Indigenous Biologi Jurnal pendidikan dan Sains Biologi Volume 5. DOI 10. 33323/indigenous. ISOLASI JAMUR SELULOLITIK PADA DAUN MANGROVE Avicennia marina (Fors. DI PANTAI NOELBAKI Herlenci Djami1. Andriani Rafael2. Hartini R. Solle3 Program Studi Pendidikan Biologi. FKIP. Universitas Kristen Artha Wacanan kupang. Indonesia Corresponding author: herlenci12djami@gmail. ABSTRAK Jamur endofit adalah jamur yang tumbuh pada jaringan tumbuhan seperti pada daun, batang dan akar tumbuhan mangrove Avicennia marina. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi jamur endofit pada daun mangrove Avicennia marina sebagai penghasil enzim selulase. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan dua perlakuan dan dua pengulangan. Analisis data disajikan secara deskriptif kualitatif yaitu deskriptif yang meliputi karakteristik makroskopis dan mikroskopis serta data kuantitatif jamur endofit penghasil enzim eksraseluler uji aktivitas enzim selulase pada media PDA diperkaya carboxy methyl cellulose (CMC) 1% dengan metode plug agar. Hasil Isolasi jamur endofit dari daun A. marina berjumlah 12 isolat dan setelah diidentifikasi diduga genus Aspergillus sp. Penicellium sp, genus Trichoderma sp, genus Mucor sp dan genus Neuscytalidium sp. Hasil uji enzim selulase eksraseluler pada media PDA yang diperkaya dengan CMC . %), indikator congo red . ,1%) dan larutan NaCl 1 M terdapat 6 isolat sebagai penghasil enzim selulase yang ditandai dengan terbentuknya zona bening pada sekitar isolat dan jamur penghasil enzim selulase adalah dari genus Aspergillus sp. Trichoderma sp dan Neuscytalidium sp. Kata Kunci : Avicennia marina. Enzim Selulase. Jamur Endofit. ABSTRACT Endophytic fungi are fungi that grow on plant tissues as in leaves, stem dan root of the Avicennia marina mangrove plant. This research aimed at testing the cellulase enzyme. Study applied an experimental method with two treatments and two repetitionsThe data analysis was presented in a qualitative descriptive manner, which included macroscopic and microscopic characteristics as well as quantitative data of endophytic fungi that produces extracellular enzymes. Assay of cellulase enzyme activity on PDA media enriched with 1% Carboxy Methyl Cellulose (CMC) with the pug agar method. The results of the isolation of endophytic fungi from A. marina leaves amounted to 12 isolates and after being identified there were genus Aspergillus sp. Penicellium sp, genus Trichoderma sp, genus Mucor sp and genus Neuscytalidium sp. The results of the extracellular cellulase enzyme test on PDA media enriched with CMC . %), indicator congo red . 1%) and 1 M NaCl solution, there were 6 isolate indicator congo red . 1%) and 1 M Nacl solution, of the clear one around the isolates and the producing fungi. Cellulase enzymes belong to the genus Aspergillus sp. Trichoderma sp and Neuscytalidium sp. Key Words : Avicennia marina. Sellulase Enzymes. Endophytic Fungi PENDAHULUAN Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan salah satu daerah yang kaya akan tumbuhan Mangrove. Abo . menyatakan bahwa provinsi Nusa Tenggara Timur memiliki luas hutan 695,54 Ha . ,25%). Wilayah kota Kupang salah satu daerah yang memiliki hutan mangrove adalah di pantai Noelbaki. Kupang Tengah dengan luas area sekitar 10,2 Ha. Noverita . menyatakan mikroorganisme endofit hidup di dalam jaringan tumbuhan seperti pada biji, daun, buah, ranting, batang dan akar termasuk pada jaringan daun mangrove. Mikroba endofit tersebut Indigenous Biologi Jurnal pendidikan dan Sains Biologi 5. 2022 terdiri atas jamur dan bakteri yang memiliki fungsi sebagai antikanker, antifungi, antivirus serta menghasilkan hormon pertumbuhan tanaman kerena mampu menghasilkan mikotoksin, enzim, antibiotik dan senyawa-senyawa lainnya (Kasi dkk. , 2. Jamur atau cendawan adalah organisme bersifat heterotrof artinya mendapatkan nutrient melalui penyerapan atau absorbsi, dengan cara mencerna makanan di luar tubuhnya dengan mensekresikan enzim-enzim. Subagiyo dkk. , . enzim ekstraseluler diproduksi oleh mikrobia digunakan untuk mengurai material nutrien porganik kompleks menjadi senyawa sederhana sehingga dapat ditranspor masuk ke dalam sel sebagai sumber nutrisinya. Jahangeer dkk, . menyatakan 67,83% fungi yang memproduksi enzym selulolitik yaitu seperti Aspergillus sp. Trichoderma sp. Fusarium sp. Alternaria sp, penicellium sp, dan Rhizopus sp. Suciatmih . menemukan jamur A. Trichoderma harzianum pada daun Avecennia marina. Avicennia Marina merupakan jenis mangrove yang masuk ke dalam kategori mangrove mayor sehingga tiap ekosistem hampir dijumpai. marina memiliki akar napas, daun berbentuk elips dengan ujung meruncing hingga membundar, permukaan atas daun berwarna hijau mengkilat dan permukaan bawah berwarna putih abu-abu dan suram (Noor dkk, 2. marina memiliki banyak manfaat dan menghasilkan metabolit sekunder yang diolah untuk obat-obatan, antibakteri dan bioformalin (Rofik dkk, 2. Selulase adalah enzim yang dapat mengkatalis terjadinya reaksi hidrolisis pada polimer organik, seperti selulosa menjadi komponen gula sederhana yang mencakup Selulase sering digunakan pada industri tekstil, detergen, makanan, wine, pembuatan bir, kertas dan industri pakan hewan untuk meningkatkan daya cerna pakan. Jamur endofit pada mangrove Avicennia marina memiliki potensi sebagai antibakteri (Kasi dkk. , 2015. Ramadan dkk. Lestari dkk. , 2. , antifungi (Khalimah dkk. , 2. Ludji Lobo . , sebagai penghasil Dilihat dari potensi jamur endofit tersebut maka peneliti ingin melakukan penelitian pengujian selulase untuk melihat apakah jamur endofit tersebut penghasil enzim selulase. METODE PENELITIAN Waktu danTempat Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret sampai dengan Mei 2021. Sampelnya adalah jamur endofit hasil isolasi dari daun muda dan daun tua dari di area hutan mangrove Noelbaki. Kabupaten Kupang. Nusa Tenggara Timur (NTT) dan selanjutnya penelitian di Laboratorium Mikrobiologi Pendidikan Biologi. Universitas Kristen Artha Wacana Kupang. Alat dan Bahan Penelitian Alat-alat yang digunakan adalah gunting, pinset, cawan petri, labu erlenmeyer, jarum ose, bunsen, timbangan analitik, blue tip, autoklav, oven, gelas ukur, pipet tetes, pengaduk/spatula, corong gelas, beker gelas, hot plate, inkubator, magnet stirer, tabung reaksi dan laminar flow sedangkan bahan yang digunakan adalah jamur endofit dari daun A. marina, alkohol 70%, tissue, media Potato Dextrose Agar (PDA), media Carboxil Methyl Selluloce (CMC), congo red 1%. NaCl 1 M, aquades, air laut, masker, sarung tangan, wrap, aluminium foil, karet, kapas, dan spidol. Metode penelitian Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan dua perlakuan yaitu daun muda dan daun tua dan masing-masing perlakuan diulangi dua kali. Identifikasi jamur menggunakan buku Molecular Identification of Fungi (Youssuf Gherbawy Kerstin Voigt, 2. Prosedur penelitian Peralatan disterilkan di oven pada suhu 160oC selama 1 jam sedangkan alat yang tidak tahan pada pemanasan dengan suhu tinggi, disterilkan dalam autoklaf pada suhu 121C selama 15 menit (Nuramalia, 2. Media Potato Dextrose Agar (PDA) adalah media yang digunakan untuk menumbuhkan fungi. Pembuatan media diawali dengan menimbang 3,9 gram media PDA pada timbangan analitik, memasukannya ke dalam erlenmeyer, air laut sebanyak 100 mL lalu mengaduknya menggunakan pengaduk dan memanaskannya pada magnetic stirrer untuk menghomogenkan media. Setelah media homogen disterilisasi menggunakan autoclave dengan suhu 121C kemudian menuangnya ke dalam petri disc sebanyak 15 mL (Pitarini, 2. Purifikasi dilakukan Indigenous Biologi Jurnal pendidikan dan Sains Biologi 5. 2022 pada setiap koloni jamur yang telah terkontaminasi yang dilihat berdasarkan morfologi makrokopis yaitu meliputi warna dan bentuk koloni yang tumbuh. Pemurnian ini bertujuan untuk memisahkan koloni dengan morfologi berbeda untuk dijadikan isolat tersendiri (Aryanto dkk. , 2. Mengambil sebagian miselia jamur pada permukaan agar menggunakan jarum ose dan memindahkan ke media PDA baru (Senjaya dkk. , 2. Pembuatan media uji PDA CMC dengan menimbang 3,9 gram media PDA pada timbangan analitik dimasukan ke dalam erlenmeyer kemudian menambahi air laut sebanyak 100 mL, mengaduknya menggunakan pengaduk dan memanaskannya pada magnetic stirrer untuk menghomogenkan media. Menimbang 1 gram media CMC dan memasukannya ke dalam erlenmeyer kemudian menambahi aquades sebanyak 100 mL dan memanaskannya pada hotplate sambil diaduk menggunakan pengaduk hingga homogen dan tidak bergelembung selama A15 menit. Memasukan media CMC ke dalam labu erlenmeyer media PDA dan menggoyangkannya hingga homogen dan mensterilkannya pada autoclave selama 121C selama 15 menit dan menuangkannya pada cawan petri sebanyak 15 mL (Pitarini, 2. Mensterilkan laminar flow menggunakan alkohol 70% tujuannya agar tidak terkontaminasi. Mentotolkan bluetip pada jamur endofit untuk membuat cetakan dan menggunakan jarum ose untuk memindahkan jamur pada media uji dan media disimpan pada suhu 25C selama 2x24 jam. Setelah 2x24 jam menuangkan larutan congo red 1% lalu membiarkannya selama 20 menit. Membuang larutan congo red dan menuangkan larutan NaCl 1 M ke dalam cawan petri dan diamkan selama 20 Aktivitas selulolitik ditunjukkan dengan munculnya zona bening di sekitar koloni jamur (Sari , 2. Talantan . , zona bening yang terbentuk diamati mengguanakan jangka sorong dan dihitung nilai antara diameter zona bening medium terhadap diameter koloni jamur, yang dinyatakan sebagai Indeks Aktivitas Enzim (IAE) dengan rumus sebagai berikut : Pembentukan Zona Bening Aktivitas jamur selulolitik dapat dilakukan dengan pengukuran zona bening yang terbentuk disekitar isolat. Pembentukan zona bening menunjukan bahwa selulosa yang ada pada media dihidrolisis oleh enzim selulase menjadi senyawa yang lebih sederhana yaitu glukosa (Pitarina, 2. Analisis Data Data yang diperoleh disajikan secara deskriptif kualitatif yaitu deskriptif yang meliputi karakteristik makroskopis dan mikroskopis serta data kuantitatif uji aktivitas enzim selulolase dari masing-masing jamur yang berhasil diisolasi dari daun mangrove A. marina (Pitarini, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Purifikasi Jamur Endofit. Sampel daun mangrove A. marina yang diambil adalah daun muda dan daun tua. Penelitiann awal yang dilakukan oleh Ludji Lobo . telah melakukan isolasi jamur endofit yang terdapat pada daun mangrove A. marina dari Pantai Noelbaki dan mendapatkan 12 isolat jamur endofit yaitu 6 isolat dari daun tua dan 6 isolat dari daun muda. Jamur endofit tersebut sudah tua dan terkontaminasi sehingga perlu dilakukan peremajaan dan jamur ini dilakukan pada media Potato Dextrose Agar (PDA) dengan tujuan untuk mendapatkan jamur yang murni. Hasil purifikasi dari 12 jamur endofit pada daun muda dan daun tua A. marina yang ditemukan ciri-ciri morfologi seperti miselium koloni yang berwarna putih dan hitam, putih polos, putih keabuabuan, hijau tua, coklat,putih dan bagian tengah coklat dengan permukaan koloni kasar, halus dan bagian tepi koloni rata dan bergerigi. Identifikasi Jamur Endofit Indigenous Biologi Jurnal pendidikan dan Sains Biologi 5. 2022 Berdasarkan hasil purifikasi, dilanjutkan dengan identifikasi jamur secara makroskopis yang mencakup warna koloni, bentuk tepi koloni dan permukaan koloni serta secara mikroskopis seperti rhizoid, hifa, konidiofor, konidia dan fhili sesuai dengan referensi menggunakan buku Molecular Identification of Fungi menurut Gherbawy dan Voigt . Jamur yang identifikasi adalah 12 jamur endofit yang diduga 7 isolat dari genus Aspergillus, 2 isolat genus Penicillium, 1 isolat genus Mucor, 1 isolat genus Tricoderma, dan 1 isolat genus Neoscytalidium. Hasil identifikasi ditampilkan pada tabel Tabel 4. Hasil identifikasi jamur endofit. Makroskopis Kode Isolat Warna Koloni Permuka an Koloni Tepian Koloni Mikroskopis DM-Am-01-OLL Putih dan tengah Kasar Tidak rata Berhifa tidak bersepta, stolon, konidia berwarna hijau, konidiofor dan sporangium DM-Am-02-OLL Putih kehijauan Halus dan Rata Sporangium konidiofor, memiliki rhizoid dan DM-Am-03-OLL Hijau tua Kasar Tidak Stolon, konidiofor berbentuk bulat. DM-Am-04-OLL Coklat Berbutir Konidia berbentuk bulat, konidiofor dan fialid DM-Am-05-OLL Putih Halus Bergerigi Rhizoid, sporangium, dan konidia DM-Am-06-OLL Putih dan bagian tengah coklat Halus Rata konidia, fili. DT-Am-01-OLL Putih dan hitam. Halus Rata Rhizoid, tidak berhifa, koniadifor panjang dan tunggal, memiliki sporangium,dan konidia. DT-Am-02-OLL Putih keabuan. Halus Rata Hifa bersepta bercabamg halus, terdapat stolon dan spora DT-Am-03-OLL Putih dan bagian atasnya hijau. Bergerigi tunggal, halus dan tidak bersekat DT-Am-04-OLL Putih berserabut Halus Rata Hifa tidak bersekat dan stolon DT-Am-05-OLL Hijau tua,. Kasar Tidak Rata Berhifa, berspora, konidiofor dan memiliki stolon DT-Am-06-OLL Hijau tua Tidak Rata bersepta, dan memiliki stolon Sumber : Olahan Data Peneliti . Berdasarkan Tabel 4. 1,terdapat12 isolat jamur endofit yang teridentifikasi secara makroskopis dan mikroskopis sebagai berikut : Indigenous Biologi Jurnal pendidikan dan Sains Biologi 5. 2022 Genus 1. Aspergillus Aspergillus sp 1, dengan kode isolat DM-Am-02-OLL. Warna koloni Putih kehijauan, permukaan koloni halus dan tepi koloni rata dengan ciri-ciri mikroskopis memiliki sporangium berbentuk bulat, konidiofor, memiliki rhizoid dan konidia. Gambar 4. (A) Kode isolat DM-Am-02-OLL secara makroskopis (B) Secara Mikroskopis dengan perbesaran 10x . Rhizoid. Sporangiu. (C). Gambar referensi Aspergillus sp. Ristiari . Aspergillus sp 2, dengan kode isolat DM-Am-03-OLL. Warna koloni hjau tua, permukaan koloni kasar, tepi koloni tidak rata sedangakan secara mikroskopis memiliki stolon, konidiofor, sporangium, konidia berwarna hijau dan berbentuk bulat. Makroskopis Mikroskopis perbesaran 10X Referensi Ristiari . Aspergillus Perbesaran konidiofor b. Filiad vesikel d. Gambar 4. (A) Kode isolat DM-Am-03-OLL secara makroskopis (B) Secara Mikroskopis dengan perbesaran 10x. Sporangium. Konidia. Stolon. (C). Gambar referensi Aspergillus sp. Ristiari . Aspergillus sp 3, kode isolat DM-Am-05-OLL secara makroskopis memiliki ciri-ciri warna koloni putih dan bagian atasnya hitam, permukaan koloni halus, tepi koloni bergerigi sedangkan ciri mikroskopis memiliki rhizoid, sporangium, konidiofor dan konidia. Indigenous Biologi Jurnal pendidikan dan Sains Biologi 5. 2022 Makroskopis Mikroskopis perbesaran 10X Referensi Ristiari . Aspergillus sp. Perbesaran konidiofor b. Filiad vesikel d. Konidia Gambar 4. (A) Kode isolat DM-Am-05-OLL secara makroskopis (B) Secara Mikrokopis dengan perbesaran 10x . Rhizoid. Sporangium. konidiofor d. Konidia. Gambar referensi Aspergillus sp. Ristiari . Aspergillus sp 4, dengan kode isolat DM-Am-06-OLL. Warna koloni Putih dan bagian tengahnya coklat, permukaan koloni halus, tepi koloni rata dengan ciri mikroskopis memiliki konidia, fili, sporangium dan konidiofor. Makroskopis Makroskopis perbesaran 10X Referensi : Aspergillus sp. Perbesaran 400X Gambar 4. 4 (A). Kode isolat DM-Am-06-OLL secara makroskopis (B). Secara Mikroskopis dengan perbesaran 10x. Konidiofor. sporangium c. (C). Gambar referensi Aspergillus sp. Sari . Aspergillus sp 5, kode isolat DT-Am-01-OLL dengan warna koloni putih dan lama-kelamaan bagian atas hitam, permukaan koloni halus dan tepi koloni rata sedangkan secara mikroskopis memiliki rhizoid, tidak berhifa, koniadifor panjang dan tunggal, memiliki sporangium dan konidia. Makroskopis Gambar 4. Makroskopis perbesaran 10X Referensi : Aspergillus sp. Perbesaran 400X (A) Kode isolat DT-Am-01-OLL secara makroskopis (B)Secara Mikroskopis dengan perbesaran 10x . Rhizoid. Sporangium. (C). Gambar referensi Aspergillus sp Sari . Aspergillus sp 6, kode isolat DT-Am-03-OLL dengan warna koloni putih dan atasnya hijau, permukaan koloni kasar, tepi koloni bergerigi sedangkan secara mikroskopis memiliki spora, sporangium, konidiofor tunggal, halus dan tidak bersekat. Indigenous Biologi Jurnal pendidikan dan Sains Biologi 5. 2022 Makroskopis Makroskopis perbesaran 10X Referensi : Aspergillus sp. Perbesaran 400X Gmabar 4. (A). Kode isolat DT-Am-03-OLL secara makroskopis (B) Secara mikroskopis dengan perbesaran perbesaran 10x . Spora b. Sporangiu. (C). Gambar referensi Aspergillus sp. Sari . Aspergillus sp 7, warna koloni hijau tua, permukaan koloni kasar, tepi koloni bergerigi dengan ciri-ciri mikroskopis memiliki hifa, berspora, konidiofor dan stolon. Makroskopis Mikroskopis perbesaran 10X Referensi : Aspergillus sp. Perbesaran 400X Gambar 4. 7 (A) Kode isolat DT-Am-05-OLL secara makroskopis (B) secara mikroskopis dengan perbesaran 10x . Konidia. koidiafor c. Sporangiu. (C). Gambar Aspergillus sp. Sari . Genus 2. Penicillium Penicillium sp 1, dengan kode isolat DT-Am-02-OLL secara makroskopis memiliki ciri-ciri miselium berwarna putih keabuan, bentuk koloni halus dan tepi rata dengan ciri mikroskopis memiliki hifa bersepta, bercabamg dan halus, serta terdapat stolon dan spora. Makroskopis Mikroskopis perbesaran 40X Referensi perbesaran 400X Gambar 4. (A) Kode isolat DT-Am-02-OLL secara makroskopis (B) secara mikroskopis dengan 40x. Spora b. Hifa bersepta c. Stolo. (C. ) Gambar referensi Penicillium sp perbesara 400X Indigenous Biologi Jurnal pendidikan dan Sains Biologi 5. 2022 Penicillium sp 2, kode isolat DM-Am-06-OLL dengan miselium berwarna hijau tua, permukaan koloni kasar. Secara mikroskopis memiliki ciri-ciri berkonidia bewarna hijau, hifa bersepta dan memiliki Makroskopis Mikroskopis perbesaran 40X Referensi perbesaran 400X Gambar 4. (A) Kode isolat DT-Am-06-OLL secara makroskopis (B) secara mikroskopis pada perbsaran 10x . Hifa bersepta. konidia c. stolon ). (C). Gambar referensi Penicillium sp perbesara 400X Genus 3. Mucor sp, kode isolat DM-Am-01-OLL memiliki ciri-ciri makroskopis dengan miselium koloni berwarna putih dan tengah hijau, permukaan koloni kasar dengan tepian koloni bergerigi sedangkan secara mikroskopis hifa tidak bersepta, memiliki stolon, berkonidiofor, sporangium bercabng dan konidia berwarna hijau. Makroskopis Mikroskopis perbesaran 10X Referensi Perbesaran 400X Gambar 4. (A) Kode isolat DM-Am-01-OLL secara makrokopis (B) secara mikroskopis dengan perbesaran 10x. Konidia. Stolon. konidifor bercabang d. (C). Gambar referensi Mucor sp. Ristiari . Spora b. kolumela c. Konidiofor Genus 4. Tricoderma sp, dengan kode isolat DM-Am-04-OLL memiliki ciri-ciri miselium koloni berwarna coklat, permukaan koloni kasar dangan bentuk pinggirnya seperti bintang sedangkan secara miroskopis dengan ciri-ciri memiliki konidiofor, fialid dan konidia berbentuk bulat. Makroskopis Mikroskopis Perbesaran 10X Perbesaran 400x Gambar 4. (A). Kode isolat DM-Am-04-OLL secara makroskopis (B) secara mikroskopis pada perbesaran 10x . Fialid b. Konidia c. Konidiofo. (C). Gambar referensi Tricoderma konidiofor b. fialid c. Konidia. Indigenous Biologi Jurnal pendidikan dan Sains Biologi 5. 2022 Genus 5. Neoscytalidium sp, dengan kode isolat DT-Am-04-OLL secara makroskopis dengan ciri-ciri miselium koloni berwarna putih, permukaan koloni halus dengan tepi koloni rata sedangkan ciri mikroskopisnya terdapat hifa tidak bersekat dan stolon. Makroskopis Mikroskopis perbesaran 10X Referensi Neoscytalidium sp perbesaran 400X Gambar 4. (A) Kode isolat DT-Am-04-OLL secara makroskopis (B) secara mikroskopis dengan perbesaran 10x . Stolon. Hifa bersepta ). (C). Gambar referensi Neoscytalidium sp Izzatinnisa . Hifa bersepta b. Stolon. Uji Aktivitas Enzim Selulase Ekstraseluler Jamur endofit yang telah diidentifikasi dan diklasifikasikan menjadi 5 genus dan selanjutnya dilakukan pengujian enzim selulasa ekstraseluler dengan menggunakan media Potato Dextrose Agar yang diperkaya dengan Carboxy Methyl Celulase . %). Hasil uji aktivitas enzim selulase ekstraseluler ditampilkan pada gambar 4. Gambar 4. Hasil uji jamur endofit penghasil enzim selulase Pada gambar 4. 13, terbentuknya zona bening pada sekitar isolat menunjukan bahwa adanya aktivitas jamur selulolitik yaitu kemampuan enzim selulase dalam menghidrolisis media CMC yang terdapat pada media uji menjadi senyawa yang lebih sederhana yaitu glukola. Penambahan indikator congo red . ,1%) yaitu untuk mengikat selulosa sehingga media yang mengandung selulasa akan berwarna merah dan membentuk zona bening sedangkan fungsi dari Nacl 1 M untuk memperjelas zona bening yang sudah terbentuk. Penelitian sebelumnya Talantan . berhasil mengisolasi jamur endofit dan mendapat 7 isolat pada media CMC 1%, dengan menggunakan inditator congo red 0,1% serta Nacl 1 M dengan terbentuknya zona bening pada sekitar isolat. Berdasarkan hasil uji yang telah dilakukan, aktivitas enzim selulase pada media agar ditandai dengan adanya zona bening yang terbentuk disekitar isolat setelah ditetesi dengan indikator congo Indigenous Biologi Jurnal pendidikan dan Sains Biologi 5. 2022 red . ,1 %)dan didiamkan selama 20 menit kemudian dibilas menggunakan Nacl 1 M pada media PDA yang diperkaya Carboxy Methyl Celulase . %). Data hasil uji jamur endofit penghasil enzim selulolitik dapat ditampilkan pada tabel 4. Tabel 4. Pengujian Jamur endofit penghasil enzim selulase. Pada penelitian ini menunjukan bahwa jamur endofit penghasil enzim selulase ada 6 isolat yang terdiri 3 isolat yang berasal dari daun muda (DM) dan 3 isolat dari daun tua (DT) dengan kode isolat DM-Am-04-OLL. DT-Am-04-OLL. DM-Am-03-OLL. DT-Am-05-OLL. DM-Am-05-OLL. DT-Am-01OLL. Berdasarkan zona beningnya isolat DM-Am-04-OLL dan DT-Am-04-OLL memiliki zona bening sebesar 1,2 mm, isolat DM-Am-03-OLL dan DT-Am-05-OLL memiliki zona bening sebesar 1,4 mm dan isolat DM-Am-05-OLL dan DT-Am-01-OLL sebesar 2 mm. Besar kecilnya zona bening merupakan indikasi awal banyak sedikitnya selulase yang dihasilkan, semakin besar zona bening yang dihasilkan kemungkinan selulase yang dihasilkan semakin besar pula atau aktivitas enzimnya yang lebih tinggi (Talantan dkk, 2. Dari hasil uji enzim selulase ekstraseluler yang dilakukan, isolat jamur endofit yang memiliki aktivitas enzim ekstraseluler dengan diameter zona bening terluas terdapat pada jamur endofit dengan kode isolat DM-Am-05-OLL dan DT-Am-01-OLL dengan luas zona bening sebesar 2 mm sedangkan aktivitas enzim ekstraseluler dengan diameter zona bening terkecil adalah 1,2 mm. Jahangeer, . menyatakan 67,83% fungi yang memproduksi enzym selulolitik seperti Aspergillus sp. Trichoderma sp. Fusarium sp. Alternaria sp, penicellium sp, dan Rhizopus sp. Terdapat 6 isolat jamur endofit tidak memiliki aktivitas enzim ekstraseluler. Ini dapat disebabkan jamur endofit tersebut memang tidak memiliki enzim selulase ekstraseluler sehingga masing-masing isolat tidak menunjukkan adanya pembentukan zona bening pada media uji dan bisa saja ke-6 isolat ini memiliki enzim ekstraseluler yang lain. KESIMPULAN Hasil Isolasi jamur endofit dari daun A. marina terdapat 12 isolat, yang terdiri dari 5 genus yaitu : Aspergillus sp. Penicellium sp. Trichoderma sp. Mucor sp, dan Neuscytalidium sp. Jamur endofit penghasil enzim selulase adalah jenis Aspergillus sp dengan kode isolat DM-Am-03-OLL. DM-Am-05OLL. DT-Am-01-OLL, dan DT-Am-05-OLL. Jenis Trichoderma sp dengan kode isolate DM-Am-04-OLL dan jenis Neoscytalidium sp dengan kode isolat DT-Am-04-OLL. Jenis jamur endofit penghasil enzim selulase terbesar adalah Aspergillus sp (DM-Am-05-OLL dan DT-Am-01-OLL) dengan diameter zona bening sebesar 2 mm. Indigenous Biologi Jurnal pendidikan dan Sains Biologi 5. DAFTAR PUSTAKA