p-ISSN: 2089-2551 e-ISSN: 2615-143X https://journal. Volume 15. Nomor 4. November 2025 HUBUNGAN LITERASI KESEHATAN DIGITAL DENGAN PERSONAL HYGIENE SISWA DI SMP NEGERI 2 MAKASSAR Andi Yulia Kasma1*. Melki S Husain2. Marisna Eka Yulianita2. Kamariana1. Andi Wahyuni2. Andi Ayumar1 Kesehatan Masyarakat. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Makassar Ilmu Keperawatan. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Makassar Alamat Korespondensi: ayulia. kasma@gmail. ABSTRAK Latar belakang: Perilaku menjaga kebersihan diri penting dalam mewujudkan kenyamanan, keamanan, serta kesehatan individu. Personal hygiene kurang pada anak usia sekolah menimbulkan masalah kesehatan, seperti terjadi gangguan integritas kulit, gangguan mukosa bibir, serta gangguan mata, telinga dan gangguan pada kuku. Tujuan : Untuk menganalisis hubungan literasi kesehatan digital dengan personal hygiene siswa SMP Negeri 2 Makassar. Metode: Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan desain cross-sectional. Sampel penelitian 178 siswa kelas IX dengan teknik pengambilan sampel dengan proporsional systematic random samping. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan analisis data menggunakan uji chi-square. Hasil : Penelitian menunjukkan hubungan signifikan antara literasi kesehatan digital dengan personal hygiene siswa diperoleh hasil p-value = 0,000. Literasi kesehatan digital kurang baik 36 responden . ,2%) dan literasi kesehatan baik 142 responden . ,8%) pada personal hygiene kurang baik 42 responden . ,6%) dan personal hygiene baik 136 responden . ,4%) Kesimpulan: Siswa yang memiliki literasi kesehatan digital lebih tinggi maka kecenderungannya lebih peduli dengan kebersihan diri serta lebih sering menerapkan kebiasaan hygiene baik, seperti mencuci tangan dan merawat kebersihan mulut. Diharapkan orang tua memperkuat kebiasaan personal hygiene anak di rumah dengan memanfaatkan informasi kesehatan digital akurat serta membimbing penggunaan teknologi secara bijak. Kata Kunci : Literasi Kesehatan. Personal Hygiene. Siswa PENDAHULUAN Banyak masalah kesehatan yang dialami oleh manusia, dan salah satu penyebab umum kebersihan pribadi. Beberapa penyakit yang dapat muncul akibat kebersihan yang tidak terjaga antara lain diare, infeksi kulit, gigi berlubang, dan lain-lain (Awalilmatin et al. Menjaga kebersihan diri . ersonal hygien. memiliki peran penting dalam menjaga kenyamanan, keamanan, dan kesehatan seseorang. Individu yang sehat. dapat merawat kebersihan pribadinya secara mandiri, sementara mereka yang sedang sakit membutuhkan bantuan dari perawat atau orang lain untuk menjalankan rutinitas kesehatan yang diperlukan (Fauziah et al. , 2. Perilaku menjaga kebersihan diri . sangat penting dalam mewujudkan kenyamanan dan keamanan, serta kesehatan Dimana, pengetahuan yang baik terkait personal hygiene juga krusial dengan begitu dapat terjadi peningkatan kesehatan secara keseluruhan. Individu yang memiliki pemahaman mengenai kebersihan diri akan lebih cenderung menjaga kebersihannya secara rutin guna mencegah terjadinya penyakit. Masalah personal hygiene sering menimbulkan dampak berupa masalah fisik meliputi gangguan pada kulit, membran mukosa mulut, serta infeksi pada mata, telinga, serta kelainan Jurnal Mitrasehat Volume 15 Nomor 4. November 2025 pada kuku, selain itu, kebersihan diri yang kurang juga dapat mempengaruhi kebutuhan akan rasa nyaman, perasaan saling mencintai, penghargaan terhadap diri sendiri, pencapaian potensi diri, dan kemampuan untuk berinteraksi secara sosial dapat terganggu (Fatmawati. Berdasarkan publikasi Riskesdas tahun 2023, tercatat bahwa dari total 877. penderita diare di Indonesia, sebanyak 5. orang telah mendapatkan penanganan. Data Riskesdas juga mengindikasikan prevalensi masalah pada kesehatan gigi serta mulut 573 kasus. Masalah terbesar terkait persoalan gigi di Indonesia yaitu kasus gigi rusak, dan berlubang, serta sakit, dengan persentase 43,3%. Selain itu, prevalensi masalah kesehatan mulut seperti gusi bengkak, bisul, atau abses tercatat sebesar 7,3%. Pada kelompok usia 10-14 tahun, prevalensi karies gigi mencapai 63,8% (Riskesdas, 2. Penelitian berjudul Hubungan Personal Hygiene dengan Kejadian Skabies Anak Santri yang dilakukan pada Pondok Pesantren AlAzhar. Jombang, menunjukkan keterkaitan antara kebersihan pribadi dengan kejadian skabies yang terjadi pada anak santri. Penelitian tersebut menekankan pentingnya para santri untuk meningkatkan perilaku kebersihan diri dan lingkungan secara positif. Dengan menjaga kebersihan secara konsisten, risiko terjadinya penyakit skabies dapat dicegah sejak dini (Puspita et al. , 2. Anak-anak pada usia sekolah, dari usia dini sampai remaja, seringkali mengabaikan pentingnya personal higiene. Pentingnya menjaga kebersihan pribadi adalah langkah positif penting dalam menciptakan lingkungan bersih serta sehat, yang pada gilirannya dapat meningkatkan kesehatan individu secara keseluruhan (Normila & Mashar, 2. Disamping itu siswa-siswi disekolah diharapkan untuk menguasai berbagai ilmu sesuai dengan kemajuan zaman saat menghadapi tantangan pendidikan yang terus Dengan kurikulum baru, diharapkan siswa menjadi lebih aktif, berpikir kritis, berkolaborasi dan bekerja sama, dan lebih mampu mengungkapkan pendapat. Kemampuan literasi yang baik sangat penting untuk mencapai semua kemampuan ini. Literasi, dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesi. didefinisikan sebagai kemampuan seseorang dalam memproses informasi serta pengetahuan dengan cara membantu mereka menjalani kehidupan yang baik. Literasi sejatinya dapat dilakukan pada banyak tempat atau lokasi, di dalam ataupun di luar. Kegiatan literasi siswa, sepertihalnya berinteraksi dengan teman, membaca buku di perpustakaan, atau mengakses informasi melalui media digital yang mudah diakses melalui ponsel pintar, terjadi di sekolah. Kemampuan literasi (Firdaus & Nurhayati, 2. Di bidang kesehatan, perkembangan informasi digital berlangsung dengan sangat cepat, sehingga memudahkan kita untuk mengakses dan menyebarkan literasi kesehatan secara digital kepada orang lain. Sebagaimana dikutip oleh Ortiz DN . Norman CD & Skinner HA . menggambarkan hakikat dari literasi kesehatan digital sebagai upaya mampu dalam mencari, menemukan, dan memahami, serta menafsirkan informasi kesehatan dari sumber elektronik serta bagaimana menerapkan pengetahuan tersebut dalam menangani dan atau menyelesaikan masalah kesehatan tersebut (Adam, 2. Dalam riset yang berjudul Hubungan Literasi Kesehatan dengan Kebiasaan Perilaku Sehat Mahasiswa Fakultas Ilmu Olahraga Universitas Negeri Surabaya mendukung pernyataan ini, hasil penelitian mengungkapkan terdapat hubungan antara tingkat literasi kesehatan dan perilaku sehat di kalangan mahasiswa Fakultas Ilmu Olahraga Universitas Negeri Surabaya, dengan nilai korelasinya yaitu 0,037 atau p < 0,05 (Alfan & Wahjuni. Jurnal Mitrasehat Volume 15 Nomor 4. November 2025 Berdasarkan survei awal yang dilakukan terhadap 10 siswa SMP Negeri 2 Makassar, semua siswa berpendapat bahwasanya mereka punya pengetahuan tentang personal hygiene namun demikian pada pelaksanaan personal hygiene tidak semua dilaksanakan, 6 dari 10 orang siswa yang diwawancarai mengatakan bahwa tidak selalu mencuci tangan menggunakan sabun. Bentuk personal hygiene yang tidak maksimal dilakukan adalah tidak mencuci tangan setelah beraktivitas, tidak Indikator utama yang menjadi penekanan perhatian secara keseluruhan pada semua subjek yaitu permasalahan pada mencuci tangan yang menggunakan sabun. Selain itu, data yang diperoleh menunjukkan bahwa terdapat 7 siswa yang mengatakan mengalami gatal-gatal, 1 siswa yang pernah dirawat karena demam berdarah (DBD), dan 6 siswa yang mengalami diare. Penyakit yang paling sering muncul di kalangan responden adalah flu dan Berdasarkan perihal informasi awal pada latar belakang sebagai gap fenomena, peneliti tertarik melakukan riset tentang AuHubungan Literasi Kesehatan Digital dengan Personal Hygiene Siswa di SMP Negeri 2 Makassar. METODE Metode observasional analitik den gan desain potong lintang . ross-sectiona. Populasi dalam riset yaitu siswa/siswi SMP. Negeri 2 Makassar kelas IX yakni 322. Teknik penarikan sampel random sampling sampelnya tiap kelas menggunakan rumus starta dengan sampel yang digunakan yaitu 178 Pengumpulan data menggunakan kusioner instrumen yaitu kusioner, dilakukan pada bulan Agustus hingga September 2024. HASIL Karakteristik responden Responden pada penelitian yaitu siswa SMP Negeri 2 Makassar sebanyak 178 siswa. Berdasarkan tabel 1 menunjukkan dari 178 responden, adapun distribusi pada responden didasarkan umur paling banyak yaitu berumur 14 tahun sebanyak 135 orang . ,8%) dan paling sedikit adalah berumur 16 tahun hanya 2 orang . Berdasarkan jenis kelamin, lakilaki ada 78 orang . ,8%) dan perempuan ada 100 orang . Pada tabel 2 menunjukkan distrisbusi responden berdasarkan pemanfaatan media online untuk mencari informasi kesehatan, berdasarkan tabel tersebut media informasi yang sering di akses oleh responden adalah aplikasi halodoc sebanyak 56 orang . ,5%), aplikasi alodokter sebanyak 10 orang . ,6%), aplikasi klikdokter sebanyak 8 orang . ,5%), situs halodoc sebanyak 30 orang . ,9%), situs alodokter sebanyak 5 orang . ,8%), situs klikdokter sebanyak 7 orang . ,9%) dan google sebanyak 62 orang . ,8%). Dan lama pengunaan media informasi adalah <1 tahun yaitu 107 orang . 1%), 1-3 tahun yaitu 40 orang . dan >3 tahun sebanyak 31 orang . Adapun media informasi yang sering digunakan oleh responden adalah facebook sebanyak 5 orang . %, instagram sebanyak 83 orang . ,6%) dan tiktok sebanyak 90 orang . ,6%). Adapun penggunaan media sosial yang sering digunakan oleh responden dalam pencarian informasi tentang kesehatan yaitu facebook sebanyak 15 orang . ,4%), twitter sebanyak 6 orang . ,4%), instagram 38 orang . ,3%), youtube sebanyak 36 orang . ,2%) dan tiktok sebanyak 83 . ,6%). Lama responden dalam menggunakan media sosial adalah <1 tahun sebanyak 30 orang . ,9%), 13 tahun sebanyak 50 orang . ,1%) dan >3 tahun sebanyak 98 orang . ,1%). Serta dalam satu hari lama waktu responden dalam mengakses media sosial adalah <1 jam sebanyak 29 orang . ,3%), 1-3 jam sebanyak 57 orang . %), 3-5 jam sebanyak 38 orang Jurnal Mitrasehat Volume 15 Nomor 4. November 2025 . ,3%), 5-8 jam . ,8%) dan >8 jam sebanyak 33 jam . ,5%). Analisis Univariat Analisis univariat ini dilakukan dalam mendapatkan gambaran umum dengan mendeskripsikan setiap variable yang diteliti diantaranya variabel literasi kesehatan digital dan personal hygiene. Berdasarkan hasil analisis univariat pada tabel 3 dari 178 responden di SMP Negeri 2 Makassar yang literasi kesehatan digital nya masih kurang ada 36 orang . ,2%) dan baik ada 142 orang . ,8%). Sementara untuk personal hygiene responden kurang ada 42 orang . , dan baik ada 136 orang . ,4%) Analisis Bivariat Analisa bivariat digunakan untuk dependent dengan variabel independent. Dengan tujuan dari analisa ini untuk mengetahui seberapa kuat hubungan antar variabel dan untuk mengukur ada tidaknya hubungan diantara variabel. Pada riset ini digunakan uji Chi-Square dengan hasil sebagaimana di tabel 4 yaitu dimana responden memiliki literasi kesehatan digital kurang baik sebanyak 36 siswa terdapat 19 siswa . ,8%) yang personal hygiene kurang baik dan sebanyak 17 orang . ,2%) yang personal hygienenya baik, sedangkan dari 142 responden yang memiliki literasi kesehatan digital yang baik sebanyak 23 siswa . ,2%) yang personal hygiene nya kurang baik sedangkan yang memiliki personal hygiene baik sebanyak 119 orang . ,8%). Hasil uji statistik dengan Chi-Square dengan tingkat kepercayaan 95% atau c = 0,05 menunjukkan hasil p-value nya = 0,000 dimana nilai p-value C 0,05, sehingga Ho ditolak dan Ha diterima, menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara Literasi Kesehatan Digital dengan Personal hygiene. PEMBAHASAN Literasi Kesehatan Digital Literasi didominasi oleh responden memiliki tingkat literasi kesehatan digital baik. Karakteristiknya menunjukkan bahwa perempuan lebih banyak memiliki literasi kesehatan digital baik, terutama pada rentang usia 14 tahun. Hasil di lapangan juga menunjukkan bahwa siswa dari kelas IX. 3 dan IX. 6 memiliki literasi kesehatan digital yang baik, sementara literasi kesehatan digital yang kurang ditemukan pada perempuan dan siswa dari kelas IX. Temuan di lapangan menunjukkan bahwa responden menghabiskan waktu antara 1 hingga 3 jam per hari untuk menggunakan media sosial. Meskipun mereka menggunakan media sosial, tidak sepenuhnya untuk mencari informasi kesehatan. besar waktu mereka dihabiskan untuk hiburan, seperti menonton video yang sedang trending. Dalam penelitian yang dilakukan (Mutmainnah, 2. memberikan definisi literasi kesehatan digital sebagai kemampuan untuk mengidentifikasi dan mendefinisikan masalah kesehatan serta untuk berkomunikasi, mencari, memahami, mengevaluasi, serta menerapkan teknologi informasi dan eHealth dalam konteks situasional, budaya, dan Selain itu, literasi ini juga mencakup kemampuan untuk menggunakan pengetahuan secara kritis guna mengatasi berbagai masalah Hasil penelitian di lapangan memanfaatkan internet untuk mencari informasi mengenai kesehatan mereka, baik melalui aplikasi kesehatan, situs web kesehatan, maupun media sosial. Hal ini sejalan dengan pernyataan (Leonita & Jalinus, 2. dalam penelitiannya, disampaikan bahwa media sosial yang dapat diakses melalui internet memiliki potensi besar dalam memperkenalkan dan kesehatan, intervensi kesehatan lainnya, serta membuatnya lebih mudah dalam mencapai berbagai sasaran berbagai tingkat. Bukti empiris mengindikasikan bahwa penggunaan media sosial terbukti berhasil dalam Jurnal Mitrasehat Volume 15 Nomor 4. November 2025 mendorong promosi kesehatan dengan meningkatkan akan pemahaman masyarakat serta mendorong perilaku sehat. Media sosial memiliki peran ganda sebagai sarana hiburan dan edukasi. Berdasarkan hasil penelitian, sebagian besar responden mengakses informasi kesehatan melalui media sosial. Konten-konten yang disajikan dalam bentuk video tutorial, infografis, atau kampanye kesehatan dari influencer dan pihak-pihak terkait terbukti memberikan pengaruh positif terhadap perubahan perilaku remaja dalam menjaga kebersihan diri. Hal ini sesuai dengan temuan (Rosini & Nurningsih, 2. Dalam penelitiannya, menunjukkan bahwa untuk Profile akan pengguna media sosial memang didominasi oleh kaum wanita, dengan usia 4550 tahun, rata-rata telah menikah, dan berpendidikan D4/S1. Media sosial yang paling sering digunakan dalam pencarian informasi akan kesehatan yaitu Whatsapp . 8%), YouTube . 9%). Wikipedia . %), dan Facebook . 5%). Sisanya yaitu Blogger . 4%). Instagram . 6%). Google . %), dan Wordpress . 4%). Dimana Alasan penggunaan Auadanya berbagai fasilitas untuk share, memberikan komentar, membalas percakapan, tagging, dan mengunggah fotoAy. Alasan lain adalah AuSemua teman saya menggunakannyaAy. AuTampilannya nyaman untuk dilihat dan digunakanAy, serta AuAda notifikasi . Ay. Untuk itu media sosial yang dapat memenuhi alasan tersebut sepertihalnya Facebook. Hal tersebut didukung dengan pernyataan (Wahyuni et al. , 2. dalam penelitiannya menyatakan bahwa dengan media sosial dapat menjadi alat yang berguna karena audiensnya yang luas dan fitur partisipatifnya. Menurut beberapa bukti empiris, dimana akan penggunaan media sosial untuk intervensi pencegahan penyakit sangatlah menarik. Penelitian ini juga menegaskan dimana sebagian besar dari responden tentu memiliki literasi kesehatan digital dalam kategori sedang, yang mengindikasikan bahwa meskipun banyak remaja mengakses informasi kesehatan digital, mereka belum sepenuhnya memahami cara memvalidasi informasi Hal ini menunjukkan kebutuhan akan peningkatan edukasi digital, terutama dalam memahami cara memilih sumber informasi yang valid dan dapat dipercaya. Personal Hygiene Personal hygiene didominasi oleh responden yang memiliki tingkat kebersihan pribadi yang baik. Berdasarkan distribusi karakteristik responden dalam riset ini menegaskan bahwa perempuan lebih banyak mempunyai personal hygiene yang lebih baik, terutama pada rentang usia 14 tahun. Hasil di lapangan juga menunjukkan bahwa siswa dari kelas IX. 5 memiliki personal hygiene yang baik, sedangkan laki-laki cenderung memiliki personal hygiene yang kurang. Data temuan di lapangan mengindikasikan bahwa beberapa siswa laki-laki kurang memperhatikan personal hygiene disebabkan oleh minimnya pencarian informasi mengenai kesehatan pribadi mereka, yang berujung pada kurangnya pengetahuan tentang aspek-aspek personal hygiene. Beberapa area yang kurang diperhatikan diantaranya kebersihan akan kulit, dan gigi, telinga, rambut, tangan, kaki, serta kuku. Dalam hal kebersihan kulit, laki-laki cenderung tidak menggunakan barang-barang perawatan pribadi dan jarang mandi dua kali Untuk kebersihan gigi, mereka seringkali tidak mengganti sikat gigi setiap tiga bulan dan lebih suka mengonsumsi permen atau makanan manis, sementara konsumsi buahbuahan sangat minim. Selain itu, kebersihan telinga juga kurang diperhatikan, di mana mereka jarang membersihkan telinga. Laki-laki juga jarang melakukan cuci tangan pakai sabun sebelum makan, tidak rutin memotong akan kukunya, serta tidak mencuci kakinya sebelum Kebiasaan-kebiasaan ini menunjukkan Jurnal Mitrasehat Volume 15 Nomor 4. November 2025 adanya kurangnya perhatian terhadap personal Peneliti berasumsi bahwa laki-laki cenderung tidak mencari informasi kesehatan karena dipengaruhi oleh konsep maskulinitas yang kuat dalam masyarakat. Dalam banyak budaya, laki-laki diajarkan untuk bersikap kuat, mandiri, dan tidak menunjukkan kelemahan. Hal ini sering kali membuat mereka merasa bahwa mencari bantuan atau informasi kesehatan adalah tanda ketidakmampuan. Ketika laki-laki merasa bahwa mengakui kekhawatiran tentang kesehatan mereka dapat dilihat sebagai tindakan yang tidak maskulin, mereka mungkin enggan untuk melakukan pencarian informasi tentang kesehatan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Call dan Shafer, 2018 dalam (Vebiana & Dian Ariana, 2. dalam penelitianya menyatakan bahwa salah satu akan alasannya mengapa kaum laki-laki lebih enggan untuk mencari bantuan terkait permasalahan yang mereka hadapi yaitu pengaruh kuat dari sosialisasi norma gender. Sosialisasi akan norma gender mengacu pada asumsi bahwa laki-laki dan perempuan belajar mengenai sikap dan perilaku berbasiskan gender dan didasarkan akan nilai-nilai budaya, norma, serta ideologi yang menentukan apa yang dianggap sebagai ciri khas laki-laki dan Normatif ini sering kali kemandirian, dan ketidakbergantungan bagi laki-laki, sehingga mereka merasa tertekan untuk menyembunyikan masalah atau mencari bantuan ketika menghadapi kesulitan. Hubungan Literasi Kesehatan dengan Personal Hygiene Personal hygiene adalah upaya yang dapat menjaga kebersihan dan kesehatan diri guna mendukung akan kesejahteraan fisik serta mental seseorang. Sementara itu, jarang melakukan perawatan diri yaitu ketika seseorang tersebut tidak mampu atau tidak melakukan perawatan kebersihan dirinya sendiri (Hadi et al. , 2. Hasil uji statistik chi- square pada tingkat kepercayaan 95% . = 0,. menunjukkan p-value = 0,000, yang menunjukkan bahwa p-value di bawah 0,05. Oleh karena itu. Ho ditolak dan Ha diterima, menunjukkan hubungan yang signifikan antara literasi kesehatan digital dan kebersihan pribadi siswa SMP Negeri 2 Makassar. Hasil riset ini sejalan dengan penelitian (Rohman & Nurhayati, 2. , hasil riset menunjukkan adanya hubungan antara literasi kesehatan menurut persepsi dengan PHBS siswa SMP di masa pandemi COVID-19, dengan nilai signifikansinya 0,000 < 0,05 dan sumbangan sebesar 22%. Individu dengan literasi kesehatan digital yang tinggi cenderung lebih peduli terhadap kebersihan diri dan lebih sering menerapkan akan perilaku hidup yang Hal ini sejalan dengan riset yang dilakukan oleh (Firdaus & Nurhayati, 2. , yang menegaskan bahwa jika dianalisis berdasarkan setiap dimensi, terdapat Secara keseluruhan, terdapat hubungan signifikan literasi kesehatan dan perilaku hidup sehat pada dimensi konsumsi akan pangan, ditunjukkan dengan nilai signifikansinya 0,008 < 0,05. Namun, pada dimensi akan kebersihan diri, kebersihan lingkungan, pencegahan penyakit, dan kebiasaan merusak kesehatan, tidak ditemukan korelasi dengan literasi kesehatan, ditunjukkan dengan nilai signifikansi lebih dari 0,05. Berdasarkan hasil riset, responden dengan memiliki literasi kesehatan digital yang kurang baik berjumlah 19 orang, dan mereka juga mengalami personal hygiene yang buruk. Hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa individu dengan literasi kesehatan digital yang rendah cenderung menghadapi masalah dalam menjaga kebersihan pribadi. Rendahnya akan kesehatan digital kemampuan mereka dalam mengakses, memahami, dan menerapkan informasi berkaitan dengan kebersihan dan kesehatan. Kurangnya Jurnal Mitrasehat Volume 15 Nomor 4. November 2025 mengakibatkan mereka tidak mengetahui cara tepat dalam menjaga kebersihan pribadi, lebih mudah terpengaruh oleh informasi yang salah, dan tidak konsisten dalam menerapkan kebiasaan kebersihan yang baik. Hal ini didukung oleh (Fatikhah et al. dalam risetnya menegaskan bahwa rendahnya tingkat literasi tentu memberi dampak pada pengetahuan dan pemahaman remaja pada personal hygiene. Kondisi akan hal ini tergambar pada dampak rendahnya akan personal hygiene dengan kejadian sakit Dalam penelitian (Ditiaharman et al. , 2. menyatakan bahwa seseorang dengan tingkat literasi yang rendah akan cenderung kurang dalam membuat keputusan akan kesehatan, seperti halnya perilaku membahayakan kesehatan lebih buruk, biaya perawatan kesehatan yang lebih tinggi dan status kesehatan yang buruk. Hasil riset lainnya menegaskan bahwa terdapat responden memiliki literasi kesehatan digital yang kurang, tetapi personal hygiene mereka tergolong baik. Hal ini disebabkan oleh kebiasaan baik dalam menjaga kebersihan yang diperoleh dari pendidikan keluarga atau lingkungan sekitar. Peneliti berasumsi bahwa individu yang dibesarkan dalam lingkungan yang menekankan pentingnya kebersihan dan kesehatan dapat mengembangkan kebiasaan personal hygiene yang baik, meskipun mereka tidak memiliki pemahaman yang mendalam tentang literasi kesehatan. Pernyataan diatas sejalan dengan pernyataan Rahayu dan Setiasih, . dalam (Mokodongan et al. menyatakan bahwa orang tua sejatinya memiliki peran dalam mendidik, menjadi panutan bagi anak, memberikan nasihat, dan mengingatkan selalu anak untuk menjaga akan kebersihan dirinya. Orang tua perlu menekankan akan penting untuk menjaga perilaku hidup yang bersih serta sehat pada Anak selalu dibiasakan untuk membersihkan badannya. Perlakuan orang tua tersebut dapat menjadikan anak selalu menjaga pola kebersihan dirinya. Berdasarkan riset terdapat responden memiliki literasi kesehatan digital yang baik sebanyak 23 orang, namun mengalami personal hygiene yang kurang baik. Hal ini disebabkan oleh rendahnya motivasi pribadi atau kurangnya kepedulian terhadap kesehatan diri, meskipun mereka memiliki pengetahuan tentang kebersihan pribadi. Peneliti berasumsi bahwa situasi ini bisa terjadi jika individu tidak merasa adanya hubungan langsung antara kebersihan pribadi dan kualitas hidup mereka, atau jika mereka tidak cukup peduli terhadap kesehatan atau penampilan diri mereka. Meskipun memiliki pemahaman baik tentang kesehatannya, tanpa latihan atau kebiasaan yang tepat dalam menerapkan praktik kebersihan dalam kehidupan sehari-hari, pengetahuan tersebut dapat menjadi tidak Sementara pada responden memiliki literasi kesehatan digital baik, mereka juga mengalami personal hygiene yang baik. Hal ini disebabkan oleh kemampuan mereka untuk mencari, mengevaluasi, dan menerapkan informasi yang benar dan terpercaya mengenai kebersihan dan kesehatan pribadi. Peneliti mempunyai akses pada sumber daya tepat, memahami pentingnya kebersihan dalam pencegahan penyakit, dan mampu menerapkan kebiasaan sehat melalui penggunaan teknologi dan aplikasi yang mendukung kesehatan. Remaja dengan tingkat literasi kesehatan digital yang tinggi akan cenderung untuk lebih sering mengakses dan memahami informasi kesehatan tentunya valid, terutama yang berkaitan dengan personal hygiene. Temuan ini tercermin dari tingginya persentase responden yang mengaku mengakses informasi kesehatan melalui media sosial dan platform digital lainnya. Informasi yang mereka peroleh dari sumber-sumber terpercaya ini memengaruhi kesadaran mereka dalam menjaga kebersihan dirinya, misalnya Jurnal Mitrasehat Volume 15 Nomor 4. November 2025 dengan mempertahankan kebiasaan untuk mencuci tangan secara rutin, mandi, memotong kuku, serta menjaga kebersihan kulit dan mulut. Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh (Fatmawati, 2. yang menyebutkan bahwasanya perilaku dalam menjaga kebersihan pribadi sangat dibutuhkan Pengetahuan akan personal hygiene juga begitu pentingnya, karena pemahaman baik tentu dapat meningkatkan kesehatannya secara Seseorang yang memiliki pengetahuan akan personal hygiene cenderung lebih disiplin dalam menjaga kebersihan diri mereka untuk mencegah berbagai kondisi kesehatan yang tidak diinginkan. Pernyataan ini pula sejalan dalam penelitian yang dilakukan oleh (Farmani & Laksmini, 2. pemahaman pengetahuan dan pemberdayaan kesehatan masyarakat dapatlah diwujudkan Memiliki kemampuan literasi kesehatan bukan hanya akan memberdayakan individu, tetapi juga akan meningkatkan kualitas kesehatan dalam lingkup keluarganya dan masyarakat secara Hasil penelitian ini memberikan beberapa dampak positif serta praktis bagi orang tua serta Orang tua dapat diharapkan memperkuat kebiasaan personal hygiene anak di rumah dengan memanfaatkan informasi yang akurat membimbing penggunaan teknologi secara Sedangkan bagi pendidik diharapkan berperan penting dalam mengintegrasikan literasi kesehatan digital ke dalam proses belajar-mengajar, mengajarkan siswa cara menemukan informasi kesehatan yang valid, dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya kebersihan pribadi melalui teknologi. Dari penelitian yang dilakukan dapat dikatakan bahwa literasi kesehatan digital sangat berpengaruh terhadap perilaku personal hygiene pada siswa SMP. Literasi kesehatan digital terbukti menjadi cara yang paling efektif dalam membantu siswa dalam mencari informasi seputar personal hygiene. KESIMPULAN Literasi kesehatan digital siswa SMP cenderung berada pada ketegori baik, begitupun pada Personal hygiene siswa SMP cendrung berada pada kategori baik, sehingga terdapat hubunganpositif antara literasi kesehatan digital dengan personal hygiene siswa SMP. Diharapkan bagi sekolah dapat menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan mendidik, serta memberikan dampak positif yang luas dalam pembentukan kebiasaan hidup sehat, khususnya dalam hal personal hygiene, di kalangan siswa dan masyarakat. Serta membuatkan intervensi edukasi kesehatan yang lebih efektif dengan menyebarluaskan informasi kesehatan yang lebih mudah diakses dan dipahami oleh masyarakat khususnya generasi muda. DAFTAR PUSTAKA