SARGA : JOURNAL OF ARCHITECTURE AND URBANISM VOLUME 18 NO 2 JULY 2024 P-ISSN: 0853-4748 E-ISSN: 2961-7030 Journal Home Page: https://jurnal2. id/index. php/sarga TRANSFORMASI SPASIAL BANGUNAN EKS KAWEDANAN BOJA Spatial Transformation of Eks Kawedanan Boja Building | Received May 27th 2023 | Accepted March 13th 2024 | Available online July 30 2024 | | DOI 10. 56444/sarga. 791 | Page 32 - 44 | Galih Setyo Aji1. Astari Wulandari2. Ema Hidayati3*. Yusril Mirza galihsetyo@gmail. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kendal. Indonesia1 astari@untagsmg. Universitas 17 Agustus 1945 Semarang. Indonesia2 emahidayati@gmail. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kendal. Indonesia3* yusril@gmail. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kendal. Indonesia4 ABSTRAK Penelitian ini mengkaji transformasi bangunan eks Kawedanan Boja yang dilakukan untuk menyesuaikan dengan kebutuhan dan aktivitas pengguna ruang yang berkembang dari masa ke masa. Bangunan ini memiliki nilai sejarah dan arsitektur yang signifikan. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Temuan penelitian menunjukkan bahwa transformasi bangunan ini melibatkan pembongkaran beberapa bagian yang sebenarnya dapat dipertahankan, yang berdampak pada berkurangnya otentisitas bangunan sebagai warisan budaya. Meskipun demikian, penambahan fungsi dan aktivitas baru di kawasan tersebut merupakan upaya revitalisasi yang bertujuan untuk menghidupkan kembali dan memberikan manfaat sosial-ekonomi bagi masyarakat sekitar. Penelitian ini menekankan pentingnya pendekatan yang bijaksana dan terencana dalam melakukan transformasi dan adaptasi bangunan Melibatkan ahli konservasi dan komunitas lokal dalam proses perencanaan dan pelaksanaan revitalisasi dapat membantu memastikan keseimbangan antara pelestarian warisan budaya dan adaptasi fungsional, sehingga bangunan tersebut tetap relevan dan bernilai bagi generasi mendatang. Keberhasilan revitalisasi eks Kawedanan Boja dapat menjadi contoh yang baik dalam upaya melestarikan dan mengoptimalkan penggunaan bangunan bersejarah di Indonesia. Kata kunci: transformasi spasial, bangunan cagar budaya. Kawedanan Boja ABSTRCT This study examines the transformation of the former Kawedanan Boja building which is carried out to adjust to the needs and activities of space users that develop from time to time. This building has significant historical and architectural value. The research method used is qualitative research with data collection techniques through observation, interviews, and documentation studies. The findings of the study show that the transformation of this building involves the demolition of some parts that can actually be maintained, which has an impact on the reduced authenticity of the building as a cultural However, the addition of new functions and activities in the area is a revitalization effort that aims to revive and provide socio-economic benefits for the surrounding community. This study emphasizes the importance of a wise and planned approach in transforming and adapting historic Involving conservation experts and local communities in the planning and implementation of revitalization can help ensure a balance between cultural heritage preservation and functional adaptation, so that the building remains relevant and valuable for future generations. The success of the revitalization of the former Kawedanan Boja can be a good example in efforts to preserve and optimize the use of historical buildings in Indonesia. Keywords: spatial transformation, cultural heritage buildings. Kawedanan Boja Transformasi Spasial Bangunan Eks Kawedanan Boja PENDAHULUAN Adaptasi dan pelestarian bangunan cagar budaya merupakan dua konsep yang saling terkait dalam konteks konservasi warisan budaya. Transformasi bangunan eks Kawedanan Boja menjadi ruang publik adalah contoh nyata dari upaya adaptasi ini. Kawedanan Boja, yang terletak di Kabupaten Kendal. Jawa Tengah, merupakan salah satu bangunan bersejarah yang memiliki nilai historis dan arsitektural tinggi. Bangunan eks Kawedanan Boja merupakan salah satu dari 76 daftar objek diduga cagar budaya yang tercantum dalam inventarisasi no. tahun 2022 yang dilakukan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kendal. Bangunan eks Kawedanan Boja yang dikelola oleh Dinas Perhubungan Kabupaten Kendal dibangun pada era 1880 yang berfungsi sebagai rumah sekaligus kantor affdelling controleur atau pengawas wilayah dan terus digunakan hingga beberapa dekade setelah kemerdekaan Indonesia. Namun, seiring berjalannya waktu, bangunan ini mengalami perubahan fungsi, sebagai tempat pemberhentian bus dan kantor Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Terminal Boja. Kini, bangunan eks Kawedanan Boja sedang dalam proses adaptasi menjadi ruang publik yang diharapkan dapat memberikan manfaat sosial, budaya, dan ekonomi bagi masyarakat Ruang publik tersebut dikenal dengan sebutan ruang terbuka hijau (RTH) Boja yang diresmikan pada Februari 2024. Transformasi pada bangunan eks Kawedanan Boja mencakup berbagai aspek, mulai dari perubahan fasad, penataan ulang massa bangunan, hingga penyesuaian fungsi ruang untuk memenuhi kebutuhan kontemporer (Bottero et al. , 2. Adaptasi bangunan cagar budaya menjadi ruang publik tidak hanya bertujuan untuk melestarikan nilai-nilai sejarah dan arsitektur, tetapi juga untuk memastikan keberlanjutan dan relevansi bangunan dalam konteks Melalui adaptasi ini, bangunan warisan dapat terus digunakan dan dinikmati oleh generasi sekarang dan mendatang, sambil tetap mempertahankan karakter dan nilai historisnya (Mehr, 2. Proses adaptasi ini melibatkan penghancuran beberapa bangunan penunjang, yang berpotensi mengurangi otentisitas dan integritas historis dari keseluruhan kompleks. Otentisitas merupakan elemen kunci yang menjamin nilai sejarah dan budaya yang melekat pada struktur Li et al . mengungkapkan bahwa tantangan keaslian dalam penggunaan kembali adaptif meluas ke kebutuhan untuk mempertahankan karakter unik dan nilai warisan bangunan sambil memastikan keberlanjutan dan fungsinya dalam konteks saat ini. Hal ini menimbulkan kekhawatiran bahwa transformasi ini akan mengurangi nilai cagar budaya dari bangunan tersebut, mengingat keutuhan fisik dan sejarah adalah aspek penting dalam pelestarian heritage. Berdasarkan hal tersebut muncul pertanyaan Bagaimana bentuk adaptasi bangunan eks Kawedanan Boja? Apa saja perubahan spasial yang terjadi? Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji transformasi spasial bangunan eks Kawedanan Boja dalam proses adaptasinya menjadi ruang publik. Penelitian ini penting karena dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang bagaimana bangunan cagar budaya dapat diadaptasi untuk fungsi baru tanpa mengorbankan nilai-nilai historis dan arsitekturalnya. Selain itu, penelitian ini juga dapat memberikan kontribusi bagi upaya pelestarian dan adaptasi bangunan warisan lainnya di Indonesia. Diharapkan penelitian ini dapat memberikan wawasan yang bermanfaat bagi pengembangan strategi adaptasi bangunan cagar budaya lainnya, serta memperkaya literatur tentang pelestarian warisan budaya di Indonesia. SARGA - VOLUME 18 NO. 2 JULY 2024 Galih Setyo Aji. Astari Wulandari. Ema Hidayati. Yusril Mirza REVIEW LITERATUR Pelestarian Bangunan Bangunan Cagar Budaya Pelestarian bangunan cagar budaya memiliki urgensi atas berbagai alasan. Pertama, bangunan cagar budaya memiliki makna sejarah dan nilai budaya yang berkontribusi pada identitas suatu komunitas atau bangsa (Bullen &. Love, 2. Bangunan-bangunan ini memberikan tautan nyata ke masa lalu, menawarkan wawasan tentang sejarah, tradisi, dan gaya arsitektur era tertentu (Halim & Tambi, 2. Dengan melestarikan bangunan tersebut, hubungan kita dengan masa lalu dapat dipertahankan. Selain itu memastikan bahwa generasi mendatang memiliki kesempatan untuk menghargai dan belajar dari masa lalu (Gomaa, 2. Bangunan cagar budaya sering kali memiliki fitur arsitektur dan keahlian unik yang mungkin tidak dapat ditiru saat ini (Morknait et al. , 2. Dengan melestarikan struktur tersebut elemen desain dan teknik konstruksi luar biasa dapat dilindungi dan keterampilan dan kreativitas pengrajin masa lalu dapat diamati hingga saat ini (Yusoff & Brahim, 2. Selain itu, bangunan cagar budaya berkontribusi pada daya tarik estetika kota dan kota, meningkatkan karakter dan pesona mereka secara keseluruhan (Saginatari & Perkasa, 2. Pelestarian bangunan cagar budaya merupakan upaya menjaga, melestarikan warisan arsitektur, menumbuhkan identitas masyarakat, dan mempromosikan pembangunan ekonomi Bangunan-bangunan ini dapat menarik wisatawan, merangsang ekonomi lokal, dan menciptakan peluang untuk penggunaan kembali adaptif, seperti mengubah bangunan tua menjadi museum, galeri, atau hotel butik (Chong &. Balasingam, 2. Dengan berinvestasi dalam konservasi bangunan warisan, masyarakat dapat merevitalisasi area bersejarah, menghasilkan lapangan kerja, dan meningkatkan nilai properti (Sigmund, 2. Dengan menjaga aset berharga ini, kita dapat memastikan masa depan berkelanjutan yang menghormati dan merayakan sejarah dan warisan kita bersama. Adaptive Reuse dan Pelestarian Bangunan Cagar Budaya Pelestarian dan penggunaan kembali adaptif adalah konsep yang saling terkait erat dalam hal bangunan warisan. Penggunaan kembali adaptif melibatkan penggunaan struktur yang ada untuk fungsi-fungsi baru sambil mempertahankan signifikansi historis dan arsitekturnya (Tu. Pendekatan ini tidak hanya memastikan pelestarian bangunan warisan tetapi juga memungkinkan mereka untuk berkembang dan tetap relevan dalam konteks kontemporer (Bottero et al. , 2. Dengan mengadaptasi bangunan warisan untuk penggunaan baru, kita dapat mencegah kerusakan dan potensi pembongkarannya, sehingga menjaga nilai budaya dan kepentingan historisnya (Mehr, 2. Korelasi antara pelestarian dan penggunaan kembali adaptif terletak pada tujuan ganda menjaga integritas bangunan warisan sambil memastikan relevansi dan fungsionalitasnya yang berkelanjutan (Ragheb, 2. Melalui penggunaan kembali adaptif, bangunan warisan dapat direvitalisasi dan dihidupkan kembali, melayani kebutuhan masyarakat modern sambil mempertahankan karakter unik dan nilai warisannya (J, 2. Proses ini melibatkan keseimbangan yang cermat antara melestarikan fitur asli bangunan dan menyesuaikannya untuk memenuhi persyaratan saat ini (Shehata et al. , 2. Selain itu, penggunaan kembali adaptif memainkan peran penting dalam memperpanjang umur bangunan warisan dan meningkatkan keberlanjutannya (Li et al. , 2. Dengan menggunakan kembali struktur ini, kita dapat mengurangi limbah, mempromosikan praktik SARGA - VOLUME 18 NO. 2 JULY 2024 Transformasi Spasial Bangunan Eks Kawedanan Boja berkelanjutan, dan berkontribusi pada revitalisasi daerah perkotaan (D et al. , 2. Penggunaan kembali adaptif tidak hanya mempertahankan struktur fisik bangunan warisan tetapi juga menumbuhkan rasa kontinuitas dan koneksi ke masa lalu (Bullen & Love, 2. Selain itu, penggunaan kembali adaptif dapat berdampak positif pada kelayakan ekonomi bangunan warisan (Liu & Liu, 2. Dengan menemukan kegunaan baru untuk struktur ini, seperti mengubah pabrik lama menjadi loteng perumahan atau gudang bersejarah menjadi ruang komersial, penggunaan kembali adaptif dapat menghasilkan pendapatan, menarik investasi, dan merangsang ekonomi lokal (Msrlsoy & Gynye, 2. Aspek keberlanjutan ekonomi ini sangat penting untuk pelestarian bangunan cagar budaya jangka panjang (Fajarwati, 2. METODE Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang memanfaatkan observasi, wawancara, studi dokumentasi sebagai teknik pengambilan data. Pendekatan kualitatif menjadi cara pandang yang tepat untuk memahami fenomena transformasi spasial bangunan cagar budaya secara mendalam dan komprehensif. Melalui pendekatan ini peneliti dapat menggali informasi secara mendetail mengenai pengalaman, persepsi, dan pandangan dari berbagai pemangku kepentingan yang terlibat dalam proses adaptasi bangunan. Observasi dilakukan untuk mendapatkan data empiris mengenai kondisi fisik bangunan eks Kawedanan Boja dan perubahan yang terjadi. Peneliti melakukan pengamatan langsung terhadap bangunan, lingkungan sekitarnya, serta aktivitas yang berlangsung di lokasi tersebut. Observasi ini mencakup: Pengamatan terhadap perubahan fasad bangunan, pengamatan terhadap perubahan massa bangunan, pengamatan terhadap perubahan tata letak dan fungsi ruangan serta dokumentasi visual melalui fotografi dan sketsa. Wawancara dilakukan untuk memperoleh informasi mendalam dari berbagai pemangku kepentingan yang terlibat dalam proses adaptasi bangunan. Wawancara ini dilakukan secara semi-terstruktur untuk memungkinkan fleksibilitas dalam menggali informasi yang lebih mendalam dan relevan dengan fokus penelitian. Studi dokumentasi dilakukan untuk melengkapi data yang diperoleh dari observasi dan wawancara. Studi ini melibatkan pengumpulan dan analisis berbagai dokumen terkait, seperti dokumen perencanaan dan desain, laporan proyek dan studi kelayakan, arsip sejarah bangunan dan kawasan sekitarnya, artikel dan publikasi terkait adaptasi bangunan cagar budaya. HASIL DAN PEMBAHASAN Wilayah Kecamatan Boja terletak cukup strategis bagi lalu lintas barang dan manusia. Wilayahnya yang berdekatan dengan Kota Semarang dan jalur pendistribusian komoditas sayur dari Bandungan dan Sumowono. Kabupaten Semarang menjadikan wilayah Kecamatan Boja memilki aktivitas yang cukup ramai. Perkotaan Boja didukung dengan pusat ekonomi berupa Pasar Boja dan pusat pergerakan transportasi berupa Terminal Boja yang memudahkan sistem pergerakan di Kecamatan Boja dan sekitarnya. Kecamatan Boja juga merupakan ke dalam 5 pusat kegiatan lokal (PKL) Kabupaten Kendal yang mendukung kegiatan ekonomi bagi wilayah kecamatan Singorojo. Boja dan Limbangan atau disebut wilayah SIBOLI. Gedung eks Kawedanan Boja saat ini terletak di kompleks Terminal Boja yang secara administrasi terletak di Desa Boja. Kecamatan Boja. Kabupaten Kendal. Secara tata letak. SARGA - VOLUME 18 NO. 2 JULY 2024 Galih Setyo Aji. Astari Wulandari. Ema Hidayati. Yusril Mirza Kawedanan Boja berjarak 1,2 KM dari kantor Kecamatan Boja. sisi utara Kawedanan Boja merupakan pasar boja, sisi timur pertokoan dan permukiman, sisi selatan merupakan permukiman, dan sisi barat merupakan SMK Taman Siswa Boja. Gambar 1. Citra satelit tapak eks Kawedanan Boja Sumber: Modifikasi Google Maps oleh Penulis, 2024 Perubahan Fungsi Bangunan Eks Kawedanan Boja Bangunan ini memiliki sejarah yang panjang dan beragam fungsi sepanjang Awalnya, gedung ini dibangun pada akhir abad ke-18 tepatnya pada tahun 1880 sebagai Gedung Pengawas Perkebunan Wilayah Boja, dengan komoditas tanaman perkebunan dengan jenis jati, teh, kopi, dan karet. Pada masa itu. Kawedanan Boja berlokasi di gedung yang sekarang menjadi Kantor Kecamatan Boja. Pada era 1940 bangunan ini dialihfungsikan sebagai Kawedanan Boja dengan fungsi pemerintahan. Bangunan ini merupakan kantor wedana pada masa pemerintahan kolonial hingga awal kemerdekaan. Wedana merupakan pejabat pemerintahan lokal yang memiliki peran mengkoordinasi desadesa di wilayah kawedanan untuk dipertanggungjawabkan kepada Bupati. Kawedanan Boja merupakan satu dari lima wilayah kawedanan di Kabupaten Kendal. Gambar 2. Cakupan Wilayah Kawedanan Boja Sumber: Modifikasi Google Maps oleh Penulis, 2024 SARGA - VOLUME 18 NO. 2 JULY 2024 Transformasi Spasial Bangunan Eks Kawedanan Boja Bangunan ini juga menjadi saksi penting selama Peristiwa Bumi Hangus Boja 1947, sebuah pertempuran dalam Agresi Militer Belanda I. Boja kala itu merupakan salah satu pos pertahanan pejuang Indonesia yang cukup vital dan pernah berfungsi sebagai pengungsian (Ariwibowo, 2. Untuk mengengang peristiwa heorik tersebut pemerintah membangun sebuah monumen perjuangan pada tahun 1973 didepan bangunan tersebut. Perkembangan yang selanjutnya bangunan tersebut difungsikan sebagai terminal Boja yang melayani bus Gedung Kawedanan Boja saat ini difungsikan sebagai kantor UPTD Terminal Boja yang dikelola oleh Dinas Perhubungan Kabupaten Kendal dan Kantor Bidang persampahan yang dikelola oleh Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kendal. Bangunan sayap kiri dan kanan Kawedanan Boja digunakan untuk toko dan warung oleh masyarakat. Luas lahan kompleks Kawedanan Boja seluas - 16. 000 m2 dengan luas terbangun 3. 100 m2. Persentase area 5 % atau 99,5 % merupakan area ruang terbuka. Kompleks Kawedanan Boja saat ini difungsikan sebagai area parkir bus lokal dan AKDP yang melayani trayek dari dan ke Boja. Kini dalam perkembangannya area tersebut mengalami penambahan fungsi sebagai ruang publik yang dikenal dengan sebutan RTH Boja. Tabel 1 dibawah ini secara singkat menjelaskan perubahan fungsi bangunan eks Kawedanan Boja. Tabel 1. Perubahan Fungsi Bangunan Eks Kawedanan Boja Periode Fungsi Deskripsi Pra Kemerdekaan . 0-a. Kantor Pengawas Perkebunan Bangunan masa banyak, terdiri dari bangunan utama dan dua bangunan penunjang Aodi sayap kanan dan kiriAo. Memiliki gaya arsitektur Indische yang simetris pada konfigurasi massa bangunannya. Era Kemerdekaan . 0-a. Pemerintahan. Kawedanan Boja Bangunan utama dibangun sebagai pusat administrasi untuk mengawasi perkebunan di wilayah Boja. Perkebunan yang termasuk meliputi kebun Medini. Merbuh. Sringin. Biting, dan Getas Kecil Pasca Kemerdekaan Kantor Wedana Boja Setelah kemerdekaan, gedung digunakan sebagai kantor Wedana Boja, yang mengawasi wilayah Mijen. Limbangan. Boja, dan Singorojo. Saksi Sejarah Agresi Militer Belanda I . Bangunan Kawedanan Boja menjadi saksi sejarah peristiwa Agresi Militer I di Boja Kota Modern (Abad . Terminal bus boja Bangunan eks Kawedanan Boja merupakan aset Dinas Perhubungan Kabupaten Kendal dan difungsikan sebagai UPTD Terminal Boja dengan fungsi kantor terminal Boja, area kedatangan dan keberangkatan bus. Saat ini . Ruang publik Pengembangan ruang publik yang dikenal sebagai RTH Boja yang terdiri dari lapangan olah raga, jalur pejalan kaki, taman dan ruang Ae ruang terbuka. Eksistensi terminal bus masih dipertahankan oleh pemerintah. Sumber: Analisa penyusun dan berbagai sumber, 2024 SARGA - VOLUME 18 NO. 2 JULY 2024 Galih Setyo Aji. Astari Wulandari. Ema Hidayati. Yusril Mirza Perubahan Fisik Bangunan Eks Kawedanan Boja Massa Bangunan Sruktur Gedung eks Kawedanan Boja berkontruksi material tembok batu bata berplester semen dengan pondasi menggunakan batu kali. Gubahan struktur bangunan berbentuk balok dengan atap berbentuk limasan. Awal bangunan ini bermassa tiga gubahan balok dan tiga gubahan limasan. Pada perkembangan selanjutnya tahun 2011 terjadi penambahan struktur pada bagian depan sehingga terdapat empat gubahan balok dan empat gubahan limasan. Gambar 3. Perbandingan Gubahan Massa Bangunan Sumber: Analisa Penyusun, 2024 Gedung kawedanan boja Tinggi pondasi bangunan dari permukaan tanah setinggi 80 cm dengan ditopang kolom berdimensi tebal 40 cm. Tebal dinding gedung Kawedanan Boja setebal 20 cm dengan meterial batu bata berplester semen. Tinggi struktur bangunan setinggi empat meter dengan puncak atap setinggi 5,5 meter. Gambar 3 dibawah ini menunjukkan perbandingan gubahan massa bangunan pada pada awal 1900 Ae 2011 (A) dan era 2011 hingga saat ini (B). Organisasi Ruang Bangunan eks Kawedanan Boja sebelum mengalami perubahan terdiri dari bangunan utama dan bangunan penunjang. Bangunan utama terdiri dari teras, empat kamar, satu ruang tamu dan satu ruang utama. Bangunan utama memiliki denah simetris. Bangunan utama hingga saat ini tidak mengalami perubahan signifikan baik perubahan pada peletakan pintu maupun jendela (Gambar 4 - ata. Sedangkan bangunan pendukung SARGA - VOLUME 18 NO. 2 JULY 2024 Transformasi Spasial Bangunan Eks Kawedanan Boja terdiri dari tiga bagian, bangunan pendukung pada sisi kiri, kanan dan pendopo belakang. Bangunan pendukung sisi kiri dimanfaatkan sebagai kamar mandi, penjara dan garasi. Sedangkan bangunan penunjang sisi kanan terdiri dari tiga ruang penjara, ruang administrasi berukuran besar dan teras. Hasil observasi menunjukkan kondisi saat ini hanya bangunan utama dan pendopo belakang yang tidak mengalami perubahan bentuk hingga saat ini (Gambar 4 - bawa. Gambar 4. Perbandingan Organisasi Ruang Bangunan eks Kawedanan Sumber: Analisa Penyusun, 2024 SARGA - VOLUME 18 NO. 2 JULY 2024 Galih Setyo Aji. Astari Wulandari. Ema Hidayati. Yusril Mirza Terdapat perubahan fungsi ruang pada bangunan eks Kawedanan Boja saat ini. Ruang dengan fungsi penjara dialiihfungsikan sebagai kios dengan fungsi komersial pada bangunan penunjang sisi kanan dan kiri. Sedangkan penambahan fungsi lainnya berupa lapangan badminton pada area teras bangunan eks Kawedanan Boja. Elemen Arsitektural Gedung Kawedanan Boja berarsitektur indische yaitu percampuran antara arsitektur jawa dan belanda. Gedung kawedanan Boja didesain dengan mengadopsi gaya arsitektur lokal/Jawa. Percampuran langgam arsitektur tersebut terdapat pada penggunaan atap limasan yang merupakan unsur jawa dan penggunaan struktur batu bata bersemen yang merupakan unsur dari kebudayaan eropa. Penggunaan unsur lokal juga terlihat pada penerapan atap sirap berbahan kayu jati. Unsur lokal lain yaitu penggunaan pintu dan jendela yang juga menggunakan material kayu jati. Gambar 5. Identifikasi Fasade Gedung Kawedanan Boja tahun 1909 Sumber: KITLV Penggunaan atap berjenis sirap dengan material kayu jati disebabkan karena genteng tanah liat untuk atap bangunan baru diterapkan tahun 1920 di Indonesia. Pada masa saat ini atap gedung kawedanan Boja sudah diganti dengan material genteng tanah liat. Corak ventilasai pada fasade depan terdapat indikasi sudah dilakukan penggantian dari semula berbahan besi, saat ini pada kondisi eksisting corak ventilasi berbentuk pilar dengan material kayu. Gambar 6 Identifikasi Detail Pintu dan jendela Sumber : Dokumentasi, 2023 SARGA - VOLUME 18 NO. 2 JULY 2024 Transformasi Spasial Bangunan Eks Kawedanan Boja Fasade depan gedung Kawedanan Boja memiliki keunikan pada jumlah pintu depan yang berjumlah 2 pintu dengan 3 jendela yang berada di tengah, kiri dan kanan. Penempatan pitu pada fasade depan berbeda pada bangunan rumah tinggal di Jawa yang menggunakan tiga pintu yang berjajar di depan. Pintu yang digunakan untuk gedung Kawedanan Boja bermaterial kayu dengan tebal 8 cm. dmensi pintu pada gedung Kawedanan Boja cukup labar dan tinggi dengan ukuran memiliki tinggi 200x120 cm dan tinggi total dengan ventilasi setinggi 240 cm. Gambar 7 Identifikasi Fasade Gedung Kawedanan Boja tahun 1919 . Identifikasi Fasade Gedung Kawedanan Boja Tahun 1960an . Sumber : KITLV dalam Bintoro Hoepodia . Grup Facebook Boja Tempo doeloe . Berdasarkan dokumentasi yang terkumpul, gedung kawedanan boja mengalami tiga kali perubahan fasade bangunan. Dokumentasi tahun 1960an terlihat penggantian fasade depan dengan pengantian pagar teritis. Pengantian pilar dari yang semula besi menjadi pilar beton dan sudah digantinya atap sirap menjadi atap genteng tanah liat. Pada fasade arsitektur saat ini sudah mengalami banyak perubahan dengan ditambahkannya struktur bangunan depan yang mengubah muka bangunan Kawedanan Boja. Pada fasade saat ini muka bangunan dihias dengan jendela kaca sebanyak empat jendela dengan satu pintu yang berada di tengah. Berdasarkan identifikasi tersebut, bangunan depan pada Kawedanan Boja merupakan struktur baru yang ditambahkan setelah tahun 2011. Struktur tersebut berdimensi 10x18 meter. Penambahan struktur tersebut dibangun dengan sebagian dinding dari struktur kontruksi bangunan lama. Gambar 8. Perbedaan Fasade setelah Adanya Penambahan Struktur Sumber : Observasi lapangan, 2023 SARGA - VOLUME 18 NO. 2 JULY 2024 Galih Setyo Aji. Astari Wulandari. Ema Hidayati. Yusril Mirza Gambar 9. Perbandingan Fasade Gedung Kawedanan Boja Sumber : Observasi lapangan, 2023 Hasil analisa menunjukkan adanya perubahan bentuk atap pada bangunan eks Kawedanan Boja terutama pada bangunan utama, perubahan penggunaan cat, material penutup atap. Selain itu perubahan lain terletak pada perubahan bentuk pintu dan jendela. Meskipun telah mengalami beberapa perubahan, bangunan Eks Kawedanan Boja menampilkan desain arsitektur yang simetris dan fungsional, dengan elemen-elemen yang mencerminkan estetika klasik dan mungkin pengaruh budaya setempat. Struktur dan desainnya menunjukkan bahwa bangunan ini dirancang untuk fungsi administrasi dan sosial, dengan perhatian khusus pada detail dan proporsi yang seimbang. KESIMPULAN Transformasi bangunan eks Kawedanan Boja dilakukan dengan menyesuaikan kebutuhan dan aktivitas pengguna ruang yang terus berkembang dari masa ke masa. Meskipun demikian, proses transformasi tersebut melibatkan pembongkaran beberapa bagian bangunan yang sesungguhnya dapat dipertahankan. Pembongkaran ini berdampak pada berkurangnya otentisitas bangunan sebagai warisan budaya, yang seharusnya dilestarikan sebagai bagian dari sejarah dan identitas kawasan tersebut. Penambahan fungsi dan aktivitas baru pada kawasan eks Kawedanan Boja merupakan upaya revitalisasi yang bertujuan untuk menghidupkan kembali kawasan tersebut. Revitalisasi ini diharapkan dapat memberikan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat sekitar, serta menarik minat wisatawan untuk mengunjungi situs bersejarah ini. Namun, dalam upaya revitalisasi ini, penting untuk tetap memperhatikan aspek pelestarian dan mempertahankan elemen-elemen asli bangunan yang memiliki nilai historis dan budaya tinggi. Dengan demikian, diperlukan pendekatan yang lebih bijaksana dan terencana dalam melakukan transformasi dan adaptasi bangunan bersejarah. Melibatkan ahli konservasi dan komunitas lokal dalam proses perencanaan dan pelaksanaan revitalisasi dapat membantu memastikan bahwa upaya tersebut tidak hanya memenuhi SARGA - VOLUME 18 NO. 2 JULY 2024 Transformasi Spasial Bangunan Eks Kawedanan Boja kebutuhan kontemporer, tetapi juga menjaga warisan budaya dan sejarah yang ada. Keberhasilan revitalisasi bangunan eks Kawedanan Boja akan menjadi contoh bagaimana keseimbangan antara pelestarian warisan budaya dan adaptasi fungsional dapat dicapai, sehingga bangunan tersebut tetap relevan dan bernilai bagi generasi mendatang. DAFTAR PUSTAKA Bottero. DAoAlpaos. , & Oppio. Ranking of adaptive reuse strategies for abandoned industrial heritage in vulnerable contexts: a multiple criteria decision aiding approach. Sustainability, 11. , 785. https://doi. org/10. 3390/su11030785 Bullen. and Love. Adaptive reuse of heritage buildings. Structural Survey, 29. , 411-421. https://doi. org/10. 1108/02630801111182439 Chong. and Balasingam. Tourism sustainability: economic benefits and strategies for preservation and conservation of heritage sites in southeast Asia. Tourism Review, 74. , 268279. https://doi. org/10. 1108/tr-11-2017-0182 D. Ibnu. Adhisty. , & Gita. Adaptive reuse practice in the mosque of sang cipta rasa cirebon, west java . ctualizing religious touris. International Journal of Glocal Tourism, 2. , https://doi. org/10. 58982/injogt. Fajarwati. Adaptive reuse of pos bloc and m bloc: the intersection of third place, nostalgia. Humaniora, 14. , https://doi. org/10. 21512/humaniora. Gomaa. Beyond culture and civilization: community-based approaches to strengthening architecture and urban heritage conservation in southern Egypt. International Journal of Multidisciplinary Studies Architecture Cultural Heritage, 6. , https://doi. org/10. 21608/ijmsac. Halim. and Tambi. Awareness of community on the conservation of heritage buildings in George Town. Penang. Planning Malaysia, 19. https://doi. org/10. 21837/pm. Adaptive reuse of cultural heritage. Int Res J Adv Engg Mgt, 2. , 1188-1192. https://doi. org/10. 47392/irjaem. Li. Zhao. Huang. , & Law. Research frameworks, methodologies, and assessment methods concerning the adaptive reuse of architectural heritage: a review. Built Heritage, 5. https://doi. org/10. 1186/s43238-021-00025-x Liu. and Liu. Adaptive reuse of religious heritage and its impact on house prices. The Journal of Real Estate Finance and Economics, 64. , 71-92. https://doi. org/10. 1007/s11146020-09798-x Mehr. Analysis of 19th and 20th century conservation key theories in relation to contemporary Heritage, 2. , https://doi. org/10. 3390/heritage2010061 Morknait, . Kalibatas. , & Kalibatiene. A bibliometric data analysis of multi-criteria decision making methods in heritage buildings. Journal of Civil Engineering and Management, 25. , 76-99. https://doi. org/10. 3846/jcem. Msrlsoy. and Gynye. Defence heritage as a cultural heritage tourism resource: case of Cyprus. International Journal of Sustainable Development and Planning, 16. , 741-750. https://doi. org/10. 18280/ijsdp. Ragheb. Multi-criteria decision making of sustainable adaptive reuse of heritage buildings based on the a'wot analysis: a case study of cordahi complex. Alexandria. Egypt. International Journal Sustainable Development Planning, 16. , https://doi. org/10. 18280/ijsdp. Saginatari. and Perkasa. Paint and decay: a colloquial conversation on preserving the urban heritage. Arsnet, 1. https://doi. org/10. 7454/arsnet. SARGA - VOLUME 18 NO. 2 JULY 2024 Galih Setyo Aji. Astari Wulandari. Ema Hidayati. Yusril Mirza Shehata. Moustafa. Sherif. , & Botros. Towards the comprehensive and systematic assessment of the adaptive reuse of Islamic architectural heritage in Cairo. Journal of Cultural Heritage Management Sustainable Development, 5. , https://doi. org/10. 1108/jchmsd-02-2014-0003 Sigmund. Sustainability in architectural heritage: review of policies and practices. Organization Technology and Management in Construction an International Journal, 8. , 14111421. https://doi. org/10. 1515/otmcj-2016-0007 Tu. The attractiveness of adaptive heritage reuse: a theoretical framework. Sustainability, 12. , 2372. https://doi. org/10. 3390/su12062372 Yusoff. and Brahim. Implementation of building information modeling (BIM) for social heritage buildings in Kuala Lumpur. International Journal of Sustainable Construction Engineering Technology, 12. https://doi. org/10. 30880/ijscet. UCAPAN TERIMA KASIH