Novita Sari. Ramanata Disurya. Silo Siswanto Diterima Pada 14 Januari 2022 Disetujui Pada 8 April 2022 BENTUK PENYAJIAN TARI PIRING PADA SANGGAR PIKKO KOTA PALEMBANG Vol. No. 1, 2022 Novita Sari1. Ramanata Disurya2. Silo Siswanto3 Halaman 3Universitas PGRI Palembang novitaagus@gmail. E-ISSN : Abstrak Pembahasan dalam penelitian ini adalah mengenai bagaimana bentuk penyajian tari piriang pada sanggar Pikko Kota Palembang, yang didalam penelitainnya terdapat tujuh komponen dalam penyajiannya yaitu gerak, penari, tata rias dan busana, pola lantai, property, musik iringan tari dan tempat pertunjukan. Adapun tujuan dalam penelitian ini untuk mengertahui dan menjelaskan bagaimana bentuk penyajian tari piring pada sanggar Pikko kota Palembang. Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data adalah teknik observasi yang dilakukan di sanggar Pikko kota Palembang, teknik wawancara yang didapat data dari narasumber yaitu ibu Hj. Purwati dan bapak Alfiandika, dan teknik dokumentasi yang didapat dari foto-foto dan rekaman video. Hasil yang didapat dari penelitian adalah Tari Piring yang semulanya tarian tradisi dari daerah Minangkabau menjadi tarian kreasi yang sudah dikembangkan oleh sanggar Pikko kota Palembang. Kata Kunci: Tari Piring. Sanggar Pikko PENDAHULUAN Tari piring dalam bahasa Minangkabau adalah tari piriang, mempunyai ciri khas di dalamnya, dalam pertunjukan tari piring ini terjadi komunikasi non verbal antara Gerakan-gerakan anggota tubuh yang sering dikenal dengan istilah bahasa isyarat atau body language merupakan komunikasi NonVerbal yang salah satu bentuk komunikasinya melalui gerakan tersebut bukan dengan kata Ae kata atau suara. Adapun, komunikasi non verbal dapat melalui kontak mata dengan musik pengiring serta dengan penonton. Sanggar Pikko Art kota Palembang ini berdiri pada bulan Desember tahun 1984 pada dibawah pimpinan Ibu Hj. Purwati. Disanggar selalu menyajikan paket-paket tarian dari daerah Sumatera Barat, seperti tari sambut, tari piring, tari kreasi serta paket pelaminan, sesuai dengan permintaan yang punya hajatan dalam resepsi pernikahan. Tari Piring disanggar Pikko menjadi tarian andalan dan unik bagi penonton serta bagi masyarakat Kota Palembang, dengan kearifan lokal dan keunikan dalam gerak yang disajikan, disertai poperti dua buah piring dan dama . uah kemiri yang sudah dikeringkan dan dijadikan cinci. sebagai tempo untuk membunyikan piring. Ada juga sebagian sanggar Pikko ART menggunakan ring yang terbuat dari besi kecil sebagai pengganti dama. Sanggar pikko banyak menerima tawaran manggung dalam setiap kegiatan instansi maupun hajatan dalam masyarakat kota Palembang. Novita Sari. Ramanata Disurya. Silo Siswanto Tari piriang/Piring merupakan tari tradisional yang berasal dari Minangkabau, berdasarkan pengamatan sesuai dari namanya kita dapat mengamati pertunjukan dan akan melihat penari yang menari dengan menggunakan Tari Piring diiringi oleh alat musik tradisi Talempong dan Bansi. Kelompok penari piring biasanya berjumlah ganjil yaitu 3 sampai 7 orang bahkan lebih. Piring Ae piring akan dibawa oleh penari di tangannya sambil mendentingkan dentingan suara yang ditimbulkan oleh cincin dengan piring. Gerakannya sangat serasi, rapi dan cepat. Tari tersebut berasal dari daerah Solok Sumatera Barat. Pada awalnya tarian ini merupakan tarian tradisi ritual rasa syukur masyarakat Minang atas hasil panen yang Tetapi pada sanggar Pikko kota Palembang tari piriang merupakan tarian hasil kreasi dari tarian piriang tradisi dari Bukit Tinggi sumatera Barat. awancara dengan Pimpinan Sanggar Pikko Art Ibu Hj. Purwat. Dengan perkembangan zaman maka tari Piring ini berubah fungsi menjadi sebuah sajian seni pertunjukan, merupakan sebuah aktivitas atau peristiwa yang dibuat dan direncanakan oleh seniman, tentunya seniman sebagai gagasannya diekspresikan melalui gerak tari piring yang bersifat hiburan dalam acara khususnya acara resepsi pernikahan di Kota Palembang. Di Kota palembang sanggar Pikko memiliki nama yang cukup tenar untuk pagelaran paket pernikahan adat Minangkabau, sehingga sering juga masyarakat kota palembang memakai jasa untuk hiburan dalam acara resepsi pernikahan, tetapi tak jarang juga Palembang mempertahankan egonya untuk tetap melestarikan kebudayaan setempat dengan memakai jasa hiburan untuk acara resepsi Keistimewaan Tari Piring di Sanggar Pikko ART yaitu menggunakan piring sebagai properti utamanya. Penari Tari Piring melakukan gerakan Ae gerakan piring dengan cepat dan serasi tanpa terlepas dari genggaman sembari berlenggok Ae lenggok dengan gerakan yang mengalir gemulai dan Selain itu, penari piring juga sering melakukan tarian di atas pecahan Ae pecahan kaca atau beling dari botol dilapisi dengan ambal / tikar karpet tipis agar piring - piring tidak berserakan setelah di injak - injak. Mereka menari, melompat - lompat, dan berguling - guling sembari membawa piring di atas bekas pecahan kaca. Adapun keuniknya penari piring tersebut piring yang mereka bawa tidak jatuh dan para penari tidak terluka sedikitpun. Dengan diiringi para seniman musik pengiring yang menjadi perpaduan gerak nampak dalam tari piring ini, adapun lantunan melodi yang di dominankan oleh alat musik seperti : talempong, bansi, acordion, bass. Serta perkusi menambah semangat dalam perpaduan gerak tari piring. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyajian tari piring pada sanggar Pikko ART Kota Palembang. METODE Dalam penelitian ini peneliti akan meneliti tari Piring, untuk mengetahui AuBentuk Pertunjukan Tari Piring pada Sanggar Pikko ART Kota PalembangAy, penulis mencari informasi yang di inginkan berdasarkan pokok permasalahan yang dikaji, maka Penelitian Kualitatif. Tempat dan Waktu Penelitian Tempat merupakan lokasi dimana peneliti mendapatkan data dan informasi yang valid, sedangkan waktu merupakan kapan terjadinya penelitian. Dari hal tersebut dapat dipaparkan bahwa tempat yang dijadikan penelitian adalah Sanggar Pikko ART Kota Novita Sari. Ramanata Disurya. Silo Siswanto Palembang. Waktu kegiatan penelitian untuk penelitian AuBentuk Pertunjukan Tari Piring pada Sanggar Pikko ART Kota PalembangAy yakni pada bulan September 2021 Objek dan Informan Peneliti Adapun yang menjadi objek penelitian ini adalah Tari Piring, dengan topik bahasan sebagai bahan kajian adalah AuBentuk Penyajian Tari Piring pada Sanggar Pikko ART Kota PalembangAy, yang dimaksudkan untuk mengetahui bentuk pertunjukan dari tari tersebut dari para informan yang dijadikan sebagai narasumber penelitian. Informan atau narasumber yaitu Ibu HJ. Purwati, selaku Pendiri sanggar Pikko ART dan Bapak Alfiandika selaku penata musik iringan tari Piring yang dipercayai sebagai pemberi data bagi peneliti dalam sebuah Metode Penelitian Metode berasal dari kata methode . dari akar kata meta yang artinya menuju, memulai dan hodos . alan atau car. Metode penelitian adalah mengemukakan secara teknis tentang strategi yang digunakan pemilihan informan, penentuan setting, teknik pengambilan data, dan teknik analisis Jadi penelitian tentang Bentuk Penyajian tari Piring menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif harus benar-benar mengamati secara langsung atau melihat rekaman video dan foto Ae foto, hal ini akan mempermudah peneliti untuk mendapatkan data yang akurat dan dapat dipercaya. Data dan Sumber Data Data dan sumber data dalam penelitian ini diperlukan data dan sumber data yang akurat sehingga hasil yang dicapai mampu menjawab permasalahan dalam penelitian. Menurut Darmadi . AuData adalah sesuatu yang digunakan atau dibutuhkan dalam penelitian dengan menggunakan parameter tertentu yang telah ditentukanAy. Darmadi, . menulis bahwa: Sumber primer adalah sumber bahan atau dokumen yang dikemukakan atau digambarkan sendiri oleh orang atau pihak yang hadir pada waktu kejadian yang digambarkan tersebut berlangsung, dan sumber sekunder sumber bahan digambarkan oleh bukan orang yang ikut mengalami atau yang hadir pada waktu kejadian berlangsung. Sumber data primer diperoleh melalui wawancara pada narasumber yaitu dengan Ibuk Hj. Purwati sedangkan sumber data sekunder diperoleh melalui buku dan catatan yang berhubungan dengan penelitian. Jadi, sumber data merupakan asal dari data dan informasi secara akurat yang kita peroleh untuk di jadikan sasaran penelitian. Adapun dalam penelitian ini sumber data tentang bentuk pertunjukan tari Piring ini didapat dari narasumber atau informan yang ada di Sanggar Pikko ART Kota Palembang. Teknik Pengumpulan Data Permasalahan diperlukan data yang akurat sehingga hasil permasalahan dalam penelitian. Menurut Noor AuTeknik mengumpulkan data yang dibutuhkan untuk menjawab rumusan masalah penelitianAy. Berdasarkan penjelasan tersebut, dalam hal pengumpulan data yaitu: Novita Sari. Ramanata Disurya. Silo Siswanto Teknik Observasi Nasution . menyatakan bahwa, observasi adalah dasar dari semua ilmu Para ilmuan hanya dapat bekerja berdasarkan data, yaitu fakta mengenai dunia kenyataan yang diperoleh melalui observasi. Dalam buku Sugiyono ( 2010:. Dalam hal ini, observasi partisipatif, terus terang, dan tidak mengumpulkan data dilapangan. Observasi atau pengamatan langsung ke lapangan penting dilakukan dalam penelitian ini untuk mendapatkan data berkenaan dengan kondisi objektif yang ada di lapangan. Observasi lapangan dilakukan dengan mendatangi dan mengamati pertunjukan tari Piring di sanggar Pikko Art. Observasi ini dilakukan dengan bantuan penggunaan alat - alat pendokumentasian seperti kamera foto, kamera video. Adapun observasi yang dilakukan peneliti yaitu tiga kali. Pada pertemuan pertama tariPiriang, selanjutnya pertemuan kedua peneliti lebih kepada apa yang ada pada fokus dan subfokus bentuk Pertunjukan Tari Piring. Pertemuan ketiga peneliti melihat bagaimana ragam gerak tari Piring. Teknik Wawancara Karena data dalam penelitian kualitatif lebih berupa kata Ae kata, maka wawancara menjadi perangkat yang sedemikian penting. Terdapat dua jenis wawancara. wawancara terstruktur dan wawancara takterstruktur. Dalam wawancara terstruktur, bahan-bahan wawancara disiapkan secara Sebaliknya taktersturuktur menghindari ketatnya struktur Agus Salim. Namun yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara tak-terstruktur. Teknik mendalam dengan menggunakan pola-pola yang tidak kaku dan baku sebagai penelitian ilmu alam. Dalam hal ini wawancara yang dilakukan adalah wawancara terbuka. Pertanyaan diajukan bersifat memokok sub-stansi Pertanyaan dikembangkan di lapangan sesuai situasi dan konteks yang dihadapi selama melakukan wawancara. Peneliti menaroh perhatian penuh pada pandangan etnik atau budaya masyarakat pendukung tari Piring ini. wawancara dilakukan kepada Pendiri sanggar Pikko Art, seniman. Wawancara dilakukan untuk mendapatkan data-data terkait pandangan dan pendirian informan terkait pertunjukan tari Piring. Dalam menggunakan beberapa peralatan seperti buku catatan, tape rekorder, camera. Teknik Dokumentasi Dokumentasi adalah sebuah cara yang dilakukan untuk menyediakan dokumen Ae dokumen dengan menggunakan buti yang Menurut Sugiyono . AuDokumen adalah catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya monumental dari seseorangAy. Dokumentasi digunakan untuk menjaring data tentang AuBentuk Pertunjukan Tari Piring pada Sanggar Pikko ART Kota PalembangAy, sekaligus untuk melengkapi data-data yang dipakai pada wawancara dari narasumber. Dokumentasi diharapkan berupa video, rekaman tari Piring, foto-foto tari Piring, dan masyarakat/kepala desa serta sumber lainnya yang relevan dengan permasalahan. Teknik Keabsahan Data Keabsahan data adalah standar jebenaran suatu data hasil penelitian. Menurut Afrizal . AuPenelitian kualitatif hanya Novita Sari. Ramanata Disurya. Silo Siswanto peduli dengan validitas data. Validitas data data adalah data yang telah terkumpul dapat diungkapkan peneliti. Dalam penelitian ini akan menggunakan teknik triangulasi. Menurut Putra . AuTriangulasi menggunakan beragam sumber, teknik, dan Beragam sumber maksudnya digunakan lebih dari satu sumber untuk memastikan apakah datanya benar atau "Dalam triangulasi ini sangat membantu penulis untuk memeriksa data tentang tari Piring. Teknik Analisis Data Analisis data adalah suatu kegiatan untuk mengubah hasil dari suatu penelitian menjadi sebuah informasi yang baru. Sugiyono . menulis bahwa: Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistemastis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan bahan-bahan lain, sehingga dapat mudah dinformasikan kepada orang lain. Analisis data dilakukan dengan mengorganissikan data, menjabarkannya ke dalam unit-unit, melakukan sintesis, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan yang dpat diceritakan orang lain. Menurut Sugiyono . AuAnalisis data kualitatif adalah bersifat induktif, yaitu suatu analisis berdasarkan data yang diperoleh. Berdasarkan hipotesis yang dirumuskan berdasarkan data tersebut, selanjutnya dicarikan data lagi secara berulang - ulangAy. Hasil Penelitian Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bentuk pertunjukan tari Piring di Sanggar Pikko Kota Palembang, pembahasan secara langsung dari nara sumber pimpinan sanggar Pikko Kota Palembang yang menjelaskan tentang penyajian Tari Piring, yang berfokus pada beberapa unsur yaitu : . gera tari, . penari, . rias dan busana, . pola lantai . properti, . musik, . tempat pertunjukan. Gerak Tari Piriang Berdasarkan data yang didapat sesuai dengan hasil observasi, dokumentasi dan wawancara di sanggar Pikko Kota Palembang Tari Piring mempunyai ragam gerak yang kreasi dan lincah yang sudah digarap oleh sanggar Pikko Kota Palembang berdasarkan gerakan dasar yang ada di Sumatera Barat, yang diambil dari beberapa tarian seperti Tari Rantak Kudo. Tari Alang Babega, dan gerakan Silat. Ragam gerak tari Piriang dibagi menjadi 5 gerak dasar . awancara pimpinan sanggar Pikko Kota Palembang. Hj. Purwat. Gerak awal Gerak yang dilakukan ketika memasuki area pentas atau tengah panggung dengan bersusun maju kedepan penonton, gerakan dilakukan dengan berbaris menghadap kedepan semua posisi badan condong kesamping kanan kepala mengikuti arah badan dan posisi tangan silang didepan dada dengan membawa piring yang diletakkan diatas telapak tangan. Posisi kaki kanan menyilang kaki kekiri. HASIL DAN PEMBAHASAN Novita Sari. Ramanata Disurya. Silo Siswanto Gambar 1. Gerak Awal (Dokumentasi oleh Novita Sar. Gerak Kedua (Siganjua Lala. Gerak ini disebut dengan gerak siganjua lalai yaitu langkah yang mengalun dengan gerakan kaki kanan jinjit maju kesamping depan menyilang kaki kiri yang juga jinjit, dengan posisi kedua tangan mengayun keatas dan kebawa dengan membawa piring dan posisi badan membungkuk kedepan. Makna ragam gerak Siganjau Lalai adalah sifat kepribadian seorang perempuan yang lemah lembut dan anggun yang dituangkan dalam gerak tari piring ini. Gambar 3. Gerak Simpia (Dokumentasi oleh Novita Sar. Gerak keempat (Simpia Level Renda. Pada gerakan keempat ini yaitu gerakan Simpia level rendah, dengan posisi kaki kiri melangkah kesamping depan menyilang kaki kanan, badan ditekuk mengikuti arah kaki yang didepan, tangan yang membawa piring diayunkan kekiri dan kekanan berlawanan dengan arah langkah kaki dengan tinggi ayunan tangan sebatas Gambar 2. Gerak Siganjua Lalai (Dokumentasi oleh Novita Sar. Gerak Ketiga (Simpi. Gerakan Simpia ini yaitu gerakan kaki kanan dan kaki kiri maju mundur dengan hitungan satu kali empat, dengan posisi kuda Ae kuda, gerakan dilakukan dengan maju kedepan kesamping kiri kanan bergantian, yaitu kaki kanan maju kedepan kesamping kiri menyilang kaki kiri kemudian mundur buka kaki kanan dan dan putar kearah berlawanan dengan gerakan yang sama dengan posisi tangan menyilang membawa piring didepan Gambar 4. Gerak Simpia Level Bawah (Dokumentasi oleh Novita Sar. Gerak kelima (Alang Taban. Gerakan Alang Tabang pada ragam gerak tari piriang adalah gerak yang dilakukan seperti gerak burung elang yang terbang, dalam bahasa Minangnya disebut Alang tabang menghadap kedepan dan tangan kiri melengkung telapak tangan membawa Novita Sari. Ramanata Disurya. Silo Siswanto piring menghadap keatas berputar kekiri dan kekanan, posisi kaki maju mundur kaki kanan buka arah kedepan dan tangan diayunkan keatas dan kebawah. untuk kemegahan serta kewibawaan dalam mempercantik diri. Rias dalan pertunjukan tari piriang sanggar Pikko kota palembang sama halnya dengan para penari wanita juga mewajiban penari laki Ae laki untuk menghias diri setampan mungkin yang mendukung agar terpancar pesona dan kemegahan dalam menari . awancara pimpinan sanggar Pikko Kota Palembang. Hj. Purwat. Gambar 5. Gerak Alang Tabang (Dokumentasi oleh Novita Sar. Penari Tari Piring Berdasarkan data yang didapat sesuai dengan hasil observasi, dokumentasi dan wawancara di sanggar Pikko Kota Palembang Tari Piring memiliki jumlah penari yang tidak tentu namun berjumlah ganjil biasanya tiga, lima, dan tujuh, namun semakin banyak para penarinya semakin asyik dan unik pertunjukannya. Para penari tidak ditentukan dari faktor umur dan jenis kelamin, penarinya bisa dilakukan oleh perempuan ataupun Laki Ae laki dan bisa juga ditarikan oleh anak Ae anak dan orang Ae orang yang sudah dewasa bahkan yang sudah menikah sekalipun bisa ikut bergabung di sanggar Pikko Kota Palembang . awancara pimpinan sanggar Pikko Kota Palembang. Hj. Purwat. Tata Rias dan Busana Berdasarkan data yang didapat sesuai dengan hasil observasi, dokumentasi dan wawancara di sanggar Pikko Kota Palembang. Para penari memakai rias panggung saat akan tampil. Tata rias merupakan faktor pendukung dalam pertunjukan tari Piring karena merubah penampilan seorang penari dari bentuk atau rupa aslinya. Tujuan dari tata rias ini yakni Gambar 6. Rias pada Tari piring (Dokumentasi Sanggar Pikko Palemban. Berdasarkan data yang didapat sesuai dengan hasil observasi, dokumentasi dan wawancara di sanggar Pikko Kota Palembang pemakaian busana merupakan peran penting dalam pertunjukan tari piriang, sama halnya dengan tarian tradisional lainnya tari piring juga memiliki busana khas pada saat pertunjukan. Busana yang digunaan terbagi dua jenis yaitu busana untuk penari pria dan untuk penari wanita, namun memiliki keseragam dan kompak. Busana yang digunakan saat pertunjukan tari piring dari dahulu hingga sekarang tidak berubah, hanya saja menambahan hiasan busana yang mengikuti zaman. Para penari wanita memakai baju kurung khas Minang yang terbuat dari kain satin atau beludru dan bagian bawah memakai kain songket atau bisa juga memakai celana panjang. Pada umumya memilki keselarasan warna antara atasan dan bawahan kostum yang digunakan, adapula yang dipakai untuk dililitkan pada pinggang berupa sebuah ikat pinggang yang terbuat dari bahan yang sma dengan kostum umumnya pada bagian Novita Sari. Ramanata Disurya. Silo Siswanto ujungnya terdapat hiasan seperti rumbai Ae rumbai asesoris kepala boleh memakai tikuluak dan boleh juga memakai tikulak tanduk yang bentuknya meyerupai tanduk kerbau, kalung rumbai dan kalung gadang serta subang atau anting merupakan asesoris pendukung yang membuat kemegahan busana para penari wanita. Untuk penari pria menggunakan busana rang mudo dengan lengan baju yang yang cukup lebar serta hiasan yang ditempelkan pada bagian ujung lengan . ende ema. , menggunkan celana dengan ukuran yang cuup besar pada bagian tengah yang disebut dengan galembong, umumnya memilki keselarasan warna pada baju yang dipakai . ang mud. lengap dengan menggunakan sisamping cawek pada pinggang yang merupakan sebuah kain yang dililitkan pada pinggang dengan panjang sampai keleutut Asesoris kepala memakai destar atau deta yang merupakan ain penutup kepala yang terbuat dari bahan dasar songket dengan bentuk segitiga dan diikatkan dikepala penari pria dengan bentuk tertentu. Tari Piring menggunakan musik khas Minangkabau yang banyak menggunakan alat musik tradisi dari Sumatera Barat yang terdiri dari alat musik Talempong. Sarunai. Gandang. Jimbe. Acodion, dan alat musik pendukung lainnya . awancara pimpinan sanggar Pikko Kota Palembang. Hj. Purwat. Gambar 7. Busana tari piring menggunakan kain (Dokumentasi Sanggar Pikko Palemban. Gambar 8. Busana tari piring memakai celana (Dokumentasi Sanggar Pikko Palemban. Pola Lantai Berdasarkan data yang didapat sesuai dengan hasil observasi, dokumentasi dan wawancara di sanggar Pikko Kota Palembang pola lantai merupakan formasi gerakan yang dilakukan oleh penari atau posisi penari dalam area pementasan. Dalam area pementasan formasi gerakan yang dilakukan oleh penari piriang sanggar Pikko ini memiliki pola lantai sesuai dengan mengikuti gerakan dasarnya. Di dalam penyajian tari Piriang tidak pola lantainya tidak ditentukan karena pada saat setiap pementasan diperbeda tempat tidak sama . awancara pimpinan sanggar Pikko Kota Palembang. Hj. Purwat. Properti Berdasarkan data yang didapat sesuai dengan hasil observasi, dokumentasi dan wawancara di sanggar Pikko Kota Palembang poperti yang wajib digunakan pada tari Piring adalah Piring dan beling pecahan atau pevahan kaca. Piring dibawa oleh para penari dan diletakan pada telapak tangan, sedangkan pecahan kaca dihaburkan dilantai yang beralaskan karpet. Para penari wanita dan pria menari dengan Novita Sari. Ramanata Disurya. Silo Siswanto membawa piring ditelapak tangannya dan tidak boleh terjatuh dilantai, setelah tarian akan selesai penari pria menari dengan menginjak Ae injak beling yang diserakkan Penari yang menari diatas kaca harus bersih jasmani dan rohani yaitu bersih dari najis dan tidak memiliki fikiran kotor atau berprasangka buruk sesama makhluk ciptaan Tuhan, jadi dalam tari Piring ini tidak ada unsur magiknya . awancara pimpinan sanggar Pikko Kota Palembang. Hj. Purwat. alat musik tradisi dari Sumatera Barat juga di iringi dengan vocal (Dendan. minang yang di ciptakan atau di garap oleh sanggar Pikko, mendendangkannya yaitu dari pemain musik yang berjumlah satu orang atau lebih. Dendang dinyanyikan mengikuti iringan musik dan gerak tari sehingga membuat suasana hati senang ketika menonton pertunjukan tari piring. Alat musik tradisi yang digunakan pada tari piring sanggar Pkko Kota Palembang . awancara pimpinan sanggar Pikko Kota Palembang. Hj. Purwat. Gambar 9. Piring (Dokumentasi Sanggar Pikko Palemban. Gambar 11. Gandang (Dokumentasi Sanggar Pikko Palemban. Gambar 10. Pecahan piring (Dokumentasi Sanggar Pikko Palemban. Musik Iringan Tari Berdasarkan data yang didapat sesuai dengan hasil observasi, dokumentasi dan wawancara di sanggar Pikko Kota Palembang Tari Piring menggunakan musik Minangkabau menggunakan alat musik tradisi dari Sumatera Barat yang terdiri dari alat musik Talempong. Sarunai. Gandang. Jimbe dan Gambar 12. Serunai dan Talempong (Dokumentasi Sanggar Pikko Palemban. Pada umumnya tari Piriang selain di iringi Novita Sari. Ramanata Disurya. Silo Siswanto Gambar 13. Jimbe (Dokumentasi Sanggar Pikko Palemban. Gambar 14. Accordion (Dokumentasi Sanggar Pikko Palemban. Tempat Pertunjukan Berdasarkan data yang didapat sesuai dengan hasil observasi, dokumentasi dan wawancara di sanggar Pikko Kota Palembang pementasan tari Piriang bisa dipertunjukkan di dlilapangan terbuka dan didalam Gedung ataupun didalam studio pertunjukan seni, tari Piriang Sanggar Pikko Kota Palembang dipertunjukan pada saat acara Ae acara dipertunjukkan didalam pada acara hiburan seperti pada resepsi di pernikahan yang bias dipertontonkan didalam Gedung maupun diluar Gedung, dan begitu juga pada saat mengisi acara di instansi pemerintahan bias juga dipertontonkan di dalam gedung maupun di lapangan terbuka sesuai dengan permintaan pemakai jasa . awancara pimpinan sanggar Pikko Kota Palembang Hj. Purwat. Pembahasan Berdasarkan hasil peneltian yang ditemukan pada Sanggar Pikko Kota Palembang, peneliti menggunakan teori Soedarsono untuk mendeskripsikan Penyajian Tari Piriang Disanggar Pikko Kota Palembang Dalam penyajian yaitu memiliki tujuh komponen yaitu gerak tari, penari, rian dan busana, pola lantai, property, musik pengiring dan tempat pertunjukan. Dalam pertunjukan tari Piriang di sanggar Pikko Kota Palembang, berdasarkan kajian yang relevan tidak persis sama dengan penelitian terdahulu, peneliti ini lakukan hanya membahas AuBentuk Penyajian Tari Piriang pada Sanggar Pikko ART Kota PalembangAy. Perbedaan pada penyajian tari piriang yang terdahulu yang berjudul AuBentuk Penyajian Tari Piriang didaera Guguak Pariangan Kabupaten Tanah DatarAy Misselia Nofitri. Dalam Jurnal Ekspresi Seni, terdapat perbedaannya adalah tari piring sanggar Pikko Kota Palembang hanya bersifat Hiburan dalam acara resepsi Tari piring yang ada di daerah Guguak Pariangan juga demikian, namun tari ini memiliki variasi yang spesifik dibanding tari piring yang ada didaerah lain. Ini pertunjukan yang mana di dalamnya terdapat saputangan dan pisau, jadi tari piring di daerah guguak pariangan adalah tari piring yang menggunakan piring, saputangan dan pisau sebagai properti. Adapun perbedaan yang terdapat dalam peneliti sebelumnya yaitu terletak pada objeknya, peneliti sebelumnya menjadikan pisau dan sapu tangan sebagai objek, sedangkan pada penelitian ini akan menjadikan Tari Piring pada Sanggar Pikko ART Kota Palembang sebagai objek Tari Piring Sanggar Pikko Kota Palembang telah mengkreasikan gerakan Ae gerakan pada ragam geraknya sehingga gerakan tari tersebut sudah tidak memiliki makna gerak Novita Sari. Ramanata Disurya. Silo Siswanto lagi seperti tari piriang tradisi pada mulanya. Tari Piring mempunyai ragam gerak yang kreasi dan lincah yang sudah digarap oleh sanggar Pikko Kota Palembang berdasarkan gerakan dasar yang ada di Sumatera Barat, yang diambil dari beberapa tarian seperti Tari Rantak Kudo. Tari Alang Babega, dan gerakan Silat. sehingga ragam geraknya yang ditampilkan banyak menggunakan gerakan murni dan pola lantainya pun tidak ditentukan karena disetiap penampilan selalu berbeda pada setiap tempat Ragam gerak tari Piriang dibagi menjadi 5 gerak dasar yaitu gerakan awal yang dilakukan pada saat masuk arena pentas, gerak siganjua lalai, gerak, gerak simpia, gerak simpia level bawah, gerak alang tabang. Para penari tari piriang pun tidak dibatasi usia dan jenis kelaminnya, yang terpenting adalah mereka siap dan konsisten dalam pertunjukkan yang akan ditampilkan. Para penari tidak ditentukan dari faktor umur dan jenis kelamin, penarinya bisa dilakukan oleh perempuan ataupun Laki Ae laki dan bisa juga ditarikan oleh anak Ae anak dan orang Ae orang yang sudah dewasa bahkan yang sudah menikah sekalipun bisa ikut bergabung di sanggar Pikko Kota Palembang. Tata rias merupakan faktor pendukung dalam pertunjukan tari Piring karena merubah penampilan seorang penari dari bentuk atau rupa aslinya. Tujuan dari tata rias ini yakni untuk kemegahan serta kewibawaan dalam mempercantik diri. Rias dalan pertunjukan tari piriang sanggar Pikko kota palembang sama halnya dengan para penari wanita juga mewajiban penari laki Ae laki untuk menghias diri setampan mungkin yang mendukung agar terpancar pesona dan kemegahan dalam menari. Berdasarkan penelitian dalam penyajian tari Piriang tidak pola lantainya tidak ditentukan karena pada saat setiap pementasan diperbeda tempat tidak sama. Pola lantai yang dilakukan didalam area memiliki hitunga 1x8 pada gerakan awal, kemudian hitungan 1x8 pada gerakan siganjua lalai, kemudian gerakan simpia dengan hitungan 1x8, dan gerakan simpia level bawah juga hitungan 1x8 kemudian gerakan alang tabang juga dengan hitungan 1x8. Berdasarkan data yang didapat dari penelitian di sanggar Pikko Kota Palembang poperti yang wajib digunakan pada tari Piriang adalah Piring dan pecahan beling atau pecahan kaca. Piring dibawa oleh para penari dan diletakan pada telapak tangan, sedangkan pecahan kaca dihamburkan dilantai yang beralaskan karpet. Para penari wanita dan pria menari dengan membawa piring ditelapak tangannya dan tidak boleh terjatuh dilantai, setelah tarian akan selesai penari pria menari dengan menginjak Ae injak beling yang diserakkan dilantai. Penari yang menari diatas kaca harus bersih jasmani dan rohani yaitu bersih dari najis dan tidak memiliki fikiran kotor atau berprasangka buruk sesama makhluk ciptaan Tuhan, jadi dalam tari Piriang ini tidak ada unsur Tari Piring menggunakan musik khas Minangkabau yang banyak menggunakan alat musik tradisi dari Sumatera Barat yang terdiri dari alat musik Talempong. Sarunai. Gandang. Acordion dan beduk, berdasarkan wawancara dengan penata musik Sanggar Pikko Kota Palembang. Bpk Alfiandika alat musik yang memilki ciri khas dalam musik iringan tari Piring adalah Talempong sebagai melodis kemudian diiringi dengan alat musik pendukung lainnya seperti tasa, acordion, gandang, sarunai dan bansi. Pementasan tari Piring bisa dipertunjukkan di dlilapangan terbuka dan didalam Gedung ataupun didalam studio pertunjukan seni, tari Piring Sanggar Pikko Kota Palembang ini tidak hanya dipertunjukan pada saat acara Ae Novita Sari. Ramanata Disurya. Silo Siswanto acara kesenian saja, tetapi telah banyak dipertunjukkan didalam pada acara hiburan seperti pada resepsi di pernikahan yang bias dipertontonkan didalam Gedung maupun diluar Gedung, dan begitu juga pada saat mengisi acara di instansi pemerintahan bias juga dipertontonkan di dalam gedung maupun di lapangan terbuka sesuai dengan permintaan pemakai jasa Tari piriang yang semulanya merupakan tarian sebuah bentuk ritual ucapan rasa syukur masyarakat setempat kepada dewadewa yang dipengaruhi oleh bentuk kepercayaan lama atas hasil panen yang Ritual membawa sesaji dalam bentuk makanan yang kemudian diletakkan didalam piring dan melangkah membawa piring tersebut dengan gerakan - gerakan tertentu. Setelah masuknya pengaruh agama islam ke daerah Minangkabau, tradisi tari piring tidak lagi digunakan sebagai bentuk ritual ucapan rasa syukur kepada dewa Ae dewa. Masyarakat akan memberikan hasil panen mereka pada dewa yang ditaruh diatas Mereka akan mengenakan pakaian adat yang cantik serta berperilaku lemah lembut guna menghadap pada dewa. Sesaji tersebut dibawa kehadapan dewa sambil menari dengan meliuk Ae liukkan piring untuk menunjukkan kemampuan mereka. Inilah awal mula terciptanya tari piring. Hingga kini tarian ini menjadi tarian tradisi berkembangnya zaman menjadi sebuah tarian kreasi sebagai hiburan bagi masyarakat kota Palembang. Salah satu sanggar yang mengembangkan tarian Piriang adalah sanggar Pikko Kota Palembang dibawah pimpinan ibu Hj. Purwati. Sanggar Pikko Kota Palembang yang semula berdiri pada tahun 1984 merupakan tempat penyalur kreatifitas para seniman tari dan seniman musik kini telah berkembang menjadi organisasi pemberi jasa hiburan bagi masyarakat Kota Pelembang, tak hnaya menyiadakan hiburan tarian dan musik Pikko perlengkapan resepsi pernikahan maupun hajatan lain yang bersifat pribadi. Jasa yang digunakan tidak hanya untuk masyarakat umum tetapi juga oleh instansi pemerintahan seperti penyambutan tamu oleh pejabat kota. PENUTUP Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan peneliti dapat menyimpulkan bahwa tari Piring Di Sanggar Pikko Kota Palembang merupakan tarian tradisi yang berasal dari Minagkabau Sumatera Barat penyajiannya menjadi bentuk hiburan. Tari Piring yang awal mulanya suatu tari tradisi yang berawal dari sebuah ritual adat yang dilakuakan oleh suku Miangkabau untuk ungkapan rasa syukur masyarakat atas panen yang melimpah. Dengan seiringnya waktu berjalan tarian tradisi Piring ini menjadi sebuah hiburan bagi masyarakat Minangkabau Sumatera Barat, salah satu sanggar seni tari yang berasal dari Minangkabau Sumatera Barat yang mendirikan sanggar di Kota Palembang adalah sanggar Pikko yang di dirikan oleh Ibu Hj. Purwati selaku pimpinan. Dan penyajian tari Piring pada Sanggar Pikko Kota Palembang memakai teori Soedarsono yang memiliki tujuh komponen yaitu gerak, penari, rias dan busana, pola lantai, property, musik dan tempat pertemuan DAFTAR RUJUKAN Afrizal. Metode Penelitian Kualitatif. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Hal. Ayu ( 2019:. Skripsi. Penyajian Tari Tanggai Novita Sari. Ramanata Disurya. Silo Siswanto pada sanggar Anakumari di Kota Palembang. Agus Salim. Teori Dan Paradok Penelitian Sosial. Yogyakarta: Tiara Wacana. Arthur Nalan. Aspek Manusia Dalam Seni Pertunjukan. Bandung. STSI Bandung. Barker . Cultural Studies: Teori dan Praktik. (Terjemaha. Yogyakarta: PT Bentang Pustaka. Darmadi. Metode Penelitian Pendidikan dan Sosial. Bandung: Alfabeta. Dharsono. Kritik Seni. Bandung: Rekayasa Sains Bandung. Hadi. Kajian Tari Teks dan Konteks. Yogyakarta: Pustaka Book Publisher. Hadi. Revitalisasi Tari Tradisional. Yogyakarta: Cipta Media. Hal. Indri, . Pewarisan Tari Gandang di Nagari Pauh IX Kecamatan Kuranji Kota Padang. Skripsi. Jurusan Sendratasik Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Padang. Indrayuda. Tari Tradisional Minangkabau. Universitas Negeri Padang. Hal. Kartika. Kritik Seni. Bandung: Rekayasa Sains Bandung. Maryono. Analisa Tari. Surakarta: ISI Press. Media. Hal. 5: 58: 61 ). Maryono. Analisa Tari. Surakarta: ISI Press. Media. Hal. 5 : 64: . Muharti Iit, 20 juni 2014. (Tesi. yang berjudul Tari Rentak Gumantan Pada Mayarakat Gunung Toar Kabupaten Kuantan Singingi dalam Wadah Estetika. Program Pascasarjana. Mulyani. Pendidikan Seni Tari Anak Usia Dini. Yogyakarta: Penerbit Gava. Misselia. Dalam Jurnal Ekspresi Seni. Institut Padangpanjang. Seni Indonesia Nofitri Misselia. Bentuk Penyajian Tari Piring Didaerah Guguak Pariangan Kabupaten Tanah Datar. Jurnal Ekspresi Seni Terbitan Vol. No. Hal. Navis. Seni Minangkabau Tradisional Sumbangan Budaya Pembangunan Nasional. Jakarta: Majalah Analisis Kebudayaan. Hal. Noor. Metodologi Penelitian. Jakarta: Prenamedia Group. Putera. Penelitian Kualitatif. Jakarta Barat: Permata Putri Media. Hal. Rochayati. Elvandari. , & Hera. Menuju Kelas Koreografi. Palembang: Komunitas Lumbung Kreatif. Rochayati. Elvandari. , & Hera. Tata rias. Menuju Kelas Koreografi. Palembang: Komunitas Lumbung Kreatif. Hal. Sugiyono. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta. Hal. Sugiyono. Metode Penelitian dan Pengembangan. Bandung: Alfabeta. Hal. : . Sugiyono. Memahami Bandung: Alfabeta. Cetakan Soedarsono. ( 1977: . Pengantar Pengetahuan Tari. Jakarta. Soedarsono. ( 1982 : 17 ). Seni Pertunjukan Indonesia di Globalisasi. Yogyakarta. Sal. Murgianto. 8: . Kritik tari. Dewan Kesenian Jakaarta. Suwardi Endraswara. Metode teori teknik penelitian kebudayaan ideologi efistimologi dan aplikasi. Pustaka