Bungkamnya Anak atas Pengalaman Kekerasan Bullying. BUNGKAMNYA ANAK ATAS PENGALAMAN KEKERASAN BULLYING. SYNDROME PENYESUAIAN DIRI ROLAND SUMMIT: STUDY KASUS DI MA MASYITHOH YOGYAKARTA Ahla. AN. Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Abstract: Socialization is education received by society. The first socialization is the family that is the beginning of learning after human beings are born. After the family, the environment is the socialization of children after the family, starting from peers and The third socialization is the school . ormal educatio. , in this school, there are many children begin to develop their The children can become naughty because of their negative society. In this research, the researcher examined the childrenAos silence of bully victims at MA Masyitoh Yogyakarta. The method used was qualitative with purposive sampling technique with students at MA Masyitoh. The results of this research indicated that the children do not dare to reveal that they are the victims of bully becauseof : 1. Secret, 2. Powerlessness, 3. Self-Adjustment, 4. Delay, and 5. Recall. Keywords: Socialization, the silence of Children. Victims of Bully Pendahuluan Anak merupakan harapan bagi setiap orang tuanya, serta merupakan generasi penerus dalam kehidupan Berkaitan dengan undangAeundang perlindungan anak nomor 23 tahun 2002 menerangkan bahwa : Amanah dan karunia Tuhan Yang Maha Esa, yang dalam dirinya melekat harkat dan martabat sebagai manusia seutuhnya, maka ia perlu mendapat kesempatan yang seluas-luasnya untuk tumbuh dan berkembang secara optimal, baik fisik, mental maupun sosial, dan perlu dilakukan upaya perlindungan untuk mewujudkan kesejahteraan anak dengan memberikan jaminan Volume 9. Nomor 1. Juni 2017 M. Ahla. terhadap pemenuhan hak-haknya serta adanya perlakuan tanpa Anak merupakan anugerah dan amanah dari tuhan untuk meneruskan keluarga, bangsa dan negara. Ada 3 faktor penentu perkembangan anak dalam tumbuh kembang, yaitu keluarga, lingkungan sosial, dan sekolah. Pertama pembentukan karakter anak adalah keluarga merupakan lembaga pertama yang ditemui anak, tempat belajar dan berkembang untuk pertama kali sejak anak lahir. Lingkungan pertama kali anak mengenal aturan yang berlaku lingkungan dan masyarakat adalah lingkungan keluarga. Dalam keluarga khususnya orang tua sebagai pengasuh, pembimbing, pemelihara, dan pendidik terhadap anaknya. 2 Kedua adalah lingkungan sosial merupakan tempat tinggal dan berinteraksi dengan orang lain yang lebih luas. Ketiga adalah sekolah, yang sama halnya keluarga dan lingkungan Sekolah merupatan tempat anak mendapatkan pendidikan dan juga mediaperantara bagi pembinaan jiwa anak. Sekolah bukan hanya menyediakan pelajaran formal, tetapi sekolah menyediakan berbagai fasilitas untuk menyalurkan bakat anak yang 1 Paul Moedikno dalam romli atmasasmita, problem kenakalan anak-anak remaja, (Bandung: Armico,1. , hlm. 2 Nashariana. Perlindungan Hukum Pidana Bagi Anak di Indonesia, ( Jakarta: PT. RajaGrafindo,2. , hlm. Ibid. , hlm. Komunitas menumbuhkan tingkah laku . bagi anak. Dari ketiga sosialisasi anak . eluarga, lingkungan sosial, dan sekola. memiliki agen . kepribadian seorang anak. Di keluarga, orang tua yang menjadi agen penentu Di lingkungan sosial, masyarakat dan teman bermain yang menjadi agennya, sedangkan di sekolah guru dan teman sekolahnya yang menjadi agennya. Akan tetapi dewasa ini, banyak kejadian bullying yang terjadi di sekolah menengah. Kasus bullying di lingkungan sekolah semakin meluas. Pada beberapa negara telah dilakukan penelitian terkait kasus bullying, dan hasilnya, sebanyak 15% - 20% anak- anak amerika pernah melakukan penindasan secara berulang . ntimidasi, pengasingan, atau kekerasan fisi. oleh teman Aetemannya selama masa sekolah (Nansel & rekan dalam Mitsopoulou & Giovazolias. Pada penelitian lain sebanyak 29,4% sampel dari remaja melaporkan pernah mengalami berbagai macam bentuk bullying oleh temannya (Psalti & rekan, dalam Mitsopoulou & Giovazolias, 2. Menurut beberapa penelitian, kasus bullying terjadi pada masa sekolah menengah (Nansel,dkk 2. Karena masa remaja awal merupakan masa yang kritis di mana remaja mulai mencari peran sosial baru serta status dalam kelompok sebaya, hal tersebut 4 Nashariana. Perlindungan Hukum Pidana Bagi Anak di Indonesia, ( Jakarta: PT. RajaGrafindo,2. , hlm. Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam Bungkamnya Anak atas Pengalaman Kekerasan Bullying. dapat memotivasi perilaku agresif, terutama pada siswa yang naik dari sekolah dasar ke sekolah menengah (Pellegrini & Long, 2. Perilaku Bullying menurut The World Health Organization merupakan intensitas penggunaan kekuatan fisik dan psikologis secara sengaja untuk mengancam, melawan pada orang lain ataupun melawan kelompok kemungkinan terluka, kematian, luka psikologis, gangguan perkembangan, atau perampasan secara berulang (Espelage & Hong, 2. Kejadian Bullying banyak terjadi pada siswa terutama di tingkatan SMA, dalam penelitan ini melakukan penelitian di MA Masyitoh Yogyakarta. Melihat banyaknya korban bullying yang jaang mengadu pada guru BK. Maka peneliti melihat teori syndrom penyesuaina diri pada siswa MA Masyitoh. Metode Kajian Penelitian penelitian lapangan . ield researc. yang bersifat kualitatif. Dalam penelitian ini langsung di lapangan dan kepada Responden yang diambil dengan cara purposive sampling, dan di MA Masyitoh memiliki 3 tngkatan yaitu: kelas X. XI. XII. Dan untuk responden yang diteliti merupakan anak kelas XI yang tertekan dan kena 5 Etta Mamang Sangadji. Metodologi Penelitian: Praktis dalam Penelitian. (Yogyakarta: CV. Andi Offse. Hal. bully anak lainnya. Metode analisis data yang digunakan yaitu metode deskriptif analisis. Metode deskriptif analisis adalah suatu usaha untuk suatu data, kemudian diusahakan adanya analisis dan penafsiran data. Langkah-langkah dalam penelitian dengan metode deskriptif analisis adalah membandingkan persamaan dan perbedaan fenomena tertentu, kemudian mengambil bentuk studi komparatif, mengadakan penelitian, menetapkan standart . ormatif ), kedudukan . kemudian menarik Hasil Kajian Teoritis dan Pembahasan: Syndrome Penyesuaian diri Banyak ketakutan anak mengunggap bahwa dia korban bullying karena adanya lingkungan yang terkonstruksi. Dan mengandung faktor psikologis seperti malu, bingung. (Summit, 1. Ada lima Kategori dalam teori penyesuaian diri menurut Summit . Secrecy (Kerahasiaa. Adanya intimidasi, stigmatisasi, isolasi, ketidak berdayaan dan merasa malu pada dirinya sendiri tentang realitas bahwa dia menjadi korban bulyying yang memalukan bagi Winarno Surachmad. Pengantar Penelitian Ilmiah Dasar (Bandung Tarsito: 1. Ibid. , hal. Volume 9. Nomor 1. Juni 2017 M. Ahla. dirinya untuk diketahui banyak Helplessness (Ketidakberdayaa. Untuk mengungkapkan secara langsung anak merasa tidak Ketidakberdayaan disebabkan oleh perasaan anak subordinate ketika berhadapan dengan yang berwenang. Entrapment and Accommodation (Terperangkap dan penyesuaian Dihadapkan terhindarkan, yang menunjukkan situasi anak tidak berdaya, belajar menyesuaikan diri atau coping atas kejadian bullying. Bentuk dilakukan anak meliputi mencoba menenangkan diri dan tidak mudak terpengaruh pada sikap bullying yang diterimanya. Delayed. Coflicted Unconvincing Disclosure (Keterlambatan dan penarikan Hampir anak korban bullying tidak korban bullying dan menunda memberitahukan pada orang lain karena merasa malu atau Penundaan tersebut menunjukkan bahwa keraguan akan kreadibilitas yang Retraction . enarikan kembal. Dalam suatu kondisi dibawah tekanan, mungkin saja anak, orang tua akan memutar balikkan fakta Komunitas bahwa telah membully. Situasi ini di hadapkan karena ketidakpercayaan dengan orang lain, dukungan yang sedikit, dan pergolakan dalam Syndrome Penyesuaian Diri dalam Kasus Bullying di MA Masyitoh Setiap sekolah banyak kriteria anak di dalamnya, baik anak yang terkenal baik, rajin, bandel, dan nakal. Seperti halnya di MA Masyitoh anak- anak juga memiliki multikultural di dalamnya karena banyaknya anak dari asal daerahnya seperti berasal dari jogjakarta, magelang, bahkan ada yang dari luar pulau seperti jambi dan palembang. Dari Multikultural tersebut juga banyak kepribadian yang sudah melekat pada anak di MA Masyitoh. Maka tidak dapat dipungkiri juga bullying juga terjadi terhadap anak di MA Masyitoh. Bullying tersebut selama beberapa tahun tidak terdengar oleh para guru sehingga setelah banyak anak yang mengetahui bullying tersebut maka gurupun baru mengetahui kasus bullying di MA. Pembungkaman anak yang tidak bisa mengungkapkan bahwa dia korban bullying dapat dijelaskan dengan syndrom penyesuaian diri. Rahasia. Perasaan malu yang dialami korban merupakan bukti fenomena konstruksi dari budaya indonesia yang menunjukkan Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam Bungkamnya Anak atas Pengalaman Kekerasan Bullying. kejelekan sendiri merupakan hal yang memalukan. Budaya Diam yang telah terkonstruksi menjadi cara aman yang sering kali digunakan korban maupun keluarga untuk tidak melaporkan tentang korban bully (Ullman dan Filipas, 2. Di sisi lain pengungkapan tidak terjadi karena korban bully merupakan hal memalukan (Paine dan Hansen, 2. Ketidakberdayaan. Secara seperti diskriminasi, migrasi dan kemiskinan menjadi penghambat pengungkapan bullying (Fontes dalam Alaggia, 2. Penyesuaian diri. Di Indonesia konstruksi sosial mengenai penerimaan atas pengakuan korban juga merupakan fenomena Korban Bullying merupakan hal yang memalukan untuk diungkapkan (Sarah dan Filipas, 2. Ketidaksiapan korban dalam menanggapi reaksi sosial berakibat pada kesulitan coping dan penyesuaian diri ( Jonzon dan Lindbland, 2. Penundaan. Perkembangan berdampak pada individu dalam penyesuaian diri sebagai korban. (FarrellAos Dipietro. Runyan dan Fredrickson, 1. menyatakan bahwa kematangan Keterbatasan kognisi anak berujung pada ketidakpahaman anak dalam memaknai bentuk kekerasan Widom dan Morris . menyatakan bahwa faktor personAos cognitive appraisal, yaitu perbedaan dalam memaknai setiap kejadian memberikan efek terhadap anak. Sedangkan menurut Bussey dan Grimbeek, . alam Paine dan Hansen, 2. menyatakan bahwa kemampuan sosial anak yang meningkat berpengaruh terhadap kesadaran akan dampak dan keuntungan yang akan diperoleh. Penarikan kembali. Di sisi lain anak tidak mau mengungkapkan minimnya support keluarga. Akibat penundaan yang sering dilakukan korban dan keluarga dikarenakan adanya perasaan malu jika kejadian tersebut terungkap publik. Fenomena psikologis seperti ini menurut summit . menyatakan bahwa anak mau mengungkap atau tidak mengungkap adalah pengingkaran dan persetujuan untuk mengungkap lebih dahulu serta pengulangan statemen kembali setiap waktu. Penutup Bullying merupakan perlakuan yang termasuk tindakan kriminal. Volume 9. Nomor 1. Juni 2017 M. Ahla. Yang terjadi dari berbagai kalangan terutama pada anak sekolah Dalam penelitian ini menyimpulkan korban bully yang terjadi di MA Masyitoh tidak berani atau enggan membicarakan tentang kejadian bully di sekolah karena syndrom penyesuaian diri. Terdiri Dari tersebut dapat di simpulkan bahwa korban bully kebanyakan tidak memberitahu kepada yang lain karena takut, malu, dan bahkan dia merasa terkucilkan di kelompok Rahasia : sang anak merahasiakan atas tindakan bully dikarenakan takut dan malu atas kejadian bully yang menimpanya. Ketidakberdayaan : ketakutan yang terjadi karena anak mersa jikalau cerita bully menyebar dia akan kena bully yang lebih dari Penyesuaian diri : Karena sudah terbiasa di bully dan ketakutan yang dialami maka korban lebih nyaman tidak mengatakan kepada siapapun atas bllying yang terjadi. Penundaan: terhadap bully yang terjadi karena korban tidak tau kepada siapa dia harus mengadu dan benarkah bila dia mengadu kepada guru tersebut dia akan aman terhadap bully yang Penarikan kembali : karena malunya tindakan bully yang dialaminya maka dia bersifat pasif dan menyendiri dan bahkan sukar bergaul pada teman yang Alaggia. Many way of telling: Expanding coceptualizations of child sexual abuse disclosure. Child Abuse & Neglect, 28, 12131227. Komunitas Daftar Pustaka