Mei 2023 ISSN: 2620-7745 . edia onlin. Volume 7. Nomor 1 doi: 10. 31284/j. jpp-iptek. Pelatihan Social Coding Guna Meningkatkan Pengembangan Perangkat Lunak bagi Siswa SMK di Kota Bandung Indira Syawanodya Dian Anggraini Asyifa Imanda Septiana Universitas Pendidikan Indonesia Universitas Pendidikan Indonesia Universitas Pendidikan Indonesia Abstract Social coding is a collaboration activity while developing software. By implementing social coding, collaboration becomes more effective because it is spared from the duplication task. Moreover, social coding has log activity to track changes in the code, and it can be used as a report. One of the vocational schools in Bandung. SMKN 13 Bandung has a major called Software Engineering where the students in 11th grade must build software that worked in groups. However, neither the teacher nor the students have the ability in implementing social coding. Furthermore, teachers have difficulty to assess the individual work of the groups. Based on the problem, the solution given to the school is training social coding using Git to support students in finishing their work. The result of this training is students have knowledge of how to social code using Git. Keywords: Git. Social coding. Software engineering. Vocational school Abstrak Social coding merupakan kegiatan yang dilakukan dalam berkolaborasi pada saat melakukan pengembangan suatu perangkat lunak. Dengan mengimplementasikan social coding, kolaborasi menjadi lebih efektif karena terhindar dari pengerjaan task yang bersamaan. Selain itu, dalam social coding, terdapat log aktivitas yang dapat dimanfaatkan dalam pelaporan. Salah satu SMK di Bandung, yakni SMK Negeri 13 Bandung pada program keahlian Rekayasa Perangkat Lunak memberikan tugas kepada siswa yang menduduki kelas XI untuk membangun sebuah perangkat lunak yang dikerjakan secara berkelompok. Namun, baik siswa dan guru belum memiliki kompetensi dalam menerapkan social coding. Selain itu, guru juga kesulitan memeriksa pekerjaan individu siswa ketika membangun perangkat lunak. Berdasarkan permasalahan tersebut, solusi yang diberikan kepada SMK Negeri 13 Bandung adalah adanya program pelatihan social coding menggunakan Git untuk menunjang siswa dalam melaksanakan kolaborasi coding untuk menyelesaikan tugas besar. Hasil yang diperoleh dari kegiatan pelatihan adalah siswa mampu melaksanakan kolaborasi coding dengan mengimplementasikan Git dalam membangun perangkat lunak. Kata kunci: Git. Rekayasa perangkat lunak. Sekolah kejuruan. Social coding Pendahuluan Dampak yang ditimbulkan dari pandemi karena virus SARS-CoV-2 atau yang dikenal dengan COVID-19 mengakibatkan seluruh kegiatan dikerjakan dari rumah . ork from hom. Walaupun bekerja dari rumah, ada beberapa jenis pekerjaan yang tetap bisa berkontribusi, baik secara daring maupun luring karena pekerjaannya berkaitan dengan menulis kode, memeriksa eror, menguji sistem, dan lain sebagainya . seperti pekerjaan sebagai programmer, software developer, data analyst, dan lain sebagainya. Bahkan, di beberapa negara, bekerja secara daring atau remote working sudah dilakukan sebelum COVID-19 dan hasilnya pekerja mampu memiliki keseimbangan hidup dan kerja . ork-life-balanc. yang lebih baik . Di Indonesia sendiri, sebanyak 26% merasa, dengan pekerjaan remote, waktu bekerja menjadi lebih fleksibel . JPP IPTEK (Jurnal Pengabdian dan Penerapan IPTEK). Mei 2023. Volume 7. Nomor 1 SMK merupakan tingkat pendidikan menengah yang memiliki tujuan untuk mempersiapkan siswa untuk mampu bekerja di bidang tertentu (Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2. Adanya penerapan kurikulum 13 terbaru, yakni kurikulum pendidikan Indonesia yang diterapkan sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas lulusan sesuai dengan perkembangan kehidupan di abad ke-21 . sehingga diharapkan siswa yang berasal dari lulusan SMK ini memiliki kesiapan menjadi tenaga kerja. Selain itu, dengan menerapkan problem based learning dalam sistem pembelajarannya, mampu meningkatkan hasil belajar siswa dari segi kognitif, afektif, dan psikomotor . Ini dikarenakan adanya peran yang aktif, baik dari pendidik maupun dari siswa . SMK Negeri 13 Bandung merupakan salah satu sekolah kejuruan di Kota Bandung yang salah satu program keahliannya adalah Rekayasa Perangkat Lunak. Dalam sistem pembelajarannya, sekolah menerapkan project based learning (PBL) dalam bentuk tugas akhir untuk membangun sebuah perangkat lunak yang dilakukan secara berkelompok. Project based learning merupakan pengganti metode pembelajaran dari pembelajaran konvensional yang memiliki karakteristik pada kolaborasi teknologi dan kemandirian siswa dalam menyelesaikan permasalahan untuk menghasilkan sebuah karya/produk . Penerapan PBL dalam metode pembelajaran dilakukan guna membiasakan siswa untuk menyiapkan diri ketika berada di dunia Dalam pengerjaan tugas besar di SMK Negeri 13 Bandung, pembangunan sebuah perangkat lunak dikerjakan secara tim/kelompok. Dengan mengimplementasikan kerja kelompok dalam membangun sebuah perangkat lunak, siswa lebih merasa nyaman dan efektif . Namun, pada saat implementasinya, siswa merasa kesulitan untuk melakukan coding secara bersamaan karena tidak memahami social coding, yakni sebuah pendekatan dalam pengembangan sistem perangkat lunak yang mengizinkan adanya kerja sama antarpekerja . Padahal, kolaborasi antartim dalam membangun sistem perangkat lunak akan sangat memudahkan pekerjaan. Adapun tools yang dapat digunakan oleh siswa dalam melakukan social coding, salah satunya adalah Git. Git merupakan sistem kontrol terdistribusi yang tersedia di semua platform pengembangan yang berlisensi gratis . Tools ini memiliki fitur-fitur yang sederhana dan mudah diimplementasikan oleh penggunanya . Hal ini karena pendekatan pada Git mengarah kepada pembelajaran, kolaborasi, dan memajukan keterampilan teknis . Berdasarkan permasalahan yang telah diuraikan, penulis beserta Tim Pengabdian kepada Masyarakat memberikan solusi dengan mengadakan program pelatihan version control system (Gi. bagi siswa di SMK Negeri 13 Bandung. Metode Pelaksanaan Tahapan yang akan dilakukan pada pengabdian pada masyarakat ini merujuk pada langkah-langkah yang diterapkan oleh Vincent pada bukunya yang berjudul Community Development Practice dengan hasil modifikasi . yang ditunjukkan pada Gambar 1. Tahap awal yang dilakukan dalam pelaksanaan Pengabdian Kepada Masyarakat (PkM) ini adalah membentuk tim dan menentukan deskripsi pekerjaan pada setiap anggota tim yang terlibat. Adapun tim pengabdian kepada masyarakat ini terdiri dari dosen dan mahasiswa. Setelah itu, dilanjutkan dengan perumusan tujuan dilaksanakannya kegiatan pelatihan social coding ini di SMK Negeri 13 Bandung. Adapun tahapan identifikasi stakeholder di antaranya adalah dilakukannya survei dan observasi untuk mengidentifikasi permasalahan mitra yang akan memberikan tugas besar kepada siswa dalam mengembangkan perangkat lunak namun tidak adanya kemampuan siswa untuk menerapkan social coding dalam membangun perangkat lunak. Berdasarkan identifikasi masalah tersebut tim melaksanakan pengumpulan dan analisis kebutuhan serta menentukan solusi yang paling tepat bagi permasalahan mitra. JPP IPTEK (Jurnal Pengabdian dan Penerapan IPTEK). Bulan Tahun. Volume x. Nomor y Gambar 1. Tahapan Pelaksanaan Pada tahap persiapan, tim menyusun segala kebutuhan yang digunakan untuk menunjang kegiatan pelatihan social coding di SMK Negeri 13 Bandung seperti menyusun modul pelatihan dan materi serta demo program. Adapun tahap berikutnya ialah tahap implementasi, yakni pelaksanaan pelatihan social coding menggunakan Git di SMK Negeri 13 Bandung yang disampaikan oleh mahasiswa Program Studi Rekayasa Perangkat Lunak UPI Kampus di Cibiru. Pada tahap ini juga dilakukan survei berbasis kuesioner menggunakan tools Google Form. Penggunaan form ini dikarenakan penggunaan yang mudah, gratis, dan bisa menampung data responden yang tidak terbatas. Tahapan pendampingan dilaksanakan bersamaan dengan implementasi saat pelaksanaan pelatihan social coding dilakukan. Tahapan berikutnya adalah peninjauan dan evaluasi yang dilakukan untuk mengukur tingkat keberhasilan program pelatihan social coding di SMK Negeri 13 Bandung. Berdasarkan hasil evaluasi tersebut, tim mengevaluasi adanya tindak lanjut dari kegiatan pelatihan social coding ini. Hasil dan Pembahasan Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dalam bentuk pelatihan social coding (Gi. diawali dengan survei dan identifikasi masalah di sekolah SMKN 13 Bandung sebagai koordinasi awal yang melibatkan kepala sekolah dan kepala program keahlian Rekayasa Perangkat Lunak. Melalui proses wawancara, diperoleh informasi mengenai situasi yang terjadi di sekolah, di antaranya adalah siswa dari keahlian Rekayasa Perangkat Lunak memiliki tugas besar proyek membangun sebuah perangkat lunak yang dikerjakan secara berkelompok. Selain itu, guru juga membutuhkan log aktivitas pekerjaan siswa dalam mengerjakan tugas proyek untuk mengetahui seberapa aktif setiap individu dalam mengerjakan proyek. Pada kurikulum sekolah, siswa tidak diajarkan materi mengenai kolaborasi coding dalam membangun perangkat lunak sehingga proses pengerjaan masih dilakukan secara konvensional. Adapun solusi yang ditawarkan oleh tim PkM adalah pelaksanaan pelatihan social coding menggunakan Git di SMK Negeri 13 Bandung. Sebelum dimulainya pelatihan, tim PkM menyusun materi pelatihan yang dikemas dalam bentuk slide dan modul pelatihan yang dapat digunakan peserta sebagai pegangan pada saat pelaksanaan pelatihan. Selain itu, tim juga berkolaborasi dengan mitra terkait hal-hal yang JPP IPTEK (Jurnal Pengabdian dan Penerapan IPTEK). Mei 2023. Volume 7. Nomor 1 dibutuhkan selama pelatihan, seperti lab komputer, pengelola koneksi internet, dan pengelola perangkat lunak yang digunakan sebagai penunjang pelatihan. Pada pelaksanaannya, kegiatan pelatihan dimulai dari pengenalan materi dan teori-teori terkait Git. Kemudian, pelatihan dilanjutkan dengan proses unduh dan instalasi perangkat pendukung Git serta konfigurasinya. Tim dibantu oleh mahasiswa dari Program Studi Rekayasa Perangkat Lunak UPI Kampus Cibiru untuk pendampingannya sehingga siswa yang merasa kesulitan dapat langsung bertanya. Adapun rangkaian kegiatan pelatihan yang dilaksanakan selama dua hari ditunjukkan pada Tabel 1. Kegiatan pelatihan social coding menggunakan Git seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2 ini diikuti oleh peserta yang berjumlah 71 siswa kelas XI program Rekayasa Perangkat Lunak. Siswa-siswi ini berasal dari kelas RPL-1 dan RPL-2. Pelaksanaan pelatihan dibagi ke dalam dua kelas. Hal ini dikarenakan jumlah PC pada masing-masing laboratorium komputer yang terbatas. Selama pelaksanaan, siswa diberi materi dan didampingi untuk mengantisipasi adanya kesulitan-kesulitan yang dihadapi selama pelatihan. Pendampingan dilakukan dengan secara langsung memeriksa kesulitan yang dihadapi, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 3. Di awal dan akhir kegiatan, peserta pelatihan diminta untuk mengisi kuesioner serta pretest dan post-test pelatihan. Adapun kuesioner yang ditanyakan berkaitan dengan kemampuan siswa terhadap Git yang terdiri dari dua belas pertanyaan dengan jawaban skala empat, yakni tidak menguasai, kurang menguasai, cukup menguasai, dan sangat menguasai. Adapun hasil dari kuesioner ditunjukkan pada Gambar 4. Tabel 1. Jadwal pelaksanaan. Tanggal Rabu, 27 Juli 2022 Kamis, 28 Juli 2022 Waktu 15Ae10. Materi Pembukaan: C Sambutan ketua pelaksana C Penjelasan teknis kegiatan Narasumber Ketua Pelaksana 20Ae11. Teori Version Control System dan Git Pemateri & Tim fasilitator 00Ae11. Unduh dan instalasi Git Pemateri & Tim fasilitator 30Ae12. C Konfigurasi Git C Membuat Repositori Git C Menambah dan Revisi File pada Git Pemateri & Tim fasilitator 20Ae12. Tugas mandiri, istirahat Tim fasilitator 15Ae10. Materi Git: C Melihat Log Activity C Membuat Branch pada Git Pemateri & Tim fasilitator 15Ae10. Break Pemateri & Tim fasilitator 30Ae12. Materi Git: C Perbedaan Git Checkout. Git Reset, dan Git Revert C Remote Repository C Git Fetch dan Git Pull C Memulai proyek dengan Git Pemateri & Tim fasilitator 25Ae12. Penutupan Ketua Pelaksana JPP IPTEK (Jurnal Pengabdian dan Penerapan IPTEK). Bulan Tahun. Volume x. Nomor y Gambar 2. Kegiatan pelaksanaan pelatihan. Gambar 3. Kegiatan pendampingan. Gambar 4. Kuesioner sebelum memulai pelatihan. Berdasarkan hasil kuesioner yang ditunjukkan pada Gambar 4, hampir seluruh siswa tidak memiliki kemampuan terkait penggunaan Git. Hanya sedikit siswa yang cukup dan sangat menguasai pada kemampuan download, install, hingga membuat akun. Sedangkan kemampuan penggunaan fitur yang ada pada Git banyak yang memilih tidak menguasai. JPP IPTEK (Jurnal Pengabdian dan Penerapan IPTEK). Mei 2023. Volume 7. Nomor 1 Tabel 2. Kegiatan Pelaksanaan Pelatihan Pertanyaan Materi sangat bermanfaat Materi mudah dipahami Materi relevan dengan tugas sekolah Pemberian materi sesuai dengan waktu yang tersedia Pemateri memberi jawaban yang jelas Git seharusnya diajarkan di sekolah Persentase Jawaban Responden (%) 0,0 13,9 25,0 33,3 50,0 13,9 47,2 22,2 44,4 11,1 44,4 19,4 30,6 Dalam setiap pertemuan pelatihan, siswa atau peserta diminta untuk mempraktikkan ulang kegiatan pelatihan di rumah dengan menggunakan modul pelatihan sebagai panduan. Hal ini dilakukan agar siswa memahami materi yang disampaikan. Di akhir pertemuan, siswa diminta untuk membangun software yang merupakan tugas besar kelas XI dengan mengimplementasikan Git dalam pelaksanaan social coding. Hal ini dilakukan sebagai bentuk kolaborasi kegiatan pelatihan PkM dengan kegiatan yang ada di kurikulum SMKN 13 Bandung keahlian Rekayasa Perangkat Lunak kelas XI. Di akhir kegiatan pelatihan, siswa dievaluasi dengan diberikan post-test dalam bentuk pertanyaan pilihan ganda menggunakan Google Form. Ini dilakukan untuk mengetahui seberapa paham siswa setelah mengikuti kegiatan pelatihan social coding menggunakan Git. Soal-soal yang diberikan berkaitan dengan fungsi dan fitur yang ada pada Git. Hasil post-test menunjukkan rata-rata nilai siswa adalah 62% benar. Ini menunjukkan peningkatan dibandingkan dengan ratarata pada saat pre-test yang memperoleh nilai 35% benar. Sebelum berakhirnya sesi pelatihan social coding menggunakan Git, siswa diminta untuk mengisi post-training evaluation untuk menilai seberapa paham atas pelatihan yang diberikan selama dua hari. Adapun daftar pernyataan dan jawaban siswa ditunjukkan pada Tabel 2. Jawaban yang diberikan atas pertanyaan pada Tabel 2 berupa skala 1Ae5. Skala 1 merupakan jawaban sangat tidak setuju dan 5 merupakan jawaban sangat setuju. Siswa merasa materi yang diberikan sangat bermanfaat dan siswa pun akan mengimplementasikan Git pada tugas besar yang diberikan oleh guru pengampunya. Siswa pun meminta adanya pelatihan lanjutan dari kegiatan pelatihan Git ini. Kesimpulan Program pelatihan social coding menggunakan Git di SMK Negeri 13 Bandung berjalan Adapun kesimpulan yang diperoleh berdasarkan hasil kegiatan pengabdian kepada masyarakat antara lain: . pengabdian kepada masyarakat program pelatihan ini memberikan pengetahuan kepada siswa mengenai implementasi Git dalam kolaborasi membangun perangkat . siswa diberikan bekal dalam menggunakan Git, dari mulai membuat repositori hingga memulai kolaborasi membangun perangkat lunak. evaluasi kegiatan pelatihan diberikan dalam bentuk form yang diberikan pada saat akhir pelatihan. Hasil evaluasi menunjukkan siswa menjadi paham dalam menerapkan social coding dalam membangun perangkat lunak. Terbukti dari hasil post-test yang meningkat 27% dari hasil pre-test. sebagai bentuk tindak lanjut, siswa akan menerapkan social coding dalam pelaksanaan tugas besar yang diberikan oleh guru pengampu di SMK Negeri 13 Bandung. JPP IPTEK (Jurnal Pengabdian dan Penerapan IPTEK). Bulan Tahun. Volume x. Nomor y Ucapan Terima Kasih Penghargaan tertinggi kepada Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Cibiru yang telah mendanai pelaksanaan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Tahun Anggaran 2022 berdasarkan Surat Keputusan Rektor Nomor 0794/UN40/PT. 02/2022 dan perjanjian kontrak nomor 785/UN40. K1/PT. 03/2022. Daftar Pustaka