPO PTPN IV Regional II Pagar Merbau mempunyai standar berdasarkan Badan Standarisasi Nasional yaitu SNI 01-2901-2006 pada Tabel 4. Tabel 4. Persyaratan Mutu Crude Palm Oil No. Kriteria Uji Satuan Persyaratan Mutu SNI Warna Jingga kemerah-merahan Kadar air Kadar kotoran Asam lemak bebas . ebagai asam palmita. Bilangan yodium % Maks % Maks % Maks Persyaratan Mutu Holding Perkebunan Jingga 0,20 0,02 g Yodium/100g 50 Ae 55 Sumber: Data Sekunder Penelitian . 50 Ae 55 PTPN IV Regional II Pagar Merbau juga menghasilkan kualitas CPO dengan persentase yang berbeda tiap bulannya, seperti yang disajikan pada Ilustrasi 2. Berdasarkan Ilustrasi 5. diperoleh mutu produksi CPO dilihat dari kadar ALB, kadar air, dan kadar kotoran. Hasil dari grafik tersebut diketahui bahwa mutu CPO PTPN IV Regional II Pagar Merbau cenderung optimal. Namun, berdasarkan data mutu ALB CPO tersebut berfluktuasi meskipun masih dibawah batas maksimal SNI 01-2901-2006 yaitu 5%. Fluktuasi tersebut terjadi peningkatan persentase pada bulan Juni Ae September yang disebabkan kerusakan yang terjadi pada mesin sterilizer dan musim puncak panen TBS. Kerusakan mesin sterilizer pada saat pengolahan akan menyebabkan stagnasi pabrik dan penumpukan bahan baku TBS di Loading Ramp. Hal tersebut dapat mengakibatkan kenaikan kadar ALB pada TBS dan hasil akhir CPO. Hal ini sesuai dengan Tarigan et al. bahwa kerusakan mesin sterilizer hingga terjadi penumpukan bahan baku akan menyebabkan kenaikan kadar ALB. Musim puncak panen TBS juga menjadi salah satu penyebab karena TBS yang menumpuk di Loading Ramp akan mengakibatkan antrian untuk dilakukan pengolahan. Kenaikan kadar ALB tersebut dapat dipengaruhi oleh paparan hujan atau panas yang lebih lama karena penumpukan TBS. Persentase (%) Mutu CPO Tahun 2023 Asam Lemak Bebas Kadar Air Kadar Kotoran Gambar 2. Realisasi Mutu Produksi CPO Analisis Tingkat Risiko Produksi Penilaian tingkat risiko melalui jumlah produksi tersebut dihitung menggunakan koefisien variasi (KV). Berikut merupakan perhitungan koefisien variasi dari data produksi per-bulan dimulai dari Januari sampai Desember tahun 2023. Analisis Risiko Rantai Pasok Crude Palm Oil Menggunakan Metode House of Risk Rangga Adi Prayoga. Wiludjeng Roessali. Suryani Nurfadillah Tabel 5. Hasil Perhitungan Tingkat Risiko Produksi Crude Palm Oil Tahun 2023 Uraian Satuan Nilai Total Realisasi Produksi Total Rencana Produksi Rata-rata Realisasi Produksi Rata-rata Rencana Produksi Standar Deviasi 28,67% Sumber: Data Primer Diolah, 2024 Berdasarkan Tabel 5. produksi CPO pada tahun 2023 tidak berhasil mencapai target yang telah ditetapkan, sehingga proses produksi di PTPN IV Regional II Pagar Merbau dinilai belum berjalan secara optimal. Berdasarkan hasil standar deviasi yang diperoleh pada kuantitas produksi CPO yaitu 834 kg. Maknanya besarnya risiko produksi senilai 586. 834 kg. Perhitungan tingkat risiko produksi CPO tahun 2023 di PTPN IV Regional II Pagar Merbau menggunakan KV sebesar 28,67%. Berdasarkan hasil perhitungan tersebut, dapat disimpulkan bahwa produksi CPO PTPN IV Regional II Pagar Merbau pada tahun 2023 memiliki tingkat risiko sangat tinggi. Hal ini sesuai dengan Kountur . bahwa jika nilai probabilitas risiko lebih dari 20%, maka termasuk kategori risiko sangat tinggi. Nilai KV sebesar 28,67% ini mempunyai makna jika produksi CPO pertahunnya 148 kg, maka mempunyai potensi kehilangan sebesar 28,67% atau sekitar 7. kg/tahun. Hal tersebut dikarenakan adanya risiko rantai pasok yang terjadi. Identifikasi Risk Event Berdasarkan hasil observasi dan wawancara diperoleh hasil identifikasi risk event rantai pasok CPO di PTPN IV Regional II Pagar Merbau. Proses identifikasi risiko rantai pasok CPO dilihat dari pemetaan rantai pasok SCOR yaitu plan, source, make, delivery, dan return. Hasil identifikasi risk event rantai pasok CPO yang disajikan pada Tabel 6. SCOR Tabel 6. Identifikasi Risk Event Risk Event (E. Kode Plan Ketidaksesuaian antara target produksi dengan pelaksanaan produksi Source Suplai TBS dari kebun inti dan pihak ketiga setiap hari jumlahnya tidak konstan Kualitas TBS yang diterima tidak sesuai standar Pintu hidrolik tidak dapat terbuka Brondolan TBS tercecer jatuh keluar Packing door bejana pecah Sumber air baku yang tersedia tidak memenuhi standar Terjadinya kerusakan alat rebusan jangka panjang Terjadinya kerusakan hoisting crane Terjadinya kerusakan blower ID fan dan nozle dust collector Kecepatan naik turun lori tidak konstan Kegagalan pemisahan brondolan dengan tandan Losses ampas press tinggi Kadar air minyak tinggi Kadar air CPO meningkat saat pengiriman Mutu CPO menurun saat pengiriman Mutu CPO tidak sesuai standar dan permintaan konsumen Sumber: Data Olah Primer dan Sekunder Penelitian . E10 E11 E12 E13 E14 E15 E16 E17 Make Deliver Return Identifikasi Risk Agent Tahap selanjutnya yaitu mengidentifikasi risk agent dari risk event rantai pasok CPO yang telah Hasil identifikasi kemudian dilakukan penilaian tingkat frekuensi kemungkinan . risk agent terjadi. Hasil identifikasi risk agent disajikan dalam Tabel 7. Tabel 7. Hasil Identifikasi Risk Agent Risk Agent Perencanaan target produksi yang tidak tepat Kurangnya ketelitian sumber daya manusia Ketidakpastian hasil panen TBS pemasok Kondisi jalan inti di kebun mengalami kerusakan sehingga pengiriman TBS terganggu Kode Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 2192-2205 Kurangnya armada angkutan TBS Engsel pintu hidrolik aus Pintu hidrolik tidak menutup sempurna Kebocoran alat rebusan karena liner sudah aus Mutu air yang digunakan untuk operasi pabrik tidak sesuai standar Pemeliharaan tidak rutin dan pelaksanaan overhoul tidak tepat waktu Penggunaan cangkang sebagai bahan bakar melebihi norma . embakaran tidak sempurn. Rebusan kurang optimal Screw press/press cake aus Sludge terbuang Kerusakan pada vacum dryer Kesalahan pihak logistik Sumber: Data Olah Primer dan Sekunder Penelitian . A10 A11 A12 A13 A14 A15 A16 Perangkingan Risk Agent Berdasarkan penilaian yang diberikan oleh key informant terkait tingkat severity, occurence, dan korelasi antara risk event dengan risk agent. Penilaian tersebut diperoleh output perhitungan ARP dan urutan risk agent dari nilai tertinggi. Hasil perangkingan risk agent disajikan pada Tabel 8. Kode A10 A11 A16 A13 A12 A15 A14 Tabel 8. Output Nilai ARP HOR fase 1 Risk Agent Perencanaan target produksi yang tidak tepat Kurangnya ketelitian sumber daya manusia Ketidakpastian hasil panen TBS pemasok Pemeliharaan tidak rutin dan pelaksanaan overhoul tidak tepat waktu Kondisi jalan inti di kebun mengalami kerusakan sehingga pengiriman TBS Penggunaan cangkang sebagai bahan bakar melebihi norma . embakaran tidak sempurn. Kebocoran alat rebusan karena liner sudah aus Mutu air yang digunakan untuk operasi pabrik tidak sesuai standar Kesalahan pihak logistik Kurangnya armada angkutan TBS Screw press/press cake aus Engsel pintu hidrolik aus Rebusan kurang optimal Pintu hidrolik tidak menutup sempurna Kerusakan pada vacum dryer Sludge terbuang ARP Rank Sumber: Data Primer diolah . Risk Agent Prioritas Risk agent prioritas adalah penyebab risiko yang memicu terjadinya risiko event dan perlu diatasi terlebih dahulu. Berdasarkan hasil olah data HOR fase 1 diperoleh risk agent prioritas yang disajikan pada Ilustrasi 6. Berdasarkan Ilustrasi 6. diperoleh 8 risk agent prioritas terpilih berdasarkan prinsip diagram pareto 80:20. Prinsip diagram pareto menjelaskan bahwa dengan menentukan 20% risk agent prioritas di PTPN IV Regional II Pagar Merbau mewakili 80% populasi risiko yang ada. Hal ini sesuai dengan pendapat oleh Kountur . bahwa pareto menggunakan prinsip 80:20, sehingga menangani 20% risiko krusial dapat mengurangi risiko kerugian sampai 80%. Maka diperoleh persentase kumulatif didapatkan 7 risk agent prioritas pada Tabel 9. Analisis Risiko Rantai Pasok Crude Palm Oil Menggunakan Metode House of Risk Rangga Adi Prayoga. Wiludjeng Roessali. Suryani Nurfadillah Diagram Pareto ARP %Kumulatif ARP Gambar 3. Diagram Pareto Risk Agent Kode A10 A11 Tabel 9. Risk Agent Prioritas Risk Agent Perencanaan target produksi yang tidak tepat Kurangnya ketelitian sumber daya manusia Ketidakpastian hasil panen TBS pemasok Pemeliharaan tidak rutin dan pelaksanaan overhoul tidak tepat waktu Kondisi jalan inti di kebun mengalami kerusakan sehingga pengiriman TBS Penggunaan cangkang sebagai bahan bakar melebihi norma . embakaran tidak sempurn. Kebocoran alat rebusan karena liner sudah aus ARP Rank Sumber: Data primer diolah . Strategi Mitigasi Penentuan strategi mitigasi ini bertujuan untuk mengurangi tingkat risiko rantai pasok PTPN IV Regional II Pagar Merbau. Strategi mitigasi ini diperoleh dari hasil wawancara dan data katalog risiko yang telah dibuat oleh PTPN IV Regional II Pagar Merbau. Strategi mitigasi kemudian diurutkan sesuai prioritas dengan menentukan nilai ETD. Nilai ETD ini menjadi acuan bagi perusahaan dalam menentukan prioritas strategi mitigasi yang perlu diprioritaskan. Kode PA1 PA5 PA2 PA4 PA3 PA6 PA7 PA8 Tabel 10. Strategi Mitigasi Strategi Mitigasi (PA. Mengkaji ulang perencanaan target produksi Memperbaiki jalan untuk memperlancar pengiriman TBS Meningkatkan sistem pengawasan kerja SDM Melakukan audit maintenance secara berkala Memperbanyak pembelian TBS ke pihak ketiga Melakukan inspeksi rutin dan perbaikan kecil untuk menjaga kondisi mesin Melakukan pencadangan sparepart Penggantian liner rebusan secara periodik Sumber: Data Primer Penelitian . ETD Rank Berdasarkan Tabel 9. diperoleh 8 strategi mitigasi risiko rantai pasok CPO di PTPN IV Regional II Pagar Merbau. Strategi mitigasi ditentukan berdasarkan prioritas risk agent yang berkontribusi sebesar 80%. Menurut Suparte et al. penentuan strategi mitigasi bertujuan untuk mengurangi risiko dengan cara menurunkan frekuensi terjadinya risiko atau menurunkan dampak dari risiko. Peringkat ini ditentukan berdasarkan korelasi antara strategi mitigasi serta risk agent, perbandingan nilai antara tingkat efektivitas, dan tingkat kesulitan dalam penerapannya. Strategi mitigasi prioritas juga diperoleh dengan mengurutkan nilai ETD tertinggi. Hal ini sesuai dengan Rohimmah et al. bahwa pengambilan strategi prioritas berdasarkan nilai tertinggi dari setiap kriteria risikorisiko yang terjadi. Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 2192-2205 Mengkaji ulang perencanaan target produksi (PA. Strategi mitigasi mengkaji ulang perencanaan target produksi memiliki nilai ETD 1395. PTPN IV Regional II Pagar Merbau selama ini telah menyusun RKAP dengan berdasarkan perkiraan hasil proyeksi suplai TBS dan target rendemen pada tahun sebelumnya kemudian dikonversi menjadi target CPO. Penetapan target rencana produksi perlu dikaji ulang kedepannya dengan lebih terukur dan realistis. Target yang realistis berarti target sangat mungkin untuk dicapai karena telah mempertimbangkan data historis produksi CPO beberapa tahun terakhir untuk memahami fluktuasi Hal ini sesuai dengan Fijra & Navero . bahwa peramalan target produksi CPO sebaiknya didasarkan pada data dari beberapa tahun sebelumnya untuk mengidentifikasi kemungkinan pola musiman, mengingat hasil panen CPO berpotensi dipengaruhi oleh faktor musim. Hal ini perlu dikelola dengan meninjau faktor cuaca, hari olah, kebijakan yang berlaku, dan faktor risiko yang terjadi. Memperbaiki jalan untuk memperlancar pengiriman TBS (PA. Strategi mitigasi memperbaiki jalan untuk memperlancar pengiriman TBS memiliki nilai ETD 1305. Memperbaiki jalan untuk memperlancar pengiriman TBS sangat penting untuk memastikan kelancaran proses produksi CPO di PKS. Jalan yang rusak dapat menyebabkan keterlambatan pengiriman TBS hingga mengganggu aktivitas panen yang pada gilirannya mempengaruhi kualitas dan kuantitas hasil produksi CPO. Sebaiknya Perbaikan struktur jalan perlu dilakukan, seperti pengerasan dengan material keras krikil untuk jalan yang sering dilalui kendaraan berat. Hal ini sesuai dengan Roosmawati . bahwa perawatan mekanis jalan kebun kelapa sawit dilakukan dengan mengembalikan material pengeras seperti krikil, batu, atau material keras sekitar jalan ke permukaan jalan guna mempertahankan kestabilan dan daya tahannya terhadap kendaraan berat. Maka aktivitas panen dan pengiriman TBS dapat dilakukan lebih cepat, lancar, dan kualitas TBS tetap terjaga. Meningkatkan sistem pengawasan dan pelatihan kerja sumber daya manusia (PA. Strategi mitigasi meningkatkan sistem pengawasan dan pelatihan kerja sumber daya manusia memiliki nilai ETD 1305. Meningkatkan sistem pengawasan memungkinkan perusahaan untuk memantau setiap aktivitas yang dilakukan oleh sumber daya manusia sesuai dengan standar prosedur Pengawasan yang lebih efektif dapat meningkatkan produktivitas, menjaga kualitas pekerjaan, dan memastikan bahwa tujuan maupun tindakan operasional perusahan tercapai sesuai rencana yang ditetapkan. Hal ini sesuai dengan Audina et al. bahwa pengawasan berperan sebagai proses menjamin tujuan sebuah perusahaan dan manajemen dapat tercapai. Perlunya peningkatan pelatihan sumber daya manusia mengenai standar prosedur operasional. Pelatihan yang diberikan dapat berupa pelatihan mengoperasikan alat dan mesin, instruksi kerja yang harus dilakukan, penyusunan terkait perencanaan produksi, dan lainnya. Metode pelatihan yang diterapkan oleh PTPN IV Regional II Pagar Merbau biasanya adalah On The Job Training. On The Job Training yaitu pelatihan dengan intruksi pekerjaan dengan cara sumber daya manusia ditempatkan dalam kondisi pekerjaan yang riil dibawah bimbingan dan supervisi dari Asisten yang telah berpengalaman atau seorang supervisor (Rahmi & Suryalena, 2. Melakukan audit maintenance secara berkala (PA. Strategi mitigasi melakukan audit maintenance secara berkala memiliki nilai ETD 1305. Melakukan audit pemeliharaan secara berkala yaitu setiap triwulan dapat diterapkan untuk memastikan semua peralatan telah diperiksa dan ditangani sesuai jadwal. Strategi ini ditujukan untuk mengurangi risiko kerusakan alat dan mesin akibat kurangnya kepatuhan pada jadwal maintenance maupun overhoul yang harus dilakukan. Menurut Hasibuan et al. pemeliharaan secara berkala fasilitas mesin dan peralatan pada operasional produksi CPO berada dalam kondisi kurang baik, maka proses produksi tidak akan berjalan dengan efektif. Strategi mitigasi ini dilaksanakan sesuai dengan sistem informasi atau track record mengenai perbaikan maupun pemeliharaan mesin yang dilakukan secara terjadwal dan sistematis untuk mencegah terjadinya kerusakan pada mesin dan alat produksi. Memperbanyak pembelian TBS ke pihak ketiga (PA. Strategi mitigasi memperbanyak pembelian TBS ke pihak ketiga memiliki nilai ETD 1305. Pasokan bahan baku PKS bergantung pada produktivitas pemasok utama yaitu kebun inti sehingga ketersediaan bahan baku akan terhambat saat hasil panen pemasok utama tidak maksimal. Hal ini mengakibatkan tidak terpenuhinya pengadaan aktual TBS sesuai target minimal olah. Strategi memperbanyak pembelian TBS ke pihak ketiga ini bertujuan untuk menutupi kekurangan pasokan Analisis Risiko Rantai Pasok Crude Palm Oil Menggunakan Metode House of Risk Rangga Adi Prayoga. Wiludjeng Roessali. Suryani Nurfadillah dari kebun inti agar PKS dapat beroperasi pada kapasitas optimal. Guna menjaga kontinuitas kegiatan produksi pabrik, memperluas jaringan dengan pemasok alternatif di luar pemasok utama agar perusahaan memiliki alternatif pemasok ketika kebun inti mengalami kendala dalam memenuhi Kondisi aktual pasokan TBS dari pihak ketiga sering kali tidak seragam baik dari segi kualitas maupun jumlah. Maka diharapkan dari sistem kontrak dengan perjanjian tegas, sehingga suplai buah berjalan lancar dan buah yang diterima tentu bermutu baik dan sesuai kuantitas untuk Melakukan inspeksi rutin dan perbaikan kecil untuk menjaga kondisi mesin (PA. Strategi mitigasi melakukan inspeksi rutin dan perbaikan kecil untuk menjaga kondisi mesin memiliki nilai ETD 1305. PTPN IV Regional II Pagar Merbau menerapkan sistem pemeliharaan corrective maintenance, yaitu perbaikan yang dilakukan setelah terjadi kerusakan. Selain itu, perusahaan juga menerapkan planned maintenance mencakup pemeliharaan harian terjadwal serta perawatan berkala setiap minggu atau saat mesin tidak beroperasi. Strategi ini bertujuan untuk memastikan mesin dan peralatan operasional dalam kondisi optimal, mengurangi risiko kerusakan besar, serta meminimalkan biaya perbaikan yang lebih tinggi di masa depan. Melakukan inspeksi rutin dan perbaikan kecil untuk menjaga kondisi mesin dilakukan pada saat terdapat laporan Inspeksi rutin sebaiknya dilaksanakan setiap hari dengan pembagian tim dan lokasi sesuai layout PKS untuk memastikan optimalnya mesin dan melakukan perbaikan kecil jika terdapat Melakukan pencadangan sparepart (PA. Strategi mitigasi melakukan pencadangan sparepart memiliki nilai ETD 1305. Pencadangan sparepart PTPN IV Regional II Pagar Merbau terkendala anggaran dan proses administrasi yang cukup lama. Sebaiknya Pencadangan sparepart harus dilakukan dengan pendekatan yang lebih strategis, dengan memprioritaskan komponen yang paling penting dan kritis. Komponen-komponen yang memiliki dampak besar terhadap kelangsungan produksi, seperti mesin pengolahan TBS atau komponen yang sering mengalami kerusakan, harus menjadi prioritas utama dalam pencadangan Selain itu, track record kerusakan pada mesin dan alat juga bisa digunakan untuk menentukan sparepart mana yang sering diperlukan dan kemungkinan kerusakan terjadi. Meskipun terkendala anggaran dan administrasi, pencadangan sparepart dapat tetap dilakukan secara efektif dan mengurangi risiko downtime yang dapat mengganggu proses produksi CPO. Penggantian liner rebusan secara periodik (PA. Strategi mitigasi penggantian liner rebusan secara periodik memiliki nilai ETD 1305. Pergantian sebaiknya dilakukan berdasarkan kondisi fisik liner yang diperiksa selama inspeksi rutin ditemukan tanda-tanda keausan, maka penggantian harus dilakukan segera. Strategi ini adalah langkah preventif penting untuk mencegah risiko seperti kerusakan alat rebusan akibat liner sudah aus serta rebusan kurang optimal. Strategi ini bertujuan untuk menjaga kinerja optimal sterilizer dengan mengganti liner secara berkala sebelum terjadi kerusakan besar atau kebocoran. Hal ini sesuai dengan Triadi et . bahwa pemeliharaan preventif dapat meningkatkan keandalan operasional, memperpanjang umur, serta mengurangi risiko tidak terduga terjadinya kerusakan pada mesin. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian analisis risiko rantai pasok CPO di PTPN IV Regional II Pagar Merbau dapat disimpulkan bahwa: Hasil pengukuran tingkat risiko menggunakan koefisien variasi berdasarkan kuantitas produksi tergolong pada kategori sangat tinggi yaitu sebesar 28,67%. Hasil identifikasi risiko menggunakan model SCOR diperoleh 17 risk event yaitu pada aktivitas plan sebanyak 1 risiko, aktivitas source sebanyak 2 risiko, aktivitas make sebanyak 11 risiko, aktivitas deliver sebanyak 2 risiko dan aktivitas return sebanyak 1 risiko. Hasil identifikasi risiko diperoleh 16 risk agent. Terdapat 7 risk agent prioritas dengan nilai ARP tertinggi yang perlu penanganan adalah perencanaan target produksi yang tidak tepat (A. , kurangnya ketelitian sumber daya manusia (A. , ketidakpastian hasil panen TBS kebun inti (A. , pemeliharaan tidak rutin dan pelaksanaan overhoul tidak tepat waktu (A. , kondisi jalan inti di kebun mengalami kerusakan sehingga pengiriman TBS terganggu (A. , penggunaan cangkang sebagai bahan bakar melebihi norma (A. , dan kebocoran alat rebusan karena liner sudah aus (A. Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 2192-2205 Hasil identifikasi terdapat 8 strategi mitigasi untuk mengurangi tingkat risiko terhadap 8 risk agent prioritas. Urutan strategi mitigasi prioritas untuk mitigasi risk agent prioritas yaitu mengkaji ulang perencanaan target produksi (PA. , memperbaiki jalan untuk memperlancar pengiriman TBS (A. , meningkatkan sistem pengawasan dan pelatihan kerja sumber daya manusia (PA. , melakukan audit maintenance secara berkala (PA. , memperbanyak pembelian TBS ke pihak ketiga (PA. , melakukan inspeksi rutin dan perbaikan kecil untuk menjaga kondisi mesin (PA. , melakukan pencadangan sparepart (PA. , dan penggantian liner rebusan secara periodik (PA. DAFTAR PUSTAKA