ETIKA SANTRI TERHADAP GURU (STUDI DI PONDOK PESANTREN TAHDFIZUL QURAoAN BAITURRAHIM KABUPATEN KOLAKA) Muhammad Fajrin. Mubarak. Astrid Veranita Indah Fikran146@gmail. Mubarak. taslim@uin-alauddin. veranita@uin-alauddin. UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAKASSAR Abtrak Penelitian ini menganalisis Etika Santri Terhadap Guru di Pondok Pesantren Tahdfizul QurAoan Baiturrahim dengan menggunakan pendekatan teologis dan fenomenologi sebagai karangka metodologis. Hasil penelitian menujukkan terdapat beberapa bentuk Etika Santri Terhadap Guru dalam menciptakan hubungan yang harmonis dan keberkahan antara santri dan guru, yaitu: hormat dan taat. etika dalam berbicara. mendahulukan guru dan Pembina. menjaga akhlak di hadapan guru dan Pembina. tidak membantah guru dan Pembina. mengamalkan ilmu yang diberikan. Etika sangat ditekankan di dalam Pondok Pesantren karena mengajarkan nilai-nilai moral dan adab yang akan menjadi bekal hidup santri di masa depan. Hasil penelitian juga menunjukkan Implikasi Etika Santri Terhadap Pembentukan Karakter di Pondok Pesantren Tahdfizul QurAoan Baiturrahim sangat signifikan. Pesantren tidak hanya berperan sebagai lembaga pendidikan akademik dan keagamaan, tetapi juga sebagai tempat pembinaan moral dan Beberapa Impilikasi Etika dalam Pembentukan karakter di Pondok Pesantren Tahdfizul QurAoan Baiturrahim yaitu penguatan akhlak mulia. kedisiplinan dan tanggung jawab. pembentukan karakter kemandirian. pengedalian diri dan serta internalisasi nilai-nilai spiritual. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi yang positid dalam memberikan pemahaman tentang Etika Santri Terhadap Guru di Pondok Pesantren. Penelitian ini juga menjadi landasan untuk penelitian lebih lanjut dalam bidang Etika. Implikasi dari penelitian ini dapat memberikan pandangan baru dan pemahaman komprehensif tentang Etika Santri Terhadap Guru di lingkungan pesantren. Kata Kunci: Etika. Santri. Guru. Pesantren Abtract JURNAL SULESANA This study analyzes the Ethics of Students Towards Teachers at the Tahdfizul Qur'an Baiturrahim Islamic Boarding School using theological and phenomenological approaches as a methodological The results of the study indicate that there are several forms of Ethics of Students Towards Teachers in creating a harmonious relationship and blessings between students and teachers, namely: respect and obedience. ethics in speaking. prioritizing teachers and maintaining morals in front of teachers and mentors. arguing with teachers and mentors. and practicing the knowledge given. Ethics are highly emphasized in Islamic Boarding Schools because they teach moral values and manners that will become provisions for students' lives in the future. The results of the study also show that the Implications of Ethics of Students on Character Formation at the Tahdfizul Qur'an Baiturrahim Islamic Boarding School are very Islamic boarding schools not only play a role as academic and religious educational institutions, but also as a place for moral and spiritual development. Some of the Implications of Ethics in Character Formation at the Tahdfizul Qur'an Baiturrahim Islamic Boarding School are strengthening noble morals. discipline and responsibility. formation of independence. self-control and patience. internalization of spiritual values. This study is expected to provide a positive contribution in providing an understanding of the Ethics of Santri Towards Teachers in Islamic Boarding Schools. This study also serves as a basis for further research in the field of Ethics. The implications of this study can provide new insights and a comprehensive understanding of the Ethics of Santri Towards Teachers in Islamic boarding schools. Keywords: Ethic. Santri. Teacher. Islamic Boarding School PENDAHULUAN Sistem pendidikan di Indonesia saat ini lebih menekankan mencerdaskan dan keterampilan dibandingkan dengan pembentukan karakter dan moral. Jika pendidikan hanya berfokus pada aspek intelektual tanpa memperhatikan nilai-nilai etika, moral, dan akhlak, maka hasilnya bisa berupa generasi yang cerdas secara akademik tetapi kurang memiliki kesadaran moral dan tanggung jawab sosial. Pendidikan yang ideal seharusnya bersifat holistik, mencakup tiga aspek utama yaitu, berpengetahuan, bermoral dan beretika, serta mempunyai keterampilan. Dengan demikian, pendidikan tidak hanya mencetak individu yang kompeten dalam bidangnya, tetapi juga JURNAL SULESANA memiliki integritas, empati, serta kesadaran etika dalam menjalani kehidupan Fenomena krisis moral dalam dunia pendidikan di Indonesia memang menjadi perhatian serius. Banyak kasus seperti kenakalan remaja, intoleransi, korupsi di kalangan akademisi, serta menurunnya rasa hormat terhadap guru dan orang tua yang mencerminkan adanya degradasi nilai moral dalam sistem Hal ini menandakan bahwa pendidikan tidak hanya gagal membentuk individu yang beretika, tetapi juga kehilangan perannya sebagai instrumen utama dalam membangun karakter bangsa. Kekhawatiran orang tua terhadap krisis moral dan akhlak di era modern memang sangat beralasan. Perkembangan teknologi dan modernisasi telah membawa perubahan besar dalam pola pikir dan gaya hidup, terutama di kalangan remaja. Sayangnya, di tengah derasnya arus informasi dan tuntutan eksistensi sosial, banyak remaja yang mulai mengesampingkan etika dan norma-norma yang seharusnya menjadi landasan dalam kehidupan Jika etika terus diabaikan, maka generasi mendatang akan besar dalam menjaga keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan kebijaksanaan moral. Sekolah bukan hanya saja tentang pelajaran tetapi bagaimana cara mendidik tingkah laku anak untuk bisa menjadi seseorang yang bisa berprilaku dengan baik. Seperti yang dikatakan Imam Al-Ghazali, seseorang yang memiliki akhlak baik terhadap sesama manusia akan memiliki hubungan yang baik pula dengan Tuhannya. Ini menunjukkan bahwa pendidikan akhlak tidak bisa dipisahkan dari pendidikan intelektual. Oleh karena itu, guru memiliki peran utama sebagai pendidik moral, bukan sekadar pengajar ilmu. Fenomena menurunya etika dan moral dikalangan siswa, terutama dalam ineraksi dengan guru, memang menjadi perhatian serius dalam dunia 1Lupika Duri. Skiripsi, 'Etika Santri terhadap Guru dalam Islam Analisis Perspektif Al- Ghazali: Studi Kasus di Pondok Pesantren Sakinatul Abror Skripsi'Ao(UIN Sunan Gunung Djati Bandung, 2. ,h. JURNAL SULESANA pendidikan Indonesia. Kasus-kasus di mana siswa memperlakukan guru dengan tidak hormat, bahkan melakukan tindakan yang tidak pantas, semakin sering terjadi. Upaya untuk mengatasi masalah ini masih dirasa kurang efektif. Adapun penyebab penurunan etika siswa yaitu kuranganya pendidikan karakter, pengaruh lingkungan keluarga, kurangnya keteladan dari guru. Diharapkan dapat mengembalikan etika dan moral yang baik dikalangan siswa, khususnya dalam menghormati guru dan menjaga hubungan yang harmonis di lingkungan pendidikan. Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan signifikan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam dunia pendidikan. Salah satu perubahan yang mencolok adalah dalam hubungan antara murid dan guru, khususnya terkait sikap tawadhu' atau rendah hati dan penghormatan murid terhadap guru. Pada masa lalu, hubungan antara murid dan guru sangat erat dan Murid sangat menghormati gurunya, meyakini bahwa keberkahan ilmu dan kesuksesan mereka bergantung pada sikap hormat dan penghargaan terhadap guru. Sikap tawadhu' ini tercermin dalam perilaku seperti mendahului memberi salam kepada guru, tidak menentang ucapan guru dengan pendapat orang lain, dan menunjukkan sikap rendah hati dalam interaksi sehari-hari. Namun, di era digital saat ini, dinamika tersebut mengalami perubahan. Kemajuan teknologi telah memudahkan akses informasi bagi siswa, memungkinkan mereka belajar secara mandiri tanpa bergantung sepenuhnya pada guru. Hal ini, meskipun memiliki sisi positif, juga dapat mengurangi intensitas interaksi langsung antara murid dan guru, yang berpotensi memengaruhi sikap penghormatan dan tawadhu' murid terhadap Peran guru dalam pendidikan Islam sangatlah krusial, tidak hanya sebagai pengajar yang mentransfer ilmu, tetapi juga sebagai pendidik yang membentuk karakter dan akhlak peserta didik. Guru bertanggung jawab untuk menanamkan nilai-nilai etika dan moral, sehingga santri dapat tumbuh JURNAL SULESANA menjadi individu yang santun dan beretika. Untuk mencapai tujuan tersebut, meneladani Rasulullah SAW sebagai pendidik ideal adalah langkah yang tepat. Beliau tidak hanya berperan sebagai pembawa wahyu, tetapi juga sebagai contoh teladan . swatun hasana. dan rahmat bagi seluruh alam . ahmatan lil 'alami. Rasulullah SAW menunjukkan keteladanan utama sebagai pendidik, mengajarkan ilmu pengetahuan, akhlak mulia, dan nilai-nilai Islam dengan penuh kesabaran, kasih sayang, dan hikmah. Dengan meneladani metode pendidikan Rasulullah SAW, diharapkan para guru dapat membentuk kepribadian santri yang santun, beretika, dan berakhlak mulia, sesuai dengan ajaran Islam. Etika dan akhlak merupakan komponen esensial dalam pendidikan santri di pondok pesantren, madrasah, maupun sekolah. Penerapan etika tidak hanya sebatas pengetahuan teoretis, tetapi harus diwujudkan dalam perilaku sehari-hari. Ketika santri mengamalkan etika yang baik secara konsisten, hal tersebut akan membentuk kebiasaan positif yang akhirnya menjadi karakter dan watak yang mulia. 3 Filsafat yang dikenal sebagai etika mengkaji prinsipprinsip moral dan menetapkan apa yang merupakan perilaku yang benar dan salah pada manusia. Etika adalah filsafat moral yang mengevaluasi dan menghakimi apa yang merupakan perilaku baik dan buruk pada manusia. Etika membahas semua aspek kehidupan manusia, termasuk pendidikan, selain perilaku yang seharusnya ditunjukkan oleh manusia. Selain mengembangkan kualitas pribadi yang mengagumkan, penggunaan etika dalam pendidikan bermanfaat bagi masyarakat secara keseluruhan. Dipercayai bahwa dengan membangun cita-cita etika yang kuat pada siswa, mereka akan tumbuh menjadi orang yang bertanggung jawab, disiplin, dan jujur yang pada akhirnya akan memperbaiki masyarakat. 2 Zainal Efendi Hasibuan. AoProfil Rasulullah Sebagai Pendidik Ideal Dan Kontribusinya Terhadap Pengembangan Pendidikan Islam Di Indonesia. Jurnal Fitrah. Volume 8. No. 2, 2014, h, 2. 3Anisa Nandya. Skiripsi, 'Etika Murid terhadap Guru''(Analisis Kitab TaAolim MutaAoallim Karangan Syaikh Az-Zarnuj. Mudarissa, 2. ,h163. JURNAL SULESANA Pendiri Pondok Pesantren Tebuireng sekaligus tokoh kunci perjuangan Indonesia melawan penjajahan. KH. Hasyim Asy'ari, memiliki pandangan yang kuat mengenai etika pendidikan. Karyanya "Adab al-'Alim wa al-Muta'allim" mencerminkan penekanannya pada nilai etika baik bagi guru maupun murid. Menurut KH. Hasyim Asy'ari, guru hendaknya terlebih dahulu memperbaiki diri dengan berakhlak mulia, kemudian mentransfer ilmu tersebut kepada murid-muridnya. Ia menegaskan bahwa tujuan pendidikan adalah untuk menciptakan manusia ideal yang bahagia di dunia dan akhirat serta semakin dekat dengan Sang Pencipta. KH. Hasyim Asy'ari juga menekankan pentingnya menjaga keinginan yang tulus ketika mencari ilmu dan menyucikan hati dari berbagai gangguan keimanan dan keduniawian. Ia juga menekankan prinsipprinsip akhlak yang bernuansa sufi, karena ia meyakini bahwa hanya orangorang yang hatinya bersih dan terbebas dari sifat-sifat dan unsur-unsur keji akhirat yang dapat meraih keutamaan menuntut ilmu dan ilmu itu sendiri. Etika murid terhadap guru merupakan aspek fundamental dalam dunia Sikap sopan santun dan penghormatan yang ditunjukkan oleh murid kepada gurunya tidak hanya mencerminkan karakter individu, tetapi juga mempengaruhi efektivitas proses pembelajaran. Menghormati dan memuliakan guru adalah bentuk apresiasi atas peran penting mereka dalam mengajarkan ilmu dan membentuk akhlak murid, sehingga mereka menjadi pribadi yang cerdas dan berakhlakul karimah. Ajaran Islam menempatkan etika sebagai tumpuan utama dalam membentuk karakter dan perilaku umatnya. Etika Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah SWT, tetapi juga mengatur interaksi dengan sesama manusia dan lingkungan. Dengan demikian, etika menjadi tolok ukur dalam pengajaran Islam untuk membentuk akhlak yang islami. Penerapan sehari-hari keimanan seseorang dan menjadi dasar dalam membangun masyarakat yang 4Muhammad Ikhsanuddin,Amrulloh. Jurnal AoEtika Guru dan Murid Perspektif KH. Hasyim AsyAoari dan Undang-Undang Guru dan Dosen' Pendidikan Islam,3. ,h. JURNAL SULESANA Oleh karena itu, setiap Muslim diharapkan untuk selalu menjaga dan meningkatkan akhlak mereka sesuai dengan ajaran Islam. Allah SWT berfirman dalam Q. Al-Azhab/33:21 e AcEEa aO eEOa eO aIA AeE a a aOaE a e a AcEEa A a A aOU aA a AEaCa e EaIa Ea aE eI Aa eO aA AIaU aE aI eI EaIa Oa e aO NA A eO aE NA AcEEa aEa eO U A ANA Terjemahnya: AuSungguh, pada . Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, . bagi orang yang mengharap . Allah dan . hari Kiamat serta yang banyak mengingat AllahAy. Untuk membentuk akhlak yang baik, orang tua menjadika pondok pesantren sebagai alternatif yang baik, hal itu dikarenakan pondok pesantren dapat mendidik anak dengan baik. Mereka berharap dengan pendidikan di anak-anak memperdalam ilmu agama. Memang benar bahwa kehidupan di pondok pesantren memiliki perbedaan signifikan dibandingkan dengan kehidupan sehari-hari di rumah. Santri diharapkan untuk beradaptasi dengan lingkungan baru yang memiliki aturan dan budaya yang berbeda. Proses adaptasi ini tidak selalu mudah dan sering kali menimbulkan tantangan bagi santri baru. Memang benar bahwa santri di pondok pesantren sering menghadapi berbagai masalah sosial yang dapat memengaruhi kesejahteraan mereka seperti penyesuaian diri, kesehatan, pelanggaran tata tertib, stres, kesulitan bersosialisasi dan kehilangan barang . Pondok pesantren adalah lembaga pendidikan tradisional Islam yang berfokus pada pembelajaran, pemahaman, pendalaman, penghayatan, dan pengamalan ajaran Islam. Lembaga ini menekankan pentingnya moral 5Halim QurAoan, "Al-QurAoan dan TerjemahnnyaAy(Surabaya:Kementrian Agama Republik Indonesia,2. ,h. 6 Cholis and Yasmadi. Jurnal. Modernisasi Pesantren. Kritik Nurcholish Madjid Terhadap Pendidikan Islam Tradisional, (Jakarta: Ciputat Press, 2. Hal. 61Ao. UINFAS Bengkulu, 2023,h. 37Ae41. JURNAL SULESANA keagamaan sebagai pedoman perilaku sehari-hari, dengan mengintegrasikan ajaran Islam ke dalam struktur kontekstual atau realitas sosial yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan utama pendirian pondok pesantren adalah membina kepribadian Muslim yang sesuai dengan ajaran agama Islam. Hal ini mencakup pembentukan karakter yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan, berakhlak mulia, serta bermanfaat bagi masyarakat. Pondok pesantren juga bertujuan untuk menanamkan rasa keagamaan dalam semua aspek kehidupan santri, menjadikannya sebagai individu yang berguna bagi agama, masyarakat, dan Dalam praktiknya, pondok pesantren menyediakan lingkungan yang mendukung proses pendidikan dan pembentukan karakter santri. Lingkungan ini meliputi asrama tempat tinggal santri, masjid sebagai pusat aktivitas ibadah, ruang belajar, dan fasilitas lainnya yang mendukung kegiatan keagamaan dan pendidikan. Kiai sebagai figur utama di pondok pesantren berperan sebagai pendidik dan pembimbing spiritual bagi santri Dengan demikian, pesantren di samping berfungsi menyelenggarakan pendidikan formal, juga berfungsi sebagai wadah pembinaan akhlak dan karakter peserta didik sesuai dengan ajaran Islam, sehingga mampu mengamalkan ajaran agamanya dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran di pondok pesantren bukan hanya berfokus pada pembelajaran etika dan ilmu pengetahuan saja, akan tetapi ada juga peroses pembelajaran untuk menghafal Al-Quran seperti di Pondok Pesantren Tahdfizul QurAoan Baitturahim yang berada di Sulawesi Tenggara tepatnya di Kabupaten Kolaka. Kelurahan Sea. Kecamatan Latambaga. Latar belakang etika santri Di Pondok Pesantren Tahdfizul QurAoan merupakan perpanduan antara nilai-nilai agama, tradisi pesantren, dan budaya lokal. Tujuannya adalah membentuk santri yang tidak hanya 7Sulaiman Rusydi. Jurnal. Pendidikan Pondok Pesantren:Institutionalization of Pesantren Education'l Insika 9 No 1. ,h. JURNAL SULESANA menguasai hafalan Al-QurAoan, tetapi juga memiliki akhlak mulia yang mencerminkan ajaran islam. METODE PENELITIAN Penelitian ini menerapkan metode kualitatif, di mana peneliti secara langsung terlibat di lapangan untuk memperoleh data. Data yang dikumpulkan berbentuk tulisan serta hasil wawancara. Pendekatan kualitatif umumnya digunakan untuk mengkaji berbagai aspek, seperti sejarah, kehidupan sosial, perilaku individu, dinamika organisasi, serta aktivitas masyarakat. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Pengetian Tentang Etika Etika berasal dari bahasa Yunani, yaitu kata "ethos" dan "ethikos. Secara etimologis, "ethos" berarti sifat, karakter, kebiasaan, adat, dan tempat yang baik. 8 Makna terakhir inilah yang menjadi latar belakang munculnya istilah etika, yang diperkenalkan oleh filsuf Yunani terkenal. Aristoteles . Ae 322 SM), untuk menjelaskan filsafat moral. Secara terminologis, etika merupakan cabang filsafat yang membahas sikap dan perilaku manusia dalam kaitannya dengan kebaikan dan keburukan. Cakupan etika mencakup cara hidup yang lebih baik, bagaimana bertindak dengan baik, serta menghindari perbuatan buruk. Etika sendiri terbagi menjadi etika deskriptif dan etika Studi ilmiah tentang moralitas atau konsep moral dikenal sebagai etika. Etika dapat didefinisikan sebagai prinsip dan standar moral yang bertindak sebagai aturan tentang bagaimana orang atau kelompok seharusnyaB Lebih jauh, etika juga dapat merujuk pada seperangkat standar atau cita-cita moral, terkadang disebut sebagai kode etik. Standar dan nilainilai ini berfungsi sebagai panduan tentang bagaimana seseorang atau 8 Septi, jurnal AoPengertian Etika Dan Macam-Macam EtikaAo, 2021, h. 9 Surajiyo. Ilmu filsafat: Suatu Pengantar, (Jakarta: PT. Bumi Aksara,2. ,h. JURNAL SULESANA kelompok seharusnya berperilaku. Tindakan yang dianggap tidak bermoral, misalnya, adalah tindakan yang melanggar standar dan cita-cita moral yang mengatur masyarakat. Sebaliknya, moralitas, yang berasal dari kata Latin moralis, lebih abstrak tetapi memiliki konotasi yang hampir identik dengan "moral. " Karakteristik moral, atau semua nilai dan prinsip yang terkait dengan gagasan tentang baik dan salah, termasuk dalam moralitas. Bentuk Etika Santri Terhadap Guru Di Pondok Pesantren Tahdfizul QurAoan Baiturrahim Etika berfokus pada kajian atau refleksi mendalam tentang sistem nilai yang ada dalam masyarakat atau budaya. Etika merupakan cabang filsafat yang mengkaji apa yang di anggap baik dan buruk, serta apa yang seharusnya menjadi dasar bagi keputusan moral yang benar atau salah. Dalam etika, kita tidak hanya mengikuti nilai yang ada, tetapi juga menaganalisis dan mendalam prinsip-prinsip tersebut secara rasional. Sedangkan moral ini lebih berhubungan dengan sistem nilai atau norma yang diterima dan diterapakan dalam suatu masyarakat atau budaya mengenai tindakan baik dan buruk. Moral berfokus pada tindakan atau perbuatan yang dinilai, apakah itu benar atau salah menurut standar sosial, agama, atau budaya tertentu. Moral mengarah pada aturan praktis yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari oleh individu dalam masyarakat, seperti dilarang berbohong, mencuri, atau kewajiban membantu sesama. Penelitian ini, telah mewawancarai beberapa orang Pembina Pondok Pesantren Tahdfizul QurAoan Baiturrahim yang menurut representative untuk diwawancarai tentang etika santri terhadap guru. Adapun peneliti menggunakan teknik wawancara semi-terstruktur, yang bersifat terbuka dan 10 Henny Saida. AoJurnal Law Pro Justitia Vol. IV No. 2 Ae Juni 2019 ETIKA DAN TATA TERTIB DISIPLIN MAHASISWA Oleh: Henny Saida FloraAo. Jurnal Law Pro Justitia. IV. 22Ae41. 11 Sri Rahayu Wilujeng, jurnal AoFilsafat . Etika Dan Ilmu : Upaya Memahami Hakikat Ilmu Dalam Konteks KeindonesiaanAo. Humanika, 17. ,h. 79Ae90. JURNAL SULESANA tidak terbatas hanya pada daftar pertanyaan tertentu. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ustadz Aswar Amir selaku Pembina Pondok Pesantren ia AuSantri di pondok pesantren tahdfizul qurAoan baiturrahim harus memiliki etika khusus dalam berinteraksi dengan guru demi menjaga adab dan keberkahan ilmu. Salah satu sikap utama yang harus dimiliki santri adalah sikap tawadhu atau rendah hati. Seorang santri harus selalu menghormati gurunya dalam segala hal, baik dalam ucapan, sikap, maupun tindakan. Berbicara dengan guru harus menggunakan bahasa yang sopan dan tidak boleh memanggilnya secara langsung dengan nama, melainkan dengan panggilan yang lebih beradab seperti ustadz atau kyai. Ay12 Sama halnya dengan yang dikatakan oleh Ustadz Raihan Hilal yang merupakan salah satu Pembina asrama dan Guru di Pondok Pesantren yang mengatakan bahwa: AuSeorang santri harus menjaga nama baik guru dengan tidak membicarakan keburukannya, baik di dalam maupun di luar pesantren. Jika ada sesuatu yang kurang berkenan, santri dianjurkan untuk menyampaikan dengan cara yang baik dan penuh hormat. Tidak hanya kepada guru, tetapi keluarga dan keturunan guru harus dihormati. Sebagaimana menghormati guru itu sendiri. Bentuk penghormatan yang paling utama adalah dengan mengamalka ilmu yang telah diajarkan oleh guru. Dengan mengamalkan ilmu. Santri tidak hanya menujukkan rasa hormatnya tetapi juga membuktikan bahwa ilmu tersebut bermanfaat dan membawa keberkahan dalam Ay13 Santri di Pondok Pesantren Tahfizul QurAoan Baiturrahim harus menjaga adab dan etika dalam berinteraksi dengan guru demi keberkahan ilmu. Sikap tawadhu, penghormatan dalam ucapan dan tindakan, serta menjaga nama baik guru dan keluarganya menjadi hal yang utama. Bentuk penghormatan tertinggi adalah dengan mengamalkan ilmu yang telah diajarkan. Menurut wawancara peneliti bersama Ustadz Rijal S,pd. i yang merupakan salah satu pembina asrama dan tenaga pengajar. Adapun pertanyaan yang peneliti tanyakan mengenai apakah ada etika secara tertulis di buat pondok? 12 Aswar Amir, . Tahu. Wawancara. Tenaga Pengajar PPTQ Baiturrahim. Kolaka 2 September 2024. 13 Raihan Hilal, . Tahu. Wawancara. Tenaga Pengajar PPTQ Baiturrahim. Kolaka 20 November 2024Ao. JURNAL SULESANA AuDia mengatakan bahwa ada secara aturan, namun para pembina atau guru lebih banyak memberikan etika atau adab itu kepada santri lebih banyak contoh, sehingga ketika guru mencontohkan lebih banyak, lebih baik. Sehingga aturan yang tertulis itu ada tetapi yang lebih banyak digunakan itu secara contoh atau lebih banyak di lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga santri itu dapat melihat etika dari guru itu. Ay14 Aturan tentang etika dan adab bagi santri memang ada, tetapi penerapannya lebih banyak dilakukan melalui keteladanan dari para pembina atau guru. Dengan memberikan contoh langsung dalam kehidupan sehari-hari, guru membantu santri memahami dan menghayati adab dengan lebih baik. Hal ini membuat santri belajar etika tidak hanya dari aturan tertulis, tetapi juga dari sikap dan perilaku guru yang mereka lihat setiap hari. Menurut wawancara peneliti bersama ustadz Aswar Amir, adapun pertanyaan yang peneliti tanyakan bagaimana penerapan etika santri terhadap guru dalam kegiatan belajar mengajar? AuAswar Amir berpendapat seorang santri menujukkan rasa hormat kepada guru saat proses pembelajaran berlangsung dengan berbagai cara yang mencerminkan adab dan kesopanan, saat guru mengajar, santri harus mendengarkan dengan seksama, tidak berbicara sendiri, dan tetap fokus agar ilmu yang diberikan dapat diterima dengan baik. Sikap berbicara yang sopan juga penting, seperti tidak memotong pembicaraan guru, bertanya dengan nada rendah dan santun, serta menggunakan bahasa yang baik. Selain itu, santri harus menjaga ketertiban dengan datang tepat waktu, duduk dengan rapi, serta tidak menujukkan sikap malas atau bosan yang bisa dinggap tidak menghargai guru. Ay15 Sama halnya dengan yang dikatakan seorang santri yang bernama Rian Maulana yang mengatakan bahwa: AuRian Mulana berpendapat santri juga sebaiknya tidak membantah atau meremehkan guru, tetapi menerima arahan dan nasihat dengan penuh kesadaran bahwa ilmu yang diberikan adalah sesuatu yang berharga. Sikap tubuh dan ketetapan mata juga perlu di jaga, misalnya tidak menatap dengan tajam atau penuh tantangan, tetapi dengan penuh perhatian dan hormat. Membantu guru dalam hal-hal kecil seperti menyiapkan perlengkapan mengajar, juga bisa menjadi bentuk penghormatan. Selain itu, santri dianjurkan untuk selalu mendoakan guru agar ilmunya diberkahi dan 14 Ahmad Rijal S. Ao. Tahu. Wawancara. Pembina Dan Guru Di PPTQ Baiturrahim. Kolaka 17 Desember 2024Ao. 15 Aswar Amir. Ao. Tahu. Wawancara. Tenaga Pengajar PPTQ Baiturrahim. Kolaka 2 September 2024Ao. JURNAL SULESANA diberikan kemudahan dalam mengajar. Semua bentuk penghormatan ini bukan hanya mencerminkan akhlak yang baik, tetapi juga menunjukkan bahwa santri memahami pentingnya adab dalam menuntut ilmu, sebagaimana diajarkan dalam Islam. Ay16 Seorang santri menghormati guru dalam proses pembelajaran dengan menerapkan adab dan kesopanan. Sikap ini ditunjukkan melalui perhatian penuh saat mendengarkan, berbicara dengan santun, menjaga ketertiban, serta bersikap hormat. Santri juga perlu menerima arahan guru dengan penuh kesadaran tanpa membantah, serta menunjukkan penghormatan dengan membantu dalam hal-hal kecil. Selain itu, mendoakan guru agar ilmunya diberkahi merupakan bagian dari adab dalam menuntut ilmu. Semua tindakan ini mencerminkan pemahaman santri tentang pentingnya etika dalam menimba ilmu sesuai ajaran Islam. Menurut wawancara peneliti bersama Ustadz Raihan Hilal mengenai apa saja konsekuensi diterima santri jika melanggar etika terhadap guru di pondok pesantren tahdfizul QurAoan Baiturrahim? Ustadz Raihan Hilal berpendapat bahwa konsekuensi yang diberikan biasanya dimulai dengan teguran dan nasihat. Teguran ini bisa bersifat pribadi atau dilakukan dihadapan santri lain, tergantung tingkat kesalahan yang dilakukan masih dalam batas ringan, hukuman yang diberikan bisa berupa tugas tambahan, seperti membersikan lingkungan pesantren, berdiri di depan mesjid, melakukan aktivitas fisik ringan seperti push-up atau lari keliling Sedangkan pelanggaran lebih berat dilakukan seperti berbicara kasar kepada guru, tidak mematuhi perintah atau menujukkan sikap tidak terhormat secara berulang kali. Maka sanksinya bisa berupa pengurangan hak tertentu, misalnya tidak diizinkan mengikuti ujian atau program tahdfiz dalam waktu terentu. Dalam beberapa kasus, pihak pesantren juga dapat memanggil orang tua atau wali santri untuk memberikan pembinaan lebih lanjut. Pada intinya, setiap konsekuensi yang diberikan kepada santri yang melanggar etika terhadap guru bukan bertujuan untuk menghukum secara keras, tetapi lebih kepada upaya mendidik dan membentuk karakter agar lebih berakhlak mulia. Sistem disiplin di pesantren tidak hanya menekankan aspek 16 Rian Maulana. Ao20 (Tahu. Wawancara. Santri PPTQ Baiturrahim, 17 Desember 2024Ao. 17 Raihan Hilal, . Tahu. Wawancara. Tenaga Pengajar PPTQ Baiturrahim. Kolaka 20 November 2024. JURNAL SULESANA hukuman, tetapi juga memberikan pemahaman mendalam tentang nilai-nilai moral, sehingga santri dapat menyadari kesalahannya dan memperbaiki sikapnya dengan lebih baik di masa depan Sama halnya dikatakan seorang santri yang bernama Yusuf Anwar yang mengatakan bahwa: Aukonsekuesi yang biasannya yang saya terima sebagai seorang Santri biasannya membersikan wc, berdiri selama 15 menit sambil membaca AlQurAoan, jalan jongkok, membersihkan halaman pondok, dibotak, meminta tanda tangan seluruh pembina asrama, tidak diberi untuk menyetor hafalan dan dll. Ay18 Menurut wawancara peneliti dengan Ustadz Ahmad Rijal S. Mengenai berapa saja santri biasanya yang melanggar etika di pondok pesantren tahdfizul qurAoan baiturrahim? AuUstadz Rijal S,pd,i berpendapat yang melakukan pelanggaran ringan, seperti lupa memberi salam, kurang sopan dalam berbicara atau kurang memperhatikan guru saat belajar. Ini bisa terjadi sepuluh sampai tiga belas orang dalam satu hari. Sedangkan untuk pelanggaran sedang, seperti telat ke sekolah, terlambat melakukan sholat berjamaah di mesjid, tidak menyetor hafalan, keluar tanpa izin, biasanya enam sampai delapan orang dalam satu hari, sedangkan yang berat itu seperti membawa hp dalam lingkungan pesantren, melawan guru secara terang-terangan, merokok di lingkungan pesantren biasannya itu dua sampai enam orang dalam satu bulan. Pelanggaran di pesantren ini terbagi menjadi tiga tingkat: ringan, sedang dan berat. Pelanggaran ringan terjadi paling sering sekitaran 10-13 kali per har, sementara pelanggaran sedang terjadi 6-8 kali perhari. Pelanggaran berat lebih jarang terjadi, sekitar 2-6 kali dalam sebulan. Menurut wawancara peneliti bersama Yusuf Anwar selaku santri. Mengenai faktor seorang santri tidak menghargai gurunya di pondok AuYusuf Anwar berpendapat seorang santri bisa tidak menghargai gurunya di pondok pesantren karena alasan yang saling berkaitan. Salah satu faktor utama adalah kurangnya pendidikan adab sejak kecil. Jika seorang santri tumbuh di lingkungan yang tidak menanamkan nilai penghormatan terhadap orang yang lebih tua atau berilmu, maka ketika masuk ke pesantren, ia bisa 18 Yusuf Anwar. Ao. Tahu. Wawancara. Santri PPTQ Baiturrahim, 3 September 2024Ao. 19 Ahmad Rijal S. i, . Tahu. Wawancara Pembina dan Guru di PPTQ Baiturrahim. Kolaka 17 Desember 2024. JURNAL SULESANA kesulitan untuk menghormati gurunya. Dalam Islam adab lebih diutamakan dari pada ilmu, tetapi jika seorang santri tidak memahami pentinnya hal ini, ia bisa bersikap kurang sopan terhadap guru. Ay20 Sama halnya dikatakan seorang pembina atau guru yang bernama Alim Hamzah yang mengatakan bahwa: Aulingkungan pesantren juga berperan besar dalam membentuk sikap Jika seorang santri bergaul dengan teman-teman yang tidak menghormati guru, ada kemungkinan ia akan ikut-ikutan. Pengaruh negatif dari lingkungan sekitar bisa membuat santri merasa bahwa menghormati guru bukan sesuatu yang penting. Selain itu, santri yang merasa tertekan dengan aturan ketat di pesantren atau merasa tidak diperlakukan dengan adil oleh gurunya bisa kehilangan rasa hormat. Rasa kecewa atau marah terhadap guru bisa berkembang menjadi sikap kurang menghargai. Ay21 Untuk mengatasi hal ini, pesantren perlu menanamkan adab dan etika untuk memperkuat hubungan antara guru dan santri. Guru harus menjadi teladan yang baik, menciptakan kedekatan dengan santri, dan memastikan bahwa setiap santri memahami pentingnya menghormati guru agar ilmu yang di peroleh menjadi suatu keberkahan. Adapun kesimpulan di atas mengenai faktor seorang santri tidak menghargai gurunya, karena berbagai faktor yang saling berkaitan. Kurangnya pendidikan adab sejak kecil dapat membuatnya kesulitan menghormati guru, lingkungan pergaulan juga berpengaru, dimana teman-teman yang tidak menghormati guru bisa memberikan dampak negati, selain itu, tekanan dari aturan ketat atau perasaan diperlakukan tidak adil dapat menimbulkan rasa kecewa, yang pada akhirnya menyebabkan kurangnya rasa hormat terhadap Impilikasi Etika Santri Terhadap Guru Terhadap Pembentukan Karakter Di Pondok Pesantren Tahfidzul QurAoan Baiturrahim. Pembentukan Karakter 20 Yusuf Anwar, . Tahu. Wawancara. Santri PPTQ Baiturrahim, 3 September 2024. 21 Alim Hamzah, . Tahu. Wawancara. Pembina Dan Guru Di PPTQ Baiturrahim. Kolaka 17 Desember 2024. JURNAL SULESANA Identitas seseorang atau suatu kelompok dibentuk oleh moral, etiket, dan karakteristik psikologisnya. Karakter ini berasal dari nilai-nilai fundamental yang memengaruhi pikiran, perasaan, dan tindakan seseorang selain perilaku lahiriah. Karakter ditunjukkan dalam kehidupan sehari-hari melalui kata-kata, perbuatan, sikap, perasaan, dan gagasan yang selaras dengan prinsip-prinsip ini. Aturan, peraturan, etiket, budaya, dan konvensi agama adalah contoh-contoh yang membantu membentuk kepribadian seseorang dan mengajari mereka cara bertindak dengan rasa hormat dan tanggung jawab. Menurut hasil wawancara yang disampaikan oleh Ustadz Aswar selaku guru dan Pembina Pondok Pesantren Implikasi etika santri terhadap pembentukan karakter di Pondok Pesantren Tahdfizul QurAoan Baiturrahim sangat segnifikan. Karena pondok pesantren tidak hanya berperan sabagai lembaga pendidikan akademik dan keagamaan, tetapi juga sebagai tempat pembinaan moral dan spritual. Adapun beberapa impilakasi etika dalam pebentukan karakter di Pondok Pesantren Tahdfizul QurAoan Baiturrahim: Penguatan Akhlak Mulia Pondok pesantren Tahfizhul QurAoan baiturrahim, etika santri menjadi aspek utama dalam pembinaan karakter. Nilai-nilai seperti sopan santun, kedisiplinan, dan kerendahan hati dijunjung tinggi sebagai bagian dari akhlak Santri diajarkan untuk menghormati guru, menjalin hubungan baik dengan sesama, serta berinteraksi dengan masyarakat sekitar dengan penuh Sikap ini menanamkan sifat tawadhuAo . endah hat. sekaligus membentuk kesadaran bahwa ilmu yang bermanfaat harus selalu disertai dengan akhlak yang baik. Kedisiplinan dan Tanggung Jawab 22 Naila Fauziatun Nikmah. AoBab II Teori Pembentukan KarakterAo. Journal of Chemical Information and Modeling, 53. ,h. JURNAL SULESANA Pondok Pesantren Tahdfizul Qur'an Baiturrahim mengajarkan para santrinya untuk disiplin dalam menghafal Al-Qur'an dan mengatur waktu dalam beribadah serta kegiatan belajar mengajar. Para santri yang mengamalkan kedisiplinan ini akan terbiasa bertanggung jawab terhadap lingkungan sekitar dan diri sendiri. Pembentukan Karakter Kemandirian Etika Santri Di Pondok ini mengajarkan hidup sederhana dan mandiri dilingkungan Pesantren membantu santri untuk mengembangkan rasa tanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Mereka dilatih untuk tidak bergantung pada orang lain dalam menjalankan tugas sehari-hari. Pengandalian Diri dan Kesabaran Melalui pendidikan etika di pesantren, santri dilatih untuk mengandalikan emosi, menjaga perilaku, dan bersabar dalam menghadapi tantangan, baik dalam proses menghafal Al-QurAoan maupun dalam interaksi Kesabaran ini menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter yang tangguh. Nilai-Nilai Spiritual Pondok ini juga menekankan pentingnya nilai-nilai spiritual dalam Hal ini tercermin dalam pembiasaan beribadah, zikir, dan membaca Al-QurAoan, yang membentuk santri menjadi pribadi yang dekat dengan Allah dan memilki karakter spiritual yang kuat. Secara keseluruhan. Etika santri di pondok pesantren tahdfizul QurAoan baiturahim berperan besar dalam membentuk karakter santri yang berkhlak mulia, disiplin, mandiri, serta memiliki pengendalian diri dan nilai-nilai spiritual yang kuat. 23 Aswar Amir, . Tahu. Wawancara. Tenaga Pengajar PPTQ Baiturrahim. Kolaka 2 September 2024Ao. JURNAL SULESANA AuMenurut hasil wawancara bersama Ustadz Raihan Hilal sebagai Tenaga Pengajar Pondok Pesantren Tahdfizul QuAoan Baiturrahim bahwasanya peran guru dalam membentuk karakter santri melalui pembelajaran adab dan etika di Pondok Pesantren Tahdfizul QurAoan Baiturrahim ini sangatlah Guru yang sering disebut sebagai kyai. Ustadz atau pengasuh di pesantren, memilki tanggung jawab besar tidak hanya mempelajari sebagai Ilmu pengatahuan, tetapi guru juga sebagai pembimbing moral dan spiritual. Guru tidak hanya mengajarkan teori, tetapi juga mengaitkan adab dan etika dengan kehidupan nyata, hal ini membantu santri memahami relevansi nilainilai Islam dalam berbagai situasi baik di dalam maupun di luar pesantren, dan guru juga mendoakan para santri dan memberikan dukungan spiritual, yang merukan aspek penting dalam proses pembentukan karakter. Guru sering mengingatkan pentingnya hubungan dengan Allah . ablum minalla. sebagai landasan untuk menjaga hubungan baik dengan sesama manusia . ablum Dengan pendekatan ini guru di Pondok Pesantren ini mampu membentuk karakter santri yang beradab, beretika, dan memiliki akhlak mulia, yang nantinya akan menjadi bekal mereka dalam kehidupan Menurut wawancara peneliti dengan Ustadz Alim Hamzah mengenai Apa saja nilai-nilai etika yang diajarkan kepada santri di pondok pesantren tahdfizul qurAoan baiturrahim yang berkontribusi pada pembentukan karakter AuDi Pondok Pesantren Tahfizul Qur'an Baiturrahim Kolaka, nilai-nilai etika yang diajarkan berfokus pada pembentukan akhlak mulia dan tanggung jawab santri. Mereka diajarkan untuk menghormati guru, berbakti kepada orang tua, menjaga hubungan baik dengan sesama, serta menerapkan disiplin dan tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari. Kejujuran, amanah, kesederhanaan, kemandirian, serta kebersihan juga menjadi bagian penting dalam pendidikan mereka. Dengan menerapkan nilai-nilai ini, santri 24 Raihan Hilal, . Tahu. Wawancara. Tenaga Pengajar PPTQ Baiturrahim. Kolaka 20 November 2024 JURNAL SULESANA diharapkan menjadi individu yang berilmu, berakhlak, dan siap berkontribusi positif bagi masyarakat. Ay25 Etika santri terhadap guru seperti sikap hormat, patuh dan sopan santun menjadi sarana utama pembentukan karakter. Guru sebagai teladan memberikan contoh nyata dalam bersikap dan berprilaku, yang kemudian dinternalisasi oleh santri dalam kehidupan sehari-hari. Implementasi etika santri terhadap guru memiliki dampak yang signifikan dalam pembentukan karakter positif. Nilai-nilai yang diajarkan di Pondok Pesantren Tahdfizul QurAoan baiturrahim menjadi landasan utama dalam membangun generasi yang berakhlak mulia, berintegritas, dan memiliki tanggung jawab sosial. Menurut wawancara peneliti dengan Ustadz Aswar Amir mengenai sejauh mana peran kyai, ustadz dan pengurus pesantren dalam membentuk karakter santri melalui pembelajaran etika? AuPeran seorang Kyai. Ustadz dan pengurus pesantren dalam membentuk karakter santri melalui pembelajaran etika sangantlah besar dan mencakup berbagai aspek kehidupan di pesantren. Kyai sebagai pemimpin spiritual dan teladan utama di pesantren memiliki pengaruh yang mendalam dalam membentuk karakter santri, beliau tidak hanya mengajarkan ilmu agama dan etika secara teori, tetapi juga menjadi contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan ustadz atau pengajar bertanggung jawab dalam mentransfer ilmu sekaligus membimbing santri dalam penerapan nilainilai etika. Meraka tidak hanya mengajarkan adab dalam belajar, seperti menghormati guru dan disiplin dalam menuntut ilmuAy. Secara keseluruhan, kombinasi peran kyai, ustadz dalam membimbing, memberi teladan, serta menanamkan nilai-nilai etika menjadikan pesantren sebagai lingkungan yang kondusif untuk pembentukan karakter santri yang berakhlak mulia dan siap berkontribusi positif dalam masyarakat. 25 Alim Hamzah, . Tahu. Wawancara. Pembina Dan Guru Di PPTQ Baiturrahim. Kolaka 17 Desember 2024. 26 Aswar Amir, . Tahu. Wawancara. Tenaga Pengajar PPTQ Baiturrahim. Kolaka 2 September 2024Ao JURNAL SULESANA Menurut wawancara peneliti dengan Ustadz Ahmad Rijal s, pd,i, apakah ada perbedaan dalam pembentukan karakter santri mukim dan santri kalong terkait penerapan etika di pesantren ini? AuSantri mukim, yang tinggal penuh di pesantren, memiliki keterikatan lebih kuat dengan lingkungan dan budaya pesantren. Mereka menjalani kehidupan lebih disipilin karena berada dalam pengawasan langsung kyai, ustadz, dan pengurus pesantren selama 24 jam. Pembelajaran etika bagi santri mukim lebih terinternalisasi karena mereka menjalankan aturan dan kebiasaan pesantren secara terus-menerus seperti disiplin waktu dalam ibadah, adab dalam berinteraksi, serta kemandirian dalam kehidupan seharihari. Sedangkan santri kalong, yang hanya datang ke pesantren untuk belajar dan kembali ke rumah, memiliki keterbatasan dalam penerapan etika pesantren dalam kehidupan mereka. Karena mereka masih terpengaruh oleh lingkungan luar, pembentukan karakter mereka lebih bergantung pada kedisiplinan pribadi dan pengawasan dari keluarga. Santri kalong tetap diajarkan nilai-nilai etika di pesantren, tetapi penerapannya tidak seketat santri mukim karena mereka tidak sepenuhnya berada dalam lingkungan yang dikontrol pesantren. Ay27 Kesimpulannya. Pembentukan karakter santri mukim cenderung lebih kuat dan konsisten karena mereka hidup dalam sistem pesantren sepenuhnya, sedangkan santri kalong harus lebih mandiri dalam menerapkan nilai-nilai etika yang dipelajari di pesantren ke dalam kehidupan di luar pesantren. KESIMPULAN Pertama. Santri di Pondok Pesantren Tahfizul QurAoan Baiturrahim harus memiliki etika khusus dalam berinteraksi dengan guru demi menjaga adab dan keberkahan ilmu. Salah satu sikap utama yang harus dimiliki santri adalah tawadhu atau rendah hati. Santri harus selalu menghormati gurunya dalam segala hal, baik dalam ucapan, sikap, maupun tindakan. Berbicara dengan guru harus menggunakan bahasa yang sopan dan tidak boleh memanggilnya secara langsung dengan nama, melainkan dengan panggilan yang lebih beradab seperti Ustadz atau Kyai. Dan adapun Faktor utama yang menyebabkan santri 27 Ahmad Rijal S. i, . Tahu. Wawancara Pembina dan Guru di PPTQ Baiturrahim. Kolaka 17 Desember 2024. JURNAL SULESANA kurang menghargai gurunya antara lain kurangnya pendidikan adab sejak kecil, pengaruh lingkungan yang negatif, serta tekanan dari aturan ketat atau perasaan diperlakukan tidak adil. Untuk mengatasi hal ini. Pesantren ini perlu menanamkan adab dan etika dengan memperkuat hubungan antara guru dan santri, memberikan keteladanan yang baik, serta memastikan bahwa setiap santri memahami pentingnya menghormati guru agar ilmu yang diperoleh menjadi berkah dalam kehidupan mereka. Kedua. Nilai-nilai etika yang diajarkan di pesantren, seperti menghormati guru, berbakti kepada orang tua, menjaga hubungan dengan sesama, serta disiplin dan tanggung jawab, menjadi dasar dalam pembentukan karakter santri. Kejujuran, amanah, kesederhanaan, dan kemandirian juga ditekankan agar mereka tumbuh menjadi individu yang berilmu dan berakhlak Etika santri terhadap guru, seperti sikap hormat, patuh, dan sopan santun, berperan penting dalam membentuk kepribadian yang baik. Secara keseluruhan, kombinasi pembelajaran etika, bimbingan dari para kyai dan ustadz, serta lingkungan pesantren yang kondusif menjadikan Pondok Pesantren Tahfizul Qur'an Baiturrahim sebagai tempat yang efektif dalam membentuk karakter santri yang berakhlak mulia dan siap berkontribusi positif di masyarakat. DAFTAR PUSTAKA