Herbal Medicine Journal e-ISSN 2621-2625 Volume 8 Nomor 2: Agustus 2025 Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Bulbil Porang (Amophophallus muelleri Blume. ) Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus dan Streptococcus mutans Alfi Sapitri1. Eva Diansari Marbun2*. Dian Arisetya3. Retnita Ernayani Lubis4 1,2Fakultas Farmasi dan Ilmu Kesehatan. Universitas Sari Mutiara Indonesia 3 Universitas Deli Sumatera 4Program Studi Pendidikan Biologi. Universitas Islam Sumatera Utara ephalg8@gmail. ABSTRACT Porang is a fruit produced by the porang plant, which is oval in shape like a stone, with a size roughly equivalent to small and large marbles, a blackish-brown color, and grows in the middle of the plant's stem. This analysis aims to identify the antibacterial activity of ethanol extract from porang bulbs (Amorphophallus muelleri Blum. against Staphylococcus aureus and Streptococcus mutans bacteria, as well as to determine the chemical compounds contained in porang bulbs (Amorphophallus muelleri Blum. The powder of Bulbil porang simplisia was purified using 96% ethanol via the maceration technique. The powder simplisia was screened to identify the presence of phytochemical compounds. The antibacterial test was conducted using the Kirby-Bauer method with disk diffusion against Staphylococcus aureus and Streptococcus mutans to identify the inhibition zone. The results showed that the Bulbil porang crude drug contained a moisture content of 08%, water-soluble extract content of 29. 11%, ethanol-soluble extract content of 9. 70%, total ash content of 51%, and acid-insoluble ash content of 91. The porang bulb contains flavonoids, alkaloids, and The ethanol extract of the porang bulb (Amorphophallus muelleri Blum. exhibits antibacterial activity against Staphylococcus aureus and Streptococcus mutans. Keywords: Amorphophallus muelleri Blume. Antibacterial. Bulbil Porang. Staphylococcus aureus. Streptococcus mutans ABSTRAK Porang ialah organ vegetatif yang dihasilkan tanaman porang berbentuk lonjong seperti batu dengan ukuran kurang lebih seperti kelereng kecil dan besar, dengan warna hitam kecoklatan, serta bertumbuh di tengah batang tanamannya. Studi ini dimaksudkan guna mengidentifikasi aktivitas ekstrak etanol Bulbil porang (Amorphophallus muelleri Blum. sebagai antibakeri terhadap bakteri Staphylococcus aureus serta Streptococcus mutans dan mengetahui kandungan senyawa kimia yang terkandung pada Bulbil porang (Amorphophallus muelleri Blum. Serbuk simplisia Bulbil porang diekstraksi pada etanol 96% dengan teknik maserasi. Serbuk simplisia diskrining guna mengidentifikasi adanya kandungan fitokimia. Pengujian aktivitas antibakteri dijalankan dengan bermetode kirby bauer dengan memanfaatkan kertas cakram terhadap bakteri Staphylococcus aureus serta Streptococcus mutans dalam rangka mengidentifikasi zona hambat. Hasil simplisia memperlihatkan bahwa simplisia Bulbil porang mengandung kadar air 6,08 %, kadar sari larut pada air 29,11%, kadar sari larut pada etanol 9,70%, kadar abu total 93,51%, kadar abu tidak larut pada asam 91,96%. Simplisia kata porang mengandung flavonoid, alkaloid, dan tanin. Ekstrak etanol Bulbil porang (Amorphophallus muelleri Blum. memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Streptococcus mutans. Kata kunci: Amorphophallus muelleri Blume. Antibakteri. Bulbil porang. Staphylococcus aureus. Streptococcus mutans Program Studi Sarjana Farmasi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Senior Medan ISSN 2621-2625 Herbal Medicine Journal Volume 8 Nomor 2: Agustus 2025 PENDAHULUAN Tanaman (Amorphophallus muelleri Blum. menjadi satu dari sekian tumbuhan yang telah lama dikenal oleh masyarakat sejak jaman pendudukan jepang. Namun demikianlah sampai saat ini budidaya porang belum banyak dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Tanaman porang merupakan jenis tanaman umbi-umbian termasuk keluarga Araceae dan kelas Hasil tanaman ini berupa umbi yang mengandung glukomanan yang berbentuk tepung. Glukomanan tersebut apabila diproduksi secara besar-besaran dapat meningkatkan ekspor non migas, devisa Negara, kesejahteraan masyarakat, dan menciptakan lapangan kerja (Nurfiana Andi. Tanaman porang merupakan tanaman yang bertumbuh di hutan tropis. Tumbuhan yang dapat bertumbuh di daratan rendah mudah tumbuh di antara pohon-pohon hutan, contohnya pohon jati. Selain itu, porang memiliki banyak sekali kegunaan khususnya bagi kesehatan serta industri, terutama karena kandungan zat glukomanan yang ada di dalamnya (Naufali dan Putri, 2. Bulbil porang adalah organ vegetatif yang dihasilkan tanaman porang berwarna hitam kecoklatan, dengan bentuk lonjong seperti batu, kurang lebih seukuran kelereng kecil dan besar, yang bertumbuh di tengah batang tumbuhannya. Pada istilah biologi. Bulbil juga dikenal dengan umbi Bulbil/bulbil (Sari dan Suhartati, 2. Tanaman porang (Amorpophallus muelleri Blume. ) merupakan tanaman yang sedang Selain dimanfaatkan sebagai bahan konsumsi, ubi umum dimanfaatkan di industri farmasi serta Masyarakat Cina memanfaatkan tepung ubi sebagai obat tradisional dalam menekan tumor, meredakan asma, dahak, batuk, luka bakar, gangguan hematologis serta kulit, hingga menjadi antioksidan (Ginting dkk. , 2. Salah satu bakteri yang menyebabkan penyakit yaitu bakteri Streptococcus mutans. Bakteri ini merupakan bakteri patogen pada mulut yang disebabkan adanya kelembaban yang tinggi, adanya pangan yang dilarutkan dengan konstan serta partikel kecil makanan yang menjadikan mulut sebagai lingkungan ideal bagi pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans (Wulandari dkk. , 2. Staphylococcus aureus adalah mikroorganisme pathogen yang mampu menyebabkan berbagai penyakit pada Staphylococcus aureus juga mampu membentuk koloni kecil yang berbeda yang menyebabkan infeksi. Staphylococcus sulit disembuhkan dan sering berulang (Maromon et , 2. Pada penelitian yang dilakukan oleh Mahayasih et al. , . yang menggunakan sebanyak 7 konsentrasi pada ekstrak umbi porang dengan terhadap pertumbuhan bakteri coli, pada konsentrasi 9,98 dan 20,1 AAg/ml tidak menemukan adanya zona hambat, pada 39,98 AAg/ml . ,85A0,. AAg/ml . ,86A0,. AAg/ml . ,42A0,. , konsentrasi 149,98 AAg/ml . ,50A0,. , dan konsentrasi 199,98 AAg/ml memiiki zona hambat yang tidak dapat diukur (Mahayasih et al. Herbal Medicine JournalCVolume 5CNomor 2CAgustus 2022 METODOLOGI Metode yang dimanfaatkan ialah Laboratorium Universitas Sari Mutiara Indonesia untuk pengujian Aktivitas Ekstrak Bulbil Porang (Amorphophallus muelleri Blum. Terhadap Pertumbuhan Bakteri Staphylococcus aureus dan Streptococcus mutans. HASIL DAN PEMBAHASAN Determinasi Tumbuhan Identifikasi tumbuhan yang dijalankan di Herbarium Medanense. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Sumatera Utara (USU) menyatakan bahwa tumbuhan yang digunakan dalam Bulbil (Amorphophallus muelleri Blum. Karakteristik Simplisia Hasil Pemeriksaan Makroskopik Hasil makroskopik diperoleh bahwa Bulbil porang memiliki bentuk bulat dan ISSN 2621-2625 Herbal Medicine Journal Volume 8 Nomor 2: Agustus 2025 sedang, berbintik-bintik, dengan warna permukaan coklat. Daging Bulbil berwarna kuning kecoklatan. Pemeriksaan makroskopik simplisia Bulbil porang yaitu serbuk kering berwarna kuning kecoklatan, bau hambar dan memiliki rasa hambar. Kemudian ekstrak Bulbil porang berbentuk kental, warna kehitaman dan memiliki bau khas. Hasil Pemeriksaan Mikroskopik Pada pemeriksaan mikroskopik serbuk simplisia dari Bulbil porang perbesaran 10x40 menunjukkan adanya amilum, kristal oksalat, dan serabut. Hasil Pemeriksaan Karakteristik Simplisia Hasil pemeriksaan kadar air, kadar sari larut pada air, kadar sari larut dalam etanol, kadar abu total, serta kadar abu tidak larut asam sebagaimana disajikan pada Tabel 1. Tabel 1. Data pemeriksaan karakterisasi simplisia Bulbil porang Referensi (MMI) Parameter Hasil (%) Keterangan SIMPLISIA Kadar Air 6,08 % < 10% Memenuhi Kadar sari yang larut dalam air 29,11 % > 7% Memenuhi Kadar sari yang larut dalam etanol 9,70 % > 3% Memenuhi Kadar abu total 93,51% > 15% Memenuhi Kadar abu tidak larut dalam asam 91,96 % > 1% Memenuhi Kadar air ditetapkan dengan metode destilasi azeotrope, yakni dipanaskan dengan pereaksi toluen hingga menghasilkan terpisahnya seluruh kandungan air pada simplisia. Kadar air yang didapat ialah 6,08%, dimana telah memenuhi persyaratan kadar air simplisia yang tidak melampaui 12% (Ditjen POM RI, 2. Ketetapan ini dimaksudkan guna mengidentifikasi kadar senyawa yang larut dalam air . pada simplisia. Hasil yang diperoleh dari penetapan kadar sari air 29,11%, dan memenuhi syarat dimana lebih dari 7%. Penetapan kadar sari larut etanol dimaksudkan guna mengidentifikasi larutan kadar senyawa pada etanol. Hasil yang diperoleh dari penetapan ini yaitu 9,70%, dan memenuhi syarat dimana lebih dari 3%. Penetapan dimaksudkan guna menghasilkan gambaran kandungan mineral eksternal serta internal pada simplisia dan ekstrak. Hasil penetapan kadar abu total simplisia Bulbil porang yaitu 93,51%. Hasil yang diperoleh dari simplisia memenuhi syarat, dimana kadar abu total simplisia Bulbil porang melebihi 15%. Penetapan kadar abu tidak asam dimaksudkan guna mengidentifikasi perolehan jumlah abu melalui faktor eksternal, diperoleh melalui pengotor dari tanah silikat ataupun pasir. Hasil penetapan pada penelitian ini adalah 91,96 %. Hal tersebut memperlihatkan bahwa, simplisia Bulbil porang memenuhi persyaratan MMI yang dimana lebih dari 1% (WHO, 2. Hasil Pengolahan Sampel Sebanyak 5 kg Bulbil porang yang masih segar disortasi basah, kemudian dicuci serta Bulbil porang yang sudah kering serta terbebas dari air, kemudian dikeringkan pada lemari pengering bertemperatur 50-60AC. Bulbil porang ditandai dengan perubahan warna menjadi kecoklatan dan mengerut. Simplisia disortasi kering dan diserbukkan, kemudian diblender sampai berubah menjadi serbuk yang halus serta disimpan pada wadah tertutup kedap udara. Hasil Pembuatan Ekstrak Bulbil Porang Hasil ekstraksi dari 500gr simplisia Bulbil porang menggunakan pelarut etanol 96% sebanyak 5 liter dan mendapatkan 21 gram ekstrak Bulbil porang dengan persen rendemen sebesar 4,2 gram. Metode yang digunakan untuk memperoleh ekstrak yaitu dengan metode maserasi dengan pelarut etanol 96%. Alasan digunakan metode maserasi sebab merupakan ekstraksi yang cukup efektif dalam mencegah kerusakan ekstrak yang biasanya terjadi (Susanty dan Bachmid, 2. Herbal Medicine JournalCVolume 8CNomor 2CAgustus 2025 ISSN 2621-2625 Herbal Medicine Journal Volume 8 Nomor 2: Agustus 2025 Hasil Skrining Fitokimia Simplisia Bulbil Porang Hasil pemeriksaan skrining fitokimia simplisia Bulbil porang (Amorphophallus muelleri Blum. sebagaimana tersaji pada Tabel 2. Tabel 2. Data Pemeriksaan Skrining Simplisia Bulbil Porang Senyawa Pereaksi Hasil Alkaloid Bouchardat Mayer Dragendroff Wagner Steroida dan Titerpenoid Salkowsky Liberman-Burchad Saponin Aquadest Alkohol 96% Flavonoida FeClCE 5 % MgCssCa HCL CspCa NAOH 10% HCCSOCE CspCa Tanin FeCLCE 1 % Glikosida Mollish Keterangan : ( ) Positif : Mengandung senyawa (-) Negatif : Tidak mengandung senyawa Pemeriksaan dilakukan untuk mengetahui kandungan senyawa yang terkandung pada Bulbil porang (Amorphophallus muelleri Blum. Berdasarkan Tabel 2, dapat dilihat bahwa simplisia Bulbil porang mengandung beberapa senyawa metabolit sekunder diantaranya yaitu Alkaloid. Flavonoid, dan Tanin. Simplisia Bulbil porang tidak mengandung Steroida/Triterpenoid dan Saponin. Berdasarkan tabel 2 diatas menunjukkan bahwa ekstrak umbi porang memiliki senyawa metabolit sekunder Alkaloid. Flavonoid. Tanin. Pada kajian sebelumnya oleh Tue . hasil uji skrining fitokimia yang dilakukan pada ekstrak umbi porang menunjukkan adanya senyawa Pada uji alkaloid, alkaloid dianggap positif jika terjadi endapan atau paling sedikit 2 Berdasarkan pengujian yang dilakukan hasil alkaloid positif yaitu terdapat endapan atau paling sedikit 2 atau 3. Flavonoid sebagai antioksidan yang berperan dalam menghambat radikal bebas. Antioksidan dapat membantu untuk mencegah atau menunda terjadinya perubahan patologis yang berhubungan dengan stres oksidatif yang mempengaruhi proses Herbal Medicine JournalCVolume 8CNomor 2CAgustus 2025 penyembuhan luka (Agarwal, 2. Flavonid mempercepat proses penyembuhan luka terutama karena memiliki aktivitas antimikroba dan adstrigen, yang memainkan peranan dalam peningkatan kecepatan epitelisasi (Ningsih, , 2. Alkaloid memiliki kemampuan sebagai antibakteri/antiseptik dengan mengganggu komponen penyusun peptidoglikan pada sel bakteri, sehingga lapisan dinding selnya tidak membentuk dengan utuh serta mengakibatkan matinya sel terkait (Cahyaningtyas, dkk. , 2. Tanin berfungsi adstrigen yang dapat mengakibatkan pori kulit menciut, kulit mengeras, menghentikan eksudat, serta pendarahan ringan, hingga dapat menutupi luka serta mencegah pendarahan yang biasa timbul pada luka (Makatamba, dkk. , 2. Saponin memiliki kemampuan sebagai pembersih dan antiseptik yang berfungsi membunuh serta mencegah pertumbuhan mikroorganisme yang umumnya muncul pada luka, hingga luka tidak menghasilkan infeksi berat (Epinur, dkk. , 2. Saponin yang terdapat pada tumbuhan dapat memacu pembentukan kolagen yang berperan dalam penyembuhan luka, mampu meminimalkan ISSN 2621-2625 Herbal Medicine Journal Volume 8 Nomor 2: Agustus 2025 fibrosis pada luka, hingga menghambat kali dan 100 kali diketahui bahwa bakteri pembentukan bekas (Mukti, dkk. , 2. Staphylococcus aureus memiliki bentuk bulat Steroid/Triterpenoid . membentuk butiran gelembung bulat mempercepat proses penyembuhan luka dan mengikat warna ungu dari kristal ungu berdarah pada kulit, karena memiliki aktivitas pada saat pewarnaan gram. Dan pada bakteri antimikroba dan adstringen (Cahyani, dkk. Streptococcus mutans memiliki bentuk batang (Basi. membentuk rantai dan mengikat warna Hasil Pewarnaan Gram Bakteri Pewarnaan ungu dari kristal ungu pada saat pewarnaan Gram Bakteri Staphylococcus aureus Dan Streptococcus mutans Hasil Uji Identifikasi Bakteri Hasil pewarnaan gram yang diamati menggunakan mikroskop dengan perbesaran 40 Tabel 3. Hasil Pewarnaan Gram bakteri No. Bakteri Uji Bentuk Warna Klasifikasi Gram Staphylococcus aureus Bulat . Ungu Positif Streptococcus mutans Batang . Ungu Positif Pada Gram Staphylococcus aureus diidentifikasi bakteri bulat, dengan warna ungu yang mengindikasikan bakteri Gram positif, sementara pada bakteri Streptococcus berbentuk batang . , dengan warna ungu yang mengindikasikan bakteri Gram positif. Identifikasi Bakteri Dengan Uji Biokimia Isolat bakteri diidentifikasi secara biokimia dengan memanfaatkan TSIA. SCA. Indol. Katalase. Pada pengujian Triple Sugar Iron Agar (TSIA) pada bakteri Staphylococcus aureus dan Streptococcus mutans menghasilkan warna merah pada bagian slant dan warna kuning . pada bagian butt. Jika slant berwarna merah dan butt berwarna kuning, bakteri mampu memfermentasikan glukosa. Jika slant dan butt keduanya berwarna kuning, maka bakteri juga mampu memfermentasikan sukrosa dan laktosa (Fitriani et al. , 2. Pada pengujian SimmonAos Citrate. Kedua isolat menunjukkan hasil positif, ditandai dengan perubahan warna media dari hijau menjadi biru. Artinya, akteri mampu memanfaatkan sitrat sebagai salah satu sumber karbon untuk pertumbuhannya (Rahayu et al. Pada uji Indol bakteri Staphylococcus aureus menunjukkan hasil negatif, ditandai dengan tidak adanya cincin merah pada permukaan media. Pada bakteri Streptococcus mutans menunjukkan hasil negatif, yang ditandai dengan tidak terbentuknya cincin hijau. Hasil negatif ini menandakan bahwa bakteri tersebut tidak menggunakan triptopan sebagai sumber energinya sehingga bakteri tersebut tidak mampu menghasilkan indol (Rahman & Sari, 2. Pada uji katalase bakteri Staphylococcus aureus menunjukkan hasil positif yang ditandai adanya gelembung- gelembung oksigen. Pada bakteri Streptococcus mutans menunjukkan hasil positif ditandai dengan adanya gelembunggelembung oksigen yang memperlihatkan organisme terkait menghasilkan enzim katalase yang menguraikan hidrogen peroksida menjadi air dan oksigen (Putri et al. , 2. Hasil Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Bulbil Porang Penentuan hasil uji aktivitas antibakteri ekstrak etanol Bulbil porang dilakukan dengan metode kirby bauer menggunakan pencadang Pengukuran diameter di sekitaran mengukur kekuatan hambatan obat terhadap bakteri yang diuji. Zona hambat bening disekitar kertas cakram yang terbentuk diukur menggunakan jangka sorong. Hasil pengukuran Staphylococcus aureus dan Streptococcus mutans dapat dilihat pada Tabel 4. Herbal Medicine JournalCVolume 8CNomor 2CAgustus 2025 ISSN 2621-2625 Herbal Medicine Journal Volume 8 Nomor 2: Agustus 2025 Tabel 4. Hasil Pengukuran Zona Hambat Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Bulbil Porang Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus Konsentrasi Diameter Zona Hambat . Respon (%) Hambatan 11,35 11,40 11,55 11,43A0,10 Kuat 12,70 12,55 12,60 12,61A0,07 Kuat 13,80 13,55 13,75 13,70A0,13 Kuat 14,45 14,60 14,85 14,73A0,12 Kuat 15,45 15,65 15,80 15,63A0,17 Kuat Kontrol ( ) 21,50 21,75 21,80 21,68A0,16 Sangat Kuat DMSO 10% Hasil pengukuran Tabel 4 menunjukkan bahwa pada bakteri Staphylococcus aureus pada konsentrasi 10%, 20%, 30%, 40% serta 50% menunjukkan hasil yang berbeda. Semakin besar konsentrasi maka akan semakin tinggi zona hambatnya. Menurut Sari et al. , parameter kekuatan daya antibakteri berdasarkan diameter zona hambat adalah: O5 mm dikategorikan lemah, 6Ae10 mm sedang, 11Ae20 mm kuat, dan Ou20 mm sangat kuat. Ekstrak Bulbil porang konsentrasi terkecil mampu menghambat perkembangan bakteri Staphylococcus aureus pada konsentrasi 10% dengan diameter 11,43 A 0,10 mm, dan pada konsentrasi 50% menghasilkan diameter zona hambat 15,63 A 0,17 mm, sehingga termasuk kategori kuat. Kontrol positif menggunakan kloramfenikol menunjukkan hambatan sangat kuat dengan diameter 21,68 A 0,16 mm, sedangkan kontrol negatif (DMSO) tidak menunjukkan zona hambat. Tabel 5. Hasil Pengukuran Zona Hambat Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Bulbil Porang Terhadap Bakteri Streptococcus mutans Konsentrasi Diameter Zona Hambat . Respon (%) Hambatan 10,40 10,55 10,65 10,53A0,12 Sedang 11,75 11,55 11,50 11,60A0,13 Kuat 12,25 12,45 12,30 12,33A0,10 Kuat 13,55 13,50 13,40 13,48A0,07 Kuat 14,45 14,30 14,65 14,46A0,17 Kuat Kontrol ( ) 20,60 20,55 20,85 20,66A0,16 Kuat DMSO 10% Hasil Tabel menunjukkan bahwa pada bakteri Streptococcus mutans pada konsentrasi 10%, 20%, 30%, 40% dan 50% menunjukkan hasil yang berbeda. Semakin besar konsentrasi maka akan semakin tinggi zona hambatnya. Diameter daerah hambatan antibakteri yang paling efektif atas pengujian antibakteri ialah 14 mm - 16 mm. Ekstrak Bulbil porang konsentrasi terkecil dapat menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus pada konsentrasi 10% dengan diameter 10,53 A 0,12 mm dan pada konsentrasi 50% memberikan aktivitas antibakteri yang efektif dalam menghambat pertumbuhan bakteri dengan diameter zona hambat 14,46 A 0,17 mm. Kontrol Kloramfenikol dengan respon hambatan kuat yaitu 20,66 A 0,16 mm, kontrol negatif menggunakan DMSO yaitu tidak ada respon Berdasarkan hasil dari pengukuran diameter hambatan pada sampel, dapat dengan jelas diamati bahwa tiap konsentrasinya Herbal Medicine JournalCVolume 5CNomor 2CAgustus 2022 ISSN 2621-2625 Herbal Medicine Journal Volume 8 Nomor 2: Agustus 2025 menghasilkan ukuran diameter berbeda-beda. Aktivitas Bulbil (Amorphophallus muelleri Blum. dengan diameter zona bening berkisar antara 10,5-21,5 pada perlakuan konsentrasi 10% dengan masa inkubasi 24 jam, zona penghambatan pada bakteri uji Staphylococcus aureus berdiameter 11,35 mm. Streptococcus mutans berdiameter 10,40 mm. Pada perlakuan konsentrasi 20% dengan inkubasi 24 jam, zona penghambatan bakteri uji Staphylococcus aureus berdiameter 12,70 mm. Streptococcus mutans berdiameter 11,75 mm. Pada perlakuan konsentrasi 30% dengan inkubasi 24 jam, zona penghambatan bakteri uji Staphylococcus aureus berdiameter 13,80 mm. Streptococcus mutans berdiameter 12,25 mm. Pada perlakuan konsentrasi 40% dengan inkubasi 24 jam, zona penghambatan bakteri uji Staphylococcus aureus berdiameter 14,75 mm. Streptococcus mutans berdiameter 14,5 Pada perlakuan konsentrasi 50% dengan inkubasi 24 jam, zona penghambatan bakteri uji Staphylococcus aureus berdiameter 15,45 mm. Streptococcus mutans berdiameter 14,45 mm. Untuk antibakteri dalam Bulbil porang (Amorphophallus muelleri Blum. dengan berbagai konsentrasi sebagai antibakteri maka digunakan antibiotik kloramfenikol dan DMSO 10% dengan konsentrasi 10%, 20%, 30%, 40%, serta 50% yang diuji aktivitas antibakterinya sebagai uji kontrol. Pada Staphylococcus aureus memiliki zona hambat 21,25 mm dan Streptococcus mutans 20,60 mm. Dan untuk kontrol negatif yaitu DMSO 10% tidak memiliki zona bening. Hal ini memperlihatkan bahwa aktivitas antibakteri dalam ekstrak etanol Bulbil porang (Amorphophallus Blum. mampu menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dan Streptococcus mutans. Pengujian antibakteri dalam ekstrak etanol Bulbil porang (Amorphophallus muelleri Blum. dibuatkan dengan sejumlah konsentrasi: 10%, 20%, 30%, 40%, dan 50%. Semakin tinggi konsentrasi yang diberikan, maka semakin tinggi pula zona hambatnya. Adanya perbedaan diameter dapat dipengaruhi oleh jenis bakteri uji yang Bakteri mempunyai perbedaan Pada konteksnya, senyawa antibakteri dimana suatu bakteri akan membentuk resistensi dalam dirinya yang merupakan mekanisme alamiah dalam mempertahankan hidupnya (Mutscler. Di samping pengaruh jenis bakteri, perbedaan diameternya juga diakibatkan oleh Pada kemampuan dari zat yang kemungkinan dikandung sampel dalam menghambat pertumbuhan bakteri uji. Selanjutnya dilakukan analisa statistik dengan pengujian Annova aktivitas antibakteri pada kelompok uji . kstrak sampe. dan Kloramfenikol sebagai pembanding dan diperoleh hasil bahwa perbedaan konsentrasi berpengaruh pada penghambatan aktivitas bakteri Staphylococcus aureus dan Streptococcus Dan dapat dilihat bahwa ekstrak etanol Bulbil porang (Amorphophallus muelleri Blum. dengan konsentrasi 10%, 20%, 30%, 40%, serta 50% serta Kloramfenikol menunjukkan adanya pebedaan yang signifikan. Ekstrak dengan konsentrasi 10%, 20%, 30%, 40%, serta 50% menunjukkan perbedaan hasil yang signifikan dan Kloramfenikol memperlihatkan perbedaan efek yang signifikan. Melalui temuan ini, ditarik simpulan bahwa keseluruhan konsentrasi ekstrak etanol Bulbil porang (Amorphophallus muelleri Blum. menghasilkan perbedaan dampak dengan kontrol Kloramfenikol, dalam rangka menghambat perkembangan bakteri Staphylococcus aureus serta Streptococcus mutans dengan Kloramfenikol yang menghasilkan efek Ekstrak Bulbil (Amorphophallus muelleri Blum. dengan konsentrasi 10%, 20%, 30%, 40%, serta 50% mampu menghambat perkembangan kedua bakteri serta menghasilkan perbedaan efek dengan Kloramfenikol sebagai pembandingnya. Konsentrasi paling tinggi yang dapat menghambat perkembangan ini ialah 50% dengan rerata diameter zona hambat 12,82 mm bagi bakteri Staphylococcus aureus serta 11,86 bagi Streptococcus Seluruh menghambat perkembangan bakteri di bawah Herbal Medicine JournalCVolume 8CNomor 2CAgustus 2025 ISSN 2621-2625 Herbal Medicine Journal Volume 8 Nomor 2: Agustus 2025 kendali Kloramfenikol sebagai pembandingnya, serta rerata zona hambat 21,86 mm bagi bakteri Staphylococcus aureus dan 20,66 mm bagi bakteri Streptococcus mutans. Uji normalitas terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Streptococcus mutans yaitu p > 0,005. Hasil uji homogenitas pada bakteri Stapylococcus aureus yaitu 0,168>0,05 dan Streptococcus mutans yaitu 0,168>0,05 yang artinya perolehan data bersifat homogen. Dari hasil penelitian yang dilakukan dan pengujian aktivitas antibakteri ekstrak etanol Bulbil porang (Amorphophallus muelleri Blum. dinyatakan bahwa ekstrak Bulbil porang (Amorphophallus muelleri Blum. mampu menghambat perkembangan bakteri Staphylococcus aureus serta Streptococcus mutans. Dilakukan dengan konsentrasi sebesar 10%, 20%, 30%, 40% serta 50% dengan metode cirby bauer . ertas cakra. dan menngunakan media Mueller Hinton Agar (MHA). Aktivitas antibakteri diamati dengan pembentukan zona hambat di sekitaran kertas cakram yang diukur dengan jangka sorong. Kajian ini memanfaatkan media MHA sebab sudah direkomendasikan WHO serta FDA dalam mengujikan antibakteri (Kusumadewi. Hasil pengujian menghasilkan temuan bahwa pada bakteri Staphylococcus aureus dan Streptococcus mutans mendapatkan hasil 0,000<0,05 maka diidentifikasi perbedaan pengaruh pemberian kelompok perlakuan terhadap diameter zona hambat yang Maka hasil uji normalitas pada bakteri Staphylococcus aureus dan Streptococcus mutans terdistribusi normal. Kemudian, diperoleh hasil pada pengujian homogenitas, bahwa data terhadap bakteri Staphylococcus mutans dan Staphylococcus aureus ternyata mempunyai varian sama, karena nilai signifikan p>0,05 sehingga terbukti bahwa data homogen. Usai dijalankan kedua pengujian terkait, selanjutnya pengujian One Way ANOVA dijalankan, dengan mengidentifikasi hasil pengujian terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Streptococcus mutans dihasilkan taraf Sig. 0,000 <0,05 yang dianggap signifikan. Artinya, diidentifikasi perbedaan bermakna nilai rata-rata tiap Pada uji LSD terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Streptococcus mutans memiliki perbedaan rerata signifikan . <0,. Hasil pengujian antibakteri yakni zona hambat di sekitaran sumuran serta diukur diameternya dengan dua sisi berbeda. Hasil selanjutnya dirata-ratakan guna memperoleh Tingginya konsentrasi menghasilkan besarnya daya Kemudian, sebagaimana pengujian yang dimaksudkan guna mengidentifikasi perbedaan signifikan. Apabila taraf Sig. < 0,05, maka diidentifikasi perbedaan rerata pada kelompok pengujian, serta ketika taraf Sig. 0,05, artinya tidak diidentifikasi perbedaan rerata pada kelompok pengujian. Herbal Medicine JournalCVolume 8CNomor 2CAgustus 2025 KESIMPULAN Ekstrak Bulbil (Amorphophallus muelleri Blum. memiliki Staphylococcus aureus dan Streptococcus mutans dengan konsentrasi 10%, 20%, 30%, 40%, serta Pada bakteri Staphylococcus aureus pada konsentrasi terkecil yakni 10% memperoleh zona hambat senilai 11,43 mm serta pada konsentrasi terbesar yakni 50% memperoleh zona hambat senilai 15,63 mm. Pada bakteri Streptococcus mutans pada konsentrasi terendah yakni 10% memperoleh zona hmabta sebesar 10,53 mm, dan pada konsentrasi tertinggi yakni 50% memperoleh zona hambat sebesar 14,46 Golongan senyawa kimia yang terkandung dalam simplisia Bulbil porang (Amorphophallus muelleri Blum. yaitu Alkaloid. Flavonoid, dan Tanin. DAFTAR PUSTAKA