Analisis Potensi Laju Sedimentasi pada Waduk (Studi Kasus Waduk Cengklik Kabupaten Boyolal. Vardanella Vinaya Bhasia1. Nanda Tasya Surya Puspita2. Budi Santosa3. Yohanes Yuli Mulyanto4 email: 18b10075@student. id1, 18b10101@student. Mahasiswa Program Studi Teknik Sipil. Universitas Katolik Soegijapranata. Jl. Pawiyatan Luhur IV/I. Semarang Dosen Program Studi Teknik Sipil. Universitas Katolik Soegijapranata. Jl. Pawiyatan Luhur IV/I. Semarang Abstrak Sedimentasi pada Waduk Cengklik terjadi akibat erosi pada kawasan sekitarnya (Daerah Aliran Sungai Waduk Cengkli. Erosi tersebut terjadi karena air hujan jatuh pada lahan terbuka. Sedimentasi mempengaruhi pengurangan daya tampung air dalam waduk. Berdasarkan catatan dari Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo kapasitas daya tampung air Waduk Cengklik sebesar 17,5 juta m3 pada tahun 1970. Namun tampungan pada air waduk dari tahun ke tahun mengalami penurunan. Misalnya pada tahun 1998 kapasitas air waduk menjadi 12,5 juta m3, dan pada tahun 2019 hanya mampu menampung air sebanyak 9 juta m3. Menurut Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo nilai sedimentasi pada Waduk Cengklik pada tahun 2020 sebesar 18,82 ton/ha/tahun. Selain erosi, terjadinya sedimentasi pada Waduk Cengklik juga disebabkan oleh sisa pakan ikan pada keramba-keramba dan pertumbuhan eceng gondok . ebagai sedimen terapun. yang cukup besar. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui potensi laju erosi dan laju sedimentasi yang terjadi pada Waduk Cengklik. Untuk menganalisis potensi laju erosi dan sedimentasi ini digunakan metode RUSLE. Adapun untuk pengolahan data digunakan software ArcGIS. Data yang dibutuhkan dalam penelitian ini meliputi data curah hujan, peta DAS, data jenis tanah, data kemiringan lereng dan data penggunaan lahan. Dari hasil penelitian ini dapat diketahui bahwa luas cakupan wilayah DAS Waduk Cengklik sebesar 8,6495 Km2 atau 864,95 Ha. Potensi laju erosi (E. pada DAS Waduk Cengklik mencakup 5 desa, yang meliputi Desa Demangan. Desa Kepoh. Desa Ngargorejo. Desa Senting dan Desa Sobokerto. Nilai total potensi laju erosi sebesar 412,04 ton/ha/tahun. Berdasarkan kriteria erosi yang diterbitkan oleh Kementerian Kehutanan . dalam Santoso . , erosi DAS Waduk Cengklik termasuk dalam klasifikasi erosi berat. Potensi laju erosi yang terjadi pada 5 desa di DAS Waduk Cengklik didapatkan bahwa Desa Kepoh merupakan wilayah yang menyumbang tingkat erosi yang sangat berat dengan nilai erosi sebesar 640,69 ton/ha/tahun. Berdasarkan hasil penelitian dengan pengolahan data ArcGIS untuk penetapan jenis tanah wilayah DAS Bengawan Solo ditemukan 2 jenis tanah yang meliputi jenis tanah Mediteran dan jenis Tanah Grumusol. Jenis tanah Mediteran merupakan jenis tanah yang mendominasi dan sebagai penyumbang terjadinya erosi terbesar pada DAS Waduk Cengklik. Berdasarkan hasil olah data dengan menggunakan ArcGIS untuk penetapan tata guna lahan wilayah DAS Bengawan Solo ditemukan bahwa wilayah permukiman dan sawah mendominasi sebagai penyumbang utama terjadinya erosi. Potensi laju sedimentasi pada Waduk Cengklik sebesar 275502,84 m3/tahun. Kata kunci: Potensi laju erosi. Potensi laju sedimentasi. Metode RUSLE Abstract Sedimentation in the Cengklik Reservoir occurs due to erosion in the surrounding area (Cengklik Reservoir River Basi. This erosion occurs because rainwater falls on open land. Sedimentation affects the reduction of water holding capacity in reservoirs. Based on records from the G-SMART Jurnal Teknik Sipil Unika Soegijapranata Semarang | ISSN : 2620-5297 . Volume 8 | Nomor 1 | Juni 2024 Bengawan Solo River Basin Center, the water capacity of the Cengklik Reservoir was 17. 5 million m3 in 1970. However, the reservoir water capacity has decreased from year to year. For example, in 1998 the reservoir's water capacity was 12. 5 million m3, and in 2019 it was only able to hold 9 million m3 of water. According to the Bengawan Solo River Basin Center, the sedimentation value in the Cengklik Reservoir in 2020 was 18. 82 tons/ha/year. Apart from erosion, sedimentation in the Cengklik Reservoir is also caused by remaining fish food in the cages and the growth of water hyacinth . s floating sedimen. which is quite large. This research aims to determine the potential erosion rate and sedimentation rate that occurs in the Cengklik Reservoir. To analyze the potential rate of erosion and sedimentation, the RUSLE method was used. As for data processing. ArcGIS software is used. The data needed in this research includes rainfall data, watershed maps, soil type data, slope data and land use data. From the results of this research, it can be seen that the area coverage of the Cengklik Reservoir watershed is 8. 6495 Km2 or 864. 95 Ha. The potential erosion rate (E. in the Cengklik Reservoir watershed covers 5 villages, including Demangan Village. Kepoh Village. Ngargorejo Village. Senting Village and Sobokerto Village. The total potential value of erosion rate is 412. tons/ha/year. Based on the erosion criteria published by the Ministry of Forestry . in Santoso . , erosion of the Cengklik Reservoir watershed is included in the classification of heavy erosion. The potential rate of erosion that occurs in 5 villages in the Cengklik Reservoir watershed shows that Kepoh Village is an area that contributes to very heavy erosion rates with an erosion value of 640. 69 tonnes/ha/year. Based on the results of research using ArcGIS data processing to determine soil types in the Bengawan Solo watershed area, 2 types of soil were found, including the Mediterranean soil type and the Grumusol soil type. The Mediterranean soil type is the dominant soil type and is the largest contributor to erosion in the Cengklik Reservoir Based on the results of data processing using ArcGIS to determine land use in the Bengawan Solo watershed area, it was found that residential areas and rice fields dominate as the main contributors to erosion. The potential sedimentation rate in the Cengklik Reservoir is 84 m3/year. Keywords: Potential erosion rate. Potential sedimentation rate. RUSLE method. PENDAHULUAN Erosi dan sedimentasi merupakan proses yang terjadi akibat terlepasnya butiran material tanah pada suatu tempat kemudian bergerak oleh aliran air atau angin kemudian menghasilkan endapan dimana material tanah itu terhenti. Erosi dan sedimentasi menjadi permasalahan yang dihadapi pada setiap bangunan air seperti waduk karena akan mengganggu dalam pengoperasian dan pemeliharaan waduk itu sendiri. Erosi menjadi salah satu penyebab terjadinya sedimentasi. Erosi lahan yang bergerak pada area Daerah Aliran Sungai (DAS) akan terus mengalir hingga menuju ke titik kontrol pada waduk. Pada analisis ini dilakukan analisis sedimentasi pada Waduk Cengklik Kabupaten Boyolali. Waduk Cengklik merupakan waduk yang dibangun oleh Pura Mangkunegaran dan pemerintah masa kolonial Belanda pada tahun Waduk ini merupakan salah satu waduk buatan yang dimanfaatkan sebagai fasilitas publik untuk menunjang kehidupan irigasi di wilayah Kabupaten Boyolali. Waduk Cengklik berada di Ds. Ngargorejo. Kec. Ngemplak. Kab. Boyolali. Provinsi Jawa Tengah dengan titik 7o30Ao54. 20AyLS 110o43Ao45. 56AyBT dengan luas Daerah Aliran Sungai (DAS) sebesar 10,69 km2 dan luas lahan 250 ha. Pengairan pada waduk ini dikelola langsung oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo. Menurut Abdurrosyid menerangkan bahwa penyebab terbesar terjadinya sedimentasi pada Waduk Cengklik disebabkan oleh erosi. Erosi DAS yang terjadi G-SMART Jurnal Teknik Sipil Unika Soegijapranata Semarang | ISSN : 2620-5297 . Volume 8 | Nomor 1 | Juni 2024 diakibatkan oleh jatuhnya air hujan pada lahan yang terbuka. Dampak yang diakibatkan adanya sedimentasi pada Waduk Cengklik adalah daya tampung air di dalam waduk menjadi berkurang serta berakibat terganggunya kebutuhan air bagi warga di sekitar. Pada tahun 1970 waduk cengklik mampu menampung sebanyak 17,5 juta m3 air, namun tampungan pada air waduk dari tahun ke tahun mengalami penurunan seperti pada tahun 1998 kapasitas air waduk menjadi 12,5 juta m3 pada tahun 2019 mampu menampung air sebanyak 9 juta m3. Menurut Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo . menyatakan bahwa nilai sedimentasi pada Waduk Cengklik sebesar 18,82 ton/ha/tahun. Selain disebabkan oleh erosi lahan pada DAS sedimentasi yang terjadi pada Waduk Cengklik disebabkan juga oleh sisa pakan ikan keramba dan pertumbuhan eceng gondok yang sedimentasi terapung pada Waduk. Menurut Marwoto dalam Antara Jateng . dilaporkan bahwa sedimentasi pada Waduk Cengklik diakibatkan adanya endapan sisa pakan dari keramba ikan milik petani di waduk serta Menurut Fadia dalam Radar Solo . menyatakan bahwa pertumbuhan eceng gondok pada waduk ini sudah mencapai 70% luasan Tanaman gula ini disebut sebagai sedimentasi terapung. Tujuan dalam analisis ini untuk mengetahui besaran potensi laju erosi dan potensi laju sedimentasi yang terjadi di Waduk Cengklik. Dalam menganalisis sedimentasi membutuhkan data pendukung seperti data curah hujan, data jenis tanah, data panjang dan kemiringan lereng, data penutupan lahan. Pada kasus sedimentasi yang terjadi pada Waduk Cengklik menjadi dasar dibutuhkannya kajian lebih lanjut pada terjadinya sedimentasi dengan perkiraan perhitungan menggunakan pendekatan metode RUSLE dan pengolahan data menggunakan aplikasi software ArcGis. TINJAUAN PUSTAKA Teori yang digunakan berdasarkan judul dan latar belakang pada analisis ini dapat dijelaskan sebagai berikut. Waduk Waduk adalah tampungan air buatan yang dibuat oleh manusia untuk berbagai Waduk dibangun dengan cara membendung aliran air dengan tujuan untuk menampung air dari daerah tangkapan air yang selanjutnya dapat digunakan untuk berbagai keperluan masyarakat. Fungsi utama dari dibangunnya sebuah waduk adalah sebagai penampung air hujan ketika musim penghujan. Tampungan air dari waduk akan dimanfaatkan dengan optimal ketika musim kemarau (Sisinggih, dkk. , 2. Daerah Aliran Sungai (DAS) Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 37 Bab 1 Pasal 1 Tahun 2012 menyatakan bahwa Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah suatu wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungainya, yang berfungsi menampung, menyimpan dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau ke laut secara alami, yang batas di darat merupakan pemisah topografis dan batas di laut sampai dengan daerah perairan terpengaruh aktivitas daratan. Wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) terbagi menjadi tiga daerah yang mengalir dari catchment area dengan alur hingga mengalir menuju area lautan yaitu daerah hulu sungai, daerah tengah sungai dan daerah hilir sungai. Daerah hulu sungai merupakan area yang menjadi titik awal penampungan air hujan. Uji Konsistensi Data Uji konsistensi data dilakukan sebelum melaksanakan analisis curah hujan yang berguna untuk mengetahui kebenaran data curah hujan sesusai dengan distribusi teoritis. Metode yang dapat digunakan untuk uji konsistensi data salah satunya menggunakan metode Rescale Adjusted Partial Sums (RAPS). Menurut Harto . dalam Yasa, dkk. , . persamaan dalam melaksanakan uji konsistensi data dapat dijabarkan sebagai berikut: S*0 I ) dengan k = 1,2,3,An Ocki=1(Yi -Y S*k . G-SMART Jurnal Teknik Sipil Unika Soegijapranata Semarang | ISSN : 2620-5297 . Volume 8 | Nomor 1 | Juni 2024 Ocki=1(Yi -Y Dy2 =Oo i=1 n i I) Ock (Y -Y S** Yi -Y Dengan nilai Statistik Q dan R sebagai berikut: Nilai Statistik Q = Maks (S** =0OkOn Nilai Statistik R = Maks S** k y Min Sk =0OkOn 0OkOn Polygon Thiessen Dalam memperkirakan dan menghitung data pada titik pengamatan stasiun hujan dapat dilakukan dengan menggunakan metode polygon thiessen. Metode polygon thiessen digunakan ketika titik pengamatan yang dilaksanakan tidak tersebar secara merata, oleh karena itu perhitungan dalam menentukan curah hujan rata-rata dilaksanakan dengan memperhitungkan pengaruh pada setiap titik lokasi pengamatan. Erosi Erosi merupakan peristiwa longsornya tanah yang disebabkan oleh desakan air atau Erosi dapat terjadi akibat alam atau faktor kegiatan manusia. Secara alamiah, hujan yang terjadi terus menerus akan berakibat pada permukaan tanah yang terkikis kemudian terbawa oleh aliran air selain itu kondisi tinggi dan kemiringan lereng akan mempermudah jalannya erosi. Aktivitas manusia yang mempengaruhi laju erosi seperti aktivitas pertambangan dan penggundulan hutan untuk pertanian dan pemukiman yang dapat mempengaruhi topografi dan struktur tanah. Sedimentasi Partikel tanah yang terangkut oleh air yang berasal dari proses terjadinya erosi menuju daerah aliran sungai kemudian menuju lokasi bangunan untuk penyimpanan air . akan menyebabkan terjadinya endapan atau Faktor utama yang mempengaruhi terjadinya sedimentasi pada sebuah waduk berasal dari erosi lahan yang terjadi pada daerah tangkapan waduk (Marhendi, 2. Sedimentasi yang berada di waduk akan sangat mengganggu dalam kinerja waduk untuk menyimpan air karena sangat berpengaruh pada jumlah tampungan air yang sudah direncanakan serta akan berpengaruh pada umur layanan atau usia guna waduk itu sendiri. Potensi laju sedimentasi dapat dianalisis menggunakan perhitungan berdasarkan persamaan menurut Kurniawan, dkk. , . sebagai berikut: SDR = 0,41 y A-0,3 Persamaan untuk perhitungan hasil sedimen yang terjadi antara lain: Sy = SDR y Ea Persamaan untuk menghitung analisis umur waduk adalah sebagai berikut: Tw = Kapasitas Dead Storage . 3 ) Volume Sedimen Tahunan . 3 ) Metode RUSLE Metode RUSLE atau Revised Universal Soil Loss Equation merupakan metode yang digunakan untuk pemetaan dalam menghitung jumlah erosi untuk memprediksi kehilangan tanah tahunan rata-rata dalam waktu yang cukup lama oleh air limpasan dari kemiringan lereng lahan dan luas area. RUSLE dapat dirumuskan sebagai berikut: Ea = R y K y LS y C y P. Dimana variabel yang digunakan pada metode ini adalah: Faktor erosivitas hujan (R) Faktor erosivitas hujan merupakan faktor yang digunakan untuk menentukan perkiraan besarnya erosi yang terjadi pada tanah. Faktor R dapat dirumuskan menggunakan persamaan yang diciptakan oleh Lenvain . dalam Pamungkas . sebagai berikut: R = 2,21 (R. 1,36 . G-SMART Jurnal Teknik Sipil Unika Soegijapranata Semarang | ISSN : 2620-5297 . Volume 8 | Nomor 1 | Juni 2024 Faktor erodibilitas tanah (K) Faktor erodibilitas tanah merupakan faktor kepekaan tanah pada saat tanah terjadi erosi, apabila nilai erodibilitas semakin tinggi maka nilai erodibilitas tanah akan mudah menerima Faktor erodibilitas nilai K dapat ditunjukan pada Tabel 1. Tabel 1. Faktor Erodibilitas Nilai K Faktor Jenis Tanah Erodibilitas (K) Latosol cokelat kemerahan dan 0,43 Latosol kuning kemerahan dan 0,36 Kompleks mediteran dan 0,46 Latosol kuning kemerahan 0,56 Grumusol 0,20 Aluvial 0,47 Regusol 0,40 (Sumber : Hardiyatmo, 2. Faktor panjang dan kemiringan lereng (LS) Faktor L merupakan faktor untuk panjang lereng yang menyatakan efek dari suatu panjang lereng terhadap terjadinya erosi. Faktor S merupakan kemiringan lereng atau kecuraman lereng yang menyatakan efek dari kecuraman akibat erosi. Faktor kemiringan dan panjang lereng (LS) dapat ditentukan pada tabel yang ditunjukan pada Tabel 2. Tabel 2. Faktor (LS) Kemiringan Nilai LS <1% 1% < s < 3% 3% < s < 5% S > 5% (Sumber : Wishchmeier dan Smith, . dalam Hardiyatmo, . ) Untuk perhitungan faktor LS dapat dihitung menggunakan persamaan menurut Perveen R dan Kumar U, . dalam Taslim, dkk. , . sebagai berikut: ( sin. y0,001745 1,4 0,09 Faktor C ) . FA yCS 0,4 2,21 Faktor C merupakan faktor pada tata kelola untuk penutup lahan dalam mencerminkan efek pada saat terjadinya erosi. Penutup permukaan merupakan bahan yang berada diatas permukaan tanah yang berguna untuk menahan turunnya air hujan dan memperlambat run off yang jatuh ditanah. Faktor P Faktor P merupakan nilai faktor untuk tindakan konservasi tanah. Nilai faktor P juga merupakan besarnya rasio hilangnya tanah dibawah tindakan dalam pemeliharaan tanah terhadap hilangnya tanah dari tanah yang diolah sekitar lereng. Faktor C dan P memiliki hubungan pada tata guna lahan area yang dilakukan penelitian. Tabel klasifikasi faktor CP dapat ditunjukan Tabel 3. Tabel 3. Nilai Faktor C Jenis Tanaman Nilai Faktor C 0,02 0,01 Tanah terbuka Sawah untuk irigasi Tegalan tidak spesifik Rawa Semak belukar Perkebunan kerapatan tinggi Perkebunan 8 Perkebunan kerapatan rendah 9 Hutan produksi 10 Hutan alam seresah banyak 0,001 11 Hutan alam seresah sedikit 0,005 12 Hutan produksi tebang habis 13 Hutan produksi tebang pilih 14 Tubuh air 0,001 15 Savana 0,01 16 Jagung 17 Kedelai 0,399 18 Kentang 19 Pisang 20 Padi 0,561 21 Permukiman 22 Waduk multifungsi 0,001 23 Danau. Sungai 0,001 24 Padi 0,561 25 Jagung 26 Kedelai 0,399 27 Kentang 28 Tebu (Sumber : Arsyad . dalam Banuwa . ) METODE PENELITIAN y power Analisis ini dilaksanakan pada Waduk Cengklik yang berlokasi di Desa Ngargorejo. Kecamatan Ngemplak. Kabupaten Boyolali. Jawa Tengah. Pengairan pada Waduk Cengklik G-SMART Jurnal Teknik Sipil Unika Soegijapranata Semarang | ISSN : 2620-5297 . Volume 8 | Nomor 1 | Juni 2024 dikelola langsung oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo. Analisis ini digunakan untuk menganalisis perkiraan potensi laju erosi yang terjadi pada DAS Waduk Cengklik dan potensi laju sedimentasi yang terjadi di Waduk Cengklik. Waduk Cengklik diketahui memiliki nilai potensi sedimentasi yang cukup besar sehingga menyebabkan berkurangnya tampungan air pada waduk. Pembangunan Waduk Cengklik ini memiliki fungsi untuk keperluan irigasi persawahan area sekitar waduk serta digunakan juga sebagai destinasi wisata. Metode penelitian yang dilakukan menggunakan data sekunder dan studi literatur. Metode yang dilakukan meliputi beberapa kegiatan sebagai berikut: Menentukan wilayah atau daerah yang akan dilakukan penelitian. Mengumpulkan permohonan dan perizinan permintaan data kepada Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo dan Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air dan Penataan Ruang Jawa Tengah. Melaksanakan survey lokasi menggunakan google earth dan peta tanah air indonesia geospasial portal untuk mendapatkan permasalahan yang diteliti. Mengumpulkan studi literatur sebagai acuan atau pedoman dalam penyusunan Tugas Akhir. Melaksanakan analisis dan perhitungan data curah hujan, jenis tanah, kemiringan lereng dan tata guna lahan dari data yang sudah metode RUSLE dan melaksanakan pengolahan data menggunakan software Arcgis. Melaksanakan perhitungan potensi laju sedimentasi dan menganalisis umur waduk dari hasil besaran laju erosi yang sudah Berdasarkan tahapan Ae tahapan yang sudah dirinci di atas, metode analisis ini dapat digambarkan melalui diagram alir penelitian secara umum yang diperlihatkan pada Gambar Mulai Studi Literatur Menentukan Batas DAS Waduk Cengklik Erosivitas Hujan (R) Erodibilitas Tanah (K) Kemiringan Lereng (LS) Penggunaan Lahan dan Pengolahan Tanah (CP) Metode RUSLE Ea = RyKyLSyCP Tujuan Penelitian 1 Hasil Perhitungan Potensi Laju Erosi DAS Waduk Cengklik Perhitungan Potensi Laju Sedimentasi Sy = SDR y Ea Tujuan Penelitian 2 Hasil Perhitungan Potensi Laju Sedimentasi Waduk Cengklik Selesai Gambar 1. Diagram Alir Penelitian HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian potensi laju sedimentasi di laksanakan di DAS Waduk Cengklik. Das Waduk Cengklik merupakan salah satu bagian dari Das Bengawan Solo dengan total luas keseluruhan 8,6495 Km2, sedangkan untuk total luas keseluruhan DAS Bengawan Solo adalah 100 Km2. Peta DAS Waduk Cengklik dapat diperlihatkan pada Gambar 2. Gambar 2. Peta DAS Waduk Cengklik Analisis Bobot Luasan Pengaruh Cakupan Wilayah Stasiun Hujan G-SMART Jurnal Teknik Sipil Unika Soegijapranata Semarang | ISSN : 2620-5297 . Volume 8 | Nomor 1 | Juni 2024 Analisis bobot luasan cakupan stasiun hujan menggunakan metode Polygon Thiessen untuk 2 stasiun hujan. Setelah dilakukan analisis, diketahui untuk stasiun hujan Nepen berada diluar garis pengaruh, sehingga analisis ini hanya menggunakan stasiun hujan Waduk Cengklik dengan bobot luasan pengaruh cakupan 100%. No. Jenis Tanah Luas (H. Grumusol Mediteran 708,954 155,727 % Luas Dari Total DAS 81,99 % 18,01 % Nilai 0,20 0,46 Peta jenis tanah pada DAS Waduk Cengklik dapat diperlihatkan pada Gambar 3. Analisis Erosivitas Hujan (Faktor R) Perhitungan nilai erosivitas hujan pada analisis ini menggunakan data curah hujan tahunan selama 10 tahun dari tahun 2011-2022 dengan perhitungan faktor R menggunakan persamaan 10 dengan hasil yang dapat ditunjukan pada Tabel 4. Tabel 4. Nilai Indeks Erosivitas Hujan Tahunan Stasiun Hujan Waduk Cengklik Tahun Curah Hujan Tahunan . Curah Hujan Tahunan . Nilai Erosivitas Hujan 2250,31 2882,35 3932,07 2490,42 1452,62 3477,42 5273,16 1387,72 2752,68 3412,19 Gambar 3. Peta jenis tanah pada DAS Waduk Cengklik Analisis Panjang dan Kemiringan Lereng (LS) Hasil analisis pada faktor LS menunjukkan bahwa kemiringan lereng pada DAS Waduk Cengklik di dominasi oleh kemiringan lereng dengan nilai 0% - 8% dengan nilai LS sebesar 0,4 dengan ditunjukan pada Gambar 4. Berdasarkan hasil analisis erosivitas hujan dapat disimpulkan bahwa nilai indeks erosivitas hujan maksimum terjadi pada tahun 2017 sebesar 5273,16 cm. Sedangkan untuk nilai indeks erosivitas hujan minimum terjadi pada tahun 2018 sebesar 1387,72 cm. Analisis Erodibilitas Tanah (Faktor K) Berdasarkan peta jenis tanah yang sudah diolah melalui ArcGis diketahui untuk klasifikasi jenis tanah yang berada di DAS Waduk cengklik didominasi oleh jenis tanah Grumusol dan tanah Mediteran yang dapat diperlihatkan pada Tabel 1. Hasil analisis faktor K dapat diperlihatkan pada Tabel 5. Gambar 4. Peta Kemiringan Lereng DAS Waduk Cengklik Berdasarkan didapatkan klasifikasi kemiringan lereng pada analisis ini dapat diperlihatkan pada Tabel 6. Tabel 5. Hasil Analisis Faktor K G-SMART Jurnal Teknik Sipil Unika Soegijapranata Semarang | ISSN : 2620-5297 . Volume 8 | Nomor 1 | Juni 2024 Tabel 6. Nilai LS Pada DAS Waduk Cengklik Luas Nilai Nilai No. Kemiringan (H. Slope 0% - 8% 486,748 2,98% 8%-15% 288,979 8,11% 15%-25% 61,829 14,30% 25%-45% 8,765 24,54% >45% 2,914 54,64% Analisis Penggunaan Lahan dan Pengolahan Tanah (Faktor CP) Analisis pengolahan tanah dilakukan dengan klasifikasi menggunakan tabel 3 yang dapat ditunjukan dengan peta pada Gambar 5. Gambar 5. Peta Tata Guna Lahan DAS Waduk Cengklik Pada penelitian penggunaan lahan pada area DAS Waduk Cengklik diketahui bahwa nilai CP didominasi oleh area sawah dengan nilai CP sebesar 0,02. Hasil klasifikasi penggunaan lahan dapat diperlihatkan pada Tabel 7. Tabel 7. Hasil Klasifikasi Nilai CP DAS Waduk Cengklik Wilayah Total Luas (H. Total Luas (%) Nilai Waduk Permukiman Danau/Situ Sawah Ladang/Tegalan Perkebunan/Kebun 206,152 243,874 4,412 393,101 1,424 15,986 0,001 0,001 0,02 Analisis Perhitungan Laju Erosi Menggunakan Metode RUSLE (E. Pada variabel R. LS, dan CP yang sudah didapatkan, dilakukan perhitungan laju erosi pada desa yang mencangkup DAS Waduk Cengklik meliputi Desa Demangan. Desa Kepoh. Desa Ngargorejo. Desa Senting dan Desa Sobokerto. Analisis jumlah erosi per Desa Pada analisis perhitungan potensi laju erosi di setiap desa pada DAS Waduk Cengklik yang sudah dilaksanakan, maka dapat dilakukan analisis jumlah erosi per desa sebagai berikut. Jumlah erosi per desa pada DAS Waduk Cengklik dapat diperlihatkan pada Tabel 8. Tabel 8. Jumlah Erosi Per Desa Jumlah Persentase Luas Desa Bobot (H. on/tahu. Luas (%) Demangan 98136,49 179,45 21,14 Kepoh 30841,09 48,14 5,67 Ngargorejo 48953,94 120,33 14,18 Senting 116797,04 269,03 31,70 Sobokerto 54950,37 231,72 27,30 Jumlah 349678,92 848,65 Berdasarkan tabel diatas, dapat diketahui bahwa potensi laju erosi terbesar terjadi di Desa Senting dengan nilai laju erosi sebesar 116797,04 ton/ha/tahun, serta untuk potensi laju erosi terendah terjadi di Desa Kepoh dengan nilai laju erosi sebesar 30841,09 ton/ha/tahun. Analisis jumlah erosi per hektar Setelah dilakukan analisis jumlah erosi per desa, maka dapat dilakukan analisis jumlah erosi per hektar pada DAS Waduk Cengklik dapat diperlihatkan pada Tabel 9. Tabel 9. Jumlah Erosi Per Hektar Desa Jumlah . on/tahu. Luas . Jumlah . on/ha/tahu. Demangan 98136,49 179,45 546,89 Kepoh 30841,09 48,14 640,69 Ngargorejo Senting Sobokerto Jumlah 48953,94 116797,04 54950,37 120,33 269,03 231,72 406,84 434,15 237,14 349678,92 848,65 412,04 TBE Sangat Berat Sangat Berat Berat Berat Berat Berat Berdasarkan tabel 9 dapat diperlihatkan bahwa laju erosi tertinggi terletak pada Desa Kepoh dengan nilai laju erosi per hektar sebesar 640,69 ton/ha/tahun. Desa Kepoh terletak pada daerah hulu DAS Waduk Cengklik dengan G-SMART Jurnal Teknik Sipil Unika Soegijapranata Semarang | ISSN : 2620-5297 . Volume 8 | Nomor 1 | Juni 2024 kemiringan 54,64% dengan jenis tanah didominasi oleh tanah mediteran dan penggunaan lahan sebagai permukiman. Berdasarkan kriteria erosi. DAS Waduk Cengklik termasuk kedalam kelas IV dengan klasifikasi erosi berat. Pada hasil perhitungan dan analisis laju erosi, dapat diklasifikasikan dalam bentuk peta sebaran erosi berdasarkan batas desa yang mencangkup pada DAS Waduk Cengklik dapat diperlihatkan pada Gambar 6. Potensi laju erosi yang terjadi pada 5 desa di DAS Waduk Cengklik didapatkan bahwa Desa Senting dengan nilai laju erosi per desa sebesar 116797,038 ton/ha/tahun dengan persentase bobot luas 31,70%. Gambar 6. Peta Sebaran Erosi DAS Waduk Cengklik Analisis potensi laju sedimentasi pada Waduk Cengklik Setelah di peroleh nilai laju erosi (E. , maka dapat dilakukan perhitungan untuk menentukan potensi laju sedimentasi pada Waduk Cengklik berdasarkan persamaan 6 dan 7, oleh karena itu didapatkan nilai hasil sedimen Waduk Cengklik 73432,57 ton/tahun = 275502,84 m /tahun. PENUTUP Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis perhitungan potensi laju sedimentasi pada DAS Waduk Cengklik, kesimpulan sebagai berikut: Luas DAS Waduk Cengklik sebesar 8,6495 Km2 atau 864,95 Ha. Besarnya potensi laju erosi (E. pada DAS Waduk Cengklik yang mencangkup 5 desa meliputi Desa Demangan. Desa Kepoh. Desa Ngargorejo. Desa Senting dan Desa Sobokerto memiliki nilai total sebesar 412,04 ton/ha/tahun. Desa Kepoh merupakan wilayah yang menyumbang tingkat erosi sangat berat pada DAS Waduk Cengklik dengan nilai erosi sebesar 640,69 ton/ha/tahun. Berdasarkan menggunakan ArcGis, untuk penetapan jenis tanah wilayah DAS Bengawan Solo ditemukan 2 jenis tanah yaitu jenis tanah Mediteran dan jenis tanah Grumusol. Adapun Mediteran terjadinya erosi terbesar. Berdasarkan menggunakan ArcGis, untuk penetapan tata guna lahan wilayah DAS Bengawan Solo permukiman dan sawah mendominasi terjadinya erosi. Potensi laju sedimentasi pada Waduk Cengklik sebesar 73432,57 ton/tahun = 275502,84 m3/tahun. Saran Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, maka dapat diberikan beberapa saran sebagai Langkah dalam mengurangi laju erosi berdasarkan tata guna lahan sebagai berikut: Permukiman Sebagai penyumbang faktor erosi hendaknya diberikan sarana untuk tampungan air hujan berupa sumur Sawah Pembuatan terasering sangat berguna untuk mengurangi panjang lereng G-SMART Jurnal Teknik Sipil Unika Soegijapranata Semarang | ISSN : 2620-5297 . Volume 8 | Nomor 1 | Juni 2024 sehingga akan menghambat terjadinya Penduduk yang tinggal di area Desa Kepoh dan Desa Demangan dengan potensi terjadinya erosi yang tinggi, hendaknya diberi pengetahuan dalam menanggulangi Konsekuensi pada Waduk Cengklik akibat dari tidak ada volume tampungan mati, maka area Waduk Cengklik perlu dilakukan pengerukan setiap tahun guna menjaga umur Untuk studi selanjutnya dapat dilakukan perhitungan volume tampungan mati waduk agar dapat dilakukan analisis umur waduk pada Waduk Cengklik. Perlu diperhatikan pada saat perencanaan memperhatikan untuk tempat volume tampungan mati. DAFTAR PUSTAKA