Al-Rabwah : Jurnal Ilmu Pendidikan Vol. No. May 2022 ISSN : . E-ISSN : . MODEL PENGEMBANGAN KURIKULUM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM MULTIKULTURAL Sismanto Pascasarjana Universitas Islam Malang. Indonesia Email : sirilwafa@gmail. Received 19 Mei Article Info Accepted 06 Juni 2022 Published 08 Juni 2022 Keywords: ABSTRACT Curriculum Approach Curriculum Model Multicultural Islamic Education A pluralistic society where people can live side by side peacefully in culture requires a curriculum that can guide teachers, schools, parents in teaching and learning activities at school and at home. This study analyzes instructions on approaching and modelling the multicultural Islamic education curriculum implemented at private elementary school in Sangatta. Research using qualitative and the researcher is part of the key instrument. Respondents in this study were principals, vice-principal, and teachers of Islamic education. They are collecting data using observation, interview, and documentation techniques. The results show that: . The multiculturalbased Islamic religious education curriculum approach used in Sangatta private elementary school contributes and additive contribution. The model for developing the multicultural Islamic Islamic education curriculum at private elementaray school Sangatta uses administrative and grass-root ABSTRAK Kata Kunci: Pendekatan Kurikulum Model Kurikulum PAI Multikultural Dalam masyarakat majemuk dimana masyarakat dapat hidup berdampingan secara damai dalam perbedaan budaya memerlukan kurikulum yang dapat dijadikan guidance bagi guru, sekolah, orang tua dalam mengelola kegiatan belajar mengajar di sekolah maupun di rumah. Kajian ini bermaksud menganalisis bagaimana pendekatan dan model kurikulum pendidikan Islam multikultural yang dilaksanakan di sekolah dasar di Sangatta. Penelitian menggunakan kualitatif dan peneliti menjadi bagian dari instrumen kunci. Responden dalam penelitian ini adalah kepala sekolah, guru pendidikan Islam. Pengumpulan data dengan teknik observasi, wawancara, dan Hasil penelitian terlihat bahwa: . Pendekatan kurikulum pendidikan agama Islam berbasis multikultural yang digunakan di sekolah dasar swasta Sangatta adalah pendekatan kontribusi dan aditif. Model pengembangan kurikulum PAI multikultural di sekolah swasta Sangatta menggunakan model administrasi dan grass root. Copyright and License: Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License that allows others to share the work with an acknowledgment of the work's authorship and initial publication in this journal. PENDAHULUAN Tidak dapat dipungkiri bahwa pendidikan merupakan faktor terpenting dalam pembangunan sebuah bangsa, untuk itu pendidikan perlu menjadi perhatian serius oleh pemerintah dan tentunya menjadi hak setiap Journal homepage: http://jurnal. id/index. php/al-rabwah warga negara yang dijamin oleh Undang-undang (Mukhtar 2. Upaya perbaikan dan peningkatan mutu pendidikan di Indonesia sudah banyak dilakukan, baik oleh pemerintah dalam hal ini Departemen Pendidikan Nasional maupun oleh pihak swasta yang mempunyai komitmen terhadap dunia pendidikan (Sismanto Dengan diberlakukannya Kurikulum K-13 yang menggantikan kurikulum KTSP sangat diharapkan mampu meningkatkan mutu pendidikan sebagaimana amanat Undang-undang Sistem pendidikan nasional. Untuk itu, sekolah sebagai lembaga formal diharapkan dapat berperan sebagai ujung tombak dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia demi terwujudnya tujuan pendidikan nasional sebagaimana termaktub dalam Undang-undang Sisdiknas Bab II Pasal 3 (Ahmad 2018:. Kurikulum berdasarkan pandangan Undang-undang sisdiknas tahun 2003 sebagai sebuah rencana, pengaturan isi dan bahan pelajaran dan cara untuk mencapai tujuan pendidikan, maka keberadaan kurikulum menjadi sangat vital dan fundamental bagi ketercapaian tujuan pendidikan (Mukhtar 2. Kepala sekolah sebagai figur sentral di sekolah dituntut mampu melakukan inovasi dan pembaharuan baik dalam manajemen pengelolaan di sekolah secara keseluruhan maupun pengelolaan kelas (Sismanto Syahrul 2. dan juga harus mengembangkan kompetensi manajerialnya, sosial, pribadi kewirausahaan dan supervisi. Kompetensi manajerial ini akan penting bagi siapa saja, para pelaku, pemangku atau pengelola sebuah lembaga pendidikan dalam menjalankan amanah yang diemban sebagai top leader (Ifendi 2. Dalam pengelolaan sekolah, peran kepala sekolah semakin terasa penting, kepala sekolah di samping harus mampu melakukan peran sebagai manajer yang mengelola sumber daya manusia juga harus mampu melakukan peran sebagai seorang pemimpin yang mampu menentukan kebijakan-kebijakan terkait dengan pelaksanaan kurikulum di sekolahnya. Selain itu, kepala sekolah juga bertugas memberdayakan serta memberikan keteladanan dalam rangka memimpin semua masyarakat atau warga sekolah untuk meningkatkan kualitas lulusan sekolah yang dipimpinnya (Nurtan et al. Kepala sekolah harus senantiasa tanggap terhadap perubahan-perubahan yang terjadi di masyarakat, juga harus mampu menjaring keinginan yang berkembang di masyarakat (Sismanto 2016. Taufan and Mazhud 2. Pola pendidikan mana yang diharapkan oleh masyarakat sebagai stakeholder harus segera dirumuskan dalam kebijakankebijakan yang memungkinkan para siswa dapat berkembang dan tumbuh sesuai dengan harapan orang tua Oleh karena itu kepala sekolah harus pandai-pandai merumuskan kebijakan-kebijakan yang mendukung diberlakukannya kurikulum. Kurikulum dapat dijadikan acuan dan guidance bagi pelaksana pendidikan khususnya guru dalam mengelola kegiatan belajar-mengajar. Tidak hanya guru di sekolah, orang tua juga dapat melihat kurikulum yang dapat dijadikan pedoman untuk membimbing putra-putrinya belajar di rumah. Dengan adanya kurikulum juga akan membantu kepala sekolah dalam melaksanakan supervisi pembelajaran. Demikian pula bagi masyarakat, dengan melihat kurikulum dapat dijadikan pijakan untuk membantu mewujudkan proses pembelajaran di sekolah (Ahmad 2. Dalam konteks masyarakat multikultural yang terdiri dari berbagai perbedaan, maka sekolah memiliki kewajiban dalam menyusun dan mengembangkan bagaimana model kurikulum yang sesuai dengan karakteristik lingkungan masyarakat di mana sekolah itu berada. Indonesia terdiri dari pelbagai perbedaan suku, agama, ras, dan kelompok yang ada (Sismanto 2021b. Sismanto. Bakri, and Huda 2022. Sismanto and Riswadi 2. Kekayaan keragaman etnis yang ada di Indonesia seharusnya dapat menjadi keuntungan untuk mempersatukan bangsa, namun kenyataan di bidang temu budaya memunculkan konflik baru, yang dilandasi oleh meningkatnya konflik sosial di masyarakat (Sismanto 2021a. Sismanto et al. Tahun 2013 total konflik 92, tahun 2014 ada 83 konflik. dan pada tahun 2015 konflik sosial yang bersumber dari perbedaan ideologi, politik, ekonomi, dan sosial budaya berjumlah 20 kasus (Noor and Sugito 2. Berdasarkan penelusuran kajian penelitian terdahulu, implementasi pendidikan multikultural, seperti: pada Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), untuk meningkatkan pertumbuhan fisik, intelektual, sosial, emosional anak usia dini di bawah tiga tahun di Indonesia (Hasan and Suwarni 2. , di SMP (Budirahayu and Saud 2. , di boarding school (Latif and Hafid 2021. Maslani 2012. Masnawati et al. Raihani 2. , di SMA (Salamun 2. , dan implementasi pendidikan multikultural pada local wisdom-based di Indonesia pada sekolah dasar (Kosim et al. Noor and Sugito 2. Di samping itu, pengembangan kurikulum hendaknya direncanakan yang matang dan dilakukan dengan berbagai pertimbangan serta landasan agar dapat dijadikan pijakan dalam penyelenggaraan proses pendidikan, sehingga tujuan pendidikan dan pembelajaran pada gilirannya akan dapat berjalan lebih efisien dan efektif (Achruh 2. Penelitian M. Fadlillah yang menunjukkan bagaimana konsep dan model kurikulum pendidikan multikultural di lembaga pendidikan TK yang dapat diadaptasikan ke jenjang pendidikan lainnya (Fadlillah 2. Pemahaman orangorang di pesantren telah diterapkan dengan baik, yang mungkin masih asing di teks-teks mereka. Transformasi pendidikan multikultural telah diintegrasikan dalam kajian teks klasik maupun bersumber dari sumber normatif yang terdapat dalam Al Quran dan hadits, atau melalui pembelajaran lain yang bermuatan Model Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam Multikultural (Sismant. pendidikan multikultural. Tidak ada praktik diskriminatif bagi santri dalam tinggi keberagaman dan perbedaan etnis, kesetaraan, toleransi dan sikap terbuka (SyafeAoi 2. Berdasar latar belakang di atas dan penelusuran kajian penelitian yang relevan, penulis menarik konteks di atas dengan meneliti bagaimana model pengembangan kurikulum pendidikan Islam multikultural. Mengingat belum banyak penelitian yang mengkaji pengembangan model kurikulum pendidikan Islam multikultural di sekolah dasar. Oleh karena itu, tulisan ini berfokus pada bagaimana pendekatan dan model pendidikan Islam multikultural pada proses pembelajaran di kelas dalam menanamkan nilai-nilai Islam Dengan demikian, penelitian ini menjadi penting bagi sekolah untuk merefleksikan keragaman. Uniknya penelitian ini adalah termasuk dalam penelitian yang fokus pada peneliti pendidikan Islam. Meski telah lama dipraktikkan, fakta menunjukkan bahwa fenomena Islam multikultural dalam membangun budaya toleran melalui pembelajaran multikultural yang menyenangkan, inovatif dan metode yang mengikuti karakteristik sekolah. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan tipe multi-site, yang mengharuskan peneliti melibatkan beberapa tempat dan subjek penelitian sekaligus (Bogdan and Biklen 1. Dalam perancangan penelitian ini peneliti melibatkan dua sekolah dasar yang berada di kota Sangatta yaitu SD YPPSB 3 dan SD Muhammadiyah 2 Sangatta Kabupaten Kutai Timur Provinsi Kalimantan Timur. Responden dalam penelitian ini adalah kepala sekolah, wakil kepala sekolah, dan guru pendidikan agama Islam. Teknik pengumpulan data menggunakan peneliti sebagai instrumen yang fungsinya menggali data penelitian dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi (Ghony. Wahyuni, and Almanshur 2. Selama observasi peneliti melakukan observasi langsung untuk mengetahui secara detail seluruh unit dan bagian dalam struktur organisasi, meliputi . apa saja nilai-nilai pendidikan Islam multikultural, . struktur organisasi yang ada, dan . deskripsi dari data awal tentang apa saja yang dapat mendukung fokus Selanjutnya teknik wawancara ini ditujukan kepada guru PAI dan pihak lain yang terlibat secara tidak langsung, seperti yayasan, kepala sekolah dan wakil kepala sekolah bagian kurikulum, komite yang dimaksudkan untuk mengumpulkan data sebagai berikut: . Pengalaman pemangku kepentingan dalam mengimplementasikan nilai nilai pendidikan Islam multikultural. permasalahan yang dihadapi stakeholders dalam mengimplementasikan nilai-nilai pendidikan Islam multikultural. Potensi pemangku kepentingan untuk mengembangkan nilai-nilai pendidikan Islam multikultural. Pemahaman stakeholders terhadap konsep nilai-nilai pendidikan Islam multikultural. Sedangkan dokumen yang dipelajari meliputi silabus RPP. LKS yang dibagikan di kelas, tugas siswa, dan contoh soal ujian. Selain itu. FGD yang dilakukan dalam penelitian ini lebih difokuskan untuk menelaah temuan dari beberapa pihak yang berkompeten di bidang ini. HASIL DAN PEMBAHASAN Pendekatan Kurikulum PAI Multikultural Pendekatan kontribusi . he contributions approac. James A. Banks menyebut bahwa pendekatan ini sebagai salah satu yang paling sering digunakan secara ekstensif selama fase pertama dari gerakan kebangkitan etnis. Pendekatan ini ditandai dengan penambahan pahlawan etnis, budaya atau suku ke dalam kurikulum yang dipilih dengan menggunakan kriteria yang sama dengan yang digunakan untuk memilih pahlawan nasional yang dimasukkan ke dalam kurikulum. Pendekatan ini tidak mengubah kurikulum dalam hal struktur dasar, tujuan, dan karakteristiknya. Kaitannya dengan pendidikan agama Islam multikultutural dalam konteks pembelajaran, pendekatan ini bisa digunakan dalam membuat jadwal pembelajaran. Misalnya bidang kurikulum membuat jadwal pelajaran atau penjadwalan pelajaran yang multi agama bersama agama lain dengan memasukkan karakter yang seirama dengan agama lain. Penjadwalan yang multi agama itu semisal pada agama Islam. Kristen maupun agama Katolik secara bersama-sama (SyamAoun 2. Di samping itu, adanya perayaan-perayaan yang berkaitan dengan memperingati suku dan budaya di antaranya diadakannya peringatan hari Kartini. Pada peringatan ini masing-masing siswa menggunakan pakaian adat dari masing-masing daerahnya. Adanya pembelajaran mengenal bahasa daerahnya masing-masing. Dalam hal ini guru melibatkan siswa dalam pembelajaran yang berasal dari pengalaman yang berkaitan dengan bahasa asal orang tuanya dengan didampingi oleh orang tuanya (Handiyah 2. Sebagai perbandingan hasil penelitian M. Fadlillah di level pendidikan TK dengan menggunakan pendekatan kontribusi yang dapat dimasukkan dalam kurikulum Fadhillah memasukkan tokoh maupun pahlawan daerah yang memiliki prestasi yang membanggakan melalui tema-tema yang dimasukkan dalam tema pembelajaran yang berkaitan dengan tema lingkunganku, kebutuhanku, rekreasi, pekerjaanku, dan tanah airku (Fadlillah 2. Al-Rabwah : Jurnal Ilmu Pendidikan Vol. No. May 2022 Pendekatan kontribusi merupakan pendekatan termudah yang digunakan guru untuk mengintegrasikan kurikulum dengan konten etnisitas. Namun demikian, pendekatan kontribusi memiliki beberapa sisi Siswa tidak mendapatkan pandangan secara menyeluruh tentang peran suku dan budaya dalam Sebaliknya, mereka melihat isu etnis dan prioritas peristiwa sebagai pelengkap kurikulum dan secara konsisten sebagai pelengkap cerita utama pembangunan karakter bangsa (Banks 1. Jadi, pendekatan kurikulum pendidikan Islam multikultural melalui pembelajaran isu etnis dengan menggunakan pahlawan, perayaan budaya, dan pelengkap lainnya dapat dilakukan sepanjang tidak mengabaikan konsep dan isu penting yang terkait dengan ekspresi kelompok etnis serta perjuangan mereka melawan rasisme dan perebutan kekuasaan. Namun demikian, dalam perjalanannya pendekatan kontribusi yang merupakan level 1 dari integrasi materi multikultural ke dalam kurikulum ini sering kali mengalami kegagalan. Siswa hanya mendapatkan pengalaman sementara yang diingatnya tentang pahlawan etnis maupun budaya namun kemudian seringkali gagal memahami signifikansi peran dan pengaruh pahlawan tersebut karena siswa hanya mendapatkan pemahaman secara parsial tentang kontribusinya di dalam masyarakat (Vavrus 2. Pendekatan aditif . ditive approac. Integrasi kurikulum dalam pendekatan ini merupakan hal yang penting dilakukan dengan cara memberikan/menambahkan isi, konsep, atau tema ke dalam kurikulum tanpa merubah struktur dasar kompetensi dasar, tujuan, dan karakteristiknya. Pendekatan ini merupakan pendekatan level 2 dari integrasi materi multikultural dalam kurikulum. Pendekatan ini ditandai dengan memberi memberikan tambahan buku unit atau bidang apapun tanpa merubah substansinya (Indrawan et al. Kedua lokus penelitian. SD YPPSB 3 dan SD Muhammadiyah 2 Sangatta melakukan dengan menggunakan pendekatan aditif ini dengan cara memberi tambahan buku, unit, ataupun kegiatan-kegiatan dan ke dalam kurikulum tanpa merubah secara Dalam pelaksanaannya, sekolah memberikan tambahan kegiatan dalam memperingati suku dan budaya di antaranya diadakannya peringatan hari Kartini dan juga materi pembelajaran masing-masing siswa menggunakan pakaian adat dari masing-masing daerahnya. Fadlillah melakukan penelitian di taman kanak-kanak pendekatan aditif yang dapat dimasukkan dalam kurikulum pembelajaran. Fadlillah menawarkan pengembangan model pendekatan ini di taman kanak-kanak dapat dilakukan dengan memberikan tambahan tema yang bersifat insidental dan misalkan tema yang berkaitan peringatan kemerdekaan hari besar keagamaan dan hari Kartini (Fadlillah 2. Dalam perspektif multikultural, pendekatan ini juga dapat dimasukkan dimensi multikultural ke dalam kurikulumnya bukan dengan merubah kompetensi dasar, tetapi dengan mengembangkan indikator pencapaian kompetensi dasar (KD). Pengembangan dimensi multikultural tidak diarahkan pada penambahan atau perubahan kompetensi dasar karena beberapa kompetensi sudah memiliki dimensi multikultural, sehingga cukup hanya pada ranah indikator saja (Ramdhan 2. Dalam pendekatan ini, guru dimungkinkan untuk memberi tambahan konten etnis budaya dan ragam yang lainnya tanpa merestrukturisasi kurikulum. Namun demikian dalam pendekatan ini membutuhkan banyak waktu, tenaga, latihan dan bagaimana memikirkan kembali struktur dasar dan tujuan kurikulum. Pendekatan Transformatif . he transformation approac. Berdasarkan hasil penelusuran di kedua lokus penelitian, baik di SD YPPSB 3 maupun di SD Muhammadiyah Sangatta tidak ditemukan pendekatan transformatif yang digunakan menurut amatan Pendekatan transformasi pada dasarnya berbeda dari pendekatan aditif . ditive approac. dan kontribusi . he contributions approac. Dalam kedua pendekatan tersebut, tidak ada perubahan yang mendasar pada kurikulum baik yang berkaitan dengan kompetensi dasar, sifat maupun strukturnya. Sementara dalam pendekatan ini, asumsi dasar kurikulum berubah sehingga memungkinkan siswa dapat melihat konsep, masalah, dan tema dari berbagai sudut pandang dan perspektif budaya dan etnis. Hal ini sejalan dengan sebagaimana gagasan James A. Banks bahwa dalam pendekatan transportasi dirancang agar siswa dapat melihat konsep, tema, dan masalah peristiwa dari berbagai perspektif kelompok budaya dan etnis sehingga pendekatan ini secara fundamental merubah bentuk kurikulum baik yang berkaitan dengan tujuan struktur dan sifatnya (Banks 1. Masih menurut James A. Banks, masalah utama dan mendasar dalam kurikulum menurut pendekatan transformatif ini bukanlah pada penambahan daftar panjang kelompok etnis, pahlawan, dan kontribusinya tetapi adanya masukan dari berbagai perspektif yang memberikan pemahaman kepada siswa terhadap kerangka dasar dan materi dari berbagai kelompok. Pendekatan transformasi ini merupakan level 3 dari integrasi materi multikultural dalam kurikulum yang memiliki ciri utama padangan dari berbagai sudut pandang etnis dalam mengubah asumsi dasar kurikulum dan membina kompetensi siswa dalam melihat konsep, masalah, dan tema. Pendekatan Tindakan Sosial . he Social Action Approac. Berdasarkan hasil penelusuran di kedua lokus penelitian, baik di SD YPPSB 3 maupun di SD Muhammadiyah Sangatta berdasarkan amatan peneliti tidak ditemukan pendekatan aksi sosial yang Model Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam Multikultural (Sismant. Pendekatan ini memiliki tujuan mengajari siswa untuk melakukan kritik sosial dan perubahan sosial serta mendidik mereka keterampilan membuat keputusan. Dalam pendekatan tindakan sosial, yang merupakan perluasan dari pendekatan transformasi, siswa membuat keputusan tentang masalah sosial yang penting dan mengambil tindakan untuk membantu menyelesaikannya. Pendekatan Tindakan Sosial . he Social Action Approac. mencakup semua komponen pendekatan transformasi, namun pendekatan ini lebih luas cakupannya dengan menambahkan komponen yang mengharuskan siswa untuk membuat keputusan atau tindakan yang berkaitan dengan konsep atau masalah yang dipelajari (Banks 1. Melihat konsepsi dari pendekatan tindakan sosial ini, maka wajar bila di kedua lokasi penelitian tidak menerapkan pendekatan ini. Hal tersebut sejalan sesuai dengan apa yang dilakukan oleh Fadlillah yang melakukan penelitian pengembangan kurikulum multikultural pada level taman kanak-kanak. Dalam catatan temuannya di sekolah taman kanak-kanak hanya ada ditemukan pendekatan kontribusi . he contribution approac. dan pendekatan aditif . ditive approac. (Fadlillah 2. Pun demikian, penelitian yang dilakukan oleh Ramdhan yang melakukan penelitian di Sekolah Menengah Atas juga tidak menemukan pendekatan tindakan sosial. Dalam temuannya, pembuatan perencanaan pendidikan berbasis multikultural yang ditemukan hanyalah menggunakan pendekatan aditif dan transformatif (Ramdhan 2. Model Kurikulum Pendidikan Islam Multikultural Pengembangan kurikulum SD di Kota Sangatta, harus disesuaikan dengan karakter dan latar belakang siswa yang kebanyakan berasal dari masyarakat multikultural, sehingga rencana pengembangan kurikulum pun disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi para siswa. Data tahun 2020, seiring dengan berkembangnya keragaman agama di Kabupaten Kutai Timur terdapat tempat ibadah yang menampung semua agama. Tempat ibadah yang tersedia di Kabupaten Kutai Timur meliputi 454 masjid, 371 mushola, 199 gereja Kristen Protestan, 76 gereja Kristen Katolik. Pada bidang pendidikan tidak lepas dari upaya pemerintah pusat maupun daerah. Salah satu upaya konkrit yang dilakukan pemerintah untuk meningkatkan pendidikan masyarakat adalah dengan menambah jumlah sekolah dari tahun ke tahun. Hingga akhir tahun 2020, jumlah sekolah di Kabupaten Kutai Timur kelompok berdasarkan jenjangnya adalah Taman Kanak-kanak 178 unit. RA (Raudatul Athfa. 5 unit. SD 224 unit. MI (Madrasah Ibtidaiya. 8 unit, 87 unit SMP. MTs 10 unit. Sekolah Menengah Atas 22 unit. SMK 25 unit. MA 4 unit (Madrasah Aliya. , dan 3 unit sekolah tinggi (Sismanto 2021. Oleh karena itu, penambahan atau pengembangan kurikulum pada SD Kota Sangatta tidak hanya pada mata pelajaran muatan lokal mempunyai ciri khusus keagamaan tetapi juga pada mata pelajaran-mata pelajaran nasional yang dianggap sulit. Andi Achruh memberikan beberapa model pengembangan kurikulum Ralph Tyler. Hilda Taba, dan D. K Wheeler (Achruh 2. Zais dalam bukunya AuDeveloping Curriculum Principles and FoundationAy mencatat dan mengemukakan ada sembilan model pengembangan kurikulum, yaitu: 1. Model Administratif (The Administrative Model. , 2. Model Akar Rumput (The Grass-Roots Mode. , 3. Model Demonstrasi (The Demonstration Mode. , 4. Sistem Beauchamps (Beauchamps Syste. , 5. Model Terbalik Taba (Tabas`s Inverted Mode. , 6. Model Hubungan Interpersonal Rogers (Rogers Interpersonal Relations Mode. , 7. Model Penelitian Tindakan Sistematis (The Systematic Action Research Mode. , 8. Model Teknis (Emerging Technical Model. Rekayasa Kurikulum sebagai Penelitian dan Pengembangan (Curriculum Engineering as Research and Development/R&D) (Zais 1976:445Ae. Sementara Husni Mubarok, dkk. mencatat dengan dua tambahan model DK Wheeler dan model Audery dan Nicholls (Mubarok. Sapuan, and Makmun 2. Berdasarkan hasil penelusuran di kedua lokus penelitian, baik di SD YPPSB 3 maupun di SD Muhammadiyah Sangatta ditemukan dua model yang digunakan menurut amatan peneliti. Kedua model tersebut adalah model administrasi dan model Grass root. Adapun pengembangan kurikulum dapat dilakukan melalui dua pendekatan yaitu: . pendekatan top-down the administrative model dan . the grass root model (Nugraha 2. Model Administrasi Model ini merupakan model pengembangan kurikulum klasik dan paling banyak digunakan. Ide pengembangan kurikulum dengan model ini dimulai dari penyelenggara pendidikan . embuat kebijaka. yang menggunakan prosedur administratif sebagai arah kebijakan. Pengembangan kurikulum berasal dari pejabat tinggi (Kemendikbu. , kemudian secara struktural dilakukan di tingkat yang lebih rendah. Dalam model ini, pejabat pendidikan membentuk panitia pengarah yang terdiri dari pengawas pendidikan, kepala sekolah, dan guru inti. Komite pengarah ini bertugas merumuskan rencana umum, asas, landasan filosofis, dan tujuan pendidikan umum (Sabda 2. Hal serupa juga dikemukakan Husni Mubarok, dkk. menyebut bahwa model pengembangan kurikulum ini merupakan model tertua dan paling banyak dikenal. Dinamakan model administrasi atau staf lini karena inisiatif dan gagasan pengembangan berasal dari penyelenggara pendidikan dan menggunakan prosedur Al-Rabwah : Jurnal Ilmu Pendidikan Vol. No. May 2022 Dalam mengimplementasikan kurikulum, pada tahun-tahun awal juga diperlukan adanya monitoring, observasi, dan supervisi serta pembinaan dalam pelaksanaannya. Setelah berjalan beberapa saat, penting juga untuk mengevaluasi baik komponen valitidas, prosedur implementasi, dan keberhasilannya (Mubarok et al. Pada dasarnya model ini mudah dilaksanakan oleh negara yang menganut sistem sentralisasi dan negara yang kemampuan profesional tenaga pengajarnya masih rendah. Kelemahan model ini terletak pada kurang pekanya terhadap adanya perubahan masyarakat, di samping juga kurikulum ini bersifat seragam secara nasional, sehingga kadang-kadang melupakan perubahan atau kekhususan daerah. Adapun langkah-langkah model administrasi sebagai berikut : Pihak Pengambil Keputusan (Administrato. Menteri, direktorat jendral. Kanwil Membentuk Panitia Pengarah Tugas Memberi arahan tentang kebijakan pemerintah dalam bidangnya Menangani Pengembangan Kur Spes. Peng. Kur Panitia Kelompok Kerja Anggota Spesialis Pend Spes. Bid Studi Guru Melalui Penetapan Keputusan Kesimpulan Tugas Sidang Pleno Diskusi kelompok kecil. Diskusi kelompok besar. Lokakarya. Studi Pustaka, studi lapangan. Gambar 1 Pengembangan kurikulum dengan model administrasi diadaptasi dari berbagai sumber Berdasarkan gambar di atas, pihak pengambil keputusan . baik itu menteri, direktorat jenderal ataupun kanwil dengan kewenangan administratif ini, membentuk tim pengarah yang terdiri dari para pakar dan ahli di bidang kurikulum maupun bidang yang sesuai dengan kebutuhan dan yang tugasnya adalah memberikan arahan tentang kebijakan pemerintah dalam bidangnya. Panitia pengarah bertugas merumuskan grand desain pengembangan kurikulum yang berupa landasan, strategi, dan kebijakan Selanjutnya pemerintah membentuk panitia kelompok kerja yang bertugas menangani pengembangan kurikulum. Kelompok kerja terdiri dari anggota yang memiliki kemampuan dan keahlian di bidang masing-masing, misalnya yang memiliki keahlian dalam bidang pengembangan kurikulum, ahli dalam bidang spesialisasi Pendidikan, ahli dalam bidang studi, dan juga para guru. Kelompok kerja ini dalam pelaksanaannya bertugas menentukan bentuk dan konsep kurikulum sebagaimana yang digariskan oleh tim Kelompok kerja menentukan urutan materi, pemilihan strategi, dan evaluasi kemudian menyusun dalam bentuk pedoman pelaksanaan kurikulum yang akan digunakan bagi pelaksana kurikulum ditingkat Kelompok kerja yang terdiri dari berbagai spesialisasi keahlian itu kemudian melalui diskusi kelompok kecil, diskusi kelompok besar, lokakarya, studi lapangan, dan kajian Pustaka. Setelah konsep yang dirumuskan oleh kelompok kerja jadi draft kurikulum, maka hasilnya dievaluasi oleh panitia pengarah yang memiliki kemenangan termasuk didalamnya pejabat yang berkompeten sehingga dalam pelaksanaannya diperlukan pengawasan dan pembinaan. Setelah kelompok kerja ini menyelesaikan tugasnya dan menghasilkan draft kurikulum, maka draft ini kemudian dibahas dalam siding pleno bersama dengan panitia Bila dalam sidang pleno tersebut disepakati dan menjadi sebuah keputusan dan hasilnya menjadi sebuah kesimpulan yang akan disampaikan kepada pihak pengambil keputusan . , baik itu Menteri, dirijen, maupun kanwil. Jika kegiatan ini dirasa sudah cukup baik, maka pihak pengambil keputusan . menentukan apakah kurikulum yang dirancang tersebut valid ataukah tidak. Dilihat dari Model Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam Multikultural (Sismant. tipologinya karena berasal dari top leadher maka model ini kemudian lebih tepat di sebut dengan Model Top Down. Model Grass Root Dalam bahasa Inggris, "grass" berarti rumput, sedangkan "root" berarti akar. Jadi "akar rumput" berarti akar rumput, kata kiasan yang berarti orang-orang di tingkat yang lebih rendah atau lebih rendah. Model akar rumput adalah kebalikan dari model administrasi top-down. Inisiatif pengembangan kurikulum pada model akar rumput tidak datang dari model administrasi top-down tetapi dari bawah yaitu bersumber dari guru. Dengan demikian secara harfiah AuThe Grass-Roots ModelAy dapat diartikan sebagai model pengembangan kurikulum yang dikembangkan dari akar rumput atau dari bawah, yang dalam dunia pendidikan tidak lain adalah guru sebagai pelaku atau pelaksana kurikulum di sekolah. Berdasarkan pengertian ini, dapat dipahami bahwa pengembangan kurikulum dimulai dari prakarsa oleh individu guru atau sekelompok guru atau semua guru di suatu sekolah yang bermaksud untuk memecahkan masalah kurikulum yang mereka hadapi di sekolahnya dengan memperbaiki atau mengembangkannya. Pengembangan kurikulum ini dapat dikaitkan dengan satu komponen kurikulum, beberapa bidang studi atau semua komponen kurikulum (Sabda 2. Pengembangan kurikulum model ini menuntut kerja guru antar sekolah dengan baik, di samping juga kerjasama antara guru dengan pihak luar yaitu masyarakat. Kekurangan pengembangan model ini terletak pada mengabaikan sifat teknis dan profesional dari perkurikuluman. Adapun langkah-langkah model GrassRoots sebagai berikut. Guru/Sekolah Gagasan Keseluruhan Ada Masalah Membimbiong Mencari Tugas PAI multikultural Nara Sumber/Atasan Diikuti Mendorong Lokakarya Guru Kepala Sekolah Orang tua siswa Anggota masyarakat Nara sumber Kesimpulan Gambar 2 Pengembangan kurikulum dengan model grass root diadaptasi dari berbagai sumber Dalam model pengembangan akar rumput, guru di sekolah dapat melakukan upaya untuk mengembangkan kurikulum. Pengembangan atau perbaikan ini dapat melindungi komponen kurikulum, satu atau lebih mata pelajaran, atau semua komponen kurikulum. Jika kondisi memungkinkan adanya fasilitas baik dilihat dari guru, keuangan, dan bahan pendukung lainnya, maka pengembangan kurikulum model akar rumput akan lebih baik. Hal ini dikarenakan guru adalah perencana, pelaksana dan pelengkap audit di Gurulah yang lebih memperhatikan kebutuhan kursus. Oleh karena itu dia paling kompeten dalam menyusun kurikulum untuk kelasnya. Pengembangan kurikulum yang bersifat akar rumput mungkin hanya melayani bidang studi tertentu tetapi juga dapat digunakan untuk semua bidang studi di sekolah atau wilayah Pengembangan kurikulum dengan model ini mendukung persaingan dalam meningkatkan mutu pendidikan, melahirkan individu yang lebih mandiri dan kreatif sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Pengembangan Kurikulum K-13 cenderung menambah model akar rumput. Namun pengembangan kurikulum belum dapat berjalan secara efektif karena berbagai kendala sumber daya manusia dan sumber daya sekolah. Bagi mereka yang berada di daerah perkotaan, ini mungkin tampak lebih mudah diakses. Namun bagi mereka yang berada di pedesaan, terutama di pedalaman, hal ini tidaklah mudah. Belum lagi ditambah budaya dan adat istiadat yang berbeda di setiap daerah. Al-Rabwah : Jurnal Ilmu Pendidikan Vol. No. May 2022 Model ini dikembangkan berdasarkan dua hipotesis. Pertama, kurikulum yang diimplementasikan sangat ditentukan oleh sejauh mana keterlibatan guru dalam proses pembangunan dan pengembangan kurikulum. Kedua, para profesional kurikulum dan siswa, orang tua, dan kelompok masyarakat . emangku kepentinga. harus dilibatkan dalam proses perencanaan atau pengembangan kurikulum. Keunggulan guru merupakan kunci efektivitas pengembangan kurikulum yang tercermin dalam empat prinsip dasar model akar rumput. Dengan prinsip-prinsip yang diterapkan, para guru didorong untuk merencanakan kurikulum baru secara Dorongan ini terjadi ketika administrator memberikan "kepemimpinan", waktu luang, materi, dan stimulan yang kondusif untuk perencanaan kurikulum. Di wilayah tertentu, lokakarya diselenggarakan untuk mendorong proses ini : di akhir tahun kerja, mereka cenderung fokus pada pengkajian kurikulum dan pengukuran kebutuhan . eed assesmen. , sedangkan sebelum pembukaan sekolah, mereka mungkin dapat membangun kurikulum baru berhasil. Lokakarya idealnya dihadiri oleh pengurus sekolah, guru, siswa, orang tua, dan beberapa kelompok masyarakat dan konsultan dan nara sumber spesialis. Para peserta memecahkan masalah spesifik sesudai dengan situasi di wilayah mereka dan menyelesaikan masalah secara demokratis dengan menggunakan konsensus. Berdasarkan penelusuran hasil penelitian di SD YPPSB 3 dan SD Muhammadiyah 2 Sangatta mengelompokkan komponen-komponen kurikulum berdasarkan. Kompetensi inti, . kompetensi dasar, . muatan pembelajaran, . mata pelajaran, dan . beban mengajar (Handiyah 2. Temuan penelitian menemukan bahwa proses pembelajaran Islam multikultural didasarkan pada poin-poin penting yang unik dalam proses pembelajaran pendidikan Islam multikultural di SD YPPSB 3 Sangatta, sebagai berikut: . Materi pembelajaran menggunakan kurikulum 2013. Materi ini memberikan kontribusi besar terhadap hidden curriculum berupa tradisi multikulturalisme yang berlangsung dari generasi ke generasi. Guru agama bukan hanya pengajar agama Islam tetapi juga pengajar Kristen. Katolik, dan Hindu. Hubungan antar guru agama selama ini berjalan harmonis, saling menghargai, dan saling mendukung. Hal ini sangat penting dalam proses pembelajaran karena peran guru sangat strategis dan sangat menentukan optimalisasi proses pembelajaran khususnya bagi siswa tingkat sekolah dasar. Siswa juga menggunakan multi agama. Mereka diajari mata pelajaran agama sesuai dengan agamanya masing-masing. Tujuan pendidikan Islam multikultural adalah untuk menumbuhkan keimanan, mewujudkan umat yang religius. Materi pembelajaran meliputi keimanan, ibadah, akhlak, toleransi, dan mengembangkan budaya agama. Media pembelajaran adalah Al-Quran. Guru. Video. Gambar. Peta, dan PHBI. Metode pembelajaran meliputi ceramah, tanya jawab, tugas, hafalan, praktik, portofolio, dan pendekatan personal, serta mengembangkan komunikasi yang saling menghormati. Evaluasi pembelajaran dilakukan melalui ulangan harian. UTS. UAS. LKS, hafalan surat pendek, praktik ibadah. Sementara temuan penelitian di SD Muhammadiyah 2 Sangatta adalah sebagai berikut: . Materi pembelajaran menggunakan kurikulum 2013. Materi ini memberikan kontribusi yang besar terhadap kurikulum tersembunyi . dat istiadat lingkunga. dalam bentuk tradisi multikulturalisme subur yang berjalan turun-temurun. Pendidikan Islam multikultural bertujuan untuk mengembangkan keimanan, menciptakan umat yang taat beragama, berakhlak mulia, dan menjalankan ajaran agama. Materi pembelajaran meliputi keimanan, ibadah, akhlak, toleransi, dan mengembangkan budaya agama. Media pembelajaran adalah alQur'an, guru . , gambar, peta, dan PHBI. Metode pembelajaran meliputi ceramah, tanya jawab, tugas, hafalan, praktik, portofolio, dan pendekatan personal, serta mengembangkan komunikasi yang saling menghormati dan kebersamaan. Evaluasi pembelajaran yang dilakukan oleh UTS. UAS. LKS, menyetor surat pendek, praktek ibadah. KESIMPULAN Secara konsep terdapat empat pendekatan dalam mengembangkan kurikulum pendidikan berdimensi multikutural di antaranya adalah. pendekatan kontribusi . he contributions approac. , . pendekatan aditif . ditive approac. , . pendekatan transformatif . he transformation approac. , dan . pendekatan aksi sosial . he social action approac. Sementara pendekatan kurikulum pendidikan agama Islam multikultural yang ada di SD YPPSB 3 dan SD Muhammadiyah 2 Sangatta menggunakan 2 kombinasi pendekatanm yaitu pendekatan kontribusi . he contributions approac. dan pendekatan aditif . ditive Pendekatan kontribusi digunakan dalam. penjadwalan pelajaran yang multi agama bersama agama lain dengan memasukkan karakter yang seirama dengan agama lain. adanya perayaan-perayaan yang berkaitan dengan memperingati suku dan budaya di antaranya diadakannya peringatan hari Kartini. Adanya pembelajaran mengenal bahasa daerahnya masing-masing. Pendekatan aditif dilakukan dengan memberi tambahan buku, unit, ataupun kegiatan-kegiatan dan ke dalam kurikulum tanpa merubah secara Dalam pelaksanaannya, sekolah memberikan tambahan kegiatan dalam memperingati suku dan budaya di antaranya diadakannya peringatan hari Kartini dan juga materi pembelajaran masing-masing siswa menggunakan pakaian adat dari masing-masing daerahnya. Model pengembangan kurikulum pendidikan Model Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam Multikultural (Sismant. Islam multikultural di dilaksanakan dan diterapkan dalam pendidikan tingkat sekolah dasar adalah pendekatan top-down the administrative model dan the grass root model. Dalam pelaksanaannya di lapangan pengembangan kurikulum PAI multikultural: . materi pembelajaran menggunakan kurikulum 2013. guru agama bukan hanya pengajar agama Islam tetapi juga pengajar Kristen. Katolik, dan Hindu. siswa belajar berdasar agamanya masing-masing. tujuan pendidikan Islam multikultural adalah untuk menumbuhkan . materi pembelajaran meliputi keimanan, ibadah, akhlak, toleransi, dan mengembangkan budaya . media pembelajaran adalah Al Quran. Guru. Video. Gambar. Peta, dan PHBI. metode pembelajaran meliputi ceramah, tanya jawab, tugas, hafalan, praktik, dan portofolio. evaluasi pembelajaran dilakukan melalui ulangan harian. UTS. UAS. LKS, hafalan surat pendek, praktik ibadah. REFERENCES