Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik Volume. 11 Nomor 1. Mei 2025 E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 19-32 DOI: https://doi. org/10. 58374/sepakat. Available online at: https://ejurnal. id/index. php/Sepakat Implementasi Mengajar Menurut Edwin Ray Guthrie pada Guru PAK Erlangga Saputra1*. Sandra Rosiana Tapilaha2. Yuslina Halawa3. Surimawati Laia4 1,2,3,4 Sekolah Tinggi Teologi Injili Arastamar (SETIA) Jakarta. Indonesia Korepsondensi penulis: anggakalbar91@gmail. Abstract: Edwin Ray Guthrie's learning theory, known as the concept of contiguity, emphasizes the importance of a direct relationship between stimulus and response in the learning process. According to this theory, a response tends to be repeated if the same stimulus reappears, thus becoming the main key in forming certain habits or behaviors. In the context of Christian Religious Education (PAK), this theory is relevant to be applied in teaching moral and spiritual values, such as love, honesty, loyalty, and forgiveness. Learning based on fragmentation and conditioning aims to shape the character of students consistently, sustainably, and in a directed manner according to Christian teachings. The main challenge in implementing this theory is maintaining the consistency of the stimulus in a dynamic classroom environment and requiring teachers to act not only as a transmitter of material, but also as a real life role model for students. Therefore. Guthrie's theory needs to be adapted through a more holistic approach, by integrating spiritual reflection, habituation of Christian values, and contextual application. Support for the repetition method is also found in Bible teachings, such as Deuteronomy 6:4-9, which emphasizes the importance of teaching the values of faith continuously and sustainably to the next generation. Keywords: Behaviorism. Christian Character. Christian Religious Education. Conditioning. Contiguity Abstrak: Teori pembelajaran Edwin Ray Guthrie, yang dikenal dengan konsep kontiguitas, menekankan pentingnya hubungan langsung antara stimulus dan respons dalam proses pembelajaran. Menurut teori ini, suatu respons akan cenderung diulang apabila stimulus yang sama muncul kembali, sehingga pengulangan menjadi kunci utama dalam membentuk kebiasaan atau perilaku tertentu. Dalam konteks Pendidikan Agama Kristen (PAK), teori ini relevan untuk diterapkan dalam pengajaran nilai-nilai moral dan spiritual, seperti kasih, kejujuran, kesetiaan, dan pengampunan. Pembelajaran yang berbasis pada pengulangan dan pengondisian ini bertujuan membentuk karakter peserta didik secara konsisten, berkelanjutan, dan terarah sesuai ajaran Kristiani. Tantangan utama dalam penerapan teori ini adalah menjaga konsistensi stimulus dalam lingkungan kelas yang dinamis serta menuntut guru untuk berperan tidak hanya sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai teladan hidup yang nyata bagi siswa. Oleh karena itu, teori Guthrie perlu diadaptasi melalui pendekatan yang lebih holistik, dengan mengintegrasikan refleksi spiritual, pembiasaan nilai-nilai Kristen, serta penerapan yang kontekstual. Dukungan terhadap metode pengulangan juga ditemukan dalam ajaran Alkitab, seperti Ulangan 6:4-9, yang menegaskan pentingnya mengajarkan nilai-nilai iman secara terus-menerus dan berkesinambungan kepada generasi penerus. Kata kunci: Behaviorisme. Karakter Kristen. Pendidikan Agama Kristen. Pengkondisian. Kontiguitas PENDAHULUAN Pendidikan secara umum di dunia merupakan hal yang penting, alasannya adalah untuk mempengaruhi sikap keterampilan pelajar dengan membangun ilmu dan pembentukkan karakter pelajar secara pribadi untuk kesejahteran bangsa bagi pemuda Dalam ranah pendidikan, siswa sebagai individu yang terlibat dalam proses pembelajaran memiliki peran sentral, di mana perkembangan mereka dipengaruhi oleh berbagai faktor khas yang ada pada setiap individu. Setiap peserta didik menunjukkan karakteristik unik dan menjalani tahapan perkembangan yang berlangsung terusmenerus, dengan pola dan kecepatan pertumbuhan yang berbeda-beda, tergantung pada kondisi pribadi masing-masing. Dalam hal ini, sistem pendidikan di Indonesia perlu Received: April 06, 2025. Revised: April 20, 2025. Accepted: Mei 04, 2025. Published: Mei 06,2025 IMPLEMENTASI MENGAJAR MENURUT EDWIN RAY GUTHRIE PADA GURU PAK memberikan perhatian yang lebih mendalam terhadap perbedaan karakteristik yang dimiliki oleh setiap peserta didik. Proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan konseling spiritual, keagamaan, pengendalian diri, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat bangsa dan negara (Undang-Undang No. 20 Tahun 2. (Sakdiyah & Darmayanti6, 2. Pada umumnya belajar yang efektif hanya didapat pada pendidikan formal dilakukan digedung sekolah. Disekolah yang mengantikan pribadi orang tua secara biologis adalah guru. Dengan adanya guru orang tua kandung mempercayakan penuh kepada sekolah. Sekolah adalah sebuah komunitas. Dan bila sekolah Kristen, komunitas itu haruslah merupakan komunitas Kristen. Tentu saja, komunitas itu tetap merupakan sekolah. Jadi maksudnya sekolah Kristen itu haruslah merupakan komunitas Kristen yang memberi pendidikan (Wolterstroff, 2. Jadi pengajarnya adalah guru Kristen sering disitilahkan dengan pendidikan agama Kristen (PAK). Dan hal itu juga dilakukan kepada sekolah-sekolah agama lainnya dengan mengupayakan teori-teori belajar untuk mewujudkan belajar yang Belajar adalah proses perubahan tingkah laku individual sebagai hasil dari pengalaman dalam interaksi dengan lingkungan (Rusman, 2. Seorang guru diharapkan untuk melaksanakan serangkaian kegiatan pembelajaran yang terencana dan terorganisir dengan baik untuk menyampaikan materi kepada siswa di kelas. Tuntutan ini menjadi lebih signifikan bagi guru pendidikan agama Kristen (PAK), yang memiliki tanggung jawab tambahan karena mengajarkan materi yang berkaitan langsung dengan aspek-aspek keyakinan (Iman. Kasih. Firman Tuha. Di sekolah umumnya guru PAK diharapkan memberikan upaya yang lebih optimal dalam penyampaian materi jika di bandingkan dengan guru PAK yang mengajar di lembaga pendidikan agama Kristen. Untuk mencapai efektivitas dalam proses pembelajaran, seorang guru perlu memiliki keterampilan yang memadai dalam mengelola proses belajar mengajar, yang mencakup penguasaan teori, strategi, model, serta metode pembelajaran yang relevan dan Salah satu teori pembelajaran yang terkenal adalah teori pembelajaran behavioristik. Teori ini mengkonsentrasikan pada kajian tentang perilaku perilaku nyata yang bisa diteliti dan diukur (Mustofa, 2. Teori ini mengemukakan bahwa perilaku yang direncanakan secara teliti oleh guru dapat memperlancar jalannya proses pembelajaran di kelas sehingga meningkatkan efektivitas pembelajaran. Tokoh penting salah satu dari teori Edwin Ray Guthrie ini untuk merealisisasikan kontribusinya bagi pendidikan agama Kristen untuk setiap guru Kristen dengan menerapkanya untuk berdampak positif yang membangun serta Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik- Volume. 11 Nomor 1. Mei 2025 E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 19-32 menerapkan etika dan moral dalam pengajaran Kristen terhadap pelajar terlebihnya pada Secara umum pendidian teori Edwin Ray Guthrie berbagai sekolah-sekolah swasta, telah menerapkan metode pengajaran ini. Teori belajar merupakan landasan terjadinya suatu proses belajar yang menuntun menjadi terbentuknya kondisi untuk Teori belajar adalah prinsip yang saling berhubungan dan merupakan penjelasan atas sejumlah fakta dan penemuan yang berkaitan dengan peristiwa belajar (Keller. Tahapan belajar siswa/i, mahasiswa/i tentu memiliki tujuan untuk memberi sumbangsih pada pengetahuan pelajar. Dalam kegiatan mengajar setiap pengajar memilik metode dan keunikan tersendiri yang tentu nya memiliki maksud yang baik kepada yang diajarnya. Guru PAK bertanggung jawab dalam mengenalkan dan membantu peserta didik memahami ajaran Kristen serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari (Santina & Tapilaha, 2. Kegiatan sehari hari PAK dalam prakteknya ketika mengajar di sekolah,Gereja, ditengah masyarakat. Selain dari pada itu seorang guru tidak tegas dalam memposisikan dirinya sebagai orang tua murid pada saat Teori pada penerapan mengajar, bagaimana seorang Edwin Ray Guthrie memberikan konstribusinya kepada siswa/i yang diajarnya untuk mencapai nilai akademik yang memuaskan. Adapun komponen belajar yang dimaksud, yaitu tujuan, bahan pelajaran, kegiatan belajar mengajar, metode, alat, sumber pelajaran dan evaluasi (Johar & Hanum, 2. Pada kutipan di atas untuk mempermudah siswa/i untuk bereaksi merespon sehingga dalam proses mengajar yang melibatkan pengajar dan pelajar aktif pada kegiatan belajar. Penerapan ini perlu bagi seorang guru PAK dalam mengayomi para generasi bangsa, dan agama. Harapan dari seorang PAK dalam kehadirannya untuk mencapai nilai-nilai kehidupan manusia. harapan ini berdampak pada akademik dari hasil studi sekolah sejauhmana nilai yg diraihnya dalam menghadapi ujian. Dan harapan Pak juga bagaimana siswai yang diajarnya mampu menerapkan nilai norma-norma yang berlaku ditengah masyarakat. Dengan sebagai kesimpulan dari harapan Guru PAK sebagai pengajar kristen memberikan pengaruh besar untuk mengambarkan ciri khas Kristen Tolak ukur manusia menilai kehidupan yang sesunguhnya, sejauhmana teori yang didapat dari sekolah formal dapat hidup ditengah-tengah masyarakat. Mengaitkan nilai pengajaran dan metode, kriteria seorang guru diharapkan mampu untuk menerapkan IMPLEMENTASI MENGAJAR MENURUT EDWIN RAY GUTHRIE PADA GURU PAK ajaran Kristen. Apa yang menjadi seorang guru PAK lakukan kedepan nya. membawa pengaruh yang signifikan dan keberanian dalam hal yang benar. Nah dalam tulisan ini bertujuan untuk menelaah ilmu ajaran teori Edwin Ray Guthrie penerapannya untuk implementasi dari pada pencetus Edwin Ray Guthrie menerapkan kepada pengajaran PAK, sehingga memberikan peran tentang ilmu psikologi berkaitan dan memberikan konstribusinya menjadi seorang menjiwai menjadi pengajar yang propfesional dan paham akan ajaran Kristen. METODE PENELITIAN Penulis dalam upaya membuat karya tulis ini adalah dengan melakukan pendekatan metode kualitatif dalam bentuk deskritif, dengan harapan mencerminkan teori Edwin Ray Guthrie pada proses belajar pendidikan agama kristen (PAK). Dalam proses pengumpulan data ini, penulis melakukan tanya jawab bersama guru-guru PAK yang memiliki pengalaman benyak, oleh karena itu melakuakan observasi dengan adanya kegiatan langsung pengajaran di sekolah-sekolah Kristen. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk menelaah secara mendalam teori belajar behavioristik Contiguity yang diperkenalkan oleh Edwin Ray Guthrie, serta menilai bagaimana perencanaan penerapan teori tersebut dapat diintegrasikan dalam kegiatan pembelajaran Pendidikan Agama Kristen (PAK) di lingkungan sekolah. Penelitian ini menggunakan data sekunder yang dikumpulkan melalui studi pustaka dari berbagai sumber kredibel, termasuk buku-buku ilmiah, jurnal akademik, catatan penelitian, artikel, serta informasi digital yang tersedia di media daring. HASIL PEMBAHASAN. Teori Pembelajaran Edwin Ray Guthrie. Menurut pandangan Guthrie, kegiatan belajar melibatkan reaksi yang terjadi secara alami antara pelajar dan pengajar selama proses pembelajaran, yang menghasilkan respon yang tidak disadari. Teori ini dikenal dengan sebutan kontiguitas. Dalam konteks pengajaran Alkitab, misalnya dalam pendidikan agama Kristen, pengajaran tentang kasih tidak hanya disampaikan sebagai teori, tetapi juga dipraktikkan oleh pengajar melalui tindakan kasih kepada pelajar, yang kemudian menginspirasi pelajar untuk menularkan kasih tersebut kepada orang lain di sekitarnya. " Salah satu dalam mekanisme pembelajaran ini termasuk juga sebagai teori behavioristik. Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik- Volume. 11 Nomor 1. Mei 2025 E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 19-32 Teori behavioristik adalah sebuah teori yang mempelajari tingkah laku manusia. Menurut Desmita . teori belajar behavioristik merupakan teori belajar memahami tingkah laku manusia yang menggunakan pendekatan objektif, mekanistik, dan materialistik, sehingga perubahan tingkah laku pada diri seseorang dapat dilakukan melalui upaya pengkondisian. Teori behavioristik ini mendorng guru PAK untuk memposisikan diri sepenuh nya dalam melakukan peran yang aktif. Peran yang aktif ini disertai mengataui seseorang pelajar dari latar belakang keluarga dan kelabihan dan kekurangan disaat peserta didik meengikuti mata pelajaran saat berlangsungnya. Teori behavoristik ini mengharuskan karakter manusia dapat disimpulkan dan dapat dipelajari dengan dasar tergantung rangsangan pengajar terhadap pelajar. Hal utama penekanan behavioristik ini adalah pembelajaran yang dilakukan yakni. Pertama dilakukan dengan pengulangan. Pentingnya pengulangan adalah teori koneksionisme tokohnya yang dikenal adalah Thorndike dengan teori yang dikenal pula yaitu Aulaw of exserciseAy bahwa belajar ialah pembentukan hubugan antara stimulus dan respon dan pengulangan terhadap pengalaman itu memperbesar respon benar. Thornike menekankan suatu respon yang benar ketika melakukan dengan memperbesar ingatan dari suatu pengalaman. Umumnya dalam pada pendidikan, pengujian dari akhir semester setiap semua siswa/siswi melakukan pengujian yang telah diberikan guru-gurunya. Harapan guru kepada pelajar supaya ingat akan materi yang telah diberikannya, lewat meteri yang di sampaikannya pada masanya menjadi suatu pengalaman yang di alami para siswa/siswi. Dengan melakukan ujia akhir pada suatu lingkup penilaian, dengan mengukur kemampuan siswa/i. Kedua memberi dorongan yang poitif untuk memperkuat karakter sesuai harapa Ketiga setiap proses pembelajaran bukan bergantung pada kemampuan dan perasaan pribadi, melainkan kepada stimulus dan respon dalam memahami suasana. Teori kontiguitas, teori yang dicetuskan oleh Edwin Ray Guthrie, sebagai suatu cabang Behavioristik psikologi mencanagkan keharusan hubunga stimulus dan respons dalam suatu pembelajaran. Menjadi fokus utama dalam kontiguitas, pembelajaran yang aktif mendapatkan yang baik melakukan keintiman spesial hunungan stimulus dan respon yang serasi. Kongitas merumuskan pembelajaran teori ini pengulang setiap penyampayan pada saat proses belanjar terjadi akan terus menerus diulang pada saat yng sama, supaya setiap respon yang diterima menapat juga yang sama. Pendapat dari Guthrie dalam rangkaian ketika terjadinya pengulangan berdampak hasil dari gerakan dan respon yang serupa, dengan hal demikian stimulus tertentu dalam konteks yang sma terjadi stimulus dalam pembelajaran yang mendapatkan respon yang sama. IMPLEMENTASI MENGAJAR MENURUT EDWIN RAY GUTHRIE PADA GURU PAK Penerapan Guthrie Pada Pengajaran PAK. Edwin Ray Guthrie memiiliki paham akan psikolgi pendidikan, dicetuskannya teori yang mempenaruhi minset yang telah dikemukakannya dalam kegiatan pembelajaran. Yang menjadi fokus utamanya kepada pengondisian kontigu, tindakan seseorang mempelajari pengajaran melalui pengulangan pada konteks yang sama. Dibawa kepada konsep pengajaran Agama pengajar PAK. Dengan arti seorang guru PAK di mampukan untuk mendorang pelajar untuk menagajarkan nilai nilai kekeristenan. Nilai pendidikan kristiani pada hakikatnya bersumber dari Alkitab. Dengan kata lain. Nilai-nilai Alkitab menjadi dasar dalam pendidikan Kristiani. Nilai-nilai Alkitab menjadi dasar penyusunan materi pembelajaran, baik pembelajaran di sekolah, gereja, keluarga, maupun masyarakat. Nah dalam penerapan ini seorang guru PAK memiliki daya tarik yang maksimal yang membuat pemahaman pelajar semakin kuat. Guru memiliki tanggung jawab strategis di lingkungan sekolah dalam membina perkembangan kepribadian, intelektual, dan spiritual peserta didik. Maka untuk memenuhi semua itu guru pendidikan agama kristen harus melakukan perannya semaksimal munkin. Sebab tugas dan tangung jawabnya itu berasal dari Tuhan (Edison, 2. Sejalan dengan filosofi-filosofi pendidikan kristiani yang dimaksud adalah penyelidikan yang mendasar atau fundamental tentang kesadaran akan manfaat pendidikan nilai kristiani untuk masa depan, kemampuan mengembangkan diri secara maksimal sesuai dengan potensinya, kecintaan terhadap Tuhan, kecintaan terhadap sesama manusia, kecintaan terhadap negara, dan kepekaan terhadap perubahan zaman. Seperi umpama, seorang penggajar PAK dengan mengajarkan untuk menerapkan nilai kasih, pelajar dalam melakukan penerrapan kasih yang telah diajarkan pada lingkungan sosial, keluarga, dan sesamanya melaukan menolong kepada orang yang yang minta perhatikan, atau bahu menbahu, ini lah yang menyebabkan terjadinya nilai praktis dalam menerima ajaran kasih dalam praktek dikehidupan sehari-hari. Menjadi dukungan dalam penerapan yang masimal adalah menciptakan suasana pendekatan atau dengan reward sebagai landasan guru PAK untuk medorong semangat Prioritas ini, dilakukan hanya untuk menjadi pengaruh positif, dalam mempertahankan semagat pelajar sehingga kehadiran guru PAK memberikan perhatian yang bayak kepada pelajar. Dangan cara tersebut seorang pelajar akan terus menerus melakukan hal yang baik sesuai ajaran kristen. Pelajar akan merasa puas bagaimana perlakuan seorang pengajar yang menjadi suportsistemnya, seorang guru Kristen menerapkan komunukasi siritualkepada sanga pencipta melalui, seorang pengajar Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik- Volume. 11 Nomor 1. Mei 2025 E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 19-32 mendoakan pelajar dalam kehidupan sehar-hari. Di samping itu pengulang dalam mmpraktekan pada tahap selanjutnya teori Edwin ray Guthrie sangat berkesinambungan dengan prinsip kehidupan Kristen. Peran pak melakukan penyampaian kembali tentang ajaran moral keristen dengan kisah dalam kitab supaya dapat mempengaruhi pengalaman Adapun juga menjadi tentangan dalam teri darwin ini ketika p. osess pembelajaran akan pengulangan. Tidak semua pelajar tertarik kepada pengajar yang membuat pelajar bosan akan materi-materi yang telah di sampaikannya. Dengan harapan peran Pak dengan mengkondisikan supaya penerapan tersebut sesuai kebutuhan pelajar. Hal yang merangkaikan topik dalam pembahasan penerapan dari prinsip Edwin memberikan subangsih secara sistematis mengarah kepada nilai-nilai Kristen penyampaian kembali, dan praktisnya dalam kehidupannya sehari hari. Keseluruhan, penerapan teori Guthrie dalam pengajaran PAK memberikan pendekatan yang sistematis dan berbasis pengalaman untuk mengajarkan nilai-nilai Kristen, dan memberikan dampak kepada tindakan dan kehidupan kembali. Penerapan Metode Pengulangan Dalam Pengajaran Prinsip-Prinsip Nilai Kristen. Kapasitas untuk belajar merupakan salah satu karunia ilahi yang secara hakiki membedakan manusia dari makhluk hidup lainnya. Tuhan menganuggrahkan akal kepada manusia agar dapat memperoleh pemahaman dan melaksanakan mandat sebagai pengelola kehidupan di bumi. Pemahaman mengenai pentingnya proses belajar tidak hanya lahir dari pemikiran rasional semata, tetapi juga mendapat legitimasi dari ajaran keagamaan. Kehadiran pendidikan agama kristen memberikan ajaran-ajaran Alkitab yang mestinya kepada pelajar dalam tujuna untuk melakukan dan menerapkan pada lingkugan sosial. Wujud dari pembelajaran melalui metode pengulangan tersebut. Guru pendidikan pgama kristen (PAK) memiliki peran penting sebagai perancang pembelajaran yang bertujuan untuk mendidik dan membimbing siswa dalam memahami ajaran agama Kristen. Lois E. Lebar menegaskan hal-hal penting tentang Tuhan Yesus sebagai Guru yang ahli: Karena Tuhan Yesus mengejawantahkan kebenaran itu secara sempurna. Dia memahami secara sempurna murid-murid-Nya. Dia menggunakan metode-metode yang sempurna untuk mengubah umat. Dia sendiri adalah jalan dan kebenarandan hidup (Yoh. Dia mengenal semua orang secara pribadi. Agama, sebagai sumber nilai moral dan spiritual, mendorong umatnya untuk senantiasa mengembangkan pengetahuan dalam berbagai dimensi kehidupan. Untuk itu metode pengulanagan dalam pengajaran nilai-nilai Kristen Prinsip ini juga menjadi bagian IMPLEMENTASI MENGAJAR MENURUT EDWIN RAY GUTHRIE PADA GURU PAK integral dalam ajaran Kristen, termasuk dalam konteks Indonesia, di mana pemeluk agama Kristen merupakan kelompok minoritas dalam struktur masyarakat. Dalam proses pendidikan yang menanamkan nilai-nilai Kristiani seperti kasih, kejujuran, pengampunan, dan kerendahan hati, strategi pengulangan memainkan peran krusial dalam membentuk karakter dan perilaku yang sejalan dengan ajaran iman Kristen. Praktik pengulangan yang dilaksanakan secara terstruktur dan berkesinambungan melalui penegasan nilai, refleksi rohani, diskusi kolektif, serta pendalaman kitab suci, tidak hanya memperkuat pemahaman intelektual peserta didik terhadap nilai-nilai tersebut, tetapi juga mendorong internalisasi yang mendalam dalam aspek emosional dan tindakan nyata. Terkait dengan penerapan metode repetisi tersebut:" Penerapan metode repetisi dalam pengajaran prinsip-prinsip nilai Kristen di dasarkan pada landasan yang kuat dalam teks Alkitab, khususnya Ulangan 6:4-9. Kata ajarkan lah berulang-ulang dalam ayat 7 menggunakan kata A(AAshama. Kata aberarti tajam, mengasah, menusuk, mengajar dengan rajin (Meyers, 2020. Strong, 1984. A)AA. Kata ini juga berarti untuk mengasah, untuk mempertajam, untuk menajamkan, dan mengajar dengan tajam (Meyers, 2020. Strong, 2009. A)AA. Pengulangan dapat di pahami sebagai suatu pendekatan yang dilakukan secara Dilakukan masing masing baik orang tua dan guru sama sama menurunkan kepada anak-anak suatu perintah Tuhan agar terus menerus . idak pernah berhent. dan tidak terputus putus, selalu diwariskan dari generasi kepada generasi berikutnya. Keluarga dan Gereja mengadakan kerjasama menentukan dan mempertimbangkan pembinaan moral Meskipun Ward percaya setiap anak membangun struktrur pertimbangan moralnya Namu Proses Tersebut tidak terlepas dari peran lingkungannya, keluarga dan Gereja. Teori dan praktik pendidikan agama kristen berkaitan erat dengan pengembangan kreativitas dan kompetensi para guru PAK. Untuk mengjarkan agama kristen terutama dalam lembaga sekolah dan jemaat (Gerej. di era atau di abad baru dewasa ini. Di sekolah peran orang tua siswa Adalah guru. Sehingga peran guru PAK bukan saja memperkenalkan materi umum di sekolah melainkan juga memperkenalkan Allah yang Esa di kehidupan Pengajaran pengulangan ini Implementasi strategi pembelajaran oleh orang tua melalui metode pengulangan yang konsisten memiliki peran penting dalam memperdalam pemahaman anak mengenai ajaran Tauhid serta nilai kehidupan yang dilandasi kasih kepada Tuhan. Pendekatan ini tidak hanya memungkinkan informasi tersebut diserap dalam ingatan jangka pendek, tetapi juga memperkuat proses transfer pengetahuan ke dalam memori jangka panjang. Oleh karena itu, model pembelajaran berbasis repetisi ini Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik- Volume. 11 Nomor 1. Mei 2025 E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 19-32 secara signifikan meningkatkan efektivitas kegiatan edukatif yang dilakukan oleh orang tua atau guru di lingkungan dan keluarga. Didalam perjanjian lama. Allah mengunakan taurat sebagai media pengajarannya: pertama. Allah memperkenalkan diri-Nya, mengarahkan penkerjaan yang telah dilakukan-Nya kepada hubungan Allah . ribadi-Ny. dengan manusia sebagai umat-Nya serta manusia dengan manusia selaku umat yang telah dibebaskan dan diselamatkan (I. Tarigan, 1. Tujuan utama pendidikan agama adalah untuk mengembangkan dimensi spiritual peserta didik dan membentuk kepribadian yang beriman, bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, serta berperilaku sesuai dengan nilainilai akhlak yang luhur. Nilai akhlak mulia mencakup aspek etis, moral, dan budi pekerti. Esensi dalam pengajaran perjanjian lama yang dilakukan oleh orang israel untuk memberikan nilai-nilai moral dan pengetahuan dalam Allah. Pengembangan spiritual ini melibatkan tahapan mengenal, memahami, menginternalisasi, hingga mengaktualisasikan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan individu maupun dalam interaksi sosial. Secara keseluruhan, proses ini diarahkan untuk memaksimalkan potensi manusia agar mampu mewujudkan eksistensinya sebagai makhluk Tuhan yang bermartabat. Pengajaran Penerapan Langsung Interaksi Guru Dan Peserta Didik Guru adalah pendidik yang menjadi dasar peserta didik, tidak hanya menjadi sumber pengetahuan saja, tetapi sumber peran. Guru memiliki peran kunci dalam mendukung proses tumbuh kembang peserta didik guna membantu mereka mencapai citacita hidup secara optimal. Dalam menjalankan peran tersebut, guru turut andil dalam menumbuhkan semangat dan motivasi belajar terhadap materi yang disampaikan. Meskipun guru bertanggung jawab dalam membimbing serta mengarahkan perkembangan peserta didik, pendekatan yang digunakan sebaiknya tidak bersifat otoriter. Sebaliknya, guru perlu menciptakan suasana pembelajaran yang demokratis, di mana peserta didik diberi ruang untuk mengekspresikan pemikiran kritis dan berpartisipasi aktif dalam proses belajar mengajar. Model pengajaran langsung merupakan strategi pembelajaran yang menempatkan guru sebagai pusat kendali dalam proses instruksional, dengan perencanaan yang sistematis untuk membimbing peserta didik dalam menguasai kompetensi dasar dan memahami materi secara bertahap. Pendekatan ini lazim diterapkan pada bidang studi yang memiliki alur logis dan terstruktur, seperti matematika dan kemampuan membaca, di mana penyampaian materi dilakukan melalui tahapan-tahapan pembelajaran yang dirancang secara runtut dan terarah. interaksi dalam pembelajaran mencerminkan proses komunikasi dinamis antara pendidik dan peserta didik yang berlangsung selama kegiatan belajar IMPLEMENTASI MENGAJAR MENURUT EDWIN RAY GUTHRIE PADA GURU PAK mengajar, dengan tujuan utama untuk memfasilitasi tercapainya sasaran pembelajaran yang telah dirumuskan sebelumnya. Menurut lubis . pola interaksi merupaka suatu bentuk kegiatan yang terjadi dalam kehidupan sehari hari yang menghasilkan suatu hubungan timbal balik antara satu individu dengan individu lainnya . Interaksi dalam kegiatan pembelajaran tidak terbatas pada alur komunikasi satu arah dari guru kepada peserta didik, melainkan dapat berlangsung dalam bentuk komunikasi dua arah atau bahkan multiarah yang melibatkan semua komponen pembelajaran. Ini mencakup komunikasi dari siswa kepada guru, interaksi antar peserta didik, serta komunikasi sebaliknya yang bersifat saling timbal balik. Variasi dalam pola komunikasi tersebut membuka ruang bagi setiap individu dalam lingkungan belajar untuk bekerja sama, bertukar gagasan, dan saling mendukung dalam mengatasi tantangan selama proses pembelajaran. Oleh karena itu, keterlibatan aktif antar unsur dalam pembelajaran menjadi faktor penting dalam mengurangi hambatan belajar. Dalam kerangka ini, pola interaksi menggambarkan dinamika hubungan timbal balik yang konstruktif antara guru dan peserta didik melalui berbagai strategi dan kegiatan pembelajaran, yang diarahkan untuk mencapai tujuan instruksional yang telah ditetapkan sebelumnya. Menurut Guthrie, respons terhadap stimulus tidak bersifat seragam pada setiap hewan, meskipun secara umum mereka memiliki kesamaan dalam sistem sensorik untuk merespons rangsangan dari lingkungan. Ia menyoroti bahwa proses pembelajaran yang dilakukan melalui latihan berperan penting dalam membentuk, menyesuaikan, atau bahkan meniadakan suatu respons tertentu. Ketika beberapa stimulus diberikan secara bersamaan, respons yang dihasilkan dapat menjadi terkoordinasi sesuai dengan hasil yang diharapkan. Jika pola respons ini muncul secara konsisten dalam situasi serupa, maka hal tersebut dapat dijadikan indikator efektivitas pembelajaran atau keberhasilan dalam mencapai kinerja yang diinginkan. Teori contiguous conditioning dalam konteks pembelajaran Kristen di sekolah menekankan pentingnya perilaku atau aksi yang muncul sebagai respons terhadap stimulus yang diberikan oleh pengajar. Sebagai ilustrasi, dalam pembelajaran Kristen di tingkat SMP, teori ini dapat diterapkan pada praktik doa yang dilaksanakan baik di gereja maupun di ruang kelas. Guru agama memberikan instruksi . kepada siswa yang dipanggil untuk maju dan mempraktikkan doa-doa Kristen. Seperti doa pembukaan. Doa syafaat, dan doa-doa lainnya. Siswa yang dipanggil akan segera merespons instruksi tersebut dengan melaksanakan doa sesuai dengan petunjuk yang diberikan oleh guru. Contoh lain yang relevan adalah ketika siswa mendengarkan suara lonceng gereja, baik di sekolah maupun Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik- Volume. 11 Nomor 1. Mei 2025 E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 19-32 di rumah, yang memotivasi mereka untuk segera menuju gereja, karena suara lonceng tersebut berfungsi sebagai stimulus . yang mendorong mereka untuk melaksanakan ibadah doa, yang merupakan kewajiban bagi umat Kristen. Tantangan Dan Solusi Dalam Penerapannya Inti dari teorinya adalah bahwa satu pengalaman belajar cukup untuk membentuk kebiasaan, selama stimulus dan respons terjadi secara bersamaan. Dalam konteks pendidikan, termasuk Pendidikan Agama Kristen (PAK). Pendekatan ini dapat membantu guru dalam membentuk perilaku peserta didik melalui kebiasaan-kebiasaan yang konsisten. Namun, dalam penerapannya, terdapat berbagai tantangan yang perlu dihadapi oleh guru, khususnya guru PAK. Di dalam tentangan tersebut bukan maksud menjadi alasan untuk tidak mangambil bagian menjadi sosok pengajar. Guru Pak memiliki misi sejauhmana Yesus menjadi teladan guru untuk guru masa kini. Dalam keadaan sebagai manusia. Guru PAK juga manusia dari segi kesadaran dalam kerendahan hati untuk menyadari metodemetode apapun yang dikemukan oleh manusia dimuka bumi ini memiliki kelemahan atau Oleh karna itu penerapan Edwin Ray Guthrie juga memiliki keterbatasan dalam metodenya. Suatu cara cara yang dikemukakan oleh tokoh-tokoh pengajar yang dipilih yang memberikan subangsih bagi pengajar dengan tidak menghilangkan nilai nilai pengajaran dari alkitab. Salah satu tantangan utama dalam menerapkan teori Guthrie adalah kesulitan dalam mengendalikan stimulus secara konsisten. Dalam lingkungan kelas yang dinamis, tidak semua stimulus dapat diatur atau diulang dengan cara yang sama. Peserta didik memiliki latar belakang, emosi, dan perhatian yang berbeda-beda, sehingga respons yang muncul pun bisa beragam. Cirikhas yang dimiliki manusia memiliki keunikan dalam relasinya. Mata pelajaran yang di ampu dikelas, banyak materi yang harus dikuasi dengan berbagai ilmu yang akan mempengaruhi karakternya secara negatif. Pelajar akan tekun ketika dia mencintai pelajaran sesuai keinginananya. Guru PAK menerapkan bidang ilmu dengan nilai kehidupan dalam arti pengajaran Kristen supaya diterapkan dalam lingkunga sosial sejauhmana pengenalan akan Tuhan berdampak bagi aktivitasnya dan pengetahuan. Guru PAK mungkin menemukan bahwa nilai-nilai Kristiani yang diajarkan tidak langsung tertanam hanya karena disampaikan sekali atau dua kali. Hal ini bertentangan dalam konteks yang relevan. Tantangan lain adalah kecenderungan pendekatan behavioristik yang kurang memperhatikan aspek internal siswa seperti motivasi, pemahaman mendalam, dan refleksi spiritual. Dalam pengajaran PAK, transformasi hati dan karakter sering kali lebih penting daripada sekadar perubahan perilaku luar. Maka, jika teori Guthrie diterapkan IMPLEMENTASI MENGAJAR MENURUT EDWIN RAY GUTHRIE PADA GURU PAK secara kaku, ada risiko bahwa pengajaran menjadi terlalu mekanis, tanpa menyentuh dimensi batiniah peserta didik. Kelemahan pada teori belajar behavioristik seperti. Murid hanya berperan sebagai pendengar dalam proses pembelajaran dan dituntut untuk menghafal apa yang sudah didengarnyaSerta murid dipandang pasif, dan selalu butuh motivasi dari luar yang berupa penguatan dari guru. Untuk mengatasi tantangan ini, guru PAK dapat mengintegrasikan prinsip Guthrie dengan pendekatan yang lebih holistik. Misalnya, guru bisa menciptakan lingkungan belajar yang konsisten dalam memberi teladan, sehingga stimulus yang diberikan tidak hanya berupa kata-kata, tetapi juga perbuatan nyata. Penguatan positif secara berulang juga dapat membantu memperkuat asosiasi antara nilai-nilai kristiani dan perilaku yang diharapkan. Selain itu, guru PAK perlu menyelaraskan pendekatan behavioristik dengan pendekatan reflektif dan transformatif, sehingga pembelajaran tidak hanya berorientasi pada perilaku, tetapi juga pada pertumbuhan rohani siswa. Sebagai calon guru PAK, saya menyadari bahwa tidak ada teori pendidikan yang sempurna. Namun, dengan memahami teori Guthrie secara kritis dan kreatif, saya dapat memilih bagian-bagian yang relevan untuk diterapkan. Dalam proses mengajar kelak, saya ingin menjadi guru yang mampu membentuk karakter siswa melalui teladan hidup, konsistensi tindakan, dan pendekatan yang menyentuh baik pikiran maupun hati mereka. Teori Guthrie menjadi salah satu alat bantu, tetapi bukan satu-satunya panduan dalam mengajar. Hingga dalam konteks pendidikan agama Kristen, teori kontiguitas Guthrie dapat diaplikasikan melalui pengulangan materi ajaran, namun perlu diselaraskan dengan prinsip-prinsip teologi pastoral yang mengedepankan relasi kasih Kristiani, sehingga pembelajaran tidak hanya berbasis pada aspek kognitif, tetapi juga pada pengembangan spiritual siswa. KESIMPULAN Contiguous condittioning merupakan suatu gagasan dalam memprisipkan paham Inti dari sebuah teori ini adalah untuk mendekatkan suatu pemahaman dengan terjadinya pembelajaran ada suatu relasi antara stimulus dan respon yang nyata. Dengan pendekatan teori ini adalah supaya guru pendidikan agama Kristen memiliki juga semangat dari proses pengondisian yang di terapkan oleh Erwin Ray Guthrie untuk melihat kehadiran pelajar supaya memahami pembelajaran secara sekuler. Bukan saja teori umum dalam mata pelajaran tetapi sejauhmana kehadiran guru pendidikan agama Kristen menerapkan nilai nilai rohani dan memperkenalkan Tuhan dalam hidup pelajar yang jauh dari paham teori-teori yang dikemukakan oleh manusia dimuka bumi ini. Karna seorang Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik- Volume. 11 Nomor 1. Mei 2025 E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 19-32 guru PAK memiliki teladan yang sempurna dalam mengajar ialah Tuhan Yesus Kristus. Guru pendidikan agama kristen juga memiliki banyak memperhatikan kebutuhan pelajar dan suasana kelas. Maksud dari penulisan ini adalah supaya metode pelajaran tidak membuat pelajar malas dengan kahadiran guru pendidikan agama Kristen. DAFTAR PUSTAKA