p-ISSN: 2089-2551 e-ISSN: 2615-143X https://journal. Volume 15. Nomor 2. Mei 2025 KORELASI PENGGUNAAN PESTISIDA TERHADAP GEJALA KERACUNAN PADA PETANI BAWANG MERAH DI KABUPATEN ENREKANG Andi Tenriola Fitri Kessi1*. Habibi2. Rindu Syamsuddin1 Progam Studi Hiperkes dan Keselamatan Kerja. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Makassar Progam Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat. Universitas Islam Negeri Alauddin. Makassar Alamat Korespondensi: atenriolafky@gmail. ABSTRAK Latar belakang: Pestisida adalah semua zat atau campuran zat yang khusus digunakan untuk mengendalikan, mencegah, atau menangkal gangguan serangga, binatang pengerat, nematode, gulma, virus, bakteri, jasad renik yang dianggap hama kecuali virus, bakteri atau jasad renik lainnya yang terdapat pada manusia dan binatang atau semua zat atau campuran zat yang digunakan untuk mengatur pertumbuhan tanaman. Tujuan: Untuk mengetahui korelasi penggunaan pestisida terhadap gejala keracunan. Metode: menggunakan metode observasi analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel yang diambil sebanyak 30 dari 60 populasi dengan perhitungan rumus sampel size. Hasil: Penelitian ini menunjukkan bahwa korelasi penggunaan pestisida terhadap gejala keracunan berdasarkan prinsip yaitu: teknik pencampuran, ditemukan P= 0. 243 < dari 0. 05 sehingga dapat disimpulkan tidak ada Hubungan signifikan terhadap gejala keracunan. Teknik penyemprotan, ditemukan P= 0. 626 < dari 0. Kesimpulan: Tidak ada hubungan signifikan terhadap gejala keracunan higiene perorangan, ditemukan P= 0. 463 < dari 0. 05 sehingga dapat disimpulkan tidak ada Hubungan signifikan terhadap gejala Penggunaan APD ditemukan P= 0. 537 < dari 0. 05 sehingga dapat disimpulkan tidak ada Hubungan signifikan terhadap gejala keracunan. pemberian edukasi, ditemukan P= 0. 015 > dari 0. sehingga dapat disimpulkan ada Hubungan signifikan terhadap gejala keracunan. Kata Kunci: Gejala Keracunan. Pencampuran. Penyemprotan. Higiene Perorangan. Penggunaan APD PENDAHULUAN Masalah yang ada di bidang pertanian dapat dilihat dari data Gero Rueter . yang mengatakan pekerja pertanian di Global South sangat terpengaruh oleh kejadian keracunan pestisida, 44 persen dari semua pekerja di seluruh dunia menderita setidaknya satu keracunan pertahun dan di negara-negara tertentu diakibatkan oleh pestisida. 256 juta keracunan pestisida akut di Asia, 116 juta di Afrika, dan sekitar 12,3 juta di Amerika Latin. Di Eropa, angkanya jauh lebih kecil yaitu 1,6 juta. Sedangkan menurut Rachmatullah . menjelaskan sebanyak 27 responden . %) mengalami keracunan dan yang tidak mengalami keracunan itu sebanyak 17 responden . %). Insektisida, herbisida, dan produk pestisida lainnya termasuk yang paling berbahaya dan digunakan oleh 75% petani dalam proses produksi pangan. Penanda paparan pestisida cholinesterase, erythrocyte tecolines terase, dan butyryl cholinesterase semuanya meningkat dalam plasma para petani ini (Habibi et al. , 2. Menurut Food Agriculture Organization (FAO) (Cahayati. Pengertian Pestsida adalah semua zat atau campuran yang diharapkan untuk mencegah, menghancurkan, ataupun mengontrol semua hama termasuk vektor terhadap manusia dan penyakit pada binatang dan tanaman yang tidak disukai dalam proses produksi. Penggunaan pestisida ditemukan pada tahun 1940. Jurnal Mitrasehat Volume 15 Nomor 2. Mei 2025 penggunaan pestisida sintetik terus mengalami peningkatan di seluruh dunia. Tahun 2001, sekitar 2,26 juta ton bahan aktif pestisida digunakan. Dua puluh lima persen . %) dari produksi pestisida dunia digunakan di negara Banyaknya pestisida yang digunakan pada kegiatan pertanian khususnya petani bawang meningkatkan resiko terpaparnya racun pada petani itu sendiri, salah satu daerah penghasil bawang yang ada di Sulawesi Selatan adalah Kabupaten Enrekang. Kabupaten Enrekang merupakan pemasok bawang terbesar yang ada di Sulawesi Selatan bahkan di Indonesia timur. Salah satu desa yang ada di Enrekang penghasil bawang adalah Desa Saruran Kecamatan Anggeraja. Desa Saruran adalah salah satu desa di Kabupaten Enrekang menggunakan pestisida, di Desa Saruran memberikan keuntungan bagi produktivitas pertanian. Tanpa disadari pestisida juga memberikan dampak buruk terhadap kesehatan masyarakat dan lingkungan. Untuk memberikan gambaran pengaruh aplikasi penggunaan pestisida terhadap kesehatan gejala keracunan petani. Maka penulis memandang perlu melaksanakan penelitian tentang AyKorelasi Penggunaan Pestisida terhadap Gejala Keracunan Pada Petani Bawang Merah di Desa Saruran Kecamatan Anggeraja Kabupaten EnrekangAy. METODE Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian adalah kuantitatif dengan metode observasional analitik dengan pendekatan cross sectional study. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Saruran Kecamatan Anggeraja Kabupaten Enrekang. Waktu penelitian dilakukan pada 29 Juli sampai dengan 05 Agustus Tahun 2023. Jumlah sampel pada penelitian ini adalah 60 sampel, dengan menggunakan teknik pengambilan sampel yaitu total sampel dimana semua populasi dijadikan HASIL Pencampuran Berdasarkan tabel 1 menunjukkan bahwa dari 60 responden Petani Bawang Merah di Desa Saruran Kecamatan. Anggeraja Kabupaten Enrekang yang memiliki kategori pencampuran baik dengan gejala keracunan sedang sebanyak 31 responden . %), kategori pencampuran baik dengan kategori parah sebanyak 12 responden . %), sedangkan yang memiliki kategori pencampuran buruk dengan gejala keracunan sedang sebanyak 10 responden . %), dan yang memiliki kategori pencampuran buruk dengan gejala keracunan parah sebanyak 7 responden . %), dari hasil uji hipotesis yang dilakukan di dapatkan 243 lebih besar dari 0. 05 sehingga dapat di simpulkan tidak ada hubungan yang signifikan antara pencampuran terhadap gejala Penyemprotan Berdasarkan tabel 2 menunjukkan bahwa dari 60 responden Petani Bawang Merah di Desa Saruran Kecamatan Anggeraja Kabupaten Penyemprotan baik dengan gejala keracunan sedang sebanyak 37 responden . %), kategori penyemprotan baik dengan kategori parah sebanyak 4 responden . %), sedangkan yang memiliki kategori penyemprotan buruk dengan gejala keracunan sedang sebanyak 17 responden . %), dan yang memiliki kategori penyemprotan buruk dengan gejala keracunan parah sebanyak 3 responden . %), dari hasil uji hipotesis yang dilakukan didapatkan p. 626 lebih besar dari 0. 05 sehingga dapat disimpulkan tidak ada hubungan yang Jurnal Mitrasehat Volume 15 Nomor 2. Mei 2025 signifikan antara penyemprotan terhadap gejala Hygiene perorangan terhadap gejala Berdasarkan tabel 3 menunjukkan bahwa dari 60 responden Petani Bawang Merah di Desa Saruran Kecamatan Anggeraja Kabupaten Enrekang yang memiliki kategori hygiene perorangan baik dengan gejala keracunan sedang sebanyak 39 responden . %), kategori higiene perorangan baik dengan kategori parah sebanyak 2 responden . %), sedangkan yang memiliki kategori higiene perorangan buruk dengan gejala keracunan sedang sebanyak 19 responden . %), dari hasil uji hipotesis yang dilakukan di dapatkan p. 463 lebih besar 05 sehingga dapat disimpulkan tidak ada hubungan yang signifikan antara higiene perorangan terhadap gejala keracunan. Penggunaan APD terhadap gejala Berdasarkan tabel 4 menunjukkan bahwa dari 60 responden Petani Bawang Merah di Desa Saruran Kecamatan Anggeraja kabupaten Enrekang yang memiliki kategori Penggunaan APD baik dengan gejala keracunan sedang sebanyak 40 responden . %), kategori penggunaan APD baik dengan kategori parah sebanyak 1 responden . %), sedangkan yang memiliki kategori penggunaan APD buruk dengan gejala keracunan sedang sebanyak 18 responden . %), dan yang memiliki kategori penggunaan APD buruk dengan gejala keracunan parah sebanyak 1 responden . %). Dari hasil uji hipotesis yang dilakukan di dapatkan p. 537 lebih besar dari 0. sehingga dapat disimpulkan tidak ada hubungan yang signifikan antara penggunaan APD terhadap gejala keracunan. Pemberian terhadap gejala Berdasarkan tabel 5 menunjukkan bahwa dari 60 responden Petani Bawang Merah di Desa Saruran Kecamatan Anggeraja Kabupaten Enrekang yang memiliki kategori pemberian edukasi baik dengan gejala keracunan sedang sebanyak 10 responden . %), kategori pemberian edukasi baik dengan kategori parah sebanyak 31 responden . %), sedangkan yang memiliki kategori penggunaan APD buruk dengan gejala keracunan parah sebanyak 19 responden . %). Dari hasil uji hipotesis yang dilakukan di dapatkan p. 015 lebih kecil 05 sehingga dapat disimpulkan ada hubungan yang signifikan antara pemberian edukasi terhadap gejala keracunan. PEMBAHASAN Teknik pencampuran terhadap gejala Hasil observasi menunjukkan proses pencampuran yang masih kurang tepat masih dilakukan oleh petani di Desa Saruran Kabupaten Enrekang. Para petani mengatakan pencampuran harus dilakukan di ruangan tertutup untuk mencegah hembusan angin yang dapat membuat pestisida jatuh ke tubuh petani. Hal ini bertentangan dengan anggapan bahwa campuran pestisida sebaiknya dibuat di tempat yang sirkulasi udaranya baik karena pestisida mempunyai toksisitas yang lebih besar pada menyebabkan keracunan jika terhirup. Pada petani yang menggunakan mesin penyemprot, pestisida dicampur di dalam tong dan langsung diaduk oleh mesin penyemprot. Cara ini cukup aman karena petani hanya menuangkan jenis pestisida yang digunakan dan tidak ada kontak langsung yang cukup Berdasarkan tabel 1 menunjukkan bahwa dari 60 responden petani bawang merah di desa saruran kec. Anggeraja kab. enrekang yang memiliki kategori pencampuran baik dengan gejala keracunan sedang sebanyak 31 Jurnal Mitrasehat Volume 15 Nomor 2. Mei 2025 responden . %), kategori pencampuran baik dengan kategori parah sebanyak 12 responden . %), sedangkan yang memiliki kategori pencampuran buruk dengan gejala keracunan sedang sebanyak 10 responden . %), dan yang memiliki kategori pencampuran buruk dengan gejala keracunan parah sebanyak 7 responden . %), dari hasil uji hipotesis yang dilakukan di dapatkan p. 243 lebih besar dari 0. sehingga dapat disimpulkan tidak ada hubungan yang signifikan antara pencampuran terhadap gejala keracunan. Teknik Penyemprotan Terhadap Gejala Keracunan Hasil penelitian menunjukkan petani menyemprotkan memperhatikan arah angin namun dengan arah bolak-balik sesuai dengan Sebenarnya mengetahui bahwa arah penyemprotan yang baik adalah sesuai dengan arah angin namun mereka menganggap menyemprot dengan memperhatikan arah angin lebih merepotkan dan memakan banyak waktu. Selain itu belum penyemprotan secara bolak-balik terhadap kesehatan sehingga petani tidak mengubah cara Namun dengan tidak mengikuti arah angin petani berisiko terpapar pestisida seperti terpercik atau terkena langsung kebagian tubuh dan pakaian akibat hembusan angin yang berbalik ke arah tubuh penyemprot. Dan lebih berisiko apabila pestisida yang disemprotkan langsung mengenai organ mata yang tidak dilindungi dengan kacamata Berdasarkan tabel 2 menunjukkan bahwa dari 60 responden petani bawang merah di desa saruran kec. Anggeraja Kab. Enrekang yang memiliki kategori Penyemprotan baik dengan gejala keracunan sedang sebanyak 37 responden . %), kategori penyemprotan baik dengan kategori parah sebanyak 4 responden . %), sedangkan yang memiliki kategori penyemprotan buruk dengan gejala keracunan sedang sebanyak 17 responden . %), dan yang memiliki kategori penyemprotan buruk dengan gejala keracunan parah sebanyak 3 responden . %), dari hasil uji hipotesis yang dilakukan di dapatkan p. 626 lebih besar dari 0. sehingga dapat disimpulkan tidak ada hubungan yang signifikan antara penyemprotan terhadap gejala keracunan. Pengaruh Higiene Perorangan Terhadap Gejala Keracunan Menurut aturan penggunaan pestisida, pestisida yang disimpan dianjurkan untuk disimpan pada ruang tertutup dan terhindar dari sinar matahari untuk mengurangi faktor terjadinya penguapan akibat reaksi kimia dan fisika bahan kimia pestisida dengan udara. Selain itu, wadah pestisida yang sudah digunakan haruslah dibuang dan tidak tersebar dimana-mana. Sebab sisa-sisa pestisida yang ada di dalam kemasan pestisida yang telah habis pakai bisa saja mengalami reaksi dengan udara dan mencemari lingkungan bahkan membuat masyarakat terpapar dengan pestisida secara tidak langsung. Hal ini sesuai dengan pernyataan Sudarmo . bahwa pestisida harus disimpan di tempat yang khusus dan dikunci agar jauh dari jangkauan anak-anak dan tidak terkena sinar matahari langsung Berdasarkan tabel 3 menunjukkan bahwa dari 60 responden petani bawang merah di desa saruran Kec. Anggeraja Kab Enrekang yang memiliki kategori higiene perorangan baik dengan gejala keracunan sedang sebanyak 39 responden . %), kategori higiene perorangan baik dengan kategori parah sebanyak 2 responden . %), sedangkan yang memiliki kategori higiene perorangan buruk dengan gejala keracunan sedang sebanyak 19 responden . %), dari hasil uji hipotesis yang dilakukan di dapatkan p. 463 lebih besar 05 sehingga dapat disimpulkan tidak ada Jurnal Mitrasehat Volume 15 Nomor 2. Mei 2025 hubungan yang signifikan antara higiene perorangan terhadap gejala keracunan. Penggunaan APD terhadap gejala Berdasarkan tabel 4 menunjukkan bahwa dari 60 responden petani bawang merah di desa saruran Kec. Anggeraja Kab. Enrekang yang memiliki kategori Penggunaan APD baik dengan gejala keracunan sedang sebanyak 40 responden . %), kategori penggunaan APD baik dengan kategori parah sebanyak 1 responden . %), sedangkan yang memiliki kategori penggunaan APD buruk dengan gejala keracunan sedang sebanyak 18 responden . %), dan yang memiliki kategori penggunaan APD buruk dengan gejala keracunan parah sebanyak 1 responden . %). Dari hasil uji hipotesis yang dilakukan di dapatkan p. 537 lebih besar dari 0. 05 sehingga dapat disimpulkan tidak ada hubungan yang signifikan antara penggunaan APD terhadap gejala keracunan. pengaturan jadwal penyemprotan pestisida. Kegiatan tersebut akan disusun dan dirancang oleh ketua yang memiliki kemampuan di bidang itu, dalam hal ini akan ditangani oleh ketua yang mempunyai ilmu dan pengalaman dalam bidang toksikologi pestisida yang diperoleh pada saat kuliah dan pelatihanpelatihan tentang toksikologi. Berdasarkan tabel 6. 14 menunjukkan bahwa dari 60 responden petani bawang merah di Desa Saruran kec. Anggeraja Kab. Enrekang yang memiliki kategori pemberian edukasi baik dengan gejala keracunan sedang sebanyak 10 responden . %), kategori pemberian edukasi baik dengan kategori parah sebanyak 31 responden . %), sedangkan yang memiliki kategori penggunaan APD buruk dengan gejala keracunan parah sebanyak 19 responden . %). Dari hasil uji hipotesis yang dilakukan di dapatkan p. 015 lebih kecil dari 0. sehingga dapat disimpulkan ada hubungan yang signifikan antara pemberian edukasi terhadap gejala keracunan. Pemberian edukasi terhadap gejala Hasil penelitian untuk mencegah terjadinya tingkat keracunan yang semakin bertambah dan keracunan semakin parah maka diperlukan pembuatan buku saku penuntun pestisida dan proteksi diri serta pencegahan keracunan akibat paparan pestisida, kegiatan penyuluhan dan pelatihan yang dapat menyadarkan para petani akan bahaya pestisida, serta mau dan bisa melakukan penerapan pemakaian Alat Pelindung Diri (APD) selama penyemprotan yang dibantu juga dengan pengaturan jadwal penyemprotan yang teratur agar frekuensi penyemprotan yang dilakukan petani tidak terlalu tinggi. Dalam rangka pencapaian target di atas, maka akan diberikan penyuluhan kepada masyarakat khususnya petani, pemberian buku saku pestisida dan proteksi diri kepada petani dan KESIMPULAN Tidak ada pencampuran pestisida terhadap gejala keracunan pada petani bawang merah di desa saruran kecamatan anggeraja kabupaten enrekang. Tidak ada penyemprotan pestisida terhadap gejala keracunan pada petani bawang merah di desa saruran kecamatan anggeraja kabupaten enrekang. Tidak ada hygiene perorangan terhadap gejala keracunan pada petani bawang merah di desa saruran kecamatan anggeraja kabupaten enrekang. Tidak ada penggunaan apd terhadap gejala keracunan pada petani bawang merah di saruran kecamatan anggeraja kabupaten enrekang. Ada Pemberian Edukasi Terhadap Gejala Keracunan Pada Petani Bawang Merah Di Desa Saruran Kecamatan Anggeraja Jurnal Mitrasehat Volume 15 Nomor 2. Mei 2025 kabupaten enrekang. DAFTAR PUSTAKA