ACTION : Jurnal Inovasi Penelitian Tindakan Kelas dan Sekolah Vol 5. No 3. Tahun 2025 E-ISSN : 2798-5733 P-ISSN : 2798-5741 Online Journal System: https://jurnalp4i. com/index. php/action MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBICARA MENGGUNAKAN MEDIA KONKRIT PADA SISWA KELAS IV SD NEGERI Yolanda Tolinggi1. Wiwy Triyanty Pulukadang2. Fidyawati Monoarfa3. Rusmin Husain4. Rustam I. Husain5 PGSD FIP Universitas Negeri Gorontalo12345 e-mail: tolinggiyolanda123@gmail. ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan berbicara menggunakan media konkrit pada siswa kelas IV SDN 3 Tapa Kabupaten Bone Bolango. Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data adalah teknik observasi, tes, dan dokumentasi. Jenis penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas (PTK) yang terdiri dari beberapa tahap: Tahap persiapan. Tahap pelaksanaan tindakan. Tahap pemantauan dan evaluasi. Tahap analisis dan Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IV SDN 3 Tapa Kabupaten Bone Bolango sebanyak 14 orang siswa. Hasil penelitian berdasarkan data observasi awal yang dilakukan pada 14 siswa, bahwa ditemukan 2 orang siswa atau . %) yang mampu berbicara. Pada siklus I pertemuan pertama kemampuan berbicara siswa meningkat menjadi 4 orang dengan presentase yang mampu sebanyak . %), sedangkan 10 orang siswa dengan presentase . %) kurang mampu atau tidak mampu. Pada siklus I pertemuan kedua meningkat menjadi menjadi 7 orang dengan presentase yang mampu sebanyak . %), sedangkan 7 orang siswa dengan presentase . %) kurang mampu atau tidak mampu. Pada siklus II pertemuan pertama kemampuan berbicara mengalami perubahan menjadi 9 orang siswa dengan presentase yang mampu sebanyak . %), sedangkan 5 orang siswa dengan presentase . %) kurang mampu atau tidak Pada siklus II pertemuan kedua mengalami peningkatan yang signifikan yaitu menjadi 13 orang siswa dengan presentase yang mampu sebanyak . %), sedangkan 1 orang siswa dengan presentase . %) tidak mampu. Dengan demikian, penggunaan media konkrit dapat meningkatkan kemampuan berbicara siswa kelas IV SDN 3 Tapa Kabupaten Bone Bolango. Kata Kunci: Kemampuan. Berbicara. Media. Konkrit ABSTRACT The study aimed to improve speaking skills using concrete media in grade IV students of SDN 3 Tapa. Bone Bolango Regency. The techniques used in data collection included observation, testing, and documetation. This classroom action research (CAR) consisted of several stages: Preparation. Action implementation. Monitoring and evaluation. Analysis, and reflection. The subjects of this study were 14 students of grade IV of SDN 3 Tapa. Bone Bolango Regency. The study findings, in reference to initial observation data conducted on 14 students, found 2 students . %) who could speak. Then, in cycle I, the first meeting, studentsAo speaking skills improved to 4 students or 28%, while 10 students, with a percentage of 72% showed their In cycle I, the second meeting, those who showed their abilities improved to 7 people, or 50%, while 7 students, or 50% remained unable. In cycle II, the first meeting, 9 students, or 64% were recorded to be able to speak, while 5 students, or 36% , were still unable. Then, in the second meeting of cycle II, a significant improvement was identified, where 13 students, or 93% could speak, and only 1 student, or 7% was unable. Thus, the use of concrete media has proven to improve the speaking skills of grade IV students of SDN 3 Tapa. Bone Bolango Regency. Keywords: Skills. Speaking. Media. Concrete. Copyright . 2025 ACTION : Jurnal Inovasi Penelitian Tindakan Kelas dan Sekolah ACTION : Jurnal Inovasi Penelitian Tindakan Kelas dan Sekolah Vol 5. No 3. Tahun 2025 E-ISSN : 2798-5733 P-ISSN : 2798-5741 Online Journal System: https://jurnalp4i. com/index. php/action PENDAHULUAN Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini menuntut setiap individu untuk memiliki kemampuan berbahasa yang baik agar dapat berkomunikasi secara efektif, baik secara lisan maupun tulisan. Kemampuan berbahasa tidak hanya mendukung aktivitas belajar mengajar, tetapi juga menjadi dasar dalam membangun pemahaman, menyampaikan informasi, dan membentuk interaksi sosial yang bermakna. Dalam konteks pembelajaran Bahasa Indonesia, terdapat empat keterampilan berbahasa yang menjadi fokus utama, yaitu menyimak . , berbicara . , membaca . , dan menulis . Keempat keterampilan ini merupakan satu kesatuan yang saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan (Heginta, 2. Salah satu keterampilan penting yang menjadi penghubung antara pemahaman dan ekspresi diri adalah keterampilan berbicara. Kemampuan berbicara menempati posisi yang strategis dalam pengembangan komunikasi siswa. Keterampilan ini menempati urutan kedua setelah menyimak, dan menjadi indikator kemampuan siswa dalam mengekspresikan gagasan secara lisan. Seseorang yang mampu menyimak dengan baik umumnya akan memiliki kemampuan berbicara yang lebih Namun, berbicara secara terampil bukan hanya soal kemampuan mengucapkan kata-kata, tetapi juga mencerminkan kemampuan berargumen, menyampaikan pendapat, dan mengontrol proses komunikasi secara efektif. Sukirman . menyatakan bahwa berbicara merupakan bentuk utama dari komunikasi, di mana penguasaan berbicara yang baik akan mendukung kesuksesan karier dan keberhasilan akademik. Senada dengan itu. Harianto . menegaskan bahwa kemampuan berbicara memiliki pengaruh besar dalam pembentukan karakter dan kepribadian seseorang. Menurut Ekaputri . , pada anak usia sekolah dasar, berbicara mencakup kemampuan menjawab pertanyaan kompleks, menyusun kalimat dengan struktur yang benar, dan menggunakan lebih banyak kosakata untuk mengungkapkan ide. Namun demikian, konsentrasi dan rasa ingin tahu anak yang tinggi menuntut penggunaan strategi pembelajaran yang mampu menarik perhatian mereka. Dalam konteks ini, media pembelajaran memegang peranan penting dalam mendukung keberhasilan pembelajaran keterampilan berbicara. Media pembelajaran dapat memberikan stimulus visual, auditif, maupun kinestetik yang mampu meningkatkan minat dan keterlibatan Shoimah . menyatakan bahwa media adalah alat bantu yang digunakan untuk menyalurkan pesan pembelajaran agar lebih mudah dipahami oleh siswa. Salah satu jenis media yang dianggap efektif untuk mendukung keterampilan berbicara adalah media konkrit, yaitu media yang dapat dilihat, diraba, dan diamati secara langsung. Media konkrit mampu memberikan pengalaman belajar nyata yang sebelumnya hanya dijelaskan secara verbal atau Dengan adanya pengalaman langsung, siswa dapat memperoleh konsep yang lebih jelas, terstruktur, dan bermakna. Hal ini membuat pembelajaran menjadi lebih menyenangkan dan tidak membosankan. Namun, berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti pada bulan November 2024 di SDN 3 Tapa. Kabupaten Bone Bolango, ditemukan bahwa sebagian besar siswa kelas rendah mengalami hambatan dalam mengembangkan kemampuan berbicara. Dari 14 siswa yang diamati, hanya 2 siswa yang menunjukkan kemampuan berbicara yang memadai. Sementara itu, siswa lainnya cenderung kurang mampu dalam memilih kosakata yang tepat, merasa takut salah saat berbicara, serta tidak percaya diri dalam menyampaikan pendapat. Fenomena ini menunjukkan bahwa proses pembelajaran berbicara belum berjalan optimal. Hal ini menjadi permasalahan penting yang memerlukan penanganan melalui pendekatan pembelajaran yang inovatif, menyenangkan, dan sesuai dengan karakteristik peserta didik. Meskipun media pembelajaran konkrit telah banyak digunakan dalam berbagai konteks pembelajaran, namun pemanfaatannya secara spesifik untuk meningkatkan kemampuan berbicara siswa sekolah dasar masih belum banyak diteliti secara mendalam, khususnya di Copyright . 2025 ACTION : Jurnal Inovasi Penelitian Tindakan Kelas dan Sekolah ACTION : Jurnal Inovasi Penelitian Tindakan Kelas dan Sekolah Vol 5. No 3. Tahun 2025 E-ISSN : 2798-5733 P-ISSN : 2798-5741 Online Journal System: https://jurnalp4i. com/index. php/action daerah Kabupaten Bone Bolango. Padahal, penggunaan media konkrit yang dirancang secara tepat berpotensi besar dalam mengembangkan keterampilan berbicara, terutama dalam memperkaya kosakata dan membangun kepercayaan diri siswa saat berbicara. Oleh karena itu, penting dilakukan penelitian tindakan kelas yang mengkaji pemanfaatan media konkrit untuk meningkatkan kemampuan berbicara siswa secara empiris. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berbicara siswa kelas rendah di SDN 3 Tapa melalui penggunaan media pembelajaran konkrit. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengidentifikasi perubahan perilaku siswa dalam berbicara serta menilai sejauh mana media konkrit dapat menciptakan suasana pembelajaran yang aktif, interaktif, dan menyenangkan. METODE PENELITIAN Subjek dari penelitian yang dilakukan yakni siswa kelas IV SDN 3 Tapa Kabupaten Bone Bolango, dengan jumlah 14 orang siswa, terdiri dari 9 orang siswa laki-laki dan 5 orang siswa perempuan. Judul dari penelitian ini ialah AuMeningkatkan Kemampuan Berbicara Menggunakan Media Konkrit Pada Siswa Kelas IV SDN 3 Tapa Kabupaten Bone BolangoAy. Penelitian ini dilaksanakan pada tahun ajaran 2024/2025. Jenis penelitian ini ialah menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). PTK memiliki ciri khusus dalam pelaksanaannya, dikarenakan pada PTK kita melaksanakan tindakan baik dari metode, cara maupun strategis secara berulang/ bersiklus melalui tahap-tahap penyusunan PTK. Menurut (MuAoalimin& Rahmat, 2. tahap-tahap penyusunan PTK yaitu terdiri dari tahap perencanaan (Pla. , pelaksanaan tindakan (Actin. , pengamatan (Observin. , dan refleksi (Reflectin. Teknik pengumpulan data dalam penelitian tindakan kelas yaitu menggunakan teknik observasi, tes, dan dokumentasi. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian ini meliputi kegiatan siswa dalam proses pembelajaran di kelas untuk mengamati perkembangan kemampuan siswa dalam berbicara, yang dilaksanakan dalam dua siklus dan masing-masing siklus terdiri dari dua kali pertemuan dengan alokasi waktu 2 x 35 Untuk melihat tingkat kemampuan berbicara siswa, maka dilakukan observasi awal (Pra Siklu. , kemudian dilanjutkan dengan pelaksanaan tindakan siklus I dan siklus II. Pelaksanaan penelitian ini mengacu pada prosedur penelitian yaitu meliputi tahap persiapan, tahap pelaksanaan tindakan, tahap pemantauan, dan evaluasi serta tahap analisis dan refleksi. Hasil Dari pelaksanaan kegiatan observasi awal, kemampuan berbicara siswa tidak memenuhi Hal ini dibuktikan berdasarkan fakta bahwa diantara 12 orang dari 14 orang siswa yang belum mampu berbicara dengan baik dan benar, serta kurangnya kepercayaan diri dengan presentase 86% dan 2 orang siswa mampu berbicara dengan presentase 14% . Kemudian pada tahap siklus I pertemuan 1 memiliki presentase 28% yang dikategorikan mampu atau setara dengan 4 orang siswa, dan 72% kategori tidak mampu atau setara dengan 10 orang siswa. Kemudian pada siklus I pertemuan 2 meningkat sebanyak 50% kategori mampu atau setara dengan 7 orang siswa, dan 50% kategori tidak mampu atau setara dengan 7 orang siswa. Selanjutnya pada siklus II pertemuan 1 memiliki presentase 64% kategori mampu atau setara dengan 9 orang siswa, kategori tidak mampu memiliki presentase 36% atau setara dengan 5 orang siswa. Pada siklus II pertemuan 2 meningkat sebanyak 93% kategori mampu atau setara dngan 13 orang siswa, sedangkan kategori tidak mampu 7% atau setara dengan 1 orang siswa. Copyright . 2025 ACTION : Jurnal Inovasi Penelitian Tindakan Kelas dan Sekolah ACTION : Jurnal Inovasi Penelitian Tindakan Kelas dan Sekolah Vol 5. No 3. Tahun 2025 E-ISSN : 2798-5733 P-ISSN : 2798-5741 Online Journal System: https://jurnalp4i. com/index. php/action Tabel 1. Rekapitulasi Kemampuan Berbicara No. Nama Bagian Mampu Tidak Mampu Siklus I Pertemuan 1 Siklus I Pertemuan 2 Siklus II Pertemuan 1 Siklus II Pertemuan 2 Tabel 1 menunjukkan perkembangan kemampuan siswa dalam setiap pertemuan pada siklus I dan siklus II. Pada siklus I pertemuan 1, hanya ada 4 orang siswa yang dikategorikan mampu, sedangkan 10 orang siswa dikategorikan tidak mampu. Kemudian pada siklus I pertemuan 2 meningkat sebanyak 7 orang siswa yang termasuk kategori mampu, dan 7 orang siswa termasuk kategori tidak mampu. Selanjutnya pada siklus II pertemuan 1 ada 9 orang siswa yang termasuk kategori mampu, dan 5 orang siswa termasuk dalam kategori tidak mampu. Pada siklus II pertemuan 2 meningkat sebanyak 13 orang siswa yang termasuk kategori mampu, dan 1 orang siswa memiliki kategori tidak mampu. SIKLUS I P1 SIKLUS I P2 SIKLUS II P1 SIKLUS II P2 Gambar 1. Hasil Perbandingan Kemampuan Berbicara Siswa Menggunakan Media Konkrit Pada Siklus I dan Siklus II Berdasarkan hasil perbandingan sesuai dengan grafik yang diatas, setiap siklus dilaksanakan dalam 2 kali pertemuan. Dengan dilakukan penelitian tindakan kelas selama dua siklus, maka peneliti dapat memperoleh hasil yang sesuai dengan target capaian keberhasilan yang disesuaikan dengan perolehan siswa kelas IV. Pada tahap siklus I pertemuan 1 memiliki presentase 28% yang dikategorikan mampu, kemudian pada siklus I pertemuan 2 meningkat sebanyak 50% kategori mampu. Selanjutnya pada siklus II pertemuan 1 memiliki presentase 64% kategori mampu. Pada siklus II pertemuan 2 meningkat sebanyak 93% kategori mampu. Gambar 2. Proses Kemampuan Berbicara Siswa Menggunakan Media Konkrit Copyright . 2025 ACTION : Jurnal Inovasi Penelitian Tindakan Kelas dan Sekolah ACTION : Jurnal Inovasi Penelitian Tindakan Kelas dan Sekolah Vol 5. No 3. Tahun 2025 E-ISSN : 2798-5733 P-ISSN : 2798-5741 Online Journal System: https://jurnalp4i. com/index. php/action Media dalam proses pembelajaran secara umum adalah untuk memudahkan interaksi antara siswa, sehingga kegiatan pembelajaran menjadi lebih efektif dan efisien. Selama proses pembelajaran juga membutuhkan komunikasi yang baik antara guru dan siswa untuk tercapainya tujuan pembelajaran. Pembahasan Penelitian tindakan kelas dimulai dengan melakukan observasi awal sebagai tolak ukur untuk mengetahui kemampuan siswa dalam berbicara. Pada tahap awal observasi di kelas IV SDN 3 Tapa Kabupaten Bone Bolango ditemukan bahwa permasalahan yang ada yaitu terletak pada kurangnya kepercayaan diri yang ada dalam diri siswa, sehingga apa yang akan dibicarakan tidak sesuai dengan ketepatan dari sasaran pembicaraan dan terbelit-belit dalam Hal ini berdasarkan dari jumlah 14 orang siswa yang mampu dalam berbicara hanya 2 orang atau sebesar . %), dan siswa yang tidak mampu berbicara 12 orang atau sebesar . %). Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti di kelas IV SDN 3 Tapa Bone Bolango bahwa pembelajaran masih kurang aktif, dikarenakan adanya keterbatasan dalam penggunaan media pembelajaran. Pada kemampuan berbicara, siswa perlu belajar menentukan pilihan kata yang akan diucapkan, agar sasaran yang akan dibicarakan tepat, jelas, dan mudah Media pembelajaran juga dapat didefinisikan sebagai segala sesuatu yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran sebagai penyalur pesan yang dapat merangsang pikiran, perasaan, minat dan perhatian siswa sehingga proses interaksi komunikasi edukasi antara pendidik dan siswa dapat berlangsung secara tepat guna dan berdaya guna (Mashuri, 2. Selain sebagai sarana penyalur pesan, media pembelajaran idealnya dapat menarik minat dan perhatian siswa, sehingga diharapkan kemampuan berpikir dan pemahaman siswa terhadap sesuatu yang dipelajarinya dapat meningkat. Dalam mengajarkan kemampuan berbicara di sekolah dasar hendaknya guru juga menggunakan media pembelajaran untuk mempermudah proses penerimaan informasi bagi siswa. Pada siswa kelas atas, pemahamannya lebih bersifat konkret. Konsep pembelajaran yang diberikan kepada siswa dalam bentuk abstrak akan membuat siswa lebih sulit memahami. Penggunaan media dalam pembelajaran tentunya dapat menunjang proses pembelajaran menjadi lebih efektif. Menurut Ninawati dkk. pengembangan media mampu meningkatkan kemampuan berbahasa siswa. Sehingga dalam pemilihan media pembelajaran sendiri tentunya disesuaikan dengan karakteristik siswa. Karena dengan memperhatikan karakteristik siswa, dapat disesuaikan jenis media yang akan digunakan Dalam pembelajaran siswa juga lebih bersemangat ketika menggunakan media. Ketika media ditunjukkan, siswa langsung aktif. Berbeda ketika pembelajaran dilakukan tanpa menggunakan media pembelajaran, siswa terlihat kurang termotivasi. Siswa akan lebih mudah menyerap informasi atau materi yang disampaikan oleh guru pada saat proses pembelajaran melalui bahan ajar yang disesuaikan kebutuhan siswa (Puspita, 2. Temuan tersebut didukung oleh hasil penelitian terdahulu. Rahman . menyatakan bahwa penggunaan media visual seperti gambar atau objek nyata dapat meningkatkan keberanian dan partisipasi siswa dalam berbicara di depan kelas. Sementara itu. Sari dan Hidayati . menemukan bahwa media gambar berseri membantu siswa mengembangkan narasi lisan yang lebih terstruktur. Penelitian oleh Mulyani . juga memperkuat temuan ini, bahwa media konkret sangat efektif dalam membangun keterampilan berbicara siswa sekolah dasar secara signifikan. Dukungan lain ditunjukkan oleh Wijaya dan Putri . yang menyebut bahwa strategi pembelajaran aktif berbasis media audio visual mampu menciptakan lingkungan belajar yang kondusif bagi pengembangan keterampilan berbicara. Yuliana . Copyright . 2025 ACTION : Jurnal Inovasi Penelitian Tindakan Kelas dan Sekolah ACTION : Jurnal Inovasi Penelitian Tindakan Kelas dan Sekolah Vol 5. No 3. Tahun 2025 E-ISSN : 2798-5733 P-ISSN : 2798-5741 Online Journal System: https://jurnalp4i. com/index. php/action menambahkan bahwa media kartu bergambar mampu membangkitkan antusiasme siswa dan memperlancar komunikasi lisan mereka. Pada siklus I, peneliti mengawali pembelajaran dengan mengucapkan salam, menanyakan kabar seluruh siswa, mengkondisikan kelas agar siap belajar, dan mengecek posisi tempat duduk yang rapi. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, dilanjutkan dengan memberikan pertanyaan pemantik yang dirancang untuk memicu minat dan pemikiran kritis siswa terhadap suatu topik pembelajaran. Kemudian dilanjutkan dengan menjelaskan materi, melakukan tanya jawab dengan siswa tentang bagaimana cara mereka menjaga pola hidup Guru menampilkan berbagai jenis media konkret, kemudian meminta siswa untuk memilih salah satu jenis media dan meminta perbandingan dari media tersebut. Siswa berbicara mengenai karakteristik media tersebut sambil mengamati medianya. Setelah berbicara melalui hasil pengamatan dari media tersebut, siswa mengerjakan LKPD dari hasil cerita yang sudah mereka bicarakan di depan kelas melalui media konkret tersebut. Hal ini dilakukan untuk mengukur sejauh mana peserta didik dapat mengembangkan kemampuan berbicara mereka melalui media konkret. Setiap tindakan yang dilakukan selalu mengalami perubahan pada setiap siklusnya. Pada siklus I pertemuan 1, siswa yang mampu berbicara hanya ada 4 orang atau sekitar . %), sedangkan pada pertemuan 2 mengalami peningkatan menjadi 7 orang atau sekitar . %). Oleh karena itu, peneliti melanjutkan proses pembelajaran ke siklus berikutnya agar bisa mencapai indikator sesuai dengan yang diharapkan. Pada siklus II, siswa mulai memperlihatkan ketertarikannya dalam pembelajaran dengan menggunakan media konkret yang ditandai dengan semakin aktifnya pembelajaran. Pada tahap awal, guru mengajak siswa membuat kesepakatan kelas yang harus ditaati selama proses pembelajaran agar kelas tidak terlalu ribut dan siswa fokus. Pada siklus II pertemuan 1, siswa yang mampu berbicara meningkat menjadi 9 orang . %), dan pada pertemuan 2 meningkat menjadi 13 orang . %). Hal ini menunjukkan keberhasilan perencanaan dan implementasi media konkret yang sesuai dengan karakteristik siswa. Media pembelajaran konkret terbukti dapat mengatasi problematika yang terjadi pada siswa kelas IV dalam mengembangkan kemampuan berbicara. Karena sebelumnya guru tidak menggunakan media pembelajaran yang mendukung proses belajar mengajar, pembelajaran menjadi membosankan dan materi sulit diserap. Namun setelah diterapkannya media konkret, pembelajaran yang semula monoton menjadi lebih menarik dan siswa lebih bersemangat. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan media yang tepat mampu meningkatkan keterlibatan siswa dan hasil belajar keterampilan berbicara secara signifikan. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa untuk meningkatkan kemampuan berbicara siswa kelas IV SDN 3 Tapa Bone Bolango telah berhasil meningkat menggunakan media konkrit. Observasi awal terdapat 2 orang siswa dengan presentase 14% sudah mampu berbicara. Saat tindakan siklus I pertemuan 1 terdapat 4 orang siswa dengan presentase 28%. Pada Siklus I pertemuan 2 terdapat peningkatan kembali menjadi 7 orang siswa dengan presentase 50% meningkat. Sedangkan pada siklus II pertemuan 1 terdapat peningkatan kembali menjadi 9 orang atau dengan presentase 64% sudah mampu untuk berbicara , dan pada siklus II pertemuan 2 mengalami peningkatan kemampuan berbicara siswa menjadi 13 orang siswa atau 93%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran konkrit dapat meningkatkan kemampuan berbicara pada siswa kelas IV SDN 3 Tapa Kabupaten Bone Bolango. Copyright . 2025 ACTION : Jurnal Inovasi Penelitian Tindakan Kelas dan Sekolah ACTION : Jurnal Inovasi Penelitian Tindakan Kelas dan Sekolah Vol 5. No 3. Tahun 2025 E-ISSN : 2798-5733 P-ISSN : 2798-5741 Online Journal System: https://jurnalp4i. com/index. php/action DAFTAR PUSTAKA