ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 29288-29294 Volume 9 Nomor 3 Tahun 2025 Studi Kasus Campur Kode Bahasa Indonesia dengan Bahasa Daerah dan Bahasa Asing di SMAS Tunas Luhur Paiton Khuwaidah Azzahroh1. Indah Wahyuliana Wati2 SMAS Tunas Luhur Paiton Bahasa Indonesia. SMAS Tunas Luhur Paiton e-mail: khuwaidahazzahroh. 3@gmail. Abstrak Bahasa adalah alat komunikasi yang efektif untuk menyampaikan pesan dengan maksud tujuan tertentu kepada orang lain. Letak geografis daerah dan budaya mempengaruhi penggunaan Keberagaman bahasa ini menimbulkan fenomena campur kode. Fenomena campur kode ini juga terjadi di SMAS Tunas Luhur yang berada di Probolinggo. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, yang berarti peneliti langsung turun ke lapangan dan meneliti secara langsung kasus campur kode di SMAS Tunas Luhur Paiton. Dengan harapan, peneliti dapat mengetahui bagaimana kondisi nyata dari fenomena campur kode antara Bahasa Indonesia dengan Bahasa Daerah dan Bahasa Asing yang terjadi. Dari hasil penelitian, data yang ditemukan terdiri dari Bahasa Indonesia dengan Bahasa Inggris. Bahasa Indonesia dengan Bahasa Daerah. Bahasa Inggris dengan Bahasa Daerah Kata kunci: Campur kode. Bahasa Indonesia. Bahasa Daerah. Bahasa Asing Abstract Language is an effective communication tool for conveying messages with specific purposes to Geographical location and culture influence language use. This linguistic diversity gives rise to the phenomenon of code-mixing. This code-mixing phenomenon also occurs at Tunas Luhur Senior High School in Probolinggo. The research method used was descriptive qualitative, meaning the researcher went directly into the field and directly examined the code-mixing cases at Tunas Luhur Senior High School in Paiton. With the hope, the researcher can understand the real conditions of the code-mixing phenomenon between Indonesian and regional languages and foreign languages that occur. From the research results, the data found consisted of Indonesian with English. Indonesian with regional languages, and English with regional languages. Keywords: Campur kode. Bahasa Indonesia. Bahasa Daerah. Bahasa Asing PENDAHULUAN Bahasa sebagai alat komunikasi yang paling efektif untuk menyampaikan gagasan, pikiran dan tujuan kepada orang lain. Sebagai makhluk sosial, manusia membutuhkan bahasa untuk komunikasi dengan manusia lainnya. Komunikasi digunakan untuk menyampaikan maksud dan tujuan dari seseorang kepada orang lain melalui bahasa, baik lisan maupun tulis. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer yang digunakan oleh masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasi diri untuk melahirkan pikiran dan perasaan manusia. Setiap daerah di Indonesia memiliki bahasa yang beragam. Keberagaman ini dipengaruhi oleh letak geografis daerah dan budaya. Keberagaman ini menjadikan masyarakat Indonesia tidak hanya menguasai satu bahasa. Tidak hanya Bahasa Daerah yang dikuasai oleh masyarakat Indonesia, melainkan Bahasa Asing juga mampu dikuasai oleh masyarakat Indonesia. Masyarakat yang menguasai lebih dari satu bahasa disebut bilingual atau dwibahasawan, masyarakat yang menguasai lebih dari dua disebut multilingual. Diantara sesama penutur bahasa bilingual atau multilingual, tak jarang kita menemukan fenomena campur kode. Fenomena ini berbentuk penggunaan unsur bahasa yang satu dengan unsur bahasa yang lain. Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 29288-29294 Volume 9 Nomor 3 Tahun 2025 Campur kode bisa terjadi dimana saja dan kapan saja. Campur kode terjadi apabila seorang yang menggunakan Bahasa Indonesia memasukkan unsur-unsur Bahasa Daerah dan Bahasa Asing ke dalam tuturan kata yang diucapkan. Dengan kata lain, seseorang yang berbicara dengan kode utama Bahasa Indonesia dan memiliki fungsi keotonomiannya, sedangkan kode bahasa daerah yang terlibat dalam kode utama merupakan serpihan-serpihan saja tanpa fungsi atau keotonomian sebagai sebuah kode. Ciri yang menonjol dalam campur kode ini ialah kesantaian atau situasi informal (Aslinda & Leni, 2007 dalam Mariana, 2. Kasus campur kode juga terjadi di SMA Tunas Luhur, yang masing-masing siswanya memiliki latar belakang keluarga dan suku yang beragam. Sebagian besar dari siswa-siswi ini bukan berasal dari Kabupaten Probolinggo, berarti mereka merupakan pendatang yang menetap di Kabupaten Probolinggo dan bersekolah di Sekolah Menengah Atas yang terletak di paling timur Kabupaten Probolinggo yakni (SMA) Tunas Luhur. Seperti yang tertera diatas bahwasanya beberapa siswa dan siswi merupakan pendatang yang kemudian terbiasa berkomunikasi dengan Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan dicampur dengan Bahasa Madura ataupun Jawa sebagai Bahasa Daerah di lingkungan sekitar. Serta Bahasa Asing sebagai tambahan nya. Meskipun beberapa masyarakat di daerah Paiton beragam dengan suku dan asal nya, namun tetap saja masyarakat asli yang bersuku Madura tetap lebih mendominasi, serta dapat memengaruhi penggunaan Bahasa Madura terhadap masyarakat pendatang. Penggunaan bahasa yang bercampur ini lah yang menjadi alasan karya ilmiah ini dibuat dengan judul Studi Kasus Campur Kode Bahasa Indonesia dengan Bahasa Daerah dan Bahasa Asing di SMA Tunas Luhur. METODE Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Deskriptif kualitatif merupakan jenis penelitian yang mengarah pada pengumpulan data observasi, berupa kata-kata, hasil wawancara dan catatan-catatan bukan perhitungan. Diambil dari fenomena yang terjadi dalam masyarakat secara alamiah. Artinya, data yang ada berasal dari lingkungan yang nyata dan benar-benar asli, ( Alwi dkk dalam Dian 2021 : . mengatakan penelitian dekriptif kualitatif memiliki beberapa ciri-ciri, yaitu. memiliki sifat deskriptif yang dapat di analisis, fokus yang tertuju lebih pada proses bukan hasil, bersifat induktif dengan menarik kesimpulan baru yang lebih umum, dan mengutamakan makna dalam penelitian tersebut. Penelitian studi kasus ini mengkaji secara lisan gejala sosial yang dapat diamati, peneliti akan mendeskripsikan bagaimana realitas penggunaan bahasa dalam campur kode bahasa di lingkungan sekolah SMA Tunas Luhur dengan upaya metode yang dilakukan dalam penelitian ini terbagi menjadi dua yaitu:. metode observasi dan . metode wawancara. Metode observasi berarti peneliti langsung turun ke studi kasus yang terjadi di lapangan. Metode observasi atau pengamatan dapat disejajarkan dengan metode simak. Penelitian ini juga dapat berpartisipasi dalam pembicaraan dan menyimak pembicaraan. Namun ada pula dalam metode, peneliti menyimak data dan tidak langsung ikut berpartisipasi melainkan sebagai pemerhati dan dengan tekun mendengarkan orang-orang yang saling berinteraksi (Sudaryanto,1993 dalam Manaf dkk 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Bentuk-bentuk campur kode Bahasa yang terjadi di lingkungan SMA Tunas Luhur. Campur kode yang terjadi adalah penggabungan berbentuk kata dan campur kode dalam bentuk frasa. Peristiwa 1. Konteks: Peristiwa tuturan terjadi di depan kelas saat adanya percakapan santai antar teman. Nanda. AyEh kata nya nanti pulang siang?Ay. Twishafira : AuCan sapa kamu. Nan?Ay. Nanda:AuBoh taoh ya, aku cuma denger-dengerAy. Twishafira:AyMetaoh mu. NanAy. Peristiwa tuturan pada percakapan diatas terdapat unsur campur kode, yakni pada tuturan Twishafira di kalimat AuCan sapa kamu. Nan?Ay, pada frasa can sapa merupakan Bahasa Madura yang memiliki makna kata siapa, menurut siapa. Dalam kalimat tersebut Twishafira sedang memastikan informasi yang Nanda tanyakan. Tanggapan Nanda. AuBoh taoh ya, aku cuma dengerJurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 29288-29294 Volume 9 Nomor 3 Tahun 2025 dengerAy, kalimat tersebut memiliki makna tersurat yang berarti Nanda tidak tahu pasti siapa yang memberikan informasi tentang pulang siang. Percakapan ini menggunakan campur kode antara Bahasa Indonesia dan Bahasa Daerah, yakni Bahasa Madura. Peristiwa 2. Konteks: Pada saat proses pengerjaan solar cell p5 di kelas. Alfian: AuEh lampu nya dak kenning mati niiAy Fathir: AuKabel nya kebalik yanAy Bintang: AuGuh ini carkelacer banget kelas nya, solder ni mau dimatiin?Ay Rega: AuIyeh pateen dulu dah gapapaAy Peristiwa tuturan ini juga sama seperti kejadian pada peristiwa 1, di mana dalam satu kejadian terdapat beberapa percakapan yang berisi tuturan campur kode. Seperti pada tuturan Alfian yang mengatakan Audak kenning matiAy frasa ini berasal dari Bahasa Madura yang memiliki makna tidak bisa, maksud dari Alfian adalah lampu yang ia kerjakan tidak bisa mati, dan Fatir memberitahu bahwa kabel lampunya terbalik. Lalu datang Bintang yang mengeluhkan tentang kondisi kelasnya. Dalam percakapan disebutkan carkalacer kata Bahasa Madura yang bermakna berantakan, berserakan, porak poranda. Bintang juga bertanya apakah alat solder tersebut akan dimatikan. Rega menjawab dengan Bahasa campuran. Auiyeh pateen dulu dah gapapaAy yang berarti ia mengizinkan agar alat tersebut dimatikan terlebih dahulu oleh Bintang. Peristiwa 3. Konteks: Persiapan presentasi untuk p5 kelas 11 tema solar cell. Farah : AuGuh ngetek aku dahAy. Alfian : AuPresentasi, mari wess, pulang dah Ay Aida :AuEh ini kesulitan nya mau di isi apa aja?Ay Alif : AuKeluarin wes unek-unek kalianAy Percakapan yang terjadi pada peristiwa dan tuturan di atas adalah campur kode dari Bahasa Indonesia dan Madura, serta Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa. Seperti pada kalimat di awal percakapan yang diucapkan oleh Farah. AuGuh ngetek aku dahAy guh ngetek berasal dari Bahasa Madura, guh ngetek memiliki makna gugup, cemas, gelisah, yang menggambarkan suasana hati Farah yang sedang ia keluhkan . Lalu Alfian menanggapi dengan kalimat yang bersemangat. AuPresentasi, mari wes, pulang dahAy mari wes bermakna selesai sudah, tuturan diatas menunjukan bahwa Alfian bersemangat untuk presentasi dan bersegera pulang. Campur kode yang selanjutnya merupakan campur kode Bahasa Indonesia dengan Bahasa Jawa yang dituturkan oleh Alif. Pada kalimat AuKeluarin wes unek-unek kalianAy kata wes dalam Bahasa Indonesia memiliki makna sudah. Tuturan Alif pada kalimat diatas memiliki makna tersurat untuk kita menyebutkan apa saja keluh kesah yang ada dan pendam selama proses pengerjaan p5. Peristiwa 4. Konteks: Hujan ringan di Sekolah. Viola : AuEh iki tletik ya?Ay Abel : AuTletik ni apa?Ay Anggrek : AuGerimissAy Abel : Auboh risik, tau aku mun risikAy Peristiwa yang terjadi pada percakapan di atas merupakan campur kode antara Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa, seperti pada tuturan Viola dan Abel yang saling bertanya tentang AuTletikAy. Anggrek menanggapi dengan memberi tahu makna tletik, yakni gerimis. Serta terdapat pula campur kode Bahasa Indonesia dengan Bahasa Madura pada tuturan Abel di kalimat AuBoh risik, tau aku mun risikAy kalimat ini dalam Bahasa Indonesia memiliki makna AuOh gerimis, aku tau kalo gerimisAy dari percakapan santai itu kami mendapatkan kosakata baru. Peristiwa 5. konteks: Jam istirahat pelajaran, ajakan untuk membeli jajan. Aida : AuFir kantin gak?Ay Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 29288-29294 Volume 9 Nomor 3 Tahun 2025 Safira : AuNgga dah ik, takut pesse ku habisAy Percakapan singkat di atas mengalami peristiwa tuturan campur kode antara Bahasa Indonesia dan kata dalam Bahasa Madura. Aida bertanya sembari mengajak Safira ke kantin, tetapi Safira menolak, dalam kalimat nya pada bagian AuTakut pesse ku habisAy terjadi percampuran kode, kata pesse dalam Bahasa Madura memiliki makna uang, jadi Safira tidak ingin membelanjakan uangnya di kantin karena ia sedang berhemat. Peristiwa 6. Konteks: Postingan Instagram Jeni : Au Happy sarrah iniAy Ada sebuah postingan di laman media sosial yang menampilkan foto kelas, mereka terlihat kompak dan menyenangkan, lalu Jenni melihat dan mengomentari postingan tersebut dengan berkata AuHappy sarrah iniAy tiga kata yang berbeda tempat asalnya. Kata happy berasal dari Bahasa Inggris dan bermakna bahagia, senang, gembira dan kata sarrah yang berasal dari Bahasa Madura memiliki makna sangat, banget, sekali, amat. Jadi tuturan Jenni menjelaskan bagaimana kondisi postingan yang ia liat. Peristiwa tuturan ini merupakan campur kode antara Bahasa Inggris. Bahasa Madura dan Bahasa Indonesia. Peristiwa 7. Konteks: Pembelajaran sejarah Jepang di Indonesia. Ustaz Rahmat: AuJepang itu bilang nya saudara tua, tretan- tretan kitaAy Pada tuturan Ustaz Rahmat di atas terjadi campur kode antara Bahasa Indonesia dan Bahasa Madura, tretan dalam Bahasa Madura memiliki makna saudara, keluarga. Dan tretantretan ini merupakan pengulangan kata dan bermakna saudara-saudara. Ustaz Rahmat menjelaskan salah satu propaganda bahwa Jepang menganggap dirinya sebagai saudara tua dan Peristiwa 8. Konteks: Beberapa murid memberi salam untuk menyapa ustad, dan tiba-tiba beliau mengeluhkan kondisi kaki nya. Ustaz Yadi: AuAduh gringgingan kaki saya, rekAy Tuturan di atas merupakan campur kode antara Bahasa Indonesia dengan Bahasa Jawa. Seperti pada kata gringgingan yang berasal dari Bahasa Jawa dan memiliki makna kesemutan, kebas, dan kata rek berasal dari kata arek dalam Bahasa Jawa yang bermakna anak atau sapaan akrab kepada orang yang lebih muda. Dalam konteks ini. Ustaz Yadi tiba-tiba mengeluhkan kondisi kaki nya yang sedang kesemutan. Dan terjadilah campur kode ini. Peristiwa 9. Konteks: persiapan latihan pagelaran Aida : AuAyo latihan lagi, kita belum siap lhoAy Opik: AuLah yo iku ik, sek turu-turuan dulu dahAy Pada peritiwa tuturan di atas, di kalimat AuLah yo iku ik, sek turu-turuan dulu dah,Ay yang penutur ucapkan merupakan campur kode Bahasa Indonesia dengan Bahasa Jawa, yang dalam Bahasa Indonesia memiliki Makna AuNah itu dia ik, tidur-tiduran dulu dahAy dan terjadi pengulangan kata pada kata turu. Pada percakapan di atas dapat diartikan bahwa penutur setuju dengan tuturan Aukita belum siapAy tetapi ia lebih memilih menunda dengan bersantai. Peristiwa 10. konteks: Maraknya virus gondongan Geby: AuRadang is one step of gondonganAy Pada tuturan di atas, terdapat campur kode bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris. Pada kalimat AuRadang is one step of gondonganAy. Menurut KBBI, radang memiliki makna penyakit kerusakan jaringan tubuh yang ditandai oleh demam dan pembengkakan. Sedangkan is one step of merupakan kalimat Bahasa Inggris yang bermakna AuSatu langkah dariAy dan gondongan Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 29288-29294 Volume 9 Nomor 3 Tahun 2025 merupakan nama salah satu jenis penyakit menular yang menyerang kelenjar parotis manusia dalam Bahasa Indonesia. Penutur memberikan informasi bahwa radang merupakan satu langkah permulaan dari penyakit gondongan. Peristiwa 11. Konteks: Antri makan siang Cindy: AuMakan apa itu lauknya?Ay Anggrek: AuI see nya chicken bakar, eh lele dengAy Pada peristiwa tuturan tersebut mengandung campur kode antara Bahasa Indonesia dengan Bahasa Inggris dan imbuhan dalam Bahasa Jawa. Pada kalimat AuI see nya chicken bakar, eh lele dengAy, dalam Bahasa Indonesia I bermakna saya. aku , see bermakna melihat. lihat dan chicken bermakna ayam. Penutur memberi informasi bahwa lauk yang ia lihat adalah ayam bakar, namun ia sangkal dengan tuturan Aueh lele dhingAy kata dhing berasal dari Bahasa jawa yang memiliki makna mestinya. Penutur bermaksud mengatakan bahwa lauk yang sebenarnya adalah lele. Peristiwa 12. Konteks: Hampir terjatuh di tangga. Luna: AuBe careful-be careful, kamu glinding and you byeAy Pada peristiwa tuturan di atas terdapat campur kode Bahasa Indonesia dengan beberapa kata Bahasa inggris. Pada kalimat Au be careful - be careful, kamu glinding and you byeAy. Kata be careful memiliki makna hati-hati, dan pada kalimat di atas, tuturan tersebut mengalami pengulangan kata. Kamu glinding and you bye, kata glinding memliki makna gerakan memutar sambil berguling-guling seperti roda berputar, and yang bermakna dan yang memiliki fungsi sebagai konjugsi dan makna kata you dalam Bahasa Indonesia adalah kamu, sedangkan bye bermakna selamat tinggal, akan tetapi bye dalam konteks tuturan ini adalah bye karena terjatuh. Jadi kalimat di atas menjelaskan bagaimana kondisi yang akan terjadi jika terjatuh dari tangga. Peristiwa 13. Konteks: Persiapan salat di musala Nayla: AuSek I mau wash hand and face dulu sebelum ke musalaAy Kalimat tuturan di atas merupakan campur kode antara Bahasa Jawa. Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Kata sek merupakan kependekan dari kata dhisik yang di baca dengan logat orang Jawa Timur an menjadi AusekAy, dapat bermakna sebentar. lebih dulu. I berasal dari Bahasa Inggris yang bermakna saya, begitu juga wash hand and face yang memiliki makna mencuci/ membilas tangan dan wajah. Dan kata musala adalah tempat salat. surau yakni tempat beribadah seperti masjid namun dalam skala lebih kecil. Jadi, makna pada kalimat tersebut adalah penutur meminta teman nya untuk menunggu terlebih dahulu, karena ia ingin membilas tangan dan mencuci wajah nya terlebih dahulu sebelum pergi ke musala Peristiwa 14. Konteks: Membuat video Tik Tok Ajeng: AuEh bikin video Tik Tok pake filter yang satunya aja. Biar cute. Ay Pada peristiwa tuturan di atas, tuturan tersebut merupakan campur kode antara Bahasa Indonesia dengan Bahasa Inggris. Tiktok merupakan aplikasi berbasis media sosial online, yang tengah popular dikalangan masyarakat untuk membuat video berdurasi singkat, dengan beberapa Kata filter yang berasal dari Bahasa Inggris juga merupakan istilah untuk untuk proses penyuntingan foto dan video yang disertai dengan efek yang merupakan fitur tambahan untuk menambah kesan menarik pada video mereka. Begitu pula dengan kata cute yang juga berasal dari Bahasa Inggris dan memiliki makna imut. Makna kalimat pada tuturan di atas adalah penutur mengajak untuk membuat video di aplikasi tiktok dengan efek, supaya video mereka terlihat lucu dan menarik. Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 29288-29294 Volume 9 Nomor 3 Tahun 2025 Peristiwa 15. Konteks: Pembiasaan karakter baik Ustazah Nunung: AuDisiplin itu kita biasakan, supaya menjadi habit yang baikAy Pada peristiwa tuturan di atas terdapat campur kode Bahasa Indonesia dengan Bahasa Inggris. Dalam KBBI Disiplin merupakan sikap taat dan patuh pada peraturan dan tata tertib Penutur mengatakan bahwa. AuDisiplin harus kita biasakan, supaya menjadi habit yang baikAy. Kata habit berasal dari Bahasa Inggris dan dalam Bahasa Indonesia memiliki makna kebiasaan, yakni rutinitas spontan yang dilakukan tanpa disadari. SIMPULAN Berdasarkan pemaparan hasil analisis studi kasus di atas, terdapat fenomena linguistik, yakni campur kode antara Bahasa Indonesia dengan Bahasa Daerah dan Bahasa Asing yang dilakukan oleh warga sekolah di SMAS Tunas Luhur. Peneliti menjabarkan 15 percakapan campur kode yang ia temukan dari teman dan guru di SMA Tunas Luhur, terdapat campur kode antara Bahasa Indonesia-Bahasa Jawa. Bahasa Indonesia-Bahasa Madura dan Bahasa IndonesiaBahasa Inggris, ataupun percampuran antara 3 bahasa sekaligus. Berdasarkan hasil yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa penggunaan Bahasa Daerah tidak hanya menjadi identitas sosial dan budaya penutur, tetapi juga sebagai alat komunikasi yang efektif dan unik. Faktor internal seperti tontonan, kebutuhan kosakata untuk memperjelas, kesamaan dan perbedaan latar belakang penutur. Serta faktor eksternal seperti adanya perubahan dari situasi formal ke informal atau sebaliknya, adanya kesantaian dan perubahan topik pembicaraan. Kedua faktor tersebut sangat memengaruhi penutur untuk menggunakan campur kode Bahasa Indonesia dengan Bahasa Daerah dan Bahasa Asing. Fenomena ini dapat menjadi tempat untuk melestarikan keberagaman Bahasa Daerah karena dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari meskipun hanya dengan menyisipkan Bahasa Daerah dan Bahasa asing ke dalam Bahasa Indonesia. Berkaitan dengan hasil penelitian, peneliti memberikan saran, agar peneliti selanjutnya memperluas wilayah cangkupan penelitian supaya lebih mengetahui bagaimana variasi campur kode Bahasa lainya. Peneliti selanjutnya diharapkan meneliti dampak yang terjadi karena adanya campur kode Bahasa. UCAPAN TERIMAKASIH Jurnal ini bisa diselesaikan dengan baik berkat dukungan dari beberapa pihak. Untuk itu penulis megucapkan terimakasih kepada SMA Tunas Luhur yang telah memberikan wadah dan membimbing penulis sehingga bisa menyelesaikan Jurnal ini. Terimakasih juga untuk temanteman yang selalu men-support penulis. DAFTAR PUSTAKA