A AL-MUSTAQBAL: Jurnal Agama Islam Volume. Nomor. 4 November 2025 e-ISSN: 3064-0970, p-ISSN: 3064-1519. Hal 208-219 DOI: https://doi. org/10. 59841/al-mustaqbal. Tersedia: https://ibnusinapublisher. org/index. php/AL-MUSTAQBAL Sejarah dan Perkembangan Ilmu Kalam Muhammad Fadhiil1*. Moh. Restu Hoeruman2 Prodi Pendidikan Agama Islam. Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan. Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang. Indonesia Email: m. fadhiil2701@gmail. com1*, mohrestu@radenfatah. *Penulis korespondensi: m. fadhiil2701@gmail. Abstract. This study aims to review the historical development of theology from the classical period to the contemporary period and its relationship with Islamic theological thought in the modern era. Theology plays an important role as a basis for understanding the creed and an intellectual response to the challenges of thought in every period of Islamic history. This study uses a qualitative approach with a literature study method on ten major scientific works that discuss the development of Islamic theology. Data were collected through document review and analyzed using descriptive-analytical techniques to trace the evolution of theological thought. The results show that theology of theology experienced three main phases of development: the classical period which emphasized rational defense of faith, the medieval period which combined reason and revelation in theological thought, and the modern period which focused on the issue of pluralism and contemporary socio-religious This study concludes that Islamic theology is a dynamic discipline and continues to adapt to the intellectual and social contexts of each era. Keywords: Contemporary Thought. Development of Thought. Islamic History. Islamic Theology. Kalam Science Abstrak. Penelitian ini bertujuan mengulas untuk perkembangan sejarah Ilmu Kalam dari masa klasik sampai masa kontemporer serta keterkaitannya dengan pemikiran teologi Islam pada era modern. Ilmu Kalam memiliki peran penting sebagai dasar pemahaman akidah dan respons intelektual terhadap tantangan pemikiran dalam setiap periode sejarah Islam. Penelitian ini menggunakan pendekatan Kualitatif dengan metode studi literatur terhadap sepuluh karya Ilmiah utama yang membahas perkembangan teologi Islam. Data dikumpulkan melalui telaah dokumen dan dianalisis dengan teknik deskriptif-analitis untuk menelusuri evolusi pemikiran teologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ilmu Kalam mengalami tiga fase perkembangan utama: masa klasik yang menekankan pembelaan iman secara rasional, masa pertengahan yang memadukan akal dan wahyu dalam pemikiran teologi, serta masa modern yang berfokus pada isu pluralisme dan tantangan sosial-keagamaan Penelitian ini menyimpulkan bahwa teologi Islam merupakan displin ilmu yang bersifat dinamis dan terus beradaptasi dengan konteks intelektual dan sosial di setiap masa. Kata kunci: Ilmu Kalam. Pemikiran Kontemporer. Perkembangan Pemikiran. Sejarah Islam. Teologi Islam LATAR BELAKANG Ilmu Kalam merupakan salah satu cabang ilmu keislaman yang memiliki posisi sentral dalam sejarah intelektual Islam, karena berfungsi menjaga kemurnian akidah dan menegakkan dasar teologis umat. Secara etimologis, kalam berarti AupembicaraanAy atau AudialogAy, yang dalam konteks teologis menunjuk pada upaya rasional untuk menjelaskan dan mempertahankan keyakinan Islam dari berbagai tantangan internal maupun eksternal. Dalam sejarahnya. Ilmu Kalam muncul sebagai respons terhadap dinamika sosial-politik yang melanda umat Islam pasca wafatnya Rasulullah AA, terutama setelah peristiwa fitnah kubra, perang Jamal, dan perang Shiffin, yang memunculkan persoalan teologis tentang iman, dosa besar, dan takdir manusia (Yanti Naimah et al. , 2. Pada fase awal, perdebatan politik berubah menjadi diskursus teologis yang melahirkan berbagai aliran pemikiran seperti Khawarij. Qadariyah. Jabariyah, dan MurjiAoah, masingNaskah Masuk: 17 September 2025. Revisi: 21 Oktober 2025. Diterima: 28 November 2025. Terbit: 30 November 2025 Sejarah dan Perkembangan Ilmu Kalam masing dengan pandangan yang ekstrem dalam memahami hubungan antara iman, amal, dan dosa (Muhammad Zakir Hasibuan & Sapri Sapri, 2. Dari ketegangan ini kemudian muncul aliran moderat yang dikenal sebagai Ahlussunnah wal JamaAoah, dipelopori oleh dua tokoh besar. Abu al-Hasan al-AsyAoari . 324 H) dan Abu Mansur al-Maturidi . 333 H), yang berusaha menyeimbangkan antara dalil naqli dan Aoaqli dalam membangun teologi Islam(Putri et al. , 2. Pemikiran mereka menjadi pondasi bagi apa yang kemudian dikenal sebagai arus utama teologi Islam yang moderat dan inklusif, sebagaimana diuraikan oleh Hasibuan & Sapri . bahwa keseimbangan antara akal dan wahyu menjadi kunci harmoni pemikiran Islam sepanjang sejarah (Muhammad Zakir Hasibuan & Sapri Sapri, 2. Ilmu Kalam mencapai masa kejayaan pada periode Dinasti Abbasiyah, ketika gerakan penerjemahan besar-besaran terhadap karya-karya filsafat Yunani melahirkan pertemuan antara rasionalitas dan iman. Dalam konteks ini, pemikir seperti Al-Kindi. Al-Farabi. Ibnu Sina, dan Al-Ghazali berperan penting dalam mengintegrasikan kalam, filsafat, dan tasawuf sebagai tiga pendekatan yang berbeda namun saling melengkapi dalam memahami Tuhan dan eksistensi manusia (Khasanah Uswatun, 2. Masa ini menandai lahirnya Auteologi rasional IslamAy yang tidak hanya berfungsi mempertahankan akidah, tetapi juga mengembangkan tradisi intelektual Islam yang meluas ke bidang sains dan filsafat (Yanti Naimah et al. , 2. Di sisi lain, muncul pula aliran MuAotazilah, yang menekankan peran akal dalam memahami agama. Mereka mengembangkan prinsip-prinsip seperti keadilan Tuhan, kebebasan kehendak manusia, dan rasionalitas wahyu (Assakinah, 2. Namun dominasi rasionalitas ini mendapat kritik tajam dari kalangan AsyAoariyah yang menilai bahwa akal tidak dapat berdiri sendiri tanpa bimbingan wahyu. Pertarungan intelektual antara dua kutub ini melahirkan dinamika teologis yang kaya, sebagaimana dijelaskan oleh Nurul Hidayah . , bahwa perbedaan metodologis ini justru memperluas horizon pemikiran Islam dari teologi defensif menuju teologi dialogis (Nurul Hidayah & Diah Novita Fardani, 2. Perkembangan Ilmu Kalam tidak terhenti pada masa klasik. Di era modern, muncul pemikir seperti Ahmad Hanafi. Harun Nasution, dan Amin Abdullah yang berupaya merevitalisasi Ilmu Kalam agar relevan dengan konteks kontemporer. Hanafi memperkenalkan istilah Teologi Islam sebagai padanan modern dari Ilmu Kalam, dengan menggunakan pendekatan historis-komparatif yang menggabungkan antara kalam klasik, filsafat, dan tradisi Barat (Mukhlis, 2. Ia menegaskan bahwa teologi Islam harus bersifat rasional dan terbuka terhadap perkembangan zaman, serta membandingkan pandangan Islam dengan tradisi teologi Yahudi dan Kristen sebagai bentuk perluasan wacana ilmiah (Mukhlis, 2. Sementara itu. AL-MUSTAQBALAe VOLUME. NOMOR. 4 NOVEMBER 2025 e-ISSN: 3064-0970, p-ISSN: 3064-1519. Hal 208-219 Amin Abdullah mendorong terjadinya rekonstruksi teologi Islam melalui paradigma integratifinterkonektif yang menghubungkan teologi, ilmu sosial, dan kemanusiaan (Abdullah, 2. Kajian-kajian kontemporer lainnya juga menunjukkan bahwa Ilmu Kalam memiliki peran strategis dalam mengatasi problem sosial modern, seperti pluralisme, ekstremisme, dan krisis kemanusiaan. Nurul Fajri Assakinah . menegaskan bahwa asal-usul ilmu kalam tidak semata bersumber dari perdebatan internal umat Islam, tetapi juga hasil interaksi dengan pemikiran lintas agama yang memperkaya tradisi intelektual Islam(Assakinah, 2. Sedangkan Amat Zuhri . menyoroti perlunya Ilmu Kalam dibangun di atas landasan filsafat ilmu agar mampu menjawab persoalan kebenaran dan relevansi teologi di masa kini. Dengan demikian. Ilmu Kalam mengalami evolusi dari teologi apologetik menuju teologi kritis dan kontekstual. Jika pada masa klasik ia berfungsi mempertahankan akidah dari serangan eksternal, maka pada masa modern Ilmu Kalam menjadi sarana dialog antaragama dan pemikiran lintas disiplin. Transformasi ini mencerminkan semangat Islam yang dinamis dan terbuka terhadap perubahan zaman, sebagaimana ditegaskan oleh berbagai penelitian dari masa Dinasti Abbasiyah hingga era akademik kontemporer Indonesia bahwa teologi Islam yang hidup adalah teologi yang mampu berdialog dengan akal, realitas sosial, dan kemajuan ilmu pengetahuan. Namun. Sebagian besar penelitian sebelumnya hanya berfokus pada salah satu periode perkembangan Ilmu Kalam, baik klasik maupun modern, sehingga belum banyak kajian yang memetakan secara komprehensif kesinambungan historis antara keduanya. Selain itu, relevansi Ilmu Kalam terhadap isu-isu kontemporer masih sering diposisikan secara parsial dan belum dianalisis dalam satu kerangka teori yang utuh. Oleh karena itu, diperlukan kajian yang dapat menjelaskan evolusi Ilmu Kalam dari masa awal higga masa modern sekaligus menegaskan kontribusinya dalam menjawab persoalan teologis umat Islam saat ini. Berdasrkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perkembangan sejarah Ilmu Kalam dari masa klasik hingga kontemporer serta menjelaskan relevansinya bagi pemikiran teologi Islam modern. KAJIAN TEORITIS Ilmu Kalam merupakan disiplin teologi Islam yang lahir dari dialektika sejarah, sosial, dan intelektual umat Islam. Ia muncul sebagai respons terhadap problem keagamaan dan politik yang timbul pasca wafatnya RasulullahAA, terutama menyangkut persoalan kepemimpinan, dosa besar, dan keadilan Ilahi (Putri et al. , 2. Pada tahap awal. Ilmu Kalam berfungsi mempertahankan kemurnian akidah Islam dari penyimpangan aliran-aliran seperti Sejarah dan Perkembangan Ilmu Kalam Khawarij. Qadariyah. Jabariyah, dan MurjiAoah (Karo-karo et al. , 2. Dari konteks ini, terlihat bahwa kemunculan Ilmu Kalam merupakan jawaban historis terhadap pergolakan sosial dan ideologis umat Islam, sekaligus bentuk rasionalisasi iman agar tidak terjebak pada dogmatisme semata (Assakinah, 2. Pada masa Dinasti Abbasiyah. Ilmu Kalam mencapai puncak kejayaan intelektualnya. Perjumpaan antara teologi Islam dan filsafat Yunani melalui lembaga Baitul Hikmah melahirkan tradisi rasionalisme yang kuat dalam Islam (Yanti Naimah et al. , 2. Tokohtokoh seperti Al-Kindi. Al-Farabi, dan Ibnu Sina mengembangkan argumentasi metafisis untuk menjelaskan eksistensi Tuhan (Khasanah Uswatun, 2. , sedangkan Al-Ghazali mengintegrasikan rasionalitas dengan spiritualitas (Putri et al. , 2. Perdebatan antara MuAotazilah dan Ahlussunnah wal JamaAoah memperkaya struktur berpikir teologis Islam, menunjukkan bahwa Ilmu Kalam merupakan arena intelektual yang dinamis dan produktif, di mana akal dan wahyu berinteraksi secara harmonis untuk memahami kebenaran (Anwar & Basri, 2. Secara epistemologis. Ilmu Kalam memiliki karakter unik karena menggabungkan tiga dimensi kebenaran: wahyu, akal, dan realitas sosial. Ia berangkat dari keyakinan bahwa kebenaran agama tidak dapat dilepaskan dari rasionalitas manusia dan kemaslahatan Amat Zuhri dan Miftahul Ula menegaskan bahwa Ilmu Kalam menempati posisi istimewa dalam filsafat ilmu Islam karena mengajarkan cara berpikir logis, kritis, dan etis (M. Fikrul Fahmy Ali & M. Yunus Abu Bakar, 2. Oleh karena itu. Ilmu Kalam tidak berhenti sebagai ilmu dogmatis, melainkan menjadi ilmu reflektif dan aplikatif yang menghubungkan keimanan dengan kehidupan sosial (Syafii, 2. Pandangan Syafii dan M. Amin Abdullah memperkuat hal ini dengan menekankan pentingnya teologi praksis dan paradigma integratif-interkonektif yang membuka dialog antara agama, sains, dan kemanusiaan (Abdullah, 2. Dalam konteks modern dan kontemporer. Ilmu Kalam mengalami rekonstruksi menjadi Teologi Islam yang terbuka dan lintas disiplin. Melalui pemikiran Ahmad Hanafi. Ilmu Kalam dikembangkan menjadi teologi rasional-komparatif yang mampu berdialog dengan tradisi keagamaan lain tanpa kehilangan esensi tauhid (Mukhlis, 2. Di era sains dan globalisasi. Ilmu Kalam berperan penting dalam menjembatani agama dan ilmu pengetahuan modern, sebagaimana disoroti dalam artikel Ilmu Kalam dalam Menjawab Tantangan Modernitas dan Sains (Nabilah et al. , 2. Paradigma ini memperlihatkan bahwa Islam tidak menolak modernitas, tetapi menuntut agar modernitas dimaknai secara teologis, etis, dan humanistik. AL-MUSTAQBALAe VOLUME. NOMOR. 4 NOVEMBER 2025 e-ISSN: 3064-0970, p-ISSN: 3064-1519. Hal 208-219 Selain dimensi epistemologis dan historis. Ilmu Kalam juga memiliki relevansi sosial yang kuat. Nurul Hidayah. Amin Abdullah, dan Muhammad Zakir Hasibuan menegaskan bahwa Ilmu Kalam modern berfungsi membangun moderasi beragama dan etika sosial umat Islam (Nurul Hidayah & Diah Novita Fardani, 2. Dengan mengintegrasikan akal dan wahyu. Ilmu Kalam mampu menolak ekstremisme, intoleransi, dan fanatisme, serta menumbuhkan kesadaran kemanusiaan universal. Dalam konteks ini. Ilmu Kalam tidak lagi terbatas pada wacana ketuhanan, tetapi juga menjadi ilmu kemanusiaan yang mengarahkan manusia untuk berbuat adil, berfikir kritis, dan berakhlak mulia (Muhammad Zakir Hasibuan & Sapri Sapri, 2. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa sejarah dan perkembangan Ilmu Kalam menunjukkan perjalanan panjang transformasi intelektual Islam Ai dari teologi apologetik menuju teologi dialogis dan praksis. dari sistem dogma menuju disiplin ilmiah yang rasional. dan dari wacana internal ke ruang publik yang universal. Ilmu Kalam membuktikan bahwa Islam adalah agama yang menghargai akal, mengedepankan keadilan, dan terbuka terhadap perubahan zaman tanpa kehilangan akar spiritualnya. Oleh karena itu. Ilmu Kalam tetap relevan untuk dijadikan dasar pengembangan ilmu, etika, dan peradaban Islam di masa kini dan masa depan. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka. Pendekatan ini dipilih karena penelitian ini fokus pada pemahaman konseptual dan sejarah perkembangan Ilmu Kalam, bukan pada fenomena yang diamati di lapangan. Sumber data terdiri atas buku, jurnal ilmiah, artikel akademik, dan dokumen digital yang membahas pemikiran teologi Islam dari masa klasik hingga kontemporer. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui dokumentasi, yaitu mengidentifikasi, memilih, dan mengumpulkan literatur yang relevan (Annur, 2018. Ibrahim et al. , 2. Analisis data mengunakan teknik deskriptif-analitis, yaitu mendeskripsikan isi literatur secara sistematis, kemudian menganalisis makna dan relevansi teologisnya terhadap konteks pemikiran Islam modern. Prosedur penelitian dilakukan melalui empat tahap: . pengumpulan data literatur, . reduksi data untuk memilih sumber yang relevan, . penyajian data (Ibrahim et al. , 2023. Sugiyono, 2. , dengan mengklasifikasi perkembangan Ilmu kalam berdasarkan periodisasi historis, . penarikan kesimpulan mengenai relevansi Ilmu Kalam dalam teologi kontemporer. Sejarah dan Perkembangan Ilmu Kalam HASIL DAN PEMBAHASAN Latar Historis dan Dinamika Awal Kemunculan Ilmu Kalam Ilmu Kalam lahir sebagai respons terhadap dinamika sosial, politik, dan keagamaan yang melanda umat Islam pasca wafatnya Rasulullah AA. Pada masa Khulafaur Rasyidin, terutama setelah peristiwa fitnah kubra, terjadi berbagai perdebatan terkait legitimasi kekuasaan dan konsep keimanan yang memunculkan dampak teologis besar. Delia Putri dkk. menegaskan bahwa Ilmu Kalam pada awalnya tumbuh dari pergulatan internal umat Islam untuk menjawab persoalan tentang dosa besar, takdir, dan keadilan Tuhan (Putri et al. , 2. Konflik politik tersebut kemudian berkembang menjadi konflik intelektual, di mana persoalan iman dan amal menjadi bahan diskusi rasional. Dari konteks inilah muncul berbagai aliran awal seperti Khawarij. MurjiAoah. Qadariyah, dan Jabariyah, yang menandai fase embrional lahirnya Ilmu Kalam. Aliran Khawarij menjadi pelopor perdebatan teologis pertama dalam Islam. Menurut artikel Aliran Khawarij dalam Perspektif Ilmu Kalam, kelompok ini menilai bahwa pelaku dosa besar keluar dari Islam dan dianggap kafir, sementara kaum MurjiAoah menunda penilaian iman seseorang hingga akhirat (Karo-karo et al. , 2. Sementara itu. Qadariyah menekankan kebebasan manusia dalam menentukan nasibnya, berseberangan dengan Jabariyah yang menilai segala sesuatu sudah ditentukan sepenuhnya oleh Tuhan. Perbedaan-perbedaan ini menunjukkan bahwa Ilmu Kalam bukan sekadar wacana teologis, tetapi juga respons sosial atas krisis keimanan dan moral di tengah masyarakat Islam awal. Maka, pada fase ini. Ilmu Kalam berperan sebagai media dialektika dan klarifikasi teologis terhadap berbagai peristiwa politik dan etika keagamaan yang terjadi. Nurul Fajri Assakinah menambahkan bahwa kemunculan Ilmu Kalam tidak hanya disebabkan oleh faktor internal Islam, tetapi juga oleh interaksi lintas agama di wilayah Timur Tengah, khususnya dengan pemikiran Yahudi dan Kristen (Assakinah, 2. Dalam situasi masyarakat multikultural itu, umat Islam harus mampu mempertahankan prinsip tauhid dan konsep kenabian secara rasional. Oleh karena itu, kalam menjadi wadah bagi para ulama untuk menyusun argumentasi intelektual terhadap tantangan teologis dari luar. Asal-usul Ilmu Kalam dengan demikian menunjukkan bahwa ia lahir bukan sekadar hasil konflik ideologis, tetapi juga buah dari dialog antaragama yang memperkaya pemikiran Islam. Perkembangan awal ini kemudian menghasilkan kesadaran bahwa keimanan tidak cukup dijaga dengan dogma, tetapi harus dipahami secara intelektual. Hal ini menandai perubahan paradigma dalam sejarah pemikiran Islam: dari teologi normatif menjadi teologi Cecep Anwar dan Hasan Basri mencatat bahwa sejak awal. Ilmu Kalam sudah AL-MUSTAQBALAe VOLUME. NOMOR. 4 NOVEMBER 2025 e-ISSN: 3064-0970, p-ISSN: 3064-1519. Hal 208-219 menunjukkan ciri khasnya sebagai ilmu yang berpijak pada rasionalitas dalam membela wahyu (Anwar & Basri, 2. Akal menjadi instrumen penting untuk meneguhkan keimanan, bukan untuk menggantikannya. Di sinilah Ilmu Kalam menempati posisi unik dalam sistem keilmuan Islam ia berdiri di antara iman dan logika, antara wahyu dan realitas. Masa Keemasan Ilmu Kalam dan Pengaruh Filsafat Ilmu Kalam mencapai puncak kejayaannya pada masa Dinasti Abbasiyah . Ae1258 M), ketika kegiatan intelektual Islam berkembang pesat berkat dukungan politik dan ekonomi yang stabil. Rezzi Yanti Naimah dkk. menegaskan bahwa pada periode ini. Ilmu Kalam menjadi bagian penting dari tradisi intelektual Islam yang dipengaruhi oleh masuknya karyakarya filsafat Yunani ke dunia Islam (Yanti Naimah et al. , 2. Lembaga Baitul Hikmah di Baghdad memainkan peran sentral dalam proses penerjemahan teks-teks Aristoteles. Plato, dan Plotinus. Hasilnya, muncul dialog intelektual antara pemikir Islam dan filsafat Yunani yang mendorong lahirnya tradisi rasional dalam Islam. Perpaduan antara akal dan wahyu melahirkan dua arus utama: MuAotazilah dan Ahlussunnah wal JamaAoah. Delia Putri dkk. menjelaskan bahwa MuAotazilah dikenal dengan lima prinsip dasar ajaran mereka, yaitu tauhid, al-Aoadl, al-waAod wa al-waAoid, al-manzilah bayna al-manzilatayn, dan amar maAoruf nahi munkar (Putri et al. , 2. MuAotazilah menekankan rasionalitas Tuhan dan kebebasan manusia, namun pandangan mereka kemudian dianggap terlalu rasional hingga mengabaikan aspek spiritual. Sebagai tanggapan, muncul AsyAoariyah dan Maturidiyah, yang berupaya menyeimbangkan antara akal dan wahyu, menolak ekstremisme rasional, tetapi juga menghindari fanatisme tekstual. Siti Uswatun Khasanah menyoroti bahwa pada masa ini terjadi integrasi besar antara filsafat, tasawuf, dan Ilmu Kalam yang melahirkan struktur keilmuan Islam yang harmonis (Khasanah Uswatun, 2. Filsafat memberikan dasar metodologis, tasawuf memperdalam dimensi spiritual, dan Ilmu Kalam menegakkan argumentasi keimanan. Para pemikir seperti Al-Kindi. Al-Farabi, dan Ibnu Sina mencoba menjelaskan eksistensi Tuhan melalui pendekatan logika dan metafisika. Di sisi lain. Al-Ghazali berperan besar dalam mengembalikan keseimbangan antara rasionalitas dan spiritualitas dengan kritiknya terhadap para filosof dalam Tahafut al-Falasifah. Ia menegaskan bahwa akal perlu ditundukkan pada wahyu agar rasionalitas tidak kehilangan arah moral dan teologis. Kehadiran Al-Ghazali membawa Ilmu Kalam ke arah yang lebih komprehensif. memadukan rasionalitas kalam dengan dimensi etika sufistik, sehingga menghasilkan teologi yang menyentuh aspek intelektual sekaligus spiritual umat Islam. Hal ini membuktikan bahwa Ilmu Kalam bukan hanya sistem logika teologis, tetapi juga sarana mendekatkan diri kepada Sejarah dan Perkembangan Ilmu Kalam Allah melalui kesadaran rasional dan moral. Puncak masa ini menunjukkan bahwa Islam mampu berdialog dengan ilmu dan filsafat tanpa kehilangan keimanannya. Perubahan Paradigma Epistemologi dan Filsafat Ilmu dalam Ilmu Kalam Epistemologi Ilmu Kalam berkembang seiring kemajuan peradaban Islam dan tantangan intelektual yang dihadapi. Amat Zuhri dan Miftahul Ula menjelaskan bahwa Ilmu Kalam memiliki struktur epistemologis yang unik karena memadukan tiga pendekatan kebenaran: korespondensi . ebenaran wahy. , koherensi . ogika rasiona. , dan pragmatisme . emanfaatan sosia. (M. Fikrul Fahmy Ali & M. Yunus Abu Bakar, 2. Pendekatan ini menjadikan kalam sebagai ilmu rasional sekaligus spiritual. Kebenaran Ilmu Kalam bukan hanya benar secara tekstual, tetapi juga harus logis dan memberi manfaat bagi masyarakat. Pandangan ini mengangkat Ilmu Kalam dari sekadar teologi dogmatis menjadi teologi fungsional yang relevan dengan kehidupan sosial. Syafii, dalam Dari Ilmu Tauhid/Ilmu Kalam ke Teologi, menilai bahwa teologi Islam harus mengalami pergeseran paradigma menuju teologi praksis, yaitu teologi yang berbicara tentang realitas sosial dan kemanusiaan (Syafii, 2. Ia mengusulkan agar Ilmu Kalam tidak berhenti pada tataran metafisika Tuhan, tetapi juga menjawab persoalan konkret seperti ketidakadilan sosial, kemiskinan, dan disintegrasi moral. Hal ini menunjukkan bahwa epistemologi kalam modern mengarah pada keterlibatan sosial dan aktualisasi iman dalam Sementara itu. Amin Abdullah mengembangkan konsep integratif-interkonektif untuk menjembatani Ilmu Kalam dengan ilmu sosial dan humaniora (Abdullah, 2. menolak dikotomi antara ilmu agama dan ilmu rasional modern, dengan menegaskan bahwa keduanya berasal dari sumber ilahi yang sama. Paradigma ini menjadikan Ilmu Kalam sebagai meta-discipline yang dapat berdialog dengan sains, etika, dan budaya. Dengan pendekatan ini. Ilmu Kalam tidak hanya mempertahankan iman, tetapi juga mengarahkan manusia untuk menggunakan akalnya demi kemaslahatan umat. Perkembangan epistemologi ini menunjukkan bahwa Ilmu Kalam selalu dinamis dan adaptif terhadap konteks zamannya. Pada masa klasik, ia menjadi alat pembelaan iman. sedangkan pada masa modern, ia berfungsi sebagai sarana dialog dan refleksi. Oleh karena itu. Ilmu Kalam dapat dianggap sebagai cerminan evolusi rasionalitas Islam dari apologetik menuju kritis, dari defensif menuju dialogis, dan dari dogmatis menuju praksis. Rekonstruksi Ilmu Kalam di Era Modern dan Kontemporer Perkembangan Ilmu Kalam di era modern ditandai dengan usaha para pemikir untuk menyesuaikan teologi Islam dengan kemajuan zaman. Syaiful Arif, dalam kajiannya terhadap AL-MUSTAQBALAe VOLUME. NOMOR. 4 NOVEMBER 2025 e-ISSN: 3064-0970, p-ISSN: 3064-1519. Hal 208-219 pemikiran Ahmad Hanafi, menyebut bahwa Ilmu Kalam modern mengalami transformasi menuju Teologi Islam sebagai disiplin akademik(Mukhlis, 2. Hanafi memperkenalkan pendekatan historis-komparatif dengan membandingkan Islam. Kristen, dan Yahudi. Tujuannya bukan menyamakan ajaran, tetapi menegaskan keunggulan teologi Islam melalui pendekatan rasional dan ilmiah. Pendekatan ini memperluas cakrawala kalam dan menjadikannya ilmu yang inklusif dan kontekstual. Artikel Ilmu Kalam dalam Menjawab Tantangan Modernitas dan Sains menekankan pentingnya dialog antara agama dan sains sebagai sarana untuk memperkuat relevansi teologi Islam di era modern (Nabilah et al. , 2. Dalam konteks modernitas, umat Islam dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan baru seputar eksistensi Tuhan, penciptaan alam, dan relasi agama dengan sains. Ilmu Kalam modern harus mampu menjawabnya dengan argumentasi ilmiah tanpa kehilangan dasar keimanannya. Oleh karena itu, rekonstruksi Ilmu Kalam modern diarahkan untuk menjadi teologi rasional dan empiris, yang memadukan wahyu dengan hasil pengamatan ilmiah. Nurul Hidayah dan Diah Novita Fardani menyatakan bahwa Ilmu Kalam kontemporer harus berfungsi sebagai pendekatan keagamaan yang moderat dan dialogis (Nurul Hidayah & Diah Novita Fardani, 2. Di tengah meningkatnya polarisasi ideologis. Ilmu Kalam berperan menanamkan nilai toleransi dan penghargaan terhadap keberagaman. Dengan cara ini. Ilmu Kalam tidak lagi sekadar sistem keyakinan, tetapi juga instrumen sosial untuk membangun harmoni di tengah masyarakat plural. Muhammad Zakir Hasibuan dan Sapri menegaskan bahwa inti dari teologi moderat adalah keseimbangan antara akal dan wahyu (Muhammad Zakir Hasibuan & Sapri Sapri. Mereka menilai bahwa Ilmu Kalam berperan penting dalam membangun wasathiyah . oderasi Isla. , karena melalui teologi rasional, umat mampu menolak ekstremisme dan sikap fanatik. Dengan demikian. Ilmu Kalam modern bukan hanya teologi untuk Tuhan, tetapi juga teologi untuk kemanusiaan dan perdamaian global. Relevansi dan Implikasi Ilmu Kalam bagi Kehidupan Sosial dan Intelektual Amat Zuhri dan Miftahul Ula menyebut Ilmu Kalam sebagai pilar filsafat ilmu Islam karena mengajarkan prinsip berpikir kritis, objektif, dan reflektif dalam beragama(M. Fikrul Fahmy Ali & M. Yunus Abu Bakar, 2. Dengan demikian. Ilmu Kalam melatih umat untuk berpikir sistematis, tidak fanatik, dan terbuka terhadap perbedaan pandangan. Prinsip ini menjadi dasar bagi perkembangan ilmu-ilmu lain seperti fikih, tafsir, dan tasawuf yang semuanya bersandar pada rasionalitas iman. Maka. Ilmu Kalam bukan sekadar ilmu teologi, tetapi juga metodologi berpikir keislaman. Sejarah dan Perkembangan Ilmu Kalam Siti Uswatun Khasanah menegaskan bahwa Ilmu Kalam dapat memperkuat moralitas dan spiritualitas masyarakat (Khasanah Uswatun, 2. Ketika manusia memahami Tuhan melalui nalar yang sehat, maka keimanannya menjadi kokoh dan aplikatif. Ilmu Kalam mengajarkan bahwa iman harus berbuah pada amal dan etika sosial. Hal ini menjadikan kalam tidak hanya membahas Tuhan, tetapi juga membentuk kesadaran manusia tentang tanggung jawab sosial dan moral. Dalam konteks modern Indonesia. Amin Abdullah dan Nurul Hidayah menilai bahwa Ilmu Kalam dapat menjadi pijakan konseptual bagi moderasi beragama dan kehidupan multicultural (Nurul Hidayah & Diah Novita Fardani, 2. Pendekatan rasional dalam Ilmu Kalam memungkinkan terjadinya dialog lintas agama dan budaya, serta menghindarkan umat dari eksklusivisme. Melalui integrasi antara wahyu dan akal. Ilmu Kalam berfungsi menjaga keseimbangan antara keyakinan dan keterbukaan. Akhirnya. Ilmu Kalam yang relevan bagi zaman kini adalah Ilmu Kalam yang hidup di tengah realitas, bukan yang berhenti di ruang debat akademik. Ia harus menjawab persoalan keadilan sosial, krisis moral, dan spiritualitas modern. Dengan demikian. Ilmu Kalam menjadi sumber inspirasi untuk membangun peradaban Islam yang rasional, moderat, dan berkeadaban. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan hasil pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa ilmu kalam merupakan disiplin keilmuan dalam Islam yang berkembang sebagai upaya untuk mempertahankan kemurnian akidah serta menjawab berbagai persoalan teologis yang muncul sepanjang sejarah. Akar kelahirannya dapat ditelusuri sejak masa sahabat, ketika umat Islam mulai berhadapan dengan persoalan politik, perbedaan penafsiran, dan masuknya pemikiran Pada masa Dinasti Umayyah dan Abbasiyah, ilmu kalam berkembang pesat melalui perdebatan teologis antara berbagai aliran, seperti Khawarij. MurjiAoah. MuAotazilah, dan Ahlus Sunnah wal JamaAoah. Puncak perkembangan ilmu kalam terjadi ketika para ulama seperti alAsyAoari dan al-Maturidi berhasil menyusun kerangka teologis yang lebih moderat dan mampu menjembatani antara akal dan wahyu. Sejak itu ilmu kalam tidak hanya berfungsi sebagai alat mempertahankan akidah, tetapi juga menjadi instrumen intelektual yang mempengaruhi filsafat, hukum Islam, serta dinamika pemikiran keagamaan. Dalam perkembangannya, ilmu kalam terus mengalami pembaruan, terutama ketika berhadapan dengan isu-isu kontemporer seperti modernitas, sains, pluralisme, dan tantangan global lainnya. Secara keseluruhan, ilmu AL-MUSTAQBALAe VOLUME. NOMOR. 4 NOVEMBER 2025 e-ISSN: 3064-0970, p-ISSN: 3064-1519. Hal 208-219 kalam telah memberikan kontribusi besar dalam membentuk sistem teologi Islam yang rasional, sistematis, dan mampu menjawab tantangan zaman. Saran