Intek Akuakultur. Volume 7. Nomor 1. Tahun 2023. E-ISSN 2579-6291. Halaman 1-11 Penggunaan Madu untuk Maskulinisasi Ikan Cupang Betta splendens (Teleostei: Osphronemida. Melalui Metode Perendaman Embrio Muh. Herjayanto1. Madinawati2*. Irawati Mei Widiastuti2 Program Studi Ilmu Perikanan. Fakultas Pertanian. Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Program Studi Akuakultur. Jurusan Perikanan dan Kelautan. Fakultas Peternakan dan Perikanan. Universitas Tadulako Naskah Diterima : 13 Januari 2023. Disteujui publikasi : 14 Maret 2023 INFO NASKAH Kata Kunci: Budidaya monoseks. Ikan hias. Maskulinisasi ABSTRAK Individu jantan Betta splendens memiliki warna dan bentuk yang digemari di pasar ikan hias dibandingkan betina. Karena itu budidaya cupang dapat dilakukan melalui produksi jantan menggunakan teknologi seks reversal dalam mengarahkan perkembangan kelamin ikan menjadi jantan . Bahan alami yang telah digunakan untuk maskulinisasi ikan adalah madu. Karena itu tujuan penelitian adalah mengkaji penggunaan madu melalui perendaman embrio untuk maskulinisasi ikan cupang. Keberhasilan maskulinisasi dianalisis melalui karakteristik madu, persentase ikan jantan, tingkat penetasan telur, mortalitas tiap 15 hari, dan sintasan pada akhir pemeliharaan. Embrio yang digunakan berumur 20 jam setelah pembuahan. Perlakuan penelitian adalah perendaman embrio cupang di dalam larutan madu . L L-. 5, 10, 15, 20, dan 25. Perendaman dilakukan selama 7 jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa madu yang digunakan memiliki kalium 0,31% dan pH 4. Pada penelitian ini pemberian madu tidak berpengaruh terhadap jumlah cupang jantan. Pemberian madu 25 mL L-1 air menghasilkan 56,98A4,58% jantan, tingkat penetasan telur 99,17A1,67%, dan sintasan umur 90 hari setelah menetas 79,89A4,50%. Mortalitas terjadi pada awal pemeliharaan larva. Setelah umur 60 hari setelah menetas tidak terjadi kematian pada cupang. Nilai tingkat penetasan telur dan sintasan yang tinggi menunjukkan bahwa madu adalah bahan alami yang aman digunakan untuk maskulinisasi ikan dalam budidaya monoseks. Jl. Soekarno Hatta Km. 9 Palu Ae Sulawesi Tengah. Telpon: 0451 Ae 422611. Fax: 0451 Ae 422844. * Email: madinawati@untad. The Use of Honey to Masculinize Betta splendens (Teleostei: Osphronemida. Through Soaking Embryo Muh. Herjayanto1. Madinawati2*. Irawati Mei Widiastuti2 Fisheries Science Department. Faculty of Agricultural. University of Sultan Ageng Tirtayasa Aquaculture Study Program. Department of Fisheries and Marine. Faculty of Animal Husbandry and Fisheries. Tadulako University ARTICLE INFO ABSTRACT Keywords Betta splendens males have colours and shapes that are popular in the ornamental fish market compared to females. Because of that, betta cultivation can be done through male production using sex reversal technology in directing the sex development of fish to become male . The natural ingredient that has been used to masculinize fish is honey. So the research objective was to examine the use of honey by immersing the embryo to masculinize betta. Analyzed masculinization success through characteristics of honey, percentage of male fish, egg hatching rate, mortality every 15 days, and survival at the end of rearing. The embryos used were 20 hours post-fertilization. The research treatment was immersion of betta embryos in honey solution . L L-. 5, 10, 15, 20, and 25. Soaking was carried out for 7 hours. The results showed that the honey used had 31% potassium and a pH of 4. In this study, the administration of honey did not Mono-sex aquaculture. Masculinization. Ornamental Intek Akuakultur. Volume 7. Nomor 1. Tahun 2023. E-ISSN 2579-6291. Halaman 1-11 affect the number of male betta. Giving honey 25 mL L-1 water produced 56. 58% of males, egg hatching rate 99. 17 A 1. 67%, and survival at 90 days after 89 A 4. Mortality occurs at the start of larval rearing. After the age of 60 days after hatching, there is no death in betta. The high values of egg hatching and survival rates indicate that honey is a natural material safe for masculinizing fish in mono-sex aquaculture. Jl. Soekarno Hatta Km. 9 Palu Ae Sulawesi Tengah. Telpon: 0451 Ae 422611. Fax: 0451 Ae 422844. *Email: madinawati@untad. PENDAHULUAN Betta splendens atau ikan cupang adalah salah satu komoditas budidaya ikan hias air tawar. Ikan ini termasuk mudah dipelihara dan dikembangbiakkan sehingga kegiatan budidayanya banyak tersebar di Indonesia. Spesies ini merupakan kelompok ikan yang memiliki dimorfisme kelamin yang terlihat dari ciri seksual sekunder pada individu jantan dan betina. Ikan cupang jantan lebih digemari karena keindahan warna, bentuk sirip punggung, sirip anal, dan sirip ekornya (Monvises et al. Wahyudewantoro 2017. Lichak et al. Karena itu dalam budidaya ikan cupang dapat dilakukan produksi tunggal kelamin . jantan untuk memberikan Strategi pengarahan perkembangan kelamin ikan dapat dilakukan melalui pengarahan perkembangan kelamin ikan . ex reversa. (Devlin & Nagahama 2002. Zairin 2. Teknologi ini dapat dilakukan melalui pemberian hormon sintesis (Herjayanto et al. Safir et al. , pengaturan suhu media pemeliharaan (Afriyaningrum et al. atau bahan alami yang dapat membuat ikan menjadi jantan . (Devlin & Nagahama 2002. Zairin 2. Salah satu bahan alami yang dapat digunakan yaitu madu lebah yang telah dilaporkan keberhasilannya untuk maskulinisasi ikan. Kemampuan madu mengarahkan perkembangan kelamin ikan menjadi jantan disebabkan oleh kandungan kalium dan flavonoid seperti chrysin. Kandungan madu tersebut memiliki mekanisme menghambat aktivitas aromatase (Heriyati et al. Balam et al. yaitu enzim yang mengkatalis pembentukan estrogen dari androgen (Piferrer & Blyzquez 2. Penggunaan madu untuk maskulinisasi dapat dilakukan menggunakan metode Penelitian penggunaan madu telah dilaporkan pada ikan hias gapi Poecilia reticulata (Soelistyowati et al. Nurlina & Zulfikar 2. , ikan cupang (Lubis et al. Siregar et al. Laheng et al. , ikan platy Xipophorus sp. (Johan & Hasby 2. , dan ikan nila Oreochromis niloticus (Heriyati et al. Umumnya pemberian dapat dilakukan melalui perendaman telur ikan yang telah memasuki fase embrio bintik mata (Zairin 2004. Indreswari et al. Laheng et al. Berdasarkan hal tersebut, maka tujuan penelitian adalah untuk mengkaji penggunaan madu terhadap keberhasilan maskulinisasi ikan cupang melalui metode perendaman embrio. Keberhasilan maskulinisasi dianalisis melalui karakteristik madu, persentase ikan jantan, tingkat penetasan telur, dan sintasan pada akhir pemeliharaan ikan cupang. BAHAN DAN METODE Intek Akuakultur. Volume 7. Nomor 1. Tahun 2023. E-ISSN 2579-6291. Halaman 1-11 Persiapan induk ikan Induk ikan cupang yang digunakan berasal dari pembudidaya ikan hias di Kabupaten Gowa. Sulawesi Selatan. Jumlah induk yang disiapkan sebanyak lima Panjang total induk ikan yang digunakan 4,5-5,0 cm. Umur induk ikan 5 bulan. Ikan jantan dan betina diadaptasikan di Laboratorium Program Studi Budidaya Perairan. Fakultas Peternakan dan Perikanan. Universitas Tadulako. Ikan dipelihara selama satu minggu di dalam wadah soliter berukuran diameter alas 15 cm, tinggi 20 cm dan diisi air 16 cm. Pakan yang digunakan yaitu jentik nyamuk yang diberikan pada pagi dan sore secara at satiation. Penyifonan feses dilakukan setiap hari. Pergantian air dilakukan tiap tiga hari sekali sebanyak 30%. Kualitas air selama pemeliharaan induk dipertahankan dengan kisaran suhu 24-30AC, pH 7-8 dan oksigen terlarut 2,45-3,54 mg L-1. Induk ikan yang matang gonad dipilih untuk dipijahkan. Karakteristik induk ikan cupang yang matang gonad berdasarkan Arfah et al. yaitu ciri ikan cupang jantan yang siap memijah yaitu telah membuat sarang busa. Ciri ikan cupang betina yang siap mijah yaitu perut gemuk dan terlihat bintik putih pada lubang urogenital. Pemijahan dan panen telur ikan Pemijahan diawali dengan kegiatan perjodohan induk ikan cupang. Induk ikan cupang jantan terlebih dahulu dimasukkan ke dalam wadah pemijahan berukuran diameter alas 24,5 cm, diameter atas 28,5 cm, tinggi 25,5 cm dan diisi air 15 cm. Induk ikan betina dimasukkan ke dalam wadah bening dan diletakkan di tengah wadah Selain itu, potongan plastik bening ditambahkan di dalam wadah pemijahan sebagai tempat ikan jantan membuat sarang busa. Setelah ikan jantan membuat sarang busa (< 24 jam setelah penjodoha. , ikan betina disatukan di dalam wadah pemijahan . ore atau malam har. Umumnya pemijahan terjadi 15 jam setelah pemasangan induk . agi atau siang har. Proses pemijahan berlangsung selama A3 jam. Tingkah laku pemijahan ikan cupang yaitu ikan jantan merapatkan tubuhnya ke ikan betina membentuk huruf AoUAo dan beberapa saat mereka diam dan melayang di dalam air. Setelah beberapa saat telur ke luar dan jatuh ke dasar wadah. Ikan jantan kemudian memungut telur menggunakan mulutnya dan kemudian diletakkan di sarang busa. Setelah pemijahan berakhir, ikan betina dikeluarkan dari wadah pemijahan, sedangkan ikan jantan dibiarkan menjaga telur. Embrio yang digunakan untuk perlakuan maskulinisasi berasal dari hasil pemijahan sepasang induk ikan. Panen telur dilakukan pada saat embrio berumur 20 jam setelah pembuahan. Telur tersebut telah memasuki fase organogenesis yaitu embrio bintik mata yang terlihat dari organ mata yang jelas (Zairin 2. (Gambar . Telur diambil menggunakan sendok, kemudian dihitung sebanyak 30 butir untuk tiap unit percobaan. Total telur yang dibutuhkan sebanyak 600 butir yang diperoleh dari satu induk ikan Intek Akuakultur. Volume 7. Nomor 1. Tahun 2023. E-ISSN 2579-6291. Halaman 1-11 Gambar 1. Embrio ikan cupang umur 20 jam setelah pembuahan pada suhu inkubasi 27-28AC. Persiapan larutan madu Maskulinisai ikan cupang menggunakan madu hasil budidaya kelompok peternak lebah madu. Kembang Sari Murni. Desa Lolu. Kabupaten Sigi Sulawesi Tengah. Media perendaman dibuat dengan cara melarutkan madu sesuai dosis perlakuan di dalam 1 L air tawar. Kandungan kalium dan pH madu dianalisis di Laboratorium Unit Ilmu Tanah. Fakultas Pertanian. Universitas Tadulako. Perlakuan maskulinisasi Dosis madu . L L-1 air ) yang digunakan adalah 5, 10, 15, 20, dan 25. Masingmasing perlakuan diulang sebanyak 4 kali, sehingga terdapat 20 unit percobaan. Metode yang digunakan yaitu perendaman embrio sebanyak 30 butir dalam larutan madu berdasarkan dosis perlakuan. Lama perendaman dilakukan selama 7 jam (Zairin. Wadah perendaman memiliki ukuran diameter alas 15 cm dan tinggi 20 cm. Kualitas air selama perlakuan perendaman embrio dipertahankan dengan kisaran suhu 27-28AC, pH 6-8, dan oksigen terlarut 2,67-3,65 mg L-1. Penetasan telur dan pemeliharaan larva Embrio ikan cupang diinkubasi di dalam wadah berukuran diameter alas 24,5 cm, diameter atas 28,5 cm, tinggi 25,5 cm dan diisi air 3 cm. Wadah inkubasi tidak ditambahkan aerasi. Setelah menetas, dilakukan penghitungan jumlah larva untuk mengetahui tingkat penetasan. Larva selanjutnya tetap dipelihara di dalam wadah yang sama sampai umur 90 hari setelah menetas . Tinggi air dinaikkan secara bertahap, sehingga setelah umur 30 hari tinggi air di wadah pemeliharaan yaitu 20 cm. Larva yang baru menetas tidak diberi pakan karena masih terdapat cadangan makanan yaitu kuning telur . Ukuran panjang total larva umur 0 hsm yaitu 0,4 cm. Jenis dan cara pemberian pakan selama penelitian dapat dilihat pada Tabel 1. Penyifonan feses dan pergantian air dilakukan seperti saat kegiatan pemeliharaan induk. Kualitas air selama pemeliharaan yaitu suhu 24-30AC, pH 7-8, dan oksigen terlarut 2,25-3,56 mg L-1. Intek Akuakultur. Volume 7. Nomor 1. Tahun 2023. E-ISSN 2579-6291. Halaman 1-11 Tabel 1. Jenis dan cara pemberian pakan ikan cupang berdasarkan umur Jenis pakan Sistem pemberian pakan Umur . Suspensi kuning telur ayam At satiation . agi, siang, sore, mala. Naupli Artemia . At satiation . agi dan sor. Cacing sutera . At satiation . agi dan sor. Cacing darah . eku/sega. At satiation . agi dan sor. Keterangan: hsm: hari setelah menetas Selama pemeliharan dilakukan pengamatan jumlah ikan yang mati tiap 15 hari, sintasan dan jumlah ikan jantan pada akhir penelitian. Pengamatan ikan jantan berdasarkan metode Arfah et al. yaitu melihat ciri kelamin sekunder pada ukuran sirip punggung, sirip ekor, dan sirip anal. Ikan cupang jantan memiliki sirip yang lebih panjang dibandingkan ikan cupang betina (Gambar . Gambar 2. Ciri morfologi ikan cupang jantan (A) dan betina (B). Prosedur analisis data Data persentase ikan jantan dan sintasan umur 90 hsm dianalisis ragam dengan tingkat kepercayaan 95%, kemudian diuji lanjut menggunakan uji Tukey. Kedua data tersebut merupakan data primer untuk melihat tingkat keberhasilan maskulinisasi ikan. Data tingkat penetasan telur dan tingkat mortalitas tiap 15 hari dianalisis secara deskriptif karena merupakan data sekunder untuk melihat tingkat keberhasilan maskulinisasi ikan. Data diolah menggunakan Minitab 16 dan Microsoft Excel 2010, dan disajikan dalam bentuk gambar. HASIL Karakteristik madu dan Persentase ikan jantan Berdasarkan hasil analisis diperoleh kandungan madu alami yang digunakan yaitu pH 4 dan kalium 0,31%. Perendaman embrio dalam larutan madu dengan dosis berbeda tidak memberikan pengaruh terhadap jumlah ikan cupang jantan yang dihasilkan . >0,. Persentase ikan jantan yang diperoleh pada semua perlakuan yaitu berkisar 48,51A3,13% sampai 56,98A4,58% (Gambar . Intek Akuakultur. Volume 7. Nomor 1. Tahun 2023. E-ISSN 2579-6291. Halaman 1-11 Ikan jantan (%) Dosis madu . L L-. Gambar 3. Persentase jantan ikan cupang Betta splendens pada umur 90 hari setelah menetas berdasarkan perlakuan dosis madu. Tanda bintang (*) menunjukkan tidak berbeda nyata pada taraf =0,05. Tingkat penetasan Tingkat penetasan telur ikan cupang pada semua perlakuan penggunaan madu berkisar 86,67A5,44% sampai 99,17A1,67% (Gambar . Hal ini menujukkan bahwa pemaparan embrio di dalam larutan madu tidak berdampak negatif terhadap perkembangan embrio dan proses penetasan telur ikan cupang. Tingkat penetasan telur (%) Dosis madu . L L-. Gambar 4. Tingkat penetasan telur ikan cupang Betta splendens berdasarkan perlakuan dosis madu. Mortalitas Pada awal pemeliharaan larva ikan mengalami kematian. Hal ini terjadi sampai ikan berumur 60 hari setelah menetas . Namun, setelah umur 60 hsm tidak ditemukan ikan cupang yang mati (Gambar . Intek Akuakultur. Volume 7. Nomor 1. Tahun 2023. E-ISSN 2579-6291. Halaman 1-11 Mortalitas (%) 10 Umur ikan 15 . 20 Gambar 5. Mortalitas ikan cupang Betta splendens tiap 15 hari berdasarkan perlakuan dosis madu. Sintasan Perendaman embrio ikan cupang dalam larutan madu dengan dosis berbeda tidak memberikan pengaruh terhadap sintasan ikan cupang pada umur 90 hsm (P>0,. Sintasan ikan cupang umur 90 hsm pada semua perlakuan berkisar antara 79,89A4,50% sampai 85,34A7,10% (Gambar . Sintasan (%) Dosis madu . L L-. Gambar 6. Sintasan ikan cupang Betta splendens pada umur 90 hari setelah menetas berdasarkan perlakuan dosis madu. Tanda bintang (*) menunjukkan tidak berbeda nyata pada taraf =0,05. PEMBAHASAN Pengarahan perkembangan kelamin yang berlawanan . eks reversa. pada ikan dilakukan pada fase gonad belum definitif dan masih labil untuk diarahkan (Devlin & Nagahama 2022. Zairin 2. Penggunaan telur fase embrio bintik mata telah terbukti dapat digunakan untuk perlakuan seks reversal (Zairin 2004. Indreswari et al. Laheng et al. Telur dianggap cukup kuat serta bahan pengarah perkembangan Intek Akuakultur. Volume 7. Nomor 1. Tahun 2023. E-ISSN 2579-6291. Halaman 1-11 kelamin dapat masuk secara difusi untuk mempengaruhi embrio yang sedang Kandungan madu yaitu kalium dapat mempengaruhi perkembangan kelamin ikan menjadi jantan. Pemberian madu bakau dan madu hutan yang memiliki kalium masing-masing 0,33% dan 0,35% dapat menghasilkan nila jantan 98,76% dan 100% (Heriyati et al. Karena itu nilai kalium 0,31% pada madu yang digunakan dalam penelitian ini masih tinggi. Selain itu madu juga memiliki kandungan chrysin. Bahan ini memiliki fungsi menghambat aktivitas enzim aromatase yang mengubah androgen menjadi estrogen (Heriyati et al. Balam et al. Kalium dan chrysin dapat menekan ekspresi gen aromatase tipe gonad . pada ikan setelah jam ke-12 pascaperlakuan perendaman. Penghambatan aktivitas aromatase menyebabkan androgen di dalam tubuh ikan menjadi tinggi, sehingga ikan menjadi jantan (Heriyati et al. Pada penelitian ini dosis madu 25 mL L-1 belum dapat meningkatkan secara signifikan jumlah ikan cupang jantan. Jumlah ikan jantan yang dihasilkan dalam perlakuan maskulinisasi dapat dipengaruhi oleh dosis dan jenis bahan, lama paparan atau perendaman, stadia dan spesies ikan (Tabel . Hasil yang tidak signifikan pada penelitian ini diduga karena lama waktu perendaman yang singkat . sehingga bahan aktif madu tidak terdifusi dengan optimal ke dalam embrio. Peredaman embrio ikan selama 12 jam menggunakan dosis madu yang lebih rendah . mL L-. dapat menghasilkan jumlah jantan 86,19% (Laheng et al. Selain itu jenis madu yang digunakan juga dapat mempengaruhi keberhasilan maskulinisasi ikan. Heriyati et al. melaporkan penggunaan madu ternak dapat menghasikan ikan nila jantan sebanyak 97,70%. Penggunaan madu hutan menghasilkan 98,76% jantan dan madu bakau menghasilkan 100% jantan. Tabel 2. Hasil maskulinisai ikan menggunakan madu Ikan Stadia Dosis Perendaman Jantan L L-. (%) Cupang Embrio 20 jsp 56,98 28 jsp 86,19 Larva 5 hsm 81,75 5 hsm 77,33 4 hsm 81,14 3-5 hsm 77,18 Gupi 59,50 Betina 89,93 Platy Larva 3 72,25 Nila 100,00 Larva 12 hsm Referensi Penelitian ini Laheng et al. Laheng et al. Lubis et al. Siregar et al. Iryanto et al. Soelistyowati et al. Nurlina & Zulfikar 2016 Johan & Hasby 2021 Heriyati et al. Keterangan: jsp: jam setelah pembuahan, hsm: hari setelah menetas, hsd: hari setelah lahir. Intek Akuakultur. Volume 7. Nomor 1. Tahun 2023. E-ISSN 2579-6291. Halaman 1-11 Sebagai bahan alami penggunaan madu dengan dosis tertinggi pada penelitian ini tidak memberikan kematian yang tinggi pada embrio cupang. Hal ini terlihat pada tingkat penetasan telur berkisar 86,67-99,17% pada semua perlakuan (Gambar . Stadia embrio dan larva cupang nampaknya kuat terhadap paparan madu. Penggunaan dosis madu 5 mL L-1 memberikan sintasan embrio dan larva 100% (Laheng et al. sintasan larva 98,33% setelah 12 jam perendaman (Lubis et al. Pada perendaman yang lebih lama yaitu 24 jam menghasilkan sintasan 81,10% setelah perendaman (Siregar et al. Semakin tinggi dosis menyebabkan sintasan selama perendaman menurun (Lubis et al. Pengaruh perendaman madu tidak memberikan kematian yang tinggi pada awal hidup larva cupang. Kematian ikan tidak ditemukan setelah umur 60 hari setelah menetas . (Gambar . Hal ini diduga berkaitan dengan perkembangan ikan cupang yang mencapai stadia juvenil pada umur 32 hsm (Valentin et al. dan 40 hsm (Poungcharean & Limpivadhana 2. Karena itu setelah umur 60 hsm ikan lebih kuat dan diduga organ labirin juga telah berfungsi dengan baik. Penggunaan madu pada ikan lain juga memberikan sintasan akhir pemeliharaan yang tinggi seperti ikan cupang 86,19-97,78% (Laheng et al. , 90% (Siregar et al. dan 100% (Lubis et al. Oleh karena itu, madu merupakan bahan yang aman digunakan untuk maskulinisasi ikan. KESIMPULAN Pemberian madu yang mengandung 0,31% kalium melalui perendaman embrio fase bintik mata selama 7 jam belum dapat meningkatkan jumlah jantan secara Pada dosis madu 25 mL L-1 air menghasilkan 56,98A4,58% jantan, tingkat penetasan telur 99,17A1,67%, dan sintasan umur 90 hari setelah menetas 79,89A4,50%. UCAPAN TERIMAKASIH Terima kasih banyak kepada Bapak Suryadi yang membantu menyiapkan induk ikan cupang. Bapak Herman. Ibu Hujah, dan Saudara Muh. Juraid atas bantuannya dalam pelaksanaan penelitian. Ibu Mayse Sofien Siby dan Ibu Irmawati atas bantuanya di laboratorium. DAFTAR PUSTAKA