Arifin, dkk / Tropical Animal Science . :43-52 Tropical Animal Science. Mei 2025, 7. :43-52 pISSN 2541-7215 eISSN 2541-7223 DOI: 10. 36596/tas. Tersedia online pada https://ejournal. id/index. php/tas KORELASI LINGKAR SKROTUM TERHADAP UKURAN TUBUH DAN BOBOT BADAN PADA KAMBING SABURAI CORRELATION OF SCROTAL CIRCUMFERENCE TO MORPHOMETRICS AND BODY WEIGHT IN SABURAI GOATS Dani Nur Arifin1*. Kunaifi Wicaksana2. I Putu Gede Didik Widiarta1. Cori Qamara1. Kirana Dara Dinanti Adiputra1 1Program Studi Peternakan. Fakultas Pertanian. Universitas Mulawarman. Samarinda. Kalimantan Timur. Indonesia 2Program Studi Teknologi Produksi Ternak. Politeknik Negeri Lampung. Bandar Lampung. Lampung. Indonesia *E-mail korespondensi: dnarifin9@gmail. ABSTRAK Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan lingkar skrotum (LS) terhadap bobot badan (BB) dan ukuran tubuh yaitu panjang (PB) dan lingkar dada (LD), sebagai salahsatu prediktor seleksi pejantan. Penelitian ini dilakukan pada kambing Saburai jantan di Pembibitan Ternak Kambing Saburai Dinas Peternakan Lampung. Pendekatan yang digunakan ialah observasional kuantitatif dengan metode studi korelasional dan komparatif terhadap setiap variabel yang diamati. Data yang diperoleh berjumlah 24 ekor kambing dimulai sejak usia lahir, tiga bulan, enam bulan, sembilan bulan, dan 12 bulan. Hasil menunjukkan terdapat korelasi positif yang signifikan . <0,. antara LS dengan BB. PB, dan LD, dengan korelasi tertinggi ditunjukkan antara LS dan BB . = 0,. Hal ini menegaskan bahwa ukuran lingkar skrotum dapat menjadi indikator besaran bobot badan, dan bobot badan merupakan indikator utama dalam menentukan perkembangan testikular dan potensi reproduktif pejantan pada kambing Saburai. Kata Kunci: Kambing Saburai. Lingkar Skrotum. Ukuran Tubuh. Bobot Badan. Reproduksi ABSTRACT This study aims to identify the relationship between scrotal circumference (SC) to body weight (BW) and body size, namely body length (BL) and chest circumference (CC), as one of the predictors of male selection. This study was conducted on male Saburai goats at the Saburai Goat Breeding Center. Lampung. The approach used was quantitative observational with correlational and comparative study methods for each observed variable. The data obtained amounted to 24 goats starting from birth, three months, six months, nine months, and 12 months. The results showed a significant positive correlation . <0. between SC and BW. BL, and CC, with the highest correlation shown between SC and BW . = This confirms that the size of the scrotal circumference can be an indicator of body weight, and body weight is the main indicator in determining testicular development as reproductive potential of males in Saburai goats. Keywords: Saburai Goat. Scrotal Circumference. Morphometrics. Body Weight. Reproduction Arifin, dkk / Tropical Animal Science . :43-52 PENDAHULUAN Kambing Saburai merupakan salah satu plasma nutfah lokal yang kini dikembangkan sebagai sumber genetik ternak unggul berbasis sumber daya lokal di Provinsi Lampung. Populasinya peningkatan yang signifikan dari tahun 2015 hingga 2018 dengan performa yang baik dan mampu menyediakan stok pengganti di wilayahnya sendiri (Sulastri et al. , 2. Hal tersebut menunjukkan bahwa kambing Saburai berkontribusi dalam penyediaan sumber genetik yang adaptif terhadap perubahan iklim dan keterbatasan sumber daya di daerah tropis Indonesia sebagai ternak tropika. Potensi tersebut penting untuk performa produktif dan reproduktif kambing Saburai agar dapat dimanfaatkan secara Lingkar skrotum merupakan salah satu parameter penting dalam evaluasi reproduksi pada hewan jantan. Lingkar skrotum berhubungan erat dengan produksi sperma dan fertilitas. Studi lain yang dilakukan oleh Raji et al. menyebutkan bahwa lingkar skrotum merupakan indikator perkembangan gonad dan kematangan seksual pada Bobot badan merupakan parameter Bobot dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk genetik, pakan, kesehatan, dan manajemen pemeliharaan (Sutama, 1. Penelitian oleh Akpa et al. menunjukkan bahwa bobot badan yang lebih tinggi sering dikaitkan dengan perkembangan testis yang lebih baik, yang mencerminkan kesehatan reproduksi dan efisiensi produksi sperma. Hubungan antara lingkar skrotum dan bobot badan telah diteliti pada berbagai spesies ternak. Penelitian Alemu et al. terdapat korelasi positif yang signifikan antara lingkar skrotum dan bobot badan pada kambing Boer, dengan nilai korelasi mencapai 0,75. Hal ini menunjukkan bahwa kambing dengan bobot badan yang lebih besar cenderung memiliki lingkar skrotum yang lebih besar. Penelitian lebih lanjut oleh Oyeyemi et al. , pada domba dan kambing lokal Afrika menunjukkan hubungan linier antara lingkar skrotum dan bobot badan. Korelasi yang erat ini menunjukkan bahwa pengukuran lingkar skrotum dapat digunakan sebagai prediktor awal untuk bobot badan dan potensi Seleksi pejantan berdasarkan lingkar skrotum dapat menjadi strategi yang efektif dalam program pemuliaan ternak. Menurut Fields et al. , lingkar skrotum yang lebih besar berkorelasi dengan produksi sperma yang lebih tinggi dan fertilitas yang lebih baik. Oleh karena itu, penggunaan lingkar skrotum sebagai kriteria seleksi dapat meningkatkan pemeliharaan kambing. MATERI DAN METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan observasional kuantitatif dengan metode studi Desain penelitian ini dilakukan melalui pendekatan sistematis terhadap faktor-faktor yang kambing jantan serta menguji perbedaan berdasarkan variabel usia. Penelitian dilakukan pada kambing Saburai jantan di Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Pembibitan Ternak Kambing Saburai (PTKS) Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Lampung. Pemilihan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling, yang didasarkan pada kriteria sebagai berikut: Kambing jantan dalam kondisi sehat tanpa kelainan reproduksi. Kelengkapan data terkait bobot badan, lingkar skrotum, serta parameter ukuran tubuh: panjang badan dan lingkar dada. Kambing yang telah melalui minimal tiga kali pengukuran pada rentang Arifin, dkk / Tropical Animal Science . :43-52 usia yang berbeda untuk mengamati Data yang dikumpulkan meliputi bobot badan (BB), panjang badan (PB), lingkar dada (LD), dan lingkar skrotum (LS) yang dilakukan dari tahun 2021 hingga 2024. Pengukuran dilakukan sejak usia kelahiran (P. , tiga bulan (P. , enam bulan (P. , sembilan bulan (P. dan 12 bulan (P. Total data yang terkumpul berdasarkan catatan yang lengkap terdapat 24 ekor kambing. Analisis korelasi digunakan untuk mengevaluasi hubungan antara lingkar skrotum dengan bobot badan dan parameter ukuran tubuhnya. Data berdistribusi normal, analisis dilakukan menggunakan Pearson Correlation Coefficient . HASIL DAN PEMBAHASAN Lingkar skrotum . crotal circumference/ SC) merupakan salah satu parameter ukuran tubuh yang kerap digunakan dalam penilaian potensi reproduksi pejantan, termasuk pada ternak kambing. Ukuran lingkar skrotum tidak hanya berkaitan erat dengan kapasitas produksi spermatozoa dan perkembangan testis, tetapi juga menunjukkan korelasi yang positif terhadap performa pertumbuhan, termasuk bobot badan. Lingkar pertumbuhan dari rata-rata 6,65 A 1,30 cm pada P0, menjadi 19,73 A 3,76 cm pada P4. Perkembangan ini mengindikasikan adanya pertumbuhan gonad yang berkelanjutan dan berkorelasi erat dengan peningkatan kapasitas reproduksi pejantan. Beberapa penelitian terdahulu menunjukkan bahwa lingkar skrotum yang lebih besar berkaitan dengan produksi sperma konsentrasi spermatozoa yang lebih padat, serta motilitas spermatozoa yang lebih baik, sehingga menjadikannya sebagai parameter penting dalam seleksi pejantan unggul (Alemu et al. , 2016. Chacyn et al. , 2016. Daskiran et al. , 2. Selain itu, bobot badan juga mengalami peningkatan dari 5,95 A 2,83 cm pada P0 menjadi 22,08 A 4,90 cm pada P4. Laju pertumbuhan bobot badan ini dapat dikaitkan dengan efisiensi konversi pakan, faktor pemeliharaan (Getachew et al. , 2. Korelasi positif antara bobot badan dan lingkar skrotum menunjukkan bahwa individu dengan bobot badan yang lebih tinggi cenderung memiliki ukuran skrotum yang lebih besar, yang menjadi indikator penting dalam seleksi pejantan potensial untuk peningkatan performa reproduksi (Zewdu et , 2020. Emsen et al. , 2. Tabel 1. Ringkasan Lingkar Skrotum. Bobot, dan Ukuran Tubuh Berdasarkan Kelompok Umur Variabel Lingkar skrotum . Bobot badan . Panjang badan . Lingkar dada . 65 A 1. 95 A 2. 79 A 4. 46 A 5. 44 A 2. 81 A 3. 72 A 4. 50 A 4. Panjang badan menunjukkan pola pertumbuhan yang stabil, meningkat dari 31,79 A 4,02 cm pada P0, menjadi 52,08 A 4,68 cm pada P4. Hal ini menunjukkan bahwa kambing Saburai memiliki pertumbuhan Rata-rata 94 A 3. 12 A 3. 52 A 4. 67 A 5. 12 A 3. 81 A 4. 77 A 3. 79 A 5. 73 A 3. 08 A 4. 08 A 4. 40 A 5. linier yang baik dan dapat dijadikan sebagai salah satu parameter seleksi dalam program pemuliaan untuk meningkatkan produksi daging dan efisiensi konversi pakan (Tesema et al. , 2019. Tadesse et al. , 2. Panjang badan Arifin, dkk / Tropical Animal Science . :43-52 yang lebih besar sering dikaitkan dengan potensi produksi karkas yang lebih tinggi, yang menjadi faktor penting dalam pengembangan industri peternakan berbasis daging (Hifzur et al. , 2. Lingkar dada mengalami peningkatan dari 38,46 A 5,98 cm pada P0, menjadi 63,40 A 5,51 cm pada P4, menunjukkan adanya perkembangan sistem muskuloskeletal serta kapasitas respirasi yang lebih baik. Lingkar dada merupakan parameter yang sering digunakan dalam perkiraan bobot badan secara tidak langsung tanpa memerlukan alat timbang, sehingga memiliki nilai praktis dalam pemantauan pertumbuhan ternak di lapangan (Yakubu, 2013. Tadesse et al. , 2. Studi sebelumnya menunjukkan bahwa lingkar dada memiliki korelasi yang tinggi dengan bobot badan dan dapat digunakan sebagai prediktor performa pertumbuhan secara efisien (Getachew et al. , 2018. Zewdu et , 2. Secara keseluruhan, kambing Saburai memiliki pola pertumbuhan yang baik dengan peningkatan signifikan . <0,. dalam semua parameter ukuran tubuh seiring dengan pertambahan usia. Informasi ini dapat menjadi dasar dalam strategi pemuliaan selektif guna meningkatkan efisiensi produksi dan potensi reproduksi ternak Saburai. Pengelolaan nutrisi dan praktik pemeliharaan yang optimal sangat diperlukan untuk memastikan bahwa pertumbuhan dan perkembangan ternak dapat berlangsung secara maksimal (Yakubu, 2013. Emsen et al. Tabel 2. Tabel Analisis Matriks Faktor LS = Lingkar Skrotum. BB = Bobot Badan. PB = Panjang Badan. LD = Lingkar Dada. Hasil analisis korelasi yang disajikan dalam Tabel 2 menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan . <0,. antara lingkar skrotum (LS), bobot badan (BB), panjang badan (PB), dan lingkar dada (LD). Korelasi tertinggi diamati antara bobot badan dan panjang badan . = 0,. , yang mengindikasikan bahwa peningkatan bobot badan pada kambing Saburai sangat berkaitan Hubungan ini telah dikonfirmasi dalam berbagai penelitian yang menyebutkan bahwa panjang badan merupakan salah satu indikator utama dalam menilai bobot badan pada ruminansia kecil (Ebegbulem, 2024. Oliveira & Campos, 2. Hubungan erat juga ditemukan antara bobot badan dan lingkar dada . = 0,. , yang menunjukkan bahwa lingkar dada dapat digunakan sebagai parameter prediksi bobot badan secara tidak langsung. Menurut penelitian sebelumnya, lingkar dada sering kali dikorelasikan dengan kapasitas sistem kardiovaskular dan efisiensi metabolisme peningkatan bobot badan dalam berbagai kondisi pemeliharaan (Mandal et al. , 2. Korelasi antara lingkar skrotum dan bobot badan . = 0,. menunjukkan bahwa kambing jantan dengan bobot badan lebih besar cenderung memiliki ukuran skrotum yang lebih besar. Hal ini berimplikasi pada kapasitas reproduksi karena lingkar skrotum yang lebih besar dikaitkan dengan volume testis yang lebih tinggi, produksi sperma yang lebih banyak, dan tingkat fertilitas yang lebih baik (Ebegbulem, 2024. Okpeku et al. , 2. Penelitian sebelumnya pada kambing Boer dan Red Sokoto juga menunjukkan bahwa bobot badan dapat menjadi prediktor utama dalam menentukan perkembangan gonad dan kematangan seksual pejantan (Yakubu et al. Meskipun korelasi antara lingkar skrotum dengan panjang badan . = 0,. dan lingkar dada . = 0,. tidak sekuat hubungan dengan bobot badan, nilai-nilai ini tetap menunjukkan hubungan yang signifikan. Hal Arifin, dkk / Tropical Animal Science . :43-52 ini mengindikasikan bahwa pertumbuhan testis tidak hanya dipengaruhi oleh faktor bobot badan tetapi juga oleh perkembangan struktural tubuh lainnya, seperti panjang badan dan lingkar dada, yang menunjukkan hubungan erat antara parameter reproduktif dan ukuran tubuh (Chukwuemeka et al. Secara keseluruhan, hasil analisis korelasi ini menegaskan bahwa bobot badan berkontribusi terhadap perkembangan lingkar skrotum, panjang badan, dan lingkar dada. Dengan demikian, parameter ini dapat digunakan dalam strategi seleksi genetik dan pemuliaan untuk meningkatkan efisiensi produksi serta potensi reproduksi kambing Saburai. Dengan memahami hubungan ini, program pemuliaan berbasis seleksi fenotipik dapat dioptimalkan guna meningkatkan performa pertumbuhan dan reproduksi dalam peternakan yang (Rahman et al. , 2. Ilustrasi 1. Korelasi LS terhadap BB Ilustrasi 1 menunjukkan hubungan antara lingkar skrotum (LS) dan bobot badan (BB) pada kambing Saburai berdasarkan kelompok umur yang berbeda. Tren yang terlihat dari grafik ini menunjukkan adanya korelasi positif yang signifikan antara LS dan BB pada mengindikasikan bahwa peningkatan bobot berkaitan dengan peningkatan ukuran Hal ini sejalan dengan berbagai penelitian sebelumnya yang menunjukkan ruminansia kecil sangat dipengaruhi oleh bobot badan dan status fisiologis individu (Ebegbulem, 2024. Mandal et al. , 2. Pola regresi linier yang ditampilkan dalam grafik, menerangkan bahwa setiap kelompok umur (P0AeP. menunjukkan tren peningkatan LS yang berbeda. Kelompok P0 . memiliki kemiringan grafik yang lebih landai dibandingkan dengan kelompok usia yang lebih tua, yang menunjukkan bahwa pertumbuhan awal lingkar skrotum relatif lambat pada tahap awal kehidupan. Seiring bertambahnya usia, peningkatan LS menjadi lebih signifikan, sebagaimana ditunjukkan oleh kelompok P3 . dan P4 . , yang memiliki kemiringan regresi yang lebih Temuan ini sesuai dengan laporan pertumbuhan testis pada kambing mengalami percepatan signifikan menjelang pubertas, seiring dengan peningkatan produksi hormon reproduksi (Rahman et al. , 2. Keberadaan interval kepercayaan . haded region. di sekitar garis regresi menunjukkan adanya variasi individu dalam hubungan antara LS dan BB. Variasi ini dapat disebabkan oleh faktor genetik, lingkungan, serta manajemen pemeliharaan yang berbeda (Yakubu et al. , 2. Sebagai contoh, individu dengan genetik unggul dan akses pakan yang lebih baik cenderung memiliki pertumbuhan LS yang lebih cepat dibandingkan individu yang mengalami keterbatasan nutrisi (Okpeku et al. , 2. Korelasi positif antara LS dan BB memiliki implikasi signifikan dalam seleksi pejantan ternak. LS yang lebih besar umumnya dikaitkan dengan kapasitas produksi sperma konsentrasi sperma yang lebih baik, serta fertilitas yang lebih optimal (Chukwuemeka et , 2. Oleh karena itu. LS dapat digunakan sebagai parameter seleksi dalam program Arifin, dkk / Tropical Animal Science . :43-52 Saburai meningkatkan performa reproduksi populasi secara keseluruhan. Berdasarkan hubungan ini, peternak dapat mengoptimalkan seleksi pejantan unggul berdasarkan ukuran LS dan pertumbuhan BB untuk meningkatkan produktivitas sistem peternakan berbasis pemeliharaan yang tepat . e Oliveira dan Campos, 2. Ilustrasi 2. Korelasi LS terhadap PB Ilustrasi 2 menunjukkan hubungan antara lingkar skrotum (LS) dan panjang badan (PB) pada kambing Saburai dalam berbagai kelompok umur (P0 hingga P. Hasil analisis regresi menunjukkan korelasi positif antara kedua variabel ini, yang mengindikasikan bahwa peningkatan panjang badan berkaitan dengan peningkatan lingkar skrotum. Tren ini menunjukkan bahwa perkembangan linier tubuh memiliki hubungan yang erat dengan pertumbuhan testikular, yang merupakan indikator penting dalam menilai kapasitas reproduksi pejantan (Ebegbulem, 2024. Rahman et al. , 2. Pada fase awal pertumbuhan (P0 dan P. , hubungan antara LS dan PB tampak lebih lemah dibandingkan dengan kelompok umur yang lebih tua (P3 dan P. Hal ini dapat dijelaskan oleh fakta bahwa pada fase pertumbuhan awal, perkembangan testikular belum mencapai tingkat pertumbuhan yang signifikan karena masih berada dalam tahap Seiring bertambahnya usia, korelasi antara LS dan PB menjadi lebih kuat, yang mencerminkan peran panjang badan sebagai indikator pertumbuhan umum yang berkaitan dengan perkembangan gonad dan kematangan seksual (Yakubu et al. , 2. Dalam konteks seleksi genetik dan pemuliaan ternak, korelasi yang tinggi antara panjang badan dan lingkar skrotum menunjukkan bahwa individu dengan panjang badan yang lebih besar cenderung memiliki potensi reproduksi yang lebih baik. Beberapa penelitian sebelumnya juga menunjukkan bahwa panjang badan dapat digunakan sebagai indikator tidak langsung dalam pemilihan pejantan unggul, karena panjang badan yang lebih besar sering dikaitkan dengan efisiensi metabolik yang lebih baik dan peningkatan kapasitas reproduksi (Mandal et al. , 2023. Chukwuemeka et al. Variasi dalam hubungan LS dan PB antar kelompok umur dapat memberikan wawasan penting mengenai strategi pemuliaan yang lebih efektif. Misalnya, individu dengan pertumbuhan panjang badan yang lebih cepat dapat diidentifikasi lebih awal untuk program seleksi pejantan, sehingga dapat mempercepat perbaikan genetik dalam populasi ternak (Okpeku et al. , 2. Selain itu, hubungan erat antara panjang badan dan LS juga menekankan pentingnya manajemen nutrisi perkembangan reproduktif pejantan dalam peternakan yang (Rahman et al. , 2. Hasil penelitian ini menegaskan bahwa panjang badan merupakan salah satu faktor yang berkontribusi terhadap pertumbuhan testikular pada kambing Saburai. Implikasi dari temuan ini sangat relevan dalam program seleksi fenotipik, di mana panjang badan dapat dijadikan sebagai salah satu kriteria utama dalam pemilihan pejantan unggul guna meningkatkan produktivitas dan efisiensi reproduksi dalam sistem peternakan Arifin, dkk / Tropical Animal Science . :43-52 Ilustrasi 3 menggambarkan hubungan antara lingkar skrotum (LS) dan lingkar dada (LD) pada kambing Saburai berdasarkan kelompok umur yang berbeda (P0 hingga P. Berdasarkan pola distribusi data dan garis regresi yang ditampilkan, terdapat korelasi positif antara LS dan LD, yang menunjukkan bahwa peningkatan lingkar dada berkaitan dengan pertumbuhan lingkar skrotum. Hubungan ini mengindikasikan bahwa perkembangan struktural tubuh memiliki keterkaitan dengan perkembangan organ reproduksi, sehingga lingkar dada dapat digunakan sebagai salah satu indikator pertumbuhan testikular pada kambing Saburai (Rahman et al. , 2023. Yakubu et al. Ilustrasi 3. Korelasi LS terhadap LD Lingkar dada merupakan salah satu parameter ukuran tubuh yang digunakan untuk memperkirakan bobot badan secara tidak langsung. Hubungan positif antara LD dan LS dalam penelitian ini sejalan dengan temuan sebelumnya yang menunjukkan bahwa ternak dengan lingkar dada lebih besar cenderung memiliki kapasitas metabolisme yang lebih baik dan status nutrisi yang lebih optimal, yang pada akhirnya berkontribusi terhadap perkembangan gonad yang lebih baik (Chukwuemeka et al. , 2. Peningkatan lingkar dada mencerminkan perkembangan sistem muskuloskeletal dan kapasitas paruparu yang lebih besar, yang mendukung efisiensi metabolisme serta pertumbuhan reproduktif pejantan (Mandal et al. , 2. Pada kelompok umur awal (P0 dan P. , korelasi antara LS dan LD tampak lebih rendah dibandingkan dengan kelompok umur yang lebih tua (P3 dan P. Hal ini dapat dijelaskan oleh fakta bahwa perkembangan testikular pada fase prepubertas belum mencapai puncaknya, sehingga hubungan dengan parameter ukuran tubuh masih Seiring dengan bertambahnya usia, terutama pada P3 dan P4, hubungan antara LS dan LD semakin kuat, yang mencerminkan peran lingkar dada dalam mendukung pertumbuhan dan kematangan seksual (Ebegbulem, 2024. Okpeku et al. , 2. Pada konteks seleksi genetik dan pemuliaan, penelitian ini menunjukkan bahwa lingkar dada dapat menjadi parameter alternatif dalam pemilihan pejantan potensial. Korelasi positif antara LD dan LS menunjukkan bahwa individu dengan lingkar dada lebih besar memiliki potensi reproduksi yang lebih baik, sehingga dapat digunakan sebagai salah satu kriteria dalam strategi seleksi berbasis fenotipik (Rahman et al. , 2. Selain itu, hubungan yang kuat antara kedua manajemen nutrisi yang optimal untuk mendukung pertumbuhan tubuh secara keseluruhan, termasuk perkembangan organ reproduksi pejantan (Mandal et al. , 2. Dengan memberikan wawasan penting bagi program seleksi dan pemuliaan kambing Saburai, di mana lingkar dada dapat digunakan sebagai salah satu indikator tidak langsung dalam menentukan kapasitas reproduksi pejantan. Integrasi parameter ukuran tubuh dalam program seleksi dapat meningkatkan efisiensi pemuliaan dan produktivitas ternak dalam peternakan yang (Yakubu et al. , 2. Hubungan antara lingkar skrotum (LS) Saburai memperlihatkan adanya korelasi positif yang Arifin, dkk / Tropical Animal Science . :43-52 kuat antara pertambahan umur dan peningkatan lingkar skrotum (Ilustrasi . Tren pertumbuhan ini bersifat linier, yang mengindikasikan bahwa lingkar skrotum mengalami perkembangan secara progresif seiring bertambahnya umur. Peningkatan ukuran testikular ini berhubungan langsung kematangan seksual pejantan, yang menjadi faktor penting dalam seleksi ternak untuk program pemuliaan dan produksi ternak yang berkelanjutan (Ebegbulem, 2024. Rahman et , 2. Ilustrasi 4. Korelasi LS terhadap Umur Pertumbuhan lingkar skrotum dari usia nol hingga 12 bulan menunjukkan pola peningkatan yang konsisten. Hal ini sejalan meningkat seiring dengan perkembangan fisiologis pejantan, dengan percepatan pertumbuhan yang lebih nyata pada fase pubertas (Yakubu et al. , 2. Faktor utama yang mempengaruhi pertumbuhan ini mencakup genetik, status nutrisi, serta lingkungan pemeliharaan, di mana individu dengan asupan nutrisi yang lebih baik cenderung memiliki perkembangan testikular yang lebih optimal (Mandal et al. , 2023. Okpeku et al. , 2. Pada skrotum sering digunakan sebagai indikator non-invasif untuk menilai kapasitas fertilitas Ukuran skrotum yang lebih besar dikaitkan dengan produksi sperma yang lebih banyak, kualitas semen yang lebih baik, serta (Chukwuemeka et al. , 2. Oleh karena itu, hubungan positif antara lingkar skrotum dan umur ini dapat digunakan dalam program seleksi untuk mengidentifikasi pejantan dengan potensi reproduksi terbaik sejak usia Peningkatan ukuran lingkar skrotum yang linear hingga usia 12 bulan menunjukkan bahwa pertumbuhan testikular belum mencapai titik plateau, yang gonad masih berlanjut setelah usia ini. Oleh karena itu, evaluasi lanjutan pada usia lebih tua diperlukan untuk menentukan kapan pertumbuhan testis mencapai stabilisasi dan kapan puncak produksi sperma terjadi (Rahman et al. , 2. Temuan ini juga menggarisbawahi pentingnya pemberian pakan yang sesuai dengan kebutuhan fisiologis pejantan pada setiap tahapan performa reproduksi di masa dewasa (Ebegbulem, 2. Dengan demikian, hasil penelitian ini menegaskan bahwa umur merupakan salah satu faktor utama yang Informasi ini sangat bermanfaat dalam pemuliaan ternak, terutama dalam menentukan usia optimal untuk seleksi pejantan unggul berdasarkan parameter Dengan mengintegrasikan data pertumbuhan lingkar skrotum dalam strategi seleksi genetik, produktivitas dan efisiensi sistem peternakan dapat ditingkatkan secara signifikan (Mandal et al. , 2. KESIMPULAN Penelitian ini mengungkapkan adanya korelasi positif antara parameter ukuran tubuh, dengan lingkar skrotum menunjukkan hubungan paling signifikan terhadap bobot Temuan ini mendukung pemanfaatan bobot badan sebagai indikator seleksi pejantan Arifin, dkk / Tropical Animal Science . :43-52 dalam program pemuliaan. Integrasi antara parameter ukuran tubuh dan indikator pertumbuhan reproduktif, dengan dukungan manajemen nutrisi dan pemeliharaan yang optimal, dapat meningkatkan efisiensi produksi serta memperkuat kualitas genetik kambing Saburai dalam jangka panjang. DAFTAR PUSTAKA