PROFIL INTUISI MATEMATIS SISWA DALAM PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA DITINJAU DARI GAYA KOGNITIF FIELD INDEPENDENT DAN FIELD DEPENDENT Kamandoko1. Suherman2 Pendidikan Matematika. IAIN Raden Intan Email: suherman_alghifari@yahoo. Abstract This research was conducted at SMPN 24 Bandar Lampung. The subjects are students of class 4 VII. i consisting of two people from each of the cognitive styles. The data collection is by observation, interview, and documentation. The validity of the data using triangulation techniques. Data analysis technique conducted by: . collection data in four categories: . analyze and understand the problem . designing and planning solution . explore solutions to difficult problems . verify the solution, then reduce the data are not included in four categories, . explaining data with narrative text, and . concluded intuition profiles of students in each category. The results of this study indicate that the profile intuition students in mathematical problem solving for cognitive style . Field Independent students: . understand analyze problems using intuition affirmatory that are directly by reading and changing the information in the form of pictures and look about to find out who asked, . designing and planning solutions using intuition anticipatory that is global, . explore solutions to difficult problems are not using intuition, using suitable means plans made, . verify the solution does not use intuition, check the answer by checking formula used and recalculated the answers that have been obtained. Field Dependent student: . understand and analyze problems using intuition affirmatory that is direct, experiencing difficulty in determining what is asked, . designing and planning solutions using intuition anticipatory global nature, although it can make a plan in the search for solutions but not until the final solution, . explore solutions to difficult problems are not using intuition, using the system as planned, . verify the solution does not use intuition, recalculating the answers that have been obtained in the same manner. Keywords: Profile. Intuition. Cognitive Style. Field Independent. Field Dependent Abstrak Penelitian ini dilakukan di SMP N 24 Bandar Lampung. Subjek penelitian ini adalah 4 orang siswa kelas VII. i yang terdiri dari 2 orang dari masing-masing gaya kognitif. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara dan dokumentasi. Validitas data menggunakan triangulasi teknik. Teknik analisis data dilakukan dengan cara: . mengelompokkan data dalam 4 kategori: . menganalisis dan memahami masalah . merancang dan merencanakan solusi . mengeksplorasi solusi untuk masalah yang sulit . memverifikasi solusi, kemudian mereduksi data yang tidak termasuk dalam 4 kategori tersebut, . menyajikan data dalam bentuk teks naratif, dan . menyimpulkan profil intuisi siswa pada masing-masing kategori. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa profil intuisi siswa dalam pemecahan masalah matematika untuk gaya kognitif . siswa Field Independent: . memahami menganalisis masalah menggunakan intuisi Jurnal Penelitian LPPM IKIP PGRI Madiun. Volume 5. Nomor 1. Januari 2017: 1-8 afirmatori yang bersifat langsung dengan cara membaca dan mengubah informasi kedalam bentuk gambar dan melihat soal untuk mengetahui yang ditanyakan, . merancang dan merencanakan solusi menggunakan intuisi antisipatori yang bersifat global, . mengeksplorasi solusi untuk masalah yang sulit tidak menggunakan intuisi, menggunakan cara sesuai perencanaan yang dibuat, . memverifikasi solusi tidak menggunakan intuisi, memeriksa jawaban dengan mengecek rumus yang digunakan dan menghitung kembali jawaban yang telah diperoleh. siswa Field Dependent: memahami dan menganalisis masalah menggunakan intuisi afirmatori yang bersifat langsung, mengalami kesulitan dalam menentukan apa yang ditanyakan, . merancang dan merencanakan solusi menggunakan intuisi antisipatori yang bersifat global, meskipun dapat membuat rencana dalam mencari solusi namun tidak sampai solusi akhir, . mengeksplorasi solusi untuk masalah yang sulit tidak menggunakan intuisi, menggunakan cara sesuai dengan yang direncanakan, . memverifikasi solusi tidak menggunakan intuisi, menghitung kembali jawaban yang telah diperoleh dengan cara yang sama. Kata kunci: Profil. Intuisi. Gaya Kognitif. Field Independent. Field Dependent PENDAHULUAN Pembelajaran merupakan perubahan jangka panjang dalam representasi atau asoA siasi mental sebagai hasil dari pengalaman. Selain itu pembelajaran juga merupakan peruAbahan jangka panjang yang lebih dari sekedar penggunaan informasi secara singkat dan sambil lalu. Selanjutnya pembelajaran melibatkan representasi atau asosiasi mental entitas dan interkoneksi internal yang menyimA pan pengetahuan dan keterampilan baru yang diperoleh serta perubahan yang dihasilkan dari Salah satu pembelajaran yang sering kita dapatkan dan kita pelajari dari sekolah adalah pembelajaran matematika. Kegiatan pembelajaran matematika tenA tu tidak akan terlepas dari permasalahan mateAmatika. Dalam mengajarkan bagaimana meAmeAAcahkan masalah, beberapa guru atau penAAdidik matematika mempunyai cara yang berAAbeda-beda. Diantaranya dengan selalu memaberikan contoh-contoh bagaimana suatu masalah matematika, tanpa memberikan keA semAApatan banyak kepada siswa untuk beruA saha menemukan sendiri penyelesaiannya. Dengan cara guru mengajar seperti itu, siswa tidak banyak mempunyai inisiatif atau gagasan yang digunakan dalam memecahkan masalah. Dampak dari kondisi tersebut adalah siswa seringAkali mengalami kesulitan dalam memeA cahkan masalah, misalnya siswa tidak tahu apa yang harus diperbuat bila diberikan permaA salahan oleh guru, meskipun telah dimilikinya bekal yang cukup untuk memeAcahkan masalah Pembelajaran yang demikian dapat dikaAtakan pembelajaran tanpa makna. Matematika adalah ilmu pengetahuan yang memAApunyai struktur bangunan yang ketat, terA diri atas aksioma, definisi, dan teorema dengan struktur logika. Matematika berasal dari akar kata mathema artinya pengetahuan, mathanein artinya berpikir atau belajar. KecerAdasan dalam matematika ditandai dengan cepatnya berhitung di luar kepala pada masaAlah-masalah yang Menguasai mateAmatika tidak hanya dilihat pada unitnya saja seperti aritmatika, akan tetapi ada yang lebih luas yaitu menguasai dan terampil menyeAlesaiakan masalah dengan tahapan-tahapan tertentu. Matematika dalam masyarakat, pendidikan dan umum kata matematika sering dipakai dalam pergaulan. Sebagai conth ktika sekelomA pok orang membicarakan tentang perkemA bangan ekonomi, maka beredar pembicaraan perhitungan matematika, karakter dan fungA Sebagai salah satu bagian dalam kehiA Kamandoko. Suherman. Profil Intuisi Matematis Siswa . dupan, matematika memiiki fungsi sebagai suatu struktur yang dapat kita jumpai dalam bentuk simbol yang saling berkaitan dengan simbol lainnya. Selain itu matematika meruA pakan ratunya ilmu dan pelayan ilmu. Dalam hal ini matematika diperlukan dalam suatu aktivitas maka akan banyak yang akan menggunakannya terutama bidang sains dan sosial. Matematika dapat melayani ilmu-ilmu lain karena rumus, aksioma, dan model pembuktian yang dipunya dapat membantu ilmu-ilmu tersebut. Proses berpikir analitik dan logika memainA kan peranan penting dalam mempresentasikan struktur pengetahuan matematika. Dengan demiAAkian dalam memecahkan masalah mateA matika memerlukan proses mental sadar yang berupa proses berpikir analitik dan logika. Namun demikian, hanya menggunakan proA ses berpikir analitik dan logika saja belum tentu selalu diperoleh jawaban dari masaA lah, karena dalam memecahkan masalah terA kadang diperlukan dugaan atau klaim suatu pernyataan tanpa harus dengan membuktikan. Oleh karena itu ada aktivitas mental berbeda dari kognisi formal dalam mengoperasikan kegiatan matematika, termasuk pula dalam memecahkan masalah matematika. Aktivitas yang berbeda dari kognisi formal tersebut disebut intuitive cognition . ognisi intuiti. , atau intuition . (Budi Usodo, 2012:. Berdasarkan wawancara peneliti dengan Bapak Drs. Dauf Lani guru mata pelajaran matematika kelas VII di SMPN 24 Bandar Lampung tanggal 16 Februari 2015 mengenai kesulitan siswa dalam memecahkan masalah mateAmatika diperoleh informasi bahwa pada siswa kelas VII mengalami kesulitan dalam memaAhami konsep materi. Hal tersebut dapat dilihat ketika siswa mengerjakan soal dalam bentuk cerita dan dalam bentuk aplikasi hampir 50% siswa mengalami kesulitan dalam Sedangkan dalam kegiA atan pembelajaran, guru telah memberikan pengaArahan dan pemahaman materi yang cukup kepada siswa. Salah satu faktor yang mempengaruhi adalah rendahnya pemahaman siswa dan daya serap terhadap materi yang kurang, sehingga dalam menyelesaikan soal cenderung mengalami kesulitan. Selain itu, tingkat kesulitan materi juga mempeAngaruhi minat siswa untuk aktif dalam pemAbeAlaAjaran sehingga siswa kurang tertarik untuk memA Faktor lain yang memApengaruhi yaitu dalam mengerjakan soal terAdapat perA bedaan dalam cara memecahkan maAsaAlah. Dalam memecahkan masalah siswa mengaA lami kesulitan yang berbeda-beda terAgantung dari cara mereka menggunakan keAmamApuan berpikir serta pemahaman terAhadap konsep materi yang telah dipelajari di dalam kelas. Sebagai akibatnya terdapat siswa yang dapat menyelesaikan soal dengan mudah dan ada juga siswa yang mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal. Berdasarkan pengamatan peneliti terhadap siswa kelas VII diperoleh informasi bahwa sebaAg ian besar siswa dalam mengerjakan mateAAmatika menggunakan tahapan-tahapan yang sesuai dengan prosedur pengerjaan soal yaitu dimulai dari tahap memahami soal, merenAcanakan dan mencari solusi masalah, sedangkan untuk solusi yang sulit, sebagian besar berusaha mencari solusi jawaban dengan sabar dan ada beberapa siswa yang mengaA baikan serta melanjutkan mengerjakan soal yang lain. Namun pada tahapan terakhir yaitu pengecekan kembali terhadap jawaban yang telah dikerjakan hanya sebagian kecil siswa yang melakukannya. Hal ini dipengaruhi oleh keyakinan siswa bahwa jawaban yang telah di kerjakan sudah benar. Selain itu siswa tidak memiiki kesempatan untuk mengoreksi kembali karena waktu mengerjakan soal sudah habis dan harus segera dikumpulkan. Dalam memecahkan masalah peserta didik selalu Jurnal Penelitian LPPM IKIP PGRI Madiun. Volume 5. Nomor 1. Januari 2017: 1-8 melibatkan proses berpikir untuk mengingat materi yang telah dipelajari serta mencari solusi jawaban. Proses berpikir dapat dilakukan dalam keadaan sadar atau tidak sadar. Secara umum peserta didik menggunakan proses berpikir secara sadar untuk mengingat dan mengerjakan soal. Namun pada kenyataannya peserta didik juga menggunakan proses berpikir yang setengah disadari yang digunakan secara spontan dan memberikan jawaban yang benar. Proses berpikir yang prosesnya setengah tidak disadari yang timbul secara spontan dan bernilai benar disebut dengan intuisi. Intuisi adalah suatu bentuk proses yang unik dalam pengolahan informasi. Secara konseptual sistem pemrosesan informasi terdiri dari pemrosesan secara sadar dan bawah sadar. Sistem pemrosesan secara sadar memungkinkan individu untuk menganalisis masalah secara sengaja, sekuensial dan mencurahkan perhaA tiannya, sedangkan pada pemrosesan bawah sadar memungkinkan individu belajar dari Intuisi dapat digunakan untuk mengAgambarkan suatu asosiasi secara holistik. Asosiasi tersebut dapat muncul dari kognitif heurustik yang sederhana atau dari yang lebih kompleks seperti terbentuknya pola AuchunkAy sebagai hasil dari latihan dan pengalaman Intuisi sering dipandang sebagai perasaan yang telah diisi. Rasa atau emosi selalu meA nyerAtai proses dan hasil dari proses tersebut. SehingAga muncul istilah good feeling dan good instinct yang mencerminkan keterlibatan perasaan dan emosi dalam intuisi. Selain itu intuisi juga mempunyai ciri utama yaitu kecepatan dalam pemrosesan informasi yang tidak dapat dijelaskan melalui langkah-langkah. Salah satu hal yang mengesankan dari intuisi yang dapat diamati adalah respon sering benar meskipun tampaknya tidak memerlukan waktu untuk memprosesnya dan tidak nampak usaha untuk itu. Konseptualisasi intuisi yang paling umum adalah merujuk pada intuisi pemecahan Intuisi ini hadir dan digunakan ketika berhadapan dengan dilema pemecahan masalah dan pengambilan keputusan. Proses yang mendasari intuisi pemecahan masalah adalah mencocokan pola yang dipertajam melalui pelatihan dan latihan berulang. Dengan demikian intuisi pemecahan masalah sangat berhubungan dengan domain pengetahuan atau kepaAkaran. Selain intuisi, dalam memecahkan masaAlah matematika, setiap orang memiliki cara dan gaya berpikir yang berbeda-beda karena tidak semua orang memiliki kemampuan berA pikir yang sama. Setiap orang memiliki caracara khusus dalam bertindak, yang dinyatakan melalui aktivitas-aktivitas perseptual dan inteA lektual secara konsisten. Aspek perseptual dan intelektual mengungkapkan bahwa setiap individu memiliki ciri khas yang berbeda dengan individu lain. Sesuai dengan tinjauan aspek tersebut, dikemukakan bahwa perbedaan individu dapat diungkapkan oleh tipe-tipe kognitif yang dikenal dengan istilah gaya Gaya kognitif merupakan cara seseorang memproses, menyimpan maupun menggunakan informasi untuk menanggapi suatu tugas atau berbagai jenis lingkungannya. Dalam penelitian ini. Peneliti memilih fokus pada tipe gaya kognitif Field Independent-Field Dependent. Perbedaan mendasar dari kedua gaya kognitif tersebut yaitu dalam hal bagaimana melihat suatu permasalahan. Berdasarkan beberapa penelitian di bidang psikologi, ditemukan bahwa individu dengan gaya kognitif Field Independent cenderung lebih analitis dalam melihat suatu masalah dibandingkan individu dengan gaya kognitif Field Dependent (Darma Andreas Ngilawajan, 2013:. Pada gaya kognitif Field Independent dan Field Kamandoko. Suherman. Profil Intuisi Matematis Siswa . Dependent diduga mampu memecahkan masalah matematika. Hal tersebut dapat dilihat dari katakteristik yang dimiliki kedua gaya kognitif tersebut. Karakteristik dasar dari kedua gaya kognitif tersebut sangat cocok untuk diterapkan dalam penelitian yang melibatkan proses berpikir dalam pemecahan masalah Oleh karena itu akan sangat menarik jika dilakukan penelitian mengenai gaya kognitif tersebut. Dalam penelitian ini juga akan dilihat intuisi peserta didik. Adapun hal tersebut menacu pada pendapat Fischbein dengan indikator (Budi Usodo, 2012, 3-. Affirmatory intuition . ntuisi afirmator. Intuisi afirmatori dapat diartikan sebaAgai intuisi yang berupa pernyataan, repreAsenA tasi, interpretasi, solusi yang secara indiA vidual dapat diterima secara langsung, self eviAdent, global dan cukup secara intrinsik. Anticipatory intuition . ntuisi antisipator. Intuisi antisipatori adalah intuisi yang munAcul ketika seseorang bekerja keras unAtuk memecahkan masalah, namun soluA sinya tidak segera diperoleh . idak secara METODE PENELITIAN Penelitian dilaksanakan di SMP N 24 Bandar Lampung pada semester genap 2014/ Alasan peneliti memilih SMP N 24 Bandar Lampung sebagai tempat penelitian adalah sebagai berikut : Sekolah memiliki data dan informasi yang di butuhkan untuk kepentingan penelitian. Pada sekolah tersebut belum pernah dilakukan penelitian yang sejenis. Berdasarkan masalah yang diteliti, maka peneAlitian ini dapat digolongkan kedalam peneAlitian kualitatif. Pada penelitian ini tekA nik pengambilan sampel yang digunakan adaAlah salah satu teknik pengambilan sampel Nonprobality Sampling yaitu purposive Pada penelitian ini subyek yang digunakan adalah 4 orang siswa kelas VII SMP N 24 Bandar Lampung semester genap tahun ajaran 2014/2015. Empat siswa tersebut terdiri dari 2 orang siswa bergaya kogntif Field Independent dan 2 siswa yang bergaya kognitif Field Dependent. Alasan memilih siswa kelas VII sebagai subyek penelitian karena pada kelas VII sudah dapat dilakukan penggolongan gaya kognitif, serta akan menjadi bekal untuk siswa dalam jenjang selanjutnya. Selain itu, siswa kelas VII merupakan peralihan dari sekolah dasar menuju tingkat menengah sehingga akan sangat menarik jika dilakukan penelitian terhadap siswa tersebut. Sebelum menentukan subyek penelitian, peneliti terlebih dahulu menyiapkan tes pengA golongan gaya kognitif yang bersumber dari soal yang dibuat oleh Witkin. Peneliti mengA gunakan satu kelas untuk memberikan tes penggolongan gaya kognitif. Dari hasil tes tersebut, dipilih 2 orang siswa bergaya kognitif Field Independent dan 2 orang bergaya kognitif Field Dependent dengan meminta pertimbangan guru. Pertimbangan tersebut terkait dengan salah satu kriteria penentuan subyek yaitu dipilih siswa yang dapat mengungkapkan secara bagus. Soal tes penggolongan gaya kognitif mengA gunakan Group Embedded Figure Test (GEFT) yang dibuat oleh Witkin. Soal tersebut mengA gunakan bahasa inggris sehingga harus diterA jemahkan dalam bahasa Indonesia untuk mempermudah siswa dalam mengerjakan dan memahami soal tersebut. Soal penggolongan gaya kognitif tersebut memiliki reliabilitas sebesar 0,82 sehingga soal tersebut sudah valid dan tidak perlu dilakukan validitas soal lagi. Pengumpulan Jurnal Penelitian LPPM IKIP PGRI Madiun. Volume 5. Nomor 1. Januari 2017: 1-8 data menggunakan observasi, dokumenasi, dan Analisis data kualitatif dalam penelitian ini dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas dan didaA patkan dataintuisi siswa. Aktivitas dalam anaA lisis data, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data menggunakan triangulasi teknik yang berarti peneliti menggunakan teknik pengumpulan data yang berbeda-beda untuk mendapatkan data dari sumber yang sama. dokumentasi, dan triangulasi. Berikut soal pemecahan masalah matematika: Seorang kakek memiliki lahan berbentuk persegi yang panjang sisinya adalah 50 cm, kemudian dibagian tengah lahan tersebut dibuat sebuah taman bunga berbentuk segitiga yang setiap bagiannya menyentuh sampai sisi lapangan. Pada suatu hari kakek berencana menanam rumput disekitar taman tersebut hingga memeA nuhi lahan yang tersisa. Berapakah luas lahan kakek yang dapat ditanamai rumput? Berikut jawaban siswa: HASIL DAN PEMBAHASAN Siswa Field Independent Berdasarkan tes penggolongan gaya kogA nitif dapat terlihat bahwa terdapat 8 siswa yang memiliki gaya kognitif Field Independent dan 21 siswa memiliki gayakognitif Field Dependent. Dari hasil tes tersebut akan diambil sampel untuk penelitian. Dari masing-masing gaya kognitif dipilih 4 orang siswa. Kriteria nilai yang digunakan adalah jika skor tes kurang dari 10 maka siswa tersebut memiliki gaya kognitif Field Dependent sedangkan jika skor yang diperoleh lebih dari 10 maka siswa tersebut memiliki gaya kognitif Field Independent. Dari hasil pertimbangan dipilih 8 orang siswa, yaitu siswa Field Independent pertama. Field Independent kedua. Field Independent ketiga, dan Field Independent keempat dengan gaya kognitif Field Independentdan siswa Field Dependent pertama. Field Dependent kedua. Field Dependent ketiga, dan Field Dependent keempat dengan gaya kognitif Field Dependent. Berikut ini adalah kegiatan yang dilakukan siswa Field Independent selama mengerjakan Data dalam penelitian ini berupa intuisi siswa dalam pemecahan masalah matematika, yang diperoleh dari hasil observasi, wawancara, . Membaca sekilas soal yang diberikan oleh . Menuliskan biodata pada lembar jawaban . Membaca soal secara keseluruhan dari soal nomor satu sampai nomor dua . Menanyakan kepada peneliti mengenai soal pertama . Membaca soal berulang-ulang soal pertama . Siswa menggambar bangun datar yang diketahui dari soal pada lembar coretan . Menentukan daerah yang diminta . Menuliskan rumus dan mencari luas persegi dan segitiga . Mengurangkan luas persegi dan luas . Untuk soal nomor dua, siswa menuliskan kembali informasi yang diketahui dari soal . Mencari luas masing-masing bangun yang Kamandoko. Suherman. Profil Intuisi Matematis Siswa . Mengurangkan luas persegi panjang dengan luas persegi dan segitiga . Menuliskan hasil yang diperoleh . Menghitung kembali hasil pengurangan luas persegi dengan luas segitiga pada soal Siswa Field Dependent Berikut ini adalah kegiatan yang dilakukan siswa Field Dependent . Mengisi biodata terlebih dahulu pada lembar jawaban . Membaca soal pertama . Memperhatikan bagian yang ditanyakan dari soal . Menanyakan gambar kepada peneliti dan bagian yang ditanyakan . Membuat gambar sesuai dengan apa yang diketahui dari soal . Mencari susunan gambar yang sesuai dengan yang diketahui dari soal . Mencari bagian yang ditanyakan dari soal pada gambar yang dibuat . Berhenti sejenak, kemudian memperhatikan kembali gambar yang telah dibuat . Mencoret-coret gambar pada lembar kerja dan tidak menggunakan lembar coretan . Memberi garis pada bagian luas yang . Menuliskan rumus luas persegi dan luas segitiga serta mencari nilainya . Mengalami kebingungan untuk mencari jawaban akhir dari pertanyaan pada soal . Melanjutkan mengerjakan soal nomor dua . Menuliskan bagian yang diketahui dari soalkedua pada lembar jawaban . Menggambar persegi panjang dengan panjang masing-masing 40 m . Siswa terlihat menggunakan ukuran pada soal pertama untuk mengerjakan soal . Mengalikan lebar persegi panjang . Membagi dan mengalikan kembali angka yang diketahui kemudian membagi dan mengurangkannya dengan angka yang lain . Menuliskan hasilnya . Menghitung kembali jawaban pada soal nomor satu Setelah dilakukan analisis data, selanjutnya memAbandingkan hasil pengambilan data melaA lui observasi, wawancara dan dokumentasi. DeAngan membandingkan tiga data dapat dikeA tahui valid atau tidak data yang diperoleh. BeA rikut ini adalah tabel hasil analisis yang mengA gambarkan intuisi yang digunakan siswa Field Independent dan siswa Field Dependent dalam pemecahan masalah matematika. Tabel 1. Hasil Analisis Intuisi Siswa Field Indepent dan Field Dependent Gaya kognitif Field Independent Kedua Field Dependent Pertama Menganalisis dan memahami Intuisi afirmatori Intuisi afirmatori Intuisi yang digunakan Merancang dan Mengeksplorasi solusi untuk masalah yang Intuisi antisipatori Tidak menggunakan Intuisi antisipatori Tidak menggunakan Memverifikasi solusi Tidak menggunakan Tidak menggunakan Jurnal Penelitian LPPM IKIP PGRI Madiun. Volume 5. Nomor 1. Januari 2017: 1-8 KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan, maka dapat diperoleh kesimpulan sebagai Profil Intuisi Siswa dengan Gaya Kognitif Field Independent Pada tahapan menganalisis dan memaA hami masalah intuisi yang diguAnakan adaAlah intuisi afirmatori yang bersifat langAsung. Siswa menerima langsung inAforAmasi yang diterima dari soal dan mengubahnya kedalam bentuk Pada tahapan merancang dan merenA canakan solusi intuisi yang digunakan adalah intuisi antisipatori yang bersifat Siswa mencermati informasi soal tersebut untuk memecahkan maA saAlah sehingga yang ada dalam pemiA kirannya adalah ide global mengenai soal tersebut. Pada tahapan mengeksplorasi solusi untuk masalah yang sulit siswa tidak menggunakan intuisi. Siswa mengerA jakan soal dengan mengguAnakan rumus dan cara sesuai dengan yang dirancang dan direncanakan sebelumnya. Pada tahapan memverifikasi solusi sisA wa tidak menggunakan intuisi. Siswa hanya memeriksa rumus yang telah ditulis dan memeriksa jawaban. Profil intuisi pada siswa dengan gaya kogA nitif Field Dependent Pada tahapan menganalisis dan memaA hami masalah intuisi yang digunakan adaAlah intuisi afirmatori yang bersifat langAsung. Siswa menerima informasi dari soal secara langsung dengan cara memAbaca soal. Pada tahapan merancang dan merenA canakan solusi intuisi yang digunakan adalah intuisi antisipatori yang bersifat Pada tahapan mengeksplorasi solusi untuk masalah yang sulit siswa. Tidak menggunakan intuisi. Siswa mengikuti rencana yang telah dibuat Pada tahapan memverifikasi solusi sisA wa memverifikasi solusi siswa tidak menggunakan untuisi. Siswa mengA hitung kembali jawaban yang telah diperoleh dengan cara yang sama dan tidak menggunakan cara lain untuk REFERENSI