p-ISSN: 2549-3310 e:ISSN: 2623-2901 Hal 127-136 Jurnal Inovasi Pendidikan MH Thamrin Vol 7 . September 2023 Manajemen Pembelajaran Pada Kecerdasan Majemuk Intelligence. Siswa ABK Dalam Lingkup Pendidikan Inklusi (Multiple Chandra Sagul Haratua. Alifa Syauqi Hatami. Muhamad Yusup. Reni Oktavia Kurniasari. Yusuf Novmewi Pendidikan MIPA. Universitas Indraprasta PGRI. Jakarta. Indonesia Correspondence Author: Alifa Syauqi Hatami, alifa. hatami98@gmail. DOI: https://doi. org/10. 37012/jipmht. Abstrak AuManajemen Pembelajaran pada Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligence. Peserta Didik di Pendidikan Iniklusi (Studi Kasus di SMP IT AT-TAUFIQ Depo. Ay ini memiliki tujuan utama untuk mendeskripsikan penggambaran perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, serta unsur pendukung dan penghambat dalam manajemen pembelajaran sekolah inklusi. Metode penelitian yang digunakan yaitu pendekaan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pengelolaan pembelajaran di SMP IT AT-TAUFIQ Depok meliputi beberapa tahapan perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, serta memiliki faktor pendukung dan penghambat proses pengelolaan pembelajaran. Kata Kunci: Manajemen pembelajaran, kecerdasan majemuk, pendidikan inklusi. Abstract AyLearning Management on Multiple Intelligences of Students in Inclusive Education (Case Study at SMP IT AT-TAUFIQ Depo. " has the main objective of describing the depiction of planning, implementation, evaluation, as well as supporting and inhibiting elements in inclusive school learning management. The research method used is a qualitative approach with a case study type of research. Data collection techniques use interview, observation and documentation The research results show that the learning management process at SMP IT ATTAUFIQ Depok includes several stages of planning, implementation, evaluation, and has supporting and inhibiting factors for the learning management process. Keywords: Learning management, multiple intelligences, inclusive education. Jurnal Inovasi Pendidikan MH Thamrin Vol 7 . September 2023 p-ISSN: 2549-3310 e:ISSN: 2623-2901 Hal 127-136 PENDAHULUAN Menurut Bab 1. Pasal 1 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003, sistem pendidikan nasional diartikan sebagai suatu usaha yang bertujuan dan sistematis yang bertujuan untuk mewujudkan lingkungan dan proses pendidikan yang memfasilitasi pengembangan aktif potensi peserta didik dalam hal kerohanian agama, diri. -disiplin, kepribadian, kecerdasan, etika yang baik, dan perolehan keterampilan yang diperlukan untuk pertumbuhan pribadi, integrasi masyarakat, kemajuan nasional, dan kesejahteraan negara (Depdiknas, 2. Berdasarkan perudang-udangan tersebut, terdapat pemahaman bahwa pendidikan merupakan proses menciptakan lingkungan belajar melalui perubahan budaya, pembentukan karakter dan pengembangan keterampilan di masyarakat. Hal tersebut menjadi alasan perlu adanya kecerdasan yang dimaknai dengan sebuah kemampuan untuk menyelesaikan persoalan sehingga kecerdasan merupakan kemampuan kognitif yang dimiliki setiap individu. Perkembangan kecerdasan seseorang tidak mungkin terjadi secara optimal tanpa dibina atau diasah oleh orang lain. Dalam konteks pendidikan inklusi, guru dihadapkan dengan tantangan untuk mengelola pembelajaran bagi siswa dengan beragam karakteristik, termasuk tingkat kecerdasan yang berbeda. Howard Gardner pada tahun 1983 memperkenalkan konsep kecerdasan majemuk (Multiple Intelligence. bahwa kecerdasan tidak hanya terbatas pada aspek kognitif, tetapi meliputi berbagai jenis kecerdasan lain seperti visual-spatial, kinestetik, interpersonal, intrapersonal, musikal, linguistic dan matematis-logis. Konsep kecerdasan ganda mengacu pada kerangka evaluatif yang memberikan analisis deskriptif tentang bagaimana individu menggunakan kemampuan kognitifnya untuk mengatasi tantangan dan menghasilkan hasil (Ardiansyah dan Alamsyah, 2. Selain itu menurut Sumiati dkk, 2021 menyatakan bahwa kecerdasan majemuk (Multiple Intelligence. merupakan teori yang membahas tentang kecerdasan manusia tentang bakat peserta didik dalam menyelesaikan persoalan pembelajaran. Menurut pendapat diatas, kecerdasan majemuk adalah konsep penilaian kecerdasan seseorang dengan memecahkan masalah dan menyelesaikan persoalan pembelajaran. Kecerdasan setiap anak ini bersifat unik dan belum tentu dapat ditemukan sama berkembangnya pada anak-anak lain. Penerapan teori kecerdasan majemuk dalam bidang manajemen pendidikan akan cenderung melakukan pada pendekatan pembelajaran, hal tersebut dapat dilihat dari Jurnal Inovasi Pendidikan MH Thamrin Vol 7 . September 2023 p-ISSN: 2549-3310 e:ISSN: 2623-2901 Hal 127-136 berbagai metode dan materi ajar dengan mengakomodasi berbagai jenis kecerdasan, sehingga setiap siswa memiliki kesempatan untuk belajar secara efektif. Konsep manajemen pembelajaran melibatkan pengelolaan proses pembelajaran yang Oleh karena itu, peningkatan fungsi komponen pengelolaan pembelajaran sangat penting untuk mencapai mutu sekolah yang optimal dan menjamin keberhasilan proses pembelajaran. Syafaruddin dan Irwan menegaskan dalam publikasi ilmiahnya bahwa komponen kunci manajemen pembelajaran yang diperlukan untuk mencapai pembelajaran berkualitas tinggi adalah kepemimpinan, lingkungan sekolah, kurikulum, pengajaran dan administrasi kelas, serta penilaian dan evaluasi. (Syafaruddin. Irwan Nasution. Manajemen Pembelajaran, . Sudut pandang tentang manajemen dan pembelajaran di atas menunjukkan bahwa konsep manajemen pembelajaran berkaitan dengan pengelolaan sistematis interaksi siswa-guru dan sumber belajar dalam lingkungan pendidikan, dengan tujuan mencapai tujuan pembelajaran secara produktif dan efisien. Manajemen pembelajaran dapat dicirikan sebagai upaya kepemimpinan yang mencakup kegiatan strategis perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi proses pembelajaran bagi siswa yang beragam, dengan tujuan memberikan dukungan yang tepat untuk perjalanan pendidikan mereka. Di era sekarang dengan menekankan pendidikan inklusi, pentingnya pengelolaan pembelajaran yang efektif untuk memenuhi kebutuhan pendidikan peserta didik berkebutuhan khusus atau ABK menjadi semakin penting. Pendekatan yang menarik adalah dengan menerapkan teori kecerdasan majemuk, yang mengakui beragamnya potensi intelektual dan bakat siswa. Meskipun banyak penelitian yang berfokus pada keberhasilan penerapan kecerdasan majemuk pada populasi umum, penelitian yang secara khusus berfokus pada konteks siswa berkebutuhan khusus dalam pendidikan inklusi masih memiliki keterbatasan. Berdasrkan hal tersebut, tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana manajemen pembelajaran dengan berfokus pada kecerdasan majemuk dapat mempengaruhi perkembangan akademik dan keterlibatan akademik siswa berkebutuhan khusus. khususnya dalam konteks pendidikan inklusi. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif untuk menyelidiki dan memberikan gambaran komprehensif tentang praktik Jurnal Inovasi Pendidikan MH Thamrin Vol 7 . September 2023 p-ISSN: 2549-3310 e:ISSN: 2623-2901 Hal 127-136 manajemen pembelajaran di sekolah inklusi yang ditandai dengan berbagai tingkat kecerdasan Penelitian ini dilakukan di SMP IT AT-TAUFIQ Depok. Salah satu alasan utama pemilihan metodologi kualitatif adalah kesesuaian yang melekat untuk menyelidiki fenomena yang berorientasi pada proses dan memerlukan observasi komprehensif dalam konteks otentik. Pendekatan ini sangat efektif dalam mengungkap fenomena yang khas dan berorientasi pada Dalam bukunya Strauss dan Corbin . menjelaskan mengenai penelitian kualitatif ini. Strauss dan Corbin . menjelaskan bahwa penelitian kualitatif ditandai dengan tidak adanya proses statistik atau perhitungan kuantitatif lainnya dalam memperoleh temuannya. Oleh karena itu, tujuan utama penelitian jenis ini adalah untuk memberikan gambaran menyeluruh tentang realitas empiris di balik fenomena yang diamati di lapangan. Oleh karena itu, data yang kemudian didapatkan yaitu berupa deskripsi kalimat. Metodologi penelitian yang digunakan dalam penelitian ini bersifat kualitatif, khususnya menggunakan pendekatan studi kasus. Pilihan ini dilatarbelakangi oleh tujuan peneliti untuk menganalisis secara menyeluruh dan mendeskripsikan secara komprehensif suatu kejadian atau fenomena tertentu. Wiyono . Austudi kasus adalah serangkaian kegiatan investigasi yang bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis secara mendalam dan rinci suatu fenomena atau unit sosial tertentu, seperti individu, kelompok, komunitas, atau lembaga. Ay Metodologi penelitian yang digunakan dalam penelitian ini tergolong studi kasus dalam paradigma penelitian kualitatif. Fokus utama peneliti adalah mengungkap informasi terkait pengelolaan pembelajaran di sekolah inklusi yang melayani anak-anak dengan kecerdasan majemuk . ultiple intelligence. Peneliti berperan sebagai pengumpul data dan terlibat aktif dalam proses pengumpulan data di lapangan. Hutomo . alam Bungin, 2001:. menyatakan bahwa Peneliti memainkan peran penting sebagai instrumen utama dalam pengumpulan data dan interpretasi data. Peneliti berperan sebagai pengamat yang dengan cermat mendokumentasikan seluruh kegiatan pengelolaan pembelajaran yang berlangsung di SMP IT AT-TAUFIQ Depok. Penelitian ini dilaksanakan di SMP IT AT-TAUFIQ Depok yang terletak di Jalan Putri Tunggal no 17. Cimanggis. Depok. Penelitian ini menggunakan sumber data manusia dan non-manusia. Orang-orang yang menjadi sumber data dalam penelitian ini, yaitu: Kepala Sekolah SMP IT AT-TAUFIQ Depok Jurnal Inovasi Pendidikan MH Thamrin Vol 7 . September 2023 p-ISSN: 2549-3310 e:ISSN: 2623-2901 Hal 127-136 yaitu Bapak Sanudin. Pd dan beberapa orang guru yaitu Bapak Sigit. Bapak Fatkhul dan Bapak Agung. Selain itu, penelitian ini juga menggunakan sumber data non-manusia yang sebagian besar terdiri dari berbagai makalah dan arsip yang berkaitan dengan subjek penelitian. Sumber-sumber tersebut antara lain profil sekolah. RKH,RKM, prota, surat promes, laporan kemajuan siswa, dan materi visual yang menggambarkan proses pengelolaan pembelajaran Identifikasi metodologi yang tepat sangat memudahkan peneliti dalam melaksanakan upaya penelitiannya. Peneliti harus memiliki pengetahuan tentang strategi pengumpulan data untuk mendapatkan data yang memenuhi standar kualitas data yang ditentukan (Sugiyono, 2008:. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi tiga teknik utama: . observasi, . wawancara, dan . Heru . alam Fajar, 2011: . menegaskan bahwa observasi, dalam bidang penyelidikan ilmiah, mengacu pada bentuk penelitian yang bertujuan dan metodis yang melibatkan observasi dan dokumentasi yang sistematis dan terencana terhadap fenomena atau perilaku yang ditunjukkan oleh individu atau Definisi ini juga mengakui relevansi observasi dalam kehidupan sehari-hari dan kesesuaiannya dengan kebutuhan penelitian ilmiah. Wawancara adalah metode yang digunakan untuk mengumpulkan data untuk upaya penelitian melalui pertukaran pertanyaan dan tanggapan terstruktur, biasanya dilakukan secara langsung, di mana pewawancara berinteraksi dengan orang yang diwawancarai, baik dengan atau tanpa bantuan panduan wawancara. Metodologi wawancara yang digunakan adalah pendekatan semi-terstruktur, dimana peneliti menggunakan panduan wawancara sebagai kerangka kerja, sambil menyesuaikan pertanyaan spesifik berdasarkan tanggapan yang diberikan oleh orang yang diwawancarai. Narasumber yang diwawancarai oleh peneliti yaitu: Kepala Sekolah dan beberapa guru. Dalam penelitian ini, prosedur dokumentasi penelitian digunakan untuk mengumpulkan data dari sumber nonmanusia. Data yang dikumpulkan berupa berbagai makalah mengenai profil sekolah. RKH. RKM, prota, surat promes, laporan kemajuan siswa, serta materi visual yang menggambarkan proses pengelolaan belajar siswa. Miles dan Huberman . alam Wiyono, 2007:. menegaskan proses analisis data terdiri dari tiga langkah berbeda: reduksi data, penyajian data, dan verifikasi atau penarikan Menurut Moleong . AuAnalisis data mengacu pada prosedur sistematis dalam mengatur dan mengkategorikan data ke dalam pola, klasifikasi, dan unit deskripsi Jurnal Inovasi Pendidikan MH Thamrin Vol 7 . September 2023 p-ISSN: 2549-3310 e:ISSN: 2623-2901 Hal 127-136 mendasar yang dapat dilihat. Hal ini memudahkan identifikasi dan pengembangan hipotesis berdasarkan dataAy. Penelitian ini menggunakan tiga strategi berbeda untuk memastikan validitas data, termasuk keterlibatan yang lebih luas, triangulasi metodologi dan sumber, dan ketekunan Proses penelitian meliputi beberapa tahapan yaitu tahap pra lapangan, persiapan, pelaksanaan penelitian, analisis data, dan penulisan laporan. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini memberikan gambaran komprehensif mengenai temuan dan hasil penelitian yang berkaitan dengan pengelolaan pembelajaran dalam konteks kecerdasan majemuk . ultiple intelligence. di kalangan siswa dalam pendidikan inklusi. Deskripsi ini didasarkan pada kombinasi observasi, wawancara mendalam dengan individu yang berpengetahuan, analisis dokumentasi, dan observasi ekstensif. Penelitian ini secara khusus berfokus pada studi kasus yang dilakukan di SMP IT AT-TAUFIQ Depok. Penjelasan komprehensif ini mencakup konteks sejarah, struktur administrasi, pelaksanaan, penilaian, dan elemen yang memfasilitasi atau menghambat implementasi pendidikan inklusi di lingkungan sekolah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa SMP IT AT-TAUFIQ Depok adalah sekolah umum dan mulai melaksanakan pendidikan inklusi secara sadar pada tahun ajaran 2022/2023, ketika Dinas Pendidikan menugaskan sekolah mengikuti pelatihan untuk mempersiapkan Guru Pembimbing Khusus (GPK) untuk SMP IT AT-TAUFIQ Depok dan kebijakan untuk menerima anak-anak berkebutuhan khusus. Saat itu, kepala sekolah SMP IT AT-TAUFIQ Depok adalah Bapak Sanudin. Meskipun demikian, menurut para guru, implementasi pendidikan inklusi di sekolah ini belum optimal. Sekolah masih dianggap sebagai SMP rintisan pendidikan inklusi karena masih ditahap awal sosialisasi mengenai pendidikan inklusi dan kurangnya sarana dan prasarana yang dibutuhkan. Salah satu kekurangan utama adalah hanya baru ada satu guru pendamping khusus yang sudah bersertifikat sebagai guru GPK. Guru yang memiliki kesadaran khusus terhadap kebutuhan siswa berkebutuhan khusus dipandang mampu memberikan dukungan yang lebih besar kepada sesama pendidik. Selain itu, tantangan tambahan dalam penerapan pendidikan inklusi di lembaga ini adalah tidak adanya sumber daya khusus untuk memenuhi kebutuhan siswa yang memerlukan perhatian khusus. Anak-anak dengan kebutuhan khusus di SMP IT AT-TAUFIQ Depok diperlakukan secara berbeda dibandingkan dengan anak-anak normal lainnya, terutama dalam hal daya pikir dan Jurnal Inovasi Pendidikan MH Thamrin Vol 7 . September 2023 p-ISSN: 2549-3310 e:ISSN: 2623-2901 Hal 127-136 Ini tercermin dalam perbedaan jumlah soal ujian dan penetapan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang berbeda untuk mereka. Selain itu, siswa yang tergabung dalam komunitas inklusi di lembaga pendidikan ini juga diberikan kesempatan untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, seperti keikutsertaan dalam pramuka. Langkah tersebut dilaksanakan dengan tujuan untuk meningkatkan prestasi akademik dan membina kemampuan individu berkebutuhan luar biasa. Pelaksanaan pendidikan inklusi di SMP IT AT-TAUFIQ Depok dipimpin oleh kepala sekolah. Bapak Sanudin. Pd. , yang didukung oleh Ibu Yuliana Priatina. Pd. sebagai Guru Pembimbing Khusus / GPK. Guru-guru juga terlibat langsung dalam proses ini, dimana mereka secara aktif menangani anak-anak berkebutuhan khusus. Keberhasilan layanan ini dapat diatribusikan kepada keterlibatan guru-guru yang kompeten di SMP IT AT-TAUFIQ Depok. Mayoritas individu telah berpartisipasi dalam program pengembangan dan pelatihan profesional khusus yang berfokus pada penerapan pendidikan inklusi yang efektif. Inisiatif-inisiatif ini telah membekali mereka dengan keahlian yang diperlukan untuk secara efektif mendukung dan memenuhi kebutuhan siswa inklusi. Di SMP IT AT-TAUFIQ Depok, terdapat sebanyak 3 siswa berkebutuhan khusus yang tersebar di 12 rombongan belajar. Setiap kelas memiliki sekitar maksimal 1 siswa inklusi. Mayoritas anak-anak berkebutuhan khusus di sekolah ini cenderung termasuk dalam kategori ADHD. Kecemasan tinggi, dan Emosional. Penanganan anak-anak ADHD meliputi berbagai strategi, antara lain pemberian bantuan belajar, pengulangan materi pendidikan yang belum dipahami, serta penerapan teknik penguatan dan pelatihan melalui penggunaan soal. Sementara itu, untuk anak-anak yang masuk dalam kategori kecemasan tinggi dan emosional, mereka mendapatkan perhatian khusus. Pendekatan ini mencakup memberikan penghargaan saat mereka mampu mengikuti pembelajaran dengan baik dan memberikan bantuan supaya dapat berinteraksi dengan teman sebaya mereka. Meskipun telah dilakukan upaya-upaya sebelumnya, pelaksanaan pendidikan inklusi di SMP IT AT-TAUFIQ Depok masih belum optimal dan memerlukan perbaikan lebih lanjut. Dimasukkannya personel pendukung yang berdedikasi sangat penting dalam memastikan bantuan komprehensif bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Para pendidik telah melakukan upaya untuk memanfaatkan sumber daya yang tersedia, seperti LCD, pemutaran film, dan Jurnal Inovasi Pendidikan MH Thamrin Vol 7 . September 2023 p-ISSN: 2549-3310 e:ISSN: 2623-2901 Hal 127-136 fasilitas lainnya, untuk mempromosikan pembelajaran inklusi dan meningkatkan pengalaman pendidikan dengan mendorong keterlibatan dan kesenangan. Tujuannya adalah untuk menumbuhkan rasa keterlibatan dan mencegah ketidaktertarikan di antara siswa dengan beragam latar belakang dan kemampuan selama sesi pengajaran. Selain hal tersebut, guru-guru juga memberikan penanganan yang berkelanjutan kepada siswa inklusi, baik selama maupun di luar jam pembelajaran. Pendekatan ini mencakup pemberian dukungan, nasihat, dan bimbingan yang ditargetkan kepada anak-anak berkebutuhan khusus yang menghadapi tantangan dalam proses belajar mereka. Hal ini membantu mereka dalam interaksi dengan lingkungan sekitar dan teman sebaya, memperkuat materi melalui pengulangan, dan memberikan penjelasan kepada teman sekelas. Tujuannya adalah untuk menumbuhkan lingkungan sekolah yang ramah dan inklusi di mana siswa berkebutuhan khusus dapat diterima dengan mudah. Pihak sekolah dan guru kelas secara rutin melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan pendidikan inklusi di SMP IT AT-TAUFIQ Depok. Evaluasi ini berpusat pada sikap-sikap yang ditunjukkan anak berkebutuhan khusus, meliputi jawaban-jawabannya, pemberian dorongan, dan penanaman nilai-nilai yang ditanamkan pada dirinya. Evaluasi proses pembelajaran dilakukan dengan perhatian yang cermat, dengan tujuan untuk menciptakan lingkungan pendidikan inklusi yang lebih baik dan efisien. Guru memiliki peran penting dalam membentuk kualitas pendidikan karena mereka terlibat langsung dengan siswa di ruang kelas selama proses pembelajaran. Guru mempunyai peran yang sangat penting dalam membentuk kualitas dan kepribadian peserta didik. Oleh karena itu, pendidik harus memiliki kompetensi, tanggung jawab, keahlian, dan dedikasi yang tinggi. Guru bertanggung jawab melaksanakan kurikulum. Terlepas dari kualitas kurikulum dan sistem pendidikan saat ini, tidak adanya guru yang kompeten membuat segala upaya menjadi siasiaPendidik mempunyai kompetensi dan tanggung jawab yang tinggi, terutama dalam perannya mengawasi dan memfasilitasi tumbuh kembang siswa secara optimal. Tujuan utama dari proses pendampingan guru yang komprehensif adalah pengembangan individu yang terbentuk sepenuhnya di masa dewasa. Sehubungan dengan kemajuan pesat dalam teknologi informasi, pendidik kini mengambil peran lebih dari sekadar penyaji informasi. Selain peran instruksionalnya, guru harus memiliki kemampuan untuk mengambil peran sebagai fasilitator, p-ISSN: 2549-3310 e:ISSN: 2623-2901 Hal 127-136 Jurnal Inovasi Pendidikan MH Thamrin Vol 7 . September 2023 motivator, dan mentor, sehingga menciptakan lingkungan yang mendorong siswa untuk mencari dan mencerna informasi secara mandiri (Uno, 2009:16-. Keberhasilan implementasi pendidikan inklusi bergantung pada berbagai variabel pendukung yang berasal dari sumber internal dan eksternal lembaga pendidikan. Kolaborasi efektif antara instruktur dan orang tua/wali anak dalam lingkungan pendidikan inklusi mencakup elemen eksternal. Pembentukan kerja sama tim yang efektif sangat penting dalam memfasilitasi Biasanya, menyampaikan undangan kepada orang tua untuk mengumpulkan informasi terkait kemajuan dan pencapaian siswa dengan beragam kebutuhan, serta memberikan bimbingan kepada orang tua atau wali. Sebaliknya, unsur pendukung internal meliputi pemanfaatan sumber daya dan sarana prasarana yang ada untuk memfasilitasi keberagaman kecerdasan siswa dengan gaya belajar yang berbeda-beda. Seperti alat musik, permainan-permainan, dan penggunaan LCD dalam proses pembelajaran. Meski demikian, penerapan pendidikan inklusi bukannya tanpa hambatan. Hambatan tersebut antara lain sikap apatis orang tua terhadap tumbuh kembang anaknya, kendala finansial yang dialami orang tua, serta berbagai permasalahan kognitif, afektif, dan psikomotorik yang dihadapi siswa di lingkungan inklusi. Untuk mengatasi masalah ini, lembaga pendidikan, pendidik, dan orang tua telah menerapkan berbagai strategi. Hal ini termasuk menawarkan bimbingan melalui dialog terbuka, melibatkan para profesional seperti psikolog bila diperlukan, menawarkan dukungan dan motivasi kepada anak-anak, membina lingkungan yang sabar dan suportif, dan mendorong kolaborasi antar pemangku kepentingan untuk memastikan perkembangan holistik anak-anak berkebutuhan khusus, baik di dalam lingkungan masyarakat maupun di lingkungan sekolah dan di rumah. KESIMPULAN DAN SARAN Berdsarkan hasil penelitian mengenai manajemen pembelajaran pada kecerdasan majemuk . ultiple intelligence. Peserta Didik di pendidikan iniklusi di SMP IT AT-TAUFIQ Depok, dapat disimpulkan bahwa sekolah ini telah melaksanakan fungsi manajemen seperti perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, pengkoordinasian, pengarahan, dan pengawasan. Berdasarkan temuan ini, disarankan agar program pendidikan inklusi menjadi bagian integral dari kurikulum sekolah untuk mencegah terjadinya praktik diskriminatif terhadap siswa. Dengan Jurnal Inovasi Pendidikan MH Thamrin Vol 7 . September 2023 p-ISSN: 2549-3310 e:ISSN: 2623-2901 Hal 127-136 demikian, setiap siswa diberikan akses yang adil dalam pendidikan. Penerapan pendidikan inklusi telah diakui potensinya untuk meningkatkan nilai-nilai karakter siswa, khususnya di bidang-bidang seperti toleransi. Pada pelaksanaan program pendidikan inklusi, guru pendamping khusus berperan penting dalam mendukung kelancaran proses pembelajaran inklusi. Oleh karena itu, keberadaan guru pendamping khusus sangat diperlukan dalam mendukung keberhasilan pendidikan inklusi di sekolah tersebut. REFERENSI