p-ISSN : 2745-7141 e-ISSN : 2746-1920 Jurnal Pendidikan Indonesia Vol. 6 No. 1 Januari 2025 Meta Analisis Pengembangan Multimedia Interaktif Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kuntoro Adi Juwanda. Andi Mariono. Alim Sumarno Program Studi Magister Teknologi Pendidikan. Universitas Negeri Surabaya. Indonesia Email: kuntoro. 23022@mhs. INFO ARTIKEL Kata Kunci: Meta-analisis, multimedia interaktif, berpikir kritis, pendidikan, effect size Keywords: Meta-analysis, critical thinking, education, effect size. ABSTRAK Kemampuan berpikir kritis merupakan salah satu keterampilan utama abad ke-21 yang sangat penting untuk dikembangkan dalam proses pembelajaran. Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kritis siswa di Indonesia masih tergolong rendah, terutama akibat kurangnya inovasi dalam media pembelajaran. Penggunaan multimedia interaktif telah menjadi solusi yang menjanjikan dalam menciptakan pembelajaran yang berpusat pada siswa dan mendukung pengembangan keterampilan berpikir kritis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas pengembangan multimedia interaktif terhadap kemampuan berpikir kritis siswa melalui pendekatan meta-analisis. Metode penelitian yang digunakan adalah Systematic Literature Review (SLR) dengan menganalisis 12 artikel yang dipilih berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi tertentu, seperti relevansi dengan topik, data empiris, dan keberadaan pengukuran effect size. Data yang diperoleh dianalisis untuk menghitung ukuran efek . ffect siz. serta pengelompokan berdasarkan jenjang pendidikan, materi, dan jenis multimedia yang digunakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai effect size multimedia interaktif berkisar antara 0,58 hingga 0,72, dengan kategori "sedang" hingga "tinggi. " Jenjang pendidikan SMA dan SMK menunjukkan efektivitas tertinggi, terutama pada materi yang kompleks seperti larutan penyangga dan teknologi perkantoran, sementara jenjang SMP dan SD menunjukkan efektivitas dalam kategori sedang. Penelitian ini menegaskan bahwa multimedia interaktif memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan berpikir kritis siswa dan relevan untuk diintegrasikan secara lebih luas dalam pembelajaran. ABSTRACT Critical thinking ability is one of the main skills of the 21st century which is very important to develop in the learning process. However, various studies show that students' critical thinking abilities in Indonesia are still relatively low, mainly due to the lack of innovation in learning media. The use of interactive multimedia has become a promising solution in creating student-centered learning and supporting the development of critical thinking This research aims to analyze the effectiveness of interactive multimedia development on students' critical thinking abilities through a meta-analysis approach. The research method used was Systematic Literature Review (SLR) by analyzing 12 Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 6 No. 1 Januari 2025 Kuntoro Adi Juwanda. Andi Mariono. Alim Sumarno articles selected based on certain inclusion and exclusion criteria, such as relevance to the topic, empirical data, and the presence of effect size measurements. The data obtained was analyzed to calculate the effect size and grouping based on education level, material and type of multimedia used. The research results show that the effect size value of interactive multimedia ranges from 58 to 0. 72, with the category "medium" to "high. " High school and vocational school levels show the highest effectiveness, especially in complex material such as buffer solutions and office technology, while middle school and elementary school levels show effectiveness in the medium category. This research confirms that interactive multimedia makes a significant contribution to improving students' critical thinking and is relevant to be integrated more widely in learning. PENDAHULUAN Dalam era globalisasi dan kemajuan teknologi informasi yang pesat saat iini dunia pendidikan menghadapi tantangan yang semakin kompleks (Monica & Pramudiani. Pembelajaran di abad ke-21 tidak hanya berfokus pada penguasaan materi akademik, tetapi juga pada pengembangan keterampilan berpikir tingkat tinggi seperti kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan literasi digital. Salah satu keterampilan yang sangat diperlukan dalam dunia modern adalah kemampuan berpikir kritis, yang memungkinkan individu untuk menganalisis informasi secara objektif, membuat keputusan yang tepat, serta memecahkan masalah secara sistematis (Firdaus et , 2. Untuk mewujudkan pembelajaran yang adaptif dan relevan dengan perkembangan zaman, penggunaan multimedia interaktif sebagai alat bantu pembelajaran telah menjadi pendekatan yang populer dan inovatif. Multimedia interaktif menggabungkan elemen teks, gambar, audio, video, dan animasi dalam satu platform sehingga menciptakan pengalaman belajar yang menarik, mendalam, dan bermakna bagi Sejalan dengan itu penelitian tentang efektivitas multimedia interaktif dalam pembelajaran telah menunjukkan hasil yang signifikan. Media pembelajaran ini terbukti mampu meningkatkan keterlibatan siswa, memperdalam pemahaman konsep, dan memfasilitasi pembelajaran mandiri (Aprianto et al. , 2. Selain itu, multimedia interaktif mendukung berbagai gaya belajar siswa, seperti visual, auditori, dan kinestetik, sehingga mampu menjawab kebutuhan individu yang berbeda dalam proses Pengembangan multimedia interaktif semakin diperkuat dengan pendekatan saintifik, discovery learning, dan problem-based learning, yang memungkinkan siswa untuk secara aktif mengeksplorasi materi dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis mereka (Rahmadani & Taufina, 2. Kualitas pendidikan di Indonesia masih menghadapi berbagai kendala yang Berdasarkan laporan PISA (Programme for International Student Assessmen. terbaru, kemampuan berpikir kritis siswa Indonesia masih berada di bawah rata-rata internasional (Halimah & Indriani, 2. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor. Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 6 No. 1 Januari 2025 Meta Analisis Pengembangan Multimedia Interaktif untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa termasuk metode pembelajaran yang masih berpusat pada guru, kurangnya penggunaan teknologi dalam pembelajaran, serta minimnya media pembelajaran yang interaktif dan Banyak guru yang masih menggunakan metode ceramah tradisional, yang sering kali tidak mampu merangsang keterampilan berpikir kritis siswa. Akibatnya, siswa cenderung pasif dalam pembelajaran dan hanya menghafal informasi tanpa memahami konsep secara mendalam. Fenomena ini semakin diperparah oleh kurangnya sumber daya pendidikan yang memadai, terutama di daerah terpencil. Media pembelajaran berbasis teknologi seperti multimedia interaktif sering kali tidak tersedia, baik karena keterbatasan infrastruktur maupun kurangnya kompetensi guru dalam mengembangkan dan menggunakan teknologi tersebut (Mashami & Khaeruman, 2. Kondisi ini mengakibatkan kesenjangan kualitas pendidikan antara wilayah perkotaan dan pedesaan semakin lebar. Padahal, di era digital ini, teknologi memiliki potensi besar untuk menjembatani kesenjangan tersebut dengan menyediakan akses pembelajaran yang lebih luas dan fleksibel bagi semua siswa. Hasil survei nasional yang dilakukan pada tahun 2023 menunjukkan bahwa hanya sekitar 35% sekolah di Indonesia yang secara aktif menggunakan multimedia interaktif dalam proses pembelajaran. Di sisi lain, 65% sekolah lainnya masih bergantung pada media pembelajaran tradisional seperti buku teks dan papan tulis (Muchtar et al. , 2. Hal ini menunjukkan bahwa implementasi teknologi dalam pendidikan masih jauh dari Selain itu, penelitian menunjukkan bahwa siswa yang menggunakan multimedia interaktif cenderung memiliki skor rata-rata berpikir kritis 20% lebih tinggi dibandingkan siswa yang hanya menggunakan media pembelajaran konvensional. Data ini menggarisbawahi pentingnya pengembangan dan penerapan multimedia interaktif secara luas untuk mendukung pembelajaran yang efektif. Multimedia interaktif yang dirancang untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis biasanya mencakup berbagai fitur seperti simulasi, kuis interaktif, dan studi kasus. Simulasi memungkinkan siswa untuk mengamati dan mempraktikkan konsep-konsep abstrak secara nyata, sementara kuis interaktif membantu mereka untuk merefleksikan pemahaman mereka terhadap materi yang telah dipelajari (Samiha, 2. Studi kasus, di sisi lain, memberikan siswa kesempatan untuk menerapkan pengetahuan mereka dalam konteks kehidupan nyata, yang tidak hanya meningkatkan keterampilan berpikir kritis, tetapi juga relevansi pembelajaran (Pramuji, 2. Pendekatan saintifik dalam pengembangan multimedia interaktif sering kali melibatkan tahapan seperti mengamati, bertanya, mengumpulkan data, menganalisis data, dan mengomunikasikan hasil. Pendekatan ini tidak hanya mendorong siswa untuk aktif dalam proses pembelajaran, tetapi juga memperkuat keterampilan mereka dalam memecahkan masalah dan mengambil keputusan berdasarkan bukti yang ada. Dengan demikian, multimedia interaktif yang dirancang dengan baik dapat menjadi alat yang sangat efektif dalam membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir kritis mereka (Rohatul Fikriyah Safira & Nahdi, 2. Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 6 No. 1 Januari 2025 Kuntoro Adi Juwanda. Andi Mariono. Alim Sumarno Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam efektivitas pengembangan multimedia interaktif dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis Melalui pendekatan meta-analisis, penelitian ini akan mengintegrasikan dan mengevaluasi hasil-hasil penelitian sebelumnya untuk memberikan gambaran yang komprehensif tentang pengaruh multimedia interaktif terhadap pembelajaran. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata dalam pengembangan kebijakan pendidikan dan inovasi pembelajaran di Indonesia. METODE PENELITIAN Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Systematic Literature Review (SLR), yang bertujuan untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, dan mensintesis temuan-temuan dari penelitian yang relevan mengenai pengembangan multimedia interaktif untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa (Mubarok. Pendekatan SLR ini dilakukan secara sistematis dengan mengikuti tahapan tertentu, yaitu perumusan pertanyaan penelitian, pencarian literatur, seleksi artikel berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi, analisis kualitas artikel, dan sintesis hasil penelitian (J. Creswell & Creswell, 2. Pertanyaan penelitian difokuskan pada efektivitas penggunaan multimedia interaktif dalam pembelajaran, jenis media yang digunakan, serta dampaknya terhadap kemampuan berpikir kritis siswa pada berbagai jenjang pendidikan. Artikel yang menjadi sumber data penelitian ini diambil dari jurnaljurnal terindeks nasional dan internasional yang relevan, menggunakan kata kunci seperti "interactive multimedia," "critical thinking," dan "education. " Proses pencarian dilakukan melalui database seperti Scopus. Springer. Google Scholar, dan ScienceDirect dalam rentang waktu publikasi lima tahun terakhir. Kriteria inklusi yang digunakan dalam penelitian ini meliputi artikel yang membahas penggunaan multimedia interaktif dalam konteks pendidikan, mencakup data empiris terkait kemampuan berpikir kritis, dan mengukur efektivitas menggunakan metode kuantitatif dengan data pretest-posttest atau effect size. Sedangkan kriteria eksklusi mencakup artikel non-empiris, artikel yang tidak relevan dengan jenjang pendidikan formal, serta artikel yang hanya fokus pada aspek teknis multimedia tanpa menilai dampaknya terhadap pembelajaran (J. Creswell, 2. Hasil dari tahap seleksi artikel kemudian dianalisis menggunakan pendekatan meta-analisis untuk menghitung ukuran efek . ffect siz. dari setiap studi yang terpilih. Selain itu, penelitian ini juga mengelompokkan hasil berdasarkan jenjang pendidikan, materi yang diajarkan, dan jenis multimedia interaktif yang digunakan. Dengan metode ini, penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran komprehensif tentang tren, efektivitas, dan rekomendasi terkait pengembangan multimedia interaktif dalam mendukung pembelajaran yang berfokus pada kemampuan berpikir kritis. HASIL DAN PEMBAHASAN Meta-analisis dalam penelitian ini menggunakan dua belas jurnal sebagai referensi utama, yang dipilih secara sistematis berdasarkan relevansi dan kualitasnya terhadap Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 6 No. 1 Januari 2025 Meta Analisis Pengembangan Multimedia Interaktif untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa topik penelitian. Proses seleksi dilakukan melalui beberapa tahapan, mulai dari pencarian awal menggunakan kata kunci spesifik seperti "multimedia interaktif," "kemampuan berpikir kritis," dan "pengembangan media pembelajaran," hingga penyaringan artikel berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditentukan. Kriteria inklusi mencakup artikel yang memuat data empiris mengenai efektivitas multimedia interaktif dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis, diterbitkan dalam kurun waktu lima tahun terakhir, dan berasal dari jurnal terindeks nasional atau internasional bereputasi. Sementara itu, kriteria eksklusi diterapkan pada artikel yang tidak memuat data kuantitatif seperti pretest-posttest atau ukuran efek . ffect siz. , serta artikel yang hanya membahas aspek teknis multimedia tanpa evaluasi dampak terhadap pembelajaran. Analisis terhadap dua belas jurnal ini mencakup penghitungan ukuran efek dari masing-masing studi, pengelompokan data berdasarkan jenjang pendidikan, materi ajar, dan jenis multimedia yang digunakan, serta sintesis hasil untuk memberikan gambaran komprehensif tentang pengaruh multimedia interaktif terhadap pengembangan berpikir kritis siswa. Pendekatan ini memungkinkan penelitian untuk menyajikan kesimpulan yang berbasis data, terukur, dan relevan dengan kebutuhan pengembangan pendidikan berbasis teknologi di Indonesia. Kode Jurnal Tabel 1. Pengelompokan Artikel Secara Umum Jenjang Tingkatan Materi Pendidikan Kelas (Effect Siz. SMA Larutan Penyangga 0,70 Kategori Sedang (Monica & Pramudiani, 2. SMA SMA XII SMP SMP Sistem Peredaran Darah (Rina, 2. Hidrokarbon dan Minyak Bumi 0,59 Sedang 0,72 Tinggi (Firdaus et al. , 2. Tata Surya (Fitria & Fitrihidajati, 2. 0,58 Sedang VII Gelombang Bunyi 0,66 Sedang 0,61 Sedang 0,70 Sedang 0,62 Sedang 0,72 Tinggi 0,61 Sedang (Laili et al. , 2. Tata Surya (Hendi et , 2. SMK Teknologi Perkantoran SMP SMA (Siti Aisyah et al. Lingkungan (Sari & Pratikto, 2. Larutan Penyangga (Rajagukguk & Rambe, 2. J10 SMP VII Fisika Dasar (Gerak Luru. (Wafiqah Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 6 No. 1 Januari 2025 Kuntoro Adi Juwanda. Andi Mariono. Alim Sumarno Alvia Ramadhani. J11 SMA Media Interaktif Fisika 0,68 Sedang 0,65 Sedang (Wahyuni et al. J12 SMA Materi Cahaya dan Optik (Sevtia et al. Berdasarkan Tabel 1, pengelompokan artikel secara umum menunjukkan distribusi penggunaan multimedia interaktif pada berbagai jenjang pendidikan dan materi Jenjang pendidikan yang paling sering menjadi subjek penelitian adalah SMA, dengan enam artikel (J1. J2. J3. J9. J11, dan J. yang membahas berbagai materi, seperti larutan penyangga, sistem peredaran darah, hidrokarbon, dan optik. Sebagian besar penelitian pada jenjang ini menunjukkan ukuran efek . ffect siz. kategori "sedang" hingga "tinggi," dengan ES tertinggi sebesar 0,72 pada materi hidrokarbon dan larutan Di tingkat SMP, terdapat empat artikel (J4. J5. J8, dan J. yang mencakup materi seperti tata surya, gelombang bunyi, dan lingkungan. Artikel pada jenjang ini umumnya memiliki ES kategori "sedang," dengan rata-rata ukuran efek berkisar antara 0,58 hingga 0,66. Pada jenjang SD, hanya ada satu artikel (J. yang membahas materi tata surya dengan ES sebesar 0,61, yang juga berada pada kategori "sedang. " Adapun untuk jenjang SMK, terdapat satu artikel (J. dengan ES sebesar 0,70 pada materi teknologi perkantoran, yang masuk dalam kategori "sedang. " Temuan ini menunjukkan bahwa multimedia interaktif efektif digunakan di berbagai jenjang pendidikan untuk mendukung pengembangan kemampuan berpikir kritis siswa, dengan efektivitas yang cenderung lebih tinggi pada materi yang kompleks seperti larutan penyangga dan Selain itu, penelitian ini mengindikasikan bahwa multimedia interaktif dapat diadaptasi untuk berbagai tingkat kelas dan materi, meskipun efektivitasnya bervariasi tergantung pada konteks dan desain pembelajaran. Tabel 2. Nilai Effect Size Hasil Belajar Berdasarkan Jenjang Pendidikan Jenjang Pendidikan Kode Jurnal Ukuran Efek Rata-rata Kategori 0,61 0,61 Sedang SMP J4. J5. 0,58, 0,66, 0,62 0,62 Sedang SMA J1. J2. J3. J9 0,70, 0,59, 0,72 0,67 Tinggi SMK 0,70 0,70 Tinggi Berdasarkan Tabel 2, nilai effect size hasil belajar menunjukkan bahwa multimedia interaktif memiliki efektivitas yang bervariasi berdasarkan jenjang pendidikan. Pada jenjang SD, hasil belajar siswa menunjukkan ukuran efek sebesar 0,61, yang berada dalam kategori "sedang. " Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan multimedia interaktif mulai efektif diterapkan bahkan pada siswa dengan tingkat pendidikan dasar. Pada jenjang SMP, rata-rata ukuran efek mencapai 0,62 dari tiga penelitian (J4. J5. , yang juga masuk dalam kategori "sedang. " Meskipun kategori sama dengan SD, peningkatan Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 6 No. 1 Januari 2025 Meta Analisis Pengembangan Multimedia Interaktif untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa rata-rata ini mencerminkan bahwa multimedia interaktif lebih optimal digunakan pada materi yang sesuai dengan perkembangan kognitif siswa SMP, seperti tata surya, gelombang bunyi, dan lingkungan. Pada jenjang SMA, rata-rata ukuran efek lebih tinggi, yaitu 0,67, dengan beberapa penelitian (J1. J3. menunjukkan ES kategori "tinggi," khususnya pada materi kompleks seperti hidrokarbon dan larutan penyangga. Hal ini menegaskan bahwa multimedia interaktif memberikan pengaruh signifikan terhadap pembelajaran yang membutuhkan analisis mendalam dan kemampuan berpikir kritis di tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Pada jenjang SMK, ukuran efek juga tinggi dengan ES sebesar 0,70 . ategori "tinggi"), yang menunjukkan bahwa multimedia interaktif sangat relevan dalam mendukung pembelajaran berbasis praktik, seperti teknologi Secara keseluruhan, data ini mengindikasikan bahwa efektivitas multimedia interaktif cenderung meningkat seiring dengan jenjang pendidikan, dengan hasil terbaik pada SMA dan SMK, di mana siswa memiliki kapasitas kognitif yang lebih matang untuk memanfaatkan keunggulan teknologi pembelajaran ini. Tabel 3. Nilai Effect Size Pemahaman Konsep Berdasarkan Jenjang Pendidikan Jenjang Pendidikan Kode Jurnal Ukuran Efek Rata-rata Kategori SMP J4. J5. 0,58, 0,66, 0,61 0,62 Sedang SMA J1. J2. J3. J9 0,70, 0,59, 0,72, 0,72 0,68 Tinggi SMK 0,70 0,70 Tinggi Berdasarkan Tabel 3, nilai effect size pemahaman konsep menunjukkan variasi efektivitas multimedia interaktif berdasarkan jenjang pendidikan. Pada jenjang SMP, rata-rata ukuran efek sebesar 0,62 dengan kategori "sedang," menunjukkan bahwa multimedia interaktif cukup efektif membantu siswa memahami konsep, terutama pada materi seperti tata surya dan gelombang bunyi. Pada jenjang SMA, rata-rata ukuran efek meningkat menjadi 0,68, masuk dalam kategori "tinggi. " Hal ini mencerminkan bahwa multimedia interaktif lebih optimal untuk materi yang lebih kompleks dan membutuhkan kemampuan analisis mendalam, seperti larutan penyangga dan hidrokarbon. Sementara itu, pada jenjang SMK, ukuran efek sebesar 0,70 . ategori "tinggi") menegaskan bahwa media ini sangat relevan untuk mendukung pembelajaran berbasis praktik yang menuntut pemahaman konsep secara aplikatif, seperti teknologi perkantoran. Temuan ini menunjukkan bahwa efektivitas multimedia interaktif dalam meningkatkan pemahaman konsep cenderung lebih tinggi pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Tabel 4. Nilai Effect Size Pengembangan Multimedia Interaktif untuk Meniingkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kode Media Interaktif yang Jenjang Ukuran Kategori Jurnal Digunakan Pendidikan Efek Articulate Storyline SMA 0,70 Sedang Aplikasi SIPEDA (Sistem SMA 0,59 Sedang Peredaran Dara. Multimedia Interaktif SMA 0,72 Tinggi Saintifik Media Interaktif Tata Surya SMP 0,58 Sedang Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 6 No. 1 Januari 2025 Kuntoro Adi Juwanda. Andi Mariono. Alim Sumarno J10 Media Interaktif Gelombang Bunyi Media Interaktif Berbasis Canva Canva untuk Teknologi Perkantoran Media Interaktif Lingkungan Berbasis SETS Articulate Storyline untuk Larutan Penyangga PowerPoint Interaktif untuk Fisika Dasar SMP 0,66 Sedang 0,61 Sedang SMK 0,70 Tinggi SMP 0,62 Sedang SMA 0,72 Tinggi SMP 0,61 Sedang Berdasarkan Tabel 4, nilai effect size pengembangan multimedia interaktif untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa menunjukkan variasi efektivitas tergantung pada media yang digunakan, jenjang pendidikan, dan konteks materi Secara keseluruhan, rata-rata ukuran efek berkisar dari 0,58 hingga 0,72, dengan mayoritas berada dalam kategori "sedang. " Pada jenjang SMA, media interaktif seperti Articulate Storyline (J1. dan multimedia interaktif saintifik (J. menunjukkan ukuran efek tertinggi, yaitu 0,72, masuk dalam kategori "tinggi. " Hal ini mengindikasikan bahwa multimedia interaktif yang dirancang dengan fitur visual dan saintifik mampu mendukung siswa SMA dalam memahami materi yang kompleks dan meningkatkan kemampuan berpikir kritis mereka. Sebaliknya, aplikasi SIPEDA (J. memiliki ukuran efek yang sedikit lebih rendah . dibandingkan media lainnya di jenjang SMA, meskipun tetap dalam kategori "sedang," yang mungkin disebabkan oleh kompleksitas desain aplikasi atau keterbatasan implementasi dalam proses pembelajaran. Pada jenjang SMP media interaktif seperti Media Interaktif Tata Surya (J. Gelombang Bunyi (J. , dan Lingkungan Berbasis SETS (J. menunjukkan ukuran efek dalam rentang 0,58 hingga 0,66, yang juga berada pada kategori "sedang. " Ini menandakan bahwa multimedia interaktif efektif untuk siswa SMP, terutama pada materi yang memerlukan pemahaman konseptual dan analisis. Sementara itu, pada jenjang SD dan SMK, media interaktif berbasis Canva (J6. memiliki ukuran efek masing-masing 0,61 . ategori "sedang") dan 0,70 . ategori "tinggi"). Perbedaan ini menunjukkan bahwa penggunaan Canva pada jenjang SMK lebih efektif karena pendekatannya yang lebih aplikatif dan relevan dengan dunia kerja. Media interaktif berbasis PowerPoint (J. pada materi fisika dasar di jenjang SMP juga memiliki ukuran efek 0,61, yang mengindikasikan bahwa meskipun tidak berada pada kategori tertinggi, media ini tetap efektif dalam membantu siswa membangun keterampilan berpikir kritis. Secara keseluruhan, temuan ini menggarisbawahi pentingnya desain media yang disesuaikan dengan kebutuhan siswa dan tingkat kompleksitas materi untuk mendukung pengembangan keterampilan berpikir kritis secara optimal. Hasil penelitian meta-analisis ini mengungkapkan bahwa pengembangan multimedia interaktif memiliki pengaruh signifikan terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa di berbagai jenjang pendidikan. Secara keseluruhan, nilai effect size Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 6 No. 1 Januari 2025 Meta Analisis Pengembangan Multimedia Interaktif untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa yang diperoleh menunjukkan efektivitas yang bervariasi tergantung pada jenis media yang digunakan, jenjang pendidikan, dan kompleksitas materi pembelajaran. Multimedia interaktif seperti Articulate Storyline, aplikasi SIPEDA, dan Canva memberikan kontribusi besar dalam menciptakan pembelajaran yang lebih interaktif dan berorientasi pada siswa. Penggunaan teknologi ini memungkinkan siswa untuk mengakses materi secara visual, auditori, dan kinestetik, yang selaras dengan berbagai gaya belajar mereka. Dengan adanya integrasi multimedia interaktif, siswa dapat lebih terlibat secara aktif dalam proses belajar, yang pada akhirnya meningkatkan kemampuan berpikir kritis mereka melalui pengamatan, analisis, evaluasi, dan sintesis informasi. Pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi, seperti SMA dan SMK efektivitas multimedia interaktif cenderung lebih besar dibandingkan pada jenjang yang lebih Hal ini terlihat dari nilai effect size yang mencapai kategori "tinggi" pada materi kompleks seperti larutan penyangga, hidrokarbon, dan teknologi perkantoran. Media interaktif seperti Articulate Storyline dan Canva yang diterapkan pada jenjang ini memberikan hasil yang lebih optimal karena siswa pada jenjang pendidikan ini memiliki kapasitas kognitif yang lebih matang untuk memanfaatkan fitur-fitur interaktif yang Di sisi lain, pada jenjang SMP dan SD, efektivitas multimedia interaktif masih berada pada kategori "sedang," meskipun tetap memberikan peningkatan yang signifikan dibandingkan metode pembelajaran tradisional. Materi seperti tata surya, gelombang bunyi, dan lingkungan menunjukkan bahwa multimedia interaktif dapat membantu siswa memahami konsep-konsep dasar dengan lebih baik, meskipun efeknya tidak sekuat pada materi kompleks di jenjang yang lebih tinggi. Hasil meta-analisis ini juga menunjukkan bahwa media interaktif yang dirancang secara spesifik untuk memenuhi kebutuhan siswa berdasarkan tingkat pendidikan dan karakteristik materi dapat meningkatkan keterlibatan siswa dalam pembelajaran. Sebagai contoh, pendekatan saintifik yang diterapkan dalam pengembangan Articulate Storyline untuk materi larutan penyangga memberikan efek yang signifikan terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa. Selain itu, penggunaan Canva dan PowerPoint interaktif untuk materi yang lebih aplikatif di SMK juga menunjukkan efektivitas yang tinggi, karena pendekatan ini mampu menghubungkan teori dengan praktik dunia nyata. Ini menegaskan pentingnya multimedia interaktif sebagai alat pembelajaran yang tidak hanya memfasilitasi pemahaman konsep tetapi juga membangun keterampilan analitis siswa yang lebih mendalam. Namun, terdapat beberapa tantangan yang perlu diperhatikan dalam implementasi multimedia interaktif ini. Salah satu kendala utama adalah ketersediaan infrastruktur teknologi dan kompetensi guru dalam mengintegrasikan teknologi ke dalam Selain itu, efektivitas multimedia interaktif juga bergantung pada desain media yang relevan, menarik, dan sesuai dengan kebutuhan siswa. Oleh karena itu, pengembangan multimedia interaktif harus didasarkan pada prinsip-prinsip pembelajaran yang berpusat pada siswa, dengan mengedepankan elemen interaktivitas, visualisasi, dan keterlibatan aktif siswa dalam proses belajar. Penelitian ini memberikan rekomendasi Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 6 No. 1 Januari 2025 Kuntoro Adi Juwanda. Andi Mariono. Alim Sumarno agar multimedia interaktif diintegrasikan lebih luas di berbagai jenjang pendidikan dan diterapkan secara adaptif sesuai dengan karakteristik materi dan kebutuhan siswa. Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa hasil meta-analisis ini menggarisbawahi pentingnya multimedia interaktif dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa, terutama di era digital yang menuntut penguasaan keterampilan abad Multimedia interaktif tidak hanya menjadi alat bantu pembelajaran, tetapi juga menjadi katalisator untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih bermakna dan Dengan mengoptimalkan potensi teknologi ini, institusi pendidikan dapat mendorong siswa untuk menjadi pembelajar yang aktif, kritis, dan adaptif, sehingga mampu menghadapi tantangan dunia yang semakin kompleks. Temuan ini juga menjadi dasar bagi pengembangan kebijakan pendidikan yang mendukung inovasi teknologi dalam pembelajaran untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. KESIMPULAN Berdasarkan hasil meta-analisis penelitian ini menyimpulkan bahwa pengembangan multimedia interaktif memiliki pengaruh signifikan dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa di berbagai jenjang pendidikan. Secara keseluruhan, nilai effect size yang diperoleh menunjukkan efektivitas yang bervariasi tergantung pada jenis media yang digunakan, jenjang pendidikan, dan materi pembelajaran. Media interaktif seperti Articulate Storyline, aplikasi SIPEDA. Canva, dan PowerPoint interaktif memberikan kontribusi besar dalam menciptakan pembelajaran yang berpusat pada Jenjang pendidikan yang lebih tinggi, seperti SMA dan SMK, cenderung menunjukkan efektivitas yang lebih besar dengan nilai effect size yang masuk dalam kategori "tinggi," terutama pada materi-materi kompleks seperti larutan penyangga dan teknologi perkantoran. Sementara itu, jenjang SMP dan SD menunjukkan efektivitas dalam kategori "sedang," dengan peningkatan signifikan pada pemahaman konsep dasar dan kemampuan berpikir kritis melalui materi seperti tata surya dan gelombang bunyi. Penelitian ini juga mencapai tujuan utamanya, yaitu memberikan gambaran komprehensif tentang efektivitas pengembangan multimedia interaktif dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Melalui analisis dua belas artikel terpilih, penelitian ini berhasil mengidentifikasi tren penggunaan media interaktif, perbedaan efektivitas berdasarkan jenjang pendidikan, dan karakteristik materi yang paling sesuai dengan pendekatan ini. Penelitian ini menegaskan bahwa multimedia interaktif efektif digunakan untuk merangsang keterlibatan siswa, meningkatkan kemampuan analisis, dan membangun keterampilan berpikir kritis. Dengan demikian, temuan ini memberikan kontribusi signifikan bagi pengembangan kebijakan pendidikan yang mendukung integrasi teknologi dalam pembelajaran. Penelitian ini juga merekomendasikan pengembangan lebih lanjut pada desain multimedia yang disesuaikan dengan kebutuhan siswa dan materi, serta pelatihan guru untuk memastikan implementasi teknologi yang optimal dalam mendukung pembelajaran yang bermakna. Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 6 No. 1 Januari 2025 Meta Analisis Pengembangan Multimedia Interaktif untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa DAFTAR PUSTAKA