BEGIBUNG: Jurnal Penelitian Multidisiplin DOI: https://doi. org/10. 62667/begibung. E-ISSN: 3025-7743 Vol. No. Nov. Hal. Homepage: https://berugakbaca. org/index. php/begibung IMPLEMENTASI ASESMEN DIAGNOSTIK NONKOGNITIF GAYA BELAJAR TERHADAP PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI KELAS IX F SMP NEGERI 1 KOTA SERANG Ahyani, 2Auliyanti Savira, 3Dian Oktaviani, 4Jundan Firdaus Pendidikan Profesi Guru Bahasa Indonesia. Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Informasi Artikel ABSTRAK Sejarah Artikel: Diterima 17 Sept. Perbaikan 15 Nov. Disetujui 25 Nov. Kata Kunci: Peserta didik. Asesmen Gaya Belajar Penelitian ini mengkaji permasalahan pembelajaran Bahasa Indonesia di tingkat SMP yang sering kali terkendala oleh rendahnya minat, motivasi, dan keterampilan berbahasa peserta didik. Salah satu penyebabnya adalah pendekatan pembelajaran yang masih berpusat pada guru . eacher-centere. , yang gagal mengakomodasi keragaman karakteristik siswa. Untuk mengatasi hal ini, penelitian ini mengusulkan penerapan asesmen diagnostik non-kognitif di awal pembelajaran. Asesmen ini bertujuan untuk mengidentifikasi gaya belajar . isual, auditori, dan kinesteti. serta aspek non-akademis lainnya, seperti kondisi psikologis dan emosional siswa. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif, penelitian ini mengumpulkan data melalui wawancara, observasi, dan kuesioner asesmen diagnostik non-kognitif. Data dianalisis dengan model Miles & Huberman . , yang meliputi tiga tahapan: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan asesmen diagnostik non-kognitif terbukti efektif dalam meningkatkan keterampilan berbahasa Indonesia. Dari 41 siswa kelas IX F di SMP Negeri 1 Kota Serang, teridentifikasi 10 siswa dengan gaya belajar visual, 10 siswa auditori, dan 21 siswa kinestetik. Pemetaan ini memungkinkan guru untuk merancang strategi pembelajaran yang personal dan berdiferensiasi, seperti menggunakan media gambar untuk siswa visual, diskusi untuk siswa auditori, dan praktik langsung untuk siswa kinestetik. Integrasi pemahaman gaya belajar ini ke dalam empat keterampilan berbahasa . enyimak, berbicara, membaca, dan menuli. secara signifikan meningkatkan pemahaman dan motivasi belajar siswa. Kesimpulannya, penelitian ini menekankan pentingnya pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa . tudent-centere. dengan guru sebagai fasilitator. Penerapan asesmen diagnostik non-kognitif adalah solusi strategis untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih inklusif, efektif, dan bermakna, serta membantu siswa tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga tangguh secara psikologis dan emosional. A 2025 BEGIBUNG *Surat ielektronik ipenulis: auliasavira260@gmail. PENDAHULUAN Bahasa Indonesia adalah identitas bangsa, alat pemersatu, dan alat komunikasi yang dinamis serta memiliki kedudukan sebagai bahasa nasional dan bahasa Negara di Indonesia. Ia berfungsi untuk mengintegrasikan berbagai suku, mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta melestarikan kebudayaan bangsa. Oleh karenanya bahasa Indonesia merupakan mata pelajaran yang penting untuk mengembangkan kemampuan berkomunikasi dan berpikir kritis peserta didik, di samping sebagai identitas atau jati diri unik yang membedakan bangsa Indonesia dengan bangsa lain. Namun. Page 1 dalam praktiknya, masih banyak peserta didik, khususnya di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP), yang menghadapi kesulitan. Permasalahan yang sering muncul adalah kurangnya minat dan motivasi belajar, kesulitan memahami materi yang abstrak seperti kaidah kebahasaan, dan kurangnya keterampilan dalam menulis serta berbicara. Kondisi ini sering kali diperparah dengan pendekatan pembelajaran yang masih berpusat pada . eacher-centere. , mengakomodasi keragaman karakteristik dan kebutuhan peserta didik. Menghadapi masalah tersebut, peran pendidik sangatlah krusial. Seorang pendidik tidak hanya bertugas menyampaikan materi, tetapi juga harus mampu memahami karakteristik unik setiap peserta Seperti yang dikemukakan oleh Elaine B. Johnson. Ph. D dalam bukunya yang berjudul AuContextual Teaching and Learing (CTL)Ay, yang diterjemahkan oleh Ibnu Setiawan, di dalamnya AuAguru berperan sebagai fasilitator tanpa henti . , yakni membantu siswa menemukan makna . Seperti dibahas di atas, siswa memiliki response potentiality yang bersifat kodrati. Keinginan untuk menemukan makna adalah sangat mendasar bagi manusia. Tugas utama pendidik adalah memberdayakan potensi kodrati ini sehingga peserta didik terlatih menangkap makna dari materi yang diajarkan. Ay Agar peserta didik mampu mengembangkan potensi yang ada dalam diri mereka. Oleh karenanya dibutuhkan suatu strategi yang efektif, salah satu strategi yang dapat digunakan oleh pendidik yaitu melalui asesmen diagnostik non-kognitif. Berbeda dengan asesmen kognitif yang mengukur pemahaman materi, asesmen non-kognitif fokus pada aspek-aspek di luar pemahaman akademis, seperti motivasi, minat, sikap, dan yang paling penting, gaya belajar siswa. Melihat fokus yang ada dalam asesmen diagnostic non-kognitif terlihat jelas bahwa jenis penilaian ini dilakukan oleh seorang pendidik untuk memahami kondisi psikologi, emosional, dan sosial peserta didik. Tujuannya tadi sudah dijelaskan di atas bukan utuk mengukur kemampuan akademik, melainkan untuk menggali aspek-aspek lain yang memengaruhi proses belajar peserta didik. Beberapa hal yang diukur melalui asesmen BEGIBUNG: Jurnal Penelitian Multidisiplin ini antara lain: Kesejahteraan Psikologi dan Emosional: Bagaimana perasaan siswa saat ini? Apakah mereka merasa nyaman, cemas, atau Kondisi Keluarga Lingkungan: Bagaimana suasana di rumah? Apakah ada dukungan dari orang tua? Gaya Belajar dan Minat: Apa gaya belajar yang paling cocok untuk siswa . isual, auditori, atau kinesteti. ? Apa minat dan hobi mereka di luar sekolah? Latar Belakang Pergaulan: Bagaimana hubungan peserta didik dengan teman-teman di sekolah dan di lingkungan sekitar? Dengan menerapkan asesmen ini di awal pembelajaran, pendidik dapat mengidentifikasi bagaimana cara terbaik peserta didik menyerap informasi, apakah mereka cenderung visual, auditori, atau kinestetik. Informasi ini menjadi landasan bagi pendidik untuk merancang strategi pembelajaran yang lebih personal dan relevan. Misalnya, peserta didik dengan gaya belajar visual akan lebih terbantu dengan penggunaan media gambar atau video, sedangkan peserta didik auditori akan lebih mudah memahami materi melalui diskusi atau mendengarkan penjelasan. Hasil dari asesmen ini sangat penting sebagai data bagi pendidik untuk merancang pembelajaran yang lebih personal dan berdiferensiasi. Dengan memahami kondisi peserta didik secara holistic, pendidik dapat memberikan dukungan yang tepat, menciptakan lingkungan belajar yang lebih inklusif, dan membantu peserta didik mengatasi hambatan non-akademik yang mungkin mereka hadapi. Menghubungkan gaya belajar dengan pembelajaran merupakan suatu hal yang harus pendidik lakukan agar pembelajaran yang dilakukan menjadi lebih bermakna serta peserta didik mampu memperoleh dan memproses informasi dengan Gaya belajar adalah preferensi individu dalam menyerap, mengolah, dan mengingat Masing-masing siswa memiliki gaya belajar yang berbeda dan ini memengaruhi cara mereka berinteraksi dengan materi pembelajaran. Gaya belajar visual: Siswa ini lebih suka melihat dan membaca. Mereka akan terbantu Page 2 dengan peta konsep, bagan, atau presentasi yang menarik secara visual. Gaya belajar auditori: Siswa ini lebih suka Mereka akan lebih efektif belajar melalui diskusi, rekaman audio, atau penjelasan lisan dari guru. Gaya belajar kinestetik: Siswa ini lebih suka bergerak dan melakukan. Pembelajaran melalui praktik, simulasi, atau bermain peran akan sangat membantu mereka. Dengan terhadap gaya belajar ini ke dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, guru di SMPN 1 Kota Serang dapat menciptakan lingkungan belajar yang lebih inklusif dan efektif. Penerapan asesmen diagnostik non-kognitif menjadi langkah awal yang strategis menyesuaikan metode pembelajaran, sehingga pemahaman, dan hasil belajar siswa secara METODE PENELITIAN Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Tobing, dkk . 6 : . menyatakan bahwa penelitian kualitatif merupakan sebuah pendekatan penelitian, yang diarahkan pada latar dan individu secara alami dan holistik . Sumber data dalam penelitian ini terdapat dua jenis data yaitu sumber data primer dan data sekunder. Data primer merupakan data yang diperoleh peneliti secara langsung dari sumbernya, sedangkan data sekunder adalah data yang diperoleh melalui berbagai sumber relevan yang sudah ada sebelumnya. Data penelitian ini diperoleh melalui wawancara guru mata pelajaran Bahasa Indonesia, observasi dan hasil kuisioner asesmen diagnostik non kognitif. Penelitian ini mengadopsi model analisis data Miles & Huberman . dengan tahapan-tahapan berikut: reduksi data, penyajian data, dan verifikasi atau penarikan kesimpulan. Tahapan-tahapan tersebut meliputi: . Reduksi data. Proses ini mengidentifikasi pola dan tema. Penyajian data, yakni data disusun dengan rapi agar lebih mudah BEGIBUNG: Jurnal Penelitian Multidisiplin dianalisis sehingga mempermudah penarikan . Verifikasi atau penarikan kesimpulan, di mana peneliti Peneliti mengkaji ulang data, mencari makna di baliknya, dan merumuskan kesimpulan yang relevan dengan tujuan penelitian. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini dilaksanakan guna melihat dan mengetahui bagaimana hasil implementasi asesmen diagnostik non kognitif terhadap gaya belajar siwasiswi dalam pembelajaran Bahasa Indonesia apakah terdapat peningkatan keterampilan bagi siswa-siwi yang signifikan dalam proses pembelajaran Bahasa Indonesia. penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 1 Kota Serang pada semester genap tahun ajaran 2024-2025 dengan objek penelitian pada kelas IX F dengan jumlah siswa 42 orang. Implementasi Asesmen Diagnostik Non Kognitif Gaya Belajar Pada Pembelajaran Bahasa Indonesia Asesmen diagnostik non kognitif yaitu asesmen yang berkaitan tentang psikologis, kondisi emosional dan sosial siswa (Barlian et al. Asesmen diagnostik non kognitif memiliki tujuan untuk menilai kesiapan siswa secara emosional dan psikologis dalam menerima pembelajaran salah satunya gaya belajar. Gaya belajar merupakan aspek asesmen diagnostik non kognitif yang dapat digunakan untuk mengetahui hasil belajar sehingga siswa mampu untuk berpikir kritis pada sat pembelajaran . Pada awal proses pembelajaran guru mata pelajaran Bahasa Indonesia dibantu dengan mahasiswa PPG melaksanakan asesmen diagnostik nonkognitif melalui tes kuisioner yang terdiri dari 11 pertanyaan sederhana berkaiatan dengan tipe gaya belajar. Contoh beberapa pertanyaan kuisioner seperti: . Saya lebih mudah memahami pelajaran ketikaA. mendengarkan penjelasan, . menonton video ilustrasi, . melihat gambar, . Saya lebih sukaA . membaca daripada dibacakan, . mendengar daripada membaca, . menggunakan model atau praktik. Ketika mengajarkan sesuatu kepada orang lain, saya lebih sukaA . menunjukkannya, . menceritakannya, . Page 3 mempraktikannya dan meminta untuk mencobanya. Beberapa pertanyaan di atas dapat mengidentifikasi siswa-siswi berdasarkan tipe gaya belajar yang mereka minati. Gaya belajar tersebut meliputi visual . elalui gambar dan penglihata. , auditori . elalui pendengara. , dan kinestetik . elalui gerakan dan pengalaman langsun. Hasil tes gaya belajar ini akan membantu guru dalam belajarnya sehingga tujuan pembelajaran yang akan dicapai terasa lebih mudah. Berdasarkan hasil asesmen diagnostik nonkognitif yang dilakukan di kelas IX F dari 41 orang siswa yang berpartisipasi diperoleh hasil, 10 siswa dengan tipe gaya belajar visual, 10 siswa dengan tipe gaya belajar auditori, dan 21 siswa dengan tipe gaya belajar kinestetik. Pemahaman guru terhadap gaya belajar setiap peserta didik memberikan kemudahan dalam perangkat ajar yang digunakan telah disesuaikan dengan kebutuhan belajar di kelas. Selain itu, pengetahuan mengenai kelebihan dan kelemahan peserta didik memungkinkan guru merancang strategi pembelajaran yang lebih tepat guna, sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai secara Hasil asesmen diagnostik nonkognitif ini diimplementasikan oleh seluruh pendidik pada setiap mata pelajaran, termasuk mata pelajaran Bahasa Indonesia. Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, fundamental yang wajib dikuasai peserta didik, membaca, dan menulis. Keempat keterampilan tersebut memiliki keterkaitan yang erat dan saling Dengan demikian, pembelajaran Bahasa Indonesia dapat dinyatakan efektif apabila peserta didik mampu menguasai keseluruhan keterampilan tersebut. Instrumen asesmen diagnostik nonkognitif yang diintegrasikan dengan empat keterampilan berbahasa Indonesia memiliki peran strategis dalam memetakan profil peserta didik di kelas. Pemetaan tersebut memberikan dasar bagi pendidik untuk merancang strategi serta metode pembelajaran yang adaptif terhadap gaya belajar dan kemampuan Hasil mengindikasikan bahwa asesmen diagnostik nonkognitif terbukti efektif dalam meningkatkan BEGIBUNG: Jurnal Penelitian Multidisiplin keterampilan berbahasa Indonesia. Efektivitas tersebut tercermin dari kemampuan guru untuk merancang pembelajaran yang lebih kontekstual dan sesuai dengan karakteristik, minat, serta kapasitas peserta didik, mencakup dimensi proses, konten, produk, hingga lingkungan belajar. Setiap peserta didik memiliki kecenderungan gaya belajar yang berbeda, dan pemahaman terhadap keragaman tersebut menjadi aspek fundamental dalam meningkatkan efektivitas proses pembelajaran, khususnya pada penguasaan keterampilan berbahasa Indonesia. Penerapan pendekatan gaya belajar memungkinkan pendidik merancang strategi pembelajaran yang sesuai dengan preferensi belajar peserta didik, sehingga materi dapat lebih mudah dipahami, diolah, dan Secara diklasifikasikan menjadi tiga kategori utama, yaitu visual, auditori, dan kinestetik, yang masing-masing menunjukkan cara yang berbeda dalam menerima serta mengelola informasi. Peserta didik dengan gaya belajar visual lebih efektif ketika pembelajaran didukung oleh media berupa gambar, bagan, peta konsep, maupun video. Pada keterampilan membaca, penyajian ilustrasi atau skema alur cerita mempermudah mereka dalam keterampilan menulis, penggunaan mind mapping membantu menyusun gagasan secara lebih Sementara itu, siswa dengan gaya belajar auditori cenderung lebih mudah memahami materi melalui aktivitas mendengarkan dan berdiskusi. Dalam pembelajaran keterampilan berbahasa, mereka memperoleh manfaat dari metode seperti membaca nyaring, diskusi kelompok, tanya jawab, serta penggunaan media audio. Misalnya, dalam keterampilan berbicara, siswa auditori dapat mengembangkan kemampuan retorika melalui latihan presentasi atau debat. Adapun siswa dengan gaya belajar kinestetik menunjukkan hasil belajar yang lebih optimal ketika mereka dilibatkan dalam aktivitas fisik atau praktik langsung. Pada keterampilan berbahasa, strategi pembelajaran yang dapat digunakan meliputi role play, simulasi, drama, atau menulis sambil melakukan aktivitas motorik sederhana. Dengan keterlibatan aktif ini, siswa kinestetik Page 4 mampu menginternalisasi konsep sekaligus mengembangkan keterampilan berbahasa melalui pengalaman langsung. Dengan demikian, penerapan strategi pembelajaran yang memperhatikan variasi gaya belajar visual, auditori, dan kinestetik berpotensi besar meningkatkan efektivitas pembelajaran Bahasa Indonesia. Hal ini tidak hanya mendukung . enyimak, berbicara, membaca, dan menuli. , tetapi juga mendorong peserta didik untuk belajar sesuai dengan karakteristik individual mereka. Selain itu, guru yang menerapkan gaya belajar yang tepat akan menciptakan lingkungan belajar yang lebih menarik dan efektif nagi setiap siswa. Pendekatan yang disesuaikan akan membantu memotivasi siswa dan membentuk keterampilan berbahasa mereka. Mengenali gaya belajar prosespembelajaran lebih adaptif, menyenangkan, dan berdampak positif bagi perkembangan berpikir kritis siswa. KESIMPULAN Penelitian ini menegaskan bahwa rendahnya minat, motivasi, dan keterampilan berbahasa peserta didik SMP dalam pembelajaran Bahasa Indonesia dipengaruhi oleh metode pembelajaran yang masih dominan berpusat pada guru . eacher-centere. Hal ini menyebabkan kebutuhan dan karakteristik peserta didik yang beragam tidak terakomodasi secara optimal. Untuk menjawab tantangan tersebut, penelitian mengusulkan penerapan asesmen diagnostik non-kognitif yang difokuskan pada pemetaan gaya belajar . isual, auditori, kinesteti. serta aspek non-akademik lainnya seperti kondisi psikologis, emosional, keluarga, dan sosial siswa. Hasil menunjukkan bahwa: Dari 41 siswa di kelas IX F SMP Negeri 1 Kota Serang, 10 siswa memiliki gaya belajar visual, 10 siswa auditori, dan 21 siswa kinestetik. BEGIBUNG: Jurnal Penelitian Multidisiplin Dengan pemetaan ini, guru dapat menyesuaikan strategi pembelajaran yang relevan dengan gaya belajar masingmasing siswa, sehingga proses belajar menjadi lebih efektif, inklusif, dan Integrasi gaya belajar ke dalam empat keterampilan utama Bahasa Indonesia . enyimak, berbicara, membaca, dan pemahaman, motivasi, serta keterampilan berbahasa siswa. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya menyoroti pentingnya penguasaan materi, tetapi juga menekankan bahwa pendidikan yang efektif harus berpusat pada peserta didik . tudent-centere. Guru berperan sebagai fasilitator yang memberdayakan potensi alami siswa dalam mencari makna Penerapan asesmen diagnostik nonkognitif, bila dilakukan secara konsisten, dapat menjadi solusi strategis dalam meningkatkan mutu pembelajaran Bahasa Indonesia, serta mendorong tercapainya tujuan pendidikan yang holistik: bukan hanya cerdas secara akademis, tetapi juga tangguh secara psikologis, sosial, dan emosional. DAFTAR PUSTAKA