PENGARUH GAYA KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL DAN MOTIVASI TERHADAP KINERJA KARYAWAN PT. SURYA HUTANI JAYA Heru Widodo1. Eddy Soegiarto2. Sarwo Eddy Wibowo3 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda Email : heruwidodo0711@gmail. Keywords : Style Leadership Of Transformasional. Motivation. Performance ABSTRACT Result of analysis indicate that style leadership of transformasional have an effect on to employees performance of PT. Surya Hutani Jaya of Kutai Kartanegara. This Matter because of there are positive influence among both variable. This matter indicate that there are relation or influence positively and signifikan among leadership variable to performance variable. Result of analysis indicate that motivation variable have an effect on to employees performance of PT. Surya Hutani Jaya of Kutai Kartanegara. This Matter because of there are positive influence and signifikan among both variable. This matter indicate that there are relation or influence positively and signifikan among motivation variable work to performance variable. That by simultan Style Leadership variable and Motivation have influence of signifikan to Performance. Is thereby known hence its proven raised hypothesis because of by simultan or at a time independent variables have influence of signifikan to variable of PENDAHULUAN Latar Belakang Kinerja dalam suatu organisasi pada dasarnya merupakan hasil kerja seseorang pegawai atau karyawan selama periode waktu tertentu dalam mencapai tujuan-tujuan organisasi. Kinerja merupakan suatu pencapaian persyaratan-persyaratan pekerjaan tertentu yang secara langsung dapat terwujud dari output yang dihasilkan. Untuk meningkatkan kinerja pegawai perlu upaya pengelolaan manajemen yang baik untuk mengatur sumber-sumber daya yang dimiliki oleh organisasi termasuk sumber daya manusia agar tujuan organisasi dapat tercapai. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kinerja karyawan/ pegawai yakni gaya kepemimpinan dan motivasi. Faktor pertama yang dapat mempengaruhi kinerja karyawan/ pegawai adalah gaya Kepemimpinan merupakan salah satu faktor penting bagi proses pencapaian prestasi kerja yang merupakan tolak ukur bagi kemajuan instansi pemerintah, dengan terwujudnya kinerja akan meningkatkan hasil kerja pegawai serta membantu penyelesaian perkerjaan agar tepat waktu dan terarah. Gaya kepemimpinan mempunyai pengaruh yang cukup penting dalam mencapai sasaran atau tujuan dalam suatu instansi dan yang lebih penting lagi adalah bagaimana caranya agar pemimpin mampu memenuhi harapan, keinginan, kebutuhan dan meningkatkan kinerja pegawainya. Oleh karena itu untuk mencapai tujuan-tujuan organisasi diperlukan peranan seorang pemimpin yang dapat mengayomi pegawainya dengan Faktor kedua yang mempengaruhi kinerja karyawan/ pegawai adalah motivasi kerja. Motivasi merupakan semangat kerja yang timbul dari dalam diri seseorang dan merupakan motor penggerak untuk menciptakan kegairahan kerja dan meningkatkan kinerja pegawai. Motivasi merupakan salah satu faktor penentu bagi pencapaian tujuan suatu organisasi, dimana semangat kerja yang timbul dari dalam diri karyawan untuk melaksanakan tugas dengan senang hati tanpa ada rasa terpaksa dalam bekerja sehingga tercipta kinerja pegawai. Dengan demikian motivasi merupakan dukungan agar pegawai lebih giat dalam bekerja sehingga tujuan organisasi dapat terwujud. Gaya kepemimpinan yang baik akan dapat mengoreksi kelemahan dan mampu mengatasi berbagai perubahan yang terjadi dalam organisasi kerja serta mengatasi berbagai masalah yang munncul, terutama yang berkaitan dengan permasalahan kinerja. Berdasarkan beberapa permasalahan tersebut sudah seharusnya pimpinan PT. Surya Hutani Jaya Kecamatan Muara Kaman untuk dapat bertindak tegas terhadap pegawai yang melanggar aturan dan berkinerja rendah. Obyek penelitian ini dilakukan pada PT. Surya Hutani Jaya Kecamatan Muara Kaman Kabupaten Kutai Kartanegara Provinsi Kalimantan Timur. Wilayah kerja (Lokasi Konsens. terletak di Kecamatan Sebulu dan Kecamatan Muara Kaman Kabupaten Kutai Kartanegara, serta Kecamatan Muara Bengkal Kabupaten Kutai Timur. Sedangkan Izin Perusahaan berdasarkan SK. Menteri Kehutanan No. 156/Kpts-II/1996. Tanggal 8 April 1996 dengan luas 300 Ha. Selama ini pimpinan PT. Surya Hutani Jaya kurang melakukan pembinaan kerja terhadap bawahan terutama yang berhubungan dengan tugas dan tanggung jawab bawahan dalam bekerja, sehingga pekerjaan-pekerjaan menjadi tertunda. Maka dari itu, untuk meningkatkan kinerja karyawan sangat diperlukan peranan seorang pemimpin dalam mengatur dan mengurus pegawai dengan memberikan sanksi tegas terhadap pegawai yang melanggar aturan kerja. Permasalahan selanjutnya berkaitan dengan motivasi kerja karyawan PT. Surya Hutani Jaya antara lain . Belum terpenuhinya kebutuhan fisiologis karyawan secara maksimal yakni kebutuhan dasar atau pokok hidup karyawan seperti sandang, pangan, papan dan lainnya. Belum mendapatkan pendidikan dan pelatihan kerja . terutama pelatihan teknis dalam pengelolaan peralatan kerja, mesin industri, kendaraan opersional dan Belum terpenuhinya kebutuhan sosial seperti kebutuhan asuransi kesehatan, jaminan kecelakaan jiwa, jaminan hari tua, jaminan pensiun dan jaminan pendidikan. Belum terpenuhi secara maksimal kebutuhan penghargaan terhadap hasil kerja seperti kreativitas kerja, keahlian kerja, profesionalisme dan inovasi yang dihasilkan setiap karyawan dalam pengabdiannya. Selain itu permasalahan selanjutnya berkaitan dengan motivasi kerja karyawan yakni pemimpin masih kurang berperan aktif memberikan motivasi kerja kepada pegawai PT. Surya Hutani Jaya sehingga pegawai kurang bergairah dalam bekerja. Motivasi tersebut dapat berupa . dorongan dan arahan dalam melaksanakan pekerjaan, . pemberian semangat kerja berupa penilain hasil kerja, . pemberian bonus dan tunjangan agar pegawai bergairah dalam bekerja. Adapun beberapa permasalahan yang berkaitan dengan peningkatan kinerja diantaranya Keterampilan pegawai dalam bekerja masih kurang maksimal, baik dalam mengelola data, mendesain data teknis, mengawasi pekerjaan teknis, dan menyelesaikan tugas pekerjaan lainnya. Pegawai jarang sekali mengikuti pendidikan dan pelatihan baik pelatihan teknis, pelatihan administrasi, pelatihan pengelolaan keuangan, pelatihan pengelolaan hutan dan lainnya yang bertujuan untuk mengembangkan bakat dan kemampuan pegawai dalam bekerja. Kreatifitas kerja pegawai juga masih kurang memadai terutama dalam penguasaan teknologi, informasi dan bidang-bidang teknis lainnya. Pegawai kurang kreatif dalam menyelesaikan tugas dan pekerjaan. Pegawai masih kurang disiplin dalam bekerja sehingga tidak memperhatikan ketentuan dan peraturan yang telah diatur dalam organisasi kerja, seperti datang terlambat, sering izin keluar, pulang lebih cepat. METODE Definisi Operasional . Gaya Kepemimpinan Transformasional (X. merupakan kemampuan seorang pemimpin dalam bekerja melalui bawahannya untuk mentransformasikan secara optimal sumber daya organisasi dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Indikatornya meliputi : mempunyai visi dan misi yang jelas, bertindak optimis, menjadi motor penggerak, berani mengambil resiko, selalu memotivasi bawahan Motivasi (X. merupakan semangat yang timbul dari dalam diri pekerja yang mendorong, mengarahkan, dan memberikan gairah kerja kepada pekerja kearah pencapaian tujuan organisasi, atau dengan kata lain motivasi adalah kemauan untuk melaksanakan tugas-tugas kerja, dengan indikatornya yakni meliputi :terpenuhinya kebutuhan fisiologis, terpenuhinya kebutuhan rasa aman, terpenuhinya kebutuhan sosial, terpenuhinya kebutuhan akan penghargaan, terpenuhinya kebutuhan aktualisasi diri Kinerja (Y) adalah suatu hasil kerja yang dicapai seorang pegawai dalam melaksanakan tugastugas yang dibebankan kepadanya oleh unit kerjanya, dengan indikatornya meliputi : Ketepatan kerja, ketelitian kerja, pencapaian hasil kerja, kehadiran kerja dan peraturan kerja Teknik pengumpulan Data Teknik pengumpulan data yang dipergunakan oleh penulis dalam penelitian ini, adalah dengan cara: Penelitian Lapangan (Field Work Researc. Penelitian ini langsung dilaksanakan terhadap objek penelitian yang menjadi tempat atau lokasi dalam penelitian ini maka pengumpulan data melalui tahap yaitu: Observasi yaitu pengamatan awal terhadap objek data yaitu perusahaan tempat penelitian dimana objek masalah yang akan dianalisis berada, sehingga dapat memahami gambaran awal tentang objek penelitian. Wawancara yaitu teknik pengumpulan data dengan mengadakan tanya jawab langsung dengan pihak yang berkepentingan agar di peroleh informasi secara langsung, mendalam, terstruktur dan individual. Kuesioner yaitu mengedarkan daftar pertanyaan terhadap subyek penelitian guna memperoleh data secara terperinci, data yang didapat bisa berbentuk tertutup dimana jawaban sudah disediakan ataupun dapat berbentuk terbuka dimana jawaban tidak disediakan. Penelitian kepustakaan (Library Research ) Penelitian ini dilakukan dengan cara mengumpulkan data sekunder dari dokumendokumen perusahaan yang berhubungan dengan masalah yang diteliti, yaitu berupa data absensi karyawan, dan data-data historis lain dari karyawan yang tersimpan dalam arsip Alat Analisis Alat analisis data yang digunakan untuk mengetahui pengaruh variabel independen terhadap suatu variabel dependen adalah dengan menggunakan regresi linier berganda. Dalam menganalisis data penulis menggunakan alat bantu komputer program Statistical Product dan Service Solutions (SPSS). Rumus persamaan regresi berganda yang digunakan dalam penelitian ini sebagai = a b1X1 b2X2 e (Sugiyono, 2007 : . Dimana : = Kinerja X1 = Gaya Kepemimpinan X2 = Motivasi = Koefisien Regresi Partial = Konstanta = Error atau sisa . Penelitian ini menggunakan skala linkert dengan menetapkan skor terlebih dahulu terhadap jawaban responden agar data yang dihimpun memiliki ukuran yang tegas dan jelas yakni skala lima jenjang atau skor 5 . ,2,3,4,. Alat pengukur data yang akan digunakan untuk menjaring data berupa tanggapan responden yang menjadi sampel penelitian. Metode penelitian ini merupakan inti dari kegiatan penelitian yang dilaksanakan sesuai kenyataan yang terjadi di Kuisioner disusun dengan menggunakan Skala Linkert dengan 5 alternatif jawaban yang disusun mulai dari jawaban reponden tertinggi hingga terendah. Skor penilaian yang digunakan untuk memahami jawaban reponden dan untuk mempermudah perhitungan secara statistik dalam penelitian ini, maka disajikan sebagai berikut : Table 1. Data Skala Likert Kriteria Kode Sangat Setuju (SS) Setuju (S) Netral (N) Tidak Setuju (TS) Sangat Tidak Setuju (STS) Sumber : Saifudin Azwar . Skor Skala Interval 80 - 1. 60 - 0. 40 - 0. 20 - 0. 00 - 0. HASIL DAN PEMBAHASAN Persamaan Regresi Persamaan regresi yang telah diperoleh dapat dipergunakan untuk memprediksi nilai variabel Gaya Kepemimpinan (X. Motivasi (X. terhadap Kinerja Pegawai (Y) PT. Surya Hutani Jaya. Table 2. Koefisien Korelasi Coefficients. Mode Unstandardized Standardized Coefficients Coefficients Std. Error Beta (Constan. a Dependent Variable: Y Y = 0,120 0,649 X1 0,357 X2 Sig. Dimana = Kinerja X1 = Gaya Kepemimpinan X2 = Motivasi Hasil konstanta menunjukkan angka sebesar 0,120 hal ini berarti bahwa jika tidak ada variabel Gaya Kempimpinan (X. dan Motivasi (X. maka nilai koefisien Kinerja Pegawai (Y) hanya sebesar 0,120 Koefisien variabel Gaya Kepemimpinan (X. bernilai positif sebesar 0,649 artinya jika nilai kepemimpinan semakin besar maka akan semakin meningkat pula kinerja pegawai. Koefisien variabel Motivasi (X. bernilai positif sebesar 0,357 artinya jika nilai motivasi semakin besar maka akan semakin meningkat pula kinerja pegawai. R Square Apabila angka multiple R yang diperoleh mendekati angka satu . maka dapat dikatakan semakin kuat hubungan antara variabel bebas dengan variabel tak bebasnya. Begitu juga sebaliknnya jika angka diperoleh mendekati nol . maka semakin lemah hubungan antara variabel bebas dengan variabel tak bebasnya. Table 3. R Square Model Summary. Std. Error Mode Adjusted of the R Square R Square Estimate 659. a Predictors: (Constan. X2. X1 b Dependent Variable: Y Angka R adalah sebesar 0,659A berarti menunjukan ada hubungan positif/searah diantara variabel indepeden dan dependen. Korelasi atau hubungan antara variabel Gaya Kepemimpinan (X. dan Motivasi (X. terhadap Kinerja Pegawai (Y) sebesar 0,659A berada diatas 0,5 atau sudah mendekati nilai 1,00 atau r = 1. Angka R square atau multivel R adalah 0,434 merupakan angka korelasi yang dikuadratkan yang berasal dari 0,659A. Angka R square disebut juga sebagai koefisien determinasi yang mana dalam perhitungan diatas ialah sebesar 0,434 . A x 100%). Hal ini berarti pengaruh variabel dependen terhadap variabel independen sebesar 43,4%. Adapun sisanya dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak ada dalam penelitian ini. Table 4. Interval Korelasi Interval Coefeicient Correlation 80 - 1. Sangat Kuat 60 - 0. Kuat 40 - 0. Cukup Kuat 20 - 0. 00 - 0. Sumber : Sugiyono, . Rendah Sangat rendah Pada Table interval korelasi tersebut diatas, maka dapat diketahui secara jelas bahwa angka R square atau multivel R pada perhitungan tersebut sebesar 0,434 berada diatas > 0. dengan demikian dapat diketahui secara jelas bahwa keeratan hubungan diantara variabel independen terhadap variabel depeden adalah cukup kuat. Uji Partial (Uji . Table 5. Koefisien Korelasi Coefficients. Unstandardized Standardized Coefficients Coefficients Mode Std. Sig. Error Beta (Constan. a Dependent Variable: Y Untuk mengetahui secara jelas pengaruh antara variabel variabel Gaya Kepemimpinan (X. dan Motivasi (X. terhadap Kinerja Pegawai (Y) maka dapat dilakukan analisis sebagai t Table = t ( . = . ,05 . = 1,658 Hipotesis 1 : H0 : 1 = 0 artinya tidak terdapat pengaruh antara variabel Gaya Kepemimpinan (X . terhadap Kinerja (Y) H1 : 1 O 0 artinya terdapat pengaruh antara variabel Gaya Kepemimpinan (X. terhadap Kinerja (Y) Berdasarkan hasil uji hipotesis dapat diketahui bahwa terdapat pengaruh signifikan di antara variabel Gaya Kepemimpinan (X. terhadap variabel Kinerja (Y) oleh karena nilai t hitung lebih besar dari nilai tTable atau 7,651 > 1,658 dengan nilai signifikansi 0. 000 < 0. 05 maka Hipotesis di terima. Hipotesis 2 : H0 : 1 = 0 artinya tidak terdapat pengaruh antara variabel Motivasi (X . terhadap Kinerja (Y) H1 : 1 O 0 artinya terdapat pengaruh antara variabel Motivasi (X. terhadap Kinerja (Y) Berdasarkan hasil uji hipotesis dapat diketahui bahwa terdapat pengaruh di antara variabel Motivasi (X. terhadap variabel Kinerja (Y) oleh karena nilai t hitung lebih besar dari tTable atau 4,348 > 1,658 dengan nilai tingkat signifikansi 0,000 < 0,05 maka Hipotesis Uji Simultan (Uji F) Berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan alat bantu model statistik atau SPSS, maka diperoleh hasil perhitungan atau output model anova sebagai berikut . Table 6. Uji Simultan ANOVA. Mode Sum of Mean Squares Square Sig. Regression 000. Residual Total a Predictors: (Constan. X2. X1 b Dependent Variable: Y Adapun yang menjadi syarat pengujian hipotesis dalam penelitian ini sebagai berikut : Jika nilai Fhitung > FTable maka Hipotesis Nol (H. ditolak dan Hipotesis Alternatif (H. Jika nilai Fhitung < FTable maka Hipotesis Nol (H. diterima dan Hipotesis Alternatif (H. Berdasarkan output SPSS pada model anova terlihat jelas bahwa secara simultan variabel Gaya Kepemimpinan (X. dan Motivasi (X. memiliki pengaruh signifikan terhadap Kinerja (Y) sebesar 35,218 jika dibanding dengan nilai FTable sig. 95% n - 2 yakni sebesar 3,940. Dengan demikian diketahui nilai Fhitung > FTable atau . ,218 > 3,. dengan signifikansi 0,000 < 0,05 maka hipotesis yang diajukan terbukti kebenarnya oleh karena secara simultan atau serentak variabel-variabel independen memiliki pengaruh signifikan terhadap variabel Uji Asumsi Klasik Untuk mengetahui apakah model yang dihasilkan merupakan model yang menghasilkan estimator linier tidak bias maka perlu dilakukan pengujian gejala penyimpangan asumsi model Pengujian asumsi klasik yaitu asumsi yang mendasari pelaksanaan regresi linier berganda agar hasil olahan data dapat diandalkan. Asumsi pertama yang harus dipenuhi untuk mendapatkan model yang terbaik adalah normalitas, multikolinieritas, heteroskedasitas, dan autokorelasi. Pengujian gejala non autokorelasi merupakan korelasi antara data yang dihitung atau disusun berdasarkan data time series, sedangkan data yang digunakan pada penelitian ini adalah data cross section dimana data yang diambil adalah data-data yang ada pada saat kuisioner yang disebar kepada Normalitas Normalitas digunakan untuk melihat apakah ada data yang dipakai dalam penelitian ini terdistribusi secara normal atau tidak. Model yang baik adalah yang memiliki distribusi data normal atau mendekati normal. Menurut pendapat priyatno . uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah populasi data berdistribusi normal atau tidak. Dengan demikian model yang baik dalam suatu penelitian adalah data yang memiliki distribusi normal atau data yang mendekati normal, sebagai dasar dalam mengukur suatu penelitian yang berskala interval maupun penelitian yang berskala rasio. Dalam pembahasan penelitian ini uji One Sample Kolmogorov-Smirnov dengan mengunakan taraf signifikansi sebesar 0,05. Data dinyatakan berdistribusi normal jika signifikasi lebih besar dari 5% atau 0. Table 7. Uji NormalitasOne-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Normal Parameters. Most Extreme Differences Mean Std. Deviation Absolute Positive Negative Kolmogorov-Smirnov Asymp. Sig. -taile. a Test distribution is Normal. b Calculated from data. Berdasarkan data Table One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test tersebut diketahui bahwa nilai Asymp Sig. -taile. 058 > 0. 05 maka dengan demikian data bertistribusi normal dapat terpenuhi. Adapun kreteria pengambilan keputusan dengan menggunakan analisis grafik p-p plot regresi sebagai berikut . Jika data menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti arah diagonal maka model memenuhi asumsi normalitas. Jika data menyebar jauh dari garis diagonal dan tidak mengikuti arah diagonal maka model tidak memenuhi asumsi normalitas. Untuk membuktikan asumsi tersebut maka untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar grafik p-p plot regresi standardized residual pada halaman berikut ini . Normal P-P Plot of Regression Standardized Residual Dependent Variable: Y Expected Cum Prob Observed Cum Prob Gambar 1. P-P Plot Regresi (Uji Normalita. Diagram P-P Plot adalah salah satu alat yang digunakan untuk pemeriksaan kenormalan Distribusi normal akan membentuk garis lurus diagonal dan plotting data akan dibandingkan dengan garis diagonal. Dari gambar diatas dapat dilihat bahwa plotting data menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal maka model memenuhi asumsi normal. Histogram Dependent Variable: Y Frequency Mean =-3. 91E-15 Std. Dev. =0. N =95 Regression Standardized Residual Gambar 2. Histrogram (Uji Normalita. Berdasarkan hasil uji terlihat bahwa Grafik Histogram memperlihatkan sebaran data menyebar ke seluruh daerah kurva normal, sehingga dapat dinyatakan bahwa data mempunyai distribusi normal. Sementara hasil uji menggunakan P-P Plot menunjukkan bahwa data mengikuti garis diagonal sehingga dinyatakan bahwa data berdistribusi normal. Linieritas Table 8. Linieritas ANOVA Table Sum of Mean Squares Square Sig. Between (Combine. Groups Linearity Deviation from Linearity Within Group Total Pada kolom linearity terlihat nilai signifikansi sebesar 0,000 berada dibawah 0,05. Berdasarkan Table output linieritas tersebut diatas maka dapat diketahui bahwa nilai signifikansi variabel X1 Gaya Kepemimpinan memiliki hubungan yang searah atau linier terhadap variabel Y. ANOVA Table Sum of Mean Squares Square Sig. Between (Combine. Groups Linearity Deviation from Linearity Within Group Total Pada kolom linearity terlihat nilai signifikansi sebesar 0,007 berada dibawah 0,05. Berdasarkan Table output linieritas tersebut diatas maka dapat diketahui bahwa nilai signifikansi variabel X2 Motivasi memiliki hubungan yang searah atau linier terhadap variabel Y. Heteroskedastisitas (Uji Glejse. Uji heterokedasitas bertujuan menguji apakah dalam model terjadi ketidak saman varian dari residual suatu pengamatan kepengamatan yang lain. Jika varian dari residual suatu pengamatan kepengamatan yang lain tetap, maka hal itu disebut homokedasitas dan jika berbeda maka disebut heterokedasitas. Model yang baik dalam suatu penelitian adalah Jika nilai signifikansi antara variabel independent dengan absolut residual lebih dari 0,05 maka tidak terjadi masalah heteroskedastisitas atau disebut homokedastisitas (Ghozali, 2001:. Table. 9 Uji Glejser Unstandardized Test Unstandardized Standardized Coefficients Coefficients Model (Constan. Std. Error Beta Sig. a Dependent Variable: Abs_RES Berdasarkan data Table unstandardized test tersebut diketahui bahwa nilai signifikansi antara variabel independent dengan Absolut residual adalah sebesar 0,833 > 0,05 maka tidak terjadi masalah heteroskedastisitas atau disebut homokedastisitas. Dengan demikian model yang baik dalam suatu penelitian adalah homokedastisitas Berdasarkan hasil dari scatterplot tampak bahwa plot yang terbentuk menyebar tidak memiliki pola tertentu atau menyebar diatas dan dibawah angka nol pada sumbu Y serta dikanan dan di kiri sumbu X. Hal ini menandakan pada model sudah tidak terjadi hubungan antara variabel bebas dengan nilai residual. Dengan demikian asumsi nol heterkodesitas model Multikolinieritas Multikolinieritas menunjukan adanya hubungan antara variabel bebas dalam model. Model yang baik tidak menunjukan adanya gejala multikolinieritas. Pendekatan ada atau tidaknya multikolinieritas dengan melihat nilai VIF. Apabila nilai VIF < 10 maka model bebas dari multikolinieritas Apabila nilai VIF > 10 maka model terdapat multikolinieritas Table 10. Multikolinieritas Coefficients. 95% Confidence Interval Collinearity Correlations Statistics Lower Upper ZeroToleranc Bound Bound Partial Part VIF a Dependent Variable: Y Dari Table diatas terlihat jelas bahwa nilai VIF dari seluruh variabel bebas dalam model analisis collinearity statistics berada dibawah angka < 10 sehingga dapat dikatakan model terbebas dari multikolinieritas atau tidak terdapat mutikolinieritas. Dengan demikian asumsi non multikolinieritas pada model tersebut telah terpenuhi. Autokorelasi Table 11. Autokorelasi Model Summary. Change Statistics DurbinR Square Sig. Watson Change Change Change a Predictors: (Constan. X2. X1 b Dependent Variable: Y Pada Table Durbin Watson . 05 atau 5% n = 50 diperoleh nilai Table dl = 1,623 dan du = 1,709 sedangkan dalam output SPSS menunjukkan nilai Durbin Waston atau dw sebesar 2,370 dan nilai tersebut berada di antara dl < du < dw atau 1,623 < 1,709 < 2,370 maka dapat disimpulkan dalam analisis ini tidak terdapat autokorelasi. PEMBAHASAN Pengaruh Gaya Kepemimpinan (X. terhadap Kinerja (Y) Hasil analisis data dalam penelitian ini menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan transformasional berpengaruh terhadap kinerja karyawan PT. Surya Hutani Jaya Kutai Kartanegara. Hal ini dikarenakan terdapat pengaruh positif diantara kedua variabel dimana nilai thitung lebih besar dari tTable atau 7,651 > 1,658 dengan nilai sig. 0,000 < 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh atau hubungan secara positif dan signifikan diantara variabel kepemimpinan terhadap variabel kinerja. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kinerja pegawai/karyawan dapat dipengaruhi oleh kepemimpinan. Hasil penelitian ini ingin menjelaskan bahwa gaya kepemimpinan pada PT. Surya Hutani Jaya sudah berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Para pegawai sudah dibimbing, dibina dan diarahkan secara maksimal dalam setiap kegiatan maupun dalam pengambilan keputusan terutama yang berhubungan dengan kegiatan-kegiatan kerja dalam unit Pegawai yang dibina secara terus-menerus tentu akan memiliki kemampauan yang baik dalam bekerja dan melaksanakan tugas sehingga kinerja dapat terwujud. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Putri Novitasari dan Budhi Satriyo . AuPengaruh Gaya Kepemimpinan Transformasional dan Motivasi Kerja Terhadap Kinerja KaryawanAy. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan transformasional secara langsung berpengaruh terhadap kinerja pegawai. Dengan demikian hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan kepemimpinan menuju kearah perubahan tentunya akan dapat memberikan pengaruh positif terhadap kinerja pegawai. Kepemimpinan merupakan upaya manajer organisasi dalam membina, mengatur, dan mengorganisir bawahan agar terwujudnya pegawai yang berprestasi. Selanjutnya hasil penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Faris Wiedyono . AuPengaruh Gaya Kepemimpinan Transformasional dan Motivasi Terhadap Kinerja Karyawan (Studi Pada Karyawan PDM Kabupaten Brebe. Ay. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel gaya Kepemimpinan taransformasional memiliki pengaruh signifikan terhadap kinerja Hasil penelitian juga diketahui bahwa variabel gaya kepemimpinan lebih dominan mempengaruhi kinerja pegawai. Hal ini menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan dapat memberikan dampak yang positif terhadap peningkatan kinerja pegawai dalam organisasi kerja. Dengan demikian dapat diketahui bahwa gaya kepemimpinan taranformasional memiliki pengaruh terhadap kinerja karyawan PT. Surya Hutani Jaya Kutai Kartanegara. Hal ini dikarenakan terdapat pengaruh positif dan signifikan diantara variabel independen terhadap variabel dependen. Dalam hal ini gaya kepemimpinan telah memberikan dampak positif dan signifikan terhadap peningkatan kinerja karyawan PT. Surya Hutani Jaya Kutai Kartanegara. Pengaruh Motivasi (X. terhadap Kinerja (Y) Hasil analisis data dalam penelitian ini menunjukkan bahwa variabel motivasi berpengaruh terhadap kinerja karyawan PT. Surya Hutani Jaya Kutai Kartanegara. Hal ini dikarenakan terdapat pengaruh positif dan signifikan diantara kedua variabel, dimana nilai t hitung lebih besar dari tTable atau 4,348 > 1,658 dengan sig. 0,000 < 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh atau hubungan secara positif dan signifikan diantara variabel motivasi kerja terhadap variabel kinerja. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kinerja pegawai/ karyawan dapat dipengaruhi oleh motivasi. Hasil penelitian ini ingin menjelaskan bahwa motivasi kerja dapat meningkatkan gairah kerja sehingga berdampak tehadap kinerja karyawan PT. Surya Hutani Jaya Kutai Kartanegara. Motivasi kerja merupakan suatu dorongan yang dilakukan oleh organisasi kepada pegawainya agar bekerja sesuai dengan tujuan organisasi. Motivasi kerja pegawai PT. Surya Hutani Jaya Kabupaten Kutai Kartanegara terbentuk melalui terpenuhinya kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa aman, kebutuhan dihargai dan kebutuhan kesejahteraan sosial. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Marsono . yang berjudul AuPengaruh Motivasi dan Disiplin Kerja Terhadap Kinerja Karyawan PT. Satwiga Mustika Naga ContractorAy. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa motivasi memberikan pengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan. Motivasi merupakan semangat kerja yang timbul dari dalam diri karyawan yang memberikan dorongan agar pegawai lebih giat dalam bekerja. Selanjutnya hasil penelitian yang dilakukan oleh Ivonne A. S . tentang AuMotivasi. Disiplin, dan Kepuasan Pengaruhnya Terhadap Kinerja Pegawai PT. Pos Indonesia (Perser. Cabang BitungAy. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi memberikan pengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja. Motivasi merupakan daya penggerak atau gairah kerja yang timbul dalam diri pegawai/ karyawan sehingga pegawai menjadi lebih giat dalam bekerja. Motivasi merupakan semangat kerja yang timbul dari dalam diri karyawan yang dapat memberikan semangat atau support bagi karyawan dalam bekerja. Motivasi kerja merupakan faktor yang mendorong, mengarahkan dan menjaga perilaku pekerja kearah pencapaian tujuan organisasi, atau dengan kata lain motivasi merupakan keinginan untuk melaksanakan sesuatu yang dikoordinasikan oleh kemampuan yang dimiliki pekerja untuk memuaskan kebutuhan karyawan. Motivasi merupakan daya penggerak yang membentuk semangat kerja pegawai/ karyawan sehingga pegawai menjadi lebih baik dalam melaksanakan tugasa dan pekerjaan. Dengan demikian dapat diketahui bahwa variabel motivasi memiliki pengaruh terhadap kinerja karyawan PT. Surya Hutani Jaya Kab. Kutai Kartanegara. Hal ini dikarenakan terdapat pengaruh positif dan signifikan diantara variabel independen terhadap variabel dependen. Motivasi kerja karyawan PT. Surya Hutani Jaya Kutai Kartanegara merupakan dorongan semangat kerja atau support yang dilakukan oleh organisasi kepada pegawainya agar bekerja sesuai dengan target yang ingin dicapai. Pengaruh Gaya Kepemimpinan (X. dan Motivasi (X. terhadap Kinerja (Y) Hasil analisis data dalam penelitian ini menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan transformasional dan motivasi berpengaruh terhadap kinerja karyawan PT. Surya Hutani Jaya Kutai Kartanegara. Hal ini dikarenakan secara simultan variabel Gaya Kepemimpinan (X . dan Motivasi (X. memiliki pengaruh signifikan terhadap Kinerja (Y) sebesar 35,218 jika dibanding nilai FTable sebesar 3,940 dengan signifikansi 0,000 < 0,05. Dengan demikian secara simultan menunjukkan bahwa terdapat pengaruh atau hubungan yang signifikan diantara variabelvariabel independen terhadap variabel dependen. Gaya kepemimpinan transformasional merupakan suatu bentuk kemampuan seorang pemimpin dalam bekerja dengan melalui orang lain . untuk mentransformasikan secara optimal sumber daya organisasi dalam rangka mencapai tujuan yang bermakna sesuai dengan target capaian yang telah ditetapkan. Dengan demikian gaya kepemimpinan transformasional pada PT. Surya Hutani Jaya dapat membentuk motivasi kerja karyawan sehingga pegawai mampu berkerja sesuai target yang telah ditetapkan oleh perusahaan dan berdampak terhadap kinerja pegawainya. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan mengenai Gaya Kepemimpinan Transformasional dan Motivasi terhadap Kinerja Karyawan PT. Surya Hutani Jaya dapat peneliti jabarkan sebagai berikut . Bahwa variabel gaya kepemimpinan transformasional memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja pegawai PT. Surya Hutani Jaya. Diketahui bahwa variabel motivasi memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja pegawai PT. Surya Hutani Jaya. Diketahui bahwa varaibel gaya kepemimpinan transformasional dan motivasi kerja memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja pegawai PT. Surya Hutani Jaya. Dengan demikian hipotesis yang diajukan diterima atau terbukti kebenarannya. Saran Hendaknya pimpinan PT. Surya Hutani Jaya Kutai Kartanegara untuk selalu berperan aktif dalam melakukan pembinaan, pengaturan, pengawasan, dan pengorganisasian kerja kepada karyawan agar terwujud kinerja yang baik. Motivasi kerja hendaknya selalu dilakukan oleh pemimpin untuk memberikan dorongan kerja kepada karyawan PT. Surya Hutani Jaya Kutai Kartanegara agar pegawai bersemangat untuk melaksankan tugas dan pekerjaannya dengan baik. Kedepannya kinerja karyawan/pegawai PT. Surya Hutani Jaya Kutai Kartanegara agar lebih dapat ditingkatkan lagi dalam bekerja melalui kepemimpinan transformasional dan pemotivasian kerja. REFERENCE