Cakrawala Jurnal Pendidikan Volume 19 No 2 . http://cakrawala. id/index. php/Cakrawala email: cakrawala. upstegal@gmail. Peran Guru Sekolah Dasar Dalam Meningkatkan Literasi Membaca Dan Menulis Peserta Didik Di Gugus Sultan Agung Koordinator Dikbud Wilayah Kecamatan Tarub Kabupaten Tegal Khalimatun Alfiyah, 2 Yoga Prihatin, 3 Hanung Sudibyo 1,2,3 History _______________________________________________ Received Januari Revised Accepted Februari Publish Maret DOI: Universitas Pancasakti Tegal. Indonesia _____________________________________ Email: khalimatunalfiyah78@gmail. DOI: . Abstract One of the initial steps to improve the quality of student education is an effort to improve school literacy through reading and writing literacy. Literacy is an effort to foster a culture of student character with the aim that students have an interest in reading and writing, thereby fostering awareness of the importance of lifelong learning. Efforts to improve writing and reading literacy can also improve student understanding and build better and more disciplined habits. Efforts to improve literacy are part of the school's efforts to improve students' interest and reading skills. This will also greatly help students' concentration during the teaching and learning process. The purpose of this study was to determine . To determine the role of teachers in the Sultan Agung Cluster, the coordinator of the Education and Culture Office in the Tarub District. Tegal Regency. To determine the supporting and inhibiting factors in improving reading and writing literacy skills in the Sultan Agung Cluster, the Coordinator of the Education and Culture Office in the Tarub District. Tegal Regency. To determine the role of teachers in improving reading and writing literacy skills of students in the Sultan Agung Cluster, the Coordinator of the Education and Culture Office in the Tarub District. Tegal Regency. This study was conducted using qualitative research. Data collection for this study was carried out using: questionnaires, interviews, observations, documentation. While in this study, the three main components consist of the data analysis process: Data reduction. Data presentation (Data displa. Verification. The results of this study indicate that the role of teachers in the Sultan Agung Coordinator of Education and Culture in the Tarub District Area of Tegal Regency is carried out with several policies including: Every student reads a book for 10-15 minutes every day before or after class starts. Each class has a reading corner with a collection of books that vary according to the interests and needs of students. Supporting factors in improving reading and writing literacy skills are teachers showing the importance of literacy by being good reading and writing models. Teachers also act as facilitators, motivators, evaluators. Support from parents is also a key factor. Inhibiting factors in improving reading and writing literacy skills include students being more interested in digital entertainment such as games or social media than books or writing activities. Keywords: Reading and Writing Literacy. Reading Interest. Role of Elementary School Teachers The Role of Elementary School Teachers in Improving Students' Reading and Writing Literacy in the Sultan Agung Cluster. Coordinator of Education and Culture for the Tarub Subdistrict. Kabupaten Tegal Abstrak Salah satu langkah awal untuk meningkatkan kualitas pendidikan peserta didik adalah upaya peningkatan literasi sekolah melalui literasi membaca dan menulis. Literasi adalah upaya untuk menumbuhkan budaya pekerti peserta didik dengan tujuan agar peserta didik memiliki minat dalam membaca dan menulis, sehingga menumbuhkan kesadaran pentingnya belajar sepanjang masa. Upaya Peningkatan literasi menulis dan membaca juga dapat meningkatkan pemahaman peserta didik dan membangun kebiasaan yang lebih baik dan disiplin. Upaya Peningkatan literasi adalah bagian dari upaya sekolah untuk meningkatkan minat dan keterampilan membaca peserta didik. Hal Ini juga akan Licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. 0 International License. ISSN: 2549-9300 (Onlin. | ISSN: 1858-4497 (Prin. | 76 | Khalimatun Alfiyah. Yoga Prihatin. Hanung Sudibyo Martin Dahl/ Cakrawala 19 . sangat membantu konsentrasi belajar peserta didik selama proses belajar mengajar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui . Mengetahui peran guru pada Gugus Sultan Agung koordinator Dikbud Wilayah Kecamatan Tarub Kabupaten Tegal. Mengetahui faktor pendukung dan penghambat dalam meningkatan kemampuan literasi membaca dan menulis pada Gugus Sultan Agung Koordinator Dikbud Wilayah Kecamatan Tarub Kabupaten Tegal. Mengetahui peran guru dalam meningkatan kemampuan literasi membaca dan menulis peserta didik pada Gugus Sultan Agung koordinator Dikbud Wilayah Kecamatan Tarub Kabupaten Tegal. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan jenis penelitian kualitatif. Pengumpulan data penelitian ini dilakukan dengan: kuesioner. Wawancara. Observasi. Dokumentasi. Sedangkan Dalam penelitian ini, tiga komponen utama terdiri dari proses analisis data: Reduksi data. Penyajian data (Display dat. Verifikasi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa peran guru di Gugus Sultan Agung Koordinator dikbud Wilayah Kecamatan Tarub Kabupaten Tegal dilakukan dengan beberapa kebijakan diantaranya adalah Setiap siswa membaca buku selama 10Ae15 menit setiap hari sebelum atau setelah pelajaran dimulai. Setiap kelas memiliki pojok baca dengan koleksi buku yang bervariasi sesuai minat dan kebutuhan Faktor pendukung dalam meningkatan kemampuan literasi membaca dan menulis adalah guru menunjukkan pentingnya literasi dengan menjadi model membaca dan menulis yang baik. Guru juga berperan sebagai fasilitator, motivator, evaluator. Dukungan dari orang tua juga menjadi faktor kunci. Faktor penghambat dalam dalam meningkatan kemampuan literasi membaca dan menulis diantaranya siswa lebih tertarik pada hiburan digital seperti game atau media sosial dibandingkan buku atau aktivitas menulis. Kata Kunci: Literasi Membaca dan Menulis. Minat baca. Peran Guru Sekolah Dasar PENDAHULUAN Peran guru Sekolah Dasar sangat besar dalam pendidikan diantaranya mendidik, membimbing dan mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik. Peran guru dalam kurikulum merdeka yang meliputi Mengidentifikasi Potensi Siswa. Merancang Pembelajaran Terpersonalisasi. Mendorong Pembelajaran Aktif. Mendorong Kreativitas dan Inovasi. Memfasilitasi Pembentukan Karakter dan Etika. Menghubungkan Pembelajaran dengan Konteks Lokal. Mengembangkan kemandirian siswa. Dalam perannya seorang guru harus mampu mendorong peningkatan kemampuan literasi peserta didik dalam berbagai bidang, dalam konteks peran guru pada kurikulum merdeka guru memiliki peran yang sangat penting dalam proses pembelajaran Pertama, guru adalah perancang pengajaran karena mereka dapat mengatur kegiatan belajar mengajar dengan cara yang efektif dan Oleh karena itu, guru harus memahami tahap perkembangan literasi peserta didik dan menerapkan program peningkatan literasi menulis dan membaca secara seimbang. Kedua, guru sebagai pengelola pengajaran memiliki kemampuan untuk mengelola seluruh proses kegiatan belajar mengajar dengan membuat lingkungan belajar yang menarik bagi peserta didik sehingga mereka dapat belajar dengan tenang dan nyaman. Ketiga, guru dalam perannya sebagai evaluator pembelajaran siswa memiliki kemampuan untuk melakukan evaluasi yang beragam sehingga peserta didik tidak merasa bosan dengan proses pembelajaran yang berkelanjutan. Seorang guru memiliki peran yang sangat besar, bukan hanya selama pembelajaran di kelas tetapi juga di luar Menurut Undang- undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional menjelaskan bahwa guru merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pelatihan, pengarahan dan memberikan bimbingan serta pengabdian terhadap masyarakat. Peran guru sangat besar dalam menciptakan serangkaian tindakan yang berkaitan dengan perkembangan peserta didik serta salah satu komponen yang dominan untuk mencetak lulusan yang bermutu (Rahmawati et al. , 2. Strategi untuk mengembangkan kemampuan membaca oleh anak yang baik dipikirkan, diterapkan dan diketahui oleh pendidik (Andayani, 2. Guru memegang peranan penting dalam proses pembelajaran yang berkaitan dengan meningkatkan Peran Guru Sekolah Dasar Dalam Meningkatkan Literasi Membaca Dan Menuli | 77 | minat dan juga memberikan motivasi bagi murid dalam melaksanakan suatu pendidikan (Syahid et , 2. Dalam memberikan suatu informasi kepada anak didiknya yang dilakukan oleh guru menggunakan suatu metode yang efektif agar mampu memberikan ketertarikan untuk melakukan proses belajar (Maryani et al. , 2. Guru yang mempunyai kewajiban di sekolah juga berperan sebagai orang tua kedua serta mampu menarik keikutsertaan peserta didik sehingga dapat termotivasi dalam pembelajaran. Proses pembelajaran memang tidak bisa terlepas dari peranan seorang guru sebagai penyedia fasilitas yang membawa dampak positif bagi para peserta didik. Peserta didik dituntut dan dibina untuk memperoleh sebuah bantuan dari para pendidik atau bahkan orang tua maupun orang dewasa lainnya. Dalam perkembangan peserta didik diharapkan dapat memanfaatkan kapasitas dan potensi yang dibawanya dalam mencapai pertumbuhan dan perkembangannya seperti apa yang dinginkan kelak (Prof. Dr. Sitti Hartinah, dkk 2. Sekolah merupakan suatu lembaga pendidikan formal dalam pencapaian tujuan pendidikan karena sekolah merupakan tempat dimana proses belajar mengajar berlangsung dan sekolah merupakan sarana dalam membangun masyarakat kearah lebih baik dan menjadi manusia yang Hal tersebut dirumuskan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Bab II Pasal 3 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menyatakan bahwa: Tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab (UU Sisdiknas, 2003: . Mutu pendidikan sering diindikasikan dengan kondisi yang baik, memenuhi syarat dan segala komponen yang terdapat dalam pendidikan, komponen-komponen tersebut adalah masukan, proses, keluaran, tenaga pendidikan, sarana dan prasarana serta biaya. Namun dari beberapa komponen tersebut yang lebih berpotensi adalah tenaga pendidikan yang bermutu yaitu yang mampu menghadapi tantangan, dengan cepat dan tanggung jawab. Tenaga kependidikan mempunyai peran yang sangat strategis dalam memberikan pengetahuan, keterampilan dan karakter peserta didik. Tenaga pendidikan yang profesional tidak akan terwujud begitu saja tanpa adanya upaya untuk meningkatkannya. Pendidikan masa sekarang ini membutuhkan lebih banyak pengetahuan dan keterampilan guna beradaptasi dengan pendidikan abad-21 yang canggih karena arus informasi yang cepat. Oleh sebab itu, manusia semakin dituntut untuk meningkatkan kualitas diri. Dwijayani . menyatakan bahwa pendidikan berperan sebagai proses peningkatan kualitas kehidupan setiap Kualitas diri dapat meningkat salah satu caranya dengan menggali banyak informasi. Menggali informasi-informasi dapat diperoleh dengan mudah ketika seseorang gemar membaca. Dengan adanya kegemaran membaca dalam diri akan timbul ide-ide baru guna menghadapi era saat ini. Dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah, membaca mempunyai peranan penting. Membaca tidak hanya digunakan dalam mata pembelajaran Bahasa Indonesia saja melainkan untuk semua mata pelajaran. Sebagian besar pemerolehan ilmu dilakukan oleh peserta didik melalui aktivitas membaca. Keberhasilan peserta didik mengikuti pembelajaran dan menambah pengetahuannya sangat dipengaruhi oleh kemampuan membaca mereka. Kemampuan membaca yang menitikberatkan pada pemahaman bacaan dapat menambah dan mengembangkan pengetahuan peserta didik dari sumber bacaan yang dibacanya. Kemampuan ini menjadi bekal bagi peserta didik dalam memahami berbagai bacaan yang terdapat dalam berbagai mata pelajaran Licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. 0 International License. ISSN: 2549-9300 (Onlin. | ISSN: 1858-4497 (Prin. | 78 | Khalimatun Alfiyah. Yoga Prihatin. Hanung Sudibyo Martin Dahl/ Cakrawala 19 . (Depdiknas, 2009:. Kompetensi membaca yang baik diperlukan dan menjadi prasyarat untuk dapat membaca dan memahami berbagai literatur mata pelajaran yang lain. Oleh karena itu, pengajaran membaca memiliki posisi strategis yang sangat penting dalam proses pembelajaran (Sulistiowati Endang, 2. Kemampuan berliterasi merupakan salah satu bekal yang dibutuhkan peserta didk untuk menghadapi tantangan abad 21. Kemampuan berliterasi terkait erat dengan keterampilan membaca dan menulis, numerasi, digital, sains, dan bidang lainnya. Faktanya, banyak peserta didik di negara Indonesia yang tidak memiliki minat baca yang tinggi. Literasi merupakan kata yang sangat akrab dengan pendengaran karena gencarnya bahasan mengenai tuntutan dengan kenyataan kemampuannya. Kemampuan literasi berkaitan dengan kemampuan dalam memperluas kompetensi berbahasa Indonesia dalam berbagai tujuan, khususnya yang berkaitan dengan membaca dan menulis (Nirmala, 2. Literasi dalam proses bahasa dan gambar dalam membaca, menulis, mendengarkan, berpikir kritis, dan mengolah. Literasi dalam proses belajar mengajar adalah suatu kemampuan siswa dalam menggunakan bahasa dan gambar dalam membaca, menulis, mendengarkan, berpikir kritis, dan mengolah informasi yang berkaitan dengan situasi sosial (Abustang. Perawati Bte Arima. Amaliyah, & Alam. Menurut Dispusip, . Pengertian Literasi Sekolah adalah kemampuan mengakses, memahami, dan menggunakan sesuatu secara cerdas melalui berbagai aktivitas, antara lain membaca, melihat, menyimak, menulis, dan / atau berbicara. Kemampuan literasi yang baik akan membuat peserta didik memiliki kemampuan kritis dalam menganalisis persoalan yang dihadapi. Kemampuan literasi peserta didik berkaitan erat dengan kemampuan membaca dan menulis, yang berlanjut pada kemampuan memahami informasi secara kritis, dan tanggap dalam pemecahan Hal itu sejalan dengan menumbuh kembangkan budi pekerti peserta didik melalui pembudayaan ekosistem literasi sekolah agar menjadi pembelajar sepanjang hayat (Eryuni, 2. Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah maupun pihak sekolah dalam pengembangan kemampuan literasi siswa sekolah dasar, namun beberapa siswa masih belum bisa melakukan kegiatan literasi tersebut, siswa cenderung lebih memilih bermain daripada melakukan kegiatan membaca maupun menulis (Fajar, 2. Literasi membaca adalah kemampuan untuk memahami dan menggunakan bentuk- bentuk bahasa tertulis yang dibutuhkan oleh masyarakat dan / atau dihargai oleh individu. Masyarakat secara umum dan luas sangat bisa menggunakan kegiatan membaca dalam berbagai kegiata termasuk untuk kesenangan. Literasi menulis adalah kemampuan untuk menyampaikan ide dan informasi secara efektif melalui tulisan. Literasi menulis penting karena memungkinkan individu untuk berkomunikasi secara efektif dalam berbagai situasi, baik dalam konteks akademis, profesional, maupun pribadi. Keterampilan ini juga berperan dalam kemampuan berpikir kritis dan analitis, serta dalam menyampaikan ide dan informasi dengan cara yang jelas dan persuasif. Literasi baca-tulis adalah pengetahuan dan kecakapan untuk membaca, menulis, mencari, menelusuri, mengolah dan memahami informasi untuk menganalisis, menanggapi, dan menggunakan teks tertulis untuk mencapai tujuan, mengembangkan pemahaman dan potensi, serta untuk berpartisipasi di lingkungan sosial Hasil penelitian Program for International Student Assessment (PISA) 2022 baru-baru ini diumumkan pada 5 Desember 2023, dan Indonesia berada di peringkat 68 dengan skor. , sains . , dan membaca . Penelitian ini mengevaluasi prestasi siswa dalam disiplin Peran Guru Sekolah Dasar Dalam Meningkatkan Literasi Membaca Dan Menuli | 79 | ilmu matematika, membaca, dan sains. Partisipasi PISA 2022 melibatkan sekitar 690 ribu siswa dari 81 negara. Faktor lain yang menyebabkan kurangnya minat baca siswa yaitu adanya penerapan pembelajaran yang berpangkal pada guru yang berdampak pada kurang aktifnya siswa serta mengakibatkan siswa merasa jenuh mengikuti pembelajaran apabila guru menerapkan metode konfensional seperti proses pembelajaran dengan metode ceramah. Minat baca pada dasarnya adalah penerimaan akan sesuatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu diluar diri, semakin kuat hubungan tersebut semakin kuat minatnya (Afnida & Suparno, 2. Rendahnya minat baca dikalangan anak dapat disebabkan oleh kondisi keluarga yang tidak mendukung, terutama dari orang tua yang kurang memberikan contoh kegemaran membaca kepada anak (Palupi et al. , 2. Selain itu kurangnya perhatian dan pengawasan orang tua mereka terhadap kegiatan anaknya selama kegiatan belajar disekolah, hal ini disebabkan kurangnya konsep pendidikan yang diterapkan oleh orang tua (Listriani et al. , 2. Lingkungan sangat berpengaruh terhadap minat baca anak, karena pengaruh ajakan teman main yang begitu Anak akan lebih memilih bermain dengan teman-temannya dibandingkan dengan membaca buku (Rahayu et al. , 2. Minimnya ketersediaan bahan bacaan di sekolah juga dapat membuat anak kurang berminat pada kegemaran membaca karena tidak ada atau kurangnya sumber bacaan yang tersedia di di Koleksi buku yang masih belum memadai untuk anak-anak yang biasanya di dalamnya penuh dengan gambar-gambar yang menarik dengan sedikit tulisan sehingga anak-anak senang melihat buku dan berusaha untuk membacanya, walau untuk pemula biasanya anak akan kesusahan dalam membaca tetapi guru belum optimal dalam membantunya dengan membacakan buku yang berisi gambar dengan sedikit tulisan yang dapat menarik minat baca anak. Lainnya strategi guru dalam proses pembelajaran belum dapat mendorong anak termotivasi dalam membaca masih belum maksimal dalam pengajarannya atau guru masih menggunakan strategi yang Lingkungan keluarga dan lingkungan sekitar peserta didik kurang mendukung dalam membiasakan membaca, yang mengakibatkan turunnya minat baca dan kemampuan peserta didik dalam membaca. Faktor lain yang turut mempengaruhi diantaranya kekurangan sumber daya keuangan untuk membeli buku, jumlah perpustakaan yang sedikit, dampak negatif dari kemajuan media digital, kurangnya pembelajaran umum, dan sistem pembelajaran membaca yang buruk. Rendahnya minat baca dan menulis di lingkungan sekolah karena kurangnya minat serta motivasi membaca melalui pembiasaan literasi, lingkungan sekolah yang tidak mewajibkan peserta didiknya untuk membiasakan dalam membaca dan menulis, peserta didik sering mengalami kesulitan dalam membaca karena minimnya bahan bacaan. Dari permasalahan ini, pemerintah membuat kebijakan untuk mengatasi minat rendah peserta didik dalam membaca, seperti Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Gerakan ini kemudian didukung serta dituangkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permedikbu. Nomor 23 Tahun 2015. Peraturan tersebut menetapkan bahwa peserta didik dapat meningkatkan budi pekerti mereka dengan mengambil bagian dalam kegiatan membaca buku non-sekolah selama 15 menit sebelum jam pelajaran dimulai, sehingga mereka dapat memperoleh wawasan dan pengetahuan yang lebih luas. Namun, banyak peserta didik yang mengalami penurunan dalam literasi sekolah selama perkembangannya di Oleh karena itu, program gerakan literasi sekolah sedang berusaha memenuhi tiga tahap, yaitu pembiasaan, pengembangan dan pembelajaran. Meskipun ada hambatan di setiap langkah, proses berlangsung secara bertahap. Licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. 0 International License. ISSN: 2549-9300 (Onlin. | ISSN: 1858-4497 (Prin. | 80 | Khalimatun Alfiyah. Yoga Prihatin. Hanung Sudibyo Martin Dahl/ Cakrawala 19 . Gugus Sultan Agung Koordinator Dikbub Kecamatan Tarub Kabupaten Tegal terdiri dari 10 sekolah dasar yaitu: SD Negeri Jatirawa 01. SD Negeri Jatirawa 02. SD Negeri Kabukan 01. SD Negeri Kabukan 02. SD Negeri Karangjati 01. SD Negeri Karangjati 02. SD Negeri Karangmangu 01. SD Negeri Karangmangu 02. SD Negeri Lebeteng 01, dan SD Negeri Lebeteng 02. Dari hasil observasi dengan SD Negeri Jatirawa 01 dan SDN Jatirawa 02 ada perpustakaan tetapi belum maksimal dalam memanfaatkannya. Di pojok kelas ada pojok baca tetapi hanya di kelas 4 dan 5. Pada SD Negeri Kabukan 01 sudah tersedia perpustakaan dan buku buku terbilang cukup lengkap. Mulai dari ensiklopedia hingga buku fiksi terdapat di perpustakaan ini. Namun jumlah buku yang ada dirasa masih kurang mencukupi terutama buku cerita yang digemari anakanak. Kemudian pada SD Negeri Karangmangu 02 saat observasi ada perpustakaan Pengelolaan perpustakaan di kelola oleh seorang pustakawan tidak tetap. Karena beliau tidak penjadi pegawai tetap di perpustakaan, kehadiran beliau juga tidak teratur. Pada saat kami melakukan observasi di SDN Karangmangu 02 tidak ada siswa yang membaca buku di perustakaan. Pojok baca yang ada dikelas tidak rapi karena tidak digunakan. Pada SD Negeri Karangmangu 01 perpustakaan yang ada di sekolah sudah dimanfaatkan. Petugasnya juga seorang pustakawan. Tetapi minat peserta didik yang ke perpustakaan rendah. Peserta didik lebih suka bermain daripada melakukan kegiatan literasi di perpustakaan sekolah. Pembiasaan literasi 15 menit tidak semua melaksanakan. Di SD Negeri Karangjati 01 dan SD Negeri Karangjati 02 literasi membaca dan menulis peserta didik kurang maksimal saat observasi saya melihat peserta didik tidak peduli adanya gerakan Literasi Sekolah. Orang tua yang mengantar ke sekolah juga tidak mengawasi aktifitas GSL. Lebih senang bermain handphone dan ngobrol dengan temannya. Di lingkungan sekolah saja tidak mengingatkan literasi apalagi di Sedangkan hasil observasi di SD Negeri Lebeteng 02 adalah peserta didik minat untuk membaca tetapi tenaga pustakawan belum ada. Buku bantuan dari kementrian pendidikan dan kebudayaan, riset dan teknologi dalam rangka gerakan Literasi Nasional juga ada. Sedang proses pelaksanaan Perpustakaan Ramah Anak. Tetapi untuk jadwal literasi di perpustakaan belum sempurna karena hanya mengandalkan dari guru yang jam pelajarannya kosong. SD Negeri Lebeteng 01 mempunyai Perpustakaan Ramah Anak. Suasana perpustakaan yang nyaman buat membaca dan bermain sangat menyenangkan. Tidak mempunyai tenaga pustakawan tetapi ada tenaga admisistrasi yang menangani perpustakaan dan dibantu oleh guru kelas yang telah dijadwal untuk melayani pada Perpustakaan Ramah Anak. Peserta didik sangat senang ketika masuk ke perpustakaan karena suasana yang nyaman. Banyak buku buku bacaan baru yang menarik dan bermutu. Buku-buku tersebut dapat bantuan dari kementrian pendidikan dan kebudayaan, riset dan teknologi. Di kelas ada pojok baca walaupun untuk fase A belum bisa Mading sudah ada dan isinya hasil karya tulisan peserta ada juga lukisan dan info yang diambil dari surat kabar. Guru ikut berperan dalam meningkatkan literasi membaca dan SD Negeri Kabukan 02 mempunyai perpustakaan Cahaya Ilmu. Ada petugas perpustakaan walaupun bukan pustakawan tetapi aktif. Guru kelas ikut perperan dalam gerakan literasi sekolah. Jadwal piket selain petugas adalah guru kelas untuk siswa face B dan Face C ada tugas menceritakan kembali buku yang dibaca. Terbukti telah berhasil mengantarkan peserta didik menjadi juara bercerita di tingkat Kabupaten dan menulis karya ilmiah pada lomba Mapsi juga menjadi juara ditingkat kecamatan tarub. Dengan mempertimbangkan fakta-fakta ini, peran guru sebagai pendidik sangat penting untuk menerapkan program literasi membaca dan menulis bagi peserta didik. Guru Sebagai agen perubahan turut bertanggung jawab untuk mengarahkan atau membentuk perilaku peserta didik ke arah yang lebih baik. Peran Guru Sekolah Dasar Dalam Meningkatkan Literasi Membaca Dan Menuli | 81 | Salah satu langkah awal untuk meningkatkan kualitas pendidikan peserta didik adalah upaya peningkatan literasi sekolah melalui literasi membaca dan menulis. Literasi adalah upaya untuk menumbuhkan budaya pekerti peserta didik dengan tujuan agar peserta didik memiliki minat dalam membaca dan menulis, sehingga menumbuhkan kesadaran pentingnya belajar sepanjang masa. Upaya peningkatan literasi membaca dan menulis juga merupakan salah satu upaya yang dapat mendorong peserta didik untuk mengembangkan dan meningkatkan kemampuan mereka sendiri. Upaya Peningkatan literasi menulis dan membaca juga dapat meningkatkan pemahaman peserta didik dan membangun kebiasaan yang lebih baik dan disiplin. Upaya Peningkatan literasi adalah bagian dari upaya sekolah untuk meningkatkan minat dan keterampilan membaca peserta didik. Hal Ini juga akan sangat membantu konsentrasi belajar peserta didik selama proses belajar Melihat fenomena di atas, penulis tertarik untuk mengkaji lebih jauh pada dua sekolah Dasar yaitu Sekolah Dasar Negeri Lebeteng 01 dan Sedolah Dasar Negeri Kabukan 02. tentang Peran Guru Sekolah Dasar Dalam Meningkatkan Literasi Membaca dan Menulis Peserta Didik di Gugus Sultan Agung Koordinator Dikbud Wilayah Kecamatan Tarub. Kabupaten Tegal. METODE Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan jenis penelitian kualitatif. Penelitian dilakukan pada peserta didik kelas 4 dan 5. Peserta didik Sekolah Dasar Negeri Labeteng 01 kelas 4 sejumlah 34 peserta didik dan kelas 5 sejumlah 27 peserta didik. Peserta didik SDN Kabukan 02 Kabupaten Tegal kelas 4 sejumlah 16 peserta didik sedangkan kelas 5 sejumlah 32 peserta didik. Pengumpulan data penelitian ini dilakukan dengan: kuesioner. Wawancara. Observasi. Dokumentasi. Dalam penelitian ini, tiga komponen utama terdiri dari proses analisis data: Reduksi data. Penyajian data (Display dat. Verifikasi. HASIL DAN PEMBAHASAN Peran Guru di Gugus Sultan Agung Koordinator dikbud Wilayah Kecamatan Tarub Kabupaten Tegal Berdasarkan hasil wawancara dan observasi diketahui bahwa guru berperan penting dalam meningkatkan literasi membaca dan menulis peserta didik dengan cara mendorong siswa untuk membaca dan berinteraksi dengan bahan bacaan. Adapun peran guru ditinjau dari beberapa aspek, antara lain: Guru Sebagai Fasilitator Berdasarkan hasil penelitian di SD Negeri Kabukan 02 dan SD Lebeteng 01 yang telah dilakukan diketahui bahwa, diketahui bahwa guru berperan sebagai fasilitator. Hal ini ditunjukkan dengan adanya fasilitas fisik seperti perpustakaan pada SD Negeri Kabukan 02 yaitu Perpustakaan Cahaya Ilmu. Juga terdapat pojok baca. Majalah Dinding dan merekomendasikan buku bacaan kepada siswa. Data tersebut diperkuat dengan hasil temuan bahwa benar guru mnyediakan pojok baca kelas dan rekomendasi buku diperpustakaan. Memberikan area baca adalah cara yang efektif untuk membiasakan siswa membaca dan meningkatkan minat baca mereka. (Amalia Rahmi & Febrina Dafit. Licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. 0 International License. ISSN: 2549-9300 (Onlin. | ISSN: 1858-4497 (Prin. | 82 | Khalimatun Alfiyah. Yoga Prihatin. Hanung Sudibyo Martin Dahl/ Cakrawala 19 . Gambar 4. Perpustakaan Pelita Ilmu SDN lebeteng 01 Gambar 4. Pojok baca SDN Kabukan 02 Berdasarkan hasil dokumentasi dari temuan observasi dapat dilihat pada gambar 1 dan 4. 2 yang menunjukkan bahwa guru dan kepala sekolah menyediakan sudut baca kelas dan rekomendasi buku yang tersedia di perpustakaan. Maka, pentingnya guru sebagai fasilitator dalam meningkatkan minat dan meningkatkan keterampilan membaca Guru tidak hanya menghadirkan area baca di dalam kelas, tetapi juga menawarkan fasilitas perpustakaan di sekolah dengan memberi izin kepada siswa untuk meminjam dan membaca buku. Kepentingan berbagai fasilitas perpustakaan dalam sekolah sangatlah besar dalam meningkatkan minat siswa dalam membaca. Peran Guru Sebagai Motivator Berdasaran hasil penelitian. Guru di SDN Lebeteng 01 dan SDN Kabukan 02 mengatakan bahwa guru memiliki peran yang sangat penting sebagai penggerak motivasi bagi siswa dengan minat baca yang tinggi. Mereka secara konsisten memberikan dorongan dan kata-kata penuh semangat agar anak-anak tetap tertarik dalam membaca dan menjaga minat mereka dalam membaca. Data tersebut diperkuat dengan hasil temuan bahwa benar guru berperan sebagai motivator berperan dalam memberikan semangat dan motivasi yang tinggi terhadap siswa Kelas agar dapat menumbuhkan minat membacanya dengan literasi. Setelah selesai membaca, guru memberikan pujian seperti "sudah bagus" dan menyatakan bahwa kemampuan membaca anak sudah baik. Setelah membaca selesai, guru memberikan tepuk tangan. Bagi siswa yang sudah gemar membaca namun membutuhkan peningkatan. Guru tetap memberikan dorongan dan katakata semangat agar anak tetap termotivasi untuk terus meningkatkan minat membacanya. Setelah membaca, guru memberikan penguatan dengan ucapan seperti "Bagus sudah" atau "Masih bisa ditingkatkan, ya" serta kata-kata lainnya. Setelah membaca selesai, guru mengapresiasi dengan mendapatkan tepuk tangan. Peran Guru Sekolah Dasar Dalam Meningkatkan Literasi Membaca Dan Menuli | 83 | Bagi siswa yang belum mahir dalam membaca, guru akan terus memberikan motivasi dan semangat agar minat baca mereka terus meningkat. Setelah belajar membaca selesai, guru memberikan penguatan dengan ucapan seperti "sudah baik" atau "bisa ditingkatkan lagi, ya". Setelah selesai membaca, guru memberikan tepuk tangan. Dengan cara tersebut, siswa akan merasa dihargai oleh guru dan itu akan mendorong mereka untuk membaca dengan lebih baik sehingga minat baca siswa dapat meningkat. Peran Guru Sebagai Evaluator Berdasaran hasil penelitian, peran guru di SDN Lebeteng 01 dan SDN Kabukan 02 sebagai evaluator, di mana guru memancarkan proses membaca yang meliputi pelafalan, kelancaran membaca, dan tanda baca. Informasi tersebut didukung dengan penemuan bahwa guru bertindak sebagai penilai dengan memberikan kuis dan meminta siswa untuk mengerjakannya sendiri. Guru juga meminta peserta didik untuk merekam diri membaca atau membacakan bagian favorit dari buku di hadapan seluruh kelas. Selain itu dengan memberikan pertanyaan dan meminta siswa mengerjakannya secara mandiri. Hal tersebut sesuai dengan hasil wawancara dengan Guru SDN Lebeteng 01 berikut: AuSebagai evaluator, guru memiliki tanggung jawab untuk menilai dan mengevaluasi kemampuan siswa dalam membaca dan menulis secara menyeluruh. Peran ini tidak hanya sebatas memberikan nilai, tetapi juga mencakup pemahaman terhadap kekuatan dan kelemahan setiap siswa, sehingga guru dapat memberikan umpan balik yang konstruktif dan merancang intervensi yang sesuai. Ada beberapa langkah yang saya lakukan. Pertama, saya menggunakan berbagai metode penilaian, seperti tes membaca, pengamatan langsung, dan evaluasi tulisan siswa. Kedua, saya menganalisis hasil penilaian untuk memahami pola kesulitan siswa, misalnya apakah mereka kesulitan dalam memahami teks, mengeja, atau menyusun kalimat. Ketiga, saya memberikan umpan balik yang spesifik dan membimbing mereka untuk memperbaiki area yang lemahAy. Sebagai evaluator, guru perlu mengetahui kelemahan dan solusinya untuk meningkatkan minat membaca siswa. Misalnya, kesulitan mengartikulasikan kata-kata yang tidak familiar atau terlalu panjang, karena itu perlunya perbaikan dalam teknik Guru memperbaiki cara membaca yang salah dengan memberikan contoh cara membaca yang benar. Metode penyampaian membaca oleh guru membantu siswa mengembangkan kemampuan membaca dan menumbuhkan minat membaca karena mereka merasa lebih mudah memahami teks. Menurut guru di SDN Lebeteng 01 dan SDN Kabukan 02 evaluasi dapat memberikan pedoman bagi pengembangan strategi baru yang bertujuan untuk meningkatkan literasi membaca dan menulis. Dengan adanya evaluasi, peserta didik akan lebih terbantu dalam memahami bacaan dan pada akhirnya dapat meningkatkan minat mereka dalam membaca. Faktor pendukung dan penghambat dalam meningkatan kemampuan literasi membaca dan menulis pada Gugus Sultan Agung Koordinator Dikbud Wilayah Kecamatan Tarub Kabupaten Tegal Hasil penelitian mengenai literasi membaca dan menulis peserta didik dilakukan dengan membagikan angket kepada peserta didik. Angket terdiri dari 80 pernyataan yang merupakan penjabaran dari 16 indikator dari factor yang menjadi penghambat literasi. Licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. 0 International License. ISSN: 2549-9300 (Onlin. | ISSN: 1858-4497 (Prin. Khalimatun Alfiyah. Yoga Prihatin. Hanung Sudibyo Martin Dahl/ Cakrawala 19 . | 84 | Berikut ini adalah penjelasan dari 16 indikator literasi membaca dan menulis dalam penelitian Motivasi Kurangnya minat atau motivasi dalam membaca dan menulis sering menjadi penghalang utama dalam literasi. Siswa yang tidak melihat manfaat atau kesenangan dalam kegiatan literasi cenderung kurang aktif dalam mengembangkan keterampilan Motivasi Motivasi Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dengan membagikan angket kepada siswa SDN Lebeteng 01 dan SDN Kabukan 02, ditemukan bahwa mayoritas responden, yaitu sebanyak 33%, menyatakan memiliki motivasi yang rendah dalam literasi membaca dan menulis. Temuan ini menunjukkan bahwa sebagian besar siswa merasa kurang terdorong untuk terlibat aktif dalam kegiatan literasi, baik di sekolah maupun di luar lingkungan pendidikan formal. Rendahnya motivasi ini dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti kurangnya minat terhadap bahan bacaan yang tersedia, terbatasnya dukungan lingkungan keluarga, atau metode pengajaran yang belum sepenuhnya memotivasi siswa untuk mengembangkan keterampilan literasi mereka. Penguasaan Kosakata Individu dengan keterbatasan kosa kata sering kali kesulitan memahami teks yang lebih kompleks. Ini bisa disebabkan oleh kurangnya paparan terhadap bahasa yang bervariasi sejak dini atau minimnya aktivitas membaca. Peran Guru Sekolah Dasar Dalam Meningkatkan Literasi Membaca Dan Menuli | 85 | Penguasaan Kosakata Penguasaan Kosakata Hasil penelitian yang diperoleh melalui pembagian angket kepada siswa kelas 4 dan 5 di SDN Lebeteng 01 dan SDN Kabukan 02 menunjukkan bahwa mayoritas responden, yaitu sebanyak 49%, mengaku menyatakan keterbatasan dalam kosa kata. Temuan ini mengindikasikan bahwa hampir separuh siswa di kedua sekolah tersebut mengalami kesulitan dalam menguasai dan menggunakan berbagai kosakata, baik dalam kegiatan membaca, menulis, maupun berkomunikasi secara lisan. Keterbatasan ini dapat menjadi hambatan dalam memahami teks, menyusun kalimat yang efektif, serta mengekspresikan ide-ide mereka secara jelas dan runtut. Faktor-faktor seperti kurangnya akses terhadap bahan bacaan yang beragam, jarangnya aktivitas pembelajaran berbasis diskusi, atau minimnya rangsangan untuk belajar kosa kata baru di rumah, kemungkinan menjadi penyebab dari permasalahan ini. Kondisi ini menuntut perhatian lebih dari pihak sekolah, guru, dan orang tua untuk meningkatkan kemampuan kosa kata siswa melalui berbagai upaya strategis. Guru, misalnya, dapat mengintegrasikan permainan kata, pembelajaran berbasis konteks, serta penggunaan teknologi pendidikan seperti aplikasi kosa kata untuk menarik minat siswa. Selain itu, pembiasaan membaca bahan bacaan yang bervariasi, baik berupa cerita, puisi, maupun informasi faktual, dapat membantu memperkaya perbendaharaan kata siswa. Di sisi lain, orang tua juga berperan penting dengan mendorong komunikasi yang intensif dan mendukung anak-anak untuk mengeksplorasi kata-kata baru dalam kehidupan sehari-hari. Dengan pendekatan yang terencana dan kolaboratif, tantangan keterbatasan kosa kata ini dapat diatasi secara bertahap, sehingga siswa memiliki kemampuan literasi yang lebih baik untuk mendukung pembelajaran mereka Minat pada topik bacaan Siswa yang tidak menemukan topik bacaan yang menarik bagi mereka cenderung merasa bosan dan enggan membaca. Kurangnya akses ke bacaan yang relevan dengan minat mereka juga dapat memperburuk situasi Licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. 0 International License. ISSN: 2549-9300 (Onlin. | ISSN: 1858-4497 (Prin. | 86 | Khalimatun Alfiyah. Yoga Prihatin. Hanung Sudibyo Martin Dahl/ Cakrawala 19 . Minat pada topik bacaan Minat pada topik bacaan Hasil penelitian yang dilakukan dengan membagikan angket kepada siswa kelas 4 dan 5 di SDN Lebeteng 01 dan SDN Kabukan 02 menunjukkan bahwa mayoritas responden, yaitu sebanyak 34%, mengaku memiliki minat yang cukup terbatas terhadap topik bacaan. Siswa cenderung kurang antusias dalam membaca karena materi bacaan yang tersedia dianggap kurang menarik atau tidak relevan dengan minat dan pengalaman mereka sehari-hari. Keterbatasan ini dapat memengaruhi kebiasaan membaca mereka secara keseluruhan, yang pada akhirnya berdampak pada perkembangan keterampilan literasi, seperti pemahaman isi bacaan, kemampuan analisis, dan perbendaharaan kosa kata. Kebiasaan membaca di rumah Kurang dalam membaca atau menulis dapat memengaruhi keinginan seseorang untuk berlatih dan meningkatkan kemampuannya. Ini bisa muncul karena pengalaman negatif sebelumnya, seperti sering dikritik atau diejek karena kesalahan dalam membaca atau menulis. Kebiasaan membaca di rumah Kebiasaan membaca di Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan melalui pembagian angket kepada siswa kelas 4 dan 5 di SDN Lebeteng 01 dan SDN Kabukan 02, ditemukan bahwa mayoritas responden, yaitu sebanyak 57%, mengaku kurang memiliki kebiasaan membaca di rumah. Angka ini menunjukkan bahwa lebih dari separuh siswa dalam penelitian ini belum menjadikan aktivitas membaca sebagai bagian dari rutinitas seharihari mereka di lingkungan keluarga. Kebiasaan membaca yang rendah ini dapat menjadi indikator kurangnya dorongan atau fasilitas yang mendukung minat baca siswa di rumah. Peran Guru Sekolah Dasar Dalam Meningkatkan Literasi Membaca Dan Menuli | 87 | seperti keberadaan buku-buku bacaan yang menarik atau waktu khusus untuk membaca bersama keluarga. Kemandirian belajar Individu dengan kemampuan fokus yang rendah mungkin mengalami kesulitan dalam memusatkan perhatian saat membaca atau menulis. Konsentrasi yang rendah membuat mereka sulit menyerap informasi dengan baik atau menyelesaikan tugas-tugas Kemandirian belajar Kemandirian belajar Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dengan membagikan angket kepada siswa kelas 4 dan 5 di SDN Lebeteng 01 dan SDN Kabukan 02, ditemukan bahwa mayoritas responden, yaitu 38%, menyatakan bahwa mereka kurang memiliki kemandirian dalam belajar. Angka ini menunjukkan bahwa sebagian besar siswa masih bergantung pada bantuan guru, orang tua, atau teman dalam menyelesaikan tugas atau memahami materi pelajaran. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti kurangnya motivasi, kebiasaan belajar yang belum terbentuk, atau lingkungan belajar yang kurang mendukung kemandirian. Temuan ini mengindikasikan perlunya upaya lebih lanjut untuk membangun kebiasaan belajar mandiri pada siswa. Kebiasaan membaca beragam jenis teks Pengalaman belajar yang tidak menyenangkan di masa lalu, seperti dipaksa membaca buku yang tidak menarik atau metode pengajaran yang monoton, dapat mengakibatkan siswa kehilangan minat terhadap literasi. Licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. 0 International License. ISSN: 2549-9300 (Onlin. | ISSN: 1858-4497 (Prin. | 88 | Khalimatun Alfiyah. Yoga Prihatin. Hanung Sudibyo Martin Dahl/ Cakrawala 19 . Kebiasaan membaca beragam jenis teks Kebiasaan membaca beragam jenis teks Hasil penelitian yang dilakukan dengan membagikan angket kepada siswa kelas 4 dan 5 di SDN Lebeteng 01 dan SDN Kabukan 02 mengungkapkan bahwa mayoritas responden, yakni 53%, menyatakan tidak terbiasa membaca beragam jenis buku teks. Hal ini menunjukkan bahwa banyak siswa masih memiliki keterbatasan dalam membangun kebiasaan membaca yang beragam, baik dalam konteks pembelajaran di sekolah maupun di luar lingkungan akademik. Kebiasaan membaca yang minim ini kemungkinan besar dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti kurangnya akses terhadap buku yang bervariasi, metode pembelajaran yang kurang mendorong siswa untuk membaca secara aktif, atau minimnya motivasi dari lingkungan keluarga dan sekolah untuk memperluas literasi Kebiasaan Belajar Pengalaman belajar yang tidak menyenangkan di masa lalu, seperti dipaksa membaca buku yang tidak menarik atau metode pengajaran yang monoton, dapat mengakibatkan siswa kehilangan minat terhadap literasi. Kebiasaan Belajar Kebiasaan Belajar Hasil penelitian yang dilakukan di SDN Lebeteng 01 dan SDN Kabukan 02 menunjukkan bahwa mayoritas siswa kelas 4 dan 5 memiliki kebiasaan belajar yang kurang efektif. Dengan membagikan angket kepada siswa, ditemukan bahwa 46% responden mengakui bahwa cara mereka belajar tidak optimal. Hal ini mencerminkan tantangan yang dihadapi oleh siswa dalam mengatur waktu dan metode belajar mereka. Kebiasaan belajar yang kurang efektif dapat mencakup berbagai aspek, seperti kurangnya Peran Guru Sekolah Dasar Dalam Meningkatkan Literasi Membaca Dan Menuli | 89 | konsentrasi saat belajar, kesulitan dalam menyelesaikan tugas, atau ketidakmampuan untuk belajar secara mandiri maupun dalam kelompok. Pemahaman akan manfaat literasi Masalah emosional seperti kecemasan, stres, atau depresi dapat mengganggu kemampuan seseorang untuk fokus dan menikmati aktivitas literasi. Keadaan emosional yang tidak stabil sering kali membuat siswa sulit menyerap informasi atau berpartisipasi aktif dalam kegiatan membaca dan menulis. Pemahaman akan manfaat literasi Pemahaman akan manfaat Hasil penelitian melalui pembagian angket kepada siswa kelas 4 dan 5 di SDN Lebeteng 01 dan SDN Kabukan 02 mengungkapkan bahwa mayoritas responden, yaitu sebanyak 68%, menyatakan memiliki pemahaman yang minim tentang manfaat literasi. Sebagian besar siswa tampaknya belum sepenuhnya menyadari bagaimana keterampilan literasi, seperti membaca dan menulis, dapat berdampak positif pada kehidupan mereka sehari-hari maupun masa depan. Minimnya pemahaman ini dapat menyebabkan rendahnya motivasi siswa untuk terlibat aktif dalam kegiatan literasi, baik di dalam kelas maupun di luar sekolah, sehingga menghambat perkembangan kemampuan literasi mereka secara keseluruhan. Dukungan dari keluarga Kondisi ini menyoroti pentingnya peran keluarga sebagai fondasi utama dalam mendukung keberhasilan pendidikan anak. Keluarga yang memberikan perhatian, baik dalam bentuk motivasi verbal maupun tindakan nyata seperti membantu anak memahami pelajaran atau menyediakan ruang belajar yang nyaman, dapat meningkatkan rasa percaya diri dan semangat anak dalam belajar. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk meningkatkan kesadaran orang tua atau anggota keluarga lainnya mengenai pentingnya peran mereka dalam pendidikan anak. Pendekatan seperti program parenting atau pelibatan keluarga dalam kegiatan sekolah dapat menjadi langkah strategis untuk menciptakan hubungan yang lebih erat antara keluarga dan proses belajar siswa. Licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. 0 International License. ISSN: 2549-9300 (Onlin. | ISSN: 1858-4497 (Prin. | 90 | Khalimatun Alfiyah. Yoga Prihatin. Hanung Sudibyo Martin Dahl/ Cakrawala 19 . Dukungan dari keluarga Kurangnya dukungan dari Hasil penelitian yang dilakukan dengan membagikan angket kepada siswa kelas 4 dan 5 di SDN Lebeteng 01 dan SDN Kabukan 02 mengungkapkan bahwa mayoritas responden, sebesar 34%, menyatakan kurang mendapat dukungan dari keluarga dalam proses belajar mereka. Persentase ini menunjukkan bahwa lebih dari sepertiga siswa merasa tidak mendapatkan perhatian, dorongan, atau bantuan yang memadai dari lingkungan keluarga untuk mendukung keberhasilan mereka di sekolah. Kurangnya dukungan keluarga ini dapat berupa tidak adanya pendampingan saat belajar di rumah, minimnya komunikasi tentang perkembangan pendidikan anak, atau kurangnya penyediaan fasilitas belajar yang memadai. Bahasa yang Digunakan Di lingkungan sehari-hari, siswa mungkin lebih terbiasa menggunakan bahasa daerah atau dialek lokal, sedangkan dalam pembelajaran, mereka dihadapkan pada penggunaan bahasa Indonesia formal yang terkadang terasa kurang familiar. Hal ini dapat menyebabkan kesulitan dalam memahami materi pelajaran secara optimal, terutama jika tidak ada strategi khusus dari guru untuk menjembatani perbedaan ini. Bahasa yang Digunakan Bahasa yang Digunakan Hasil penelitian melalui pembagian angket kepada siswa kelas 4 dan 5 di SDN Lebeteng 01 dan SDN Kabukan 02 menunjukkan bahwa 48% responden menyatakan bahasa yang digunakan di lingkungan mereka berbeda dengan bahasa yang digunakan Peran Guru Sekolah Dasar Dalam Meningkatkan Literasi Membaca Dan Menuli | 91 | dalam pengajaran di sekolah. Perbedaan ini mencerminkan adanya kesenjangan bahasa yang dapat memengaruhi proses pembelajaran siswa. Budaya literasi Banyak siswa merasa bahwa lingkungan sosial dan budaya sekitar mereka tidak memberikan dorongan yang cukup untuk mengembangkan minat baca dan menulis. Faktor-faktor seperti kurangnya akses terhadap buku, minimnya kegiatan literasi di komunitas, serta kurangnya dukungan dari orang tua dan masyarakat dapat menjadi penyebab utama dari kondisi ini Budaya literasi Budaya yang kurang mendukung literasi Berdasarkan hasil penelitian dengan membagikan angket kepada siswa kelas 4 dan 5 SDN Lebeteng 01 dan SDN Kabukan 02 diketahui bahwa mayoritas responden . %) menyatakan budaya yang ada di lingkungannya kurang mendukung literasi. Kondisi ini sangat memprihatinkan, karena budaya yang mendukung literasi sangat penting untuk perkembangan keterampilan membaca dan menulis siswa. Jika lingkungan sosial tidak memberikan rangsangan atau kesempatan untuk berinteraksi dengan bahan bacaan, maka siswa mungkin akan kehilangan motivasi untuk belajar dan berpartisipasi dalam kegiatan literasi. Oleh karena itu, upaya untuk membangun budaya literasi yang positif di sekolah dan komunitas sangat diperlukan. Ini bisa dilakukan melalui program-program literasi, kegiatan membaca bersama, atau pameran buku yang melibatkan orang tua dan masyarakat. Dengan demikian, diharapkan ada perubahan positif yang dapat mendorong siswa untuk lebih aktif dalam kegiatan literasi. Program literasi di masyarakat Upaya untuk meningkatkan literasi di tingkat masyarakat belum optimal, sehingga siswa mungkin kurang mendapatkan dukungan eksternal untuk mengembangkan minat dan kemampuan membaca mereka di luar sekolah Licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. 0 International License. ISSN: 2549-9300 (Onlin. | ISSN: 1858-4497 (Prin. | 92 | Khalimatun Alfiyah. Yoga Prihatin. Hanung Sudibyo Martin Dahl/ Cakrawala 19 . Program literasi di masyarakat Program literasi di Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dengan membagikan angket kepada siswa kelas 4 dan 5 di SDN Lebeteng 01 dan SDN Kabukan 02, ditemukan bahwa 35% responden menyatakan bahwa program literasi yang ada di masyarakat masih kurang. Angka ini menunjukkan bahwa sebagian besar siswa merasa kurang terpapar atau terlibat dalam kegiatan literasi di lingkungan sekitar mereka, seperti perpustakaan umum, taman bacaan, atau kegiatan membaca yang diadakan oleh komunitas. Hal ini mengindikasikan bahwa upaya untuk meningkatkan literasi di tingkat masyarakat belum optimal, sehingga siswa mungkin kurang mendapatkan dukungan eksternal untuk mengembangkan minat dan kemampuan membaca mereka di luar sekolah. Media Massa dan Hiburan Media Massa dan Hiburan Media Massa dan Hiburan Berdasarkan hasil penelitian dengan membagikan angket kepada siswa kelas 4 dan 5 SDN Lebeteng 01 dan SDN Kabukan 02 diketahui bahwa mayoritas responden . %) media massa dan hiburan yang ada saat ini tidak mendukung kegiatan literasi. Program dan Kebijakan Literasi Berkelanjutan di Sekolah Perencanaan dan pelaksanaan kebijakan literasi yang lebih berkesinambungan perlu dilakukan, sehingga siswa dapat melihat literasi sebagai bagian penting dari pengalaman belajar mereka, bukan sekadar kegiatan insidental Peran Guru Sekolah Dasar Dalam Meningkatkan Literasi Membaca Dan Menuli | 93 | Program dan Kebijakan Literasi Berkelanjutan di Sekolah Program dan Kebijakan Literasi Berkelanjutan di Sekolah Hasil penelitian melalui pembagian angket kepada siswa kelas 4 dan 5 di SDN Lebeteng 01 dan SDN Kabukan 02 menunjukkan bahwa mayoritas responden, yakni sebanyak 44%, berpendapat bahwa program dan kebijakan literasi keberlanjutan di sekolah masih minim. Siswa merasa bahwa inisiatif literasi yang ada belum sepenuhnya terintegrasi dalam kegiatan belajar mengajar sehari-hari atau kurang didukung oleh program-program yang konsisten dan menarik. Dukungan Komunitas Minimnya akses terhadap perpustakaan desa, program literasi berbasis masyarakat, atau kegiatan membaca bersama di lingkungan tempat tinggal menjadi beberapa faktor yang turut memengaruhi pandangan ini. Dukungan Komunitas Dukungan Komunitas Hasil penelitian yang dilakukan melalui pembagian angket kepada siswa kelas 4 dan 5 di SDN Lebeteng 01 dan SDN Kabukan 02 menunjukkan bahwa mayoritas responden, yakni 50%, berpendapat bahwa dukungan dari komunitas terhadap literasi membaca dan menulis masih minim. Setengah dari siswa yang disurvei merasa bahwa lingkungan komunitas, baik dalam bentuk fasilitas, kegiatan, maupun keterlibatan masyarakat, belum memberikan kontribusi yang signifikan dalam mendorong kebiasaan membaca dan menulis di kalangan anak-anak. Perpustakaan Licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. 0 International License. ISSN: 2549-9300 (Onlin. | ISSN: 1858-4497 (Prin. | 94 | Khalimatun Alfiyah. Yoga Prihatin. Hanung Sudibyo Martin Dahl/ Cakrawala 19 . Minimnya pemanfaatan perpustakaan ini juga dapat disebabkan oleh kurangnya dorongan atau strategi dari pihak sekolah untuk menjadikan perpustakaan sebagai bagian integral dari proses belajar mengajar. Siswa mungkin tidak merasa tertarik untuk berkunjung karena kurangnya program atau kegiatan yang menarik, seperti pojok baca tematik, lomba literasi, atau waktu khusus untuk eksplorasi buku. Perpustakaan Perpustakaan Hasil penelitian melalui pembagian angket kepada siswa kelas 4 dan 5 di SDN Lebeteng 01 dan SDN Kabukan 02 menunjukkan bahwa mayoritas responden, yaitu 59%, berpendapat bahwa perpustakaan di sekolah mereka tidak memadai atau belum dimanfaatkan secara maksimal. Pendapat ini mencerminkan adanya masalah terkait fasilitas perpustakaan, seperti kurangnya koleksi buku yang menarik dan relevan dengan minat siswa, keterbatasan ruang yang nyaman untuk membaca, atau kurangnya aksesibilitas bagi siswa untuk menggunakan perpustakaan secara rutin. Kondisi ini mengindikasikan bahwa perpustakaan, yang seharusnya menjadi pusat literasi dan sumber belajar utama, belum berfungsi optimal dalam mendukung pembelajaran siswa. Peran Guru Dalam Meningkatan Kemampuan Literasi Membaca Dan Menulis Peserta Didik Pada Gugus Sultan Agung Koordinator Dikbud Wilayah Kecamatan Tarub Kabupaten Tegal Kebijakan gerakan literasi sekolah yang mengacu pada Permendikbud RI Nomor 23 Tahun 2015 Tentang Penumbuhan Budi Pekerti. Permendikbud tersebut bertujuan untuk mencetak siswa yang memiliki budi pekerti yang luhur melalui berbagai Salah satu nilai yang ingin dicapai adalah siswa yang berbudaya literasi. Program Gerakan Literasi Sekolah ini lahir untuk mendorong sekolah-sekolah menumbuhkan budaya literasi pada siswanya. Beberapa program yang dilakukan sekolah antara lain berdasarkan hasil wawancara antara lain: AuSekolah kami telah mengambil berbagai langkah strategis untuk meningkatkan literasi siswa, mengingat pentingnya kemampuan literasi dalam mendukung pembelajaran dan pengembangan diri siswa. Salah satu upaya utama adalah penerapan program "15 Menit Membaca" yang dilakukan setiap pagi sebelum pelajaran dimulai. Program ini dirancang untuk membiasakan siswa membaca buku, baik fiksi maupun nonfiksi, yang sesuai dengan minat dan tingkat pemahaman Selain itu, kami juga memperkuat peran perpustakaan sekolah dengan menambah koleksi buku bacaan anak, termasuk buku bergambar, cerita rakyat, dan Peran Guru Sekolah Dasar Dalam Meningkatkan Literasi Membaca Dan Menuli | 95 | ensiklopedia, sehingga siswa memiliki akses yang lebih luas terhadap bahan bacaan yang menarikAy Dalam melibatkan siswa dalam kegiatan literasi, guru berperan aktif untuk menciptakan suasana belajar yang interaktif dan menyenangkan. Salah satu cara yang dilakukan adalah dengan mengadakan diskusi kelompok setelah sesi membaca. Dalam diskusi ini, siswa diajak untuk berbagi pendapat dan pengalaman mereka tentang buku yang telah dibaca. AuDi sekolah Kami. Guru memfasilitasi percakapan ini dengan mengajukan pertanyaan terbuka yang mendorong siswa untuk berpikir kritis dan saling bertukar Dengan cara ini, siswa merasa lebih terlibat dan memiliki kesempatan untuk mengekspresikan pendapat mereka, sehingga meningkatkan rasa percaya diri dan kemampuan komunikasi mereka. Selain itu, guru juga melibatkan siswa dalam kegiatan menulis kreatif dengan memberikan kebebasan kepada mereka untuk mengekspresikan imajinasi dan ide-ide mereka. Guru sering kali memberikan tema atau topik yang menarik, tetapi juga membiarkan siswa memilih tema yang mereka Setelah menulis, siswa diberi kesempatan untuk membacakan karya mereka di depan kelas, yang tidak hanya meningkatkan keterampilan berbicara di depan umum, tetapi juga membangun rasa kebersamaan dan dukungan di antara temanteman sekelas. Dengan pendekatan ini, siswa merasa dihargai dan termotivasi untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan literasi, sehingga proses belajar menjadi lebih bermakna dan menyenangkanAy Kolaborasi antar guru dalam merancang dan melaksanakan program literasi sangat penting untuk menciptakan lingkungan belajar yang efektif dan menyenangkan bagi siswa. Dalam proses ini, guru dari berbagai mata pelajaran bekerja sama untuk mengintegrasikan kegiatan literasi ke dalam kurikulum. Hal ini sesuai dengan hasil AuBenar, kolabolarasi antar guru penting menciptakan literasi. Misalnya, guru bahasa Indonesia dapat berkolaborasi dengan guru seni untuk mengadakan proyek menulis dan menggambar yang berkaitan dengan tema tertentu. Dengan cara ini, siswa tidak hanya belajar membaca dan menulis, tetapi juga mengembangkan kreativitas mereka melalui seni. Diskusi rutin antar guru juga dilakukan untuk berbagi ide dan strategi yang telah berhasil, sehingga setiap guru dapat saling mendukung dan meningkatkan kualitas pengajaran merekaAy. Peran guru dalam meningkatkan literasi membaca dan menulis peserta didik di sekolah yang lain adalah menjadi role model. Hal tersebut sesuai dengan hasil wawancara dengan guru kelas SDN Kabukan 02. AuGuru harus menunjukkan pentingnya literasi dengan menjadi model membaca dan menulis yang baik. Misalnya, guru dapat menunjukkan kebiasaan membaca buku, artikel, atau bahkan menulis di depan siswa, sehingga siswa dapat melihat dan meniru kebiasaan positif tersebutAy Licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. 0 International License. ISSN: 2549-9300 (Onlin. | ISSN: 1858-4497 (Prin. Khalimatun Alfiyah. Yoga Prihatin. Hanung Sudibyo Martin Dahl/ Cakrawala 19 . | 96 | Siswa cenderung meniru perilaku yang mereka lihat, sehingga jika guru aktif dalam kegiatan literasi, siswa akan lebih termotivasi untuk melakukan hal yang sama. Dengan menunjukkan kebiasaan positif tersebut, guru dapat membantu siswa memahami bahwa membaca dan menulis adalah kegiatan yang menyenangkan dan bermanfaat. Misalnya, saat guru membaca dengan suara keras atau mendiskusikan isi bacaan, siswa dapat belajar bagaimana cara memahami teks dan mengembangkan pemikiran kritis. Selain itu, kegiatan menulis yang dilakukan oleh guru, seperti mencatat ide-ide atau membuat rencana pelajaran, dapat memberikan gambaran kepada siswa tentang pentingnya mengekspresikan pikiran mereka secara tertulis. Melalui pendekatan ini, diharapkan siswa tidak hanya meningkatkan keterampilan literasi mereka, tetapi juga membangun minat yang lebih besar terhadap membaca dan Dengan adanya model yang baik dari guru, siswa akan merasa lebih terinspirasi untuk menjadikan literasi sebagai bagian integral dari kehidupan mereka. Hal ini sangat penting untuk menciptakan budaya literasi yang kuat di sekolah, yang pada gilirannya dapat meningkatkan kemampuan akademik dan keterampilan sosial siswa di masa depan. KESIMPULAN Berdasarkan hasil yang diperoleh dari penelitian dan pembahasan maka dapat disimpulkan halhal sebagai berikut: Peran guru di Gugus Sultan Agung Koordinator dikbud Wilayah Kecamatan Tarub Kabupaten Tegal dilakukan dengan beberapa kebijakan diantaranya adalah Setiap siswa membaca buku selama 10Ae15 menit setiap hari sebelum atau setelah pelajaran dimulai. Setiap kelas memiliki pojok baca dengan koleksi buku yang bervariasi sesuai minat dan kebutuhan siswa. Faktor pendukung dalam meningkatan kemampuan literasi membaca dan menulis adalah guru menunjukkan pentingnya literasi dengan menjadi model membaca dan menulis yang baik. Guru juga berperan sebagai fasilitator, motivator, evaluator. Dukungan dari orang tua juga menjadi faktor kunci. Orang tua yang aktif mendampingi anak dalam membaca buku atau mengerjakan tugas menulis di rumah dapat memperkuat kebiasaan literasi siswa. Ketersediaan sarana dan prasarana, seperti perpustakaan sekolah, buku bacaan, dan alat tulis, dapat memudahkan siswa dalam mengakses bahan literasi dan melatih keterampilan membaca dan menulis. Faktor penghambat dalam dalam meningkatan kemampuan literasi membaca dan menulis diantaranya siswa lebih tertarik pada hiburan digital seperti game atau media sosial dibandingkan buku atau aktivitas Ada siswa yang kesulitan membaca dengan lancar atau memahami teks dengan Peran guru dalam meningkatan kemampuan literasi membaca dan menulis peserta didik pada Gugus Sultan Agung koordinator Dikbud Wilayah Kecamatan Tarub Kabupaten Tegal diantaranya adalah menciptakan lingkungan membaca yang positif dan menyelenggarakan kegiatan yang membangkitkan minat baca peserta didik dengan pembiasaan membaca 10-15 menit sebelum pembelajaran. DAFTAR PUSTAKA