CENDEKIA Jurnal Penelitian Mahasiswa Volume 01 Issue 01 . Pages 1-6 P-ISSN x-x. E-ISSN x-x https://ejournal. id/index. php/cendekia Sosial dan Pendidikan Pengaruh Kegiatan Pengajian Rutin Terhadap Pengetahuan Agama Pada Jamaah Masjid JamiAo Belan Ahmad Farros Mafakhir. Institut Islam Mambaul Ulum Surakarta Ridwan Abdul Azis. Institut Islam Mambaul Ulum Surakarta Muhammad Abdullah Azzam. Institut Islam Mambaul Ulum Surakarta ahmadfarros171105@gmail. Received: 20-05-2025 Revised: 21-05-2025 Accepted: 23-05-2025 Published: 24-05-2024 DOI: https://doi. org/10. 61159/cendekia. Abstract : This study aims to determine the effect of routine religious study activities on increasing religious knowledge among the Jami' Belan Mosque The study used a quantitative approach with a survey method. The sample consisted of 30 congregants who attended routine religious studies for at least three months. The instruments used were tests for pre-test and post-test. The results of the data analysis showed that there was a significant increase in the congregation's religious knowledge after attending routine religious studies, especially in the aspects of understanding the fiqh of worship, basic beliefs, and social etiquette. These findings indicate that routine religious study activities have a positive contribution in building religious literacy in the community. Keywords: Routine Religious Studies. Religious Knowledge. Congregation. Mosque. Non-Formal Learning. Abstrak : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kegiatan pengajian rutin terhadap peningkatan pengetahuan agama pada jamaah Masjid JamiAo Belan. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei. Sampel berjumlah 30 orang jamaah yang mengikuti pengajian rutin selama minimal tiga bulan. Instrumen yang digunakan adalah test untuk pre-test dan post-test. Hasil analisis data menunjukkan bahwa terdapat peningkatan signifikan dalam pengetahuan agama jamaah setelah mengikuti pengajian rutin, terutama dalam aspek pemahaman fiqh ibadah, akidah dasar, dan adab pergaulan. Temuan ini menunjukkan bahwa kegiatan pengajian rutin memiliki kontribusi positif dalam membangun literasi keagamaan Kata Kunci: Pengajian Rutin. Pengetahuan Agama. Jamaah. Masjid. Pembelajaran Nonformal. Introduction Pengetahuan agama memiliki peran sentral dalam membentuk kepribadian dan moral umat Islam. Dalam kehidupan sehari-hari, pemahaman terhadap ajaran Islam tidak hanya penting sebagai bentuk ketaatan spiritual, tetapi juga sebagai landasan dalam membangun hubungan sosial yang harmonis dan Nilai-nilai Islam yang kaffah atau menyeluruh mencakup aspek akidah, ibadah, dan muamalah yang harus dipahami dan diamalkan secara utuh oleh setiap individu Muslim. Oleh karena itu, upaya untuk meningkatkan literasi keagamaan masyarakat menjadi sebuah keniscayaan, terlebih di era modern yang penuh tantangan dan pengaruh nilai-nilai global yang tidak selalu selaras dengan prinsip-prinsip Islam (Nasution, 2. Masjid sebagai institusi keagamaan memiliki fungsi strategis dalam mendidik masyarakat secara Tidak hanya sebagai tempat ibadah, masjid juga merupakan ruang pembinaan spiritual, sosial, dan intelektual umat (Ahmad & Haris, 2. Salah satu bentuk nyata dari peran tersebut adalah penyelenggaraan kegiatan pengajian rutin. Di berbagai daerah, pengajian menjadi sarana efektif untuk Cendekia: Jurnal Penelitian Mahasiswa Sosial dan Pendidikan 1 menyampaikan pengetahuan keislaman kepada masyarakat awam yang mungkin tidak memiliki akses terhadap pendidikan formal agama. Namun, efektivitas pengajian dalam meningkatkan pemahaman keagamaan sering kali tidak diukur secara ilmiah. Hal ini menciptakan kebutuhan untuk mengkaji dampak pengajian secara sistematis melalui pendekatan akademik. Penelitian ini dilaksanakan di Masjid JamiAo Belan, sebuah masjid yang terletak di lingkungan masyarakat semi-perkotaan dengan latar belakang sosial ekonomi yang beragam. Sebagian besar jamaah adalah pekerja informal, ibu rumah tangga, dan lansia yang aktif mengikuti kegiatan keagamaan di Kegiatan pengajian rutin di masjid ini telah berjalan selama lebih dari dua tahun dengan jadwal mingguan, menghadirkan ustaz tetap dan materi yang bervariasi, mulai dari fiqh ibadah, akhlak, hingga kajian tafsir tematik. Namun, belum pernah dilakukan evaluasi terstruktur untuk menilai dampak pengajian tersebut terhadap peningkatan pengetahuan agama jamaah (Sari & Prasetyo, 2. Urgensi penelitian ini bertumpu pada pentingnya masjid sebagai ruang edukasi alternatif bagi masyarakat yang tidak terjangkau pendidikan agama formal. Dalam hal ini, pengajian rutin menjadi media pembelajaran nonformal yang memiliki potensi besar untuk membentuk karakter dan literasi keagamaan jamaah. Dengan melakukan penelitian, penulis berharap dapat memberikan gambaran empiris sejauh mana pengajian rutin mampu meningkatkan pemahaman agama jamaah serta memberikan masukan yang konstruktif bagi pengelolaan kegiatan serupa di masjid-masjid lain (Arifin. Dari sisi teori, penelitian ini berpijak pada pendekatan andragogi, yaitu teori pembelajaran orang dewasa yang dikemukakan oleh Malcolm Knowles. Dalam teori ini dijelaskan bahwa orang dewasa belajar secara efektif ketika materi relevan dengan kehidupan mereka, bersifat praktis, dan disampaikan melalui interaksi partisipatif (Knowles. Holton, & Swanson, 2. Kegiatan pengajian rutin memenuhi karakteristik tersebut, sehingga sangat potensial sebagai medium pembelajaran agama yang efektif. Selain itu, teori transformasi pengetahuan dari Jack Mezirow juga relevan untuk memahami bagaimana pengalaman belajar dalam pengajian dapat mengubah cara pandang dan praktik keberagamaan jamaah (Mezirow, 2. Minimnya studi empiris yang secara khusus meneliti pengaruh pengajian rutin terhadap peningkatan pengetahuan agama pada level jamaah masjid. Sebagian besar kajian sebelumnya lebih banyak membahas pengajian dari aspek sosial budaya atau sebagai bagian dari dakwah umum (Rahman. Padahal, pengukuran terhadap peningkatan pemahaman keagamaan secara kuantitatif sangat penting untuk mengetahui keberhasilan program pengajian sebagai instrumen pendidikan nonformal. Oleh karena itu, penelitian ini menawarkan kontribusi baru dalam literatur akademik dengan menitikberatkan pada aspek perubahan kognitif peserta pengajian. Implikasi dari penelitian ini mencakup dua ranah utama, yaitu praktis dan teoritis. Secara praktis, hasil penelitian dapat digunakan oleh pengelola masjid, takmir, dan penyelenggara pengajian untuk mengevaluasi dan merancang materi serta metode pengajian yang lebih efektif dan sesuai kebutuhan Sementara itu, secara teoritis, penelitian ini menambah khazanah ilmiah dalam bidang pendidikan Islam nonformal serta dapat menjadi pijakan awal bagi penelitian lanjutan yang lebih luas dan mendalam (Miftahuddin & Hasanah, 2. Masjid JamiAo Belan, sebagai lokasi penelitian, menjadi representasi dari dinamika pembelajaran agama di tingkat komunitas lokal. Keberadaan pengajian mingguan yang konsisten di masjid ini menunjukkan adanya semangat belajar yang tinggi dari masyarakat. Namun demikian, ketidakterukuran hasil pembelajaran membuat pengelola kesulitan untuk mengetahui sejauh mana program tersebut Oleh karena itu, penelitian ini menjadi sangat penting sebagai instrumen evaluasi dan pengambilan kebijakan berbasis data di tingkat lokal (Syahputra, 2. Dalam kerangka pendidikan Islam, kegiatan pengajian rutin mencerminkan semangat ta'lim wa ta'allum yang telah diwariskan sejak masa Rasulullah SAW. Tradisi halaqah, diskusi kitab, dan ceramah umum menjadi bagian integral dari upaya penyebaran ilmu keislaman di tengah umat (Sukri, 2. 2 Cendekia: Jurnal Penelitian Mahasiswa Sosial dan Pendidikan Melalui penelitian ini, semangat tersebut diterjemahkan ke dalam bentuk kajian ilmiah yang tidak hanya mengapresiasi tradisi, tetapi juga mengembangkannya secara kontekstual agar tetap relevan di masa kini. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan tidak hanya untuk melihat hubungan antara kegiatan pengajian dan peningkatan pengetahuan agama, tetapi juga sebagai upaya membangun basis data empiris yang dapat memperkuat peran masjid sebagai lembaga pendidikan masyarakat. Penguatan literasi keagamaan berbasis komunitas seperti ini sangat penting untuk mencegah kesenjangan pemahaman agama yang dapat mengarah pada praktik keberagamaan yang sempit atau bahkan Penelitian ini menjadi bagian dari ikhtiar membangun masyarakat beragama yang inklusif, moderat, dan berpengetahuan (Nasution, 2014. Mezirow, 2. Methods Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain pre-eksperimen, khususnya model one group pre-test and post-test design, yang memungkinkan peneliti untuk mengamati perubahan pengetahuan responden sebelum dan sesudah perlakuan diberikan, yaitu partisipasi dalam pengajian Desain ini sesuai untuk mengukur dampak langsung dari suatu intervensi pada kelompok yang sama dalam rentang waktu tertentu (Creswell, 2. Penelitian ini melibatkan 30 orang jamaah Masjid JamiAo Belan yang secara aktif mengikuti pengajian rutin mingguan selama tiga bulan terakhir sebagai subjek penelitian. Untuk mengumpulkan data, digunakan instrumen berupa tes pilihan ganda sebanyak 20 butir soal yang dirancang untuk mengukur tiga aspek utama pengetahuan agama, yakni: fiqh ibadah . eliputi praktik shalat, zakat, dan puas. , akidah dasar . erutama pemahaman terhadap rukun ima. , serta etika pergaulan Islami. Penyusunan instrumen ini mengacu pada prinsip validitas isi dan konstruksi yang sesuai dengan standar evaluasi pembelajaran agama Islam (Nitko & Brookhart, 2. Instrumen diberikan dua kali, yaitu sebelum dan sesudah peserta mengikuti serangkaian pengajian, guna melihat perubahan skor pengetahuan. Selain data kuantitatif, penelitian ini juga mengumpulkan informasi kualitatif pendukung melalui wawancara singkat yang dilakukan kepada lima orang jamaah terpilih. Wawancara ini bertujuan untuk menggali lebih dalam persepsi dan pengalaman mereka selama mengikuti pengajian rutin, termasuk motivasi, kendala, serta bentuk perubahan yang mereka rasakan dalam pemahaman keagamaan. Pendekatan campuran seperti ini memungkinkan triangulasi data yang dapat memperkuat validitas hasil penelitian (Cohen. Manion, & Morrison, 2. Dalam menganalisis data, peneliti menggunakan paired sample t-test untuk membandingkan nilai pre-test dan post-test guna mengetahui signifikansi peningkatan pengetahuan agama jamaah. Teknik ini sesuai untuk mengukur efek dari perlakuan terhadap satu kelompok yang diuji dua kali dalam kondisi berbeda (Field, 2. Hasil analisis ini diharapkan dapat memberikan gambaran empiris mengenai pengaruh kegiatan pengajian terhadap peningkatan literasi keagamaan, serta menjadi dasar bagi pengembangan kegiatan serupa di lingkungan masjid lainnya. Result and Discussion Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam pengetahuan agama jamaah Masjid JamiAo Belan setelah mengikuti kegiatan pengajian rutin selama tiga bulan. Hal ini dibuktikan melalui analisis data pre-test dan post-test yang diberikan kepada 30 responden. Sebelum pengajian, rata-rata skor pengetahuan agama peserta berada pada angka 62,4, sedangkan setelah mengikuti pengajian, nilai rata-rata meningkat menjadi 78,6. Peningkatan ini mencerminkan adanya efek positif dari kegiatan pembelajaran nonformal berbasis komunitas terhadap aspek kognitif peserta. Untuk melihat signifikansi statistik dari peningkatan tersebut, dilakukan uji paired sample t-test menggunakan perangkat lunak SPSS. Hasil uji menunjukkan nilai p sebesar 0,000, yang berada jauh di bawah batas signifikansi 0,05. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang Cendekia: Jurnal Penelitian Mahasiswa Sosial dan Pendidikan 3 signifikan antara nilai pengetahuan sebelum dan sesudah mengikuti pengajian rutin. Hasil ini memperkuat temuan bahwa pengajian memiliki kontribusi terhadap peningkatan pemahaman Temuan ini sejalan dengan pendapat Field . , yang menyatakan bahwa paired sample ttest sangat efektif digunakan untuk menguji efek intervensi terhadap kelompok yang sama dalam dua waktu yang berbeda. Berikut disajikan data hasil uji pre-test dan post-test secara ringkas dalam Tabel 1: Tabel 1. Rata-rata Skor Pre-Test dan Post-Test Pengetahuan Agama Jamaah Tahap Uji Rata-rata Skor Standar Deviasi Pre-Test Post-Test Peningkatan skor rata-rata sebesar 16,2 poin ini mengindikasikan bahwa proses pembelajaran yang terjadi dalam pengajian cukup efektif. Hal ini juga menunjukkan bahwa media pembelajaran berbasis komunitas seperti pengajian rutin mampu memberikan pemahaman agama yang lebih dalam, khususnya bagi jamaah yang sebelumnya memiliki pengetahuan terbatas. Dalam pembelajaran orang dewasa, peningkatan ini dapat dijelaskan dengan teori andragogi dari Knowles . , yang menyatakan bahwa pembelajaran akan lebih efektif ketika disesuaikan dengan kebutuhan aktual dan kehidupan Lebih rinci, peningkatan pengetahuan ini terjadi secara merata pada ketiga aspek yang diukur dalam instrumen penelitian, yaitu fiqh ibadah, akidah dasar, dan etika pergaulan Islami. Dari hasil analisis butir soal, diketahui bahwa fiqh ibadah mengalami peningkatan skor tertinggi. Sebelum pengajian, banyak peserta belum memahami secara tepat tata cara pelaksanaan shalat, niat puasa, serta ketentuan zakat. Setelah mengikuti pengajian, tingkat pemahaman meningkat secara signifikan, terlihat dari persentase jawaban benar yang mencapai lebih dari 85% pada soal-soal terkait fiqh. Peningkatan juga terlihat pada aspek akidah dasar, terutama dalam pemahaman tentang rukun Peserta mampu menjelaskan kembali makna iman kepada Allah, malaikat, kitab, rasul, hari kiamat, dan takdir secara lebih tepat. Hal ini menunjukkan bahwa penyampaian materi dalam pengajian berhasil memperkuat fondasi keimanan jamaah, yang sebelumnya mungkin hanya dipahami secara Menurut teori belajar konstruktivistik (Bransford et al. , 2. , pemahaman yang bermakna terbentuk ketika peserta mengaitkan informasi baru dengan pengalaman dan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya, sebagaimana terjadi dalam pengajian yang interaktif dan kontekstual. Aspek terakhir yang mengalami peningkatan adalah etika pergaulan Islami. Dalam pre-test, pemahaman peserta terhadap etika sosial Islam seperti adab bertetangga, cara menyapa, dan sopan santun dalam interaksi masih cukup rendah. Namun setelah mengikuti pengajian, persentase jawaban benar meningkat, yang menandakan bahwa peserta tidak hanya memahami aspek ritual Islam, tetapi juga nilai-nilai sosialnya. Hal ini penting karena Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga mengatur hubungan sosial secara harmonis dan beradab. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini mengonfirmasi bahwa kegiatan pengajian rutin dapat menjadi media pembelajaran agama yang efektif bagi masyarakat. Temuan ini sejalan dengan studi dalam pendidikan Islam nonformal yang menyebutkan bahwa keberhasilan pembelajaran sangat ditentukan oleh keberlanjutan kegiatan, relevansi materi, serta kedekatan emosional antara pengajar dan peserta (Hasanah & Fitriyah, 2. Oleh karena itu, penguatan program pengajian berbasis masjid sangat penting dilakukan, terutama dengan penyusunan kurikulum sederhana, evaluasi berkala, dan metode penyampaian yang komunikatif. 4 Cendekia: Jurnal Penelitian Mahasiswa Sosial dan Pendidikan Dari hasil analisis ini, dapat disimpulkan bahwa pengajian rutin di Masjid JamiAo Belan memberikan dampak positif terhadap peningkatan pengetahuan agama jamaah. Peningkatan ini tidak hanya terukur secara kuantitatif, tetapi juga menunjukkan relevansi program dakwah berbasis komunitas dalam menjawab kebutuhan spiritual masyarakat. Implikasi dari penelitian ini sangat besar, terutama bagi pengelola masjid dan lembaga keagamaan lainnya, dalam menyusun strategi pembelajaran agama yang lebih efektif, terukur, dan berorientasi pada hasil. Conclusion Berdasarkan hasil analisis data kuantitatif, dapat disimpulkan bahwa kegiatan pengajian rutin di Masjid JamiAo Belan memberikan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan pengetahuan agama Hal ini ditunjukkan oleh peningkatan skor rata-rata dari pre-test sebesar 62,4 menjadi 78,6 pada post-test, dengan hasil uji paired sample t-test menunjukkan nilai signifikansi p = 0,000 (< 0,. Artinya, terdapat perbedaan yang signifikan antara sebelum dan sesudah mengikuti pengajian. Peningkatan paling menonjol terjadi pada aspek fiqh ibadah, diikuti oleh pemahaman akidah dasar dan etika pergaulan Islami. Temuan ini menegaskan bahwa pengajian rutin merupakan bentuk pembelajaran nonformal yang efektif dalam meningkatkan literasi keislaman masyarakat secara terukur dan berdampak nyata. References