JSPM Jufrizal. Adi Wirawan. Dinda Anugerah Tristi & Adriansyah Admaja, . Integrasi Literasi Media dan Informasi dalam Praktik Jurnalisme di Sumatera Selatan. Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Malikussaleh (JSPM), 7 . Hal. Januari-Juni 2026. DOI. 29103/jspm. INTEGRASI LITERASI MEDIA DAN INFORMASI DALAM PRAKTIK JURNALISME DI SUMATERA SELATAN Jufrizal. Adi Wirawan. Dinda Anugerah Tristi. Adriansyah Admaja. 1,2,3,4 Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang-Indonesia *Corresponding Author: jufrizal_uin@radenfatah. ABSTRACT This study aims to find out how the methods and level of competence of journalists in South Sumatra in integrating media and information literacy into journalism practices and what are the obstacles faced in implementing it. The research was conducted using a qualitative approach. Data was collected through in-depth interviews, observations, and text analysis. The results of the study show that Palembang Express journalists have a high level of competence (Advance. in integrating media and information literacy. They have personal competence. Critical Understanding, and good communication, and are constantly undergoing training and experience to improve their abilities. This allows them to produce accurate, balanced, and useful news for the community. The implementation of the integration of media and information literacy in journalism practice is a very important step to ensure high-quality, accurate, and useful news production for the community. Journalists who have strong media and information literacy will be able to understand, analyze, and evaluate information from various media sources, so that they can produce accurate, balanced, and informative news. The obstacles faced by journalists in implementing media and information literacy can be categorized into three, namely: lack of formal training and education, pressure to produce news quickly, and limited access to information sources. These constraints can have a negative impact on the integrity and quality of news produced by journalists. To overcome this, efforts are needed to improve media and information literacy among journalists. These efforts can be made through training, education, and development in the media industry. Keyword: Journalists. Journalism Practice. Media. Information. Literacy ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui metode dan tingkat kompetensi wartawan di Sumatera Selatan dalam mengintegrasikan literasi media dan informasi pada praktik jurnalisme serta mengidentifikasi kendala yang dihadapi dalam pelaksanaannya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi, dan analisis teks. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wartawan Palembang Ekspres memiliki tingkat kompetensi yang tinggi dalam mengintegrasikan literasi media dan informasi. Mereka memiliki kompetensi personal, pemahaman kritis, dan kemampuan komunikasi yang baik, serta rutin mengikuti pelatihan dan mengembangkan pengalaman demi meningkatkan kemampuan. Hal ini memungkinkan mereka menghasilkan berita yang akurat, berimbang, dan bermanfaat bagi masyarakat. Integrasi literasi media dan informasi dalam praktik jurnalisme sangat penting untuk memastikan produksi berita berkualitas, akurat, dan informatif. Wartawan dengan literasi yang kuat mampu memahami, menganalisis, serta mengevaluasi informasi dari berbagai sumber secara efektif. Kendala yang dihadapi wartawan dalam penerapan literasi media dan informasi terbagi menjadi tiga kategori utama, yakni kurangnya pelatihan dan pendidikan formal, tekanan dalam memenuhi target produksi berita yang cepat, serta keterbatasan akses terhadap sumber informasi. Kendala tersebut dapat menurunkan integritas dan kualitas berita. Oleh karena itu, diperlukan upaya peningkatan literasi media dan informasi melalui pelatihan, pendidikan, dan pengembangan profesional di industri media guna mendukung kualitas jurnalistik yang lebih baik. Kata Kunci: Jurnalis. Literasi Media. Informasi. Praktik Jurnalistik PENDAHULUAN Akhir-akhir ini, peristiwa politik di tanah air menjadi isu yang terus bergulir di media mainstream atau media arus utama. Perkembangan era digital juga turut mempercepat arus informasi menjadi konsumsi publik. Rendahnya literasi digital juga menyebabkan masyarakat mudah terjebak dalam pusaran hoaks di grub WhatsApp dan Facebook (Juditha, 2. Sumbersumber informasi memiliki rentang kecepatan dalam menyampaikan sebuah peristiwa di lini masa internet dan media sosial, tentu hal tersebutpun membawa pengaruh dalam praktik jurnalisme. Kecapatan ruang berita digital sering kali memaksa pertukaran antara kedalaman infomrasi dan kecepatan informasi (Nikki Usher, 2. Perkembangan era digital telah mengubah lanskap media politik di Indonesia dengan mempercepat penyebaran informasi, memungkinkan diversifikasi sumber informasi, dan menghadirkan tantangan baru dalam hal verifikasi fakta dan etika jurnalisme. Sementara teknologi memberikan peluang baru, juga menimbulkan risiko dan memerlukan pendekatan yang hati-hati dalam mengonsumsi dan memahami informasi. Gangguan informasi bukan hanya tentang berita palsu, tetapi tentang ekosistem kompleks misinformasi, disinformasi, dan malinformasi (Derakhshan, 2. Pengaruh era digital terhadap praktik jurnalisme terlihat dalam perubahan metode pengumpulan dan penyajian informasi oleh jurnalis. Saat ini, jurnalis tidak hanya mengandalkan sumber informasi konvensional seperti narasumber, dokumen, serta foto atau video, tetapi juga memanfaatkan sumber informasi yang terdapat secara online seperti platform berita, media sosial, dan komunitas online. Kecepatan siklus berita menciptakan tekanan yang merusak proses verifikasi fakta tradisional (Zimdars, 2. Meskipun memberikan akses yang lebih luas terhadap informasi, perkembangan ini juga mengakibatkan risiko lebih tinggi terhadap informasi yang tidak akurat atau Di zaman digital, kemampuan jurnalis dalam menggunakan teknologi untuk meningkatkan mutu dan keandalan pemberitaan sangat diharapkan. Selain itu, mereka perlu memiliki ketrampilan dalam berkomunikasi dengan audiens secara efisien dan membangun hubungan kepercayaan yang kokoh dengan mereka. Peran jurnalis juga bergeser dari sekadar penjaga gerbang . informasi menjadi AugatewatcherAy yang membantu pengguna menavigasi banjir konten digital (Singer, 2. Dengan mengadopsi prinsip-prinsip tersebut, jurnalis dapat menjaga peran mereka yang vital dalam masyarakat sebagai penyedia informasi yang akurat dan dapat dipercaya. 170 | Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Malikussaleh (JSPM) Volume 7 Nomor 1 Tahun 2026 Pada tahun 2018 silam, publik digegerkan dengan pemberitaan tentang Ratna Sarumpaet dianiaya orang misterius di dalam mobil ketika berada di Bandara Husein Sastranegara. Bandung. Jawa Barat. Informasi tersebut dengan cepat menyebar di internet dan media sosial. Akhirnya peristiwa itu dalam rentang waktu yang cepat diberitakan oleh media online seperti Detik. Viva. CNN Indonesia. Kumparan. Tempo. Sindo. TVone, dan beberapa media mainstream lainnya. Peristiwa penganiayaan yang diduga terjadi pada Ratna Sarumpaet pada tahun 2018 adalah contoh bagaimana berita politik dapat berkembang secara cepat di era digital, mempengaruhi opini publik, dan memiliki dampak politik yang signifikan. Ini juga menjadi pelajaran penting tentang pentingnya verifikasi fakta dalam jurnalisme dan perhatian terhadap etika dalam penyampaian Namun, setelah beberapa pekan Ratna Sarumpaet mengakui bahwa dia menyebarkan berita bohong tentang isu penganiayaan yang menimpanya. Ekosistem berita palsu memanfaatkan algoritma media sosial untuk mempercepat penyebaran konten sensasional (Lazer, 2. Pengakuan Ratna Sarumpaet kembali ramai diberitakan oleh media mainstream. Kejadian yang melibatkan Ratna Sarumpaet merupakan contoh konkret bagaimana berita palsu atau hoaks dapat memiliki dampak negatif terhadap praktek jurnalisme. Saat berita tersebut pertama kali muncul, banyak media yang menganggapnya benar dan langsung melaporkannya tanpa melakukan tahap verifikasi yang diperlukan. Konsekuensinya, berita yang tidak akurat tersebut dengan cepat menyebar dan merambah luas. Fakta ini memberikan dampak negatif terhadap praktik jurnalisme, serta menjadi tantangan yang nyata bagi jurnalis agar menguatkan diri dengan pengetahuan literasi media dan literasi informasi. Literasi media bukan sekedar ketrampilan teknis, melainkan kemampuan berpikir kritis dalam mengevaluasi konten digital (Buckingham, 2. Pengetahuan literasi media mesti dimiliki oleh khalayak termasuk jurnalis dalam mencari sebuah sumber informasi, dan perkembangan teknologi di bidang teknologi informasi juga telah memicu perubahan yang cukup besar dalam teknologi digitalisasi yang membuat semua konten di media cetak dan eletronik dapat digabungkan dan distribusikan (Apriady, 2. Begitu juga Literasi informasi merupakan seperangkat keterampilan yang mengharuskan individu untuk mengenali informasi yang dibutuhkan untuk, menemukan, mengevaluasi dan menggunakan informasi yang dibutuhkan secara efektif dan legal dari sumber yang terpercaya (Awan, 2. Jurnalis yang memiliki pemahaman mendalam tentang literasi media dan literasi informasi akan memiliki kemampuan yang lebih baik dalam memisahkan antara informasi yang akurat dan yang tidak benar. (Bruce, 2. mengidentifikasi literasi informasi sebagai katalis yang diperlukan guna 171 | Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Malikussaleh (JSPM) Volume 7 Nomor 1 Tahun 2026 mengubah masyarakat informasi saat ini menjadi masyarakat belajar masa depan. Sejalan dengan itu, (Kapitzke, 2. literasi informasi dipahami sebagai menguntungkan individu serta masyarakat luas dan dengan demikian sebagian besar lolos dari interogasi kritis. Mereka juga akan lebih terampil dalam melakukan proses verifikasi sebelum menyampaikan berita. Upaya semacam ini akan berkontribusi dalam mengurangi penyebaran berita palsu dan mempertahankan standar kualitas dalam praktik jurnalisme. Dengan begitu, literasi media dan informasi menggambarkan sebuah keterampilan seorang jurnalis dalam mengelolah dan mengenali sumber informasi yang berasal dari sumber yang memiliki kekuatan legalitas guna menghindari sumber yang tidak valid. Dalam hal ini tentunya membuat jurnalis dituntut berkompeten dalam mengelola dan mencari berbagai macam sumber informasi yang memiliki legalitas dari sumber yang diperoleh. Bukan hanya saja dalam kecepatan dalam penyampaian sebuah informasi nya saja, calon jurnalis juga harus memiliki pengetahuan untuk menganalisa, memfilterisasi, dan mengevaluasi sumber informasi yang mereka dapatkan di Jurnalis yang memiliki kemampuan literasi media dan informasi yang kuat dapat menghasilkan berita yang akurat dan bermanfaat bagi masyarakat, sehingga membangun reputasi mereka sebagai jurnalis yang dapat diandalkan dan profesional. Integritas profesional dan etika yang kuat juga harus dimiliki oleh jurnalis. Mereka diharapkan untuk tetap berpegang pada prinsip-prinsip jurnalistik yang melibatkan keakuratan, ketidakberpihakan, serta kemandirian dengan tujuan objektivitas. Menurut (Schudson, 2. objektivitas bukan sekedar tujua pribadi jurnalis, melainkan norma profesional yang membentuk struktur produksi berita. Terlebih, mereka harus menghindari situasi konflik kepentingan dan pemberitaan yang bias. Dengan memegang teguh nilai-nilai profesional dan etika ini, jurnalis dapat memberikan berita yang akurat dan terkini kepada khalayak. Kehadiran ini sangatlah berarti dalam era informasi saat ini, di mana masyarakat memiliki akses yang mudah terhadap berbagai sumber Etika dan profesionalisme jurnalis berperan penting dalam memastikan bahwa masyarakat menerima berita yang akurat, objektif, dan dapat dipercaya. Dalam lanskap digital kontemporer, transparansi dipandang sebagai Auobjektivitas baruAy, di mana jurnalis memberikan bukti dari proses pelaporan untuk membangun kepercayaan dengan publik yang skeptis (Karlsson, 172 | Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Malikussaleh (JSPM) Volume 7 Nomor 1 Tahun 2026 Era informasi saat ini, di mana masyarakat memiliki akses yang mudah terhadap berbagai sumber informasi, kehadiran jurnalis yang memegang teguh nilai-nilai tersebut sangatlah penting. Literasi informasi memungkinkan jurnalis untuk transparan mengenai sumber mereka, yang merupakan bentuk baru dari objektivitas dalam jurnalisme digital (Karlsson. The Rituals of Transparency in Online Journalism, 2. Jurnalis yang etis dan profesional membantu memastikan bahwa masyarakat tidak terpapar informasi yang tidak akurat atau menyesatkan, dan praktik jurnalistik saat inipun menghadapi tantangan ganda: menjaga kecepatan dan siklus berita 24 jam sembari memenuhi kewajiban etis untuk memverifikasi informasi di era misinformasi yang merajalela (Ward, 2. TINJAUAN PUSTAKA Pada saat ini media massa tidak hanya sekedar memberikan informasi dan hiburan semata, melainkan juga mengajak khalayak untuk melakukan perubahan perilaku. Melalui sajian konten media yang khas dan unik sehingga apa yang disampaikan pesan-pesan media itu terlihat sangat menarik, serta menimbulkan rasa penasaran khalayak. Pembingkaian pesan melalui teks, gambar dan suara merupakan aktivitas media untuk mempengaruhi pikiran dan perasaan khalayak umum. Pembingkaian pesan dapat menjadi alat yang ampuh untuk mempengaruhi khalayak. Namun, penting untuk diingat bahwa media juga memiliki tanggung jawab untuk menyajikan informasi yang akurat dan objektif. Pembingkaian pesan tidak boleh dilakukan secara manipulatif atau Literasi media sebagai praktik sosial dan budaya, ini mengacu pada bidang akademik studi media dan membangun literasi media sebagai kemampian untuk terlibat secara kritis dengan media (Leaning, 2. Literasi media menurut Art Silverblatt merupakan gerakan sadar melek media oleh khalayak media massa dengan menggunakan pendekatan proses penyampaian pesan media kepada konsumen media (Tambukara, 2. Proses penyampaian pesan media tersebut dapat berupa buku, film, berita, iklan, dan lain sebagainya. Dari proses tersebut dapat memberikan mengenai pemahaman mengenai budaya yang ada di masyarakat sebagai bagian dari proses komunikasi Dalam bukunya Media Literacy: Keys to Interpreting media Messages Art Silverblatt mengusulkan empat aspek dimensi literasi media yang harus dipahami, yaitu: aspek proses, konteks, framework, dan produksi nilai. METODE PENELITIAN Metode penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif yang menggambarkan 173 | Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Malikussaleh (JSPM) Volume 7 Nomor 1 Tahun 2026 kemampuan literasi media dan informasi dan praktik jurnalisme bagi jurnalis di Sumatera Selatan dalam menghadapi perkembangan era digital. Ditengah dengan cepat menyebarnya informasi dan peristiwa, dirasa perlu untuk mengetahui dari mana sumber informasi yang didapatkan itu, apakah sumber informasi yang disajikan media pada masa ini memiliki validitas yang tepat atau sebaliknya. Disinilah jurnalis menjadi subyek penelitian, dikarenakan kemampuan literasi media informasi harus ada dalam kemampuan mereka serta bisa diimplementasikan dalam praktik jurnalisme. Menurut (Creswell, 2. , penelitian kualitatif merupakan metode yang menggunakan masalah sosial dan kemanusiaan dalam mengeksplorasi dan memahami urgensi beberapa individu atau kelompok. Dalam penelitian kualitatif, fokus utama peneliti terletak pada dinamika interaksi dan proses sosial yang melibatkan individu atau kelompok. Data diambil melalui metode seperti wawancara mendalam, observasi partisipatif, atau analisis dokumen, lalu diolah dengan cara yang lebih deskriptif dan interpretatif. Tujuannya adalah untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam mengenai konteks sosial, pandangan, nilai-nilai, dan faktor-faktor yang berkontribusi pada pandangan serta tindakan yang dijalankan oleh subjek penelitian. Melalui pendekatan ini, penelitian kualitatif menghasilkan pemahaman yang dalam dan komprehensif mengenai esensi, kompleksitas, serta variasi dalam pengalaman manusia terhadap suatu permasalahan atau fenomena. Metode ini memungkinkan peneliti untuk meraih makna dan subtansi yang tersembunyi dalam data, yang sering kali sulit diungkap melalui pendekatan kuantitatif yang lebih terstruktur. Dengan demikian, penelitian kualitatif menjadi alat berharga dalam menggali pandangan serta pemahaman manusia terhadap ranah sosial dan kemanusiaan. Penelitian menggambarkan, menjelaskan, dan memahami fenomena sosial atau perilaku manusia dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian ini berfokus pada pemahaman mendalam dan interpretasi makna dari data yang dikumpulkan seperti wawancara mendalam, observasi, dan analisis teks. Secara mendasar literasi media ini seperti halnya suatu kemampuan secara kritis dalam melakukan evaluasi terhadap informasi pada media digital. Pada penelitian ini analisis data yang dikumpulkan kemudian dilakukan secara induktif dimana peneliti menggali temuan dan tema yang muncul, anlisis yang ditemukan lalu dilakukan pemilihan serta katagorisasi untuk menghasilkan deskripsi mendalam atas penomena yang diteliti. Melalui wawancara mendalam atau pengamatan, peneliti dapat mengeksplorasi bagaimana media mempengaruhi pemahaman dan tindakan individu . dalam konteks yang spesifik. 174 | Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Malikussaleh (JSPM) Volume 7 Nomor 1 Tahun 2026 HASIL DAN PEMBAHASAN Literasi adalah kemampuan membaca dan menulis. AuLiterasi media dan informasiAy adalah sebuah kemampuan untuk sepenuhnya menggunakan berbagai jenis media secara aman, bijaksana, dan bertanggung jawab. Literasi Media dan Informasi adalah seperangkat kompetensi yang memungkinkan seseorang untuk mengakses media, menganalisis konten media, membuat pesan media baru, merefleksikan konten media yang ada, dan mengambil tindakan dengan media. Orang yang melek media dan informasi lebih mampu memahami pesan media yang kompleks dari surat kabar, buku, radio, televisi, papan reklame, situs web, media sosial, dan segala bentuk media lainnya (Suryatni, 2. Mereka dapat mengenali disinformasi dengan lebih baik, mengetahui cara memverifikasi informasi, dan dapat menghasilkan pesan media sendiri. Menurut (Padmadewi, 2. , literasi media adalah kemampuan berbahasa yang mencakup keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Selain itu, literasi media juga mencakup kemampuan berpikir, yang merupakan elemen penting dalam kemampuan berbahasa. Dalam konteks yang lebih umum, literasi media bisa diartikan sebagai kemampuan yang melibatkan tidak hanya kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga keterampilan berbicara dan Sementara menurut (Livingstone, 2. literasi media adalah kemampuan untuk mengakses, menganalisis, mengevaluasi, dan menciptakan pesan dalam berbagai kontek. Dengan demikian, literasi media tidak terbatas pada pengenalan huruf atau kemampuan baca-tulis saja, tetapi juga mencakup kemampuan berbahasa yang lebih luas, seperti pemahaman, komunikasi, dan berpikir kritis. Palembang Ekspres, didirikan oleh H. Eddy Soewarno, mantan Walikota Palembang, telah menjadi kekuatan berita yang signifikan . Diluncurkan pada 2 Juni 2008, surat kabar ini berpusat di Jalan Jenderal Sudirman Nomor 125. Palembang. Dengan sirkulasi yang luas di Palembang dan sekitarnya. Palembang Ekspres juga memiliki situs web di w. Surat kabar ini berkomitmen untuk memberikan berita dan informasi yang akurat, objektif, dan terkini kepada masyarakat Palembang. Palembang Ekspres memiliki tim jurnalis yang berpengalaman dan berdedikasi yang selalu bekerja keras untuk memenuhi komitmen ini. Surat kabar ini juga memiliki standar penulisan dan desain yang tinggi, yang membuat berita dan informasi yang disajikannya menarik dan mudah dibaca. Sebagai salah satu surat kabar paling berpengaruh di Palembang, koran ini telah menjadi 175 | Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Malikussaleh (JSPM) Volume 7 Nomor 1 Tahun 2026 penghubung penting dalam melaporkan peristiwa lokal dan nasional. Prestasinya dalam jurnalisme diakui dengan berbagai penghargaan, termasuk gelar surat kabar terbaik di Sumatera Selatan pada tahun 2010 dan 2011. Palembang Ekspres memiliki komitmen yang kuat untuk menyajikan informasi yang akurat, terkini, dan bermanfaat bagi masyarakat Palembang dan sekitarnya. Selain itu, surat kabar ini juga berperan sebagai mitra pembangunan lokal, berkontribusi dalam peningkatan kualitas hidup masyarakat dan membantu memajukan daerah tersebut. Dalam perkembangannya. Palembang Ekspres (Palpre. telah mengalami perluasan dari surat kabar harian lokal di Palembang. Sumatera Selatan, menjadi sebuah media provinsi yang mencakup semua kabupaten, kota di Palembang, serta wilayah Sumatera Selatan secara Palpres mendistribusikan liputan beritanya hingga ke seluruh wilayah selatan Sumatra (Sumbagse. Dengan cakupan yang luas, surat kabar ini menghadirkan berbagai topik berita, termasuk hiburan, berita nasional, olahraga, dan lainnya, dengan tujuan utama memenuhi kebutuhan informasi para pembacanya. Sejak tanggal 2 Juni 2008. Harian Umum Palembang Ekspres telah beroperasi sebagai surat kabar yang berbasis di Kota Palembang. Dalam kalangan pembaca, surat kabar ini umumnya dikenal dengan sebutan "Koran Palpres" dan fokusnya adalah memberikan berita-berita terkini dari wilayah metropolis. Oleh karena itu, setiap halaman yang diterbitkan oleh Koran Palpres mengupayakan untuk memenuhi kebutuhan informasi pembaca dari berbagai lapisan masyarakat, termasuk pemerintahan, pelaku bisnis, isu kriminal, dan bidang pendidikan. Sejak didirikan. Koran Palpres telah berkembang di bawah naungan Harian Umum Sumatera Ekspres. Kehadirannya memberikan alternatif berita yang terjangkau bagi pembaca Sumatera Ekspres. Harian Umum Palembang Ekspres hadir setiap hari dengan variasi halaman: 16 halaman pada Senin hingga Jumat, dan 12 halaman pada Sabtu dan Minggu. Dalam dunia digital yang semakin kompleks, literasi media informasi atau Media Information Literacy (MIL) adalah kemampuan untuk memahami dan menggunakan media secara kritis dan bertanggung jawab (Supriyatna, 2. MIL juga dapat membantu individu untuk berpartisipasi secara aktif dalam masyarakat yang semakin terhubung melalui media. Menurut (Rahmi, 2. ada tiga tujuan literasi yaitu meningkatkan pemahaman pengguna media, memberdayakan pengguna untuk mengendalikan pengaruh media dalam kehidupan sehari-hari, dan mengembangkan kemampuan membedakan pesan media yang positif dan negatif sebagai dasar Penting bagi individu untuk mengembangkan MIL agar mereka dapat menjadi 176 | Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Malikussaleh (JSPM) Volume 7 Nomor 1 Tahun 2026 konsumen media yang kritis dan warga negara yang aktif. Literasi informasi menekankan pada akses, evaluasi dan penggunaan informasi. Literasi media menekankan pada kemampuan untuk memahami, mengevaluasi, dan menggunakan media sebagai sumber utama dan penghasil informasi. Dengan demikian, literasi informasi dan literasi media bersama-sama sebagai Media Information Literacy (MIL), yang penting untuk memberdayakan masyarakat dengan pengetahuan kritis tentang fungsi media, sistem informasi, dan kontennya. Literasi media digital juga mencakup pemahaman tentang dampak media digital pada pikiran, perasaan, dan perilaku kita. Dengan memiliki keterampilan ini, individu dapat menghadapi media digital dengan lebih bijak, memahami informasi yang mereka konsumsi, dan menggunakan media digital sebagai alat yang kuat untuk berpartisipasi dalam masyarakat yang semakin terhubung secara digital. Menurut (Mihailidis, 2. literasi media harus beranjak dari keterampilan individu menuju keterlibatan sipil. Keterampilan ini penting untuk individu di era digital ini. Dengan memiliki literasi media digital yang kuat, individu dapat menggunakan media digital secara bertanggung jawab dan aman. Mereka dapat memanfaatkan kekuatan media digital untuk meningkatkan kehidupan mereka dan kehidupan orang lain. Sementara itu (Bivens, 2. menyebutkan literasi media bagi jurnalis melibatkan pemahaman tentang bagaimana perangkat digital membentuk narasi dan memengaruhi pemilihan sumber. Literasi media adalah keterampilan yang penting bagi jurnalis untuk dapat melakukan pekerjaan mereka secara efektif dan bertanggung jawab. Dengan keterampilan literasi media, jurnalis dapat mengakses dan menggunakan informasi dari berbagai sumber, mengevaluasi informasi secara kritis, mengekspresikan diri secara kreatif, dan memahami dampak media. Tingkat Kompetensi Jurnalis Mengintegrasikan Literasi Media dan Informasi Ketrampilan literasi media dan informasi mesti dimiliki oleh jurnalis Harian Umum Palembang Ekspres. Ketrampilan ini mencakup seperti pemanfaatan teknologi media, memproduksi konten media, menganalisis pesan media, dan berkomunikasi secara efektif melalui saluran media. Individual competence dibagi dalam dua pertama use skills . emanfaatan ketrampila. , critical understanding . emahaman kriti. Kedua social competence . ompetensi sosia. yaitu communicative abilities . emampuan komunikas. (Briandana, 2. Personal Competence 177 | Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Malikussaleh (JSPM) Volume 7 Nomor 1 Tahun 2026 Kompetensi personal merujuk pada kemampuan individu untuk secara efektif memanfaatkan media dan menganalisis konten di dalamnya. Ini mencakup keterampilan dan kemampuan yang diperlukan untuk menjelajahi, terlibat dengan, dan secara kritis mengevaluasi platform media, alat, dan informasi. Ini termasuk kecakapan dalam menggunakan berbagai teknologi media, kemampuan untuk menganalisis konten media, dan kemampuan untuk mengevaluasi kredibilitas, bias, dan dampak pesan media. Personal Competance ini terdiri dari dua Use skills Pemanfaatan keterampilan, merujuk pada kemampuan teknis yang diperlukan untuk secara efektif mengoperasikan dan memahami instruksi dalam berbagai bentuk media. Ini mengimplikasikan bahwa individu memiliki keterampilan yang diperlukan untuk menjelajahi dan berinteraksi dengan platform media, alat, dan perangkat. Ini mencakup kecakapan dalam menggunakan peralatan media, perangkat lunak, dan antarmuka, serta kemampuan untuk memahami dan mengikuti instruksi yang disajikan melalui berbagai format media. Kemampuan pribadi seorang jurnalis dalam mengaplikasikan skill, termasuk aspek teknis seperti menulis, melakukan wawancara, dan fotografi, serta kemampuan non-teknis seperti berpikir kritis, berkomunikasi efektif, dan beradaptasi dengan perubahan, sangat penting untuk memastikan jurnalisme berkualitas tinggi yang memenuhi standar profesional, membantu mereka mengatasi tantangan persaingan ketat, perkembangan teknologi, dan perubahan sosial. Trisno Rusli. Pemimpin Redaksi Sumatera Ekspres mengatakan, referensi jurnalis dalam membaca buku atau surat kabar memang beragam, tetapi di era digital ini, kemampuan menggunakan perangkat elektronik menjadi keterampilan yang sangat penting bagi mereka. Penggunaan internet dan media sosial telah menjadi bagian integral dari pekerjaan jurnalis, sehingga kemampuan adaptasi dengan teknologi modern menjadi esensial bagi mereka dalam menjalankan tugas mereka. Lebih lanjut Trisno Rusli menyebutkan bahwa. Palembang Ekspres telah melakukan langkah yang tepat dengan aktif di media sosial. Hal ini menunjukkan bahwa Palembang Ekspresi menyadari pentingnya teknologi dan media sosial dalam kehidupan masyarakat modern. Dengan aktif di media sosial. Palembang Ekspres dapat menjangkau lebih banyak pembaca, baik yang berada di Palembang maupun di luar kota. Mereka juga dapat lebih memahami minat pembaca dan memberikan konten yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Selain itu, menyadari jurnalis modern perlu memiliki sejumlah kemampuan teknis yang relevan. 178 | Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Malikussaleh (JSPM) Volume 7 Nomor 1 Tahun 2026 Selain itu, media sosial juga dapat menjadi sarana bagi Palembang Ekspres untuk berbagi informasi dan pandangan kami dengan pembaca. Hal ini dapat membantu kami untuk meningkatkan kepercayaan dan kredibilitas di mata publik. Secara keseluruhan, saya menilai bahwa Palembang Ekspres telah memanfaatkan media sosial dengan baik. Hal ini dapat membantu mereka untuk tetap relevan dan bersaing di era digital ini. Kompetensi personal jurnalis Palembang Ekspres mengacu pada kemampuan dan keterampilan pribadi yang dimiliki oleh jurnalis tersebut dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang jurnalis. Kemampuan dan keterampilan pribadi ini sangat penting karena akan memengaruhi kualitas kerja mereka dan hasil berita yang mereka produksi. Jurnalis Palembang Ekspres memiliki kesadaran akan pentingnya kemampuan teknis dan adaptasi terhadap teknologi modern dalam menjalankan tugas mereka sebagai jurnalis. Mereka menyadari bahwa era digital telah mengubah cara kerja jurnalisme, dan mereka berkomitmen untuk terus belajar dan berinovasi agar dapat memberikan informasi yang berkualitas kepada pembaca. Hal ini ditunjukkan dengan upaya jurnalis Palembang Ekspres untuk mengembangkan keterampilan teknis mereka, seperti penguasaan alat perekaman, penulisan online, editing, dan Selain itu. Palembang Ekspres juga telah melakukan langkah yang tepat dengan aktif berpartisipasi dalam media sosial. Hal ini menunjukkan bahwa Palembang Ekspres menyadari pentingnya media sosial dalam menjangkau lebih banyak pembaca dan membangun hubungan dengan mereka. Dengan demikian. Palembang Ekspres dan jurnalis menunjukkan kesediaan untuk tumbuh dan berkembang dalam menghadapi tantangan era digital. Dengan memiliki kompetensi personal yang baik, jurnalis Palembang Ekspres diharapkan dapat memberikan pelayanan berita yang berkualitas kepada masyarakat dan menjaga standar keberhasilan dalam profesi jurnalistik. Critical Understanding Kompetensi critical understanding jurnalis adalah kemampuan untuk memahami dan mengevaluasi informasi secara kritis, mengidentifikasi kredibilitas dan bias dalam sumber informasi, serta membedakan antara fakta dan opini, yang penting dalam menghasilkan berita yang akurat, objektif, dan bermanfaat bagi masyarakat, dan dapat dikembangkan melalui pendidikan, pelatihan, dan pengalaman serta dengan membaca beragam sumber informasi, pertanyaan, dan analisis kritis. 179 | Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Malikussaleh (JSPM) Volume 7 Nomor 1 Tahun 2026 Selain pendidikan, pelatihan, dan pengalaman, jurnalis juga dapat mengembangkan critical understanding mereka dengan membaca beragam sumber informasi, mengajukan pertanyaan, dan melakukan analisis kritis. Membaca beragam sumber informasi dapat membantu jurnalis untuk mendapatkan perspektif yang berbeda tentang suatu topik. Mengajukan pertanyaan dapat membantu jurnalis untuk memahami lebih lanjut tentang suatu informasi. Melakukan analisis kritis dapat membantu jurnalis untuk mengevaluasi informasi secara objektif dan mengidentifikasi bias. Alhadi Farid. Maneger Palembang Ekspres menuturkan. Dewan Pers telah menetapkan Standar Kompetensi Jurnalis yang mewajibkan jurnalis untuk memiliki pengetahuan tentang media dan regulasi media. Standar ini penting untuk memastikan bahwa jurnalis di Indonesia memiliki kualitas yang baik dan mampu menjalankan tugasnya secara profesional dan bertanggung jawab. Pilihlah sumber informasi yang dapat dipercaya dan pahami peran serta regulasi media. Ini penting untuk memastikan bahwa berita yang kita terima akurat, berimbang, dan berintegritas. Bagi Alhadi Farid, sebagai jurnalis dia percaya bahwa objektivitas dan ketidakberpihakan adalah dua prinsip penting dalam jurnalisme. Hal ini penting agar informasi yang disampaikan kepada publik dapat diterima secara adil dan tidak bias. Namun, dia menyadari bahwa hal ini tidak selalu mudah untuk dicapai, terutama dalam situasi yang kompleks atau kontroversial. Dalam situasi seperti ini, jurnalis perlu menyadari potensi bias mereka. Mereka juga perlu mengumpulkan informasi dari berbagai sumber dan memverifikasi informasi tersebut dengan cermat. Selain itu, mereka perlu berhati-hati dengan bahasa yang mereka gunakan agar tidak memihak. Alhadi Farid percaya bahwa dengan mengikuti langkah-langkah ini, jurnalis dapat membantu memastikan bahwa informasi yang mereka sampaikan akurat dan adil. Hal ini penting agar publik dapat membuat keputusan yang tepat berdasarkan informasi yang mereka terima. Lebih lanjut Alhadi Farid mengatakan, di Palembang Ekspres menyadari pentingnya verifikasi informasi, terutama di era media sosial di mana berita dan informasi dapat dengan cepat menyebar secara viral. Oleh karena itu. Palembang Ekspres berkomitmen untuk melakukan verifikasi informasi secara ketat sesuai dengan prinsip-prinsip dasar jurnalisme dan etika jurnalistik. Palembang Ekspres memiliki tim verifikasi yang berdedikasi yang bertugas memeriksa keabsahan dan keakuratan informasi yang kami terima. Tim ini terdiri dari jurnalis profesional yang memiliki pengalaman dan pengetahuan yang luas di bidang jurnalisme. Alhadi Farid juga beranggapan bahwa pemahaman kritis dalam jurnalisme adalah elemen yang sangat penting, terutama di era digital saat ini. Jurnalis harus selalu waspada terhadap sumber 180 | Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Malikussaleh (JSPM) Volume 7 Nomor 1 Tahun 2026 informasi dan melakukan penyelidikan mendalam sebelum menyebarkan berita. Mereka juga harus mematuhi kode etik jurnalistik dan menghindari menyebarkan berita palsu. Kemampuan untuk menganalisis isi berita dan memahami konteksnya juga sangat penting. Selain itu, jurnalis memiliki tanggung jawab untuk mendidik publik tentang cara mengenali berita palsu. Semua ini membantu menjaga integritas jurnalisme dan memastikan bahwa informasi yang disampaikan kepada publik adalah akurat dan dapat dipercaya. Kompetensi Critical Understanding yang dimiliki oleh jurnalis Palembang Ekspres mencakup kemampuan untuk secara kritis memahami, menilai sumber informasi, dan menganalisis informasi secara komprehensif. Jurnalis Palembang Ekspres sangat mengutamakan etika dan integritas dalam menjalankan tugas mereka sebagai jurnalis. Mereka menyadari pentingnya Standar Kompetensi Jurnalis yang mengharuskan mereka memiliki pengetahuan tentang media dan regulasi Objektivitas, ketidakberpihakan, dan verifikasi informasi merupakan prinsip-prinsip inti dalam pekerjaan mereka. Ini adalah faktor kunci dalam memastikan bahwa berita yang mereka hasilkan adalah akurat, berimbang, dan mematuhi standar jurnalistik yang ketat. Keseluruhan kompetensi ini sangat penting untuk menjamin bahwa berita yang dibuat oleh jurnalis Palembang Ekspres tidak mengandung kesalahan fakta, menghindari bias, dan mematuhi etika jurnalistik yang ketat. Secara ringkas, ini dengan singkat menggambarkan elemen-elemen penting dari kemampuan jurnalis dalam menjalankan pekerjaan jurnalistik mereka dengan integritas dan profesionalisme. Dengan demikian, jurnalis Palembang Ekspres menunjukkan komitmen mereka terhadap integritas, keakuratan, dan keadilan dalam melaporkan berita kepada publik. Mereka mengintegrasikan Kompetensi Critical Understanding dalam pekerjaan mereka untuk memastikan bahwa informasi yang mereka sampaikan adalah akurat dan dapat dipercaya oleh audiens yang Social Competence Kompetensi sosial merujuk pada kemampuan individu untuk berkomunikasi secara efektif, membangun hubungan sosial, dan menciptakan konten media melalui berbagai platform media. Ini mencakup keterampilan dan kemampuan yang diperlukan untuk berinteraksi dengan orang lain, mengungkapkan ide-ide, dan berkolaborasi di ruang digital. Ini termasuk kemampuan untuk menggunakan alat dan platform media untuk terhubung dengan orang lain, berbagi informasi, dan berpartisipasi dalam komunitas online. Selain itu, kompetensi sosial melibatkan kemampuan untuk 181 | Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Malikussaleh (JSPM) Volume 7 Nomor 1 Tahun 2026 menghasilkan konten media yang menarik, informatif, dan dapat meyakinkan audiens yang dituju. Kompetensi sosial ini cuma meruju kepada Communicative Abilities, yaitu melibatkan kemampuan untuk berkomunikasi secara efektif dan aktif terlibat dengan orang lain menggunakan media. Communicative Abilitie Kemampuan komunikasi yang baik adalah landasan penting bagi seorang jurnalis yang Ini mencakup keterampilan menulis yang jelas dan menarik, kemampuan berbicara yang percaya diri, mendengarkan aktif, beradaptasi dengan berbagai situasi, dan berpikir kritis terhadap informasi yang diterima. Kemampuan ini memungkinkan jurnalis untuk efektif dalam mengumpulkan, menyajikan, dan menjelaskan berita kepada pembaca mereka, serta menjaga tingkat profesionalisme yang tinggi dalam semua aspek pekerjaan jurnalistik mereka. Berpikir kritis terhadap informasi yang diterima adalah keterampilan penting bagi jurnalis untuk memastikan bahwa berita mereka akurat dan objektif. Jurnalis perlu dapat mengidentifikasi bias dan ketidakakuratan dalam informasi yang mereka terima. Mereka juga perlu dapat mengevaluasi informasi dengan cermat dan membuat keputusan yang tepat tentang apakah informasi tersebut dapat digunakan dalam berita. Kemampuan komunikasi yang baik adalah keterampilan yang penting bagi jurnalis untuk sukses dalam pekerjaan mereka. Jurnalis yang memiliki keterampilan komunikasi yang baik akan dapat mengumpulkan, menyajikan, dan menjelaskan berita secara efektif kepada pembaca mereka. Mereka juga akan dapat menjaga tingkat profesionalisme yang tinggi dalam semua aspek pekerjaan jurnalistik mereka. Kemampuan komunikasi yang baik adalah keterampilan yang dapat dikembangkan dengan latihan dan pengalaman. Jurnalis dapat meningkatkan keterampilan komunikasi mereka dengan mengikuti pelatihan, mengambil kursus, dan membaca buku dan artikel tentang komunikasi. Mereka juga dapat meningkatkan keterampilan komunikasi mereka dengan mempraktikkan keterampilan mereka dalam situasi kehidupan nyata. Menurut Kgs Yahya. Manager selaku Manager Foto Palembang Ekspres mengatakan, sebagai jurnalis Palembang Ekspres sangat setuju bahwa membangun hubungan profesional yang kuat dengan sumber berita atau narasumber adalah kunci untuk menjalankan pekerjaan dengan baik. Palembang Ekspres selalu berusaha untuk bersikap sopan dan profesional dalam setiap interaksi dengan sumber berita. Palembang Ekspres percaya bahwa menjadi pendengar yang baik adalah langkah awal yang penting dalam mendapatkan informasi yang berharga. Karena itu. Palembang Ekspres selalu berusaha untuk mengajukan pertanyaan yang jelas dan spesifik agar kami dapat 182 | Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Malikussaleh (JSPM) Volume 7 Nomor 1 Tahun 2026 memahami secara mendalam topik yang sedang diliput. Lebih lanjut Kgs Yahya menjelaskan, dalam era media sosial yang penuh dengan informasi yang berpotensi salah atau menyesatkan, jurnalis memiliki tanggung jawab yang lebih besar untuk menjaga etika komunikasi dan integritas dalam pekerjaan mereka. Untuk mencapai hal ini, jurnalis dapat berpegang teguh pada kode etik jurnalistik, melakukan riset secara mendalam, fokus pada fakta, menjadi transparan dengan sumber berita, dan mengakui serta memperbaiki kesalahan saat Dengan menerapkan prinsip-prinsip ini, jurnalis dapat memainkan peran yang krusial dalam memberikan informasi yang akurat dan dapat dipercaya kepada publik. Palembang Ekpres percaya bahwa dengan menerapkan prinsip-prinsip ini, jurnalis dapat memainkan peran yang krusial dalam memberikan informasi yang akurat dan dapat dipercaya kepada publik. Jurnalis dari Palembang Ekspres memiliki keahlian komunikasi yang sangat baik. Mereka mampu menyampaikan informasi dengan jelas, singkat, dan mudah dimengerti. Dalam konteks Communicative Abilities, jurnalis Palembang Ekspres juga menggaris bawahi pentingnya berkomunikasi dengan pendengar dan pembaca dengan cara yang konstruktif. Mereka berusaha untuk mendengarkan dengan cermat, memahami sudut pandang pembaca, dan merespons kritik atau tanggapan dengan keterbukaan dan kesediaan untuk memperbaiki pekerjaan mereka. Kemampuan komunikasi yang luar biasa ini adalah salah satu faktor kunci dalam kesuksesan jurnalis Palembang Ekspres dalam menjalankan tugas mereka. Dengan keahlian ini, mereka dapat menyediakan informasi yang tepat dan terkini kepada masyarakat. Kemampuan komunikasi yang hebat ini merupakan hasil dari pelatihan dan pengalaman yang mereka peroleh. Jurnalis Palembang Ekspres selalu menjalani pelatihan untuk meningkatkan kemampuan komunikasi mereka, baik dalam konteks formal maupun informal. Selain itu, pengalaman mereka dalam berinteraksi dengan berbagai kelompok juga membantu dalam memperbaiki kemampuan komunikasi mereka. Dengan pengalaman tersebut, mereka menjadi lebih paham tentang cara berkomunikasi yang efektif dengan beragam orang. Kemampuan komunikasi yang sangat baik yang dimiliki oleh jurnalis Palembang Ekspres merupakan sumber daya yang sangat berharga bagi masyarakat. Dengan kemampuan ini, mereka dapat menyediakan informasi yang akurat dan terkini kepada masyarakat, sehingga masyarakat dapat lebih memahami berbagai peristiwa yang terjadi di sekitar mereka. Tingkat Kompetensi Jurnalis 183 | Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Malikussaleh (JSPM) Volume 7 Nomor 1 Tahun 2026 Tabel 1: Tingkat Kemampuan Literasi Media dan Informasi Tingkat Kompetensi Tingkat Definisi Basic Individu memiliki seperangkat kemampuan yang memungkinkan penggunaan media secara dasar. Penggunaan Pengguna mengetahui fungsi dasarnya, menguraikan kode dasarnya dan menggunakannya untuk tujuan tertentu dan untuk menentukan alat. Kapasitas pengguna untuk menganalisis informasi yang diterima secara kritis terbatas. Kemampuan komunikatifnya melalui media juga terbatas. Medium Individu tersebut fasih menggunakan media. Mengetahui fungsinya dan mampu melakukan operasi tertentu yang lebih kompleks. Penggunaan media diperluas. Pengguna tahu cara mendapatkan dan menilai informasi yang dia . an meningkatka. strategi pencarian informasi. Advanced Individu tersebut sangat aktif dalam penggunaan media, menyadari dan tertarik dengan kondisi hukum yang mempengaruhi penggunaannya. Pengguna memiliki pengetahuan mendalam tentang teknik dan bahasa dan dapat menganalisis . an, akhirny. mengubah kondisi yang memengaruhi hubungan komunikatifnya dan penciptaan pesan. Dalam bidang sosial, pengguna mampu mengaktifkan kelompok kerja sama yang memungkinkannya memecahkan masalah. Source : European Commission Directorate General Information Society and Media. Media Literacy Unit, 2009. Berdasarkan hasil wawancara dan observasi yang dilakukan pada jurnalis Palembang Ekspres, tingkat kompetensi jurnalis Palembang Ekspres dalam mengintegrasikan literasi media dan informasi berada pada level advanced. Hal ini dapat dilihat dari beberapa indikator, antara lain: Kompetensi personal: jurnalis Palembang Ekspres memiliki kompetensi personal yang baik, termasuk keahlian dalam penelitian, wawancara, penulisan, editing, pemahaman terhadap etika jurnalistik, serta kemampuan berkomunikasi dengan baik. Kompetensikompetensi ini sangat penting untuk mengintegrasikan literasi media dan informasi, 184 | Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Malikussaleh (JSPM) Volume 7 Nomor 1 Tahun 2026 karena memungkinkan jurnalis untuk mengakses, menganalisis, dan mengevaluasi informasi secara kritis. Kompetensi Critical Understanding: jurnalis Palembang Ekspres memiliki kompetensi Critical Understanding yang baik, yaitu kemampuan untuk secara kritis memahami, menilai sumber informasi, dan menganalisis informasi secara komprehensif. Kompetensi ini sangat penting untuk memastikan bahwa berita yang mereka hasilkan adalah akurat, berimbang, dan mematuhi standar jurnalistik yang ketat. Kompetensi komunikasi: jurnalis Palembang Ekspres memiliki keahlian komunikasi yang sangat baik. Mereka mampu menyampaikan informasi dengan jelas, singkat, dan mudah dimengerti. Mereka juga memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan efektif dengan berbagai kelompok. Kemampuan komunikasi yang baik ini memungkinkan jurnalis untuk menyampaikan informasi secara efektif kepada Selain itu, jurnalis Palembang Ekspres juga selalu menjalani pelatihan dan pengalaman untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam mengintegrasikan literasi media dan informasi. Pelatihan dan pengalaman ini membantu mereka untuk terus mengembangkan pengetahuan dan keterampilan mereka, sehingga dapat menghasilkan berita yang berkualitas dan bermanfaat bagi Berdasarkan hal-hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa jurnalis Palembang Ekspres telah memiliki kompetensi yang memadai untuk mengintegrasikan literasi media dan informasi secara Mereka dapat mengakses, menganalisis, dan mengevaluasi informasi secara kritis, dan mereka dapat menyampaikan informasi tersebut secara efektif kepada masyarakat Cara jurnalis Mengintegrasikan Literasi Media dan Informasi dalam Praktik Jurnalistik Dalam jurnal karya Silviana Dwi Pangestu. Erik Hodgins mendefinisikan jurnalisme adalah praktik komunikasi yang esensial dalam masyarakat yang demokratis, jurnalisme lebih dari sekadar "kegiatan menyusun berita untuk publik," jurnalisme adalah sebuah misi yang bertujuan untuk menyediakan informasi yang akurat, terpercaya, dan berimbang kepada masyarakat (Sa'diya. Secara keseluruhan, implementasi integrasi literasi media dan informasi dalam praktik jurnalisme adalah langkah yang sangat penting untuk memastikan produksi berita yang berkualitas tinggi, akurat, dan bermanfaat bagi masyarakat. Literasi informasi saat ini melibatkan navigasi interaksi antara penilaian manusia dan perangkat teknologi dalam proses produksi berita (Westlund, 2. 185 | Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Malikussaleh (JSPM) Volume 7 Nomor 1 Tahun 2026 Kemampuan untuk memahami, menganalisis, dan mengevaluasi informasi dari berbagai sumber media merupakan pondasi utama bagi jurnalis untuk menjalankan tugas mereka dengan integritas dan kompetensi. Ini membantu menghindari penyebaran informasi palsu atau bias, serta memastikan bahwa berita yang disajikan dapat memberikan pemahaman yang lebih baik dan manfaat yang nyata bagi audiens. Terus-menerus meningkatkan literasi media dan informasi adalah suatu keharusan dalam dunia jurnalisme yang berubah cepat untuk menjaga standar kualitas yang Literasi media menurut (Tambukara, 2. merupakan gerakan sadar melek media oleh khalayak media massa dengan menggunakan pendekatan proses penyampaian pesan media kepada konsumen media. Proses penyampaian pesan media tersebut dapat berupa buku, film, berita, iklan, dan lain sebagainya. Dari proses tersebut dapat memberikan mengenai pemahaman mengenai budaya yang ada di masyarakat sebagai bagian dari proses komunikasi massa. Delam bukunya Media Literacy : Keys to Interpreting media Messages Art Silverblatt mengusulkan empat aspek dimensi literasi media yang harus dipahami, yaitu: aspek proses, konteks, framework, dan produksi Kemampuan ini penting bagi jurnalis Palembang Ekspres dalam menjalankan tugasnya untuk menyampaikan informasi yang akurat dan objektif kepada masyarakat. Aspek literasi media dan informasi yang perlu dimiliki oleh jurnalis Palembang Ekspres meliputi: Aspek Proses Aspek proses: Literasi media mencakup kemampuan untuk memahami bagaimana media dibuat, didistribusikan, dan dikonsumsi. Hal ini termasuk kesadaran akan teknik dan perangkat yang digunakan oleh media untuk menyampaikan pesan, serta pemahaman tentang bagaimana media dapat mempengaruhi khalayak. Salah satu jurnalis Palembang Ekspres. Kurniawan mengatakan, pilihlah sumber informasi yang dapat dipercaya dan paham peran serta regulasi media. Ini penting untuk memastikan bahwa berita yang diterima akurat, berimbang, dan berintegritas. Pernyataan tersebut menyoroti pentingnya pemahaman tentang regulasi media dan peran media dalam menyampaikan informasi yang akurat kepada publik. Ini mencerminkan pemahaman tentang bagaimana media bekerja dalam proses penyampaian pesan kepada audiens. Pernyataan tersebut juga menyebutkan pentingnya memahami peran serta regulasi media. Regulasi media merupakan aturan yang mengatur bagaimana media beroperasi. Regulasi media ini penting untuk memastikan bahwa media tidak melanggar hak asasi manusia, menyebarkan informasi yang salah, 186 | Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Malikussaleh (JSPM) Volume 7 Nomor 1 Tahun 2026 atau melakukan diskriminasi. Dalam pernyataan-pernyataan tersebut, terdapat beberapa elemen yang termasuk dalam aspek proses dalam literasi media dan informasi: Verifikasi Informasi: Pernyataan juga menekankan pentingnya verifikasi informasi, yang merupakan tahap dalam proses jurnalisme untuk memastikan keabsahan dan keakuratan informasi sebelum disampaikan kepada publik. Analisis Konten Berita dan Memahami Konteks: Pernyataan yang menyebutkan pentingnya analisis isi berita dan memahami konteksnya menunjukkan pemahaman tentang bagaimana informasi dianalisis dan dipahami dalam proses penyampaian berita. Menggunakan Kompetensi Personal: Menggunakan berbagai kompetensi personal, seperti penelitian, wawancara, penulisan, editing, pemahaman etika jurnalistik, dan kemampuan berkomunikasi dengan baik, adalah bagian dari proses yang mencakup pemahaman dan penggunaan berbagai media dengan efektif. Dengan memahami peran serta regulasi media, seseorang dapat lebih kritis dalam menilai informasi yang disampaikan oleh media. Mereka akan lebih berhati-hati dalam mengonsumsi informasi dari media dan lebih waspada terhadap kemungkinan adanya bias atau propaganda dalam informasi tersebut. Konteks Konteks: Literasi media juga mencakup kemampuan untuk memahami konteks di mana media dibuat dan dikonsumsi. Hal ini termasuk kesadaran akan budaya, nilai, dan ideologi yang mendasari media, serta pemahaman tentang bagaimana media dapat digunakan untuk merepresentasikan dan membentuk realitas. Kurniawan menyebutkan bahawa sebagai jurnalis, pemahaman terhadap konteks media, termasuk sejarah, budaya, dan struktur media, sangat penting. Konteks sejarah membantu saya memberikan latar belakang yang lebih kaya pada berita. Konteks budaya memungkinkan saya menyampaikan informasi lebih relevan. Struktur media membantu menyampaikan pesan secara Ini semua memungkinkan menciptakan konten yang informatif dan akurat. Jurnalis Palembang Ekspres memiliki tanggung jawab untuk memberikan informasi berkualitas dengan memahami konteks media. Konteks media sangat penting bagi jurnalis Palembang Ekspres dalam menghasilkan konten 187 | Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Malikussaleh (JSPM) Volume 7 Nomor 1 Tahun 2026 yang informatif dan akurat. Jurnalis Palembang Ekspres harus memahami konteks sejarah, konteks budaya, dan struktur media agar dapat menyampaikan informasi secara efektif kepada audiens. Konteks sejarah dapat membantu jurnalis Palembang Ekspres untuk memahami peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa lalu dan bagaimana peristiwa tersebut dapat mempengaruhi peristiwa-peristiwa yang terjadi saat ini. Dengan memahami konteks sejarah, jurnalis Palembang Ekspres dapat memberikan konteks yang lebih kaya dan mendalam untuk berita yang mereka tulis. Konteks budaya dapat membantu jurnalis Palembang Ekspres untuk memahami nilainilai dan norma-norma yang berlaku di masyarakat. Dengan memahami konteks budaya, jurnalis Palembang Ekspres dapat menyampaikan informasi dengan cara yang lebih relevan dan bermakna bagi audiens mereka. Struktur media dapat membantu jurnalis Palembang Ekspres untuk menyampaikan informasi secara jelas dan mudah dimengerti. Dengan menggunakan struktur media yang baik, jurnalis Palembang Ekspres dapat memastikan bahwa audiens mereka dapat memahami pesan yang disampaikan dengan mudah. Framwork Framework atau kerangka kerja dalam media merujuk pada kumpulan elemen struktural yang membentuk proses produksi media (Silverblatt, 2. Hal ini termasuk kemampuan untuk mengidentifikasi bias dan prasangka dalam media, serta kemampuan untuk menilai kredibilitas dan akurasi pesan media. Kerangka kerja dalam media sangat penting bagi jurnalis Palembang Ekspres dalam menyampaikan informasi kepada publik. Kerangka kerja ini dapat membantu jurnalis dalam merencanakan dan mengorganisasikan pesan media secara sistematis, sehingga informasi yang disampaikan dapat lebih efektif dan efisien. Jurnalis harus menerapkan standar literasi informasi yang ketat pada aliran media sosial untuk menghindari penyebaran rumor yang tidak terverifikasi secara tepat (Hermida, 2. Seperti diungkapkan jurnalis Palembang Ekspres. Sri Devi, menurunya sebagai jurnalis, kerangka kerja adalah kunci dalam menyusun berita informatif dan efektif. Model 5W 1H membantu mengumpulkan informasi yang lengkap, model piramida terbalik memastikan informasi penting disampaikan terlebih dahulu, dan model 7C memberikan panduan untuk berita berkualitas. Dengan kerangka kerja ini, bisa menghasilkan berita yang lebih baik dan bermakna. Jurnalis Palembang Ekspres bertanggung jawab memberikan informasi berkualitas, dan kerangka kerja adalah alat penting untuk mencapai tujuan tersebut. 188 | Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Malikussaleh (JSPM) Volume 7 Nomor 1 Tahun 2026 Berikut adalah beberapa contoh bagaimana jurnalis Palembang Ekspres dapat menggunakan kerangka kerja dalam media: Ketika jurnalis Palembang Ekspres sedang meliput sebuah peristiwa, mereka dapat menggunakan model 5W 1H untuk mengumpulkan informasi yang lengkap dan Informasi yang terkumpul kemudian dapat disusun menggunakan model piramida terbalik agar berita yang dihasilkan lebih jelas dan ringkas. Ketika jurnalis Palembang Ekspres sedang menulis sebuah opini, mereka dapat menggunakan model 7C untuk memastikan bahwa opini yang mereka tulis berkualitas. Opini yang berkualitas akan lebih mudah dipahami oleh masyarakat dan dapat memberikan kontribusi yang positif bagi masyarakat. Dengan menggunakan kerangka kerja dalam media, jurnalis Palembang Ekspres dapat menjadi sumber informasi yang kredibel dan terpercaya bagi masyarakat. Nilai Produksi Nilai Produksi: Literasi media juga mencakup kemampuan untuk menghasilkan media Hal ini termasuk kemampuan untuk menggunakan media untuk mengekspresikan diri, untuk berkomunikasi dengan orang lain, dan untuk terlibat dalam dialog publik. Nilai produksi dalam media memainkan peran penting dalam proses komunikasi massa, karena dapat mempengaruhi cara audiens menerima, menginterpretasikan, dan bereaksi terhadap informasi yang Jurnalis Palembang Ekspres dapat menggunakan pemahaman tentang nilai produksi untuk menghasilkan konten media yang lebih efektif dan efisien. Sri Devi mengatakan, sebagai jurnalis, yakin nilai produksi sangat penting dalam menyampaikan informasi. Ini termasuk gaya penyampaian, format media, bahasa, dan metode komunikasi yang memengaruhi cara audiens memahami informasi. Palembang Ekspres harus mempertimbangkan faktor ini agar informasi mudah dipahami oleh audiens tanpa bias. Selain itu, perlu memahami bagaimana audiens merespons informasi, dipengaruhi oleh faktor psikologis, sosial, budaya, dan pengalaman individu. Ini membantu menghasilkan konten yang lebih efektif dan relevan. Berikut adalah beberapa contoh bagaimana jurnalis Palembang Ekspres dapat menggunakan nilai produksi: Dalam hal bagaimana audiens menerima informasi, jurnalis Palembang Ekspres dapat 189 | Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Malikussaleh (JSPM) Volume 7 Nomor 1 Tahun 2026 mempertimbangkan gaya penyampaian, format media, bahasa yang digunakan, dan metode komunikasi yang dipilih. Misalnya, jurnalis dapat memilih untuk menggunakan bahasa yang lebih sederhana dan mudah dipahami dalam berita yang ditujukan untuk audiens yang lebih muda. Mereka juga dapat menggunakan format media yang berbeda, seperti video atau infografis, untuk menarik perhatian audiens dan menyampaikan informasi dengan cara yang lebih menarik. Dalam hal penekanan atau interpretasi yang diberikan oleh komunikator media, jurnalis Palembang Ekspres dapat mempertimbangkan aspek-aspek penting dari sebuah peristiwa atau cerita. Mereka dapat memilih untuk menyoroti aspek-aspek tertentu dari sebuah cerita, atau mereka dapat memberikan sudut pandang yang berbeda tentang suatu peristiwa. Penting untuk diingat bahwa penekanan atau interpretasi yang diberikan oleh jurnalis dapat mempengaruhi persepsi dan pemahaman audiens terhadap informasi yang disampaikan. Dalam hal reaksi penonton terhadap informasi, jurnalis Palembang Ekspres dapat mempertimbangkan aspek-aspek psikologis, sosial, budaya, dan pengalaman individu yang memengaruhi bagaimana informasi diterima dan direspon oleh audiens. Misalnya, jurnalis dapat mempertimbangkan bagaimana latar belakang budaya audiens dapat mempengaruhi cara mereka memahami informasi tertentu. Mereka juga dapat mempertimbangkan bagaimana pengalaman pribadi audiens dapat memengaruhi cara mereka bereaksi terhadap informasi tertentu. Dengan memahami nilai produksi, jurnalis Palembang Ekspres dapat lebih efektif dalam menyampaikan informasi kepada publik. Mereka dapat menghasilkan konten media yang lebih mudah dipahami, menarik, dan relevan dengan audiens target mereka. Dalam dunia jurnalisme yang berubah cepat, literasi media dan informasi menjadi semakin Dengan semakin banyaknya sumber informasi yang tersedia, semakin sulit bagi masyarakat untuk membedakan antara informasi yang akurat dan tidak akurat. Literasi media dan informasi dapat membantu jurnalis untuk memenuhi tanggung jawab mereka untuk memberikan informasi yang akurat dan bermanfaat bagi publik. Dengan meningkatkan literasi media dan informasi, jurnalis dapat membantu memastikan bahwa berita yang disajikan kepada publik adalah berita yang akurat, objektif, dan bermanfaat. Kesimpulannya, jurnalis dari Palembang Ekspres telah menunjukkan komitmen yang kuat dalam menggabungkan literasi media dan informasi dalam pekerjaan mereka. Mereka memiliki 190 | Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Malikussaleh (JSPM) Volume 7 Nomor 1 Tahun 2026 kompetensi personal, pemahaman kritis yang baik, dan keahlian komunikasi yang sangat penting dalam menjalankan tugas jurnalistik mereka. Dengan menggunakan berbagai sumber informasi, teknik wawancara yang cermat, analisis yang komprehensif, dan editing yang ketat, mereka berhasil menghasilkan berita yang akurat, berimbang, dan informatif. Terus meningkatkan kemampuan mereka dalam literasi media dan informasi akan membantu mereka menjaga standar kualitas yang tinggi dalam jurnalisme yang mereka praktikkan Kendala Jurnalis dalam Menerapkan Literasi Media dan Informasi Kendala atau hambatan yang dihadapi oleh jurnalis dalam menerapkan literasi media dan informasi dapat didefinisikan sebagai faktor-faktor yang menghambat kemampuan jurnalis untuk mengakses, memahami, mengevaluasi, dan menggunakan informasi dari berbagai sumber media, termasuk media digital. Hambatan-hambatan ini dapat memiliki dampak negatif pada kualitas Jurnalis yang kurang memiliki literasi media dan informasi yang memadai dapat menyebarkan informasi yang tidak akurat, bias, atau bahkan menyesatkan. Menurut (Derakhshan. Information Disorder: Toward an interdisciplinary framework for research and policy making, 2. , jurnalis membutuhkan tingkat literasi informasi canggih untuk membedakan antara misinformasi, disinformasi, dan mal-informasi. Untuk mengatasi hambatan-hambatan ini, diperlukan upaya untuk meningkatkan literasi media dan informasi di kalangan jurnalis. Upayaupaya ini dapat dilakukan melalui pelatihan, pendidikan, dan pengembangan dalam industri media. Kendala yang dihadapi Palembang Ekspres, seperti yang diutarakan Kgs Yahya bahwa banyak jurnalis menghadapi tantangan utama dalam hal kurangnya pelatihan dan pendidikan formal di bidang literasi media dan informasi. Hal ini mengakibatkan ketidakpedulian terhadap bias atau kesalahan dalam informasi yang mereka terima. Lebih lanjut Kgs Yahya mengatakan, dii era digital, tekanan untuk menyajikan berita dengan cepat juga menjadi tantangan besar bagi jurnalis. Dalam situasi ini. Palembang Ekspres mungkin kurang teliti dalam memeriksa informasi, sehingga lebih rentan menyebarkan berita yang tidak akurat atau berbias, dan keterbatasan akses ke sumber informasi yang dapat dipercaya dan akurat juga menjadi kendala bagi jurnalis. Ini mengakibatkan banyak jurnalis menyebarluaskan berita yang tidak akurat atau berbias karena mereka tidak memiliki akses ke sumber informasi yang dapat diandalkan. Dalam praktik jurnalisme, jurnalis Palembang Ekspres menghadapi beberapa kendala yang signifikan dalam menerapkan literasi media dan informasi. Faktor yang menjadi kendala atau 191 | Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Malikussaleh (JSPM) Volume 7 Nomor 1 Tahun 2026 hambatan yang dihadapi oleh jurnalis dalam menerapkan literasi media dan informasi mencakup beberapa aspek yang signifikan sebagai berikut: Kurangnya pelatihan dan pendidikan formal Salah satu kendala utama adalah kurangnya pelatihan dan pendidikan formal dalam hal literasi media dan informasi. Jurnalis seringkali hanya dilatih untuk menulis berita dan mengumpulkan informasi, tanpa penekanan pada kemampuan kritis dalam memahami dan menganalisis informasi. Ini dapat mengakibatkan kurangnya kesadaran terhadap bias dan kesalahan dalam informasi yang diterima. Tekanan untuk menghasilkan berita dengan cepat. Selain itu, jurnalis juga menghadapi tekanan besar untuk memproduksi berita dengan cepat, terutama di era digital saat ini. Tekanan ini bisa membuat mereka kurang teliti dalam memverifikasi informasi, sehingga meningkatkan risiko penyebaran berita yang tidak akurat atau penuh dengan bias. Akses yang terbatas ke sumber informasi. Keterbatasan akses ke sumber informasi yang kredibel juga menjadi kendala lainnya. Jurnalis mungkin tidak selalu memiliki akses yang memadai ke sumber-sumber informasi yang dapat diandalkan, sehingga mereka dapat terpaksa menggunakan sumber yang kurang akurat, yang berpotensi merugikan kualitas berita yang dihasilkan. Dalam praktiknya, ada beberapa contoh kendala spesifik yang dihadapi jurnalis, seperti kesulitan dalam membedakan antara berita yang akurat dan tidak akurat, kesulitan dalam mengidentifikasi bias dalam informasi, serta kesulitan dalam melakukan analisis yang komprehensif terhadap informasi yang mereka terima. Semua kendala ini dapat berdampak negatif pada integritas dan kualitas berita yang dihasilkan oleh jurnalis. KESIMPULAN Berdasarkan hasil pembahasan penelitian tentang Integrasi Literasi Media dan Informasi Dalam Praktik Jurnalisme Pada Jurnalis di Sumatera Selatan, peneliti mengemukakan kesimpulan jurnalis Palembang Ekspres memiliki tingkat kompetensi yang tinggi (Advance. mengintegrasikan literasi media dan informasi. Mereka memiliki kompetensi personal. Critical Understanding, dan komunikasi yang baik, serta selalu menjalani pelatihan dan pengalaman untuk meningkatkan kemampuan mereka. Hal ini memungkinkan mereka untuk menghasilkan berita yang akurat, berimbang, dan bermanfaat bagi masyarakat. Dengan kompetensi yang dimiliki, 192 | Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Malikussaleh (JSPM) Volume 7 Nomor 1 Tahun 2026 jurnalis Palembang Ekspres dapat berperan penting dalam meningkatkan literasi media dan informasi masyarakat. Mereka dapat menjadi teladan bagi masyarakat dalam mengakses, menganalisis, dan mengevaluasi informasi secara kritis. Sementara berkaitan implementasi integrasi literasi media dan informasi dalam praktik jurnalisme adalah langkah yang sangat penting untuk memastikan produksi berita yang berkualitas tinggi, akurat, dan bermanfaat bagi masyarakat. Jurnalis yang memiliki literasi media dan informasi yang kuat akan mampu memahami, menganalisis, dan mengevaluasi informasi dari berbagai sumber media, sehingga dapat menghasilkan berita yang akurat, berimbang, dan informatif. Jurnalis dari Palembang Ekspres telah menunjukkan komitmen yang kuat dalam menggabungkan literasi media dan informasi dalam pekerjaan mereka. Mereka memiliki kompetensi personal, pemahaman kritis yang baik, dan keahlian komunikasi yang sangat penting dalam menjalankan tugas jurnalistik mereka. Dengan menggunakan berbagai sumber informasi, teknik wawancara yang cermat, analisis yang komprehensif, dan editing yang ketat, mereka berhasil menghasilkan berita yang akurat, berimbang, dan informatif. Terus meningkatkan kemampuan mereka dalam literasi media dan informasi akan membantu mereka menjaga standar kualitas yang tinggi dalam jurnalisme yang mereka praktikkan. Kendala yang dihadapi oleh jurnalis dalam menerapkan literasi media dan informasi dapat dikategorikan menjadi tiga yang meliputi kurangnya kurangnya pelatihan dan pendidikan formal, tekanan untuk menghasilkan berita dengan cepat, dan akses yang terbatas ke sumber informasi. DAFTAR PUSAKA Apriady. Literasi Media: Cerdas Bermedia Khalayak Media Massa. Jakarta: PT. Rajagrafindo. Awan. A Professional Development and Information Literacy Integration into University Curriculum. Pakistan Library & Information Science Journal. Baran. Introduction to Mass Communication: Media Literacy and Culture. New York: McGraw Hill. Bivens. he Internet. Mobile Phones and Fortune 500 Companies. Journalism Practice. Briandana. Media Literacy: An Analysis of Social Media Usage Among Millennials. International Journal of English Literature and Social Sciences (IJELS). Bruce. Information literacy as a catalyst for educational change. Paper pre- sented at The 3rd international lifelong learning con- ference. Yeppoon. Queensland. Australia. Australia. Buckingham. Defining digital literacy Ae What do young people need to know about digital media? Nordic Journal of Digital Literacy. Creswell. Research Desigh: Pendekatan Kualitatif. Kuantitatif, dan Mixed. Yogyakarta: PT. PUsaka Pelajar. Derakhshan. Information Disorder: Toward an Interdisciplinary Framework for Research and Policymaking. Council of Europe. 193 | Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Malikussaleh (JSPM) Volume 7 Nomor 1 Tahun 2026 Hermida. Twittering the news: The emergence of ambient journalism. Journalism Juditha. Interaksi Komunikasi Hoax di Media Sosial serta Antisipasinya. Jurnal Pekommas. Kapitzke. Information literacy: A positivist epis- temology and a politics of outformatio. Educational theory, 37-53. Karlsson. The Rituals of Transparency in Online Journalism. Journalism Studies. Karlsson. Dispersing the Opacity of Transparency in Journalism on the Appeal of Different Forms of Transparency to the General Public. Journalism Studies. Lazer. The science of fake news. About Science & aS. Leaning. An Approach to Digital Literacy through the Integration of Media and Information Literacy. Journal Media and Communication. Livingstone. Media Literacy and the Challenge of New Information and Communication Technologies. The Communication Review, 4-14. Mihailidis. Media Literacy and the Role of Polyphonic Digital Spaces. Journal of Media Literacy Education. Nikki Usher. Making News at The New York Times. United States of America: University of Michigan Press. Padmadewi. Literasi di Sekolah: Dari Teori ke Praktik. Bandung: Nilacakra. Rahmi. Pengenalan Literasi Media pada Anak Usia Sekolah Dasar. Jurnal SAWWA. Sa'diyah. Pandangan Islam dalam praktik etika jurnalistik menurut Al-Qur'an Surat Saba'. usyro: Jurnal Dakwah dan Komunikasi Islam. Schudson. he Objectivity Norm in American Journalism. Journalism. Silverblatt. Media Literacy: Keys to Interpreting Media Messages. Praeger. Singer. he Socially Responsible Existentialist. Journalism Studies. Supriyatna. Literasi Media dan Informasi: Tujuan dan Urgensi Bagi Mahasiswa. Jurnal Ilmu Komunikasi, 119-130. Suryatni. Literasi Media dan Pendidikan Demokrasi Dalam Masyarakat Informasi. JSI (Jurnal Sistem Informas. , 64-75. Tambukara. Literasi Media: Cerdas Bermedia Khalayak Media Massa. Jakarta: Rajawali Pers. Ward. Journalism Ethics in the Era of Digital Media. Journalism Practice. Westlund. Actors. Actants. Audiences, and Activities in Cross-Media News Work. Digital Journalism. Zimdars. Fake News. Propaganda, and Misinformation. Journal of Media Education. 194 | Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Malikussaleh (JSPM) Volume 7 Nomor 1 Tahun 2026