Volume: 22 Nomor 2. September 2024 P-ISSN: 1693-0762 E-ISSN: 2599-3518 PELESTARIAN BUDAYA TENUN IKAT DAYAK MELALUI KADERISASI KAUM MUDA DI KABUPATEN SINTANG Paulus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Kapuas Sintang. Jl. Oevang Oeray Sintang No. 92 Sintang. Indonesia, email: paulus_semari@yahoo. Abstract: Tenun Ikat, as an important cultural heritage of the Dayak community in Sintang District. West Kalimantan, reflects the cultural and philosophical identity of the local community. However, the growth of globalization and the lack of interest of younger generations in the bonding culture put the art of tenun a barrier to its preservation. The study emphasizes the importance of young people's charisma in preserving Sintang's tenun ikat. This kaderization includes education and training programmes, cultural promotion campaigns, and economic empowerment through the formation of co-operatives or joint venture The educational programmes may include workshops with senior craftsmen which can be facilitated by the Sintang District Government. Promotions can use social media and cultural activities to increase young people's appreciation of their heritage. To maintain the relevance of tenun ikat in the contemporary market, young artisans acquire business and marketing skills through economic Hopefully through this effort, the younger generation will be the keepers of tradition and also the innovators who can cultivate and bring the bandage to the global stage. In an era of globalization and modernization, the kaderisation of young people is a strategic spearhead for ensuring the sustainability of weaving and strengthening cultural identities. Keywords: Preservation. Culture. Tenun Ikat. Abstrak: Tenun ikat, sebagai warisan budaya penting dari masyarakat Dayak di Kabupaten Sintang. Kalimantan Barat, mencerminkan identitas budaya dan filosofis masyarakat setempat. Namun, pertumbuhan globalisasi dan kurangnya minat generasi muda terhadap budaya tenun ikat menempatkan seni tenun ikat menjadi hambatan dalam pelestariannya. kajian ini menekankan betapa pentingnya kaderisasi kaum muda untuk mempertahankan tenun ikat Sintang. Kaderisasi ini mencakup program pendidikan dan pelatihan, kampanye promosi budaya, dan pemberdayaan ekonomi melalui pembentukan koperasi atau kelompok usaha Program pendidikan dapat mencakup workshop bersama pengrajin senior yang dapat difasilitasi oleh pmerintah daerah Kabupaten Sintang. Promosi-promosi dapat menggunakan media sosial dan kegiatan budaya untuk meningkatkan rasa terima kasih kaum muda terhadap warisan mereka. Untuk menjaga relevansi produk tenun ikat di pasar kontemporer, pengrajin muda memperoleh keterampilan bisnis dan pemasaran melalui pemberdayaan ekonomi. Diharapkan melalui upaya ini, generasi muda akan menjadi penjaga tradisi dan juga inovator yang dapat melestarian dan membawa tenun ikat ke panggung global. Pada era globalisasi dan modernisasi, kaderisasi kaum muda merupakan ujung tombak strategis untuk memastikan keberlanjutan seni tenun ikat dan memperkuat identitas budaya. Kata Kunci: Pelestrian. Budaya. Tenun Ikat. FOKUS: Publikasi Ilmiah untuk Mahasiswa. Staf Pengajar dan Alumni Universitas Kapuas Sintang Volume: 22 Nomor 2. September 2024 PENDAHULUAN Tenun ikat adalah bagian penting dari kehidupan masyarakat Dayak di Kabupaten Sintang. Kalimantan Barat. Kain tenun ikat lebih dari sekadar kain. ia memiliki makna yang mendalam yang mencerminkan identitas budaya, sejarah, dan kepercayaan religius masyarakat Dari generasi ke generasi, setiap motif yang diukir pada kain tenun ini memiliki kisah dan filosofi unik. Namun, waktu dan arus globalisasi, minat generasi muda terhadap tenun ikat tradisional mulai berkurang. Banyak dari mereka lebih tertarik pada gaya mengabaikan warisan budaya lokal. Hal ini diperparah oleh fakta bahwa kaum muda tidak cukup dididik dan mempertahankan budaya tenun ikat. Akibatnya, sangat sulit bagi pengrajin tenun ikat yang sudah lanjut usia untuk menemukan penerus yang dapat melanjutkan pekerjaan ini. Kondisi ini menempatkan tenun ikat sebagai warisan budaya yang kaya dan unik di ambang kehancuran. Tidak menutup kemungkinan bahwa seni tenun ikat ini akan punah di masa depan jika tidak ada upaya yang serius untuk Oleh karena itu, perlu ada tindakan nyata untuk memastikan keterampilan dan seni tenun ikat dapat diwariskan kepada generasi berikutnya. Kaderisasi kaum muda adalah salah satu pendekatan yang dianggap berhasil. Untuk memastikan pelestarian dikaderisasi dengan berbagai cara. P-ISSN: 1693-0762 E-ISSN: 2599-3518 Pertama, melalui program pelatihan dan Dengan memasukkan materi tentang tenun ikat ke dalam kurikulum mereka, sekolah dan lembaga pendidikan lokal dapat memainkan peran penting. Selain itu, para peserta muda dapat memperoleh pengalaman langsung melalui workshop dan kursus singkat yang melibatkan pengrajin tenun ikat senior sebagai Kedua, melalui program promosi dan apresiasi budaya yang mendorong generasi muda untuk belajar lebih kekayaan budaya mereka sendiri. Media sosial dan platform digital dapat digunakan untuk menarik minat kaum muda terhadap tenun ikat. Pameran, festival budaya, dan kompetisi desain motif tenun ikat adalah beberapa contoh acara yang dapat melibatkan mereka secara aktif. Ketiga, pemberdayaan ekonomi melalui pembentukan kelompok usaha bersama atau koperasi di kalangan kaum muda yang bekerja dalam tenun ikat. Dengan cara ini, mereka tidak hanya memperoleh keterampilan teknis dalam menenun, tetapi juga memperoleh pengetahuan tentang aspek bisnis dan pemasaran produk. Untuk menjamin tenun ikat tetap relevan dan kompetitif di pasar modern, baik lokal maupun internasional, ini penting. Dengan melibatkan kaum muda dalam pelestarian tenun ikat, kita tidak hanya menjaga tradisi ini tetap hidup, tetapi juga memberi ruang untuk inovasi FOKUS: Publikasi Ilmiah untuk Mahasiswa. Staf Pengajar dan Alumni Universitas Kapuas Sintang Volume: 22 Nomor 2. September 2024 dan perubahan yang diperlukan untuk memastikan bahwa seni tenun ini akan tetap ada di masa depan. Untuk membangun generasi yang sadar dan bangga akan warisan budaya mereka pengembang tradisi tenun ikat di Kabupaten Sintang. Smith . 5 : . , menyatakan bahwa "Pelestarian warisan budaya lokal membutuhkan partisipasi aktif dari generasi muda, karena mereka adalah penerus yang akan membawa nilai-nilai tersebut ke masa depanAy. Generasi muda merupakan generasi penerus untuk melestarikan suatu budaya, oleh karena itu kepedulian generasi muda dituntut untuk dapat memberikan kontribusi bagi pelestarian adat istiadat. Jones dan Brown . 6 : . , menekankan bahwa "Kaderisasi generasi muda dalam memperkuat identitas budaya dan mendorong inovasi dalam praktik Kaderisasi generasi muda harus dilakukan oleh berbagai pihak agar potensi generasi muda dapat digali dan diaktifkan dengan optimal. Nguyen . 7 : . , menyatakan bahwa "Edukasi dan pelatihan formal sangat penting tradisional kepada generasi muda, untuk menjaga keberlanjutan budaya. " Agar dapat dikembangkan potensi yang ada pada generasi muda maka perlu dilakukan program pendidikan dan latihan yang dirancang dengan baik oleh stakeholder terkait seperti pemerintah daerah, lembaga swadaya masyarakat. P-ISSN: 1693-0762 E-ISSN: 2599-3518 kelompok pengrajin tenun ikat, dan para pemerhati budaya. Selain itu, pelestarian budaya yang berkaitan dengan kemampuan daya cipta sebagai mana produk tenun ikat dayak, harus diberikan pemahaman sejak dini oleh orang tua kepada anaknya atau generasi muda tentang pentingnya produk tersebut untuk Martinez . 0 : . Menyoroti bahwa "Peran mentor dari generasi tua sangat penting dalam proses kaderisasi untuk memastikan transfer pengetahuan dan keterampilan yang otentik. " Transfer pengetahuan dan keterampilan dari generasi tua kepada keberlanjutan tradisi ini. Menurut Lee . 8 : . , bahwa pengenalan lebih banyak tentang budaya dapat juga melalui "Kampanye promosi budaya yang menggunakan media digital sehingga dapat meningkatkan kesadaran dan minat kaum muda terhadap warisan budaya mereka. Ahmed . 6 : . berpendapat bahwa "Melibatkan kaum muda dalam kegiatan budaya lokal dapat membangun rasa kebanggaan dan identitas yang kuat terhadap warisan budaya mereka. Pelibatan kaum muda dalam seni budaya dapat dilakukan secara informal melalui kelompok-kelompok pengrajin di daerah-daerah, mereka diajak untuk ambil bagian dalam proses pembuatan kerajin kain tenun ikat. Selain itu pengembangan usaha kerajinan dapat juga difasilitasi dari koperasi yang dibentuk pemerintah ataupun pihak swasta yang fokus dalam pelestarian dan FOKUS: Publikasi Ilmiah untuk Mahasiswa. Staf Pengajar dan Alumni Universitas Kapuas Sintang Volume: 22 Nomor 2. September 2024 Yamamoto . 7 : . , menyatakan bahwa "Kolaborasi antara pemerintah, komunitas, dan lembaga pendidikan pelestarian budaya dalam program " Kumar . 9 : . , "Pendidikan berbasis proyek yang melibatkan pembuatan produk kerajinan tradisional praktis dan pemahaman budaya di kalangan siswa. " Melalui program MBKM (Merdeka Belajar Kampus Merdek. dapat dipilih oleh para mahasiswa sebagai generasi muda Sukardi . 5 : . Aumenekankan pentingnya pendidikan seni tradisional dalam pelestarian budaya. Menurutnya, pendidikan seni yang melibatkan elemen budaya lokal, seperti tenun ikat, dapat menanamkan rasa bangga dan identitas budaya pada generasi muda, sekaligus memastikan bahwa keterampilan dan pengetahuan ini tidak hilang seiring waktuAy. Garcia . 9 : . menyatakan bahwa "Pemberdayaan ekonomi melalui koperasi dapat memberikan insentif bagi kaum muda untuk terlibat dalam pelestarian budaya tradisional. " Pihak pengembangan usaha kerajinan tenun Santosa . 7 : . Aumodel koperasi dapat memberikan dukungan dibutuhkan oleh pengrajin, sehingga memungkinkan mereka untuk lebih P-ISSN: 1693-0762 E-ISSN: 2599-3518 mandiri dan menjaga kelangsungan hidup dari tradisi tenun ikatAy. Koentjaraningrat Aumenekankan bahwa kebudayaan tradisional, termasuk seni dan kerajinan seperti tenun ikat, merupakan bagian integral dari identitas nasional yang harus dijaga. Koentjaraningrat berpendapat bahwa budaya lokal dapat memperkaya kehidupan masyarakat dan menjadi aset berharga di tengah arus globalisasiAy. Hal ini dipertegas oleh Hadi. 7 : . , menekankan bahwa pendidikan adalah kunci dalam melestarikan budaya lokal. Sekolah dan lembaga pendidikan harus mengintegrasikan elemen-elemen budaya tradisional dalam kurikulumnya, sehingga generasi muda dapat mengenal, memahami, dan menghargai warisan budaya merekaAy. METODE PENELITIAN Penelitian pendekatan kualitatif dengan tujuan untuk memahami secara mendalam proses pelestarian budaya tenun ikat Dayak di Kabupaten Sintang melalui Desain penelitian adalah deskriptif eksploratif. Penelitian dilakukan di Kabupaten Sintang. Kalimantan Barat. Indonesia. Subjek penelitian meliputi pengrajin tenun ikat, pemimpin komunitas, pemuda yang terlibat dalam pelestarian budaya, serta perwakilan dari lembaga Teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Data yang diproleh dilakukan proses analisis data yang terdiri dari deduksi, penyajian, dan FOKUS: Publikasi Ilmiah untuk Mahasiswa. Staf Pengajar dan Alumni Universitas Kapuas Sintang Volume: 22 Nomor 2. September 2024 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Kesadaran Budaya Kaum Muda Remaja Kabupaten Sintang menunjukkan minat yang meningkat terhadap budaya lokal, terutama tenun Hal ini didorong oleh program diadakan oleh pemerintah lokal dan komunitas yang bertujuan untuk memperkenalkan nilai-nilai budaya dan teknik tenun ikat. Banyak pemuda yang mengikuti pelatihan ini menyatakan rasa memiliki dan kebanggaan terhadap budaya mereka. Program Kaderisasi Generasi Muda Terbukti kaderisasi yang melibatkan kaum muda dalam belajar dan praktik tenun ikat Program-program melibatkan peserta dalam belajar teknik menenun tradisional serta pengetahuan tentang nilai-nilai sejarah dan budaya yang terkait dengan tenun ikat, yang meningkatkan pengetahuan peserta dan memperkuat identitas budaya mereka. Dukungan Pemerintah dan pihak-Pihak yang mendukung pelestarian Budaya untuk mempertahankan tenun ikat, dukungan dari pemerintah daerah pariwisata dan komunitas lainnya sangat pemerintah telah mendukung melalui pembiayaan, promosi, dan penyelenggaraan acara budaya yang menampilkan seni tenun ikat. selain itu, komunitas lokal, termasuk pengrajin senior dan organisasi kebudayaan, serta Koperasi yang khusus mengelola kerajinan tenun ikat membantu dalam program kaderisasi. Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat P-ISSN: 1693-0762 E-ISSN: 2599-3518 Pelestarian Kabupaten Sintang memperkuat ekonomi masyarakat lokal. Keterampilan menenun yang dipelajari oleh kaum muda meninggalkan warisan budaya dan peluang ekonomi. Banyak pendidikan saat ini terlibat dalam pembuatan dan pemasaran tenun ikat, baik secara lokal maupun melalui Mereka meningkatkan kualitas hidup mereka dan menghasilkan lebih banyak uang dengan cara ini. Program koperasi yang harga produk yang lebih adil dan mengakses pasar yang lebih luas. Inovasi Produk Tenun Ikat Selain unsur pelestarian, inovasi dalam desain dan adaptasi terhadap perhatian utama. Banyak pengrajin muda mencoba motif baru yang menggabungkan elemen modern dan Ini membuat tenun ikat lebih menarik bagi konsumen terutama konsumen dari kalangan kaum muda. Penggunaan teknologi digital dalam promosi dan pemasaran. Penggunaan ecommerce dan media sosial telah memperluas pasar produk tenun ikat, membuka peluang baru di pasar lokal. Tantangan dan Kendala Terlepas dukungan, beberapa masalah masih ada. Kendala utama adalah kurangnya minat dari sebagian pemuda yang lebih tertarik pada teknologi modern dan budaya Biaya tinggi untuk bahan baku alami yang digunakan dalam pembuatan FOKUS: Publikasi Ilmiah untuk Mahasiswa. Staf Pengajar dan Alumni Universitas Kapuas Sintang Volume: 22 Nomor 2. September 2024 tenun ikat juga merupakan masalah yang dihadapi dalam pengembangan dan pelestarian budaya, khususnya tenun ikat dayak Kabupaten Sintang. Pelestarian tradisi tenun ikat di Kabupaten Sintang menunjukkan bahwa keterlibatan kaum muda sangat penting Program menggabungkan pelatihan teknis dan pendidikan budaya dapat meningkatkan minat dan keterampilan kaum muda. Dengan menyediakan sumber daya dan peluang untuk belajar dan pemerintah dan komunitas lokal dapat memperkuat upaya pelestarian budaya tenun ikat dayak Kabupaten Sintang. Untuk pelestarian budaya memerlukan upaya dan kerja sama dari berbagai Namun, solusi yang lebih inovatif perubahan minat kaum muda dan masalah ekonomi. Inovasi dalam desain dan pemasaran dapat membantu memperluas pasar produk tenun ikat. Selain itu, untuk mengatasi dominasi kampanye kesadaran budaya harus KESIMPULAN DAN SARAN Pelestarian budaya tenun ikat Dayak di Kabupaten Sintang dengan melibatkan kaum muda telah berjalan dengan baik. Keterlibatan aktif kaum muda dalam pelatihan dan praktik tenun ikat dapat meneruskan warisan budaya dan memberdayakan generasi muda. Program kaderisasi dan promosi budaya P-ISSN: 1693-0762 E-ISSN: 2599-3518 ini sangat digerakkan oleh dukungan dari lembaga pendidikan, komunitas lokal, dan pemerintah. Teknologi digital baru telah membuat pasar tenun ikat lebih menarik dan relevan bagi generasi Kehadiran pendidikan berbasis budaya kebanggaan siswa terhadap warisan budaya mereka. Namun, masalah yang masih dihadapi adalah pergeseran minat kaum muda yang dipengaruhi oleh gaya hidup lebih pada penggunaan media sosial untuk hal-hal yang hanya untuk hiburan semata. Saran yang dapat disampaikan adalah Program kaderisasi perlu diperluas dan ditingkatkan untuk mencakup lebih banyak pemuda. Pemerintah dan komunitas lokal dapat bekerja sama untuk menyediakan lebih banyak pelatihan dan dukungan bagi para pengrajin muda. DAFTAR PUSTAKA