Muqaddimah Nomor 2 Volume 16 ISSN: 1858-3776 The article is published at https://jurnal. id/muqaddimah PENGARUH ASSERTIVE LEADERSHIP TERHADAP INOVASI GURU DALAM PENGEMBANGAN SEKOLAH BERWAWASAN LINGKUNGAN Study Expos Facto Muhammadiyah Bogor SUHARDIN Universitas Ibnu Chaldun 1 (Jakarta. Indonesi. Correspondent Email: suhardin@yahoo. Abstrak Sekolah sebagai satuan pendidikan dan bagian dari lingkungan buatan . rotection environmen. menjadi keniscayaan untuk menjadi model dalam perwujudan pengembangan lingkungan buatan menjadi miniature lingkungan alam . atural environmen. dengan memberikan pembiasaan pada segenap sivitas sekolah berinovasi dan berkreasi mewujudkan sekolah berwawasan lingkungan . nvironmentally conscious school. Perwujudan itu sangat dipengaruhi oleh kepemimpinan Kepala sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk melihat kepemimpinan kepala sekolah yang effective dalam memberikan ruang inovasi guru mengembangkan sekolah berwawasan Dengan melakuan metode expos facto, pada beberapa sekolah Muhammadiyah di Kecamatan Leuwiliang. Leuwisadeng, dan Pamijahan, peneliti menemukan bahwa kepemimpinan kepala sekolah yang assertive effective memberikan ruang inovasi bagi guru mengembangkan sekolah berwawasan lingkungan dibandingkan dengan sekolah yang dipimpin oleh kepala sekolah yang bergaya kepemimpinan domination. Dengan demikian peneliti menyimpulkan bahwa untuk mengembangkan sekolah yang berwawasan lingkungan dibutuhkan kepemimpian kepala sekolah yang assertive, karena pengembangan sekolah berwawasan lingkungan sangat membutuhkan inovasi segenap pihak di lingkungan sekolah. Kata Kunci: Leadership. Assertive. Domination. Kepala Sekolah. Inovasi. Guru. Sekolah. Wawasan Lingkungan Abstract Schools as educational units and part of the protection environment are a necessity to become models in the realization of the development of the built environment into a miniature natural environment by providing habits for all school communities to innovate and be creative in realizing environmentally conscious schools. This realization is greatly influenced by the leadership of the This study aims to see the effective leadership of the principal in providing space for teacher innovation in developing environmentally conscious schools. By conducting the expos facto method, in several Muhammadiyah schools in LEUWILIANG. LEUWISADENG, and PAMIJAHAN Districts, researchers found that assertive effective leadership of the principal provides space for innovation for teachers to develop environmentally conscious schools compared to schools led by principals with a domination leadership style. Thus, the researchers concluded that to develop environmentally conscious schools requires assertive leadership of the principal, because the development of environmentally conscious schools really requires innovation from all parties in the school Keywords: Leadership. Assertive. Domination. Principal. Innovation. Teacher. School. Environmental Insight Accepted Date: 6 Januari 2026 Publish Date: 26 Februari 2026 Pendahuluan Sekolah berwawasan lingkungan merupakan keniscayaan, wajib dilakukan oleh setiap satuan pendidikan di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini. Indonesia negara rawan bencana berada pada ring of fire, gugusan gunung berapi sehingga rawan gempa, badai, toufan, longsor, banjir, tsunami. Lahan yang subur, makmur dan kaya dengan anekaragam hayati . , penyumbang oksigen dan penyerap karbon dari emisi dunia. Indonesia bagian yang diharapkan dunia untuk berkontribusi nyata dalam menurunkan pemanasan global. Laporan Voluntary National Review (VNR) menunjukkan. Indonesia berhasil mencapai 62 persen target SDGs. Dari 244 indikator yang dievaluasi, sebanyak 152 indikator atau 62 persen telah tercapai. Capaian tersebut bukan sekadar angka, tetapi menjadi bukti komitmen politik, penguatan regulasi, dan keberhasilan integrasi agenda pembangunan berkelanjutan ke dalam perencanaan nasional. Perwujudan sekolah berwawasan lingkungan dalam bentuk menjadikan sekolah yang dikembangkan dari sebuah lingkungan buatan . rotection environmenta. menjadi sebuah ekosistem linkungan alam . atural environmen. dari kegotongroyongan segenap sivitas manajemen sekolah dibawah komando kepala sekolah. Kepala sekolah yang lebih mengedepankan kepentingan diri, karir, dan pelayanan terhadap atasan, akan gagal dalam memobilisasi misi suci ini secara implementative, tetapi kepala sekolah yang lebih mengedepankan kebersamaan, kebaikan sejati, keshalehan abadi, akan menghasilkan legacy, amal jariyah, yang senantiasa dipetik sepanjang masa, menjadi penolong dalam kehidupan pada dunia lain. yaumul barzak, yaumum akhirat. Pembuktian ini penulis ungkapkan dalam penelitian dan artikel sederahana ini secara empiric dan scientific. Beberapa penelitian sebelumnya pernah mengungkapkan bahwa (Fawaid & Mubah, 2. menemukan dalam penelitiannya di Islamic Boarding School Padepokan Kyai Mudrikah Kembang Kuning Pamekasan. Dimana, temuan beliau bahwa pemimpin asertif tidak hanya berpengaruh pada kinerja individu tetapi juga menciptakan budaya kerja yang positif di lingkungan sekolah. Pimpinan yang assertive dapat memberikan motivasi, berkolaborasi, bersinergi dan bersahabat dengan segenap personal yang terlibat dalam system. Pimpinan tidak menjadi beban peronal managerial, tetap menjadi sahabat, teman curhat, teman berbagi dari segenap sivitas managerial, sivitas sekolah. (Ratana & Kantjana, 2. mengatakan bahwa komunikasi asertif berfungsi sebagai variabel moderasi, sedangkan produktivitas karyawan adalah variabel dependen. Kepemimpinan assertive dari seorang pemimpin dapat berperan sebagai komunikator yang effective dalam memberikan bimbingan, arahan, modelling, penguatan terhadap produktifitas karyawan dalam menunaikan kewajiban dan mengukir prestasi kerja sebagai bentuk perform karyawan dalam mengimplementasikan creative, innovative, progressive, accelerative sebagai bentuk productivitas personal untuk berkontribusi terhadap Berbeda dengan (Kuddi & Hidayat, 2. kepemimpinan delegative berpengaruh positif terhadap inovasi pembelajaran dan kemampuan manajemen kelas Penelitian ini dilakukan Sekolah Asrama Taruna Papua, dengan sampling siswa Taruna sebanyak 36 responden, dengan tegas sang peneliti mengemukakan temuan bahwa kepemimpinan delegative, sebagai sebutan lain dari kepemimpinan assertive berpengaruh positif terhadap inovasi guru. Dimana guru lebih luas, leluasa, merdeka, independent dalam melakukan berbagai kreatifitas yang bersifat inovatif dalam mengembangkan berbagai hal untuk kemajuan dan kekuatan sekolah. Dari tiga temuan penelitian terdahulu secara umum memperlihatkan bahwa kepemimpinan assertive berpengaruh terhadap inovasi guru. Pertama, pemimpin assertive berhasil menciptakan budaya sekolah yang lebih berkemajuan, karena semua personalia hidup dalam kreatifitas dan mengembangkan inovatif di berbagai hal untuk kemajuan sekolah. Kedua, kepemimpinan assertive sukses dalam memoderasi berbagai kepentingan individual, personal dan kelompok kepentingan dalam institusi menjadi hal yang lebih bermanfaat untuk kemajuan sekolah. Ketiga, kepemimpinan delegative, dalam bahasa lain dari kepemimpinan assertive berhasil menumbuhkan budaya inovasi di lingkungan sekolah. Beberapa penelitian yang penulis kemukakan sejalan dengan hasil penelitian yang penulis temukan bahwa kepemimpinan assertive dapat menumbuh kembangkan budaya inovasi di lingkungan sekolah. Dalam hal ini inovasi terkait dalam pengembangan sekolah berwawasan lingkungan, hal ini menjadi distinction dan novelty dalam penelitian ini, dibandingkan dengan penelitian sebelumnya. Penelitian ini mencoba untuk menganalisis secara factual dua kepemimpinan sekolah yang tengah mengembangkan sekolah berwawasan lingkungan, dalam penelitian ini ditemukan bahwa kepemimpinan assertive, para guru dan segenap sivitas sekolah lebih memiliki inovasi dalam mengembangkan sekolah berwawasan lingkungan, dibandingkan dengan kepemimpinan yang domination kepala sekolah terhadap berbagai program yang dikembangkan sekolah. Lebih memahami secara utuh dan menyeluruh temuan ini, dapat lebih lanjut dibaca dalam kajian literatur, metode penelitian, hasil penelitian, diskusi tentang hasil penelitian dan kesimpulan penelitian. Tinjauan Literatur Isu lingkungan . nvironmental issu. perbincangan segenap komponen masyarakat, semenjak dari elite global hingga elite community, semenjak kaum cendekia, intelegensia, intelektual, ulama, agamawan sampai dengan masyarakat awwam, semenjak borjuis, tuan tanah, pengusaha, professional, petani, nelayan, pedagang, buruh pabrik dan buruh tani, semua terlibat dan merasakan pengaruh langsung dari permasalahan lingkungan dalam kehidupan masing-masing. Pemanasan global . limate chang. , (Wibowo, 2. bagian dari isu lingkungan, dampaknya dirasakan oleh segenap pihak, mulai dari banjir bandang, longsor, toufan, badai, anomaly climate . uaca tak beratura. , cuaca ekstrim, rabb di pinggir pantai, gelombang besar bagi para pelaut dan tanah fuso bagi petani, gangguan transportasi udara dan laut bagi para tourism, baik local maupun internasional, semua merasakan dampak langsung dari perubahan iklim tersebut. Data Global Forest What (GFW) (Lili Somantri, 2. baru-baru ini melansir dalam websitenya, bahwa dari tahun 2002-2024. Indonesia kehilangan 11Mha . ebelas juta hekta. hutan primer basah, hal ini secara langsung menyumbang 34% . iga puluh empat perse. dari total kehilangan tutupan pohon dalam periode yang sama. Area total hutan primer basah di Indonesia berkurang 11% . ebelas perse. dalam periode waktu ini. Dampak dari semua ini berkontribusi terhadap pemanasan global . lobal warmin. yang sekarang, panas bumi sudah mengalami kenaikan sebesar 1,750C sebagai rekor suhu terpanas sepanjang masa yang berdampak terhadap pola cuaca yang tidak beraturan . nomaly climat. dirasakan oleh petani yang gagal mengatur jadwal tanam, jenis tanam, pola tanam dan panen. Nelayan gagal memprediksi lokus tangkapan ikan, jenis tangkapan, jadwal melaut, jadwal service alat tangkapan dan pemerintah yang lambat pemberitahuan dampak cuaca ekstrim kepada masyarakat, sehingga terjadilah korban bencana yang tidak (Suhardin, 2. Semua pihak memiliki keinginan untuk berkontribusi, berpartisipasi, bergotong royong, melakukan rehabilitasi, reboisasi, dan konservasi hutan serta lahan social yang ada di sekitar tempat tinggal. (Suhardin, 2. Lahan dalam ukuran luas menjadi kewajiban pemerintah, perusahan besar dan organisasi social kemasyarakat yang akan melakukan pemulihannya, mulai dari perencanaan, perijinan, pengelolaan, penyelenggaraan dan monitoring serta evaluasi secara berkelanjutan. Hal ini dijadikan sebagai program berkelanjutan . ustainable progra. dalam upaya untuk pemulihan tutupan pohon dalam kerapatan tajuk . sehingga menjadi hutan primer basah . et primary fores. , yang memiliki fungsi. forestation, hydrologist, climatology, economy, culture dan tourism. (Soerjani, 2. Kerja mikro perlu dilakukan oleh segenap pihak, perorangan, keluarga, dan organisasi, komunitas, institusi pendidikan. sekolah, madrasah, pesantren, dan Sekolah memiliki program terhadap penciptaan wawasan lingkungan yang sering dinamakan adiwiyata. Program ini dicanangkan oleh pemerintah semenjak dari Kementerian Pendidikan. Dinas Pendidikan dan Satuan Pendidikan. Tidak semua sekolah yang terlibat di dalam program adiwiyata, karena ia memiliki standard, pelaporan, dan system penilaian. (Meyzilia, 2. Tetapi pembinaan, penguatan dan penanaman nilai ekologis wajib dilakukan oleh segenap pendidik kepada peserta didik. Satu diantara nilai lingkungan yang harus diberikan secara berkelanjutan berupa wawasan lingkungan, pandangan dan pemahaman segenap peserta didik dan keluarga besar sekolah dalam mewujudkan sekolah yang ramah dan peduli dengan lingkungan. Sekolah mengembangkan lingkungan yang hijau . reen schoo. , tidak merusak lingkungan alami . atural environmen. yang menjadi penyangga terhadap keberadaan lingkungan buatan . rotection environmen. berupa bangunan sekolah, bukaan lahan untuk lapangan olah raga, parkir, jalan, dan kantin. Perwujudan hal ini dibutuhkan keinginan yang luhur, kemauan yang keras, goodwill, komitmen yang kuat, kerja keras, kerja cerdas, kerja tuntas, kreativitas, inovasi dari para pendidik, tenaga kependidikan untuk mengembangkan berbagai hal yang tersedia pada lingkungan dijadikan sekolah sebagai sekolah ramah lingkungan alam . atural environmen. , berpandangan ekologis, mengembangkan ekosistem alam, transformasi pengetahuan segenap sivitas sekolah untuk menjadi manusia yang berwawasan lingkungan, bukan manusia yang senang membangun lingkungan buatan . rotection environmen. tetapi merusak lingkungan alami . atural environmen. (Amin, 2. Manusia yang berwawasan lingkungan mengembangkan lingkungan buatan . rotection environmen. yang menyamai fungsionalisasi lingkungan alami . atural Gedung yang dikembangkan ramah terhadap lingkungan, landscape architecture lingkungan yang proporsional antara tutupan gedung dengan ruang terbuka hijau, aliran air . ater flo. yang tertata sedemikian rupa, sebagai wujud perwajahan sekolah ramah lingkungan, sekolah sebagai miniature natural environment, sekolah yang bernuansa ekologis . co-schoolin. dan memberikan kenyaman terhadap segenap pihak. Inovasi guru menjadi kunci dari keberhasilan program ini. Inovasi, upaya sadar untuk menghadirkan pembaruan yang bernilai guna dalam meningkatkan efektivitas dan kualitas suatu proses atau produk. Inovasi guru dalam menciptakan sekolah berwawasan lingkungan, pengerahan segala daya upaya dan cipta karsa guru dalam mengembangkan dan mengimplementasikan sekolah yang peduli, ramah, dan berwawasan lingkungan. Mengembangkan infrastruktur, arsitektur dan konstruksi sekolah yang ramah terhadap bahan bangunan, architectural landscaping, daur ulang sampah . aste recyclin. , instalasi air . ater installatio. , manajemen penataan air bersih dan air kotor yang berstandar ekologis dan zero environmental impact . ol dampak lingkunga. , mengembangkan keseimbangan . dan menciptakan keberlangsungan . Inovasi guru dipengaruhi oleh kepemimpinan kepala sekolah. Kepala sekolah yang memiliki goodwill tinggi, keinginan luhur, kepedulian yang kuat terhadap lingkungan akan mempengaruhi para guru dan segenap tenaga kependidikan. Tetapi sebaliknya, kepala sekolah yang kurang peduli, tidak memiliki wawasan terhadap lingkungan, membawa guru juga miskin kepedulian terhadap lingkungan. Kepemimpinan kepala sekolah memiliki peran strategis dan peran kunci dalam menciptakan kepedulian para guru dan tenaga kependidikan terhadap lingkungan. Dalam berbagai kajian disebutkan bahwa kepemimpinan mempengaruhi bawahan, banyak riset yang menemukan bahwa kepemimpinan mempengaruhi kinerja, performa, kreatifitas, dan inovasi bawahan. Bawahan banyak ketergantungan dengan kepemimpinan Atasan yang bergaya kepemimpinan mendominasi, membuat bawahan memiliki ketergantungan dengan atasan, bawahan tidak mempunyai inisiative, kreatifitas apalagi Pemimpin sangat mempengaruhi bawahan dalam melakukan aktifitas, bekerja dan performanya dalam melakukan tugas dari sang pimpinan. Dalam berbagai kajian ada tiga kepemimpinan. laissez faire, democratic, (Azzaini, 2. Kepemimpinan laissez faire cendrung lemah dan bersandar kepada bawahannya, type kepemimpinan ini lebih banyak memberikan kewenangan kepada bawahan, dan lebih banyak bergantung kepada produktifitas bawahan, sang pemimpin tidak memiliki peta jalan . kepemimpinan, tetapi dalam kondisi yang demikian, banyak bawahan yang merasa nyaman mendapatkan pemimpin dalam type ini. (Mulyasa, 2. Tetapi banyak juga bawahan yang merasa tidak nyaman dalam kepemimpinan ini, sehingga tidak dapat bekerja maksimal, karena tidak mendapatkan arahan, bimbingan dan petunjuk dari pimpinan. (Era Kurnia Ningsih. Happy Fitria, 2. Kepemimpinan democratic, yang menekankan partisipasi aktif anggota dalam proses pengambilan keputusan, menjunjung musyawarah, keterbukaan, dan tanggung jawab bersama. (Andriani, n. ) Pemimpin berperan sebagai fasilitator dan koordinator, bukan pengendali mutlak. Kepemimpinan demokratis kepala sekolah memberi ruang bagi guru untuk menyampaikan gagasan, berkolaborasi, dan berinovasi dalam pengembangan berbagai program. pembelajaran, kegiatan ekstra-kurikuler, program sekolah ramah anak dan disabilitas, program sekolah berwawasan lingkungan, adiwiyata. Satu diantara bagian dari kepemimpinan demokratis ini dikenal dengan assertive, gaya kepemimpinan yang menekankan ketegasan yang rasional, komunikasi yang jelas, serta pengambilan keputusan yang berani namun tetap menghargai orang lain. (Era Kurnia Ningsih. Happy Fitria, 2. Pemimpin assertive mampu menyampaikan visi, harapan, dan aturan secara tegas tanpa bersikap otoriter, agresif dan instruksional serta transaksional. Kepemimpinan assertive kepala sekolah ditandai oleh kemampuan memimpin dengan jelas, konsisten, dan adil, sekaligus menciptakan iklim kerja yang aman bagi guru untuk berinovasi, berinisiasi, berimprovisasi, berkolaborasi, bersinergi dan berpartisipasi aktif dalam mengembangkan program sekolah ramah lingkungan. Metode Penelitian Desain penelitian ini expos facto. mengambil data inovasi subjek penelitian dari dua lokus yang berbeda kepemimpinan. assertive dan domination (Suhardin, 2. yang dapat digambarkan sebagai berikut: Kepemimpinan Assertive Inovasi Guru Domination Ou GAMBAR I Desain Penelitian Expos Facto Prosedure dan Langkah yang dilakukan. pertama melakukan konseptualisasi dan konstruksi (Djaali & Muljono, 2. dari kepemimpinan assertive dan domination sehingga menghasilkan instrument pengukuran type kepemimpinan tersebut yang dijadikan subjeknya adalah kepala sekolah, terpilih sebagai sampling sekolah Muhammadiyah di lingkungan Bogor Barat. Leuwiliang. Leuwisadeng, dan Pamijahan. Kedua, melakukan konseptualisasi dan konstruksi inovasi guru dalam mengembangkan sekolah berwawasan lingkungan sebagai bawahan langsung dari kepemimpinan kepala sekolah, sehingga menghasilkan instrument pengukuran inovasi guru dalam mengembangkan wawasan lingkungan. (Budiaji, 2. Ketiga, pengambilan data (Matthew B. Miles, 1. kepemimpinan dan inovasi guru dalam mengembangkan sekolah berwawasan lingkungan terdiri dari dua data. data kepemimpinan yang menjadi subjeknya adalah kepala sekolah dan . inovasi bawahan subjeknya adalah guru yang menjadi bawahan langsung dari kepemimpinan kepala sekolah. Keempat, memilah responden guru dalam dua kategori, guru dibawah kepemimpinan kepala sekolah yang assertive dan guru di bawah kepemimpinan kepala sekolah yang domination. Kelima, melakukan analisis data dengan menggunakan statistic. descriptive analysis dan inferential analysis. (Dowdy et al. , 2. Keenam, pengambilan data yang dilakukan atas ijin dari Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Bogor Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah dan Pendidikan In-Formal dan Nonformal. Ketujuh, peneliti langsung menemui kepala sekolah dan memberikan instrument pengukuran type kepemimpinan sehingga peneliti memiliki pemetaan sekolah berdasarkan dua kategori kepemimpinan assertive dan domination. Kedelapan, dari dua kategori ini peneliti mengambil data inovasi guru dalam mengembangkan sekolah berwawasan lingkungan, tentu berdasarkan atas ijin kepala sekolah dan kerelaan guru dalam mengisi instrument yang peneliti kembangkan dan telah selesai dikalibrasi. uji validitas dan uji reliabilitas. (Jelpa Periantalo. Hasil dan Pembahasan Dari hasil perhitungan data pada kelompok inovasi guru pada kepemimpinan kepala sekolah yang assertive, diperoleh nilai nilai inovasi guru sebagai berikut: DAFTAR TABEL 1 DISTRIBUSI FREKUENSI INOVASI GURU PADA KEPALA SEKOLAH ASSERTIVE Kelas Batas Batas Frekuensi Frekuensi Frekuensi Interval Bawah Atas Absolute Relatif Kumulatif 12,00% 12,00% 48,00% 60,00% 28,00% 88,00 % 04,00% 92,00% 08,00% Dari table di atas dapat dilihat bahwa guru inovatif dibawah kepemimpinan kepala sekolah yang memiliki type kepemimpinan assertive, pada garis rata-rata sebanyak 19,00% (Sembilan belas perse. di bawah rata-rata sebanyak 3% . iga perse. dan di atas rata-rata sebanyak 3% . iga perse. Rata-rata nilai inovasi guru 69,44 . nam puluh Sembilan koma empat puluh empa. dengan standar deviasi 6,3 . nam koma tig. Dari hasil perhitungan data pada kelompok inovasi guru pada kepemimpinan kepala sekolah yang domination, diperoleh nilai nilai inovasi guru sebagai berikut: DAFTAR TABEL 2 DISTRIBUSI FREKUENSI INOVASI GURU PADA KEPALA SEKOLAH DOMINATION Kelas Interval Batas Bawah Batas Frekuensi Frekuensi Atas Absolute Relatif 12,00% 48,00% 28,00% 04,00% 08,00% Frekuensi Kumulatif 12,00% 60,00% 88,00 % 92,00% Dari table di atas dapat dilihat bahwa guru inovatif dibawah kepemimpinan kepala sekolah yang memiliki type kepemimpinan domination, pada garis rata-rata sebanyak 15,00% . ima belas perse. di bawah rata-rata sebanyak 6% . nam perse. dan di atas rata-rata sebanyak 3% . iga perse. Rata-rata nilai inovasi guru 56,58 . ima puluh enam koma lima puluh delapa. dengan standar deviasi 4,4 . mpat koma empa. Selanjutnya peneliti melakukan pengolahan data dengan inferential analysis menggunakan bantuan SPSS (Statistical Package for the Social Science. dengan melakukan uji beda, uji komparasional. Sebelum melakukan uji beda terlebih dahulu dilakukan pengujian asumsi homogenitas varians terhadap variabel Inovasi Guru menggunakan LeveneAos Test. Hasil pengujian menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,103 (> 0,. , yang mengindikasikan bahwa varians data pada kedua kelompok adalah Analisis perbedaan rata-rata antar kelompok dapat dilanjutkan menggunakan uji Independent Samples t-Test dengan asumsi varians yang sama . qual variances Hasil uji-t menunjukkan nilai t = 8,313 dengan derajat kebebasan . f = . diperoleh t-tabel = 2,69 pada taraf signifikansi 0,01. Pada nilai signifikansi SPSS sebesar 0,000 . < 0,. Temuan ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang sangat signifikan secara statistik antara dua kelompok guru yang mengembangkan sekolah berwawasan lingkungan di bawah kepemimpinan kepala sekolah yang assertive dan yang Uji statistic menyimpulkan hipotesis nol (HCA) ditolak dan hipotesis alternatif (HCA) diterima, artinya terdapat perbedaan yang sangat signifikan inovasi guru dalam mengembangkan sekolah yang berwawasan lingkungan yang pada dua kepemimpinan kepala sekolah. assertive dan domination. Selisih rata-rata . ean differenc. sebesar 12,88 menunjukkan bahwa terdapat perbedaan tingkat Inovasi Guru dalam mengembangkan sekolah yang berwawasan lingkungan yang sangat significant antara kedua kelompok yang dibandingkan. Interval kepercayaan 95% berada pada rentang 9,765 hingga 15,995, dan seluruh rentang tersebut berada di atas nilai nol. Hal ini mengindikasikan bahwa perbedaan rata-rata yang ditemukan bersifat nyata, konsisten, dan dapat digeneralisasikan pada populasi Secara substantif, hasil ini mengandung makna bahwa perlakuan, karakteristik, atau kondisi yang membedakan kedua kelompok memberikan pengaruh yang kuat terhadap peningkatan Inovasi Guru dalam mengembangkan sekolah berwawasan Nilai selisih rata-rata yang relatif besar serta signifikansi statistik yang sangat kuat mengindikasikan bahwa perbedaan tersebut tidak hanya signifikan secara statistik, tetapi juga bermakna secara praktis dalam konteks pendidikan, dimana kepemimpinan kepala sekolah yang assertive sangat significant mempengaruhi inovasi guru dalam mengembangkan sekolah berwawasan lingkungan. Pendekatan kepemimpinan yang assertive sangat effective memberikan rangsangan, agregasi, dan akselerative dalam menciptakan inovasi guru mengembangkan sekolah berwawasan lingkungan. Secara empiric terbukti bahwa pertama, kepemimpinan kepala sekolah efektif mempengaruhi inovasi guru dalam mengembangkan sekolah berwawasan lingkungan. Wawasan lingkungan merupakan sebuah konsepsi, ide, gagasan, pemikiran yang perlu diimplementasikan secara kreatif, inisiatif, kolaboratif, progresif, dan akseleratif dalam bentuk program, pembiasaan, dan kegiatan rutin, individual siswa, guru, dan tendik, juga kegiatan yang harus dilakukan secara serempak, massif, berjamaah, bersinergi. Inovasi dari pendidik, tendik dan peserta didik menjadi kunci utama dalam perwujudan wawasan lingkungan secara nyata dan berkelanjutan pada ranah sekolah. Wawasan lingkungan, tidak sama dengan adiwiyata, adiwiyata memiliki standar baku yang dikembangkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kementrian Lingkungan Hidup. Adiwiyata merupakan bentuk komitmen pemerintah terhadap pengelolaan dan perlindungan lingkungan melalui pendidikan. (Diyan Nurvika Kusuma Wardani, 2. Program ini dikembangkan oleh pemerintah dengan mengintegrasikan stakeholder, menekankan kepada pengembangan karakter siswa peduli lingkungan, dan pengembangan kepedulian lingkungan berangkat dari komitmen segenap pihak. Kepala Sekolah. Komite Sekolah. Dinas Pendidikan. Yayasan. Guru. Tendik dan segenap siswa. Komitmen ini diwujudkan dalam bentuk. pertama, kebijakan dalam bentuk regulasi yang dilahirkan oleh satuan pendidikan yang diketahui oleh dinas, yayasan dan komite. Kedua, pelaksanaan kurikukurm sekolah yang berbasis pada green, sekolah hijau, kurikulum dan pengembangan sekolah terintegrasi dan dipastikan memenuhi standar green. Ketiga, kegiatan sekolah yang mencerminkan partisipasi segenap pihak dalam perwujudan sekolah ramah lingkungan. Keempat, pengelolaan sarana dan prasarana pendukung kegiatan pembelajaran sekolah yang dipastikan ramah lingkunga. Empat hal ini menjadi standar dalam penilaian sebuah sekolah adiwiyata, sehingga dari empat hal ini dikembangkan dalam beberapa butir oleh assessor untuk menilai peringkat sekolah Belum semua sekolah yang mampu mengembangkan program ini secara formal, tetapi wawasan lingkungan kepada setiap satuan pendidikan fardhu ain, wajib, dan sebuah keniscayaan, karakter kepedulian lingkungan harus ditanamkan kepada anak semenjak dini, dari rumah, sekolah dan masyarakat. Agar permasalahan lingkungan bukan hanya dipandang sebagai permasalahan setelah terjadi dampaknya pada masyarakat, tetapi melakukan pemahaman, penghayatan dan pengamalan semenjak dini dan dimana Sehingga semua pihak berani melakukan pencegahan terhadap individu yang berusaha untuk melakukan perilaku destruktif terhadap lingkungan, dan berusaha untuk mengajak semua pihak melakukan konstribusi terbaik demi kemaslahatan, perbaikan, kesempurnaan dan penataan lingkungan di masing-masing tempat. Perwujudan wawasan lingkungan pada masing-masing sekolah, secara implementatif mengalami varian yang tinggi. Masing-masing satuan pendidikan mencoba untuk mengkreasi, berimprovisasi melalui inovasi masing-masing individual guru, tendik dan pimpinan sekolah. Budaya inovasi ini perlu sekali dikembangkan oleh masing-masing satuan pendidikan agar menjadi panorama indah dalam dunia pendidikan. Sebagai bentuk perwujudan tanggungjawab pendidik meninggalkan budaya, tradisi, culture, ramah lingkungan, kepedulian lingkungan dan tanggungjawab lingkungan kepada peserta didik, yang pada beberapa masa selanjutnya menjadi pengambil kebijakan di dalam kehidupan di muka bumi ini dan mengembangkan peradaban. Kedua, kepala sekolah yang terlalu dominan dalam kegiatan segenap sivitas sekolah, menghambat kreatifitas, inisiatif, kolaboratif, progresif dan akseleratif guru dalam mengembangkan inovasi sekolah berwawasan lingkungan. Guru merasa takut dalam berinisatif dan berimprovisasi untuk mengembangkan ide-ide kreatif dan inovatif dalam pengembangan sekolah berwawasan lingkungan. Apalagi kepala sekolah yang rada sensitive, suka tersinggung dengan ide baru yang dikembangkan guru, hal ini jelas menghambat kehidupan inovasi guru dalam mengembangkan inovasi sekolah berwawasan lingkungan. Pemimpin lahir berdasarkan kepemimpinan yang ada di dalam dirinya. Kepemimpinan merupakan kekuatan diri . ersonal powe. yang tidak semua orang Kepemimpinan dapat terlahir menjadi sebuah kharismatik pada dirinya, dimana seorang pemimpin kharismatik menurut (Gebriel Lumban Tobing, 2. kemampuan seseorang mempengaruhi dan memotivasi melalui kharisma dalam dirinya. Kharisma yang dimaksud adalah kewibawaan personal atau personal influence . engaruh seseoran. terhadap orang lain, sebagai perwujudan akhlak, kebaikan diri, ketauladan diri, cerminan kebaikan yang selama ini diberikan kepada orang lain. Kepemimpinan dominan berbeda dengan kepemimpinan kharismatik. Kepemimpinan kharismatik terlahir dari proses alamiah. Kepemimpinan dominan terlahir dari legalitas yang dimiliki plus dengan kaharakter diri lebih mengedepankan egoistik, kemuliaan diri, prestasi individual, minim kebersamaan. Karakter yang senantiasa ngebos, memerintah, instruksional, dan mendominasi segala hal atas dirinya. Hal ini jelas sangat membonsai kreativitas, improvisisasi, aktualisasi diri, dan inovasi personal anak buah dalam kepemimpinan seorang pemimpin yang dominan. Tetapi kepemimpinan yang kharismatik plus dengan kebesaran jiwa, sangat mendukung kondosivitas atmorfier kreatifitas dan inovasi bawahan untuk kemajuan dan kekuatan institusi yang ia pimpin. Pada kepemimpinan dominan, nuansa kerja akan mengalami pragmentasi social. Dimana anak buah yang dekat dengan sang pemimpin lebih diperhatikan dan dimanjakan dengan anekaragam kebijakan. Sebaliknya anak buah yang kritis dan konstruktif, akan dianggap sebagai kelompok yang tidak loyal terhadap sang pemimpin. Dua ketogorisasi pengelompokkan personal dalam system kepemimpinan akan berkembang biak dalam berbagai fregmentasi lainnya, sehingga masing-masing personal menciptakan pengelompokan kecil . mall communit. yang senantiasa melihat peluang dan tantangan. Dalam suasana ini, misi suci menciptakan sekolah yang ramah lingkungan, peduli lingkungan dan berwawasan lingkungan mengalami kebuntuan, akibat sang pemimpin yang tuna kebaikan, tetapi haus kekuasaan. Ketiga, kepemimpinan yang assertive, pendekatan yang demokratis, partisipatif, dan kolaboratif, dalam pengambilan keputusan yang penuh tantangan dan resiko tinggi . igh ris. , tetapi dibalik itu, suasana collaborative, synergy, dan meritocratic terpancar dalam suasana kebersamaan, jamaah, kerukunan, terbangun atmosfier karya bersama, tantangan bersama, masalah bersama dan prestasi bersama. Semua individualitas, personal domination, egoism, lenyap dalam kebersamaan. Menurut (Susanto & Sofyan, 2. assertive sebuah gaya kepemipinan yang menyuburkan komitmen segenap sivitas personal yang terlibat dalam institusi yang dipimpin. Habitat ini sangat kondusif untuk mengembangkan inisiatif, kreatifitas dan inovasi guru, tendik dan siswa dalam melakukan, menginisiasi dan mengembangkan berbagai hal untuk kemajuan dan kekuatan institusi serta kesejahteraan segenap personal yang tergabung dalam institusi. Potensi ini sangat dibutuhkan dalam pengembangan implementasi sekolah berwawasan lingkungan dari abstraksi menjadi aksi, dari idealitas menjadi kontekstualitas, dari perseptual menjadi aktual, factual dan fungsional dalam budaya Sekolah berwawasan lingkungan menjadi visi bersama menciptakan kepedulian pada semua personalitas yang terlibat dalam sivitas sekolah untuk menjadikan sekolah sebagai sebuah ekosistem alam yang benar-benar bersih, nyaman, teduh, rindang, dan memberikan keamanan serta kesejahteraan terhadap segenap makhluk hidup ciptaan Tuhan. Komitmen dalam perwujudannya dilakukan dalam personal mission, menanamkan dan memastikan bahwa segenap personal manajemen sekolah memiliki kebiasaan dalam kepedulian terhadap lingkungan. membuang dan mendaur ulang sampah, membiasakan menanam, lebih mengedepankan suasana alamiah, memastikan bahwa di lingkungan sekolah tidak ada zat adiktif, nikotin apalagi psikotropika, mengurangi pendingin udara, mengurangi kebiasaan penggunaan energi fosil dan pelan tapi pasti beralih kepada energi terbarukan. Keempat, penelitian yang dikembangkan dengan desain expos facto menganalisis data inovasi guru dalam mengembangkan sekolah berwawasan lingkungan pada kelompok kepemimpinan kepala sekolah yang bersifat domination dan pada kelompok kepemimpinan kepala sekolah yang bersifat assertive, terbukti secara nyata bahwa dua kelompok tersebut memiliki perbedaan inovasi yang sangat signifikan, dimana rata-rata inovasi guru pada kelompok data dibawah kepemimpinan kepala sekolah yang assertive lebih tinggi dibandingkan inovasi guru dibawah kepemimpinan guru yang domination. Hal ini membuktikan bahwa kepemimpinan assertive berpengaruh terhadap peningkatan, penyuburan dan penumbuhan serta pengembangan inovasi guru dalam menciptakan sekolah berwawasan lingkungan dalam anekaragam program, aksi, kegiatan baik individual, kelompok dan berjamaah. Kepemimpinan yang assertive memberikan kekuatan kepada personal pendidik dan tenaga kependidikan untuk saling berlomba dalam berkreativitas, fastabiqul khairat, menciptakan hal-hal yang baik dan baru . ew action and new perfor. dalam berbagai hal untuk kemajuan sekolah, termasuk di dalamnya pengembangan sekolah berwawasan Sekolah berwawasan lingkungan sebuah idealitas yang universal membutuhkan kekuatan kreatifitas . reativity powe. dari masing-masing personalitas yang terlibat dalam sekolah menciptakan, mengembangkan, dan mengimplementasikan berbagai hal untuk terciptakan suasana yang mendukung sekolah berwawasan Kreatifitas dan inovasi personal bukan mengedepankan diri, individual, dan Luaran personal dalam bingkai kebersamaan, semua merasakan getaran temuan dalam labeling institutions, tidak egois dan individualitas. Innovation, invention dan diffusion dalam kerangka institution. Kreatifitas dan inovasi guru dalam perwujudan sekolah berwawasan lingkungan, kepemimpinan assertive menjadikan bahwa pimpinan sekolah berusaha mewujudkan ekosistem yang kondusif untuk memberikan konstribusi positif terhadap keseimbangan alam, sekolah yang menjadi miniature lingkungan alamiah . atural environmen. , terbangun dari pembiasaan, komitmen dan kepedulian personal manajemen pada system kepemimpinan sekolah. Dalam penelitian ini kepemimpinan assertive terbukti memiliki effect terhadap inovasi bawahan dalam mengembangkan sekolah berwawasan Kelima. Muhammadiyah sebagai institusi yang bergerak dalam dunia Pendidikan. Kesehatan. Social. Ekonomi, voluntary dan philanthropy, terbukti banyak menghasilkan type kepemimpinan assertive yang memberikan kemajuan pada institusi ini. Langgam meritocratic dalam institusi Muhammadiyah memberikan konstribusi terhadap kesuburan iklim assertive. Terbukti dari penelitian sampling yang peneliti ambil di lapangan, dimana institusi Muhammadiyah menyuburkan kreatifitas, inovasi, improvisasi, progresi, dan akselerasi dalam manajemen lembaga. Menumbuhkan sekolah ramah lingkungan bagian penting yang dilakukan oleh lembaga ini, program ini terstruktur dalam organisasi semenjak dari satuan pendidikan, pimpinan persyarikatan semenjak dari Ranting. Cabang. Daerah. Wilayah sampai Pimpinan Pusat, sebagai pemegang kebijakan tertinggi dalam institusi. Kesimpulan Dari kajian literatur, hasil penelitian dan diskusi terhadap analisis penelitian ini, peneliti menyimpulkan bahwa sekolah sebagai satuan pendidikan memiliki keniscayaan untuk mengembangkan sekolah berwawasan lingkungan, perwujudan ini sangat dipengaruhi oleh kepemimpinan kepala sekolah dalam memberikan ruang inovasi guru dan segenap sivitas sekolah berfastabiqul khairat dalam kebersamaan mengimplementasikan secara nyata sekolah berwawasan lingkungan. Kepemimpinan assertive effective memberikan ruang partisipasi, kolaborasi, dan inovasi bagi pendidik dan tenaga kependidikan dalam mengembangkan sekolah berwawasan lingkungan, maka untuk mewujudkan sekolah berwawasan lingkungan dibutuhkan keinginan luhur semenjak dari kepala sekolah sampai dengan segenap sivitas sekolah, dengan menghidupkan kepemimpinan assertive pada kepala sekolah. Daftar Pustaka