Journal of Mandalika Literature. Vol. No. 2, 2025, e-ISSN: 2745-5963 Accredited Sinta 5, https://sinta. id/journals/profile/12219 Available online at: http://ojs. com/index. php/jml PENGARUH LEVERAGE. CAPITAL INTENSITY RATIO (CIR). DAN INTENSITAS PERSEDIAAN (IIR) TERHADAP EFFECTIVE TAX RATE (ETR) PADA SUB SEKTOR PERTAMBANGAN YANG TERDAFTAR DI BEI Muhammad Firdaus1. Nurul Huda2. Nurhayati3 Program Studi Manajemen. Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Bima 1,2,3 e-mail: muhammadfirdaus. stiebima21@gmail. com, nurulhuda. stiebima@gmail. stiebima@gmail. Abstract: This study aims to determine the effect of Leverage. Capital Intensity Ratio (CIR), and Inventory Intensity Ratio (IIR) on Effective Tax Rate (ETR). In this study, a quantitative approach was used, and the instruments used were financial statements obtained from the Annual Reports of each mining sub-sector company listed on the IDX for the last 5 years. The data analysis techniques used in this study include Classical Assumption Tests. Multiple Linear Regression Analysis. Correlation Coefficients. Determination Coefficients. T-Tests, and FTests, utilizing the SPSS Version 23 program. The results of this study indicate that Leverage and Inventory Intensity Ratio (IIR) do not significantly affect the Effective Tax Rate (ETR), while Capital Intensity Ratio (CIR) significantly affects the Effective Tax Rate (ETR). Simultaneously. Leverage. Capital Intensity Ratio (CIR), and Inventory Intensity Ratio (IIR) do not significantly affect the Effective Tax Rate (ETR) in the mining sub-sector listed on the Indonesia Stock Exchange (BEI). Keywords: Leverage. Capital Intensity Ratio. Inventory Intensity, and Effective Tax Rate. Abstrack: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Leverage. Capital Intensity Ratio (CIR), dan Intensitas Persediaan (IIR) Terhadap Effective Tax Rate (ETR). Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah menggunakan metode pendekatan kuantitatif, dan instrument yang digunakan berupa laporan keuangan yang diporeleh dari Annual Report masing-masing perusahaan subsektor pertambangan yang terdaftar di BEI selama 5 tahun terakhir. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Uji Asumsi Klasik. Analisis Regresi Linear Berganda. Kofisien Korelasi. Kofisien Determinasi. Uji Persial (T), dan Uji Simultan (F), dengan menggunakan bantuan program SPSS Versi 23. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa Leverage dan Intensitas Persediaan (IIR) tidak berpengaruh signifikan terhadap Effective Tax Rate (ETR), dan Capital Intensity Ratio (CIR) berpengaruh signifikan terhadap Effective Tax Rate (ETR). Dan secara simultan Leverage. Capital Intensity Ratio (CIR). Intensitas Persediaan (IIR) tidak berpengaruh signifikan terhadap Effective Tax Rate (ETR) pada subsektor pertambangan yang terdaftar di BEI. Kata Kunci: Leverage. Capital Intensity Ratio. Intensitas Persediaan, dan Effective Tax Rate. Pendahuluan Pajak merupakan sumber perhatian utama bagi para pembisnis karena pajak dapat mengurangi sedikit demi sedikit laba setiap perusahaan. Akibatnya setiap perusahaan saling bersaing untuk membayar pajak dengan sedikit mungkin. Hal ini berbeda dengan pemerintah yang menggangap bahwa pajak merupakan salah satu sumber pendapatan yang sangat penting bagi suatu negara, dan juga pemerintah akan berusaha untuk mengumpulkan uang yang paling Namun di balik itu sulit bagi pemerintah untuk menangani terjadinya penghindaran dan penggelapan pajak. Seperti yang telah dilakukan oleh perusahaan PT. Adaro Energy Tbk, pada tahun 2019 yang telah melakukan penghindaran pembayaran pajak sebesar 1,75 triliun rupiah, hal ini membuktikan bahwa penghindaran pajak merupakan hal yang biasa dalam dunia bisnis di negara indonesia. Dibalik itu perusahaan dapat mengurangi tarif pajak efektif dengan menggunakan bebagai strategi seperti akuntansi untuk menjaga pajak serendah mungkin. Menurut UU No. 36 Tahun 2008 tarif pajak di Indonesia saat ini adalah sebesar 25 persen, oleh karena itu para This is an open-access article under the CC-BY-SA License. ekonom telah berusaha untuk mengusulkan solusi pembayaran pajak serendah mungkin, dan bahkan jika tarif pajak ini benar-benar dapat mencerminkan beban pajak bisnis. Seperti yang telah di ungkapkan oleh Putri . , salah satu cara untuk mengukur seberapa baik sebuah perusahaan mengelola pajaknya adalah dengan melihat persentase tarif pajak efektifnya . ffective tax rat. Menurut (Astuti & Aryani, 2. , tujuan penggunaan effective tax rate untuk mengukur penghindaran pajak adalah untuk memberikan gambaran secara keseluruhan beban pajak yang akan berdampak pada laba akuntansi yang dapat dilihat pada catatan laporan Adapun faktor-faktor yang dapat mempengaruhi industri dalam membayarkan pajaknya yang pertama adalah leverage yaitu hutang. Rasio leverage menjelaskan awal dana operasi yang digunakan oleh suatu perusahaan. Rasio leverage juga menggambarkan risiko yang dihadapi perusahaan (Nurjanah et al. , 2. Leverage merupakan suatu perbandingan yang mencerminkan besarnya hutang yang digunakan untuk pembiayaan oleh perusahaan dalam menjalakan aktivitas operasinya (Praditasari & Setiawan, 2. Aspek kedua yang diprediksi yang mempengaruhi Effective Tax Rate dalam penelitian ini adalah Capital Intensity Ratio (CIR) perusahaan mempunyai banyak kebutuhan terutama yang berhubungan dengan anggaran. Kebutuhan anggaran yang berawal dari angsuran adalah berupa hutang untuk perusahaan serta anggaran yang didapat dari pemilik yang merupakan modal sendiri. Menurut (Ambarukmi & Diana, 2. rasio intensitas modal adalah kegiatan permodalan perusahaan yang berhubungan dengan investasi dalam bentuk aktiva tetap. Perusahaan dapat menggunakan masa manfaat aset tetap mereka untuk perencanaan pajak. Selain itu besarnya intensitas persediaan dapat menimbulkan biaya tambahan yang dapat mengurangi laba perusahaan. PSAK No 14 (Revisi 2. menjelaskan jumlah pemborosan . ahan, tenaga kerja, atau biaya produks. , biaya penyimpanan, biaya administrasi dan umum, dan biaya penjualan yang dikeluarkan dari biaya persediaan dan diakui sebagai beban dalam periode terjadinya biaya. Biaya tambahan yang timbul akibat investasi perusahaan terhadap persediaan akan mengurangi jumlah pajak yang dibayarkan perusahaan. Adanya hubungan linear antara laba perusahaan dengan pajak yang dibayarkan oleh perusahaan menyebabkan penurunan pembayaran pajak yang dilakukan oleh perusahaan (Darmadi & Zulaikha, 2. Perusahaan subsektor pertambangan adalah perusahaan yang bergerak dibidang industri pertambangan yang memilki kegiatan yang dimulai dari mencari, menemukan, menambang, mengolah hingga memasarkan bahan galian seperti . ineral, batu bara dan miga. yang bernilai ekonomis. Industri pertambangan dikenal luas sebagai industri yang memiliki resiko yang sangat tinggi sebagai usaha yang berkenaan dengan sumber daya alam yang tidak dapat dibaharukan dan usaha ekonominnya lebih banyak ditentukan oleh pasar yang bersifat sangat musiman. Perusahaan subsektor pertambangan merupakan salah satu sektor industri pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Perkembangan industri pertambangan begitu pesat saat ini dan semakin besar dimasa yang akan datang. Hal ini disebabkan oleh potensi geologi Indonesia yang sangat kaya akan bahan tambang. Diawal tahun 1938, industri pertambangan mulai bermunculan dan mulai tahun 80-an, industri pertambangan sudah mulai terdaftar di BEI. Dan objek dalam penelitian ini yang akan ditelit adalah perusahaan subsektor pertambangan yang terdaftar di BEI sebanyak 5 perusahaan yaitu PT. Alfa Energy Investama Tbk. PT. Super Energy Tbk. PT. Saranacentral Bajatama Tbk. Central Omega Resources Tbk. PT. Indal Aluminium Tbk. Dan berikut ini disajikan data laporan keuangan 5 perusahaan dalam bentuk rupiah yang digunakan dalam penelitian ini. Tabel 1. Data total Hutang. Total Aset Tetap. Total Aset. Total Persedian. Beban Pajak. Laba Sebelum Pajak (Disajikan Dalam Rupia. NAMA PERUSAHAAN TOTAL ASET TOTAL ASET TETAP TOTAL PERSEDIAAN BEBAN PAJAK LABA SEBELUM PAJAK TAHUN PT. ALFA ENERGI INVESTAMA TbK (FIRE) PT. SUPER ENERGY Tbk (SURE) PT. SARANACENTRAL BAJATAMA Tbk (BAJA) PT. CENTRAL OMEGA RESOURCES Tbk (DKFT) PT. INDAL ALUMINIUM Tbk (INAI) TOTAL HUTANG Sumber: Data Diolah 2025 Berdasarkan tabel 1 diatas dapat diamati bahwa masing-masing perusahaan menunjukan peningkatan total hutang yang beragam selama periode 2019-2023, diketahui total hutang pada (FIRE), mengalami peningkatan total utang di tahun 2019, 2021, dan 2023. hal ini terjadi adanya fluktuasi kebutuhan pembiayaan, yang kemungkinan besar disebabkan oleh pembiayaan proyek baru atau ketergantungan terhadap dana eksternal untuk menjaga keberlanjutan operasi. Sementara itu, (SURE) dan (BAJA) mengalami peningkatan total utang pada tahun 2019 serta periode 2022Ae2023. Pola ini menunjukkan bahwa setelah masa pandemi, kedua perusahaan tersebut kembali membutuhkan pendanaan tambahan, baik untuk pemulihan kinerja maupun penyesuaian struktur modal. Sedangakn (DKFT) mengalami peningkatan total hutang yang konsisten selama empat tahun berturut-turut, dari 2020 hingga 2023. Hal ini mencerminkan strategi pembiayaan jangka panjang yang lebih agresif, kemungkinan untuk mendanai pertumbuhan atau menutupi kekurangan kas internal secara bertahap. (INAI), mengalami peningkatan ditahun 2020-2022, hal ini dapat dikaitkan dengan upaya mempertahankan operasional selama pandemi dan periode pemulihan. Total aset pada (FIRE), mengalami penurunan ditahun 2020-2022. Hal ini disebabkan dampak dari pandemi COVID-19 yang menyebabkan terganggunya aktivitas operasional. Sementara itu, (SURE), mengalami penurunan aset pada tahun 2019 dan 2022, hal ini terjadi karena efisiensi operasional atau menghemat bisnis akibat fluktuasi harga energi. Sebaliknya total asset pada (BAJA), mengalami penurunan ditahun 2020Ae2021, dan sempat meningkat ditahun 2022, namun kembali menurun pada tahun 2023. Hal ini terjadi karena ketidakstabilan produksi dan permintaan pasar di industri yang sangat terpengaruh oleh kondisi ekonomi Dan total aset pada (DKFT), mengalami penurunan ditahun 2020Ae2021 yang kemungkinan disebabkan oleh kerugian operasional atau pelepasan aset tetap untuk meningkatkan likuiditas. Sementara total asset pada (INAI), mengalami penurunan total aset ditahun 2019 dan 2023. Penurunan ini dapat dikaitkan dengan kebijakan restrukturisasi perusahaan atau ketidakmampuan menghasilkan laba yang cukup untuk menambah atau mempertahankan nilai asetnya. Total aset tetap (FIRE), mengalami penurunan pada tahun 2019Ae2020, dan sempat meningkat pada 2021Ae2022, namun kembali menurun pada tahun 2023, fluktuasi ini mencerminkan ketidakstabilan dalam investasi aset jangka panjang, kemungkinan akibat penyesuaian kapasitas produksi atau pelepasan aset. Sebaliknya berbeda pada (SURE) hanya mencatat penurunan aset tetap pada tahun 2020, yang mungkin disebabkan oleh efisiensi selama masa pandemi. Sementara pada (BAJA), menunjukkan pertumbuhan aset tetap yang stabil selama lima tahun berturut-turut, mengindikasikan strategi ekspansi jangka panjang yang Sebaliknya berbeda pada (DKFT), mengalami penurunan aset tetap secara bertahap dari tahun 2020 hingga 2023, yang diakbitkan adanya restrukturisasi usaha atau pelepasan aset akibat tekanan finansial. kemudian pada (INAI), mengalami penurunan ditahun 2019, dan sempat meningkat selama 2 tahun, lalu kembali menurun pada 2022 dan meningkat lagi di Hal ini mencerminkan fluktuasi strategi investasi yang disesuaikan dengan kondisi keuangan dan pasar. Total persediaan pada (FIRE), mengalami penurunan selama 2 tahun dari tahun 2020Ae Hal ini disebabkan oleh penurunan aktivitas operasional atau efisiensi penyimpanan pasca pandemi covid 19. Sementara total persediaan pada (SURE), mengalami penurunan ditahun 2020, dan sempat meningkat kembali ditahun 2021, namun kembali menurun ditahun 2022Ae2023. Hal ini menunjukkan ketidakstabilan permintaan atau strategi penyesuaian volume Sementara pada (BAJA), mengalami penurunan ditahun 2019, dan sempat meningkat ditahun 2020Ae2022, dan kembali menurun pada tahun 2023. Pergerakan ini mengindikasikan penyesuaian terhadap kondisi pasar dan strategi produksi yang dinamis. Kemudian total persediaan pada (DKFT) mengalami penurunan dari tahun 2020-2022, yang dapat mencerminkan penurunan aktivitas penambangan atau efisiensi rantai pasok. Selanjutnya total persediaan pada (INAI) mengalami penurunan ditahun 2019 dan ditahun 2023, yang mengindikasikan adanya penyesuaian kapasitas produksi atau pengendalian biaya dalam menghadapi fluktuasi permintaan. Beban pajak pada (FIRE), mengalami peningkatan ditahun 2020 dan 2022, yang kemungkinan besar disebabkan oleh peningkatan laba kena pajak seiring membaiknya kinerja pasca-pandemi. Sementara pada (SURE), mengalami peningkatan ditahun 2020, namun kembali menurunan ditahun 2021, lalu kembali meningkat ditahun 2022-2023. Hal ini menunjukkan adanya pemulihan pendapatan setelah penurunan sementara di tahun 2021. Kemudian beban pajak pada (BAJA), mengalami peningkatan ditahun 2020-2022 dan kemudian Kembali menurun ditahun ditahun 2023, yang mengindikasikan perbaikan profitabilitas perusahaan, sebelum akhirnya menurun kembali pada 2023 kemungkinan akibat penurunan laba atau insentif pajak tertentu. (DKFT) mengalami peningkatan beban pajak ditahun 2019, dan sempat menurun ditahun tahun 2020, namun kembali meningkat di tahun 2021Ae2022, hal ini mencerminkan kondisi pendapatan usaha yang pulih secara bertahap. Sedangkan beban pajak pada (INAI), mengalami peningkatan ditahun 2020Ae2021, kemudian sempat menurunan ditahun 2022, lalu meningkat kembali ditahun 2023. Hal ini menunjukkan adanya fluktuasi signifikan dalam performa laba perusahaan yang berdampak langsung pada beban pajak terutang. Laba sebelum pajak penghasilan (FIRE), mengalami penurunan selama periode 20212023. Penurunan ini dapat mencerminkan penurunan kinerja operasional, peningkatan beban usaha, atau tekanan dari faktor eksternal seperti harga komoditas dan biaya energi. Sementara laba sebelum pajak pada (SURE), mengalami penurunan ditahun 2021Ae2022, yang dapat mengindikasikan penurunan efisiensi atau melemahnya pendapatan usaha. Kemudian laba sebelum pajak pada (BAJA), mengalami penurunan laba ditahun 2019, dan kemudian sempat meningkat tahun 2020Ae2021, lalu kembali menurun pada 2022Ae2023. hal ini menunjukkan volatilitas kinerja yang erat kaitannya dengan kondisi pasar dan beban produksi. Sementara pada (DKFT), mengalami penurunan laba sebelum pajak selama tiga tahun dari tahun 20192021 lalu kembali meningkat ditahun 2022 dan 2023, hal ini dapat dikaitkan dengan peningkatan harga komoditas atau perbaikan efisiensi operasional. Sedangkan pada (INAI), mengalami penurunan laba sebelum pajak ditahun terakhir 2022Ae2023, kemungkinan besar karena menurunnya permintaan atau meningkatnya biaya produksi dan distribusi Berdasarkan uraian permasalahan pada tabel 1 diatas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul AuPengaruh Leverage. Capital Intensity Ratio (CIR), dan Intensitas Persediaan (IIR) Terhadap Effective Tax Rate (ETR) Pada Sub Sektor Pertambangan Yang Terdaftar Di BEIAy Adapun penelitian ini merupakan kebaruan dari penelitian Widia Irma Yunita dan Atik Djajanti dengan Judul Penelitian AuPengaruh Leverage. CIR. Dan IIR Terhadap ETR pada Perusahaan yang Terdaftar Sebagai Saham LQ 45 Periode 2016-2019 Dengan Profitabilitas Sebagai Variabel ModersasiAy. Metode Penelitian Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan pendekatan kuantitatif asosiatif. Menurut (Sugiyono, 2. , penelitian asosiatif merupakan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dua variabel atau lebih yang mempunyai hubungan sebab akibat terhadap variabel lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mencari tahu ada tidaknya pengaruh variabel Leverage (X. Capital Intensiy Ratio (CIR) (X. , dan Intensitas Persediaan (IIR) (X. , terhadap Effective Tax Rate (ETR) pada subsektor pertambangan. Instrumen Penelitian Instrumen penelitian adalah suatu alat yang digunakan untuk mengukur fenomena maupun sosial yang diamati (Sugiyono, 2. Dalam penelitian ini instrument yang digunakan berupa data sekunder dalam bentuk laporan keuangan, yang meliputi total hutang, total aset, total aset tetap, total persediaan, beban pajak, dan laba sebelum pajak selama periode lima tahun, yakni dari tahun 2019-2023. Populasi Dan Sampel Penelitian Populasi merupakan suatu wilayah generalisasi yang mencakup sekumpulan objek atau subjek dengan jumlah dan karateristik tertentu yang telah ditentukan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan yang terdaftar di BEI sejumlah 63 Sampel adalah bagian dari jumlah dan karateristik yang dimiliki oleh populasi tersebut, (Sugiyono, 2. Sampel dalam penelitian ini yaitu berupa laporan keuangan dalam bentuk rupiah yang lengkap selama 5 tahun berturut-turut dengan jumlah data (N) sebanyak 25 dari tahun 2019-2023. Dengan Teknik sampling yang digunakan adalah Purposive Sampling. Menurut Sugiyono . , purposive sampling adalah Teknik untuk menentukan sampel dengan pertimbangan tertentu. Dengan kriteria. Tabel 2. Daftar Sampel Penelitian No. KRITERIA SAMPEL Perusahaan Subsektor Pertambangan Yang Terdaftar di BEI. Perusahaan Yang Menerbitkan Laporan Keuangan Dalam bentuk Rupiah Selama 5 Tahun Terakhir. Perusahaan Yang Tidak Mengalami Delisting selama Periode 2019-2023 Perusahaan Perusahaan Manufaktur Pertambangan Yang Diteliti. Data Observasi (Tahu. Jumlah Data Penelitian . JUMLAH Lokasi Penelitian Lokasi penelitian dilakukan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan objek penelitian berupa subsektor pertambangan. Data penelitian diperoleh melalui pengunduhan Annual Report, laporan keuangan yang tersedia di website resmi, https://w. id serta website resmi masing-masing perusahaan subsektor pertambangan yang menjadi objek penelitian. Bagian analisis dalam penelitian ini adalah subsektor pertambangan yang terdaftar di BEI selama periode 2019-2023. Teknik Pengumpulan Data Dokumentasi Menurut Sugiyono . , dokumentasi merupakan suatu metode yang digunakan untuk mengumpulkan data dan informasi dalam berbagai bentuk, seperti buku, arsip, dokumen, angka, gambar, laporan, atau keterangan lain yang dapat mendukung suatu Dalam penelitian ini. Teknik dokumentasi dilakukan dengan mengumpulkan data dari laporan keuangan dari 5 perusahaan subsektor pertambangan yang terdaftar di BEI, yaitu PT. Alfa Energy Investama Tbk (INAI). PT. Super Energi Tbk (SURE). PT. Saranacentral Bajatama Tbk (BAJA). PT. Central Omega Resource Tbk (DKFT). PT. Indal Aluminium Tbk (INAI), yang diperoleh melalui website https://w. id, selama periode 2019-2023. Studi Pustaka Menurut Sugiyono . , studi pustaka adalah kegiatan yang berkaitan dengan kajian teoritis dan referensi lain yang berkaitan dengan nilai, budaya, serta literatur yang relevan dengan konteks sosial yang diteliti. Dalam penelitian ini, studi pustaka dilakukan dengan mengacu pada pencarian informasi melalui buku, jurnal, artikel ilmiah, dan literatur yang relevan dengan permasalahan variabel penelitian. Teknik Analisis Data Uji Asumsi Klasik Uji Normalitas Menurut Ghozali . , menyatakan bahwa uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah didalam model regresi, variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal. Dalam pengambilan keputusan uji normalitas yaitu dapat dilihat melalui tabel One-Sample Komolgorov-Sminrov Jika nilai Asymp. Sig . -taile. > 0,05 maka data berdistribusi normal. Sebaliknnya jika nilai Asymp. Sig . -taile. < 0,05 maka data tidak berdistribusi normal. Uji Multikolinearitas Menurut (Ghozali, 2. , uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antara variabel bebas. Uji ini dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya korelasi antara variabel independen dalam persamaan regresi. Model regresi yang baik seharusnya yang tidak terjadi korelasi antara diantara variabel independent. Untuk mengetahui adanya multikolinearitas dengan acuan sebagai berikut: . Jika nilai VIF <10 dan nilai tolerance Ou 0,1, maka tidak terjadi multikolinearitas, . Jika nilai VIF> 10 dan nilai Tolerance O 0,1, maka terjadi multikolinearitas. Uji Heteroskedastisitas Menurut Ghozali . , uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam sebuah model regresi terjadi ketidaksamaan varians dari residual suatu pengamatan yang lain, dengan tujuan untuk memeriksa model regresi Peneliti menggunakan grafik yang digunakan untuk menunjukan pola titik-titik pada grafik Scatterplot Regression, jika gambar titik menyebar dalam bentuk tidak jelas dan berada pada sumbu Y dibawah angka 0, maka uji tersebut tidak terjadi masalah keterokedastisitas. Uji Autokorelasi Autokorelasi merupakan uji yang digunakan untuk mengetahui keadaan dimana pada model regresi terjadi korelasi antara residual pada periode t dengan residual pada periode sebelumnnya . , (Ghozali 2. Model regresi yang baik adalah yang tidak terjadi autokorelasi. Dasar dalam pengambilan keputusan atau tidak terjadinya gejala autokorelasi dengan menggunakan rumus sebagai berikut: . Jika DW < dL atau DW > maka H1 ditolak, artinya terdapat Jika dU < DW < 4-dU maka H0 diterima, artinya tidak terdapat Jika dL < DW < dU atau 4-dU < DW < 4-dL artinya tidak terdapat kesimpulan. Regresi Linear Berganda Menurut (Ghozali, 2. , analisis regresi linear berganda merupakan analisis stastistik yang menghubungkan antara dua atau lebih variabel bebas dan dengan variabel terikat. Analisis regresi linier berganda digunakan untuk menganalisis hubungan antara variabel independent dan variabel dependen. Analisis linear berganda dalam penelitian ini digunakan untuk mengetahui pengaruh Leverage. Cap ital Intensity Ratio (CIR), dan Intensitas persediaan (IIR), terhadap Effective Tax Rate (ETR) pada subsektor pertambangan yang terdaftar di BEI. Y = 1x1 2x2 3x3 e Keterangan: Y = Effective Tax Rate (ETR) a = Konstanta CA. CC. CE = Koefisien regresi XCA = Leverage XCC = Capital Intensity Ratio (CIR) X3 = Intensitas Persediaan (IIR) A = Error Kofisien Korelasi Menurut Ghozali, . , analisis korelasi berganda digunakan untuk mengukur seberapa besar pengaruh variabel-variabel independen secara bersama sama terhadap variabel dependen. Hal ini memungkinkan peneliti untuk mengidentifikasi hubungan linear antara banyak variabel. Sedangkan menurut (Sugiyono, 2. Dengan analisis regresi, analisis korelasi yang digunakan juga menunjukan arah hubungan antara variabel dependen dengan variabel independent selain mengukur kekuatan asosiatif . engaruh/hubunga. Berikut adalah tabel untuk menunjukan tingkat hubungan berdasarkan nilai kofisien korelasi berganda (R): Tabel 3. Tingkat Hubungan Interval Koofisien Tingkat Hubungan 0,00 Ae 0,199 Sangat Rendah 0,20 Ae 0,399 Rendah 0,40 Ae 0,599 Sedang 0,60 Ae 0,799 Kuat 0,80 Ae 1,000 Sangat Kuat Kofisien Determinasi Nilai koefisien determinasi (R. menunjukan persentase pengaruh semua variabel indepeden terhadap variabel dependen baiks secara persial maupun simultan. Menurut Sugiyono, . rumus koefisien determinasi yaitu: KD = R2 X100% Keterangan KD = Koefisien Determinasi R2 = Kofisien Korelasi Uji Hipotesis Uji Parsial (Uji T) Uji Parsial dengan t Test dilakukan untuk mengetahui besarnya pengaruh dari masing-masing variabel indepeden secara sendiri Ae sendiri (Parsia. terhadap Hasil dari uji t sendiri didapatkan dengan membandingkan thitung dan t tabel yang dimana jika thitung lebih besar dari t tabel dengan tingkat kepercayaan 95% atau . -valu. < 0,. , maka Ha diterima, yang artinya variabel independen secara parsial mempengaruhi variabel dependen. Berikut kiriteria dalam pengambilan keputusan adalah sebagai berikut: Jika nilai Sig. < 0,05 atau t hitung > t tabel maka terdapat pengaruh variabel X secara parsial terhadap variabel Y Jika nila Sig. > 0,05 atau t hitung < t tabel, maka tidak ada pengaruh variabel X secara persial terhadap variabel Y Uji Simultan (Uji F) Uji simultan dengan F test ini pada dasarnya dilakukan bertujuan untuk mengetahui pengaruh antara variabel independen terhadap variabel dependen. Hasil dari uji F didapatkan dari membandingkan F hitung dengan F tabel dengan tingkat kepercayaan 95% atau . -value < 0,. , maka Ha diterima artinya variabel independen yang diuji secara bersama-sama (Simulta. memiliki pengaruh terhadap variabel dependen. Dengan variabel dependen. Dengan kriteria sebagai berikut: Jika nilai Sig. < 0,05 atau F hitung > F tabel, maka terdapat pengaruh secara simultan antara variabel independen dengan variabel dependen. Jika nilai Sig. > 0,05 atau F hitung < F tabel, maka tidak terdapat pengaruh secara simultan antara variabel independen dengan variabel dependen. Hasil dan Pembahasan Uji Asumsi Klasik Uji Normalitas Tabel 4. Uji Normalitas One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Normal Parametersa,b Most Extreme Differences Mean Std. Deviation Absolute Positive Negative Test Statistic Asymp. Sig. -taile. Unstandardize d Residual Test distribution is Normal. Calculated from data. Lilliefors Significance Correction. Berdasrkan tabel 4 diatas One-Sampel Kolmogorov-Sminrov Test di atas, dapat dismpulkan bahwa Leverage (X. Capital Intensity Ratio (X. Intensitas Persediaan (X. , dan Effective Tax Rate (Y) dengan nilai signifikan sebesar 0,164 telah memenuhi syarat distribusi normal 0,05. Artinya asumsi normal terpenuhi. Uji Multikolinearitas Tabel 5. Uji Multikolinearitas Coefficientsa Collinearity Statistics Tolerance VIF Leverage Capital Intensity Ratio (CIR) Intensitas Persediaan (IIR) Dependent Variable: Effective Tax Rate (ETR) Model Berdasarkan tabel 5 diatas nilai tolerance dan VIF dari variabel Leverage adalah 0,683 > 0,10 sementara nilai VIF adalah 1,463 < 10,00 dan untuk variabel Capital Intensity Ratio (CIR) adalah nilai tolerance 0,400 > 0,10 sementara nilai VIF adalah 2. 502 < 10,00 kemudian untuk variabel Intensitas Persediaan (IIR) adalah nilai Tolerance 0,406 > 0,10 sementara nilai VIF adalah 2,466 < 10,00 berdasarkan tabel diatas semua menunjukan nilai tolerance untuk setiap variabel lebih besar dari 0,10 dan nilai VIF lebih kecil dari 10,00 maka dapat disimpulkan bahwa dalam model regresi tidak terjadi masalah Uji Heteroskedastisitas Gambar 2. Uji Heteroskedastisitas Dari hasil uji SPSS heterokedastisitas diatas ditemukan bahwa data dalam penelitian ini tidak terjadi heterokedastisitas. Hal ini terlihat pada uji scatterplot dimana sebaran titiktitik tidak terbentuk pola tertentu dan menyebar diatas dan dibawah nila 0 sumbu Y sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi heterokedastisitas. Uji Autokorelasi Tabel 6. Uji Autokorelasi Model Summaryb Model R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin-Watson Predictors: (Constan. Intensitas Persediaan (IIR). Leverage. Capital Intensity Ratio (CIR) Dependent Variable: Effective Tax Rate (ETR) Berdasarkan hasil output SPSS berikut ini menunjukan besar nilai durbin Watson sebesar Nilai DW menurut tabel dengan n = 25 dan k = 3 didapat angka dL = 1. 123 dan dU = 1. 654 sehingga dL < d < dU atau 1. 123 < 1. 891 < 1. 654 maka dapat diartikan bahwa uji autokorelasi tidak ada kesimpulan atau tidaknya gejala autokorelasi. Untuk itu digunakan pengujian Run Test sebagai pengujian autokorelasi. Tabel 7. Uji Run Test Runs Test Test Valuea Cases < Test Value Cases >= Test Value Total Cases Number of Runs Asymp. Sig. -taile. Median Unstandardized Residual Berdasarkan hasil dari ouput SPSS hasil uji Run Test diatas, terlihat nilai Asymp Sig. memilki nilai > 0. 05 yaitu sebesar 0,216. Nilai tersebut menunjukkan bahwa data yang digunakan dalam penelitian ini tidak terjadi kendala autokorelasi. Analisis Regresi Linear Berganda Tabel 8. Analisis Regresi Linear Berganda Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Std. Error (Constan. Leverage Capital Intensity Ratio (CIR) Intensitas Persediaan (IIR) Dependent Variable: Effective Tax Rate (ETR) Standardized Coefficients Beta Sig. Y = 1x1 2x2 3x3 e Y= 58. 480 0,884 -1,808 -2,338 = e Dari tabel 8 diatas Diatas dapat disusun persamaan regresi linear berganda sebagai berikut: Nilai konstanta sebesar = 58. 480 maka artinya bahwa jika Leverage. Capital Intensity Ratio (CIR) dan Intensitas Persediaan (IIR) dianggap 0, maka Effective Tax Rate meningkat sebesar 58. Nilai kofisien 1 = 0,884 artinya bahwa variabel Leverage (X. bertambah sebesar 1% maka variabel Effective Tax Rate (Y) akan mengalami peningkatan sebesar 0,884 dengan asumsi variabel bebas lainnya. Nilai kofisien 2 = -1,808 artinya bahwa nilai variabel Capital Intensity Ratio (X. menurun sebesar 1% maka variabel Effective Tax Rate (Y) akan mengalami penurunan sebesar -1,808 dengan asumsi variabel bebas lainnya. Nilai kofisien 3 = -2,338 artinya bahwa nilai variabel Intensitas Persediaan (X. menurun sebesar 1% maka variabel Effective Tax Rate (Y) akan mengalami penurunan sebesar -2,338 dengan asumsi variabel bebas lainnya. Kofisien Korelasi Berganda Berdasarkan hasil output SPSS pada tabel 6 artinya hubungan antara Leverage. Capital Intensity Ratio (CIR), dan Intensitas Persediaan (IIR) Terhadap Effective Tax Rate dapat dilihat bahwa nilai kofisien korelasi berganda yaitu 0,520 hasil tersebut menjelaskan bahwa terdapat hubungan antara Leverage. Capital Intensity Rati (CIR), dan Intensitas Persediaan Terhadap Effective Tax Rate (ETR) pada subsektor pertambangan yang terdaftar dibursa efek indionesia (BEI). Untuk dapat memberikan interprestasi terhadap kuatnya hubungan maka dapat digunakan pedoman seperti pada tabel 3 Tingkat Hubungan. Dapat disimpulkan pada tabel 3 bahwa hubungan antara Leverage. Capital Intensity Ratio (CIR), dan Intensitas Persediaan (IIR) terhadap Effective Tax Rate (ETR) pada subsektor pertambangan yang terdaftar dibursa efek Indonesia (BEI), sebesar 0,520 berada pada interval 0,40 Ae 0,599 dengan tingkat hubungan sedang. Uji Determinasi Berdasarkan pada tabel 6, diketahui bahwa terdapat pengaruh antara Leverage. Capital Intensity Ratio (CIR), dan Intensitas Persediaan (IIR) Terhadap Effective Tax Rate (ETR) pada subsektor pertambangan yang terdaftar di BEI. Yang besarnya pengaruh ini dapat dinyatakan secara kuantitatif dengan pengujian determinasi lalu diperoleh nilai kofisisen determinasi (R Squar. sebesar 0,270 atau 27% sedangkan sisanya 73% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak ada dalam penelitian ini. Uji Hipotesis Uji Persial (Uji T) Berdasarkan hasil output SPSS pada tabel 8, antara Leverage (X. di peroleh nilai t-hitung = 1,686. Capital Intensity Ratio (X. nilai t-hitung = -2,771, dan Intensitas Persediaan (X. nilai t-hitung = 3,820. Dengan jumlah taraf signifikan 0,05 df = n-k dimana n=sampel dan k=variablel independent dan dependen, 25 - 4 = 21. Sehingga di peroleh nilai t tabel = 1,721. Leverage berpengaruh signifikan secara persial terhadap Effctive Tax Rate (ETR). Dari tabel uraian diatas, diketahui bahwa nilai Sig. variabel Leverage sebesar 109 yang lebih besar dari taraf signifikan sebesar (=0,. , . ,109>0,. Nilai thitung sebesar 1,686 lebih kecil dari nilai t-tabel yaitu 1,721 atau 1,686 < 1,721. Sehingga dapat dismpulkan bahwa tidak terdapat pengaruh signifikan variabel Leverage terhadap Effective Tax Rate (ETR) pada subsektor pertambangan yang terdaftar di (BEI). Maka (H1 ditola. hal ini disebabkan karena penggunaan dana yang berasal dari hutang akan mengakibatkan risiko pada perusahaan tersebut, apabila laba yang diperoleh perusahaan lebih kecil dari biaya bunga, oleh karena itu manajer akan lebih memilih membatasi penggunaan hutang untuk mendanai aset yang dimiliki perusahaan, sehingga perusahaan terhindar dari risiko tidak bisa memenuhi kewajiban membayar hutang dari pada perusahaan harus menambah hutang yang dimiliki hanya untuk mengurangi beban pajaknya melalui bunga hutang, maka dari itu tinggi atau rendahnya leverage tidak berpengaruh terhadap tinggi atau rendahnya effective tax rate (ETR). Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Andreas & Enni Savitri, . yang mengatakan bahwa leverage tidak berpengaruh terhadap effective tax rate (ETR). Namun, hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Rofiah, . yang mengatakan bahwa leverage berpengaruh terhadap effective tax rate (ETR). Capital Intensity Ratio (CIR) berpengaruh secara signifikan secara persial terhadap Effective Tax Rate (ETR). Dari tabel uraian diatas, diketahui bahwa nilai Sig. variabel Capital Intensity Ratio (CIR), sebesar 0. 011 yang lebih kecil dari taraf signifikan sebesar (=0,. , . ,011<0,. Nilai t-hitung sebesar -2. 771 lebih kecil dari nilai t-tabel yaitu 1,721 atau -2. 771 < 1,721. Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan variabel Capital Intensity Ratio (CIR) terhadap Effective Tax Rate (ETR) pada subsektor pertambangan yang terdaftar di BEI. Maka (H2 diterim. hal ini disebabkan perusahaan akan menginvestasikan dana perusahaan yang mengganggur dengan cara berinvestasi dalam bentuk aset tetap, dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan dalam bentuk depresiasi yang timbul dari aset tetap tersebut yang dapat digunakan sebagai pengurang beban pajak. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi capital intensity ratio yang dimiliki perusahaan maka akan memiliki effective tax rate (ETR) yang rendah. Hasil penelitian ini sejalan dengan penilitian yang dilakukan oleh Putri & Lautiana, . yang menyebutkan bahwa terdapat pengaruh signifikan antara CapitaI Intensity Ratio terhadap Effective Tax Rate (ETR). Namun penelitian ini tidak sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan (Ardyansah & Zuklaiha, 2. ) yang mengatakan bahwa tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara Capital Intensity Ratio Terhadap Effective Tax Rate (ETR). Intensitas Persediaan (IIR) berpengaruh secara signifikan secara persial terhadap Effective Tax Rate (ETR). Dari tabel uraian diatas, diketahui bahwa nilai Sig. variabel Intensitas Persediaan (IIR) 055 yang lebih besar dari taraf signifikan sebesar (=0,. , . ,055>0,. Nilai thitung sebesar -2. 031 lebih kecil dari nilai t-tabel yaitu 1,721 atau -2. 031 < 1,721. Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan variabel Intensitas Persediaan (IIR) terhadap Effective Tax Rate (ETR) pada subsektor pertambangan yang terdaftar di BEI. Maka H3 Ditolak hal ini disebabkan karena intensitas persediaan adalah faktor yang sangat penting dimana manajer harus fokus di dalam bisnis perusahaan, karena manajemen tingkat persediaan yang baik dapat menghasilkan biaya produksi yang lebih baik pula di dalam bisnis Hal ini secara langsung juga mempengaruhi tingkat pendapatan dan tingkat beban pajak perusahaan. Hal ini menunjukan bahwa semakin tinggi intensitas persediaan yang dimiliki perusahaan maka akan memiliki Effective Tax Rate (ETR) yang tinggi. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh (Rashid et al. , 2. yang mengatakan bahwa tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara Intensitas Persediaan (IIR) terhadap Effective Tax Rate (ETR). Namun penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Yunita & Djajanti, 2. yang menyatakan bahwa Intensitas Persediaan (IIR) terdapat berpengaruh signifikan terhadap Effective Tax Rate (ETR). Uji Simultan (Uji F) Tabel 9. Uji Simultan (Uji F) Model Regression Residual Total Sum of Squares ANOVAa Mean Square Sig. Dependent Variable: Effective Tax Rate (ETR) Predictors: (Constan. Intensitas Persediaan (IIR). Leverage. Capital Intensity Ratio (CIR) Berdasarkan hasil olahan data SPSS diatas, diperoleh nilai signifikansi untuk pengaruh Leverage (X. Capital Intensity Ratio (X. , dan Intensitas Persediaan (X. secara simultan terhadap Effectuve Tax Rate (Y) adalah F-hitung sebesar 2,590 Menurut (Ghozali, 2. F-tabel diperoleh dari tabel distribusi F, untuk probabilita 0,05 adalah df(N. = k-1 dan df(N. = n-k, dimana K adalah jumlah variabel independent dan dependen n adalah jumlah sampel dalam penelitian ini, jadi df (N. = 4-1 = 3 dan df(N. = 25 - 4 = 21, maka di dapatkan nilai F tabel = 3,07 Leverage. Capital Intensity Ratio (CIR), dan Intensitas Persediaan (IIR) berpengaruh signifikan terhadap Effective Tax Rate (ETR). Dari hasil pengujian tabel 12 diatas diperoleh nilai F-hitung sebesar 2. 590 dengan nilai F- tabel sebesar 3,10 . ,590 > 3,. dengan signifikan 0,080 dengan taraf signifikan sebesar 0,05. Oleh karena itu signifikan lebih besar dari 0,05 . ,080 > 0,. , maka hipotesis ketiga yang menyatakan Leverage. Capital Intensity Ratio (CIR) dan Intensitas Persediaan (IIR) tidak dapat berpengaruh signifikan terhadap Effective Tax Rate (ETR) pada subsektor pertambangan yang terdaftar BEI. Maka H4 ditolak hal ini disebabkan oleh perusahaan dengan tingkat leverage yang tinggi cenderung melakukan manajemen pajak untuk mengurangi kewajiban pajak sebagai pemegang saham, selain itu perusahaan dengan tingkat capital intensity yang tinggi seharusnya memilliki beban penyusutan yang besar sehingga pada akhirnya menurunkan laba pajak. Adapun Intensitas persediaan dapat memengaruhi laba pajak, perusahaan dengan proporsi persediaan yang tinggi cenderung akan mengakibatkan biaya tambahan termasuk penyimpanan dan kerusakan produk sehingga menimbulkan laba kena pajak. Kesimpulan Adapun Kesimpulan Dalam Penelitian ini adalah: Leverage tidak berpengaruh signifikan terhadap Effective Tax Rate (ETR) pada subsektor pertambangan yang terdaftar di BEI. Capital Intensity Ratio (CIR) terdapat pengaruh signifikan terhadap Effective Tax Rate (ETR) pada subsektor pertambangan yang terdaftar di BEI. Intensitas Persediaan (IIR) terdapat pengaruh signifikan terhadap Effective Tax Rate (ETR) pada subsektor pertambangan yang terdaftar di BEI. Leverage. Capital Intensity Ratio (CIR), dan Intensitas Persediaan (IIR) tidak terdapat pengaruh signifikan terhadap Effective Tax Rate (ETR) pada subsektor pertambangan yang terdaftar di BEI. Rekomendasi Adapun rekomendasi dalam penelitian ini adalah: Penulis berharap agar bisa menjadikan penelitian ini sebagai masukan bagi perusahaan dan pemerintah khususnya pada perusahaan subsektor pertambangan untuk dapat memberikan informasi pada perusahaan agar memahami peran Leverage. Capital Intensity Rasio, dan Intensitas Persediaan dalam upaya meningkatkan efesiensi operasional sehingga mampu mengolah sumber daya secara optimal guna berkontribusi terhadap peningkatan nilai perusahaan secara keseluruhan. Penulis merekomendasikan agar ada penelitian selanjutnya untuk menambahkan variabel independen lain yang berpotensi dapat mempengaruhi Effective Tax Rate (ETR), seperti Return On Equty (ROE). Return On Asset (ROA). Ukuran Perusahaan (Firm Siz. , atau Corporate Social Responsibility (CSR) untuk memperoleh hasil penelitian yang lebih komprehenshif mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi tarif pajak efektif khususnya pada sektor pertambangan atau sektor industri lainnya. Daftar Pustaka