Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Peran Ice Breaking Wordwall dalam Mengembangkan Kosakata Bahasa Inggris Siswa SD Fadia Nurul Azizah 1. Adin Fauzi 2. Sripit Widiastuti 3 Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Universitas Islam Balitar Balitar fadiana2705@gmail. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan teknik Ice Breaking berbasis Wordwall terhadap penguasaan kosakata Bahasa Inggris siswa kelas IV sekolah dasar. Rendahnya penguasaan kosakata sering berdampak pada kurangnya keberanian dan motivasi siswa dalam berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris, sehingga diperlukan strategi pembelajaran yang lebih interaktif dan menyenangkan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain One Group Pretest-Posttest Design. Subjek penelitian adalah 27 siswa kelas IV yang dipilih melalui teknik total sampling. Instrumen penelitian meliputi tes penguasaan kosakata, angket motivasi, serta lembar observasi keterlaksanaan Data dianalisis menggunakan uji prasyarat . ormalitas dan homogenita. serta uji hipotesis dengan Paired Sample t-Test. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan rata-rata nilai siswa dari 60,37 pada Pretest menjadi 72,22 pada Posttest. Uji Paired Sample t-Test menghasilkan nilai signifikansi 0,003 (<0,. , yang menegaskan terdapat perbedaan signifikan sebelum dan sesudah perlakuan. Selain itu, hasil angket memperlihatkan bahwa mayoritas siswa merasa lebih termotivasi dan lebih mudah memahami kosakata melalui permainan interaktif Wordwall, sehingga suasana kelas menjadi lebih aktif, menyenangkan, dan mendukung keberanian siswa dalam menggunakan bahasa Inggris sederhana. Dengan demikian, penerapan teknik Ice Breaking berbasis Wordwall terbukti efektif tidak hanya dalam meningkatkan penguasaan kosakata Bahasa Inggris, tetapi juga dalam menumbuhkan motivasi dan keterlibatan siswa dalam proses Kata Kunci: Ice Breaking. Wordwall, kosakata, siswa sekolah dasar PENDAHULUAN Pendidikan dasar memiliki peran yang sangat penting sebagai fondasi utama dalam membentuk pengetahuan dan keterampilan awal siswa. Pada tahap ini, kemampuan berbahasa menjadi salah satu aspek utama yang perlu dikembangkan karena berfungsi sebagai alat untuk berkomunikasi, menyerap pengetahuan, serta mengekspresikan pikiran dan perasaan. Kemampuan berbahasa yang baik mendukung keberhasilan siswa dalam proses pembelajaran dan interaksi sosial, baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat (Hartati and Anwar 2. Kemampuan berbahasa siswa sekolah dasar berkembang pesat seiring dengan perubahan lingkungan bahasa, seperti interaksi dengan teman sebaya, pengalaman membaca, dan mendengarkan. Guru berperan penting sebagai fasilitator yang membantu siswa mengasah keterampilan berbicara, menulis, dan mendengarkan melalui berbagai metode pembelajaran, misalnya diskusi, bermain peran, maupun presentasi. Namun, keterbatasan kosakata sering kali menjadi tantangan yang menghambat kelancaran komunikasi siswa (Andini. Hamzah, and Hasanah 2. Oleh karena itu, penguasaan Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 kosakata sejak dini sangat penting untuk mendukung kesiapan siswa menghadapi proses belajar dan kehidupan sehari-hari. Kosakata merupakan salah satu aspek mendasar dalam keberhasilan pembelajaran bahasa Inggris. Tanpa penguasaan kosakata yang cukup, siswa akan kesulitan memahami bacaan, menyusun kalimat, maupun melakukan komunikasi sederhana. Rivers dalam Nunan . menekankan bahwa penguasaan kosakata yang memadai menjadi syarat utama keberhasilan komunikasi dalam bahasa kedua. Dengan kosakata yang kaya, siswa dapat mengekspresikan diri lebih percaya diri dan mampu memahami informasi secara lebih akurat (Nasrullah 2. Namun kenyataannya, siswa sekolah dasar masih sering mengalami kesulitan dalam menguasai kosakata bahasa Inggris. Hal ini dipengaruhi oleh faktor internal seperti rasa malas, cepat bosan, serta keterbatasan daya ingat, dan faktor eksternal seperti kurangnya penggunaan bahasa Inggris dalam aktivitas sehari-hari maupun minimnya metode pembelajaran yang bervariasi. Guru sering kali masih menggunakan metode konvensional seperti ceramah, hafalan, dan latihan tertulis. Metode ini membuat pembelajaran monoton dan kurang menarik, sehingga siswa cenderung pasif dan tidak Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media pembelajaran kreatif, seperti flashcard, permainan bahasa, atau metode Running Dictation, terbukti mampu membantu siswa meningkatkan penguasaan kosakata (Rachmah 2. Pengajaran kosakata perlu mendapat perhatian khusus karena semakin banyak kosakata yang dikuasai siswa, semakin mudah mereka belajar bahasa Inggris dan menyampaikan informasi dengan jelas. Namun, keterbatasan kosakata sering berpengaruh pada kemampuan pengucapan . , sehingga siswa kurang efektif dalam berkomunikasi (Handayani 2. Penguasaan kosakata juga berkaitan erat dengan kepercayaan diri siswa. Semakin banyak kosakata yang dimiliki, semakin percaya diri mereka berbicara dalam bahasa Inggris (Y. Sari et al. Selain itu, kosakata yang memadai membantu pemahaman bacaan dan mendukung kemampuan menulis yang terstruktur (Fadhilawati and Suyitno 2. Hasil observasi di UPT SDN Wlingi 2 menunjukkan bahwa pembelajaran kosakata bahasa Inggris pada materi My School Activity masih didominasi metode ceramah. Guru lebih banyak menjelaskan, sedangkan siswa hanya mendengarkan dan mencatat. Media yang digunakan terbatas pada papan tulis, buku paket, dan lembar kerja sederhana, sehingga suasana kelas monoton. Akibatnya, sebagian siswa tampak aktif, tetapi mayoritas pasif, cepat bosan, dan kurang fokus. Wawancara dengan guru kelas IV mengungkapkan kendala dalam menyesuaikan metode dengan kemampuan siswa yang beragam. Guru berusaha mengatasinya melalui metode berbasis permainan seperti role playing. Number Head. Kahoot, dan penerapan Ice Breaking untuk memulihkan semangat siswa. Hasil angket juga menguatkan temuan tersebut. Sebanyak 61% siswa lebih tertarik belajar bahasa Inggris melalui metode yang menyenangkan seperti permainan, 77% merasa lebih bersemangat saat ada Ice Breaking, dan 68% mengakui lebih mudah memahami kosakata baru dengan cara Guru pun menilai Ice Breaking penting untuk menumbuhkan keberanian siswa dalam mencoba berbicara bahasa Inggris secara sederhana. Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Ice Breaking berperan penting sebagai aktivitas yang mampu mencairkan suasana kelas yang pasif menjadi lebih aktif, menjaga fokus siswa, serta membangkitkan motivasi belajar. Aktivitas ini biasanya dilakukan dengan cara sederhana, singkat, tetapi efektif dalam menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Ice Breaking dapat dikemas dalam bentuk permainan serius tapi santai . , sehingga siswa tidak hanya merasa terhibur, tetapi juga tetap memperoleh pengalaman belajar. Dengan demikian. Ice Breaking tidak sekadar hiburan, melainkan strategi pedagogis yang mendukung tercapainya tujuan pembelajaran (Waruwu and Helsa 2. Lingkungan belajar yang menyenangkan dan interaktif terbukti meningkatkan keaktifan serta hasil belajar siswa (Prijambodo. Punggeti, and Azizah 2. Seiring perkembangan teknologi, media digital interaktif seperti Wordwall dapat diintegrasikan dengan Ice Breaking. Wordwall menyediakan permainan edukatif seperti cocokkan gambar, susun kata, susun kalimat, dan lengkapi kalimat, yang membantu siswa menguasai kosakata dengan cara menyenangkan. Penelitian membuktikan bahwa Wordwall efektif meningkatkan keterampilan menulis dan kosakata siswa karena menghadirkan suasana belajar interaktif yang memotivasi (Khusnah. Rosiyanti, and Bachtiar 2. Wordwall juga meningkatkan antusiasme siswa dan menciptakan suasana belajar positif (Merta and Sueca 2. Hasil penelitian lain menunjukkan penggunaan Wordwall menghasilkan peningkatan skor belajar yang signifikan, termasuk kategori tinggi berdasarkan nilai N-gain (Utami. Mansur, and Qomario 2. Media ini juga dinilai valid dan sangat baik dalam meningkatkan motivasi serta penguasaan kosakata siswa SD (Ningsih and Suprianti 2. Bahkan, penelitian lain menemukan perbedaan signifikan antara kelas yang menggunakan Wordwall dan metode konvensional, di mana siswa lebih aktif, tertarik, dan termotivasi untuk belajar kosakata (Mutiara. Satria, and Martina 2. Urgensi penelitian ini terletak pada perlunya strategi pembelajaran inovatif yang mampu menjawab permasalahan rendahnya penguasaan kosakata siswa sekaligus menjaga motivasi belajar mereka. Sebagian besar penelitian terdahulu hanya menyoroti Ice Breaking atau Wordwall secara terpisah. Penelitian ini menawarkan kebaruan dengan mengintegrasikan keduanya sebagai strategi pembelajaran yang tidak hanya mencairkan suasana kelas, tetapi juga meningkatkan hasil belajar kosakata. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk meneliti Peran Ice Breaking Wordwall dalam Mengembangkan Kosakata Bahasa Inggris Siswa Kelas IV SD. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain pre-eksperimental tipe One Group Pretest-Posttest Design, yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh media Wordwall sebagai Ice Breaking terhadap peningkatan kosakata bahasa Inggris siswa kelas IV SD. Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas IV di SDN tempat penelitian dilaksanakan, sedangkan sampel penelitian berjumlah 27 siswa yang diambil dengan teknik total sampling karena jumlahnya relatif kecil dan memungkinkan untuk diteliti secara Prosedur penelitian dilakukan melalui tiga tahap, yaitu tahap persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Pada tahap persiapan, peneliti menyusun perangkat pembelajaran, instrumen tes, serta menyiapkan media Wordwall. Tahap pelaksanaan dilakukan dengan memberikan Pretest untuk mengetahui kemampuan awal kosakata siswa. Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 kemudian dilanjutkan dengan pembelajaran menggunakan teknik Ice Breaking berbasis Wordwall, dan diakhiri dengan Posttest untuk mengukur hasil setelah perlakuan. Tahap evaluasi mencakup analisis data hasil tes dan observasi keterlaksanaan pembelajaran. Instrumen penelitian meliputi tes penguasaan kosakata berupa soal pilihan ganda dan isian singkat, serta lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran. Konstruk instrumen disusun berdasarkan indikator penguasaan kosakata bahasa Inggris tingkat dasar, yaitu mengenali, memahami, dan menggunakan kosakata sederhana sesuai konteks. Uji validitas instrumen dilakukan melalui validitas isi dengan meminta penilaian ahli . xpert judgmen. , kemudian dilanjutkan dengan uji validitas empiris menggunakan korelasi Product Moment. Sementara itu, reliabilitas instrumen dihitung dengan rumus Cronbach Alpha, sehingga diperoleh tingkat konsistensi yang memadai. Alat pengumpul data dalam penelitian ini berupa tes (Pretest dan Posttes. , observasi, serta dokumentasi. Data hasil tes digunakan untuk mengukur penguasaan kosakata siswa sebelum dan sesudah perlakuan, observasi digunakan untuk mengetahui keterlaksanaan pembelajaran, sedangkan dokumentasi digunakan untuk mendukung data penelitian. Teknik analisis data yang digunakan meliputi uji prasyarat berupa uji normalitas dan homogenitas, serta uji hipotesis dengan Paired Sample t-Test. Analisis ini bertujuan untuk mengetahui signifikansi perbedaan hasil Pretest dan Posttest, sehingga dapat disimpulkan ada atau tidaknya pengaruh penggunaan media Wordwall sebagai Ice Breaking terhadap peningkatan kosakata bahasa Inggris siswa kelas IV SD. HASIL DAN PEMBAHASAN Penerapan teknik Ice Breaking berbasis Wordwall dalam pembelajaran kosakata Bahasa Inggris pada siswa kelas IV menghasilkan sejumlah temuan yang menarik. Proses pembelajaran dengan Wordwall terbukti mampu meningkatkan motivasi sekaligus keterlibatan siswa. Antusiasme mereka terlihat jelas saat mengikuti permainan interaktif seperti mencocokkan gambar, menyusun kata dan kalimat, hingga melengkapi kalimat. Suasana kelas pun menjadi lebih hidup dan menyenangkan, sejalan dengan hasil angket yang menunjukkan bahwa sebagian besar siswa merasa lebih mudah memahami kosakata baru dan semakin bersemangat ketika kegiatan Ice Breaking diterapkan. Dampak positif dari penerapan teknik ini tidak hanya terbatas pada atmosfer pembelajaran, melainkan juga tercermin pada hasil belajar siswa. Nilai rata-rata meningkat dari 60,37 pada saat Pretest menjadi 72,22 pada saat Posttest. Perubahan ini menunjukkan adanya kontribusi nyata dari Wordwall terhadap penguasaan kosakata. Minat belajar yang tinggi tampak berperan penting dalam mendorong pemahaman kosakata baru, sekaligus memberi keberanian bagi siswa untuk mempraktikkan kosakata sederhana dalam kalimat. Dengan demikian, pembelajaran tidak berhenti pada kegiatan menghafal, tetapi berkembang menjadi pengalaman berbahasa yang lebih bermakna. Meski demikian, penelitian juga menemukan adanya kendala berupa keterbatasan waktu dan sarana pendukung seperti perangkat serta koneksi internet yang stabil. Kendala tersebut tidak mengurangi efektivitas penerapan teknik, melainkan menjadi catatan penting bagi sekolah untuk meningkatkan fasilitas pembelajaran ke depannya. Dari sisi analisis, serangkaian uji statistik turut memperkuat temuan. Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Tabel 1. Hasil Uji Normalitas Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk Statistic Sig. Statistic Sig. Pretest Hasil Posttest This is a lower bound of the true significance. Lilliefors Significance Correction Dalam rangka memastikan bahwa data yang diperoleh tidak menyimpang dari pola distribusi yang lazim digunakan dalam analisis statistik, peneliti melakukan uji normalitas dengan pendekatan Shapiro-Wilk. Uji ini dikenal memiliki sensitivitas tinggi terhadap ketidakteraturan distribusi, terutama pada jumlah sampel yang relatif kecil. Pada tahap Pretest, nilai statistik Shapiro-Wilk sebesar 0. 955 dengan tingkat signifikansi 0. menunjukkan bahwa data cenderung mengikuti kontur distribusi normal, tanpa indikasi adanya deviasi yang berarti. Sementara itu, pada tahap Posttest, meskipun nilai statistik sedikit menurun menjadi 0. 939 dan signifikansi berada di angka 0. 113, hasil tersebut masih berada dalam ambang toleransi yang dapat diterima secara statistik. Dengan demikian, baik sebelum maupun sesudah perlakuan, data menunjukkan kecenderungan untuk bersikap selaras dengan asumsi kenormalan, sehingga dapat dijadikan landasan yang sahih untuk melanjutkan analisis menggunakan metode parametrik. Selanjutnya dilakukan uji homogenitas untuk memastikan varians data yang dibandingkan seragam. Tabel 2. Hasil Uji Homogenitas Levene Statistic Sig. Based on Mean Based on Median Hasil Based on Median and with adjusted df Based on trimmed Mean Untuk memastikan bahwa data yang dibandingkan tidak memiliki perbedaan mencolok dalam hal penyebaran, peneliti melakukan uji homogenitas menggunakan pendekatan Levene. Uji ini bertindak layaknya pengukur keseimbangan, menilai apakah varians dari dua kelompok data bergerak dalam irama yang serupa. Hasil yang diperoleh dari berbagai pendekatan baik berdasarkan rata-rata, median, maupun trimmed mean menunjukkan nilai signifikansi yang konsisten berada di atas ambang kritis 0. 05, yaitu berkisar antara 0. 087 hingga 0. Angka-angka ini memberi sinyal bahwa tidak terdapat ketimpangan yang berarti dalam sebaran data antar kelompok. Dengan kata lain, data menunjukkan sifat yang cukup harmonis dalam hal keragaman, sehingga analisis lanjutan dapat dilakukan tanpa kekhawatiran akan gangguan dari ketidakhomogenan varians. Tahap berikutnya adalah melakukan uji hipotesis menggunakan Paired Sample t-Test untuk melihat signifikansi perbedaan rata-rata nilai siswa sebelum dan sesudah perlakuan. Kelas Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Tabel 3. Uji Paired Sample Statistics Pair 1 Pretest Posttest Mean Std. Deviation Std. Error Mean Sebagai langkah lanjutan dalam proses analisis, peneliti menerapkan uji hipotesis menggunakan teknik Paired Sample t-Test untuk menelaah apakah terdapat perbedaan yang berarti antara rata-rata nilai siswa sebelum dan sesudah perlakuan. Berdasarkan hasil statistik deskriptif, nilai rata-rata pada tahap Pretest tercatat sebesar 60. 37 dengan simpangan 296, sedangkan pada tahap Posttest terjadi peningkatan menjadi 72. 22 dengan simpangan baku yang lebih kecil, yaitu 9. Jumlah subjek yang dianalisis tetap konstan sebanyak 27 siswa. Perbedaan ini tidak hanya terlihat dari selisih rata-rata, tetapi juga dari penurunan standar error dari 2. 559 pada Pretest menjadi 1. 893 pada Posttest yang mengindikasikan bahwa hasil pasca-perlakuan lebih konsisten. Secara keseluruhan, data ini memberikan sinyal awal bahwa perlakuan yang diberikan berpotensi memberikan dampak positif terhadap capaian siswa, yang kemudian akan dikonfirmasi melalui uji t secara Tabel 4. Uji Paired Sample Correlations N Correlation Sig. Pair 1 Pretest & Posttest Sebagai kelanjutan dari analisis Paired Sample t-Test, peneliti juga menelaah korelasi antara nilai Pretest dan Posttest untuk melihat sejauh mana hubungan antar dua pengukuran Hasil uji korelasi menunjukkan nilai sebesar -0. 256 dengan signifikansi 0. Korelasi negatif ini mengisyaratkan bahwa terdapat kecenderungan hubungan berlawanan antara skor awal dan skor setelah perlakuan, meskipun kekuatannya tergolong lemah dan tidak signifikan secara statistik. Artinya, peningkatan nilai yang terjadi setelah perlakuan tidak secara langsung berkaitan dengan nilai awal siswa. Dengan kata lain, perlakuan yang diberikan kemungkinan besar berperan sebagai faktor utama dalam perubahan hasil, bukan sekadar kelanjutan dari performa sebelumnya. Temuan ini memperkuat dugaan bahwa intervensi yang dilakukan memiliki dampak tersendiri terhadap capaian peserta. Tabel 5. Uji Paired Sample Test Paired Differences df Sig. -taile. Mean Std. Std. 95% Confidence Interval of the Deviation Error Mean Difference Lower Upper Pretest - -11. Pair 1 Posttest Sebagai kelanjutan dari rangkaian analisis sebelumnya, uji Paired Sample t-Test dilakukan untuk menguji apakah perbedaan rata-rata antara nilai Pretest dan Posttest bersifat signifikan secara statistik. Hasil pengujian menunjukkan bahwa terdapat selisih rata-rata 852, yang berarti terjadi peningkatan nilai setelah perlakuan. Simpangan baku Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 457 dan standar error 3. 552 menunjukkan bahwa meskipun terdapat variasi antar individu, estimasi perbedaan rata-rata cukup stabil. Interval kepercayaan 95% berada di antara -19. 153 hingga -4. 550, yang sepenuhnya berada di bawah nol, menandakan bahwa perbedaan tersebut bukan hasil kebetulan semata. Nilai t sebesar -3. 337 dengan derajat kebebasan 26 dan signifikansi 0. 003 memperkuat kesimpulan bahwa peningkatan nilai setelah perlakuan bersifat nyata dan dapat dipertanggungjawabkan secara statistik. Dengan demikian, hipotesis nol (HCA) ditolak dan hipotesis alternatif (HCA) diterima, artinya teknik Ice Breaking berbasis Wordwall terbukti efektif meningkatkan hasil belajar kosakata Bahasa Inggris siswa kelas IV SD. Temuan ini sejalan dengan Wulansari et al. yang menegaskan bahwa media pembelajaran interaktif seperti Wordwall mampu merangsang keterlibatan siswa, sehingga minat belajar meningkat dan pemahaman menjadi lebih baik. Kesamaan pandangan juga terlihat pada Mutiara et al. yang menunjukkan bahwa Paired Sample t-Test efektif digunakan untuk membuktikan peningkatan signifikan hasil belajar setelah adanya intervensi berbasis media interaktif. Khaerunnisa. Ammade, and Larekang . turut membuktikan bahwa Wordwall sebagai media gamifikasi mendorong kemampuan membaca siswa karena suasana belajar menjadi lebih menyenangkan. Penelitian Febriantia dan Taufiq . bahkan mengonfirmasi adanya perbedaan signifikan penguasaan kosakata setelah strategi gamifikasi berbasis Wordwall diterapkan pada siswa SMP. Konsistensi temuan tersebut menguatkan bahwa Wordwall menghadirkan pengalaman belajar yang aktif, interaktif, dan efektif. Hasil penelitian ini sekaligus menyingkap adanya tantangan berupa keterbatasan waktu serta fasilitas pembelajaran. Fenomena ini sesuai dengan paparan Febriantia and Taufiq . yang menunjukkan bahwa minimnya perangkat teknologi seperti komputer, proyektor, maupun jaringan internet menjadi hambatan serius dalam mengoptimalkan pembelajaran berbasis teknologi. Selain itu, penelitian oleh Damayanti. Setiawati, and Yedithia . menunjukkan bahwa keterbatasan fasilitas pembelajaran seperti kurangnya laboratorium komputer, alat peraga, dan akses internet mempengaruhi prestasi belajar Penggunaan media pembelajaran interaktif yang terbatas membuat siswa kesulitan memahami materi secara optimal, tetapi kendala tersebut menjadi perhatian agar fasilitas pembelajaran dapat diperbaiki demi meningkatkan kualitas belajar. Penelitian Hasani et al. menjelaskan bahwa media pembelajaran interaktif sangat efektif dalam meningkatkan pemahaman materi dan motivasi belajar siswa. Namun, keberhasilan implementasi media tersebut sangat bergantung pada dukungan infrastruktur teknologi yang memadai serta pelatihan guru yang intensif. Tanpa fasilitas yang lengkap seperti perangkat keras, koneksi internet yang stabil, dan perangkat lunak yang relevan, penggunaan media interaktif tidak akan optimal. Oleh sebab itu, kolaborasi antara pemerintah, sekolah, dan pemangku kepentingan sangat penting untuk mendukung pemanfaatan media interaktif agar proses pembelajaran menarik, menyenangkan, dan Studi lain oleh Hadi and Hermawan . menguatkan bahwa penggunaan media pembelajaran interaktif dapat meningkatkan minat dan motivasi belajar siswa, tetapi memerlukan dukungan infrastruktur yang cukup dan pelatihan yang memadai bagi guru Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 agar media dapat digunakan secara efektif. Kolaborasi antar lembaga terkait juga ditekankan sebagai kunci keberhasilan pembelajaran di era digital. Pandangan serupa disampaikan Sari et al. yang menunjukkan bahwa keberadaan sumber daya, seperti guru yang terlatih, dana memadai, dan teknologi informasi yang representatif, sangat mempengaruhi keberhasilan pembelajaran interaktif. Tanpa dukungan sumber daya memadai, inovasi pembelajaran seringkali terhambat, sehingga sekolah perlu mengoptimalkan pengelolaan anggaran dan mencari sumber dana tambahan untuk menyokong media pembelajaran interaktif agar suasana belajar menjadi lebih menarik dan efektif. Keseluruhan temuan mengarah pada simpulan bahwa Wordwall terbukti efektif meningkatkan penguasaan kosakata siswa, namun optimalisasi penerapannya sangat bergantung pada ketersediaan fasilitas, keterampilan guru, serta kebijakan sekolah yang Ketika faktor pendukung tersebut kurang terpenuhi, efektivitas media interaktif berisiko terhambat meskipun hasil uji statistik telah menunjukkan dampak positif yang signifikan. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa penerapan teknik Ice Breaking berbasis Wordwall terbukti efektif dalam meningkatkan penguasaan kosakata Bahasa Inggris siswa kelas IV SD. Peningkatan nilai rata-rata dari Pretest ke Posttest yang signifikan secara statistik menunjukkan bahwa strategi ini mampu menciptakan suasana belajar yang lebih interaktif, menyenangkan, serta mendorong siswa lebih percaya diri dalam menggunakan kosakata sederhana. Implikasi dari temuan ini adalah pentingnya guru mengintegrasikan media interaktif berbasis teknologi ke dalam proses pembelajaran untuk meningkatkan motivasi sekaligus hasil belajar siswa. Dari sisi praktik, guru perlu lebih kreatif dalam memanfaatkan Wordwall sebagai variasi pembelajaran yang berkelanjutan, sedangkan dari sisi kebijakan, sekolah perlu memberikan dukungan berupa fasilitas teknologi dan pelatihan guru agar pemanfaatan media digital dapat optimal. Adapun saran untuk penelitian selanjutnya adalah melakukan kajian dengan jumlah sampel yang lebih besar atau membandingkan antar kelas kontrol dan eksperimen, sehingga diperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai efektivitas Ice Breaking Wordwall dalam konteks pembelajaran bahasa Inggris di sekolah dasar. DAFTAR PUSTAKA