887 JOONG-KI : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. No. Mei 2025 Pembinaan dan Sosialisasi Kewaspadaan Bencana Di SMP Negeri 2 Meureubo Kabupaten Aceh Barat Dian Febrianti1. Teuku Farizal2. Bambang Tripoli3. Edi Mawardi4. Rahmat Djamaluddin5. Roni Agusmaniza6. Azhar7 Program Studi Teknik Sipil. Fakultas Teknik. Universitas Teuku Umar Program Studi Teknik Mesin. Fakultas Teknik. Universitas Teuku Umar E-mail: dianfebrianti@utu. 1,2,3,4,5,6 Article History: Received: 10 April 2025 Revised: 07 Mei 2025 Accepted: 09 Mei 2025 Keywords: Kesiapsiagaan Bencana. Sosialisasi. Simulasi. Mitigasi Bencana Abstract: Indonesia, sebagai negara dengan risiko bencana tinggi akibat terletak di jalur cincin api, memerlukan program peningkatan kesadaran bencana, terutama di daerah rawan seperti Kabupaten Aceh Barat. Kegiatan pembinaan dan sosialisasi kewaspadaan bencana di SMP Negeri 2 Meureubo pengetahuan dan kesiapan siswa menghadapi Metode yang digunakan mencakup evakuasi, dan evaluasi untuk menilai pemahaman Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman siswa tentang ancaman bencana dan keterampilan mitigasi yang signifikan. Antusiasme siswa dalam berpartisipasi dan dukungan aktif dari guru turut memperkuat proses pembelajaran. Selain itu, kegiatan ini berpotensi menciptakan dampak luas bagi komunitas dengan meningkatkan kesadaran tentang pentingnya kesiapsiagaan bencana. Program ini tidak hanya membekali siswa dengan pengetahuan praktis, tetapi juga mendorong terbentuknya budaya kesiapsiagaan bencana di lingkungan sekolah dan masyarakat. PENDAHULUAN Indonesia terletak di jalur cincin api (Ring of Fir. , yang menjadikannya salah satu negara dengan tingkat kerentanan bencana alam tertinggi di dunia. Wilayah Aceh, termasuk Kabupaten Aceh Barat, menjadi daerah yang sangat rawan terhadap bencana, seperti gempa bumi, tsunami, dan banjir (Maulana & Andriansyah, 2. Fenomena bencana ini tidak hanya berdampak pada kerugian materi, tetapi juga mengancam keselamatan jiwa masyarakat, terutama generasi muda yang sering kali kurang siap dalam menghadapi bencana (Ramadhani dkk. , 2. SMP Negeri 2 Meureubo, yang terletak di daerah dengan risiko bencana yang signifikan, memerlukan program pembinaan dan sosialisasi kewaspadaan bencana untuk meningkatkan pengetahuan dan kesiapan Program ini bertujuan untuk mengedukasi siswa mengenai jenis-jenis bencana, langkahlangkah yang perlu diambil sebelum, saat, dan setelah terjadinya bencana, serta pentingnya kolaborasi dalam penanggulangan bencana di lingkungan sekolah (Nefilinda, 2. Kegiatan sosialisasi ini tidak hanya menyampaikan informasi secara teori, tetapi juga a. ISSN : 2828-5700 . JOONG-KI : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. No. Mei 2025 melibatkan simulasi dan praktik, sehingga siswa dapat belajar langsung dan lebih memahami tindakan yang harus diambil dalam situasi darurat. Dengan demikian, diharapkan siswa akan lebih siap dan tanggap dalam menghadapi ancaman bencana serta memiliki kesadaran untuk menjaga keselamatan diri dan orang lain di sekitar mereka. Program ini juga mencerminkan komitmen SMP Negeri 2 Meureubo untuk berkontribusi dalam menciptakan budaya keselamatan di kalangan generasi muda. Melalui pembinaan dan sosialisasi kewaspadaan bencana, diharapkan sekolah ini dapat menjadi contoh bagi institusi pendidikan lain dalam mengembangkan program kesiapsiagaan bencana yang berkelanjutan, sehingga tercipta lingkungan belajar yang aman dan kondusif (Rochman & Subarkah, 2. Kegiatan pembinaan dan sosialisasi kewaspadaan bencana di SMP Negeri 2 Meureubo bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran siswa mengenai risiko bencana serta pentingnya kesiapsiagaan dalam menghadapi situasi darurat (Minggra, 2. Program ini juga memberikan pengetahuan tentang jenis-jenis bencana dan langkah-langkah mitigasi yang dapat diambil (Sopiyandi & Citra, 2. Melalui simulasi dan praktik langsung, siswa dilatih untuk mengaplikasikan pengetahuan dalam situasi nyata, sehingga meningkatkan keterampilan dan rasa percaya diri mereka. Selain itu, kegiatan ini mendorong kerja sama siswa dalam penanggulangan bencana di sekolah dan lingkungan sekitar (Suarmika & Utama, 2. Dengan demikian, diharapkan tercipta budaya keselamatan yang kuat di SMP Negeri 2 Meureubo, menjadikan lingkungan belajar lebih aman dan kondusif bagi semua. METODE Kegiatan pembinaan dan sosialisasi kewaspadaan bencana di SMP Negeri 2 Meureubo dilaksanakan melalui kolaborasi antara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Aceh Barat dan dosen Program Studi Teknik Sipil. Fakultas Teknik. Universitas Teuku Umar. Kerja sama ini mencakup penyusunan materi, penentuan lokasi, dan penyelenggaraan kegiatan secara efektif. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Rabu, 28 Agustus 2024, dari pukul 08. 00 hingga 12. 00 WIB, bertempat di SMP Negeri 2 Meulaboh. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini meliputi beberapa langkah berikut: Perencanaan: Tim dari BPBD dan dosen Universitas Teuku Umar melakukan rapat untuk merencanakan kegiatan, termasuk penyusunan materi, penentuan jadwal, dan alokasi sumber daya yang Materi disusun berdasarkan analisis risiko bencana yang relevan dengan kondisi daerah Meureubo. Sosialisasi: Kegiatan sosialisasi dilakukan melalui presentasi interaktif yang mencakup pengenalan jenisjenis bencana, langkah-langkah mitigasi, serta prosedur tanggap darurat. Dosen memberikan penjelasan mengenai aspek teknis yang terkait dengan infrastruktur mitigasi bencana. Simulasi: Setelah sosialisasi, dilakukan simulasi penanggulangan bencana yang melibatkan siswa. Simulasi ini bertujuan untuk melatih siswa dalam penerapan pengetahuan yang telah diperoleh, termasuk praktik evakuasi dan penggunaan alat keselamatan. Evaluasi: Setelah kegiatan, evaluasi dilakukan untuk menilai pemahaman dan keterampilan siswa melalui diskusi kelompok. Umpan balik dari peserta digunakan untuk mengevaluasi a. ISSN : 2828-5700 . JOONG-KI : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. No. Mei 2025 efektivitas program dan merencanakan perbaikan di masa mendatang. Laporan dan Tindak Lanjut: Hasil kegiatan dilaporkan kepada BPBD dan pihak sekolah, dengan rekomendasi untuk program lanjutan yang dapat meningkatkan kesiapsiagaan bencana di SMP Negeri 2 Meureubo. Melalui metode ini, diharapkan siswa memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk menghadapi situasi bencana dengan lebih siap dan tanggap. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil kegiatan pembinaan dan sosialisasi kewaspadaan bencana yang dilaksanakan di SMP Negeri 2 Meureubo pada tahun 2024 menunjukkan hasil yang signifikan dalam hal peningkatan kesadaran dan pemahaman siswa mengenai potensi bencana, khususnya bencana gempa bumi. Beberapa aspek kunci yang dapat dicatat dari kegiatan ini meliputi pemahaman tentang ancaman bencana, pengalaman praktis melalui simulasi, antusiasme siswa dalam berpartisipasi, peran aktif guru dalam proses pembelajaran, dan dampak luas yang dapat memengaruhi komunitas. Pemahaman Tentang Ancaman Bencana Salah satu pencapaian signifikan dari kegiatan pembinaan dan sosialisasi kewaspadaan bencana di SMP Negeri 2 Meureubo adalah peningkatan pemahaman siswa tentang ancaman bencana, terutama gempa bumi. Peningkatan pemahaman ini dicapai melalui penggunaan metode pembelajaran interaktif yang meliputi diskusi kelompok, presentasi multimedia, dan studi kasus. Metode ini dirancang untuk memberikan pemahaman yang mendalam mengenai penyebab, dampak, dan langkah mitigasi yang harus diambil saat bencana terjadi. Dalam sesi diskusi kelompok, siswa diberikan kesempatan untuk berbagi informasi mengenai pengalaman pribadi mereka terkait bencana. Mereka menceritakan kejadian yang pernah mereka alami langsung, seperti gempa bumi yang pernah mengguncang daerah mereka, serta bencana yang mereka saksikan di media. Pendekatan ini tidak hanya memperkaya wawasan siswa, tetapi juga menciptakan suasana belajar yang dinamis dan saling menginspirasi. Keterlibatan aktif siswa dalam berbagi pengalaman memberikan nuansa empati, di mana mereka dapat memahami bahwa setiap orang dapat terpengaruh oleh bencana dengan cara yang berbeda. Antusiasme siswa tampak jelas saat mereka mengajukan pertanyaan yang menggugah diskusi lebih lanjut. Beberapa siswa mempertanyakan bagaimana cara memastikan keselamatan di rumah masing-masing saat terjadi gempa, atau bertanya tentang bagaimana pemerintah merespons bencana alam. Pertanyaan-pertanyaan ini menunjukkan bahwa siswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga mengaitkan materi pembelajaran dengan realitas yang mereka hadapi di lingkungan sekitar. Melalui diskusi ini, kegiatan belajar menjadi lebih relevan dan kontekstual bagi mereka. Setelah sesi diskusi, siswa juga terlibat dalam aktivitas kolaboratif yang menantang mereka untuk menyusun langkah-langkah mitigasi bencana berdasarkan informasi yang telah mereka pelajari. Dengan bekerja dalam kelompok, mereka mendiskusikan dan menyepakati caracara terbaik untuk mempersiapkan diri dan keluarga mereka dalam menghadapi gempa bumi. Hal ini tidak hanya mendorong siswa untuk berpikir kritis, tetapi juga meningkatkan keterampilan komunikasi dan kerjasama tim. Lebih dari sekadar meningkatkan pengetahuan, kegiatan ini juga menumbuhkan rasa kepedulian dan tanggung jawab sosial di antara siswa. Mereka mulai menyadari bahwa a. ISSN : 2828-5700 . JOONG-KI : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. No. Mei 2025 memahami ancaman bencana bukan hanya untuk diri mereka sendiri, tetapi juga untuk menjaga keselamatan keluarga dan komunitas. Beberapa siswa bahkan menyatakan keinginan untuk mengadakan kegiatan penyuluhan di lingkungan rumah mereka untuk berbagi pengetahuan yang mereka peroleh dengan anggota keluarga dan tetangga. Secara keseluruhan, kegiatan ini berhasil menciptakan suasana belajar yang inklusif dan interaktif, di mana siswa tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga pelaku aktif dalam proses pembelajaran. Pemahaman yang mereka peroleh tidak hanya bersifat akademis, tetapi juga aplikatif, dan diharapkan dapat mendorong siswa untuk lebih proaktif dalam mempersiapkan diri dan orang-orang di sekitar mereka terhadap ancaman bencana di masa depan. Gambar 1. Pemaparan Materi dan Mitigasi Bencana oleh Badan Penanggulan Bencana Daerah dan Tim Dosen Prodi Teknik Sipil Universitas Teuku Umar Pengalaman Praktis Melalui Simulasi Simulasi bencana gempa yang dilakukan di akhir sesi merupakan salah satu komponen paling penting dari kegiatan ini. Dalam simulasi tersebut, siswa dilatih untuk mengikuti prosedur evakuasi yang benar, mulai dari cara mengenali tanda bahaya, melakukan perlindungan diri, hingga bergerak menuju titik kumpul yang aman. Kegiatan simulasi ini tidak hanya memberikan pengalaman praktis, tetapi juga menguatkan pengetahuan teori yang telah mereka pelajari Kegiatan simulasi dirancang secara sistematis dan bertahap. Dimulai dengan pengenalan teori di kelas, di mana siswa diberikan informasi tentang jenis-jenis bencana, tandatanda awal gempa bumi, serta langkah-langkah mitigasi yang harus diambil. Penggunaan media visual, seperti video dan presentasi, membantu siswa untuk a. ISSN : 2828-5700 . JOONG-KI : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. No. Mei 2025 memahami konteks situasi yang mungkin mereka hadapi. Setelah pengenalan teori, dilakukan demonstrasi prosedur evakuasi oleh instruktur yang berpengalaman, yang memberi siswa gambaran jelas tentang langkah-langkah yang harus dilakukan saat terjadi bencana. Setelah sesi demonstrasi, siswa dibagi dalam kelompok-kelompok kecil untuk melakukan latihan evakuasi. Pembagian kelompok ini bertujuan untuk menciptakan suasana yang lebih mendukung, di mana setiap siswa dapat berpartisipasi aktif dan berinteraksi dengan teman sekelas mereka. Dengan melatih secara berulang, siswa tidak hanya belajar tentang langkah-langkah yang harus diambil dalam situasi darurat, tetapi juga mengembangkan rasa percaya diri dalam Setiap kelompok melakukan latihan evakuasi dengan bimbingan guru dan tim pengajar, yang memberikan umpan balik langsung mengenai tindakan mereka. Umpan balik dari siswa setelah simulasi menunjukkan bahwa mereka merasa lebih percaya diri dan siap menghadapi situasi darurat. Banyak dari mereka yang mengungkapkan rasa syukur atas kesempatan untuk melakukan latihan ini, karena mereka merasa lebih siap dan memiliki pemahaman yang lebih baik tentang pentingnya ketenangan dan komunikasi yang efektif dalam kondisi krisis. Beberapa siswa mencatat bahwa pengalaman ini juga meningkatkan kesadaran mereka akan tanggung jawab terhadap keselamatan teman-teman dan anggota keluarga Simulasi juga menciptakan peluang bagi siswa untuk belajar tentang dinamika kelompok dalam situasi darurat. Mereka belajar untuk saling mendukung, mengingatkan satu sama lain tentang prosedur yang benar, dan mengambil inisiatif dalam situasi yang penuh tekanan. Kesempatan ini sangat berharga, karena di dalam keadaan darurat, kemampuan untuk bekerja sama dan berkomunikasi dengan jelas dapat menyelamatkan nyawa. Di akhir kegiatan, para siswa melakukan refleksi tentang pengalaman simulasi tersebut. Mereka berbagi cerita tentang tantangan yang mereka hadapi selama latihan dan bagaimana mereka mengatasi rasa takut atau kekhawatiran. Melalui refleksi ini, siswa tidak hanya menginternalisasi pengetahuan yang telah mereka peroleh, tetapi juga belajar untuk menghargai pengalaman belajar mereka. Secara keseluruhan, kegiatan simulasi bencana gempa ini tidak hanya memberikan pengalaman praktis, tetapi juga membangun ketahanan mental dan keterampilan sosial siswa. Diharapkan bahwa melalui pengalaman ini, mereka akan lebih siap dan tanggap dalam menghadapi situasi darurat yang mungkin terjadi di masa depan. Melalui latihan yang konsisten, siswa akan mampu menghadapi bencana dengan lebih tenang, terampil, dan terkoordinasi, serta menjadi agen perubahan dalam komunitas mereka ketika menyangkut isu-isu keselamatan dan mitigasi bencana. ISSN : 2828-5700 . JOONG-KI : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. No. Mei 2025 Gambar 2. Simulasi melindungi diri saat Gempa Bumi terjadi yang diikuti oleh siswa/siswi SMP Negeri 2 Meureubo Gambar 3. Simulasi melindungi diri saat Gempa Bumi terjadi yang diikuti oleh siswa/siswi SMP Negeri 2 Meureubo a. ISSN : 2828-5700 . JOONG-KI : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. No. Mei 2025 Gambar 4. Simulasi mengevakuasikan diri ke lapangan terbuka saat Gempa Bumi terjadi yang diikuti oleh siswa/siswi SMP Negeri 2 Meureubo Antusiasme Siswa Dalam Berpartisipasi Semangat dan antusiasme siswa selama kegiatan sangat mencolok dan dapat dirasakan sejak awal pelaksanaan. Dari saat pembukaan, siswa menunjukkan keterlibatan yang tinggi dalam semua aspek kegiatan, baik itu dalam diskusi maupun saat melakukan simulasi. Para siswa tidak hanya menjadi pendengar pasif. mereka aktif berpartisipasi dengan mengajukan pertanyaan kritis dan memberikan komentar yang relevan. Hal ini menunjukkan bahwa mereka tidak hanya memahami materi yang disampaikan, tetapi juga merasa memiliki rasa ingin tahu yang tinggi untuk mendalami topik kebencanaan lebih lanjut. Dalam sesi tanya jawab, sejumlah siswa menunjukkan ketertarikan yang kuat untuk mengeksplorasi lebih dalam mengenai berbagai aspek mitigasi bencana. Mereka tidak ragu untuk berbagi pandangan dan pendapat pribadi mengenai pengalaman mereka dengan bencana, baik yang mereka alami langsung maupun yang mereka ketahui melalui berita atau media sosial. Beberapa siswa bahkan menyatakan keinginan untuk membuat poster atau video edukatif sebagai proyek lanjutan yang dapat dibagikan kepada teman-teman mereka di sekolah. Usulan ini mencerminkan pemahaman mereka yang mendalam tentang materi dan keinginan untuk mengedukasi orang lain. Kegiatan ini menciptakan lingkungan belajar yang saling mendukung, di mana siswa merasa nyaman untuk bertanya dan berbagi informasi. Mereka belajar dari satu sama lain, dan dinamika ini semakin memperkuat pengetahuan yang diperoleh. Saat siswa berkolaborasi dalam kelompok kecil untuk mendiskusikan ide-ide proyek mereka, terlihat jelas bahwa mereka tidak hanya berfokus pada hasil akhir, tetapi juga menikmati proses belajar itu sendiri. Mereka saling memberi masukan dan dorongan, menciptakan suasana kerja sama yang produktif dan inspiratif. Antusiasme siswa juga terlihat dalam kesiapan mereka untuk melakukan tugas-tugas yang Banyak dari mereka datang dengan persiapan, seperti membawa materi tambahan untuk mendukung diskusi, atau meriset informasi terkait mitigasi bencana yang ingin mereka ketahui lebih dalam. Keterlibatan semacam ini tidak hanya menunjukkan rasa tanggung jawab a. ISSN : 2828-5700 . JOONG-KI : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. No. Mei 2025 terhadap pembelajaran mereka, tetapi juga mencerminkan kesadaran akan pentingnya topik yang sedang dibahas. Selama kegiatan simulasi bencana, siswa juga menunjukkan semangat yang luar Mereka saling berkoordinasi dan membantu satu sama lain, serta menunjukkan rasa kepemimpinan dalam kelompok saat menjalani prosedur evakuasi. Keterlibatan aktif mereka dalam simulasi ini tidak hanya menambah pemahaman tentang langkah-langkah mitigasi bencana, tetapi juga memperkuat keterampilan sosial dan emosional mereka, seperti empati dan kemampuan berkomunikasi dalam situasi stres. Sebagai hasil dari kegiatan ini, antusiasme siswa tidak hanya tercermin dalam keterlibatan mereka di kelas, tetapi juga dalam keinginan mereka untuk melanjutkan pembelajaran di luar kegiatan resmi. Beberapa siswa mengusulkan untuk mengadakan pertemuan rutin di luar jam sekolah untuk membahas lebih lanjut tentang kebencanaan dan untuk merencanakan proyek Hal ini menunjukkan bahwa mereka tidak hanya merasa teredukasi, tetapi juga berkomitmen untuk meneruskan pengetahuan tersebut ke komunitas yang lebih luas. Secara keseluruhan, antusiasme dan semangat siswa selama kegiatan ini sangat berkontribusi pada keberhasilan pembelajaran. Keterlibatan aktif mereka menciptakan iklim belajar yang positif, di mana setiap siswa merasa berharga dan dihargai. Keterlibatan semacam ini diharapkan dapat mendorong siswa untuk terus mencari pengetahuan lebih lanjut mengenai mitigasi bencana dan menjadikan mereka agen perubahan yang aktif dalam masyarakat. Peran Aktif Guru Dalam Proses Pembelajaran Dukungan guru sangat penting dalam keberhasilan kegiatan ini. Di SMP Negeri 2 Meureubo, guru berfungsi sebagai fasilitator yang aktif, tidak hanya menyampaikan informasi tetapi juga mendorong partisipasi siswa. Mereka menciptakan suasana belajar yang nyaman dengan mengajukan pertanyaan yang menantang dan mendorong siswa untuk berbagi pengalaman terkait bencana. Kepala Sekolah SMP Negeri 2 Meureubo menegaskan bahwa materi kebencanaan harus terintegrasi dalam kurikulum dan dilanjutkan secara rutin. Para guru berkomitmen untuk mengembangkan materi ajar yang menarik, seperti proyek kelompok dan presentasi multimedia, sehingga siswa dapat menerapkan pengetahuan dalam situasi nyata. Dengan menjadi role model, guru menunjukkan perilaku yang tepat saat menghadapi bencana, mengajarkan pentingnya ketenangan dan kolaborasi. Melalui kolaborasi antara guru dan siswa, sekolah menciptakan budaya kesiapsiagaan yang lebih kuat. Kegiatan ini tidak hanya meningkatkan pengetahuan teoritis, tetapi juga membekali siswa dengan keterampilan praktis. Dengan membentuk tim kesiapsiagaan bencana, siswa berkontribusi langsung dalam merancang rencana mitigasi, meningkatkan rasa tanggung jawab mereka. Secara keseluruhan, peran aktif guru dalam pembelajaran mendukung keberhasilan sosialisasi dan pembinaan kewaspadaan bencana, sehingga siswa menjadi lebih siap menghadapi bencana dan dapat menyebarluaskan pengetahuan tersebut ke keluarga dan Dampak Luas pada Komunitas Kegiatan pembinaan dan sosialisasi kewaspadaan bencana di SMP Negeri 2 Meureubo tidak hanya memberikan manfaat bagi siswa, tetapi juga berpotensi menciptakan dampak sosial yang luas di dalam komunitas. Dengan meningkatnya pemahaman siswa mengenai mitigasi bencana, mereka berfungsi sebagai agen perubahan yang mampu menyebarluaskan informasi penting ini kepada keluarga dan tetangga. Pengetahuan yang diperoleh siswa selama kegiatan dapat diimplementasikan dalam a. ISSN : 2828-5700 . JOONG-KI : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. No. Mei 2025 kehidupan sehari-hari. Siswa diharapkan membawa pulang informasi tentang langkah-langkah mitigasi bencana dan membagikannya kepada anggota keluarga. Diskusi yang terjadi di rumah dapat menciptakan kesadaran bersama tentang pentingnya kesiapsiagaan, sehingga memupuk budaya tanggap bencana dalam keluarga. Ini juga berpotensi mengurangi risiko dan dampak negatif saat bencana terjadi, karena keluarga akan lebih siap untuk menghadapi situasi darurat. Lebih jauh lagi, kegiatan ini dapat menginspirasi sekolah-sekolah lain di Aceh Barat untuk mengadopsi program serupa. Dengan berbagi pengalaman dan praktik baik, sekolahsekolah ini dapat membentuk jaringan yang kuat dalam upaya meningkatkan kesiapsiagaan Pembentukan jaringan ini memungkinkan sekolah untuk saling mendukung dalam penyelenggaraan sosialisasi, berbagi sumber daya, dan memperkuat program mitigasi bencana di daerah mereka. Keterlibatan orang tua dalam sosialisasi menjadi elemen penting dalam menciptakan dampak yang lebih luas. Dengan melibatkan orang tua dalam pembelajaran tentang bencana, diharapkan akan tercipta kesadaran kolektif di tingkat komunitas mengenai langkah-langkah yang perlu diambil saat terjadi bencana. Program sosialisasi yang melibatkan orang tua tidak hanya meningkatkan pemahaman mereka, tetapi juga menciptakan peluang untuk kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan masyarakat lokal dalam upaya mitigasi bencana. Keterlibatan masyarakat lokal dalam kegiatan ini juga dapat meningkatkan dukungan terhadap program mitigasi bencana. Dengan melibatkan tokoh masyarakat, organisasi nonpemerintah, dan lembaga pemerintah, program ini dapat mendapatkan perhatian yang lebih besar dan dukungan yang lebih kuat. Ini dapat menciptakan kesempatan untuk pelatihan berkelanjutan, simulasi bencana yang lebih luas, dan pengembangan rencana kontinjensi yang komprehensif. Secara keseluruhan, dampak dari kegiatan ini dapat dirasakan dalam jangka panjang, tidak hanya dalam bentuk pengetahuan yang diperoleh siswa, tetapi juga dalam perubahan perilaku dan peningkatan kesadaran di tingkat komunitas. Melalui kolaborasi yang berkelanjutan antara sekolah, siswa, orang tua, dan masyarakat, diharapkan akan terbentuk budaya kesiapsiagaan bencana yang lebih solid, sehingga Aceh Barat dapat menjadi daerah yang lebih tangguh dan siap menghadapi ancaman bencana di masa depan. Gambar 5. Foto Bersama Seluruh Pihak yang Terlibat dalam Kegiatan a. ISSN : 2828-5700 . JOONG-KI : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. No. Mei 2025 KESIMPULAN Berdasarkan kegiatan pembinaan dan sosialisasi kewaspadaan bencana di SMP Negeri 2 Meureubo menunjukkan dampak positif yang signifikan terhadap siswa dan komunitas. Kegiatan ini berhasil meningkatkan pemahaman siswa mengenai ancaman bencana, khususnya gempa bumi, melalui metode pembelajaran interaktif yang melibatkan diskusi, presentasi multimedia, dan simulasi praktis. Siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan teoritis, tetapi juga pengalaman langsung dalam prosedur evakuasi, yang membangun kepercayaan diri dan kesiapan mereka dalam menghadapi situasi darurat. Antusiasme siswa yang tinggi selama kegiatan menciptakan suasana belajar yang dinamis, di mana mereka aktif berpartisipasi dan menunjukkan minat untuk menggali lebih dalam mengenai mitigasi bencana. Peran aktif guru sebagai fasilitator juga sangat penting, karena mereka berhasil menciptakan lingkungan belajar yang inklusif, mendorong kolaborasi, dan memfasilitasi siswa dalam merancang langkah-langkah mitigasi bencana. Dampak kegiatan ini tidak hanya dirasakan oleh siswa, tetapi juga berpotensi menjangkau keluarga dan komunitas. Pengetahuan yang diperoleh siswa diharapkan dapat diteruskan kepada anggota keluarga dan lingkungan sekitar, menciptakan kesadaran bersama tentang pentingnya kesiapsiagaan bencana. Selain itu, kegiatan ini dapat menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lain di Aceh Barat untuk mengembangkan program serupa, sehingga menciptakan jaringan yang kuat dalam upaya mitigasi bencana. Dengan melibatkan orang tua dan masyarakat lokal, program ini mampu menciptakan kolaborasi yang lebih luas, memperkuat dukungan terhadap upaya mitigasi bencana, dan membangun budaya kesiapsiagaan yang lebih solid. Keseluruhan kegiatan ini mencerminkan komitmen SMP Negeri 2 Meureubo untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman dan mengedukasi generasi muda agar lebih siap dan tanggap terhadap ancaman bencana di masa depan. Penelitian lebih lanjut dapat melakukan penelitian untuk mengevaluasi keterlibatan orang tua dan anggota masyarakat dalam program sosialisasi bencana. Penelitian ini dapat memberikan wawasan mengenai cara meningkatkan partisipasi keluarga dalam mendukung pendidikan kesiapsiagaan bencana. Penelitian ini di harapkan dapat kontribusi yang lebih besar terhadap pengembangan program mitigasi bencana di sekolah serta meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat terhadap ancaman bencana. PENGAKUAN/ACKNOWLEDGEMENTS Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Aceh Barat atas dukungan penuh dalam kegiatan AuPembinaan dan Sosialisasi Kewaspadaan BencanaAy. Kolaborasi yang terjalin antara tim kami dengan BPBD telah memberikan kontribusi yang sangat berarti dalam upaya meningkatkan kesadaran dan kesiapsiagaan terhadap bencana, khususnya di kalangan pelajar. Kami juga menyampaikan apresiasi yang tulus kepada pihak SMP Negeri 2 Meureubo, baik kepada Kepala Sekolah, para guru, maupun siswa-siswi, yang telah berpartisipasi aktif dalam kegiatan ini. Antusiasme dan komitmen yang ditunjukkan oleh seluruh pihak sekolah sangat memotivasi kami untuk terus mengembangkan program-program serupa di masa yang akan datang. Semoga kegiatan ini memberikan manfaat besar dan terus menginspirasi komunitas sekolah dalam menciptakan budaya kesiapsiagaan bencana. ISSN : 2828-5700 . JOONG-KI : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. No. Mei 2025 DAFTAR PUSTAKA