JSIP 1 . Journal of Social and Industrial Psychology http://journal. id/sju/index. php/sip AKAR KONFLIK KERUSUHAN ANTAR ETNIK DI LAMPUNG SELATAN Bethra Ariestha A Jurusan Psikologi. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Semarang. Indonesia Info Artikel Abstrak ________________ ___________________________________________________________________ Sejarah Artikel: Diterima September 2012 Disetujui Oktober 2012 Dipublikasikan Nopember 2012 Fenomena konflik kerusuhan yang melibatkan Etnik Bali dan Etnik Lampung pada tanggal 27 sampai 29 Oktober 2012 di Lampung Selatan awalnya hanya merupakan konflik antar desa namun kemudian berkembang menjadi konflik antar etnik. Konflik ini di picu oleh peristiwa kecelakaan sepeda motor yang disertai pelecehan seksual yang melibatkan pemuda dari Desa Balinuraga (Etnik Bal. dan pemudi dari Desa Agom dan Desa Negeri Pandan (Etnik Lampun. Penelitian ini memiliki tujuan utama untuk menggali informasi mengenai akar terjadinya konflik. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan dua orang narasumber, satu orang narasumber berasal dari Etnik Lampung (Ago. dan satu orang berasal dari Etnik Bali (Balinurag. Data diperoleh melalui proses wawancara mendalam secara langsung dengan narasumber, serta mengunakan pengumpulan dokumentasi sebagai data tambahan. Hasil penelitian disimpulkan bahwa konflik yang terjadi dipicu oleh faktor utama, yaitu sikap Etnik Bali (Balinurag. dalam hidup bermasyarakat yang dianggap menyinggung perasaan dan tidak sesuai dengan adat istiadat etnik pribumi (Lampun. ________________ Keywords: Conflict. Violence. Ethnic ____________________ Abstract ___________________________________________________________________ Phenomena involving conflict Ethnic riots Ethnic Bali and Lampung on June 27 to October 29, 2012 in South Lampung originally just a conflict between villages but later developed into an ethnic conflict. This conflict triggered by events in motorcycle accident with sexual abuse involving youths from the village Balinuraga (Ethnic Bal. and women from the village of Agom and Negeri Pandan (Ethnic Lampun. This study has the primary goal in collecting information about the roots of This study is a qualitative study with two speakers, a resource person from Ethnic Lampung (Ago. and one derived from Ethnic Bali (Balinurag. Data obtained through in-depth interviews with the speakers directly, and use the documentation as additional data collection. The results concluded that the conflict triggered by the main factors, namely attitude Ethnic Bali (Balinurag. in social life which are considered offensive and not in accordance with the customs of the indigenous ethnic (Lampun. A 2012 Universitas Negeri Semarang Alamat korespondensi: Gedung A1 Lantai 2 FIP Unnes Kampus Sekaran. Gunungpati. Semarang, 50229 E-mail: be_blackholic@yahoo. ISSN 2252-6838 Bethra Ariestha / Journal of Social and Industrial Psychology 1 . karena sistem otoritarian Orde Baru. Orde Baru tidak merancang kerukunan dan kedamaian antar etnik dan agama dengan basis keragaman . , melainkan keseragaman . Triandis . alam Sarwono, mengatakan bahwa sebagian besar konflik antar golongan yang telah terjadi diakibatkan oleh kultur subyektif yang berbeda-beda. Adapun unsur-unsur dari kultural subyektif tersebut, yaitu: kategorisasi . , evaluasi, asosiasi, struktur kognitif elementer, keyakinan atau percaya, sikap, stereotype, harapan, norma, ideal, peranan, tugas, dan nilai-nilai. Kesalahan persepsi kultur subyektif dalam menyikapi keragaman identitas etnik, budaya, dan agama dalam kehidupan bermasyarakat di Provinsi Lampung tercermin dalam kasus kerusuhan sosial yang baru saja terjadi di Kabupaten Lampung Selatan pada 27 Oktober 2012 sampai dengan 29 Oktober 2012 yang melibatkan Etnik Lampung . tnik pribumi/ mayoritas beragama Isla. dan Etnik Bali . endatang/ mayoritas beragama Hind. dipicu persoalan sepele yang tidak terselesaikan secara hukum adat istiadat yang berlaku. Konflik bermula dari peristiwa kecelakaan sepeda motor yang melibatkan pemuda dari Desa Balinuraga Kecamatan Way Panji . ayoritas Etnik Bal. dan pemudi dari Desa Agom Kecamatan Kalianda . ayoritas Etnik Lampun. Kedua desa tersebut masuk dalam wilayah administratif Kabupaten Lampung Selatan, secara geografis letak keduanya tidak terlalu berjauhan, jarak kedua desa hanya sekitar lima kilo meter. Peristiwa kecelakaan lalu lintas tersebut kemudian berkembang menjadi Isu SARA yang tidak hanya melibatkan kedua desa tersebut, namun melibatkan banyak desa dari kedua etnik yang ada. Etnik Lampung dan Etnik Bali. Konflik bermula pada tanggal 27 Oktober 2012, kemudian berlanjut pada hari berikutnya, dan memuncak pada tanggal 29 Oktober 2012. Peristiwa penyerbuan dan bentrok berdarah oleh ribuan warga Desa Agom serta desa-desa sekitarnya yang berpenduduk Etnik Lampung terhadap warga Desa Balinuraga (Etnik Bal. mengakibatkan jatuhnya korban jiwa sebanyak 14 orang tewas, puluhan orang luka-luka, 166 PENDAHULUAN Kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia yang dulu dikenal dengan nusantara dihuni oleh ratusan kelompok etnik yang tumbuh dan berkembang dalam suasana penuh konflik sosial berdarah sejak Indonesia merdeka. Bahkan beberapa sejarawan dan pengamat sosial-humaniora menyebut bahwa konflik SARA dibangsa Melayu telah terjadi sebelum era pra kolonial. Konflik SARA menjadi bagian dari kehidupan masyarakat multi etnis, multi religius, dan multi kultur seperti Indonesia (Muthalib dkk dalam Qodir, 2008: . Di awal masa kemerdekaan konflik sosial berdarah di Indonesia lebih bersumber pada konflik politik dan ideologi. Kemudian di akhir abad kedua puluh berganti wajah menjadi konflik identitas agama dan identitas etnik. Perbedaan agama atau etnik bukan lagi menjadi sumber kekuatan bangsa, namun saat ini telah menjadi sumber Kehidupan bermasyarakat di Lampung mengalami krisis yang amat memilukan menjelang pergantian abad 21, kondisi tersebut tidak berbeda dengan beberapa daerah yang disebutkan diatas. Berbagai pihak telah memberi analisis masalah kerusuhan sosial dalam berbagai perspektif, misalnya analisis yang mengaitkan kerusuhan sebagai bagian dari rencana investasi usaha pembukaan lahan untuk perkebunan dengan memanfaatkan dinamika sosial-politik Konflik mengalami tahap pengkondisian sebagai wilayah tidak aman, karena itu menjadi alasan mendasar untuk menggelar proyek pengamanan besar oleh militer. Kondisi masyarakat yang begitu beragam memicu terjadinya gesekan antar kelompok Provinsi Lampung merupakan daerah dengan keragaman agama, karakter, budaya, identitas etnik, pola-pola adat, kondisi geografis, rasa, dan ungkapan bahasa, serta berbagai kategori lainnya. Keragaman agama, identitas etnik, dan budaya tanpa disadari telah menciptakan building block yang mengganggu harmoni kohesi dan interrelasi sosial. Penyebab retaknya mozaik ini belakangan diketahui Bethra Ariestha / Journal of Social and Industrial Psychology 1 . unit rumah warga di Desa Balinuraga dan Sidoreno dibakar massa, 27 unit rumah mengalami rusak berat, sebelas unit sepeda motor dibakar, dan dua gedung sekolah juga ikut dibakar massa. Selain itu satu unit mobil Isuzu Panther milik Dit Shabara Polda Lampung, satu unit mobil Honda CRV, dan Strada juga ikut dirusak massa, serta ribuan orang dari Desa Balinuraga harus di evakuasi . konflik terjadi, serta kondisi kehidupan masyarakat ke dua desa secara umum pasca konflik, yaitu Desa Balinuraga dan Desa Agom. HASIL DAN PEMBAHASAN Menurut beberapa sumber dan literatur yang peneliti baca. Komunitas Bali di Lampung, sebagian datang melalui program transmigrasi yang dilakukan oleh pemerintah sekitar tahun 1960, kebanyakan mereka ditempatkan di daerah Lampung Tengah dan Lampung Utara. Sedangkan Komunitas Bali yang ada di Lampung Selatan, menurut tokoh Lampung yang dahulu menjabat sebagai Kepala Nagari Kalianda . ekarang disebut bupat. Intan Mas Jahidin . , beberapa perkampungan Bali yang ada di Lampung Selatan didirikan berkat campur tangan beliau saat masih menjabat sebagai kepala nagari. Dengan kekuasaannya itu pada tahun 1963, ketika lima orang warga dari Pulau Bali datang ke rumahnya meminta bantuan, ia langsung mengiyakan. Mereka mengaku rumahnya hancur, tidak memiliki apa-apa lagi, dan ingin melanjutkan kehidupan baru di Lampung. Kemudian Intan Mas memerintahkan untuk menjemput keluarga mereka di Pulau Bali dan memperbolehkan mereka hidup di tanah Lampung. Dari perintah yang diberikan, mereka membawa lima belas kepala keluarga lainnya dan setiap keluarga diberikan dua hektar tanah yang digunakan untuk membangun rumah dan bertani. Selama empat tahun sisa kepemimpinan Intan Mas, setidaknya ada 15 ribu hektar tanah marga . yang diberikan kepada sekitar tujuh ribu kepala keluarga warga Bali. Mereka dibagi menjadi beberapa kelompok sesuai dengan asalnya di Bali. Di Lampung Selatan mereka Balinuraga. Baliagung, dan Balinapal. Ada pula yang kemudian bergabung dengan warga suku lain seperti Sidoreno . ersama Etnik Jaw. Palas, dan Sidomakmur . Konflik antara Desa Balinuraga dan Desa Agom bisa dianggap sebagai akumulasi dari konflik-konflik sebelumnya. Riwayat konflik di METODE PENELITIAN Desain penelitian ini berupa penelitian kualitatif karena metode kualitatif merupakan metode yang menekankan pada dinamika dan proses (Poerwandari, 2001: . Bogdan dan Taylor . alam Moleong, mendefinisikan metodelogi penelitian kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat Pendekatan ini dilakukan dan diarakan pada latar dan individu secara holistik . Creswell . alam Patilima, mendefinisikan pendekatan kualitatif sebagai sebuah proses penyidikan untuk memahami masalah sosial atau masalah manusia, berdasarkan atas penciptaan gambar holistik yang dibentuk kata-kata, melaporkan pandangan informan secara terperinci dan disusun dalam sebuah latar ilmiah. Kehadiran pendekatan kualitatif, menurut Sanapiah Faisal dari IKIP Malang. Faisal . alam Patilima, 2007: . berkaitan erat dengan sifat unik dari realitas sosial dan dunia tingkah laku manusia itu sendiri. Oleh karena itu penelitian dengan desain pendekatan kualitatif berupa studi kasus tentang Akar Konflik Kerusuhan Antar Etnik di Lampung Selatan (Studi Kasus Kerusuhan Antara Etnik Lampung dan Etnik Bali di Lampung Selata. , berusaha mengkaji secara mendalam tentang akar permasalahan yang memicu timbulnya konflik dari kacamata narasumber yang terlibat secara langsung dalam konflik, meliputi tentang pemahamannya tentang konflik yang terjadi, pengalaman traumatis yang individu alami saat Bethra Ariestha / Journal of Social and Industrial Psychology 1 . Lampung Selatan menurut berbagai literatur yang peneliti baca tercatat sudah ada sejak tiga puluh tahun silam. Pada tahun 1982, akibat perselisihan warga Desa Sandaran dan Desa Balinuraga, warga Balinuraga membakar dua rumah warga Desa Sandaran. Tahun 2005 masyarakat Bali Agung di Kecamatan Ketapang membakar beberapa rumah penduduk di Desa Palas Pasemah. Kemudian pada tanggal 29 November Balinuraga melakukan penyerangan ke Desa Marga Catur yang mengakibatkan 10 rumah dibakar dan 27 rumah lainnya dirusak. Peristiwa itu dipicu penusukan terhadap seorang siswa SMP, saat ada acara organ tunggal di Desa Marga Catur. Lalu pada tanggal 24 Januari 2012, masyarakat Desa Napal yang beretnik Bali bersengketa dengan warga Desa Kota Dalam yang beretnik Lampung. Peristiwa itu dipicu oleh keributan antar pemuda desa soal lahan parkir dan kebutkebutan sepeda motor. Mereka yang tidak terima lalu merusak dan membakar sejumlah rumah warga Kota Dalam. Aksi itu juga melukai sejumlah warga. Aksi kekerasan itu dibalas dengan turunnya ribuan orang dari Kota Dalam dan sekitarnya yang membakar serta merusak sekitar 89 rumah penduduk Desa Napal. Kronologis Terjadinya Konflik Tanggal 27 sampai dengan 29 Oktober 2012, menurut penuturan narasumber dari Etnik Lampung (HRB), awal terjadinya konflik dipicu oleh permasalahan sepele. Dimana ada dua orang anak gadis, satu orang merupakan warga Desa Agom dan satu orang lagi adalah warga dari Desa Negeri Pandan diganggu dijalan saat jalanjalan sore. Kemudian kedua gadis tersebut diganggu . ipegang pahany. saat mengendarai sepeda motor, sehingga hilang keseimbangan, mengakibatkan motor yang dikendarai terjatuh. Saat terjatuh korban malah dilecehkan. Akibat kejadian tersebut korban harus dilarikan ke rumah sakit. Sedangkan narasumber dari Etnik Balinuraga (SRM), konflik terjadi akibat permasalahan anak muda, ada pemuda Bali yang berusaha mengejar perempuan dari Etnik Lampung yang habis berbelanja dari Indomaret Taman Agung dengan maksud untuk berkenalan, saat pemuda Bali berusaha mendekati perempuan tersebut untuk berkenalan, kendaraan yang di gunakan perempuan Lampung terjatuh. Saat terjatuh, pemuda Bali tersebut berusaha menolong untuk membangunkan dengan mengangkat perempuan tersebut untuk mengajaknya berobat. Namun ketika pemuda tersebut mengangkat korban yang terjatuh, ada yang meneriakinya pelecehan Sedangkan dari informasi lainnya yang dikarenakan di kejar oleh pemuda Bali dan sengaja disenggol kemudian terjatuh. Kemudian seolah-olah seperti berniat membantu, pemuda Bali tersebut malah menggerayangi tubuh si korban dengan memegang payudaranya. Kemudian lewat pemuda Desa Agom lainnya, menghardik si pelaku AuJangan begitukan kawan sayaAy, pemuda Bali tersebut malah membalas dengan perkataan AuUdah kamu diam aja. sambil tertawaAy. Dikarenakan kejadian terjadi di pinggir sawah yang dilewati jalan desa, banyak warga yang mengendarai kendaraan bermotor berhenti dan berkerumun, yang membuat pemuda-pemuda Bali tersebut pergi melarikan diri (SR). Pada malam Minggu tanggal 27 Oktober 2012 terjadilah bentrokan pertama antara Etnik Lampung dengan Etnik Bali (Balinurag. Ketika massa yang berangkat menuju Desa Balinuraga sampai di desa tersebut, kondisi Desa Balinurga gelap gulita, penerangan sengaja Ketika ada massa yang mencoba memasuki Desa Balinuraga, massa dilempari dengan batu dan ditembak dengan senapan Peristiwa malam itu mengakibatkan satu kendaran roda dua milik massa penyerang dibakar oleh massa dari Desa Balinuraga. Melihat situasi yang tidak memungkinkan untuk masuk ke Desa Balinuraga, oleh pimpinan massa Etnik Lampung, massa Etnik Lampung ditarik mundur ke Desa Agom. Pada, hari Minggu, tanggal 28 Oktober 2012, jumlah massa yang berkumpul sekitar 20 ribu orang. Hari Minggu itu kembali terjadi bentrokan antara massa penyerang dengan Bethra Ariestha / Journal of Social and Industrial Psychology 1 . massa Bali (Balinurag. yang masih mencoba bertahan dan melawan. bentrokan pada hari Minggu yang mengakibatkan tiga orang korban meninggal dunia dari pihaknya. Hal ini diakibatkan massa yang belum terkordinasi satu sama lain. Setelah timbul tiga korban meninggal dunia, massa penyerang memutuskan untuk menghentikan usaha masuk ke Desa Balinuraga. Massa penyerang mundur kembali berkumpul di Lapangan Desa Agom. Senin, 29 Oktober 2012, terjadi penyerangan kembali, jumlah massa penyerang yang berusaha masuk diperkirakan berjumlah 000 orang. Tepat pukul dua siang, massa penyerang berhasil memasuki Desa Balinuraga dengan menyusup-nyusup melalui kebun dan Hal ini disebabkan oleh blokade aparat yang menutup akses masuk lewat jalan desa, jalan aspal satu-satunya yang menghubungkan Desa Balinuraga dengan desa-desa lainnya. Diperkirakan sekitar dua ribu orang berhasil masuk dan lolos dari blokade aparat. Kemudian korban mulai berjatuhan dipihak Etnik Balinuraga dan sejumlah rumah mulai terbakar. Menurut surat permohonan maaf dan perjanjian damai yang disepakati oleh kedua etnik dan di sosialisasikan melalui Deklarasi Perjanjian Damai. Jumat, 23 November 2012, jumlah korban meninggal dipihak Etnik Bali berjumlah sembilan orang dan dipihak Etnik Lampung berjumlah tiga orang. desa mayoritas Etnik Lampung di sekitar Desa Balinuraga, perasaan sakit hati dari Etnik Lampung, karena banyak tanah penduduk yang beralih tangan kepada warga Desa Balinuraga melalui jerat hutang, penyelesaian konflikkonflik terdahulu yang tidak pernah tuntas menyentuh sampai akar permasalahan konflik, dan pelanggaran atas perdamaian yang telah disepakati serta belum ada penerapan sanksi yang tegas terhadap pihak-pihak yang melanggar dan mengakibatkan konflik terulang kembali. Saran Saran yang dapat diberikan dari hasil penelitian ini, yaitu: bagi kelompok yang bertikai agar lebih menjalin komunikasi yang komprehensif bila terdapat permasalahan sehingga terdapat keseimbangan informasi yang menutup peluang hadirnya provokator yang memperkeruh konflik yang ada, menjalin kerja sama ekonomi yang baik dan saling Sehingga kemajuan bisa isu-isu prasangka, stereotype, atribusi, dan mispersepsi di antara masyarakat. DAFTAR PUSTAKA