PEMBERDAYAAN ORANG TUA REMAJA DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN PARENTING DAN PENERAPAN FUNGSI KELUARGA DI BKR KELURAHAN BANDAR LOR Putri Eka Sejati1. Byba Melda Suhita2 Kebidanan. Institut Ilmu Kesehatan STRADA Indonesia Keperawatan. Institut Ilmu Kesehatan STRADA Indonesia Sejarah artikel Diterima: 28 Januari 2023 Revised: 21 Februari 2023 Diterima: 04 Maret 2023 Email: putridanialin@gmail. Abstrak Latar Belakang: World Health Organization (WHO) mendefinisikan remaja adalah individu berusia 10-19 tahun yang merupakan masa transisi dimana mereka sering mengalami berbagai masalah salah satunya adalah kehamilan remaja yang memiliki dampak buruk baik secara fisik, psikologis, dan sosial. Keluarga merupakan tempat pertama dalam perkembangan remaja baik secara fisik maupun sosial sehingga pentingnya kemampuan orang tua dalam pengasuhan remaja sesuai dengan fase perkembangannya sedangkan Fungsi Keluarga adalah kualitas hubungan antara orang tua dan remaja. Tujuan dalam pengabduan masyarakat ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan orang tua yang memiliki anak remaja dalam pengasuhan dan penerapan fungsi keluarga. Metode: Pengabdian masyarakat ini menggunakan metode problem solving dalam proses pemberdaan ibu yang memiliki anak remaja, dilakukan pre test sebelum pemberdayaan dan post test setelah Hasil dan Pembahasan: terdapat peningkatan pengetahuan mengenai pola asuh dan fungsi keluarga dari orang tua remaja antara sebelum dan sesudah pemberdayaan. Didapatkan hasil sebesar 47,1 % ibu remaja berpengetahuan kurang sebelum pemberdayaan menjadi 70,5% berpengetahuan baik setelah pemberdayaan. Pentingnya pengetahuan orang tua mengenai pola asuh dan penerapan fungsi keluarga diharapkan orang tua mampu memberikan pendidikan seksual kepada remaja sehingga bisa mencegah perilaku seksual beresiko. Kata kunci: Fungsi Keluarga. Pola Asuh. Remaja Abstract Background: World Health Organization (WHO) defined adolescent are people who have age 10-19 years old and in this period they often experience some problem including teenage pregnancy which have negative impact on adolescent. The family functions approach states that there is the quality of the family and determine the quality of the relationship between parents and adolescents. The aims in this activity to providing health education to parents who have teenager in BKR (Youth Family Developmen. in Bandar Lor Village. Kediri to increase parentAo knowledge about parenting and Family Function. Method: This community empowerment activity uses the problem solving method, which begins with the presentation of a case which is then discussed together between the author and the respondent. In this activity, pre-test and post-test were also carried out to find out the knowledge of adolescent parents before and after the empowerment activities. Result and Discussion: The results of an increase in the knowledge of adolescent parents between before and after health education using the problem solving method, namely that previously the knowledge of adolescent parents was 47. 1 percent was less to 70. 5% had good n 134 Copyright . 2023 Putri Eka Sejati1. Byba Melda Suhita2 Karya ini berlisensi di bawah Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. org/10. 34306/adimas. It is hoped that the knowledge of parents regarding parenting and the implementation of family functions is important for parents to be able to provide sexual education to adolescents so that they can prevent unsafe sexual behavior. Keywords : Family Functions. Parenting. Teenager PENDAHULUAN World Health Organization (WHO) mendefinisikan remaja merupakan individu berusia 10 sampai 19 tahun yang merupakan masa transisi dari masa anak-anak ke masa dewasa disebut sebagai masa kritis. Remaja cenderung merasa bukan lagi anak-anak tetapi belum mampu bertanggungjawab terhadap diri sendiri dan masyarakat terutama dalam nilai-nilai lama dan memperoleh nilai-nilai baru dalam mencapai kedewasaan . Pada periode ini remaja sering mengalami berbagai masalah seperti masalah seksualitas, pernikahan anak dan penyalahgunaan obat-obatan terlarang. Salah satu masalah seksualitas yang memberikan dampak buruk bagi remaja adalah kehamilan remaja . Kehamilan remaja merupakan masalah kesehatan masyarakat yang menjadi masalah secara internasional yang berkontribusi terhadap tingginya Angka Kematian dan Kesakitan Ibu pada tahun 2020. WHO melaporkan di negara berkembang setiap tahunnya terdapat 12 juta remaja putri berusia 15-19 tahun dan setidaknya 777. 000 remaja putri dibawah 15 tahun hamil dan melahirkan selain itu sekitar 10 juta kehamilan yang tidak di inginkan terjadi di kalangan remaja putri. Secara global komplikasi selama kehamilan dan persalinan adalah penyebab utama kematian pada remaja . Menurut data dari Badan Pusat Statistik tahun 2021 menyatakan kehamilan remaja sebesar 48 per 1000 kehamilan. Menurut data dari SDKI (Survey Data Kesehatan Indonesi. tahu 2017 di Indonesia 34,5% wanita menikah usia 20-24 tahun, menikah pertama kali di bawah usia 18 tahun, 7% wanita usia 15-19 tahun sudah menjadi ibu. Penelitian di Sembilan kota besar di Indonesia menemukan bahwa dari 37. 000 kehamilan yang tidak di inginkan sebanyak 27% terjadi pada pasangan yang belum menikah dan 12,5% adalah pasangan SMP/SMA atau sarjana . Indonesia merupakan Negara dengan angka kehamilan remaja nomer 4 di Asia tenggara setelah Laos. Filipina dan Cambodia. The National Statistical Bureu melaporkan prevelensi wanita yang hamil dan melahirkan diusia 10-19 tahun sebesar 48 per 1000 kehamilan . Pada penelitian sebelumnya menemukan beberapa faktor penyebab kehamilan remaja, yan pertama adalah faktor individu yaitu kurangnya pengetahuan mengenai kesehatan seksual dan reproduksi yang seharusnya mereka dapatkan dari orang tua/ keluarga dan instansi pendidikan, informasi mengenai dampak seks sebelum menikah dan bagaimana meningkatkan self-efficacy untuk melakukan penolakan terhadap tindakan seks tidak aman. Faktor selanjutnya adalah faktor lingkungan sosial yaitu teman sebaya dan situasi dalam keluarga atau kualitas hubungan orang tua dan remaja . Ketika remaja tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang pendidikan seksual yang seharusnya didapatkan dari orang tua dan sekolahnya mereka akan berusaha mencari informasi dari sumber lain seperti dari internet, televise, buku dan teman sebayanya yang belum tentu informasi yang didapatkan adalah informasi yang benar . Selain itu pendidikan seksual dari orang tua atau keluarga merupakan hal penting bagi remaja karena keluarga merupakan institusi fundamental dalam perkembangan nilai dan norma pada remaja, namun pada kenyataannya banyak orang tua yang menganggap tabu untuk membicarakan masalah seksualitas dengan anak remajanya serta kurangnya pengawasan dan bimbingan dari orang tua/ keluarga juga menjadi faktor remaja melakukan hubungan seks sebelum menikah yang mengakibatkan kehamilan remaja . Artikel lain menyebutkan faktor penyebab kehamilan remaja adalah pengalaman kekerasan sewaktu kecil, terlibat kenakalan remaja, penyalahgunaan obat Aeobatan terlarang, anak dari orang tua yang hamil memiliki riwayat hamil diusia remaja, kondisi keluarga yang tidak harmonis dan anak yang tidak tinggal satu rumah dengan orang tuanya . Selain orang tua peran sekolah juga penting bagi remaja sebagai pusat pembelajaran dan pembentukan karakter anak dan remaja. Sekolah merupakan lembaga yang idela untuk pembentukan nilai dan norma pada remaja, tapi pada kenyataannya pendidikan seksual belum masuk dalam kurikulum nasional sehingga kurang optimal dalam memberikan informasi pencegahan seks sebelum menikah dan kehamilan remaja . Rendahnya akses untuk kesehatan reproduksi dan pelayanan kontrasepsi di beberapa Negara menjadi penyebab utama kehamilan remaja . Selanjutnya untuk faktor community dipengaruhi oleh norma sosial yang ada di masyarakat . Kejadian kehamilan remaja menimbulkan dampak negatif baik secara fisik maupun sosial. Dampak fisik dapat terjadi pada ibu dan bayi antara lain potensi melahirkan anak terhambat, persalinan terhambat akibat panggul sempit yang dapat mengancam ibu dan bayi, potensi robekan serviks yang mengakibatkan perdarahan, risiko pre-eklampsia , kejang hingga kematian, menyebabkan kanker leher rahim dan osteoporosis keropos saat menopause . Sementara dampak sosial bagi ibu remaja akan menghadapi beberapa akibat seperti remaja cenderung tidak percaya diri dalam PEMBERDAYAAN ORANG TUA REMAJA. n 135 doi. org/10. 34306/adimas. sekolah, besar kemungkinan akan dikeluarkan dari sekolah, akan mengalami kesulitan dalam kehidupan ekonominya dan cenderung tidak memiliki kemampuan mengasuh anak secara efektif. Akan ada juga dampak sosial pada anak yang dilahirkan seperti perkembangan yang kurang baik, tertinggal secara akademis, lebih mungkin disalahgunakan atau ditelantarkan, dan kemungkinan mengalami kehamilan remaja juga . Keluarga tidak hanya merupakan unit terkecil dari masyarakat tetapi juga merupakan tempat pertumbuhan dan perkembangan baik secara fisik maupun psikologis bagi setiap anggota keluarga. Pendekatan fungsi keluarga merupakan kualitas hubungan antara orang tua dan remaja. Menurut McMaster, fungsi keluarga adalah menyediakan lingkungan yang sesuai dengan kondisi anggota keluarga secara fisik, psikologis, sosial dan aspek lainnya, ada enam fungsi keluarga seperti problem solving, communication, rules, affective responsiveness, affective involvement, dan behavior control . Sesuai dengan tahapan perkembangan remaja, dukungan keluarga sangat dibutuhkan dalam segala aspek terutama tentang kehidupan seksual . Indonesia memiliki program Generasi Berencana (GenR. yang dilaksanakan dengan pendekatan dari dua sisi yaitu pendekatan kepada remaja itu sendiri dilakukan melalui Pengembangan Pusat Informasi dan Konseling (PIK) sedangkan pendekatan kepada keluarga melalui Bina Keluarga Remaja BKR, peran keluarga sangat penting karena remaja dalam pembinaan dan pengasuhan dimana pembentukan karakter dimulai dari keluarga. Proses pengasuhan dalam program BKR meliputi kedekatan orang tua dengan remaja, pengawasan dan komunikasi orang tua antara orang tua, dan remaja. Program BKR yang ada belum mencakup seluruh aspek dari enam dimensi fungsi keluarga . Kegiatan pengabdian masyarakat ini menggunakan metode problem solving yaitu metode penyuluhan berbasis masalah. Dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat ini penulis memaparkan berbagai fenomena yang terjadi pada masyarakat yang selanjutnya para peserta di bebaskan untuk berdiskusi dan berpendapat mengenai fenomena yang terjadi terutama terkait kehamilan remaja. Setelah kegiatan diskusi penulis dan peserta membuat kesimpulan dari hasil diskusi yang telah dilakukan. Dengan ini diharapkan peserta bisa lebih aktif dan berfikir rasional tentang masalah yang dipaparkan. Pada beberapa kegiatan pengabdian masayarakat sebelumnya masih jarang yang membahas mengenai pola asuh dan penerapan fungsi keluarga, beberapa artikel pengabdian masyarakat yang penulis temui hanya membahas mengenai komunikasi orang tua dan remaja, selain itu masih jarang juga kegiatan pengabdian masyarakat yang menggunakan metode problem solving beberapa kegiatan masih menggunakan metode ceramah dalam kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan. Oleh karena itu, kegiatan pemberian pendidikan kesehatan kepada orang tua yang memiliki anak usia remaja di BKR (Pembinaan Keluarga Remaj. Desa Bandar Lor Kediri untuk meningkatkan pengetahuan orang tua tentang pengasuhan dan fungsi keluarga. METODE PELAKSANAAN Kegiatan pemberdayaan masyarakat ini menggunakan Problem Solving . etode pemecahan masala. yang diawali dengan pemaparan kasus yang kemudian didiskusikan bersama antara penulis dan responden. Dalam kegiatan ini juga dilakukan pre-test dan post-test untuk mengetahui pengetahuan orang tua remaja sebelum dan sesudah kegiatan Responden dalam kegiatan ini berjumlah 34 orang tua yang memiliki anak remaja di Desa Bandar Lor Kediri. PEMBAHASAN Tabel 1. Tabel Distribusi Pengetahuan Orang Tua Remaja Mengenai Pola Asuh dan Fungsi Keluarga Sebelum Pemberdayaan Sebelum Kegiatan Pemberdayaan Kategori Jumlah Baik Cukup Kurang Jumlah PEMBERDAYAAN ORANG TUA REMAJA. Persentasi (%) n 136 doi. org/10. 34306/adimas. Tabel 2. Tabel Distribusi Pengetahuan Orang Tua Remaja Mengenai Pola Asuh dan Fungsi Keluarga Sesudah Pemberdayaan Setelah Kegiatan Pemberdayaan Kategori Jumlah Baik Cukup Kurang Jumlah Persentase (%) Kegiatan pemberdayaan orang tua remaja dilakukan di Desa Bandar Lor Kediri dengan jumlah responden 34 orang yaitu orang tua yang memiliki anak remaja. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 27 Juli 2022 di kantor kecamatan bandar lor. Dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat ini diawali dengan melakukan pre-test untuk mengetahui pengetahuan ibu remaja mengenai parenting dan fungsi keluarga dilanjutkan dengan metode problem solving yaitu menjelaskan beberapa hal yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi remaja yang kemudian didiskusikan, kemudian melakukan post test untuk membandingkan pengetahuan orang tua antara sebelum dan sesudah pendidikan kesehatan. Hasil pretest yang didapatkan dalam kegiatan ini sebelum dilakukan kegiatan pemberdayaan adalah mayoritas . ,1%) orang tua memiliki pengetahuan yang kurang mengenai pola asuh remaja dan penerapan fungsi keluarga dan setelah dilakukan kegiatan pemberdayaan terdapat peningkatan yaitu 70,5% orang tua memiliki pengetahuan yang baik mengenai pola asuh dan penerapan fungsi keluarga. Mengingat pentingnya pengetahuan dan kemampuan orang tua dalam pola asuh dan penerapan fungsi keluarga dalam salah satu upaya pencegahan kehamilan remaja hal ini sejalan dengan beberapa penelitian sebelumnya yang menyebutkan bahwa kurangnya kemampuan orang tua dalam mendampingi anak remaja nya utamanya dalam pendidikan sosial menjadi faktor utama penyebab perilaku seks sebelum menikah yang berakhir dengan kehamilan . Metode yang digunakan dalam kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah metode problem solving yaitu metode penyuluhan berbasis masalah. Dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat ini penulis memaparkan berbagai fenomena yang terjadi pada masyarakat yang selanjutnya para peserta di bebaskan untuk berdiskusi dan berpendapat mengenai fenomena yang terjadi terutama terkait kehamilan remaja. Setelah kegiatan diskusi penulis dan peserta membuat kesimpulan dari hasil diskusi yang telah dilakukan. Dengan ini diharapkan peserta bisa lebih aktif dan berfikir rasional tentang masalah yang dipaparkan. Tahap kegiatan yang dilakukan adalah melakukan pre test untuk mengetahui tingkat pengetahuan peserta mengenai pola asuh remaja dan penerapan fungsi keluarga, setelahnya penulis memaparkan beberapa fenomena yang terjadi dimasyarakat dengan bentuk video dan foto beberapa fenomena yang dipaparkan adalah seks pranikah pada remaja, seks bebas, fenomena aborsi dan penggunaan napza pada remaja selain itu juga pemaparan video mengenai pola asuh yang salah dan situasi-situasi dalam keluarga yang menelartbelakangi remaja melakukan perilaku beresiko. Setelah itu peserta di berikan waktu untuk berdiskusi secara terbuka mengenai fenomena yang telah dipaparkan kemudian dilanjutkan membuat kesimpulan yang dilakukan oleh penulis dan seluruh peserta. Setelah rangkaian kegiatan pemberdayaan masyarakat selanjutnya dilakukan post tes untuk menilai pengetahuan orang tua tentang pola asuh dan penerapan fungsi keluarga. Kelemahan dalam kegiatan ini adalah belum melibatkan remaja dalam proses pemberdayaan, diharapkan pada kegiatan pengabdian masyarakat selanjutnya bisa menggunakan metode problem solving dengan melibatkan remaja sehingga bisa di ambil kesimpulan dari pihak orang tua dan remaja nya. PEMBERDAYAAN ORANG TUA REMAJA. n 137 doi. org/10. 34306/adimas. Gambar 1. Proses Pengabdian Masyarakat KESIMPULAN Berdasarkan hasil pemberdayaan orang tua remaja di Desa Bandar Lor Kediri menunjukkan hasil peningkatan pengetahuan orang tua remaja antara sebelum dan sesudah penyuluhan kesehatan dengan menggunakan metode problem solving yaitu sebelumnya pengetahuan orang tua remaja sebesar 47,1 persen. kurang sampai 70,5% memiliki pengetahuan baik. Hal ini menunjukkan pentingnya berbagai metode pendidikan kesehatan dalam program BKR. DAFTAR PUSTAKA