AL-QALAM Jurnal Kajian Islam & Pendidikan Volume 7. No. 1, 2015 ISSN . : 1858-4152 ISSN . : 2715-5684 Homepage : http://journal. al-qalam. KAIDAH-KAIDAH KEBAHASAAN Sebuah Upaya dalam Memahami al-QurAoan Oleh: Amir Hamzah* *** Abstrak Ilmu Tafsir bertujuan untuk memahami makna yang terkandung dalam Al-QurAoan. Disiplin ilmu yang menjadi syarat bagi para mufasir adalah Ilmu al-qawAAoid al-lugawiyah karena bahasa Al-QurAoan adalah bahsa Arab. Sehubungan dengan itu, maka tulisan ini akan membahas tentang kaidah kebahasa-an yang diperlukan dalam menafsirkan makna Al-QurAoan. Hasil kajian menunjukkan bahwa, al-qawAAoid al-Lugawiyah adalah kaidah kebahasaan . ahasa ara. yang dipergunakan oleh mufasir dalam memahami kandungan makna Al-QurAoan. Kaidah yang dimaksud di sini, bukan hanya sebatas kaidah tekstual . ahwu wa sharf. , akan tetapi seluruh kaidah bahasa Arab yang mencakup kaidah makna teks dan konteks. Mengetahui kaidah kebahasaan dalam ilmu tafsir adalah salah satu jalan agar terhindar dari pemahaman yang batil, sebab dalam memahami makna yang dikandung oleh Al-QurAoan, harus mengetahui lafal asli dari teks Al-QuAoan itu sendiri sehingga dapat mengkolaborasi antara makna bahasa dengan makna syaraAo yang telah ditentukan. Penguasaan terhadap kaidah-kaidah kebahasaan, akan dapat memberikan kemampuan untuk menggunakan nash Al-QurAoan dalam istinbat hukum yang benar. Ketidaktahuan terhadap kaidah kebahasaan dapat menimbulkan ketidak pahaman terhadap kaidah hukum syaraAo dan berpotensi terjadinya penyalahgunaan hukum syariAoat yang tidak sesuai dengan Al-QurAoan dan As-Sunnah. Kata Kunci : QawaAoid. Tafsir. Lughah. Makna. Konteks. Teks PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Perlu diketahui bahwasanya tujuan dari Ilmu Tafsir adalah untuk dan bagaimana agar kita memahami makna yang terkandung dalam Al-QurAoan, walaupun pada hakikatnya kita tidak boleh mengklaim, bahwasanya makna tersebutlah yang betul-betul dimaksud dalam Al-QurAoan. Oleh sebab itu persyaratan utama dalam memahami makna Al-QurAoan adalah terlebih dahulu kita harus menguasai bahasa arab dan segala hal yang bersangkutan dengannya. 1 Namun dalam menafsirkan Kala>mullah tersebut, tidaklah seperti menafsirkan kalimat-kalimat atau perkataan yang lainnya. Sebab dalam menafsirkan Kala>mullah memerlukan proses yang sistematis dan penuh dengan ketelitian, oleh sebab itu para mufasir dalam hal ini telah mentapkan beberapa kaidah Dosen IAIN Palopo Masa>Aoid al-Tayyari>. Tafsir al-Lugawi> li Al-QurAoan al-Kari>m, (Cet. KSA: Dar. Ibn al-Jauzi>. 1422 H), AL-QALAM Jurnal Kajian Islam & Pendidikan AL-QALAM Jurnal Kajian Islam & Pendidikan Volume 7. No. 1, 2015 ISSN . : 1858-4152 ISSN . : 2715-5684 Homepage : http://journal. al-qalam. yang dibutuhkan oleh seseorang ketika ingin mengetahui atau memahmi makna yang dikandung oleh Al-QurAoan. Kata kaidah berarti perumusan dari asas-asas yang menjadi hukum. 2 Dalam bahasa Arab, kaidah disebut dengan qawa>Aoid ACOA, bentuk jamak dari qa>Aoidah ACA yang berarti undang-undang, aturan dan asas3. Adapun pengertian kaidah menurut istilah yaitu aturan umum yang memperkenalkan serta membahas aturan-aturan pada bagianbagiannya. Kaidah-kaidah penafsiran dibangun berdasarkan disiplin ilmu yang dibutuhkan dalam memahami makna Al-QurAoan. Disiplin ilmu yang menjadi salah satu kaidah yang sangat penting untuk dimiliki oleh para mufasir adalah Ilmu al-qawa>Aoidu al-lugawiyah5. Hal ini disebabkan karena bahasa asli yang digunakan dalam Al-QurAoan adalah bahsa Arab, jadi dalam memahmi Al-QurAoan tentunya harus dan mesti terlebih dahulu menguasai kaidah tatabahasa arab, hal ini agar dalam memahami makna Al-QurAoan tidak akan melenceng dari makna aslinya. Sehubungan dengan peryataan di atas penulis ingin membahas lebih lanjut tentang kaidah-kaidah kebahasa-an yang diperlukan oleh para mufasir dalam menafsirkan makna yang terkandung dalam Al-QurAoan. Berdasarkan uraiana latar belakang tersebut, penulis dapat merumuskan beberapa poin permasalahan yang akan penulis angkat dalam tulisan ini dengan merumuskannya dalam beberapa pertanya: . Bagaimana bentuk dan cara memahami al-qawa>Aoidu allugawiyah dalam menafsirkan Al-QurAoan ?. Apakah tujuan dan hikmah dalam mengetahui al-qawa>Aoidu al-lugawiyah dalam penafsiran Al-QurAoan ?. Bagaimana dampak negatif dalam menafsirkan Al-QurAoan tampa mengetahui dan menguasai al-qawa>Aoidu al-lugawiyah ? PEMBAHASAN al-Qawa>Aoidu al-Lugawiyah (Kaidah-Kaidah Kebahasa-a. yang Dipergunakan dalam Ilmu Tafsir Sebelum penulis masuk pada pembahasan kaidah-kaidah kebahasaan, penulis ingin mempertegas terlebih dahulu tentang makna kaidah-kaidah kebahasa-an dalam ilmu tafsir yang dimaksud dalam pembahasan ini. Dalam kitab Qawa>Aoidu al-Tafsi>r dijelaskan bahwa makna kaidah-kaidah kebahasa-an dalam ilmu tafsir adalah kaidah-kaidah yang berhubungan dengan ilmu-ilmu kebahasa-an dan cabang-cabangnya seperti ilmu nahwu, ilmu sharfu, bala>ghah. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 2. , h. Abu Husain Ahmad ibn Fa>ris. MuAojam Maqa>yi>s al-Lugah. Juz V (Mesir: Da>r al-Fikr, 1. , h. Ibid. , h. Kha>lid ibn AoUts\ma>n al-Sabt. Qawa>Aoidu al-Tafsi>r JamAoan wa Dira>satan, (Cet. KSA: Da>r Ibn AoAffa>n, 1417 H. / 1996 M. ), h. AL-QALAM Jurnal Kajian Islam & Pendidikan AL-QALAM Jurnal Kajian Islam & Pendidikan Volume 7. No. 1, 2015 ISSN . : 1858-4152 ISSN . : 2715-5684 Homepage : http://journal. al-qalam. fasha>hah, baya>n, maAoa>ni> dan yang berhubungan erat dengan maksud-maksud atau makna kebahasaan dalam bahasa arab. Dalam kitab Qawa>Aoidu al-Tafsi>r, telah disebutkan 8 kaidah kebahasa-an yang dipergunakan oleh mufasir dalam memahami makna Al-QurAoan, sebagai berikut : Kaidah Pertama : a AI eNI eIEI au eEA A eO aI aO ae aN A aNO eE eOEOAUAC e aI aI O aE eO aNA Artinya : Hubungan kalimat, baik sebelumnya, sesudahnya atau yang sepadan dengannya adalah yang lebih diprioritaskan. Maksudnya, dalam memahami sebuah kalimat atau ayat mestilah diperhatikan kalimat atau ayat sebelumnya, karena antara satu kalimat atau ayat dengan yang lainnya memiliki korelasi dengan kalimat yang lainnya, baik itu kalimat sebelumnya ataupun sesudahnya, karena menurut mufasir, apabila kita ingin meninjau dari segi kefasihan dan ke-Bala>ghah-an bahasa Al-QurAoan, maka akan lebih nampak kefashihan tersebut dibanding ketika kita memisah-misahkannya atara satu kalimat dengan kalimat yang laiinnya. 8, kaidah ini lebih dikenal dengan jenis tafsir Al-QurAoan bi Al-QurAoan, dan jenis penafsiran ini adalah jenis penafsiran yang paling sahih diantara jenis-jenis penafsiran yang lain9 sebagai contoh, pada QS Al-Nisa>Ao/4: 127. A EEac aO EA a A aAO OIO EIaA a AEIA a AOOe eAaOIE aAOA a A Ca aE NEEa Oa eA aO aE eI AaO aN acI OI OaeEO E eO aE eI aAO eE aEA AI O eI CaO aIO aE eEOIOA a Aae aOI aN acI I aEa E aN acI O eaOI eI eI aE aO aN acI O eE aIee aAOI aII eE aO eEA Ae OI eAEaO aI eI O se Au a acI NEE EI a aN aEO UIA a Aa eE aCA Terjemahnya: AuDan mereka minta fatwa kepadamu tentang perempuan. Katakanlah, "Allah memberi fatwa kepadamu tentang mereka, dan apa yang dibacakan kepadamu dalam Al Quran . uga memfatwaka. tentang perempuan yatim yang kamu tidak berikan sesuatu . yang ditetapkan untuk mereka, sedang kamu ingin mennikahi mereka dan . anak-anak yang masih dipandang lemah. Dan (Allah menyuruh kam. agar mengurus anak-anak yatim secara adil. Dan kebajikan apa pun yang kamu kerjakan, sesungguhnya Allah adalah MahamengetahuiAy. Ibid. Kha>lid ibn AoUts\ma>n al-Sabt. Mukhta. ar fi> Qawa>Aoid al-Tafsi>r (Cet. KSA: Da>r Ibn AoAffa>n, 1417 / 1996 M. ), h. Kha>lid ibn AoUts\ma>n al-Sabt, op. cit, h. Tha>hir Mahmud Muhammad YaAoqub. Asbabu al-KhataAo fi Al-Tafsir Dira>satu al-TaAoshiliyah, (Cet. KSA: Dar. Ibnu al-Jauzi>. 1465 H), h. Departemen Agama RI. Al-QurAoan dan Terjemahnya (Cet. Bandung: CV Penerbit Diponegoro, 2005 M. ), h. AL-QALAM Jurnal Kajian Islam & Pendidikan AL-QALAM Jurnal Kajian Islam & Pendidikan Volume 7. No. 1, 2015 ISSN . : 1858-4152 ISSN . : 2715-5684 Homepage : http://journal. al-qalam. Para ulama berbeda pendapat dalam menafsirkan ayat AOI OaeEO E eO aE eI AaOA a A( E aEAdan apa yang dibacakan kepadamu dalam al-QurAoa. , dalam beberapa pendapat:11 Pendapat pertama menyatakan bahwa yang dimaksud apa yang dibacakan kepada mereka adalah ayat tentang pembagian harta pusaka yaitu QS. al-Nisa>Ao/4: 11, sebagai berikut: AcEEa AaO eOE a aE eI aEEacE a aIe aE a E a eIOO aeI Au a eI aE acI Ia U A eOC eIO aeI AE aN acI aEa I E Oua eIA ca AaOAO aE aIA a AOA e AEIA a aI acI E ua eI EI ENa OE Au a eI E eI OE eI ENA ca A s aII aNI EA a AA OEO eO aN aEE aE OA a AOA e aA U AEN EIA a AA a a ca AaOAO aN eO O seIA ca AOE OO aNa ONa AE aI aN EE Au a eI EI ENa uaO AE aI aN EA a AA a AAOac s OA a Aa aI eI e a OA AcEE EI aEO UI aEO UIA ca AcEEa ua acIA ca A E aE eI I eAU A aOU aIIA a Aa aE eI OeIa aE eI E aeOI Oac aN eI eCA Terjemahnya: AuAllah mensyari'atkan . kepadamu tentang . embagian warisan untu. anak-anakmu. (Yait. bagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak Dan jika anak itu semuanya perempuan yang jumlahnya lebih dari dua, maka bagian mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan. Jika dia . nak perempua. itu seorang saja, maka dia memperoleh setengah . arta yang Dan untuk kedua ibu-bapak, bagian masing-masing seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika dia . ang meningga. mempunyai anak. Jika dia . ang meningga. tidak mempunyai anak dan dia diwarisi oleh kedua ibu-bapankya . , maka ibunya mendapat sepertiga. Jika dia . ang meningga. mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di ata. wasiat yang dibuatnya atau . an setelah dibaya. (Tentan. orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih banyak manfaatnya bagimu. Ini adalah ketetapan Allah. Sungguh. Allah Mahamengetahui. MahabijaksanaAy. Pendapat kedua menyatakan bahwa yang dimaksud adalah QS. Al-Nisa>Ao/4: 176, sebagai berikut: AA I E O aNOA ca AOe eAaOIE Ca aEA e aAcEEa Oa eAaO aE eI AaO e a au aI eI a NEE EOe ENa OE OENa a e AEN IA a a ca AI aI acI E O au eI EIaO au eO U aEU OIa UA a AO aaN ua eI E eI O aE eI EN OE Au a eI EI IO aeI AE aNI EEA AcEEa a aE aE eOs aEOIA ca AEacO OA ca AA aEEacE a aIe aE a E a eIOO aeI OaOa aIA a AcEEa E aE eI eI A Terjemahnya: "Mereka meminta fatwa kepadamu . entang kala>la. Katakanlah. AuAllah memberi fatwa kepadamu tentang kala>lah . , jika seseorang mati dan dia tidak mempunyai anak tetapi mempunyai saudara perempuan, maka bagiannya . audara perempuannya it. seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang Abu> JaAofar Mu. ammad ibn Jari>r al-T. Ja>miAo al-Baya>n Aoan TaAowi>l Aq oleh AoAbdulla>h ibn AoAbd al-Mu. sin al-Turki>. Juz VII (Cet. al-Qa>hirah: Markaz al-Bu. u>s\ wa alDira>sa>t al-AoArabiyyah wa al-Isla>miyyah bi Da>r Hijr, 1424 H. /2003 M. ), h. Departemen Agama RI. , op. , h. AL-QALAM Jurnal Kajian Islam & Pendidikan AL-QALAM Jurnal Kajian Islam & Pendidikan Volume 7. No. 1, 2015 ISSN . : 1858-4152 ISSN . : 2715-5684 Homepage : http://journal. al-qalam. laki-laki mewarisi . eluruh harta saudara perempua. , jika dia tidak mempunyai Tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan. Dan jika mereka . hli waris itu terdiri dar. saudarasaudara laki-laki dan perempuan, maka bagian seorang saudara laki-laki sama dengan bagian dua orang saudara perempuan. Allah menerangkan . ukum in. kepadamu, agar kamu tidak sesat. Allah Mahamengetahui segala sesuatu. "13 Pendapat yang ketiga menyatakan bahwa yang dimaksud adalah QS. Al-Nisa>Ao/4: 3, sebagai berikut: a AO au eI a eA a eI Eac a eC aA A IeIO OaE O a Au a eI a eA a eIA a AO AaO eEOIO A eI aE aO I E aE eI aII EIaA e A U eO I IEEA A OeIIa aE eI aEE eIO Eac aOEaOA a AEac e aEaO AOA Terjemahnya: "Dan jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil terhadap . ak-ha. perempuan yatim . ilamana kamu menikahiny. , maka nikahilah perempuan . yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Tetapi jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil, maka . seorang saja, atau hamba sahaya yang kamu Yang demikian itu adalah lebih dekat agar kamu tidak berbuat zalim. "14 Pendapat yang pertama, kedua dan ketiga, memahami bahwa menempati kedudukan A IAdengan arti mengikut kepada A ENAdan A EIOIApada kalimat AOAOEIA AAONIA, maka makna kalimat adalah A OAOI OEO EOEI AOA,ACE NEE ON EI AO EIA A( EEAkatakanlah wahai manusia kepada wanita, dan apa yang dibacakan kepada kalian di dalam Al-QurAoa. Pendapat yang keempat yaitu pendapat Muhammad bin Abi{ Mu>sa, menyatakan bahwa ayat ini turun kepada Nabi Muhammad saw. berkenaan pertanyaan beberapa orang di kalangan sahabat tentang masalah perempuan, dan mereka tidak mempersoalkan apa yang telah mereka lakukan, lalu Allah swt. memberi fatwa kepada mereka tentang hal-hal yang mereka kemukakan dan yang tidak. Menurut sebab turunnya maka AA a A OI OaeEO E eO aE eI AaO eE aEAini maksudnya tentang nusyu>z pada QS. Al-Nisa>/ 4: 128. U AA a aA aI eI e aEN IA e AO aI eI AA AA eE aA U AO eO uaeA e aA AE aI E eO aNI eI OA ca AA eE U OEA a AA aE OeI aNIA ca A EA AOA a AA U aA ac Oua eI ae aIaO OCO Au a acI NEE EI aI eIEOI A a A E eIAA a eAOe OaA Terjemahnya: AuDan jika seorang perempuan khawatir suaminya akan nusyu>z atau bersikap tidak acuh, maka keduanya dapat mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik . agi merek. walaupun manusia itu menurut tabiatnya Dan jika kamu memperbaiki . ergaulan dengan isterim. dan memelihara Ibid. , h. Ibid. , h. Kha>lid ibn AoUts\ma>n al-Sabt. Qawa>Aoidu al-Tafsi>r JamAoan wa Dira>satan, h. AL-QALAM Jurnal Kajian Islam & Pendidikan AL-QALAM Jurnal Kajian Islam & Pendidikan Volume 7. No. 1, 2015 ISSN . : 1858-4152 ISSN . : 2715-5684 Homepage : http://journal. al-qalam. ari nusyu>z dan sikap acuh tak acu. , maka sungguh. Allah Maha teliti terhadap apa yang kamu kerjakanAy. Yang dipertanyakan oleh sahabat tersebut tentang wanita yatim, maka Allah berfirman dalam QS. Al-Nisa>/ 4: 127. A EEacaO E ae aOI aN acI I aEa E aN acIA a A AaO OIO EIaA. Terjemahnya: Au. Tentang perempuan yatim yang tidak kamu berikan sesuatu . yang ditetapkan untuk merekay17 Pendapat yang Ra>jih . erpilih dan lebih kua. Abu JaAofar berkata : pendapat pertama yang telah kami paparkan di atas adalah pendapat yang ra>jih . ang terpilih sebagai pendapat yang lebih kuat/bena. di antara pendapat-pandapat yang lain, dengan alasan bahwasanya dalam surah tersebut mulai dari awal surah hingga akhir surah adalah menyangkut pembahasa fara>id . sehingga terdapat hubungan yang sangat erat dari segi pembahasannya, yaitu, kata aOA a A OIO EIaAmemiliki hubungan makna yang erat dengan kata A OI OaeEO E eO aE eIA, jika demikian halnya maka takwil dari ayat tersebut adalah Dan mereka minta fatwa kepadamu tentang perempuan. Maka katakanlah, "Allah memberi fatwa kepadamu yang diturunkan melalui Rasulullah saw. tentang perkara perempuan yatim yang kamu tidak berikan sesuatu . yang telah ditetapkan untuk mereka harta pusaka, dalam artian Allah menetapkan kepada mereka . anita yatim yang telah dinikahi tanpa maskawi. bagian warisan sesuai warisan yang mereka dapat. Karena dalam penafsiran Al-QurAoan bi Al-QurAoan yang benar adalah pertalian makna yang erat adalah lebih didahulukan dibanding yang lainnya, beliau juga memandang bahwasanya maskawin tidak ditetapkan kepada wanita kecuali dengan nikah, oleh karena itu ketetapan al-saddaq adalah ketetapan bagi seorang wanita yang telah Kaidah Kedua A e E eA a EI a acE EO Eea Ea eE a O eE aIOI a EO aEE eE aA eEA a AAOea eE aIA Artinya : Ungkapan mu. a>riAo setelah lafal ka>na menunjukkan bahwa perbuatan tersebut sering berulang dan berkelanjutan. Departemen Agama RI. , op. , h. Ibid. , h. Abu> JaAofar Mu. ammad ibn Jari>r al-T. bari>, op. 9, h. Departemen Agama RI. , op. , h. Kha>lid ibn AoUs\ma>n al-Sabt. Mukhta. ar, loc. AL-QALAM Jurnal Kajian Islam & Pendidikan AL-QALAM Jurnal Kajian Islam & Pendidikan Volume 7. No. 1, 2015 ISSN . : 1858-4152 ISSN . : 2715-5684 Homepage : http://journal. al-qalam. Untuk aplikasi . kaidah tersebut, dapat kita lihat melalui contoh yang akan penulis paparkan sebagai berikut : Dalam QS. Maryam/ 19: 55. Allah swt. Berfirman: ca AAEa OA AEE aA ca AOEI O e aI a eNENa aEA Terjemahnya: AuDan dia menyuruh keluarganya untuk . shalat dan . zakatAy. Kata A O e aI aAmerupakan fiAoil mud. >riAo yang terletak sesudah kata AEIA. Menurut kaidah kedua, ini menunjukkan bahwa Nabi Isma>Aoi>l as. AuselaluAy memerintahkan keluarganya agar melaksanakan shalat dan mengeluarkan zakat. QS. Al-Jinn/ 72: 6. Allah Berfirman: AOIacNa EI aE aII e auE eI a OaOaOI a a sE aII eE a aI AaO aN eI NCUA Terjemahnya: AuDan sesungguhnya ada beberapa orang laki-laki dari kalangan manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki dari jin, tetapi mereka . menjadikan mereka . bertambah sesatAy. Kata A( oIAmeminta perlindunga. merupakan fiAoil mu. a>riAo yang mengandung . ami>r A NIAyang terletak setelah AEIA. Hal ini menunjukkan bahwa perbuatan meminta perlindungan kepada jin itu sering dilakukan oleh banyak orang. QS. Al-Jinn/ 72: 4. Allah Berfirman: U AOIacNa EI OCaO aE aAO aNI EO NEEa A AA Terjemahnya: AuDan sesungguhnya orang yang bodoh di antara kami dahulu selalu mengucapkan . yang melampaui batas terhadap Allah. Ay23 Kata A( OCaO aEAdia berkat. dalam ayat ini terletak sesudah kata AEIA, ini menunjukkan bahwa perkataan yang melampaui batas terhadap Allat swt. itu sering atau dilakukan secara berulang-ulang oleh orang-orang safi>h dikalangan mereka. QS. Al-Baqarah/ 2: 61. Allah swt. Berfirman: A aEE aI A eO OEIaO O eaOIA. Terjemahnya: Departemen Agama RI. , op. , h. Ibid. , h. Ibid. AL-QALAM Jurnal Kajian Islam & Pendidikan AL-QALAM Jurnal Kajian Islam & Pendidikan Volume 7. No. 1, 2015 ISSN . : 1858-4152 ISSN . : 2715-5684 Homepage : http://journal. al-qalam. Au. yang demikian itu karena mereka durhaka dan melampaui batas. Ay24 Kata aA( aO e a aOIAmelampaui bata. merupakan fiAoil mu. a>riAo terletak sesudah kata AEaIaOA. Menurut kaidah kedua, perbuatan melampaui batas itu menunjukkan seringnya QS. Al-Anbiya>Ao/ 21: 90. Allah swt. Berfirman: AOII U ONUA a AOI AaO eEOeA a A OO eA a AA a A uaIac aN eI EIaO OaA. Terjemahnya: AuSungguh, mereka selalu bersegera dalam . kebaikan dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemasAy. Kata aAOIA a A aA a aA( OAberseger. terletak sesudah kata AEaIaOA. Dapat difahami bahwa dalam hal-hal yang baik mereka selalu bersegera. Kaidah Ketiga A O eE aA e aEOaca a acE EO Eac aAUaAeE a eIEa e auE aeIOaca a acE EO E acO aI O Eac eaOA Artinya: Aual-Jumlatu al-ismiyah . alimat yang diawali oleh kata bend. itu menunjukkan makna terus menerus dan tetap, dan al-jumlatu al-fiAoliyyah . alimat yang diawali oleh kata kerj. menunjukkan makna selalu diperbaharui/ berulang. Ay Al-Jumlat al-ismiyah adalah tiap-tiap jumlah yang tersusun dari mubtadaAo khabar yang dimulai dengan ism. Adapun al-jumlah al-fiAoliyyah yaitu tiap-tiap jumlah yang tersusun dari fiAoil dan fa>Aoil yang dimulai dengan fiAoil. Adapun contoh-contoh menyangkut kaidah ke-empat ini dalam Al-QurAoan sebagai berikut : Al-Jumlat al-Ismiyah QS al-Qahfi/ 18: 18 AAO aA a A OE eEa aN eI a a eO aN a eEOA. Terjemahnya: Ibid. , h. Kha>lid ibn AoUts\ma>n al-Sabt. Qawa>Aoidu al-Tafsi>r JamAoan wa Dira>satan, h. Departemen Agama RI. , op. , h. Kha>lid ibn AoUs\ma>n al-Sabt. Mukhta. ar, loc. Lebih jelasnya lihat AoAli> Ja>rim dan Mu. afa> Ami>n, al-Na. w al-Wa>. fi Qawa> Aoid al-Lugat al-AoArabiyyah. Juz I . l-Qa>hirah: Da>r al-MaAoa>rif, 1999 M. ), h. AL-QALAM Jurnal Kajian Islam & Pendidikan AL-QALAM Jurnal Kajian Islam & Pendidikan Volume 7. No. 1, 2015 ISSN . : 1858-4152 ISSN . : 2715-5684 Homepage : http://journal. al-qalam. Au. Sedang anjing mereka membentangkan kedua lengannya di depan pintu gua Ay29 Kata AA a A Aba>si. menunjukkan bahwa cara tersebut tidak berubah. Berbeda bila disebut yabsu. u maka cara anjing itu membentangkan lengannya di depan pintu gua berubah. al-Jumlat al-FiAoliyyah . QS. Al-Anfa>l/ 8: 3 AAE O aI acI eCI aN eI Oa eI aACaOIA ca AEacaOI Oa aCO aIOI EA Terjemahnya: Au(Yait. orang-orang yang melaksanakan shalat dan yang menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Ay30 Kata A Oa aCO aIOIAyuqi>mu>na . dan A Oa eI aACaOIAyunfiqu>na . menunjukkan bahwa perbuatan tersebut terjadi berulang-ulang. QS. Fa>. ir/ 35: 3 a AIA ca AC O ae NEEa O e aCa aE eI aII EA a A OE eA s A N eE aI eI aEA. Terjemahnya: Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezki kepadamu dari langit dan bumi? . Al-Ra>zi> berkomentar mengenai ayat ini, sebagai berikut: a AuE eIaNA a AuEeCA ca A)(O e aCa aEI aII EA a A aA a AC auEOA a AI OE . ( au auEO Ia eI aA a AE eA Artinya : Ayat ini memberi isyarat bahwa pemberian nikmat secara terus menerus berupa rezki itu sampai akhir. QS. Yu>suf/12: 16 AO aO aN eI a U O e aEOIA Terjemahnya: AuKemudian mereka datang kepada ayah mereka pada petang hari sambil menangis. Ay33 Departemen Agama RI. , op. , h. Ibid. , h. Ibid. , h. Mu. ammad Fakhr al-Di>n ibn D. ya>Ao al-Di>n AoUmar al-Ra>zi>. Tafsi>r al-Fakhr al-Ra>zi> aw Tafsi>r al-Kabi>r wa Mafa>ti>. al-Gayb. Juz XXVI (Cet. Beiru>t: Da>r al-Fikr, 1401 H. /1981 M. ), h. Departemen Agama RI. , op. , h. AL-QALAM Jurnal Kajian Islam & Pendidikan AL-QALAM Jurnal Kajian Islam & Pendidikan Volume 7. No. 1, 2015 ISSN . : 1858-4152 ISSN . : 2715-5684 Homepage : http://journal. al-qalam. Kata-kata A O e aEOIAyang berarti menangis, dalam ayat ini menunjukkan bahwa setiap kali mereka datang kepada Nabi YaAoqu>b, pasti mereka selalu menangis walau hanya dengan pura-pura menangis, karena memang demikianlah sifat kebiasaan orang-orang yang suka menipu dan berdusta. Kaidah Keempat a A eEI eA AA I eIO eO aNIA a A eOAO aeI Oa acE EO ua eaEA a AeE aIEAa OeI uaeA Artinya: Perbedaan iAorab di antara dua maAo. u>f menunjukkan perbedaan makna keduanya. Adapun contoh penerapan dari kaidah ini, firman Allah swt. dalam QS. AlBaqarah/ 2: 197, sebagai berikut: aAOC OE aE AaO eEA a aAeE ac e aN I eEaOI AI eI A AaO aN acI eE ac AE A OE AA Terjemahnya: Au(Musi. haji itu . bulan-bulan yang telah dimaklumi. Barangsiapa mengerjakan . haji dalam . ulan-bula. itu, maka janganlah dia berkata jorok . afas\), berbuat maksiat dan bertengkar dalam . elakukan ibada. hajiAy . Ada perbedaan dalam qira>Aoat ayat ini. Ibnu Kas\i>r dan ahlu al-Ba. rah U aA AaEa adengan rafaAo tanwi>n, sedangkan AaOEa a a aEA misalnya membaca ACA U AOA a aA aOEa AA dengan na. Ibnu Kas\i>r dan ahlu al-Ba. rah membaca demikian karena menurutnya yang pertama bermakna al-nahyu . untuk melakukan rafas\ dan berbagai pelanggaran. Sedang yang kedua bermakna al-nafyu . terhadap Ada juga yang membacanya dengan mem-fat. at-kan semua, alasannya, kalau semua dibaca fat. ah itu lebih mengena kepada maksud dan tujuannya karena menafikan segala bentuk rafas\ dan fusu>k. Intinya, perbedaan iAorab di antara dua yang maAo. uf menunjukkan adanya perbedaan Seperti contoh tersebut bila dibaca . ammatayn maka maknanya berarti larangan, bila dibaca fat. ah maka maknanya adalah mengindahkan. Abu> Hayya>n Mu. ammad ibn Yu>suf ibn AoAli> al-Andalu>si>, al-Ba. r al-Mu. fi al-Tafsi>r, dalam al-Maktabat al-Sya>milah Versi 2 [CD-ROM]. Tafsir QS. Yu>suf/12: 16. Kha>lid ibn AoUs\ma>n al-Sabt. Mukhta. ar, loc. Departemen Agama RI. , op. , h. Uraian lebih lanjut lihat Abu> Mu. ammad al-Husayn ibn Mas\Aou>d al-Bagawi>. MaAoa>lim al-Tanzi>l, di-ta. qi>q oleh Mu. ammad AoAbdulla>h al-Namr, et al. Juz I (Cet. IV. : Da>r al-T. yyibah, 1417 H. /1997 ), h. Kha>lid ibn AoUs\ma>n al-Sabt. Qawa>Aoid, op. , h. AL-QALAM Jurnal Kajian Islam & Pendidikan AL-QALAM Jurnal Kajian Islam & Pendidikan Volume 7. No. 1, 2015 ISSN . : 1858-4152 ISSN . : 2715-5684 Homepage : http://journal. al-qalam. Kaidah Kelima e A eO aE C e A sAOeE eO EO eOA a AI OEEac a aIU aN e auEa a A E eAAUa a AAOea E ac eAA a AEa aC AO a eECa eA Artinya: >gat al-taf. i>l . ngkapan yang berbentuk melebihkan sesuatu dari yang lai. di dalam al-QurAoan dan bahasa Arab terkadang secara mutlak ditujukan untuk menyebut sifat sesuatu, tidak ada kelebihan antara yang satu dari yang lainnya. Al-Zarkasyi> mengemukan kaidah bahwa, pada asalnya afAoa>l al-taf. i>l menunjukkan sesuatu yang lebih utama. 40 Namun bila keutamaan di antara keduanya berbeda sifatnya maka hal ini menyalahi ketentuan asal. Kaidah pokok ini biasa terpakai apabila suatu kalimat bersifat tawqi>f . dan tawbi>kh . , akan tetapi bila suatu kalimat berbentuk khabar, maka al-tafdi>l di antara keduanya terhalangi karena maknanya tidak sesuai. Dalam hal ini, salah satu contoh yang dapat penulis kemukakan adalah penjelasan Ibnu Hajar al-AoAsqala>ni> ketika mensyarah sabda Rasulullah saw. menyatakan: AC aE aacE aI eI ua ae aNOIA ca AIae Ia a aA ca A aEI eAO a eEI eIO eI EA e AEI eEaOac acI eAE aacI A AOeO aeI Ie O C eOEN EO (( aN eIA a AOEO eA ca A EA:A OIe O C eOE ECaEAU AO E Oe AaO EA aOCO aeIA a AOeA AO E OeA e AI Oe aI eI AaEI A e AOe eI C eO aI aac. ) A ca A AEO N AI eIO C eOEN " Ie aI acC aEAU aO aNIA A aE aI eI aueNaOI" E acE a eII aIOUA Artinya: Beberapa pakar bahasa Arab mengemukakan bahwa si>gatu afAoal kadang-kadang menafikan makna . l-taf. di antara keduanya. Contohnya firman Allah taAoa>la>: pakah mereka lebih baik dari kaum TubbaAo?) maknanya tidak ada yang baik di antara Contoh lain, seseorang berkata. AuSyaitan lebih baik dari si-Fulan,Ay maknanya keduanya tidak ada yang baik. Oleh karenanya, sabda Rasulullah saw. aAIae IA AC aE aacE aI eI ua ae aNOIA ca A a aA, maknanya kita semua tidak ada keraguan terhadap yang datang dari Nabi Ibra>him. Kaidah Keenam A a eAN aI IIaO eE eAE EO eO I acO a aNA Artinya: Makna afAoa>l difahami berdasarkan keterangan yang menyertainya. Kha>lid ibn AoUs\ma>n al-Sabt. Mukhta. ar, loc. Badr al-Di>n Mu. ammad ibn AoAbdilla>h al-Zarkasyi>, op. Juz IV, h. Kha>lid ibn AoUs\ma>n al-Sabt. Qawa>Aoid, op. , h. Abu> al-Fa. l Syiha>b al-Di>n A. mad ibn AoAli> (Ibnu Haja. al-AoAsqala>ni>. Fat. al-Ba>ri> Syar. al-Bukha>ri>. Juz X, dalam al-Maktabat al-Sya>milah Versi 2 [CD-ROM], h. Kha>lid ibn AoUs\ma>n al-Sabt. Mukhta. ar, loc. AL-QALAM Jurnal Kajian Islam & Pendidikan AL-QALAM Jurnal Kajian Islam & Pendidikan Volume 7. No. 1, 2015 ISSN . : 1858-4152 ISSN . : 2715-5684 Homepage : http://journal. al-qalam. Kata na. ara (A )IAapabila ia berdiri sendiri berarti berhenti dan menunggu. Contohnya. QS. Al-Hadi>d/57: 13. Allah swt. a A eIA. AO aE eIA e aA aOI I eCA a aA aI eI IA Terjemahnya: Au. Tunggulah kami! Kami ingin mengambil cahayamu . Ay44 Apabila kata na. ara diiringi dengan ila> berarti menyaksikan sesuatu dengan mata kepala. Sebagaimana dalam QS. Al-Qiya>mah/ 75: 22-23, sebagai berikut: a A auEO aN IA. a AaO aON O eOI a s IA Terjemahnya: AuWajah-wajah . rang mukmi. pada hari itu berseri-seri. Memandang Tuhannya. Ay45 Makna melihat Tuhan dengan mata kepala di akhirat kelak pada ayat ini tidak disetujui oleh kalangan MuAotazilah, karena menurut mereka Tuhan tidak dapat dilihat dengan mata dan tidak dapat dicapai oleh penglihatan bukan karena adanya hambatan tetapi karena zat-Nya mustahil dilihat. 46 Mereka berdalil dengan QS. AlAnAoa>m/6: 103, sebagai berikut: AOA a AOA eE aA a AE a ae aENa EeAA a A O aNO Oa aeEa EeA O aNO EEac aA Terjemahnya: AuDia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dialah yang Maha halus. Maha teliti. Ay47 Ayat ini menurut al-Qa>. i> AoAbd al-Jabba>r secara jelas menunjukkan bahwa Allah swt. sama sekali tidak dapat dilihat dengan mata kapan dan di mana saja, mengingat bahwa pengindahan yang terdapat dalam ayat tersebut tidak terkait dengan waktu dan tempat tertentu. QS. Al-Qiya>mah/ 75: 23 tersebut bahkan tidak menunjukkan bahwa Tuhan dapat dilihat dengan mata, dengan alasan bahwa kata al-na. berbeda dengan al-ruAoyah . Lagi pula jika Tuhan dapat dilihat dengan mata berarti Ia menempati tempat tertentu, dengan demikian Ia termasuk jism, sedang Departemen Agama RI. , op. , h. Ibid. , h. Al-Qa>. i> AoAbd al-Jabba>r, al-Mugni> fi> Abwa>b al-Taw. i>d wa al-AoAdl. Juz IV . l-Qa>hirah: Da>r al-Mi. riyyah, 1965 M. ), h. Departemen Agama RI. , op. , h. Lebih lanjut lihat Al-Qa>. i> AoAbd al-Jabba>r. Mutasya>bih al-QurAoa>n. Jilid II . l-Qa>hirah: Da>r alTuras\, 1969 M. ), h. Al-Qa>. i> AoAbd al-Jabba>r. Tanzi>h al-QurAoa>n Aoan al-Ma. }a>Aoin (Beiru>t: Da>r alNah. at al-H. di>s\ah, t. ), h. AL-QALAM Jurnal Kajian Islam & Pendidikan AL-QALAM Jurnal Kajian Islam & Pendidikan Volume 7. No. 1, 2015 ISSN . : 1858-4152 ISSN . : 2715-5684 Homepage : http://journal. al-qalam. Tuhan bukan jism. Oleh karena demikian memandang Tuhan mesti difahami secara maja>zi> yakni yang dipandang bukan zat-Nya tetapi pahala yang diberikan-Nya. Apabila kata na. ara diiringi dengan fi> berarti berfikir dan mengambil satu Sebagaimana dalam QS. Al-AAora>f/ 7: 185, sebagai berikut: a AOE eI O eIA a AIOA a A aO AaO IE aEOA ca A EA a A OeE eA Terjemahnya: AuDan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi . Ay50 Kaidah Ketujuh AA a Oa aA eOa E ac e a eO aI eO Eac acIA a AE ac e aCOA e Ae a eEIA Artinya: Penggunaan mas. ar menunjukkan pengagungan atau celaan. Contohnya: QS. Al-Naml/ 27: 87-88, sebagai berikut: A aOIA a AIOA a A auEac I eI NEEa O aE UcE eONa A ca AO AA a I eI AaO EA ca AOO eOI Oa eIA a AaO EA a A OI eI AaO E eA a a ca AA eI NEEa EaO eCI aE acE eOs auIacNa aO aIA ca AI U ONaO aI ac I ac EA a AOO eE aE e aN A a AA a AA A eAEaOIA Terjemahnya: AuDan . pada hari . sangkakala ditiup, maka terkejutlah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Dan semua mereka datang menghadap-Nya dengan merendahkan diri. Dan engkau akan melihat gunung-gunung, yang engkau kira tetap di tempatnya, padahal ia berjalan . awan berjalan. (Itula. ciptaan Allah yang mencipta dengan sempurna segala sesuatu. Sungguh. Dia Maha teliti apa yang kamu kerjakan. Ay52 Dalam menafsirkan ayat tentang ANEEA a AA eI aA a , al-Syawka>ny mengemukakan bahwa menurut pendapat al-Khali>l. Sibawayh dan lain-lain maka kata sunAoa merupakan ma. dar yang di-man. u>b-kan, yang maknanya Allah pasti berbuat Ada juga yang berpendapat bahwa kata sunAoa merupakan ma. dar muAoakkad. Di samping pendapat yang menyatakan bahwa man. u>b-nya itu karena a A a eIA. ada kata yang tersembunyi yaitu AA eI a NEEA a A a eOA Lebih lanjut lihat Al-Qa>. i> AoAbd al-Jabba>r. Syar. al-U. u>l al-Khamsah . l-Qa>hirah: Maktabat Wahbah, 1965 M. ), h. Lihat pula Al-Qa>. i> AoAbd al-Jabba>r. Mutasya>bih, op. , h. Abu> al-Qa>sim Ja>rulla>h Ma. mu>d ibn AoUmar al-Zamakhsyari>, op. Juz VI, h. Departemen Agama RI. , op. , h. Kha>lid ibn AoUs\ma>n al-Sabt. Mukhta. ar, loc. Departemen Agama RI. , op. , h. Muhammad AoAliy al-Syawka>ni>. Fat. al-Qadi>r, dalam al-Maktabat al-Sya>milah Versi 2 [CD-ROM]. AL-QALAM Jurnal Kajian Islam & Pendidikan AL-QALAM Jurnal Kajian Islam & Pendidikan Volume 7. No. 1, 2015 ISSN . : 1858-4152 ISSN . : 2715-5684 Homepage : http://journal. al-qalam. Kha>lid ibn AoUs\ma>n al-Sabt mengutip pernyataan Sulayman ibn AoAbd alQawiy al-S}ar. ariy al-Bagda>diy dari kitabnya, al-Iksi>r fi> AoIlm al-Tafsi>r, bahwa kata . unAoa mengisyaratkan keagungan dan kebesaran Allah swt. dan kekuasaanya, berupa tiupan sangkakala sehingga pada waktu itu segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi ketakutan, hingga mereka datang menghadap Allah dengan rasa hina, gununggunung berterbangan bagaikan awan yang tertiup angin. Pandanglah perbuatan Allah, betapa agungnya. Demikian pula ma. a>dir al-muAoakkadah yang lain seperti, kata sibgatalla>h dalam QS. Al-Baqarah/ 2: 138, kata waAodalla>h dalam QS. Al-Ru>m/ 30: 6, kata fi. ratalla>h dalam QS. Al-Ru>m/ 30: 30. Kaidah Kedelapan A acI auEOeN aIeEaN aAOeN E eO aNsuA a A auAUaA eE aI eAa E acA a AI aI eI e A a AI AO a a aeI e auE eIA a A Eac aEA. aA Eace aIOA:A Eac aIOA. A O aNO eE eE a O eE eAA aAUA eE eI aA:aAeE acOEA aA e auE eAA:AA Artinya: Organ tunggal manusia tidak dianggap berbilang, bila ia digabungkan dengan kata Ia boleh berubah kepada tiga bentuk, yang pertama dalam bentuk jamak yang banyak terpakai dan dianggap paling fasih. Yang kedua, bentuk al-tas\niyah . Dan yang ketiga, al-ifra>d . Kha>lid ibn AoUs\ma>n al-Sabt menjelaskan bahwa organ tunggal yang dimaksud seperti, kepala (A)EA, hidung (A)EIAA, perut (A)EIA, hati (A)ECEA. Kata ini bila ia digabungkan maka lebih fasih bila dikatakan,A CEOEIAUA OIEIAUA IOAEIAUAOEIA. Boleh juga di-tas\niyah seperti. A IAEIAUA IEIAUA CEEIAUAEIA. Dan boleh juga ditunggalkan seperti. A IAEIAUA IEIAUA CEEIAUAEIA. Adapun organ yang memiliki kiri kanan seperti, tangan ( A)EOA, kaki (A)EEA, mata (A)EOIA, bila digabungkan harus disebut al-tas\niyahnya. Seperti. A EEIAUAO EIA. Contoh kaidah ini dapat dilihat dalam QS. Al-Ta. ri>m/66: 4, sebagai berikut: e AcEE ACe AA a ca Aau eI aO auEOA A CaEaOa aEIA Terjemahnya: Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, maka sungguh, hati kamu berdua telah condong . ntuk menerima kebaika. Kha>lid ibn AoUs\ma>n al-Sabt. Qawa> Aoid, op. , h. Lebih lanjut, ibid. Kha>lid ibn AoUs\ma>n al-Sabt. Mukhta. ar, h. Ibid. Departemen Agama RI. , op. , h. AL-QALAM Jurnal Kajian Islam & Pendidikan AL-QALAM Jurnal Kajian Islam & Pendidikan Volume 7. No. 1, 2015 ISSN . : 1858-4152 ISSN . : 2715-5684 Homepage : http://journal. al-qalam. Al-Ra>zi> mengemukakan bahwa yang dimaksud qulu>b . alam bentuk jama. pada ayat ini adalah al-tas\niyah. 59 Ibnu H. zm berkomentar mengenai ayat ini sebagai berikut: A OC e ICE EIace aOO eacOI N eEAUa ca AN Ie Aa eO aAO eEO aa A Artinya: Bab ini secara khusus hanya untuk anggota badan saja, para ahli nahwu telah memberitahukan bab ini. Tujuan dan Hikmah Mengetahui Kaidah-Kaidah Kebahasa-an dalam Menafsirkan Al-QurAoan Sebelum penulis memaparkan tentang tujuan dan hikmah mengetahui kaidahkaidah kebahasaan, terlebih dahulu penulis ingin memaparkan tujuan dan hikmah mengetahui Ushu>l al-Tafsi>r secara umum. Tujuan atau Fungsi Ushu>l al-Tafsi>r Dalam kitab Ushu>lu al-Tafsi>r wa Mana>hijuhu, dijelaskan bahwa tujuan atau fungsi kaidah-kaidah penafsiran adalah untuk meletakkan kaidah-kaidah, dan metode yang benar dalam memahami ilmu tafsir, begitupun sayarat-syarat yang telah ditentukan oleh mufasir serta adab-adab yang wajib dimiliki oleh setiap mufasir. Seperti halnya tujuan ilmu tajwid untuk memperbaiki bacaan dan sebutan lafaz-lafaz dalam Al-QurAoan, maka tujuan Ushu>lu al-Tafsi>r adalah untuk memperbaiki pemahaman dan pengertian kita tentang makna yang dikandung oleh Al-QurAoan. Hikmah mengetahui Ushu>l al-Tafsi>r Adapun hikmah dalam mengetahui Ushu>lu al-Tafsi>r, diantaranya sebagai Menambah dan memperluas . aqa>fah yang tinggi dan nilai-nilai pengetahuan, sehingga kita dapat terhindar dari kesalahan memahami makna Al-QurAoan dan untuk menjaga Al-QurAoan dari serangan-serangan musuh-musuh islam. Mengetahui jalan yang benar yang harus ditempuh dalam menafsirkan Al-QurAoan, sehingga kita dapat mengetahui penafsiran yang dapat diterima dan penafsiran yang tertolak dalam menafsirkan Al-QurAoan. Uraian lebih lanjut lihat Mu. ammad Fakhr al-Di>n ibn D. ya>Ao al-Di>n AoUmar al-Ra>zi>, op. Juz x, h. Lihat pula. Mu. ammad al-Ami>n ibn Al-Mukhta>r al-Syinqi>. wa>Ao al-Baya>n fi> Tafsi>r alQurAoa>n bi al-QurAoan (Cet. Beiru>t: Da>r al-Kutub al-AoIlmiyyah, 1424 H. /2003 M. ), h. Abu> Mu. ammad AoAli> ibn A. mad ibn Sa Aoi>d ibn H. zm al-Z. >hiri>, al-I. ka>m fi> U. u>l alA. ka>m. Jilid I (Cet. Beiru>t: Da>r al-Kutub al-AoIlmiyyah, 1424 H. /2004 M. Juz IV, h. Fahd al-Ru>mi>. Buhu>s fi Ushu>lu al-Tafsi>r wa Mana>hijuhu, (Cet. IV. KSA: Makt. al-Taubah. H, h. AL-QALAM Jurnal Kajian Islam & Pendidikan AL-QALAM Jurnal Kajian Islam & Pendidikan Volume 7. No. 1, 2015 ISSN . : 1858-4152 ISSN . : 2715-5684 Homepage : http://journal. al-qalam. Mengetahui kaidah-kaidah yang telah ditentukan dalam memahami makna AlQurAoan, hingga kita dapat memperbaiki akidah kita dengan kaidah-kaidah yang benar dalam memahami maksud yang sebenarnya dikandung oleh Al-QurAoan. Tujuan dan Hikmah Mengetahui Kaidah-Kaidah Kebahasaan dalam Ilmu Tafsir Tujuan Mengetahui kaidah-kaidah kebahasaan dalam ilmu tafsir adalah salah satu jalan agar kita terhindar dari pemahaman yang batil dan jauh melenceng dari konteks Al-QurAoan (Sya>. , sebab dalam memahami makna yang dikandung oleh Al-QurAoan kita harus mengetahui lafal asli dari teks Al-QuAoan itu sendiri sehingga kita dapat mengkolaborasi antara makna bahasanya yang asli dengan makna syaraAo yang telah ditentukan. Hikmah Mengetahui kaidah-kaidah kebahasaan dalam ilmu tafsir dapat memberikan kepada kita pemahaman untuk memahami dengan benar makna yang terkandung dalam Al-QurAoan, dan dengan menguasai kaidah-kaidah tersebut, akan dapat memberikan kita kemampuan untuk menggunakan nash Al-QurAoan sebagai istinbat hukum yang benar. Ibid. Abdlu al-Rahman bin Shaleh bin Sulaiman al-Rah. i>, al-Aqwa>lu al-Syazati fi Al-QurAoan, (Cet. England. 1465 H), h. Kha>lid ibn AoUs\ma>n al-Sabt. Qawa> Aoid, op. , h. AL-QALAM Jurnal Kajian Islam & Pendidikan AL-QALAM Jurnal Kajian Islam & Pendidikan Volume 7. No. 1, 2015 ISSN . : 1858-4152 ISSN . : 2715-5684 Homepage : http://journal. al-qalam. Dampak Negatif dalam Menafsirkan Al-QurAoan Tampa Menguasai Kaidah-Kaidah Kebahasaan Al-QurAoan adalah sebagai wahyu atau Kala>mullah yang senantiasa terjaga hingga akhir zaman, hal ini diabadikan Allah dalam Al-QurAoan QS al-Hijr/15 : 9: a aAIac Ie aI I ac eEI E a eE OaI ENa EAA A eOIA Terjemahnya : AuSesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benarbenar memeliharanya. Ay65 Namun, hal tersebut diatas bukan berarti Allah juga menjaga setiap pemahaman orang dalam memahami Al-QurAoan. Akan tetapi pemahaman terhadap makna AlQurAoan tergantung kepada setiap orang yang ingin memahami maknanya, jika kita ingin memahami makna Al-QurAoan tampa melalui jalan atau metode yang telah ditetapkan oleh para ulamaAo yang bergelut dibidang tafsir, maka yakinlah, pemahaman kita berujung kepada pemahaman yang bathil. Salah satu langkah awal dalam usaha untuk memahami makna Al-QurAoan dengan benar adalah kita mesti mengetahui, memahami dan menguasai bahasa AlQurAoan yaitu bahasa arab, serta segala cabang-cabang ilmu yang bersangkutan dengan bahasa arab tersebut. Sebelum penulis membahas tentang dampak-dampak negatif yang ditimbulkan tampa penguasaan kaidah-kaidah kebahasaan, terlebih dahulu, penulis ingin memperjelas tentang pemahaman kaidah-kaidah kebahasaan dalam ilmu tafsir. Dalam hal ini yang penulis maksud tentang kaidah-kaidah kebahasaan dalam ilmu tafsir adalah bukan hanya dari segi tekstual dalam bahasa arab, akan tetapi yang dimaksud dengan kaidah-kaidah kebahasaan disini adalah segala kaidah-kaidah kebahasaan yang mencakup segala aspek kebahasaan dalam kaidah-kaidah tata bahasa arab, baik dalam bentuk tekstual, maupun dalam bentuk pemaknaan teks itu sendiri. Diantara dampak-dampak negatif dalam memahami makna Al-QurAoan tampa mangetahui, memahami dan menguasai terlebih dahulu kaidah-kaidah kebahasaan dalam ilmu tafsir adalah sebagai berikut : Sebab utama melencengnya pemahaman terhadap makna Al-QurAoan kepada pemahaman yang bathil. Kesalahan dalam mempergunakan nash Al-QurAoan sebagai dalil istinbat hukum, disebabkan ketidak pahaman mereka tentang makna shahih yang dimaksud oleh nash Al-QurAoan tersebut Departemen Agama RI. , op. , h. Abdu al-Satta>r Fathullah SaAoi>d. MaAorakatu al-Wuju>d Bayna Al-QurAoan wa al-Talmu>d, (Cet. IV, ] ) h. AL-QALAM Jurnal Kajian Islam & Pendidikan AL-QALAM Jurnal Kajian Islam & Pendidikan Volume 7. No. 1, 2015 ISSN . : 1858-4152 ISSN . : 2715-5684 Homepage : http://journal. al-qalam. Memudahkan musuh-musuh islam memasukkan makna-makna bathil kedalam penafsiran Al-QurAoan. Seperti halnya kisah-kisah israiliyat dan maudhuAoat. Karena ketidak tahuan terhadap kaidah-kaidah kebahasaan, menimbulkan ketidak pahaman mereka pula terhadap kaidah-kaidah hukum syarAoI. sehingga penyalah gunaan hukum syarAoI yang tidak sesuai dengan Al-QurAoan dan As-Sunnah. Masih banyak lagi dampak-dampak negatif yang lain, yang dapat ditimbulkan karena ketidak tahuan seseorang tentang kaidah-kaidah bahasa arab sehingga ketika mereka menafsirkan Al-QurAoan, maka penafsiran mereka akan melenceng dari makna yang shahih menuju makna yang bathil. PENUTUP Berdasarkan uraian-uraian di atas, penulis dapat menyimpulkan beberapa hal di Bentuk dan Pemahaman Tentang al-Qawa>Aoidu al-Lugawiyah al-Qawa>Aoidu al-Lugawiyah adalah kaidah-kaidah kebahasaan. ahasa ara. yang dipergunakan oleh mufasir dalam memahami kandungan makna Al-QurAoan, namun kaidah yang dimaksud disini, bukan hanya sebatas kaidah tekstual . ahwu wa sharf. , akan tetapi seluruh kaidah-kaidah bahasa arab yang mencakup kaidah teks dan kaidah makna. Tujuan dan Hikmah Mengetahui Kaidah-Kaidah Kebahasaan Tujuan Mengetahui kaidah-kaidah kebahasaan dalam ilmu tafsir adalah salah satu jalan agar kita terhindar dari pemahaman yang batil dan jauh melenceng dari konteks Al-QurAoan (Sya>. , sebab dalam memahami makna yang dikandung oleh Al-QurAoan kita harus mengetahui lafal asli dari teks Al-QuAoan itu sendiri sehingga kita dapat mengkolaborasi antara makna bahasanya yang asli dengan makna syaraAo yang telah ditentukan. Hikmah Mengetahui kaidah-kaidah kebahasaan dalam ilmu tafsir dapat memberikan kepada kita pemahaman untuk memahami dengan benar makna yang terkandung dalam Al-QurAoan, dan dengan menguasai kaidah-kaidah tersebut, akan dapat memberikan kita kemampuan untuk menggunakan nash Al-QurAoan sebagai istinbat hukum yang benar. Dampak Negatif yang Ditimbulkan Tanpa Mengetahui Kaidah-Kaidah Kebahasaan dalam Menafsirkan Al-QurAoan. Tha>hir Mahmu>d Muhammad YaAoqub. Asba>bu al-AkhtaAo fi Tafsi>r, (Cet. KSA: Dar. Ibnu al-Jauzi>. 1426 H), h. Untuk lebih lengkapnya silahkan baca kitab Asba>bu al-AkhtaAo fi Tafsi>r, h. AL-QALAM Jurnal Kajian Islam & Pendidikan AL-QALAM Jurnal Kajian Islam & Pendidikan Volume 7. No. 1, 2015 ISSN . : 1858-4152 ISSN . : 2715-5684 Homepage : http://journal. al-qalam. Sebab utama melencengnya pemahaman terhadap makna Al-QurAoan kepada pemahaman yang bathil. Kesalahan dalam mempergunakan nash Al-QurAoan sebagai dalil istinbat hukum, disebabkan ketidak pahaman mereka tentang makna shahih yang dimaksud oleh nash Al-QurAoan tersebut. Memudahkan musuh-musuh islam memasukkan makna-makna bathil kedalam penafsiran Al-QurAoan. Seperti halnya kisah-kisah israiliyat dan maudhuAoat. Karena ketidak tahuan terhadap kaidah-kaidah kebahasaan, menimbulkan ketidak pahaman mereka pula terhadap kaidah-kaidah hukum syarAoI. sehingga penyalah gunaan hukum syarAoI yang tidak sesuai dengan AlQurAoan dan As-Sunnah. *** AL-QALAM Jurnal Kajian Islam & Pendidikan AL-QALAM Jurnal Kajian Islam & Pendidikan Volume 7. No. 1, 2015 ISSN . : 1858-4152 ISSN . : 2715-5684 Homepage : http://journal. al-qalam. DAFTAR PUSTAKA