Dinamika: Volume 9 . 2026 Jurnal Bahasa. Sastra. Pembelajarannya e-issn 2715-8381 Kesantunan Berbahasa Nabi Musa Alaihi Salam dalam Terjemah AlQurAoan Ikhsan Abdul Aziz. Iis Ristiani & Aan Hasanah Universitas Suryakancana. Cianjur. Indonesia ikhsanaa27@gmail. iisristiani@unsur. hasanah_aan@unsur. Dikirim: 16 Juli 2025 Direvisi: 23 Desember 2025 Diterima: 27 Desember 2025 Diterbitkan: 28 Februari 2025 How to Cite: Aziz. Ikhsan Abdul, et. AuKesantunan Berbahasa Nabi Musa Alaihi Salam dalam Terjemah AlQurAoanAy Dinamika: Jurnal Bahasa. Sastra, dan Pembelajarannya. Vol. 9, no. 1, 2026, pp. 56Ae65. Published by Program Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Universitas Suryakancana Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional. ABSTRACT This article will describe the politeness of the Prophet Moses . eace be upon hi. in the translation of Surah Taha, verses 43Ae56 of the Qur'an. The approach used is descriptive qualitative, using Leech's theory of politeness. The research instrument used six maxims of politeness. Data were collected through a study of translated texts of the Qur'an. The results show that the politeness of the Prophet Moses' dialogue reflects a communication practice full of submission, gentleness, and wisdom. The six maxims of politeness appear in various forms of speech, such as humble requests, gentle commands, and greetings containing respect. These findings were then used as the basis for developing teaching materials for 11th-grade students that are deemed appropriate, applicable, and capable of shaping students' language character, particularly in delivering lectures. This study recommends that the values of politeness in the stories of the prophets can be used as a reference in the development of Indonesian language teaching materials, to support meaningful, contextual, and character-based learning. Keywords: teaching materials. Prophet Moses Artikel ini akan mendeskripsikan kesantunan berbahasa Nabi Musa Alaihi Salam dalam terjemahan Al-QurAoan Surah Taha ayat 43Ae56. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teori kesantunan dari Leech. Instrumen penelitian menggunakan enam prinsip maksim kesantunan. Data dikumpulkan melalui kajian teks terjemah Al-QurAoan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesantunan berbahasa dalam dialog Nabi Musa mencerminkan praktik komunikasi yang penuh ketundukan, kelembutan, dan kebijaksanaan. Keenam maksim kesantunan muncul dalam berbagai bentuk tuturan, seperti permohonan yang merendah, perintah yang lembut, dan sapaan yang mengandung penghormatan. Temuan ini kemudian dijadikan dasar dalam penyusunan bahan ajar siswa kelas XI yang dipandang layak, aplikatif, dan mampu membentuk karakter siswa dalam berbahasa, khususnya dalam menyampaikan ceramah. Penelitian ini merekomendasikan agar nilai-nilai kesantunan dalam kisah para nabi dapat dijadikan rujukan dalam pengembangan bahan ajar Bahasa Indonesia, guna mendukung pembelajaran yang bermakna, kontekstual, dan berbasis karakter. Kata Kunci: bahan ajar. Nabi Musa Ikhsan Abdul Aziz, dkk. : Kesantunan Berbahasa Nabi Musa Alaihi Salam dalam A 57 PENDAHULUAN Indonesia adalah negara yang kaya akan budaya kesantunan. Kesantunan dalam berbicara sangat penting dalam budaya Indonesia, dan ini tercermin dalam berbagai penggunaan bahasa yang dapat menjaga hubungan sosial dan menghindari konflik terbuka (Syalomitha Geraldine dan Manik: 2. Santun dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesi. bermakna halus dan baik . udi bahasanya, tinkah lakuny. sabar dan tenang. penuh rasa belas kasihan. dan suka menolong (Bahasa 2024:. Kesantunan dalam berbahasa sering dikatakan pula merupakan salah satu pengetahuan dari ilmu pragmatik dan memiliki keterkaitan yang begitu penting dengan prinsip kerja sama (Damayanti dan SM: 2. Kesantunan berbahasa merupakan aspek penting dalam keterampilan berkomunikasi, terlebih dalam konteks dakwah atau ceramah. Nabi Musa Alaihi Salam, dalam Surah Taha ayat 43Ae56, diperintahkan untuk menyampaikan kebenaran kepada Firaun dengan Auperkataan yang lemah lembut. Ay Ayat ini menjadi model komunikasi profetik yang sarat dengan nilai etika dan Dalam konteks pembelajaran Bahasa Indonesia, khususnya materi teks ceramah pada Kurikulum Merdeka, penting untuk menghadirkan bahan ajar yang tidak hanya mengembangkan keterampilan berbicara, tetapi juga membentuk karakter dan kesantunan berbahasa peserta didik. Santun ada dalam pembahasan pragmatik. Disampaikan demikian karena pragmatik merupakan cabang ilmu linguistik yang membahas tentang apa yang termasuk struktur bahasa sebagai alat komunikasi antara penutur dan pendengar, juga sebagai pengacuan tanda-tanda bahasa pada hal-hal ekstralingual yang dibicarakan(Verhaar, 2010:. Pragmatik adalah suatu ilmu bahasa yang mempelajari relasi antara tanda, makna, dan konteks (Yusri, 2016:. Rahardi dkk. menyampaikan bahwa maksim termasuk dalam pembahasan prinsip kesantunan . oliteness principle. yang telah dipaparkan oleh ahli bahasa terkemuka, yakni Leech . Hal yang dikemukakan oleh Rahardi dkk. sangat relevan dalam konteks komunikasi sehari-hari, terutama dalam budaya yang mengutamakan kesopanan seperti di Indonesia. Dalam praktiknya, orang-orang menggunakan bahasa secara tidak langsung untuk menyampaikan kritik atau permintaan, yang merupakan bentuk penerapan maksim kebijaksanaan dan kerendahan hati. Artinya kesantunan bahasa tidak bersifat statis dan bervariasi berdasarkan budaya, konteks sosial, dan hubungan antara pembicara (Zacharany Sudrajat dan Ahmad Suprianto 2. Pragmatik memperhatikan bagaimana konteks sosial, budaya, dan situasional memengaruhi arti yang sebenarnya dari suatu ucapan atau tindakan komunikasi. Yusri . menyebutkan bahwa dalam ilmu pragmatik dikenal enam teori kesopanan, yakni Maksim Kebijaksanaan (MKEB). Maksim Kedermawanan (MKED). Maksim Penghargaan (MPENG). Maksim Kesederhanaan (MKES). Maksim Pemufakatan (MPER), dan Maksim Simpati (MSIM). Kesantunan berbahasa menurut pandangan Islam meliputi penggunaan bahasa yang sopan, menghormati orang lain, menghindari penggunaan kata-kata kasar yang akan menyakiti hati, serta menjaga hubungan baik antar sesama (Salsabella dkk. Kesantunan berbicara adalah aspek penting etika komunikasi yang di atur dalam Al-QurAoan dan terkhusus ada pada konteks dakwah (Siregar 2025:. Pentingnya kesantunan ini selaras dengan apa yang telah dipraktikkan oleh para Nabi Allah terdahulu dan di antaranya adalah Nabi Musa Alaihi Salam. 58 Dinamika: Jurnal Bahasa. Sastra, dan Pembelajarannya Volume 9 . Februari 2026, halaman 56-65 Strategi Nabi Musa Sebelum Berinteraksi ke Firaun. Mengawali dialog secara lembut dan langsung membahas apa yang akan disampaikan (Rambe 2024:. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik studi dokumen dan angket. Dalam analisis terjemah, peneliti akan menggunakan kartu data penelitian. Kartu data merupakan instrumen yang digunakan untuk mencatat terkait bentuk-bentuk kesantunan yang adalah terjemah surah Taha. Selanjutnya, karena penelitian ini ditujukan untuk kebermanfaatannya sebagai bahan ajar, maka diperlukan kuisioner. Kuesioner digunakan sebagai instrumen utama dalam survei yang merupakan salah satu metode pengumpulan data (Rukminingsih dkk. , 2020:. Data primer diperoleh dari analisis terjemahan Al-QurAoan versi Kementerian Agama RI terhadap Surah Taha ayat 43Ae56. Data primer ini bersifat autentik, objektif, dan andal, karena data tersebut akan digunakan sebagai dasar dalam menyelesaikan suatu permasalahan (Nasution, 2023:. Analisis dilakukan berdasarkan teori maksim kesantunan yang meliputi: maksim kebijaksanaan, kedermawanan, penghargaan, kesederhanaan, pemufakatan, dan simpati. Selain itu, peneliti menyusun bahan ajar ceramah berdasarkan temuan linguistik, lalu mengujinya kepada guru dan siswa MA Al-MaAotuq Sukabumi menggunakan angket keterbacaan dan HASIL DAN PEMBAHASAN Ada beberapa penelitian yang relevan dengan analisis kesantunan berbahasa yang ditentukan oleh peneliti. Sebagai contoh tesis yang telah disusun oleh Pabuntang berjudul Kesantunan Berbahasa Indonesia Mengenai Covid-19 dalam Caption dan Komentar Instagram Terverifikasi (Pabuntang 2022:v. Penelitian pada tesis ini lebih fokus pada pertuturan yang dilakukan di media sosial Instagram. Lalu hal yang sama juga ditemui pada tesis berjudul Kesantunan Berbahasa di Lingkungan Pondok Pesantren Raudlatul Ulum I Ganjaran Gondanglegi Malang karya (Sahudi, 2. Penelitian pada tesis kedua ini lebih menekankan pada penelitian eksperimen. Di tahun yang sama, ada penelitian tesis berjudul Kajian Kesantunan Peristiwa Tutur Para Komika pada Stand Up Comedy serta Pemanfaatannya sebagai Bahan Ajar Teks Anekdot di SMA. Penelitian ini dilatar belakangi oleh tuturan para remaja yang tidak mematuhi prinsip kesantunan dalam berbahasa. Adapun tujuan penelitian ini mendeskripsikan kesantunan peristiwa tutur verbal dan peristiwa tutur nonverbal para komika stand up comedy, kemudian implikatur yang terdapat dalam materi stand up comedy, membuat bahan ajar teks anekdot (Sucikaharti, 2022:vi. Penelitian terbaru, berjudul Analisis Kesantunan Berbahasa Kreator Konten dalam Media Sosial Youtube serta Pemanfaatannya Sebagai Buku Panduan Bagi Youtuber juga membahas hal yang sama. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh nilai-nilai kesantunan berbahasa masyarakat yang semakin memburuk terutama di media sosial. Salah satu faktanya dapat dilihat dari maraknya konten media sosial yang tidak mematuhi prinsip kesantunan dalam berbahasa (Maharani, 2024:i. Kemudian dalam beberapa jurnal penelitian ditemukan hal yang serupa. Ada satu penelitian yang dicermati oleh peneliti berjudul Pembelajaran Kesantunan Berbahasa di Era Menuju Indonesia Emas (Rus Andianto dkk. ,2020:. Penelitian ini berkonsentrasi pada kesantunan berbahasa yang melibatkan perkembangan zaman menuju sebuah target negara Indonesia, yakni Indonesia Emas. Kemudian ada penelitian yang berjudul Prinsip Kesantunan Ikhsan Abdul Aziz, dkk. : Kesantunan Berbahasa Nabi Musa Alaihi Salam dalam A 59 Berbahasa dalam Tindak Tutur Direktif Guru Bahasa Indonesia pada Proses Pembelajaran di SMP (Diana dan Manaf, 2. Penelitian kedua pada jurnal ilmiah ini tertuju pada sebuah analisis yang menjadikan guru pada sebuah sekolah menengah pertama sebagai subjek telaah. Dari beberapa hasil penelitian relevan tersebut, menunjukkan bahwa penelitian tentang kesantunan berbahasa Nabi Musa Alaihi Salam dalam terjemah Al-QurAoan belum ada yang Karenanya penting dilakukan penelitian khusus agar mampu memberikan manfaat sebagai salah satu penelitian berkelanjutan. Penelitian ini menjawab tentang bagaimana bentukbentuk kesantunan, bagaimana susunan bahan ajar berdasarkan analisis bentuk-bentuk kesantunan, dan bagaimana tanggapan guru dan siswa terhadap susunan bahan ajar hasil analisis kesantunan berbahasa Nabi Musa Alaihi Salam dalam terjemah Al-QurAoan. Temuan dalam penelitian ini juga ditujukan untuk menunjang dan memperkuat penelitian yang telah ada. Analisis Kesantunan Nabi Musa Ditemukan bahwa dalam Surah Taha ayat 43Ae56, seluruh maksim kesantunan muncul dalam berbagai bentuk tuturan. Nabi Musa tetap santun meskipun menghadapi penguasa zalim seperti Firaun. Ia tidak menyampaikan dakwah dengan emosi, melainkan dengan kelembutan, pengendalian diri, dan argumentasi logis. Contoh penggunaan maksim seperti dalam Maksim Kebijaksanaan: QS Taha: 44 Ae AuBerkatalah kamu berdua kepadanya dengan perkataan yang lemah lembut. Lalu Maksim Penghargaan dan Simpati: QS Taha: 45 Ae AuKami khawatir dia akan menyiksa atau melampaui batas. Ay Strategi ini menunjukkan bahwa dakwah tidak identik dengan kekerasan verbal, melainkan kesantunan yang menyentuh hati. Dalam dialog dakwah Nabi Musa Alaihi Salam kepada Firaun, ditemukan penerapan enam prinsip maksim kesantunan. Maksim Kebijaksanaan (MKEB) digunakan untuk menghindari konfrontasi dan menjaga etika dakwah. Nabi Musa menyampaikan perintah Allah dengan gaya lembut . aulan layyina. , diksi netral, dan tidak menyinggung secara langsung. Ini dominan karena menjadi dasar utama gaya komunikasi Nabi Musa. Maksim Kedermawanan (MKED) terlihat dalam usaha Nabi Musa mengedepankan keselamatan orang lain (Bani Israi. daripada kepentingan pribadi. Peringatan azab disampaikan dengan tujuan menyelamatkan, bukan Lalu Maksim Penghargaan (MPENG) muncul dalam bentuk pujian tersirat, seperti harapan agar Firaun sadar, serta jawaban bijak yang tidak menjatuhkan. Ini memperlihatkan adab Nabi Musa dalam menghormati meski kepada lawan dakwah. Maksim Kesederhanaan (MKES) tampak dari gaya bicara Nabi Musa yang rendah hati, tidak membesar-besarkan kesalahan lawan, dan tetap menunjukkan kelembutan. Ia tidak menyampaikan ancaman secara langsung atau personal. Maksim Pemufakatan (MPER) tercermin dalam gaya dialog yang mencari titik temu. Kalimat-kalimat ajakan disusun tidak secara frontal, melainkan dengan pendekatan komunikatif demi keberterimaan pesan. Kemudian Maksim Simpati (MSIM) terlihat dari pemilihan kata yang penuh empati, seperti ajakan makan, gembala, dan penyampaian tentang kematian secara halus. Semua ini menunjukkan bahwa Nabi Musa peduli terhadap lawan bicaranya, bukan ingin menjatuhkan. 60 Dinamika: Jurnal Bahasa. Sastra, dan Pembelajarannya Volume 9 . Februari 2026, halaman 56-65 Tabel 1: Simpulan Dominasi Prinsip Maksim No. Prinsip Maksim Maksim Kebijaksanaan (MKEB) Maksim Penghargaan (MPENG) Maksim Simpati (MSIM) Maksim Kedermawanan (MKED) Maksim Kesederhanaan (MKES) Maksim Pemufakatan (MPER) Jumlah Ayat/Contoh Dominasi Keterangan Paling Dominan Tinggi Sedang Sedang Rendah Digunakan sebagai strategi utama dalam menyampaikan dakwah secara halus. Menunjukkan penghormatan dan harapan perubahan dari Firaun. Menunjukkan empati dalam ajakan, bukan agresi. Menonjolkan pengorbanan dan kepentingan orang Merendahkan diri dan menghindari keangkuhan dalam berbicara. Paling Rendah Berupaya membangun titik temu dalam perbedaan. Maksim Kebijaksanaan (MKEB) adalah prinsip yang paling dominan dalam komunikasi Nabi Musa Alaihi Salam kepada Firaun menurut Surah Taha ayat 43Ae56. Hal ini menunjukkan bahwa strategi utama dakwah bukan hanya isi pesan yang benar, tetapi juga cara menyampaikannya dengan penuh adab, hikmah, dan kelembutan. Penerapan berbagai maksim lainnya melengkapi bentuk kesantunan yang integral dan sangat relevan dalam pembelajaran bahasa, retorika, dan etika komunikasi. Penyusunan Bahan Ajar Urutan penyajian materi dalam modul yang dipilih adalah logika terstruktur . tructural logic/hierarchica. Logika terstruktur disusun berdasarkan informasi awal yang diperlukan untuk memahami informasi berikutnya (Sadjati, t. Logika terstruktur dimulai dari identifikasi pengetahuan materi peserta didik berupa asesmen diagnosis dan diakhiri dengan tahap evaluasi atau latihan. Berdasarkan hasil analisis, disusunlah modul pembelajaran berjudul AuBahasa Santun dalam Nabi Musa sebagai Strategi Jitu Berceramah. Ay Modul ini mencakup tujuan pembelajaran, materi ajar, contoh teks ceramah, latihan, dan penilaian. Empat indikator utama dipakai sebagai dasar: kegunaan, daya tarik, keterbacaan, dan efektivitas. Modul pembelajaran ini tidak membahas dalam satu pertemuan tatap muka di kelas, namun lebih pada penjelasan secara praktis tentang materi ceramah. Harapannya modul pembelajaran ceramah ini bisa digabung dengan materi lain dalam jenjang yang sama, yakni kelas XI fase F. Penjelasan lengkap berikut ini akan menguraikan bagaimana masing-masing komponen dalam modul pembelajaran tidak hanya relevan secara isi, tetapi juga menguatkan capaian pembelajaran Bahasa Indonesia fase F . elas XI) dalam konteks religius dan linguistik. Pertama, modul pembelajaran akan dimulai dengan bagian asesmen diagnosis. Asesmen diagnosis adalah langkah awal untuk memetakan pengetahuan, keterampilan, dan sikap awal peserta didik. Asesmen diagnosis adalah bagian dari cara guru mengecek pemahaman santri tentang topik yang akan dibahas. Asesmen diagnosis mengukur sejauh mana santri mengenal materi dan seluk-beluknya. Asesmen ini tidak ditujukan untuk menilai, melainkan guru dapat merancang dan menyesuaikan pembahasan sesuai dengan apa yang mereka ketahui tentang satu materi di pelajaran bahasa Indonesia. Asesmen diagnosis menjadi sarana penting untuk Ikhsan Abdul Aziz, dkk. : Kesantunan Berbahasa Nabi Musa Alaihi Salam dalam A 61 mengukur sejauh mana siswa memahami konsep kesantunan berbahasa, mengenali Nabi Musa, dan memahami struktur teks ceramah. Kedua, tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran merupakan standar kemampuan yang perlu dikuasai oleh siswa. Tujuan berisi pernyataan secara ringkas tentang keterampilan yang perlu dicapai oleh para siswa. Tujuan pembelajaran yang dirancang untuk modul ini mengarah pada kemampuan memahami dan menafsirkan teks ceramah, kemampuan mengidentifikasi strategi kesantunan berbahasa seperti yang dilakukan oleh Nabi Musa, dan kemampuan mengintegrasikan nilai-nilai kebahasaan dan religius dalam praktik berbahasa. Konsep ini sejalan dengan analisis peneliti bahwa bahasa santun dalam Nabi Musa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga strategi dakwah yang penuh hikmah dan kemuliaan akhlak. Pernyataan ini dibuktikan sebagaimana ditunjukkan dalam penggunaan maksim-maksim seperti kebijaksanaan, penghargaan, simpati, dan lainnya. Ketiga, gambar/ilustrasi materi. Gambar atau ilustrasi materi adalah pemahaman awal tentang materi sebelum masuk ke pemahaman yang kompleks. Materi dihubungkan dengan apaapa yang terjadi di kehidupan nyata manusia agar siswa memahami bahwa pembahasan di kelas itu juga berdampak pada aktivitas manusia. Ilustrasi visual mampu meningkatkan daya tarik dan imajinasi peserta didik dan membantu pemahaman konteks dakwah Nabi Musa. Keempat, infografik. Infografik adalah sebuah informasi yang dibuat dalam bentuk visual dengan penambahan elemen-elemen grafis pendukung. Infografik dibutuhkan agar informasi yang disampaikan lebih menarik untuk dicerna para siswa. Infografik adalah cara ideal untuk menyajikan klasifikasi 6 maksim kesantunan dalam bentuk ringkas dan visual. Infografik ini menjadi penghubung langsung antara teori pragmatik dengan materi ajar yang konkret dan Visualisasi ini juga mendukung peserta didik dalam menginternalisasi nilai-nilai kesantunan lebih cepat. Kelima, pemahaman. Pemahaman berisi cakupan informasi penting tentang definisi, isi, dan sebagainya tentang ceramah. Pemahaman disusun untuk memberikan informasi menyeluruh mengenai topik tertentu. Para siswa bisa lebih memahami isi materi, karena seluk-beluk tentang apa dan bagaimana topik ceramah ada pada bagian pemahaman. Bagian ini berfungsi menggali makna dari ayat-ayat QS. Taha yang telah dianalisis dan keterkaitan antara isi ayat, konteks dakwah, dan bentuk kebahasaan santun. Keenam, linguistik. Linguistik adalah ilmu yang mempelajari bahasa, baik dari segi struktur maupun fungsinya dalam komunikasi manusia. Pada bagian linguistik atau kebahasaan dihadirkan materi tentang ciri-ciri kebahasaan sesuai dengan konten ceramah. Bagian ini adalah ruang untuk membedah struktur kalimat langsung dan tidak langsung, kalimat imperatif, dan ciri-ciri kebahasaan teks ceramah lainnya. Ketujuh, contoh teks. Contoh teks membantu siswa dalam mempelajari dan memahami penggunaan bahasa dalam ceramah. Contoh teks disusun dengan memberikan model yang konkret tentang bagaimana teks itu seharusnya ditulis dan disusun. Contoh teks ceramah mengangkat Nabi Musa dan bagaimana cara mengaplikasikan strategi kesantunan. Hal ini relevan dengan tujuan dalam penyusunan modul pembelajaran yang tidak hanya tentang akademik, tetapi juga membentuk karakter dan akhlak peserta didik dalam menyampaikan gagasan, nasihat, dan pendapat. 62 Dinamika: Jurnal Bahasa. Sastra, dan Pembelajarannya Volume 9 . Februari 2026, halaman 56-65 Kedelapan, latihan. Bagian latihan menjadi instrumen evaluatif yang berfungsi untuk mengukur kemampuan siswa menerapkan strategi kebahasaan santun dalam menyusun dan menyampaikan ceramah dan mendorong siswa berpikir kritis dan reflektif. Latihan dimasukkan dalam buku teks pelajaran karena bagian ini penting untuk diajarkan agar guru dapat mengukur pengetahuan dan keterampilan para siswa. Modul pembelajaran ini lebih menarik karena tidak hanya fokus pada aspek kebahasaan, tetapi mengintegrasikan nilai-nilai keislaman (Nabi Mus. dan etika berbahasa dalam keterampilan berceramah. Para siswa sering mendengar kisah para nabi, tetapi modul ini menjadikan kisah itu sebagai bahan ajar yang aplikatif. Hal ini membuat pembelajaran lebih dekat dengan dunia mereka dan menumbuhkan kecintaan kepada Al-QurAoan dan adab dalam Agar lebih jelas, berikut adalah desain modul pembelajaran materi ceramah pelajaran Bahasa Indonesia yang telah peneliti susun. Tanggapan Guru dan Siswa Angket untuk guru disebarkan melalui Google Formulir kepada sembilan guru Bahasa Indonesia yang aktif mengajar di lingkungan Pesantren Al-MaAotuq. Namun, dari jumlah tersebut hanya empat guru yang berpartisipasi dalam mengisi angket. Meskipun jumlah responden relatif sedikit, data yang diperoleh tetap dapat memberikan gambaran awal mengenai tanggapan para guru terhadap bahan ajar yang telah dikembangkan. Hasilnya menunjukkan bahwa guru menilai bahan ajar sangat layak, sistematis, serta menggabungkan nilai kebahasaan dan religius secara Angket untuk siswa/peserta didik disebarkan dalam bentuk lembar kertas kepada siswa dan siswi kelas XI MA Al-MaAotuq. Jumlah siswa yang dipilih untuk mengisi angket sebanyak 20 orang dari total 130 siswa laki-laki, dengan tingkat kehadiran dan pengisian angket mencapai Sementara itu, 20 siswi yang dipilih dari total 88 siswi perempuan, sebanyak 19 siswi mengisi angket dan 1 siswi tidak hadir karena sedang mengikuti program remedial. Total siswa yang mengisi angket adalah 39 dari total siswa dan siswi kelas XI sebanyak 218. Pemilihan responden dilakukan secara acak, dengan mempertimbangkan bahwa sebagian besar kelas lainnya merupakan peserta didik yang diajar langsung oleh peneliti. Hal ini dilakukan untuk menjaga objektivitas penilaian serta menghindari potensi bias dalam respons yang diberikan. Berdasarkan hasil angket yang diisi oleh 39 peserta didik terhadap bahan ajar ceramah yang diambil dari Nabi Musa alaihi salam dalam terjemah Al-QurAoan, dapat jelaskan bahwa secara umum peserta didik memberikan tanggapan yang sangat positif. Hal ini terlihat dari persentase pilihan sangat setuju (SS) dan setuju (S) yang mendominasi hampir seluruh indikator Sebanyak 97,44% peserta didik menyatakan bahwa bahan ajar ini membantu mereka memahami nilai-nilai kesantunan dalam berbicara, menandakan bahwa substansi bahan ajar berhasil menyampaikan pesan moral yang menjadi tujuan utama. Sebanyak 94,87% juga menyatakan bahwa Nabi Musa membantu mereka memahami cara menyusun ceramah yang santun dan Islami, serta bahwa bahasa yang digunakan dalam bahan ajar mudah dipahami. Ini menunjukkan bahwa aspek kebahasaan dan pendekatan religius dalam penyampaian materi berhasil menjangkau siswa dengan efektif. Ikhsan Abdul Aziz, dkk. : Kesantunan Berbahasa Nabi Musa Alaihi Salam dalam A 63 Selain itu, 94,87% peserta didik menyatakan bahwa secara keseluruhan, bahan ajar ini sangat membantu proses belajar ceramah Bahasa Indonesia, serta 89,74% merasa lebih termotivasi untuk menjadi penceramah yang menggunakan bahasa santun, dan persentase yang sama mengatakan bahan ajar membantu memahami struktur dan ciri kebahasaan teks ceramah. Hal ini menandakan bahwa materi tidak hanya diterima secara afektif, tetapi juga kognitif dan Dalam hal keterhubungan dengan kehidupan nyata, 84,62% menyatakan bahwa contoh ceramah dalam bahan ajar relevan dengan kehidupan mereka sebagai pelajar. Adapun aspek penerapan isi bahan ajar ke dalam praktik ceramah mendapat persentase 76,92%, menandakan bahwa sebagian besar siswa merasa mampu mengaplikasikan materi dalam penyusunan dan penyampaian ceramah. Namun, pada indikator kepercayaan diri setelah mempelajari bahan ajar, hanya 66,67% peserta didik yang merasa lebih percaya diri dalam menyusun dan menyampaikan teks ceramah. Ini menunjukkan adanya ruang perbaikan, khususnya dalam aspek penguatan praktik dan pembimbingan lebih lanjut agar siswa merasa lebih siap tampil berbicara di depan umum. Berdasarkan Penelitian yang telah dilakukan, secara keseluruhan angka kumulatif dari seluruh indikator menunjukkan dominasi tanggapan positif, dengan total 369 dari 429 tanggapan berada pada kategori SS dan S. Artinya, 86% jawaban menunjukkan kepuasan dan keberterimaan yang tinggi terhadap bahan ajar tersebut. Hal ini membuktikan bahwa bahan ajar ini layak untuk digunakan dan dikembangkan lebih lanjut dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, khususnya materi ceramah berbasis nilai keislaman dan kesantunan. Perhitungan ini sebagaimana yang dijelaskan oleh Sugiyono . dengan langsung menyimpulkan setiap aspek pada indikator pernyataan dan berikut adalah rekap perhitungannya. PENUTUP Penelitian ini menunjukkan bahwa kesantunan berbahasa dalam Nabi Musa Alaihi Salam sebagaimana tercantum dalam terjemah Al-QurAoan Surah Taha ayat 43Ae56 memiliki kekayaan nilai pragmatik dan etika komunikasi yang tinggi. Melalui pendekatan teori maksim kesantunan . ebijaksanaan, kedermawanan, penghargaan, kesederhanaan, pemufakatan, dan simpat. , ditemukan bahwa dialog Nabi MusaAiterutama saat menghadapi FirAoaunAitidak hanya sarat dengan pesan ketauhidan dan kebenaran, tetapi juga dibingkai dengan strategi bahasa yang santun, lembut, dan penuh hikmah. Temuan ini kemudian dijadikan dasar dalam penyusunan bahan ajar ceramah Bahasa Indonesia untuk kelas XI fase F yang bertajuk Bahasa Santun dalam Nabi Musa sebagai Strategi Jitu Berceramah. Penyusunan modul dilakukan secara sistematis dengan memperhatikan aspek kebahasaan, nilai-nilai kesantunan profetik, serta relevansi materi dengan kehidupan peserta didik di lingkungan pesantren. Bahan ajar yang dikembangkan terbukti layak, inspiratif, dan Implikasinya guru disarankan untuk menggunakan kisah Nabi sebagai model pembelajaran berbasis karakter. Kurikulum Bahasa Indonesia juga perlu membuka ruang integrasi antara teori kebahasaan modern dan nilai-nilai Islam. 64 Dinamika: Jurnal Bahasa. Sastra, dan Pembelajarannya Volume 9 . Februari 2026, halaman 56-65 DAFTAR PUSTAKA