ARTIKEL PENELITIAN TINDAK TUTUR SISWA KELAS Vi DALAM INTERAKSI DI LUAR PROSES BELAJAR MENGAJAR DI SMP N 27 PADANG. Oleh: ARTHIA WULANDIKA NPM 1110013111036 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS BUNG HATTA PADANG TINDAK TUTUR SISWA KELAS Vi DALAM INTERAKSI DI LUAR PROSES BELAJAR MENGAJAR DI SMP N 27 PADANG Arthia Wulandika . Marsis . Syofiani . Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia . Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Bung Hatta Padang E-mail: arthiawulandika01@gmail. ABSTRACT This research aim to for the described of form act to say class student of Vi in interaction outside process learn to teach in SMP N 27 Padang. Theory used to analyse usage of form act to say class student of Vi is theory told by I Deity of Putu Wijaya and of Muhammad Rohmadi and also some other supporter theory regarding/ hit form act to say. this Research type is qualitative yielding data in the form of usage of form act to say class student of Vi SMPN 27 Padang. Method the used is descriptive method that is by identifying, and grouping Pursuant to result of from data analsis, result of research of indicated that form act to say ilokusi categorize asertif more to be compared to predominating of form act to say and locution of perlokusi. Besides, in each form act to say ilokusi by class student of Vi in interaction outside process learn to teach background by context of utterance class student of Vi SMP N 27 Padang as dialogued or class student interaction of Vi which its his/its determined by ability of Ianguage the speaker that is student of SMP N 27 Padang. Keyword: Pragmatic. Act to Say. Student Class of Vi SMP N 27 Padang maksud dan tujuannya kepada orang lain PENDAHULUAN Bahasa tidak dapat dipisahkan dari (Chaer, 2004:. kehidupan manusia dan merupakan salah Bahasa itu juga bersifat dinamis, satu alat untuk melakukan komunikasi maksudnya, bahasa juga tidak terlepas dari sesama manusia. Di samping itu, bahasa berbagai kemungkinan perubahan yang juga memegang peranan penting dalam sewaktu-waktu dapat terjadi. Perubahan itu proses komunikasi antarmanusia untuk dapat terjadi pada tataran apa saja, seperti : hidup bermasyarakat dan menjalankan fonologis, morfologis, sintaksis, semantik Keterampilan berbahasa baik dan leksikon. Yang tampak jelas biasanya secara lisan maupun tulisan adalah salah adalah pada tataran leksikon. Pada setiap waktu mungkin saja ada kosakata baru seseorang juga dapat Melalui yang muncul, tetapi juga ada kosakata lama yang tenggelam, tidak digunakan lagi (Chaer, 2004:. Bahasa itu beragam, artinya, meskipun Menurut Chaer sebuah bahasa mempunyai kaidah atau . pola tertentu yang sama, namun karena berlangsungnya interaksi linguistik dalam bahasa itu digunakan oleh penutur yang satu bentuk ujaran atau lebih yang heterogen yang mempunyai latar belakang melibatkan dua orang, yaitu penutur dan sosial dan kebiasaan yang berbeda, maka lawan tutur, dengan satu pokok tuturan, bahasa itu menjadi beragam, baik dalam pada waktu tertentu, di tempat dan situasi tataran fonologis, morfologis, sintaksis. Selanjutnya, tindak tutur yang maupun pada tataran leksikon (Chaer, 2004:. merupakan gejala individual. Sebagai Agustina Chaer Agustina sosiolinguistik, bahasa tidak dilihat atau didekati sebagai bahasa, melainkan dilihat atau didekati sebagai sarana interaksi atau kemampuan bahasa si penutur dalam komunikasi di dalam masyarakat manusia (Agustina, 2004:. demikian, peristiwa tutur lebih dilihat pada Berbicara Dengan tujuan peristiwanya, sedangkan tindak keterampilan dalam menyampaikan pesan tutur lebih dilihat pada makna atau arti kepada orang melalui bahasa lisan atau Kegiatan berbicara yang memiliki berinteraksi, guru maupun siswa dapat mengembangkan pola komunikasi dalam Kegiatan percakapan membentuk interaksi antara salah satu Dengan mengajar ataupun proses interaksi yang terjadi di luar konteks belajar-mengajar. Misalkan seorang penutur dan lawan Percakapan merupakan bentuk wacana lisan. Salah satu faktor Fungsi utama bahasa adalah yang mempengaruhi bentuk dan makna sebagai alat komunikasi atau alat interaksi yang hanya dimiliki manusia. Di dalam Peristiwa yang dimaksud adalah peristiwa tutur tertentu yang digunakan dalam manusia juga dapat menggunakan alat komunikasi lain, selain bahasa. Namun, seminar, percakapan, dan lain-lain. komunikasi paling baik, paling sempurna dibandingkan dengan alat-alat komunikasi sebayanya di lingkungan sekolah dan bagaimanakah tindak tutur siswa tersebut Parera . 4: 267-. membedakan dalam interaksi di luar proses belajar makna tutur atas lokusi, ilokusi dan mengajar dalam tindak tutur ilokusi yaitu perlokusi: . tindak pertuturan lokusi pada tindak asertif, tindak direktif, tindak komisif, tindak ekspresif dan tindak deklaratif dalam berinteraksi. Untuk itu, . Tutur ilokusi adalah suatu penulis memilih Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Negeri 27 Padang menjadi subjek pertuturan memenuhi satu sistem interaksi penelitian karena kebanyakan siswanya masyarakat bahasa. Ilokusi adalah tindak belum mampu bertindak tutur dengan baik bahasa yang dibatasi oleh konvensi sosial. tindak tutur perlokusi adalah tindak sebayanya saat berinteraksi di luar proses tutur yang pengutaraannya dimaksudkan belajar mengajar. Di samping itu semua untuk mempengaruhi lawan tutur. Sebuah siswanya tidak berasal dari kelurahan dan tuturan yang diutarakan oleh seseorang kecamatan yang sama. seringkali mempunyai daya pengaruh, atau efek bagi yang mendengarkannya. Secara umum penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimanakah bentuk tindak Percakapan adalah salah satu kegiatan tutur siswa kelas Vi SMP Negeri 27 yang dilakukan manusia dalam kehidupan Padang, dalam tindak tutur ilokusi yaitu: sehari-hari, termasuk anak-anak. Anak- tindak asertif, tindak direktif, tindak anak yang dimaksud adalah siswa-siswi komisif, tindak ekspresif dan tindak yang sedang melakukan interaksi dengan deklaratif yang muncul saat interaksi di teman sebayanya di lingkungan sekolah luar proses belajar mengajar. yaitu di SMP N 27 Padang. Siswa-siswi ini METODOLOGI PENELITIAN juga merupakan bagian dari masyarakat telah dikemukakan maka jenis penelitian berinteraksi dengan lingkungan sosialnya ini adalah penelitian kualitatif dengan dan melakukan tindak tutur untuk maksud- metode deskriptif, karena penelitian ini mengumpulkan data yang berupa kata- menarik untuk diteliti. Alasannya, agar kata, gambar namun tidak menggunakan penulis dapat mengetahui jenis tindak tutur angka dalam mengumpulkan data dan manakah yang sering digunakan siswa dalam memberikan penafsiran terhadap Berdasarkan permasalahan yang hasilnya. Penelitian kualitatif menurut Moleong digunakan dalam penelitian ini adalah : . bermaksud untuk memahami fenomena Penulis melakukan observasi langsung tentang apa yang dialami oleh subjek dengan mengumpulkan tuturan siswa kelas penelitian, dengan cara deskripsi dalam Vi SMPN 27 Padang dalam bentuk tindak tutur ilokusi. Penulis merekam kata-kata. Teknik pengumpulan data yang konteks khusus yang alamiah. Penelitian ini dilakukan di SMPN lingkungan sekolah. Hasil pengamatan 27 Padang. Pada tahap persiapan, penulis terlebih dahulu meminta izin pada kepala bentuk tulisan di lembar yang telah penulis sekolah SMPN 27 Padang dan kepada guru-guru yang terkait. Kemudian pada Teknik pengujian keabsahan data merupakan faktor yang menentukan dalam penelitian kualitatif. Teknik pengujian bagaimana bentuk tuturan siswa kelas Vi keabsahan data yang digunakan adalah SMPN ketekunan pengamatan. Menurut Moleong Padang lingkungan sekolah. Dalam hal ini penulis . melibatkan siswa-siswi kelas Vi sebagai bermaksud menemukan ciri-ciri dan unsur- objek penelitiannya. Kehadiran peneliti unsur dalam situasi yang sangat relevan dengan persoalan atau isu yang sedang bermain di lingkungan sekolah. dicari dan kemudian memusatkan diri pada Instrumen penelitian ini berupa hal-hal tersebut secara rinci. Dalam hal ini lembar pengamatan dan dilengkapi dengan alat bantu instrumen berupa Handphone, pengamatan dengan sangat teliti. handycam dan alat tulis. Handphone ini Teknik penelitian ini dilakukan dengan tahap : . responden atau siswa-siswi kelas Vi Mengidentifikasi dan mengklasifikasikan SMPN 27 Padang, pada saat berada di luar secara keseluruhan bentuk tindak tutur proses belajar mengajar dan alat tulis yang terdapat pada siswa-siswi kelas Vi SMPN Padang responden atan siswa-siswi tersebut pada . Menganalisis saat perekaman. Penulis menggunakan instrumen tersebut dengan tujuan agar data Menyimpulkan yang diperoleh akurat. datanya adalah tuturan siswa kelas Vi SMPN 27 Padang. hal-hal Tindak ANALISIS DAN PEMBAHASAN Rekaman tuturan siswa . diambil dalam lingkungan sekolah SMPN tindakan yang akan datang, bentuk tuturan 27 Padang, pada saat jam istirahat dan pada saat di luar proses-belajar mengajar. Pengambilan rekaman tuturan siswa ini bersumpah, memanjatkan . dilakukan di kantin, di mushalla, di taman hal-hal Tindak Tutur Deklaratif depan sekolah, di ruangan OSIS dan di ilokusi yang bila performansinya berhasil lapangan, pengambilan data dilakukan dari akan menyebabkan korespondensi yang tanggal 12-16 Mei 2015. Tuturan siswa yang telah ditranskripsikan itu diambil dari dialog antara 32 orang siswa yang sedang beraktivitas di luar proses belajar mengajar memberi nama, mengucilkan, menunjuk, dalam lingkungan sekolah SMPN 27 menentukan, menvonis. Padang. Bentuk Tuturan yang Dominan Setelah antara isi proposisional dengan Misalnya: Tuturan yang telah ditranskripkan pembagian pada tindak ilokusi, yaitu dan telah di analisis, diambil dari dialog tindak asertif, tindak direktif, tindak antara 32 orang informan yang sedang komisif, tindak ekspresif, dan tindak berinteraksi di luar proses belajar mengajar di lingkungan sekolah SMPN 27 Padang. Tindak tutur asertif melibatkan Setelah pembicara pada kebenaran proposisi yang Bentuk tuturan ini dapat dianalisis berdasarkan pembagian bentuk tindak tutur ilokusi, yaitu tindak asertif, tindak direktif, tindak ekspresif, tindak hal-hal menyarankan, membanggakan, mengeluh, menuntut, melaporkan. komisif dan tindak deklaratif. Tuturan informan dari tindak Tindak tutur direktif dimaksudkan ilokusi, tindak asertif yang ditemukan untuk menimbulkan beberapa efek melalui berjumlah 137 data yang ditemukan pada tindakan sang penyimak. Bentuk tuturan saat informan bertutur di luar proses belajar menyalahkan, memuji dan menyatakan bela sungkawa. Di antara tindak ekspresif tersebut, membanggakan, mengeluh, menuntut dan yang paling banyak muncul adalah tindak ekspresif memuji yaitu berjumlah 7 data. tersebut, yang paling banyak muncul . Tuturan informan dari tindak ilokusi adalah tindak asertif menyatakan yaitu berjumlah 108 data. Tuturan informan berjumlah 8 data saat informan bertutur di dari tindak ilokusi tindak direktif yang luar proses belajar mengajar di lingkungan ditemukan berjumlah 9 data saat informan bertutur di luar proses belajar mengajar di memecat, membebaskan, memberi nama, lingkungan sekolah meliputi: memesan. Memerintah. Diantara menganjurkan dan menasihatkan. Di antara tindak deklaratif Di antara tindak direktif tersebut, tersebut, yang paling banyak muncul yang paling banyak muncul adalah tindak adalah tindak deklaratif memberi nama dan direktif meminta yaitu berjumlah 4 data. menamai yaitu berjumlah 4 data. Tuturan informan dari tindak ilokusi Pembahasan Hasil Penelitian tindak komisif yang ditemukan berjumlah Berdasarkan hasil penelitian yang 10 data saat informan bertutur di luar ditemukan dalam tuturan siswa pada saat proses belajar mengajar di lingkungan berinteraksi di luar proses belajar-mengajar kelas Vi SMPN 27 Padang terdapat 5 . kategori pada tindak tutur ilokusi. Di antara tindak komisif Menurut Tarigan . tersebut, yang paling banyak muncul membagi tindak tutur ilokusi menjadi lima adalah tindak komisif menawarkan yaitu kategori yaitu sebagai berikut : . berjumlah 5 data. Tuturan informan Representatif dari tindak ilokusi tindak ekspresif yang pembicara pada kebenaran proposisi yang ditemukan berjumlah 8 data saat informan bertutur di luar proses belajar mengajar di membanggakan, mengeluh. Direktif, . , mengucapkan terima kasih, mengucapkan beberapa efek melalui tindakan sang memerintahkan, . Ekspresif, mempunyai membanggakan dan mengeuh. Dari hasil data yang diperoleh sebanyak 72 bentuk sikap psikologis sang pembicara menuju tutur asertif menyatakan. PENUTUP Misalnya: Kesimpulan mengucapkan terima kasih, mengucapkan Berdasarkan hasil analisis data, dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut: Bentuk tindak tutur yang digunakan oleh . Komisif, melibatkan siswa kelas Vi SMPN 27 Padang adalah pembicara pada beberapa tindakan yang . Tindak tutur asertif, ditemukan pada . Deklaratif, ilokusi yang bila membanggakan, mengeluh. Tindak tutur direktif, ditemukan pada bentuk tutur menyebabkan korespondensi yang baik direktif memesan, meminta, memerintah antara isi proposisional dengan realitas. Misalnya: menyerahkan diri, memecat, komisif, ditemukan pada bentuk tutur membebaskan, menamai, memberi nama, komisif menawarkan, memanjatkan . dan bersumpah. Tindak tutur ekspresif, . Tindak ditemukan pada bentuk tutur ekspresif Dari hasil penelitian ini, penulis menyalahkan dan memuji. Tindak tutur menemukan bentuk tindak tutur ilokusi deklaratif, ditemukan pada bentuk tutur . sertif, direktif, komisif, ekspresif dan deklaratif memberi nama dan menamai. yang paling banyak digunakan Jadi, bentuk tuturan yang lebih sering siswa SMPN 27 Padang dalam berinteraksi digunakan siswa-siswi kelas Vi SMPN Dari 27 Padang adalah bentuk tindak tutur asertif, ditemukan berjumlah 100 data pada digunakan siswa dalam bertutur, yang saat informan bertutur di luar proses lebih cendrung tuturan siswa tersebut belajar-mengajar mengarah ke bentuk tindak asertif, dimana sekolah dan bentuk tuturan yang paling tindak asertif adalah melibatkan pembicara sedikit digunakan oleh siswa-siswi kelas Vi SMPN 27 Padang adalah bentuk tindak ekspresif, ditemukan berjumlah 7 data pada saat informan bertutur di luar proses belajar-mengajar dalam lingkungan Saran Berdasarkan kesimpulan tersebut disarankan hal-hal sebagai berikut: . Guru bidang studi bahasa dan sastra Indonesia, hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan guru bahasa Indonesia pembelajaran bahasa Indonesia, khususnya dalam pembelajaran memahami maksud sebuah tuturan dan untuk menambah wawasan dalam bidang sosiolinguistik dan . Peneliti lain, sebagai bahan perbandingan untuk melanjutkan penelitian Kushartanti. Pesona Jakarta: Gramedia. Bahasa. Moleong. Lexy. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya. Nofiarti. Lia. AuPemakaian Tindak Tutur Siswa Kelas VII SMPN 12 SijunjungAy. Skripsi. Padang: Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni. Universitas Bung Hatta. Oktavia. Rita. AuBentuk Tindak Tutur dalam Proses Interaksi BelajarMengajar Kelas VI SD N 09 Desa Aia Tajun Kecamatan Lubuk Alung Kabupaten Padang PariamanAy. Skripsi. Padang: Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni. Universitas Bung Hatta. Sumarsono dan Paina Pratana. Sosiolinguistik. Yogyakarta: Pustaka Belajar. Tarigan. Henry Guntur. Pengajaran Pragmatik. Bandung: Angkasa. hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan Wijana. I Dewi Putu dan Muhammad Rohmadi. Analisis Wacana Pragmatik. Surakarta: Yuma Pustaka. Yule, dengan aspek yang berbeda. Siswa, penelitian-penelitian selanjutnya di bidang pragmatik, dan dapat penggunaan bahasa dalam berinteraksi, terlebih kepada bentuk tindak tutur ilokusi. DAFTAR PUSTAKA