JVK JURNAL VOKASI KESEHATAN http://ejournal. poltekkes-pontianak. id/index. php/JVK FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBERHASILAN PROGRAM PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI DI RSU MITRA SEJATI KOTA MEDAN Lastry Depi P Simanjutak1. Sri Wahyuni Nasution2 . Chrismis Novalinda Ginting3 1,2,3 Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat. Fakultas Kedokteran. Kedokteran Gigi dan Ilmu Kesehatan. Universitas Prima Indonesia. Indonesia. Info Artikel Sejarah Artikel: Diterima : 8 November Disetujui : 30 Januari Di Publikasi : 31 Januari Keywords: Fasilitas. Sikap. Pelatihan. Dukungan Manajemen. Dukungan Pimpinan. PPI Abstrak Pencegahan infeksi terkait pelayanan kesehatan (HAI. , merupakan aspek penting dalam pelayanan kesehatan di rumah sakit. Program Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) di Indonesia wajib dilaksanakan untuk mengurangi risiko penyebaran infeksi nosokomial. Pada RSU Mitra Sejati Kota Medan tahun 2022, angka kejadian infeksi terkait pelayanan kesehatan (HAI. tercatat sebesar 2-4%, sementara secara nasional, prevalensi HAIs di Indonesia berkisar antara 6-16% sesuai laporan Kemenkes. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan program PPI di RSU Mitra Sejati Kota Medan. Jenis penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan rancangan cross-sectional. Populasi penelitian ini adalah 88 perawat pelaksana, dengan pengambilan sampel menggunakan teknik total populasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fasilitas memiliki p-value sebesar 0,000, pelatihan sebesar 0,001, dukungan manajemen sebesar 0,002, dan dukungan pimpinan sebesar 0,000. Variabel dengan pengaruh paling signifikan adalah sikap perawat, yang ditunjukkan oleh odds ratio sebesar 2,463 dan p-value 0,000. Faktor-faktor tersebut secara parsial memiliki hubungan yang signifikan terhadap keberhasilan program PPI. FACTORS AFFECTING THE SUCCESS OF INFECTION PREVENTION AND CONTROL PROGRAMS IN RSU MITRA SEJATI MEDAN Abstract Prevention of healthcare-associated infections (HAI. is an important aspect of health care in hospitals. Infection Prevention and Control (PPI) programs in Indonesia must be implemented to reduce the risk of nosocomial This study aims to analyze the factors that influence the success of the IOP program at Mitra Sejati General Hospital. Medan City. The type of research used was quantitative with a cross-sectional design. The population of this study were 88 executive nurses, with sampling using the total population technique. The results showed that facilities had a p-value 000, training was 0. 001, management support was 0. 002, and leadership support was 0. The variable with the most significant influence was the nurse's attitude, as shown by the odds ratio of 2. 463 and p-value of 0. These factors partially have a significant relationship with the success of the PPI program. A 2025 Poltekkes Kemenkes Pontianak Alamat korespondensi: Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat. Fakultas Kedokteran. Kedokteran Gigi dan Ilmu Kesehatan. Universitas Prima Indonesia. Indonesia Email: sriwahyuni_nst88@yahoo. ISSN 2442-5478 Jurnal Vokasi Kesehatan Volume 11 Nomor 1, hlm. penting dalam mendukung keberhasilan program PPI di rumah sakit (Wahyuni et al. , 2. Program Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) mencakup kewaspadaan isolasi, karantina, pencegahan infeksi nosokomial, pelatihan, serta audit rutin (Windarti et al. , 2. Namun, pelaksanaan program PPI ini sering (Nadin Ketidakberhasilan program PPI dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti keterbatasan sarana dan prasarana, rendahnya kesadaran petugas, serta pencatatan infeksi yang tidak konsisten. Hambatan ini mengganggu optimalisasi layanan kesehatan dan dapat menciptakan stigma negatif bagi rumah sakit di masa mendatang (Sarini & Dewantari. Pemahaman dasar mengenai penyakit infeksi sangat penting bagi petugas kesehatan dalam pembuat kebijakan bagi program Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) yang telah diterbitkan Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 27 Tahun 2017 tentang Pedoman PPI untuk memastikan mutu pelayanan kesehatan dan sebagai acuan bagi semua pihak terkait (Karmidah et al. , 2. Pedoman ini bertujuan melindungi masyarakat, menjamin keselamatan pasien, meningkatkan efisiensi manajemen fasilitas kesehatan, serta meningkatkan kualitas pelayanan (Kurniawan et al. , 2. Menurut (Thandar et al. , 2. , implementasi program Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) yang konsisten dan berbasis bukti terbukti mampu menurunkan angka infeksi nosokomial hingga hampir 50% di beberapa rumah sakit. Upaya seperti pelatihan tim pengendalian infeksi, isolasi ketat, audit berkala, dan kepatuhan pada kebersihan tangan memberikan dampak signifikan dalam mengoptimalkan kualitas layanan, dan menekan biaya perawatan pasien (Kurniawan et al. , 2. Novelty dari penelitian ini terletak pada faktor-faktor memengaruhi keberhasilan program Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) di RSU Mitra Sejati Kota Medan, yang belum banyak diteliti sebelumnya dengan pendekatan yang sama. Penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi baru dalam memahami variabel-variabel yang berperan dalam efektivitas program PPI, sehingga dapat menjadi referensi untuk perbaikan program serupa di rumah sakit lain. Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka peneliti tertarik untuk mengkaji lebih dalam mengenai AuFaktor-Faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Program Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) di RSU Mitra Sejati Kota Medan. Ay Pendahuluan Infeksi di rumah sakit atau healthcareassociated infections (HAI. merupakan salah satu tantangan utama dalam pelayanan kesehatan di seluruh dunia (Sundoro, 2. Infeksi ini dialami oleh pasien selama menjalani perawatan di rumah sakit atau fasilitas kesehatan lain, dimana infeksi tersebut tidak ada pada saat pasien masuk dan tidak sedang dalam masa inkubasi (Heriyati & Astuti. HAIs mencakup infeksi yang timbul setelah pasien keluar dari fasilitas kesehatan serta infeksi yang dialami tenaga kesehatan akibat proses pelayanan di fasilitas kesehatan (Monegro et al. Healthcare Associated Infections (HAI. , atau yang dikenal sebagai infeksi nosokomial merupakan infeksi yang didapat oleh pasien setelah menjalani perawatan di fasilitas kesehatan (Sulistyowati et al. , 2. Infeksi ini disebabkan oleh mikroorganisme patogen seperti bakteri, virus, atau jamur yang dapat menyebar antar pasien melalui udara, permukaan dinding, atau peralatan di rumah sakit (Febriani hrp, 2. Infeksi nosokomial merupakan masalah global bagi rumah sakit karena berkontribusi pada peningkatan angka morbiditas dan mortalitas, yang menyebabkab biaya pengobatan yang lebih tinggi, serta waktu perawatan yang lebih lama (Hamonangan, 2. Sehingga pencegahan infeksi nosokomial menjadi standar penting dalam pelayanan kesehatan di fasilitas tersebut (Nadin et al. , 2. Tingkat kejadian Healthcare-Associated Infections (HAI. diperkirakan mencapai 7% di negara maju dan lebih dari 25% di negara berkembang (Nobile et al. , 2. Dampak HAIs sangat serius, mencakup aspek finansial, emosional, sosial, serta memengaruhi dinamika keluarga (Mo et al. , 2. Menurut data WHO 2022, sekitar 710% pasien di rumah sakit negara maju dan hingga 15% di negara berkembang mengalami infeksi terkait pelayanan kesehatan (HAI. Angka ini sangat tinggi pada bayi baru lahir di Asia Tenggara dan Sub-Sahara Afrika, menyebabkan 4-56% kematian neonatus. Di Indonesia, prevalensi HAIs mencapai 15%, lebih tinggi dibandingkan negara maju yang berkisar antara 4,8-15,5%, menunjukkan perlunya penguatan program Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (World Health Organization. Di RSU Mitra Sejati Kota Medan, angka kejadian HAIs tercatat sebesar 2-4%, menunjukkan adanya upaya yang sudah berjalan dalam program Pencegahan dan Pengendalian Infeksi namun tetap memerlukan penguatan untuk mencapai hasil yang lebih optimal. Pencegahan infeksi nosokomial menjadi masalah utama bagi setiap rumah sakit karena infeksi ini dapat menyerang pasien, staf, maupun pengunjung (Heriyati & Astuti, 2. Program Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) wajib diterapkan di setiap fasilitas kesehatan di Indonesia untuk mengurangi risiko penyebaran infeksi. Selain aspek teknis, faktor manajemen juga berperan Metode Penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif dengan model pendekatan cross sectional (Tam et al. , 2. Penelitian kuantitatif Jurnal Vokasi Kesehatan Volume 11 Nomor 1, hlm. ini untuk mengetahui informasi yang terstruktur seperti, prosedur penelitian yang tetap dari awal hingga akhir, pengembangan masalah berdasarkan temuan sebelumnya, dan pengujian masalah di lapangan yang disesuaikan dengan realitas yang Tujuan dari pendekatan ini untuk mengetahui faktor-faktor resiko dan efek yang terjadi (Farid et , 2. Penelitian ini dilaksanakan Di Rumah Sakit Umum Mitra Sejati Medan. Waktu yang digunakan dalam penelitian dilakukan pada bulan Mei-Juni 2024. Penelitian ini telah memperoleh persetujuan etika dari Komite Etik Penelitian Kesehatan Universitas Prima Indonesia dengan nomor surat 006/KEPK/UNPRI/Vi/2024. Populasi dalam penelitian ini adalah semua perawat pelaksana di Rumah Sakit Umum Mitra Sejati Medan tahun 2024 yang berjumlah 88 orang. Sampel dalam penelitian ini ditentukan menggunakan teknik total populasi, yaitu mengambil seluruh populasi sebagai sampel Adapun sampel yang digunakan seluruh perawat pelaksana di RSU Mitra Sejati Medan, dengan jumlah total 88 orang. Instrumentasi penelitian adalah perencanaan yang dimulai dengan perumusan tujuan penelitian, penguraian variabel menjadi subvariabel, dan penentuan indikator sebagai acuan. Penyusunan kisi-kisi atau tabel spesifikasi instrumen berdasarkan indikator. penulisan item pertanyaan atau tes yang sesuai dengan indikator yang telah Penyuntingan untuk menyempurnakan instrumen beserta panduan pengerjaannya, dan Penetapan sistem skoring pada tiap item (Hardani. Andriani, et al. , 2. Analisis mendeskripsikan karakteristik responden yang disajaikan dalam bentuk table distribusi frekuensi dan persentase (Suryani & Ibad, 2. Analisis bivariat adalah metode yang digunakan untuk menilai hubungan antara dua variabel yang diperkirakan memiliki korelasi. Dalam penelitian ini, analisis bivariat dilakukan menggunakan teknik korelasi Pearson Product Moment untuk mengukur kekuatan hubungan antarvariabel interval (Marna et al. , 2. Analisis parsial ini juga dikendalikan agar tidak mempengaruhi hasil korelasi utama. Analisis multivariat dengan uji regresi logistik bertujuan untuk mengetahui pengaruh lebih dari satu variabel independen terhadap variabel dependen serta menentukan variabel paling dominan (Hardani. Ustiawaty, et al. Tabel 1. Faktor-faktor yang mempengruhi keberhasilan program PPI di Rumah Sakit Umum Mitra Sejati Medan. Variabel Fasilitas Sikap Pelatihan Subvariabel Lengkap Kurang Lengkap Total Baik Kurang Baik Total Baik Kurang Baik Total Baik Kurang Baik Total Baik Dukungan Kurang Baik Pimpinan Total Sumber: Data Primer Berdasarkan Tabel 1 yang menyatakan fasilitas nya lengkap sebanyak 72 dengan persentase sebesar 81,8% dan responden yang mengatakan fasilitas kurang lengkap sebanyak 16 dengan persentase sebesar 18,2%. Menurut responden dalam penelitian ini memiliki sikap baik sebanyak 79 dengan persentase sebesar 89,8% dan responden yang memiliki sikap kurang baik sebanyak 9 dengan persentase sebesar 10,2%. Pelatihan baik sebanyak 79 dengan persentase sebesar 89,8% dan responden yang mengatakan pelatihan kurang baik sebanyak 9 dengan persentase sebesar 10,2%. Responden dalam penelitian ini menyatakan dukungan manajemen baik sebanyak 83 dengan persentase sebesar 94,3% dan responden yang mengatakan dukungan manajemen kurang baik sebanyak 5 dengan persentase sebesar 5,6%. Pada variabel dukungan pimpinan, baik sebanyak 79 dengan persentase sebesar 89,8% dan responden yang mengatakan dukungan pimpinan kurang baik sebanyak 9 dengan persentase sebesar 10,2%. Dukungan Manajemen Analisis Bivariat Hubungan antara pengaruh fasilitas, sikap, pelatihan, dukunagan manajemen, dukungan Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI). Hasil Analisis Univariat Penilaian responden terhadap lima faktor yang mempengaruhi keberhasilan program Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI): Jurnal Vokasi Kesehatan Volume 11 Nomor 1, hlm. Tabel 2. Pengaruh Berbagai Faktor terhadap Keberhasilan Program Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) Variabel Fasilitas Sig. Pearson Correltion 0,000 0,568 pelatihan, dukungan manajemen dan dukungan pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI) di RSU Mitra Sejati Kota Medan, dari tabel dapat dilihat nilai signifikansi sebesar 0,000 < 0,05 yang berarti variabel independent fasilitas, sikap, pelatihan, dukungan manajemen dan dukungan pimpinan pada penelitian ini secara bersama-sama atau secara simultan memiliki pengaruh terhadap keberhasilan program pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI) di RSU Mitra Sejati Kota Medan. Sikap 0,000 0,658 Pelatihan 0,001 0,543 Dukungan Manajemen 0,002 0,496 Dukungan Pimpinan 0,000 0,621 Sumber: Data Primer Berdasarkan Tabel 2, hubungan antara fasilitas dengan keberhasilan program PPI di RSU Mitra Sejati Kota Medan menunjukkan koefisien korelasi . sebesar 0,568 dengan kategori pengaruh sedang dan signifikan . = 0,000 < 0,. Sikap memiliki korelasi sebesar 0,658 dengan kategori pengaruh kuat dan signifikan . = 0,000 < 0,. Pelatihan menunjukkan korelasi sebesar 0,543 dengan pengaruh sedang dan signifikan . = 0,001 < 0,. Dukungan manajemen memiliki korelasi 0,496 dengan kategori pengaruh sedang dan signifikan . = 0,002 < 0,. Sedangkan dukungan pimpinan memiliki korelasi 0,621 dengan kategori pengaruh kuat dan signifikan . = 0,000 < 0,. Hal ini mengindikasikan bahwa kelima variabel tersebut memiliki pengaruh signifikan terhadap keberhasilan program PPI. Tabel 5. Variabel Independen yang paling berpengaruh terhadap variabel dependen. Variabel Odss Ratio Fasilitas (X. 2,427 Sikap (X. 2,463 Pelatihan (X. 1,489 Dukungan Manajemen (X. 0,444 Dukungan Pimpinan (X. 1,760 Sumber: Data Primer Berdasarkan tabel 5 yang menunjukan hasil variabel independen yang paling berhubungan terhadap variabel dependen, dari hasil penelitian dapat dilihat nilai odss ratio paling tinggi terdapat pada variabel sikap (X. yaitu sebesar 2,463, dari hasil ini maka dapat disimpulkan bahwa variabel independen yang paling berhubungan terhadap variabel dependen dalam penelitian ini adalah variabel sikap (X. Analisis Multivariat Hasil penelitian yang variabel independen memiliki nilai signifikansi di bawah ambang batas tertentu . isalnya p < 0,. dianggap memiliki pengaruh signifikan terhadap variabel dependen. Pembahasan Pengaruh Fasilitas Terhadap Keberhasilan Program Pencegahan Dan Pengendalian Infeksi (PPI) Di RSU Mitra Sejati Kota Medan Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa di RSU Mitra Sejati Medan 81,8% responden menyatakan fasilitas PPI sudah lengkap, sementara 18,2% menganggapnya kurang lengkap. Ini mengindikasikan bahwa fasilitas memiliki pengaruh yang signifikan terhadap keberhasilan program PPI di rumah sakit tersebut. Analisis bivariat yang dilakukan menggunakan metode Pearson Correlation Product Moment menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara tingkat kelengkapan fasilitas dengan keberhasilan pelaksanaan program PPI, dengan koefisien korelasi . sebesar 0,568. Nilai ini termasuk dalam kategori pengaruh sedang dan menunjukkan hubungan positif, di mana semakin lengkap fasilitas yang tersedia, semakin tinggi keberhasilan program PPI. Hasil ini diperkuat dengan nilai signifikansi p < 0,05, yang mengindikasikan bahwa hubungan antara kedua variabel tersebut tidak terjadi secara kebetulan. Dengan kata lain, kelengkapan fasilitas di rumah sakit berperan penting sebagai salah satu faktor yang secara signifikan memengaruhi efektivitas dan keberhasilan implementasi program PPI dalam mencegah dan mengendalikan infeksi di lingkungan pelayanan kesehatan. Tabel 3. Seleksi Variabel untuk analisis multivariat. Variabel P-Value Kandidat Fasilitas (X. 0,000 Sikap (X. 0,000 Pelatihan (X. 0,001 Dukungan Manajemen (X. 0,002 Dukungan Pimpinan (X. 0,000 Sumber: Data Primer Berdasarkan tabel 3 yang menunjukkan bahwa seluruh variabel independen dalam penelitian ini fasilitas, sikap, pelatihan, dukungan manajemen dan dukungan pimpinan memiliki nilai p value < 0,05. Tabel 4. Hasil Analisis Multivariat Variabel Sig Fasilitas (X. Sikap (X. Pelatihan (X. 0,000 Dukungan Manajemen (X. Dukungan Pimpinan (X. Sumber: Data Primer Berdasarkan tabel 4 yang menunjukan hasil analisis multivariat pada variabel fasilitas, sikap. Jurnal Vokasi Kesehatan Volume 11 Nomor 1, hlm. Menurut penelitian Sundoro. menjelaskan bahwa kualitas fasilitas rumah sakit, seperti ruang perawatan yang memadai dan ketersediaan alat medis yang mencukupi, merupakan faktor kunci dalam mendukung keberhasilan program PPI. Rumah sakit dengan fasilitas yang lengkap cenderung memiliki tingkat keberhasilan program yang lebih tinggi karena pelaksanaan protokol PPI secara optimal, seperti kebersihan tangan, sterilisasi alat, dan isolasi pasien infeksius (Sundoro, 2. Selain itu, penelitian Nadin et al. mengungkapkan bahwa sarana sanitasi yang baik, seperti fasilitas pencucian tangan, ventilasi yang cukup, dan sistem pengelolaan limbah, sangat berperan dalam menurunkan risiko infeksi Mereka juga menyoroti pentingnya pelatihan tenaga medis terkait pengendalian infeksi, yang membantu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan tenaga kesehatan dalam menerapkan prosedur PPI. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara kelengkapan fasilitas dengan efektivitas program PPI di berbagai rumah sakit, menegaskan bahwa infrastruktur dan pelatihan yang memadai adalah elemen penting dalam memastikan keberhasilan program pencegahan infeksi (Nadin et al. , 2. rumah sakit. Semakin baik sikap perawat dalam melaksanakan program PPI, semakin baik pula hasil yang dapat dicapai, sehingga dapat mencegah terjadinya infeksi nosokomial, baik yang terjadi dari pasien ke perawat maupun sebaliknya dari perawat ke pasien. Selain itu. Penelitian Zulkarnain. mengungkapkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan, sikap, dan keterampilan perawat dengan upaya pencegahan infeksi nosokomial (PPI) di ruang perawatan interna RSUD Bima (Zulkarnain, 2. Pengaruh Pelatihan Terhadap Keberhasilan Program Pencegahan Dan Pengendalian Infeksi (PPI) Di RSU Mitra Sejati Kota Medan Hasil penelitian mengenai pengaruh pelatihan terhadap keberhasilan program pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI) di RSU Mitra Sejati Medan menunjukkan bahwa sebagian besar responden 79 orang . ,8%), menyatakan bahwa pelatihan yang diberikan sudah baik, sementara 9 responden . ,2%) menyatakan pelatihan tersebut kurang baik. Berdasarkan analisis bivariat dengan menggunakan Pearson Correlation Product Moment, ditemukan koefisien korelasi . sebesar 0,543, yang menunjukkan pengaruh dengan tingkat Korelasi ini signifikan karena nilai p < 0,05 . ,001 < 0,. Hal ini mengindikasikan bahwa pelatihan memiliki pengaruh terhadap keberhasilan program pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI) di RSU Mitra Sejati Medan. Menurut Yusnandar . , bahwa pelatihan adalah pendidikan bersifat jangka pendek yang bertujuan untuk meningkatkan keterampilan kerja. Proses pelatihan ini merupakan serangkaian kegiatan belajar yang dilakukan oleh karyawan, meningkatkan penguasaan keterampilan yang dibutuhkan dalam pekerjaan. Pelatihan bertujuan untuk meningkatkan kompetensi dan kesiapan kerja, agar karyawan dapat menjalankan tugasnya dengan lebih efektif dan efisien (Yusnandar et al. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa frekuensi pelatihan yang dilakukan secara rutin dan berkualitas memiliki pengaruh signifikan terhadap mengimplementasikan program Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) di RSU Mitra Sejati Medan. Pelatihan yang dirancang dengan baik memberikan kesempatan bagi perawat untuk memahami secara mendalam prosedur, protokol, serta kebijakan terkait PPI, seperti teknik kebersihan tangan, penggunaan alat pelindung diri (APD), sterilisasi alat medis, hingga penanganan limbah rumah sakit. Pemahaman ini menjadi dasar penting bagi tenaga kesehatan untuk dapat menjalankan program PPI dengan lebih efektif. Selain meningkatkan keterampilan teknis, pelatihan juga berperan dalam membentuk kesadaran dan sikap positif perawat terhadap pentingnya pencegahan infeksi nosokomial. Kesadaran ini mendorong tenaga kesehatan untuk Pengaruh Sikap Terhadap Keberhasilan Program Pencegahan Dan Pengendalian Infeksi (PPI) Di RSU Mitra Sejati Kota Medan Hasil penelitian mengenai pengaruh sikap terhadap keberhasilan program pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI) di RSU Mitra Sejati Medan menunjukkan bahwa sebagian besar responden 79 orang . ,8%) memiliki sikap yang baik, sementara 9 orang . ,2%) menunjukkan sikap yang kurang baik. Analisis bivariat menggunakan uji Pearson Correlation Product Moment menghasilkan koefisien korelasi . sebesar 0,658, yang menunjukkan pengaruh kuat antara sikap dan keberhasilan program PPI. Korelasi ini signifikan dengan nilai p < 0,05 . ,000 < 0,. , yang mengindikasikan adanya hubungan yang signifikan antara sikap dan keberhasilan program pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI) di rumah sakit tersebut. Sikap merupakan pandangan atau perasaan seseorang terhadap suatu hal. Sikap juga dapat dipahami sebagai kecenderungan psikologis yang terwujud dalam evaluasi atau penilaian terhadap sesuatu, yang sering ditunjukkan dalam bentuk opini seperti setuju/tidak setuju atau suka/tidak suka (Cambridge University Press, 2. Menurut penelitian (Sinlaeloe et al. , 2. sejalan bahwa sikap perawat merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam memberikan perawatan yang berkualitas kepada pasien. Sikap ini mencakup pandangan, keyakinan, dan perilaku perawat dalam berinteraksi dengan pasien dan keluarganya. Sikap pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI) di Jurnal Vokasi Kesehatan Volume 11 Nomor 1, hlm. lebih konsisten dan patuh dalam menerapkan langkah-langkah PPI, yang pada akhirnya dapat mengurangi risiko penularan infeksi baik antar pasien maupun antara pasien dan tenaga medis. Pelatihan juga memungkinkan perawat untuk terus memperbarui pengetahuan mereka, terutama terkait dengan perkembangan terbaru dalam metode pencegahan infeksi dan penanganan kasus infeksi. Pelatihan yang dilakukan secara berkala dapat berfungsi sebagai forum untuk diskusi dan evaluasi, di mana perawat dapat berbagi pengalaman, tantangan, dan solusi terkait implementasi PPI. Hal ini tidak hanya meningkatkan kompetensi individu tetapi juga mendorong kerja sama tim dan membangun budaya keselamatan pasien di lingkungan rumah sakit. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Sinaga . menekankan pentingnya komitmen pencegahan infeksi, di mana hasil penelitian tersebut menemukan bahwa dukungan manajemen yang kuat berkontribusi secara signifikan terhadap keberhasilan program pencegahan (Sinaga, 2. Namun demikian, temuan ini ditentang oleh Ritonga dan Silaban . , yang menyatakan bahwa keberhasilan program pencegahan infeksi lebih ditentukan oleh kerja sama yang efektif antara anggota tim medis daripada oleh tingkat komitmen manajemen semata (Putra Ritonga & Silaban. Pengaruh Dukungan Pimpinan Terhadap Keberhasilan Program Pencegahan Dan Pengendalian Infeksi (PPI) Di RSU Mitra Sejati Kota Medan Hasil dukungan pimpinan terhadap keberhasilan program pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI) di RSU Mitra Sejati Medan menunjukkan bahwa sebagian besar responden 79 orang . ,8%) menganggap dukungan pimpinan baik, sementara 9 orang . ,2%) menilai dukungan pimpinan kurang baik. Berdasarkan analisis bivariat menggunakan Pearson Correlation Product Moment, ditemukan koefisien korelasi . sebesar 0,621 yang menunjukkan pengaruh yang kuat dengan tingkat signifikansi p < 0,05 . ,000 < 0,. Hasil ini menunjukkan bahwa dukungan pimpinan memiliki pengaruh signifikan terhadap keberhasilan program pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI) di RSU Mitra Sejati Medan. Dukungan pimpinan merujuk pada kondisi di mana pimpinan memberikan dorongan yang memungkinkan karyawan merasa aman dan nyaman secara psikologis. Sebagai pendukung utama, pimpinan memiliki peran penting dalam membantu karyawan mencapai tujuan jangka Pimpinan yang tidak memberikan dukungan dapat menurunkan motivasi dan semangat kerja (Sedianingsih. Yunita Eka Safitri. Dalam program pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI) di RSU Mitra Sejati Medan, dukungan pimpinan sangat krusial. Dengan dukungan yang kuat, pimpinan dapat meningkatkan motivasi perawat untuk melaksanakan program PPI dengan lebih baik, yang pada gilirannya akan berdampak pada keberhasilan program tersebut. Pengaruh Dukungan Manjemen Terhadap Keberhasilan Program Pencegahan Dan Pengendalian Infeksi (PPI) Di RSU Mitra Sejati Kota Medan Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden . ,3%) menilai dukungan manajemen terhadap program pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI) di RSU Mitra Sejati Medan baik. Sedangkan 5,6% responden menganggap dukungan manajemen kurang baik. Analisis Pearson Correlation Product Moment menunjukkan adanya koefisien korelasi . sebesar 0,496 dengan pengaruh kategori sedang, dan korelasi ini signifikan . = 0,002 < 0,. Hal ini mengindikasikan bahwa dukungan manajemen memiliki pengaruh yang signifikan terhadap keberhasilan program PPI di RSU Mitra Sejati Medan. Dukungan yang baik dari manajemen dapat meningkatkan efektivitas pelaksanaan program pencegahan dan pengendalian infeksi, yang pada gilirannya berkontribusi pada keberhasilan keseluruhan program. Dukungan manajemen merujuk pada bagaimana pihak manajemen mengelola informasi, menetapkan tujuan, memantau kinerja, dan mengalokasikan sumber daya yang diperlukan untuk mencapai tujuan organisasi (Piter Serhalawan et al. , 2. Dalam penelitian ini, dukungan manajemen berkaitan dengan sejauh mana manajemen di RSU Mitra Sejati Medan menyediakan sumber daya yang dibutuhkan untuk pengendalian infeksi (PPI). Hal ini mencakup pemahaman manajemen terhadap pentingnya program PPI serta sejauh mana mereka terlibat dalam kegiatan yang mendukung keberhasilan program tersebut. Semakin baik dukungan yang diberikan oleh manajemen, semakin efektif pula pengendalian infeksi (PPI), yang pada gilirannya dapat meningkatkan hasil keseluruhan dari program tersebut. Penelitian lain menunjukkan bahwa dukungan manajemen tidak selalu menjadi faktor penentu utama dalam keberhasilan implementasi program Penutup Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi pengendalian infeksi (PPI) di RSU Mitra Sejati Medan, bahwa fasilitas, sikap, pelatihan, dukungan manajemen, dan dukungan pimpinan semuanya berpengaruh terhadap keberhasilan program PPI. Dari kelima variabel tersebut, sikap perawat Jurnal Vokasi Kesehatan Volume 11 Nomor 1, hlm. memiliki pengaruh paling dominan terhadap keberhasilan program. , 1Ae12. Marna. Maxrizal. , & Saftari. Analisis Faktor yang Mempengaruhi Indeks Prestasi dengan Metode Regresi Logistik Biner. JMPM: Jurnal Matematika Dan Pendidikan Matematika, 5. , 12Ae22. https://doi. org/10. 26594/jmpm. Mo. Low. Tambyah. , & Tambyah. The socio-economic impact of multidrug-resistant nosocomial infections: a qualitative study. Journal of Hospital Infection, 102. , 454Ae460. https://doi. org/10. 1016/j. Monegro. Muppidi. , & Regunath. Hospital acquired infections. StatPearls. https://w. gov/books/NBK44 Nadin. Putra. Wahyuni. Rupiwardani, . Widyagama. , & Malang. Program Pencegahan Dan Pengendalian Infeksi (PPI) di Rumah Sakit X Kabupaten Malang. Media Husada Journal of Environmental Health, 2. , 135Ae144. https://mhjeh. id/index. php/mhjeh/article/download/24/16#::text= Unit Pencegahan Pengendalian Infeksi,terkait pelayanan kesehatan yang Nobile. Conti. Bastianelli. Piscitelli. Calori. , & Navone. Promotion of hand hygiene: The experience of the orthopaedic hospital Gaetano PiniCTO. Milan. Italy. Annali Di Igiene Medicina Preventiva e Di Comunita, 30. , 229Ae236. https://doi. org/10. 7416/ai. Piter Serhalawan. Aula Rumana. Happy Putra. , & Fannya. Penerapan Metode Hot-Fit dalam Mengevaluasi Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (Literature Revie. COMSERVA : Jurnal Penelitian Dan Pengabdian Masyarakat, 3. , 3058Ae3071. https://doi. org/10. 59141/comserva. Putra Ritonga. , & Silaban. Hubungan Fungsi Manajemen Kepala Ruangan Dengan Pelaksanaan Pengendalian Infeksi Nosokomial Di Rumah Sakit Umum Imelda Pekerja Indonesia Medan. Jurnal Ilmiah Keperawatan IMELDA, 8. , 46Ae51. https://doi. org/10. 52943/jikeperawatan. Sarini. , & Dewantari. Identifikasi Faktor-Faktor Berpengaruh Terhadap Inseminasi Buatan Pada Program Upsus Siwab Di Bali Identification of Factors Affecting the Inseminator Performance. Majalah Ilmiah Peternakan, 23. , 72Ae77. Sedianingsih. Yunita Eka Safitri. Pengaruh Dukungan Atasan Kejelasan Tujuan Dan Pela. Jurnal Riset Akuntansi Dan Bisnis Airlangga. Vol 5. , 745Ae761. Ucapan Terima Kasih Saya mengucapkan terima kasih kepada Kepala Rumah Sakit Umum Mitra Sejati Medan, atas segala dukungannya terhadap penelitian ini. Daftar Pustaka Cambridge University Press, . https://w. com/catalogue/8a04f 1f6-1478-3655-9935f21ba039ee71/?utm_source=desktop&utm_ medium=1. 8&utm_campaign=open_catal og&userDocumentId=. 28d91-ed6d40db-aa69-29f6af90e41. Farid. Yuswanto. Tyas. , & Ernawati. Hubungan Koping Stres Perawat Perioperatif Menurut Teori Lazarus Dan Folkman Dengan Risiko Cedera Pada Pasien. JURNAL VOKASI KESEHATAN. Febriani hrp. Aplikasi Sistem Pakar Deteksi Penyakit Infeksi Nosokomial Menggunakan Metode Forward Chaining. Jurnal SANTI - Sistem Informasi Dan Teknik Informasi, 3. , 47Ae57. https://doi. org/10. 58794/santi. Hamonangan. Hubungan Pengetahuan Perawat Tentang Infeksi Nosokomial Dengan Tindakan Pencegahannya Pada Pasien Pascabedah Di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Imelda Medan. Jurnal Ilmiah Keperawatan Imelda, 4. , 38Ae45. http://jurnal. id/index. php/JURN ALKEPERAWATAN Hardani. Andriani. Ustiawaty. Utami. Istiqomah. Fardani. Sukmana. , & Auliya. Buku Metode Penelitian Kualitatif. In Revista Brasileira de Linguystica Aplicada (Vol. Issue . Hardani. Ustiawaty. Andriani. Fatmi Utami, . Rahmatul Istiqomah. Asri Fardani. Juliana Sukmana. , & Hikmatul Auliya. Metode Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif. In Yogyakarta: CV. Pustaka Ilmu