https://journals. upi-yai. id/index. php/PsikologiKreatifInovatif/issue/archive E-ISSN: 2808-3849 P-ISSN: 2808-4411 Pengaruh Burnout & Job Satisfaction Terhadap Turnover Tenaga Profesional Teknologi Informasi PT AuXAy & Subsidiary Ratih Budi Lestari1. Dina Lucia Diana2 Fakultas Psikologi Universitas Persada Indonesia Y. Jl. Pangeran Diponegoro No. Jakarta Pusat. Indonesia E-mail: ratihpratomo@gmail. com1, diana_luciadiana@yahoo. ABSTRAK Penelitian ini dilakukan untuk menganalisa pengaruh burnout & job satisfaction terhadap turnover tenaga profesional teknologi informasi di Divisi IT PT AuXAy & Anak Perusahaan. Penelitian ini merupakan Penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode probability sampling. Penelitian ini dilakukan terhadap 58 orang sampel tenaga profesional teknologi informasi. Hasil Penelitian membuktikan bahwa burnout berpengaruh secara signifikan positif terhadap turnover, job satisfaction berpengaruh secara signifikan terhadap turnover serta burnout dan job satisfaction secara bersama - sama berpengaruh signifikan terhadap turnover dengan kontribusi secara simultan variabel burnout serta job satisfaction terhadap turnover sebesar 67, 5%. Kata kunci : Burnout. Job satisfaction dan Turnover ABSTRACT This research aims to analyze the effect of burnout & job satisfaction on the turnover of information technology professionals in the IT Division of PT "X" & Subsidiary. This research is a quantitative study and uses probability sampling techniques. This research was conducted on 58 samples of information technology professionals (Echelon i and Echelon IV) in PT AuXAy and the subsidiary. From this research, it was found that Burnout has a significant positive effect on turnover. Job satisfaction has a significant contradictive effect on turnover and both burnout and job satisfaction together have a significant effect on turnover intention with simultaneous contributions or contributions variables burnout and Job satisfaction against turnover is 67. Keywords: Burnout. Job satisfaction and Turnover PENDAHULUAN Dalam memasuki era industri 4. semakin banyak perusahaan yang merambah dunia digital dalam menjalankan operasional Semangat digitalisasi, tidak hanya terlihat pada perusahaan besar atau perusahaan yang bergerak di bidang teknologi namun perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur juga kini mulai menggunakan teknologi digital untuk Perubahan ini membuat tenaga profesional Jurnal Psikologi Kreatif Inovatif Vol 3 No 1 Maret 2023 teknologi informasi semakin diminati oleh banyak industri. Biro Statistik Tenaga Kerja AS melaporkan bahwa terlihat suatu tren yang menunjukkan kekurangan tenaga kerja yang berkualitas di bidang teknologi informasi pada tahun 2013 dan 2014. Di sisi lain, terlihat bahwa industri teknologi membuka sekitar 231. 000 lowongan pekerjaan di bidang teknologi informasi dari Januari 2013 hingga Juni 2014 . eningkat 3,8% dalam periode 18 bula. , dan terjadi peningkatan perekrutan yang konsisten di E-ISSN: 2808-3849 P-ISSN: 2808-4411 https://journals. upi-yai. id/index. php/PsikologiKreatifInovatif/issue/archive semua sektor teknologi selama tahun Kebutuhan akan tenaga ahli teknologi informasi ini terus meningkat di tengah munculnya pandemi Covid-19 yang menyebabkan kebutuhan digitalisasi semakin meningkat di seluruh negara, tidak terkecuali Indonesia. Pandemi Covid-19 telah menjadi momentum yang mendorong percepatan pengembangan digitalisasi dan teknologi informasi serta komunikasi di Indonesia. Selain itu dorongan untuk mengurangi interaksi langsung selama pandemi Covid19, membuat ketergantungan terhadap aspek teknologi informasi dan komunikasi semakin tinggi (Kemenkominfo, 2. Tenaga informasi saat ini memiliki peranan penting untuk pencapaian serta keberhasilan tujuan Perusahaan. Tenaga profesional teknologi informasi adalah tenaga ahli yang memfokuskan pada sektor teknologi informasi dan hal-hal yang terkait di dalamnya. Posisi ini diantaranya yaitu Software Developer. System Analyst. Data & Network Engineer. Web Developer. Security Engineer. IT Support dan sebagainya. Teknologi informasi sendiri adalah suatu teknologi yang digunakan untuk mengolah data, memproses, mendapatkan, menyusun, menyimpan, memanipulasi data, serta menghasilkan informasi yang berkualitas, relevan, akurat dan tepat waktu, yang penting untuk memenuhi kebutuhan pribadi, bisnis, dan pemerintahan. Keakuratan dan ketepatan informasi sendiri merupakan aspek strategis yang sangat penting dalam proses pengambilan keputusan dalam Organisasi (Sutarman, 2. Ruang Lingkup Teknologi informasi tidak hanya terbatas pada teknologi komputer . erangkat keras dan perangkat luna. yang ditujukan untuk memproses dan menyimpan informasi, tetapi juga mencakup teknologi komunikasi untuk mengirimkan informasi yang ada (Martin, 1. Teknologi informasi dalam suatu organisasi mengakomodasi perubahan secara cepat dan efisien sehingga mampu mendukung organisasi dalam melakukan perubahan maupun pengembangan bisnisnya. Hal ini membuat Tenaga Profesional Teknologi Informasi memegang peranan yang penting untuk menunjang perkembangan perusahaan ditengah tuntutan digitalisasi saat ini. Dalam menjalankan perannya, tenaga profesional teknologi informasi dihadapkan pada pekerjaan dan rutinitas kerja yang cenderung monoton, serta pola kerja dan target kerja yang cenderung menekan, hal ini seringkali membuat tenaga profesional teknologi informasi merasakan stress yang cukup serius dan berada pada titik jenuh Stres kerja perlu menjadi perhatian karena sulit untuk dihindari dalam pekerjaan (Parvaiz et al. , 2015 dalam Gupta, 2. Apabila Stress ini terus berkepanjangangan dan harus dihadapi oleh karyawan di tempat kerjanya maka akan dapat menimbulkan Burnout (Ozbag & Ceyhun, 2. Schultz Schultz menyatakan burnout merupakan suatu bentuk dari stres yang disebabkan oleh beban kerja berlebih yang menyebabkan berkurangnya ketertarikan karyawan atas pekerjaannya. Pendapat tersebut sesuai dengan pendapat Ivancevich. Konopaske, dan Matteson . yang menyatakan bahwa burnout adalah suatu proses psikologis yang dibawa oleh stres pekerjaan yang tidak dapat dihindari, stress ini kemudian menyebabkan kelelahan fisik, kelelahan emosi dan perasaan tidak Pendapat lain. Tarwaka & Sudiajeng . menyebutkan bahwa burnout dapat menyebabkan kelelahan fisik ketidaknyamanan, perasaan tidak mampu untuk berprestasi, penurunan kapasitas kerja serta penurunan ketahanan tubuh yang ditandai oleh adanya penurunan kegiatan, penurunan motivasi, munculnya sinisme, kegagalan dalam pemenuhan pekerjaan, tumbuhnya ketidakpuasan hingga munculnya keinginan untuk melarikan diri dari Tenaga profesional teknologi informasi ditengah pekerjaan dan tuntutan pekerjaan yang tinggi, target waktu yang Jurnal Psikologi Kreatif Inovatif Vol 3 No 1 Maret 2023 https://journals. upi-yai. id/index. php/PsikologiKreatifInovatif/issue/archive terbatas, waktu kerja yang tidak fleksibel bahkan seringkali mengurangi waktu pribadinya, lingkungan kerja yang kurang kondusif dan beberapa alasan lainnya, seringkali merasakan burnout yang cukup Konsekuensi dari menguatnya respon negatif seorang karyawan akibat burnout baik dari segi perilaku individu yang destruktif, seperti konflik personal, sakit, penyalahgunaan obat obatan terlarang, maupun dari segi organisasi dalam hal ini adalah turnover tinggi, absensi dan berkurangnya job performance (Maslach et , 2. Pekerjaan tertentu memang kontribusi tingkat kelelahan yang tinggi, termasuk bidang Teknologi Informasi (Maslach et al. , 2. Burnout yang dirasakan akan menyebabkan penurunan ketidakpuasan karyawan dalam menjalankan Burnout pada akhirnya membuat para tenaga profesional teknologi informasi seringkali menginginkan atau mencari pekerjaan yang menawarkan keseimbangan hidup yang lebih besar, dirasakan adil dan memberikan kepuasan. Pada dasarnya kepuasan kerja tumbuh dari keyakinan seseorang bahwa perusahaan mampu menghargai kontribusi yang telah diberikan karyawan bagi organisasi dan peduli tentang kesejahteraan karyawannya, dengan memberikan hasil/kompensasi serta perlakuan dan prosedur yang adil dan berlaku menyeluruh di tempat kerja. Ketika keyakinan ini dirasakan oleh karyawan, kepuasan kerjanya akan meningkat dan akan menunjukkan perilaku melampaui harapan formal dalam pekerjaannya secara sukarela (Robbins, 2. Kepuasan kerja atau job satisfaction menggambarkan sikap seorang individu atas Seorang yang sangat puas akan menunjukkan sikap yang positif terhadap pekerjaannya, sementara seseorang yang tidak puas terhadap pekerjaannya akan menunjukkan sikap negatif terhadap (Robbins, 2. Davis dan Newstroom mendefinisikan kepuasan kerja Jurnal Psikologi Kreatif Inovatif Vol 3 No 1 Maret 2023 E-ISSN: 2808-3849 P-ISSN: 2808-4411 dengan bagaimana perasaan karyawan terkait pekerjaan yang mereka jalani. Sementara menurut Hasibuan . , kepuasan kerja menggambarkan sikap emosional yang menyenangkan dan terlihat mencintai Sikap ini terlihat dari moral kerja, kedisiplinan diri serta prestasi kerja Kepuasan kerja adalah hal yang sangat penting, perlu dijaga dan ditingkatkan oleh Perusahaan. Karyawan yang puas terhadap pekerjaan yang dijalaninya maupun apa yang ia dapatkan akan memiliki moral dan motivasi kerja yang positive, memiliki kedisiplinan kerja yang tinggi, tingkat absensi yang rendah, selalu mengikuti memberikan kinerja yang baik bagi Perusahaan mendukung Perusahaan dalam mencapai target organisasi secara optimal. Karyawan yang puas akan menunjukkan loyalitas yang baik terhadap Perusahaan, sementara rendahnya kepuasan karyawan terhadap kecenderungan seorang karyawan untuk mengundurkan diri dan menyebabkan tingginya tingkat turnover . Turnover tenaga profesional teknologi informasi saat ini adalah salah satu fenomena yang paling sering ditemui di perusahaan menggunakan teknologi digital bagi Turnover merupakan tingkat dimana seorang karyawan meninggalkan perusahaan baik secara sukarela maupun tidak sukarela karena berkurangnya ketertarikan atas pekerjan yang dijalaninya dan tersedianya alternatif pekerjaan yang lain (Bernhard et. , 2. Tingginya turnover karyawan menyebabkan tingginya biaya perekrutan, seleksi, dan Turnover membawa kerugian yang besar bagi Organisasi. Grup Gartner memperkirakan bahwa "biayanya dapat mencapai 2,5 kali gaji tahunan tenaga profesional teknologi informasi yang meninggalkan organisasi". Biaya tersebut termasuk "iklan, biaya perekrut, biaya perjalanan, wawancara, hingga waktu E-ISSN: 2808-3849 P-ISSN: 2808-4411 https://journals. upi-yai. id/index. php/PsikologiKreatifInovatif/issue/archive pelatihan Tenaga profesional teknologi informasi baru dan produktivitas yang hilang (Luftman dan Kempaiah, 2007 dalam Gumussoy. Cigdem, 2. Selain itu, pengunduran diri seorang tenaga profesional penyelesaian project menjadi terhambat, mengganggu operasional pekerjaan, serta dapat mencegah atau menunda implementasi sistem baru, karena tenaga profesional teknologi informasi membawa pengetahuan, keterampilan dan kemampuan unik dengan mereka ketika mereka meninggalkan organisasi saat ini (Moore dan Burke, 2002 dalam Gumussoy. Cigdem, 2. Dari perspektif manajemen sumber daya manusia, hilangnya seorang karyawan menimbulkan biaya yang mahal bagi perusahaan dalam hal perekrutan dan pelatihan, dan selanjutnya menjadi lebih sulit untuk mempertahankan tenaga kerja (Cho dan Sung, 2011 dalam Gumussoy. Cigdem, 2. Di sisi lain, saat ini tenaga profesional teknologi informasi mengalami tren "lompatan pekerjaan," atau praktik pindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain, terutama lazim di kalangan pekerja muda seperti milenial. Dengan keterampilan khusus yang dimilikinya, tenaga profesional teknologi informasi lebih siap untuk meninggalkan satu pekerjaan atau mencari opsi pekerjaan lainnya yang dinilai lebih sesuai dan memberikan penawarn yang lebih Tren ini menambah kompleksitas lebih dalam mencari kandidat yang memenuhi syarat untuk posisi teknis Teknologi Informasi mempertahankannya untuk waktu kerja yang lebih panjang (Harden. Gina et. , 2. Hal ini tentu membuat banyak perusahaan yang kesulitan mencari maupun mempertahankan tenaga profesional teknologi informasi yang sesuai dengan kebutuhannya. Dengan tingginya persaingan dan terbatasnya jumlah tenaga profesional teknologi informasi yang berpengalaman, membuat banyak perusahaan kompensasi, insentif, benefit, pola kerja, dan hal-hal lain yang lebih menarik. Tidak hanya gaji dan bonus serta fasilitas yang menarik, profesional teknologi informasi juga diberikan kebebasan untuk dapat bekerja secara fleksibel dari sisi waktu dan lokasi, yang membuat mereka dapat memilih untuk bekerja dimanapun dan kapanpun tanpa harus terjebak dalam kemacetan atau ruangan kerja yang monoton. Hal ini membuat tenaga tenaga profesional teknologi informasi memiliki lebih banyak kesempatan dan alternatif pilihan untuk pindah atau melakukan turnover . Tingginya tingkat turnover tenaga profesional teknologi informasi tentu saja menjadi masalah serius bagi Perusahaan, salah satunya PT AuXAy. PT AuXAy sebagai salah satu Perusahaan Manufaktur Industri Semen harus berusaha menjaga dan meminimalkan tingkat turnover tenaga Profesional Teknologi Informasi untuk dapat terus bersaing pada era digital ini. Dibanding dengan Divisi lainnya, dalam 5 tahun terakhir. PT AuXAy telah mencatat tingkat turnover yang tinggi dalam divisi it, yaitu diatas 5% untuk total voluntary turnover . Turnover ini mayoritas terjadi pada Tenaga Profesional Teknologi Informasi Echelon i dan IV, dimana tenaga profesional tersebut telah memiliki pengalaman kerja yang mendukung, berada dalam usia kerja produktif dan memiliki performa kerja yang Dari beberapa exit interview yang dilakukan ditemukan bahwa burnout dan kepuasan kerja adalah hal yang memicu tingginya turnover. Turnover Divisi IT kewalahan dalam memastikan pemenuhan pencapaian Projectnya, dan kehilangan waktu dalam melatih karyawan Selain itu turnover Perusahaan harus mengeluarkan biaya dan teknologi informasi yang baru. METODOLOGI Variabel dalam penelitian ini yaitu burnout dan job satisfaction sebagai variabel bebas . dan turnover sebagai variabel terikat (Dependen. Jurnal Psikologi Kreatif Inovatif Vol 3 No 1 Maret 2023 https://journals. upi-yai. id/index. php/PsikologiKreatifInovatif/issue/archive Definisi operasional dari variabel dalam penelitian ini, yaitu: Burnout Burnout adalah suatu sindrom yang dihasilkan dari paparan stress yang berkepanjangan yang dirasakan oleh seorang individu dalam menjalani pekerjaannya yang disebabkan oleh kelelahan fisik, emosional dan mental serta perasaan dimana mereka tidak dapat meraih pencapaian pribadi secara optimal, sehingga ia tidak lagi menikmati ataupun tidak antusias menjalani pekerjaannya. Variabel burnout diukur menggunakan aspek Maslach Burnout Inventory (MBI) yang dikemukakan oleh Christina Maslach maupun yang dikemukakan oleh Greenberg dan Baron, yaitu: kelelahan . motional depersonalisasi . dan penurunan pencapaian pribadi . educe personal accomplishmen. Job satisfaction Job satisfaction atau kepuasan kerja adalah perasaan positif yang dirasakan oleh seorang individu terkait dengan menemukan bahwa pekerjaan mereka dapat memberikan pemenuhan atas halhal yang mereka nilai penting. Variabel Job satisfaction pada penelitian ini diukur aspek-aspek dikemukakan oleh Luthans, yaitu: Work It-Self (Pekerjaan itu sendir. Pay (Gaji/ Upa. Promotion Opportunities (Kesempatan Promos. Supervision (Pengawasa. dan Working Conditions (Kondisi Kerj. Turnover Turnover Jurnal Psikologi Kreatif Inovatif Vol 3 No 1 Maret 2023 E-ISSN: 2808-3849 P-ISSN: 2808-4411 keinginannya sendiri, dan dapat pula memutuskan untuk beralih ke peluang alternatif lainnya yang ia nilai lebih baik. Variabel turnover pada penelitian ini diukur menggunakan aspek yang dikemukakan oleh Mobley, yaitu: thinking of quitting, intention to search for alternatives, dan intention to quit. Populasi dalam penelitian ini yaitu tenaga profesional teknologi informasi (Eselon i dan IV) di divisi IT PT AuXAy & Anak Perusahaan pada kuartal 3 tahun 2022. Populasi dalam penelitian ini dipilih dengan seringkali terjadi pada eselon tersebut. Populasi dalam penelitian ini adalah sebanyak 80 orang tenaga profesional teknologi informasi . karyawan dari PT AuXAy dan 15 dari karyawan anak Perusahaa. Jumlah sampel dalam penelitian ini mengacu pada teori Roscoe, maka jumlah sampel minimum penelitian ini menurut teori Roscoe adalah 3 variabel penelitian x 10 = 30 orang tenaga profesional teknologi informasi di Divisi IT PT AuXAy & Anak Perusahaan. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah probability sampling, yaitu teknik pengambilan sampel yang memberikan peluang yang sama bagi setiap unsur anggota populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel. Dalam probability sampling, peneliti menggunakan teknik simple random sampling, mengingat sampel dinilai dapat menjadi representatif atas populasi yang homogen (Sugiyono, 2. Pada penelitian ini pengumpulan data dilakukan melalui sumber primer, yaitu dimana peneliti memperoleh data secara langsung kepada sumber data melalui kuesioner . Pengujian validitas instrumen pada penelitian ini dilakukan dengan expert judgement atau pendapat ahli untuk menguji validitas konstruksi. Experts Judgement dalam penelitian ini dilakukan oleh 12 orang ahli. Adapun Experts tersebut terdiri atas lima orang dosen Fakultas Psikologi (Strata-1 dan Strata-. , dan 7 orang ahli dari Pimpinan Perusahaan (Middle & E-ISSN: 2808-3849 P-ISSN: 2808-4411 https://journals. upi-yai. id/index. php/PsikologiKreatifInovatif/issue/archive Senior Managerial Leve. Sementara pengujian validitas isi dengan bantuan program SPSS 24. 0 for Windows, yaitu dengan menggunakan korelasi Pearson (Correlate Bivariat. dengan signifikansi 2 tailed sebesar 5%. Hasil r hitung dari tiap instrumen tersebut kemudian dibandingkan dengan r tabel untuk jumlah sampel uji coba sebanyak 30 orang. Reliabitias instrumen penelitian diuji dengan bantuan program SPSS 24. 0 for Windows, yaitu dengan Reliability Analysis CronbachAos Alpha. Hasil nilai CronbachAos Alpha lalu dibandingkan dengan kaidah nilai CronbachAos Alpha. Analisa data dalam penelitian ini, menggunakan teknik regresi linear sederhana melalui melalui Bivariate Correlation Ae Pearson Product moment dan regresi linear berganda (Multivariate Correlatio. dengan bantuan program SPSS 24. 0 for Windows dengan didahului deskripsi data uji asumsi klasik . ji normalitas, uji heterokedastisitas, uji multikolinearitas dan uji autokorelas. serta kategorisasi data. LANDASAN TEORI Burnout Maslach. Christina . mendefinisikan emosional, depersonalisasi dan perasaan kurangnya pencapaian pribadi yang dapat terjadi pada karyawan dalam menjalani Greenberg and Baron . mendefinisikan burnout sebagai suatu sindrom yang dihasilkan dari paparan stress yang berkepanjangan dan terdiri atas kelelahan fisik, emosional dan mental serta perasaan kurangnya pencapaian pribadi. Paparan disebabkan faktor utama dimana adanya tuntutan pekerjaan yang berlebihan dan kerepotan yang terus-menerus berlangsung sepanjang hari. Pada penelitian ini, aspek yang dipergunakan mengacu pada aspek burnout menurut Greenberg and Baron , yaitu: emotional exhaustion, depersonalization and reduced personal Job satisfaction Greenberg Baron mendefinisikan kepuasan kerja sebagai sikap yang ditunjukkan oleh seorang individu terkait dengan pekerjaannya, baik positif Locke . mendefinisikan bahwa Job satisfaction atau Kepuasan emosional yang positif yang dihasilkan dari penilaian seseorang atas pekerjaannya atau pengalaman kerja yang mereka rasakan. Locke . dalam Luthans . secara kepuasan kerja melibatkan reaksi kognitif, afektif, dan reaksi evaluatif yang positif yang diperoleh dari penilaian seorang individu terhadap pekerjaan yang mereka jalani atau pengalaman kerja mereka. Kepuasan kerja merupakan hasil dari persepsi karyawan tentang seberapa baik pekerjaan mereka dapat memenuhi hal-hal yang mereka nilai Pada penelitian ini, maka peneliti akan mempergunakan aspek yang mengacu pada aspek Job satisfaction menurut Luthans . , yaitu: work itself, pay, promotion opportunities, supervision dan working Turnover Turnover adalah berhentinya seseorang karyawan dari tempatnya bekerja secara sukarela atau berpindahnya seorang karyawan dari satu tempat kerja ke tempat kerja yang lain (Zefanne, 1. Menurut Mobley et. dalam Halimah et. Turnover atau keinginan untuk pindah adalah kecenderungan atau niat karyawan untuk berhenti dari pekerjaannya secara sukarela atau pindah dari satu tempat kerja ke tempat kerja yang lain sesuai dengan pilihannya sendiri. Keinginan untuk pindah merupakan gejala awal terjadinya Turnover dalam sebuah perusahaan. Pada penelitian ini, peneliti akan mempergunakan aspek Turnover menurut Mobley et al dalam Tika Nur Halimah et all . , yaitu: thinking of quitting, intention to search for alternatives, dan intention to quit. Jurnal Psikologi Kreatif Inovatif Vol 3 No 1 Maret 2023 https://journals. upi-yai. id/index. php/PsikologiKreatifInovatif/issue/archive Hipotesis Hipotesis dalam Penelitian ini adalah: C H1 : Burnout berpengaruh secara signifikan terhadap Turnover C H2 : Job satisfaction berpengaruh secara signifikan terhadap Turnover C H3 : Burnout & Job satisfaction berpengaruh secara signifikan terhadap Turnover Conceptual Framework Gambar 1. Conceptual Framework HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini membahas mengenai fenomena turnover yang terjadi pada tenaga profesional teknologi informasi di Divisi IT PT AuXAy & Anak Perusahaan. Turnover di Divisi IT terjadi hingga lebih dari 5% dalam 5 tahun terakhir, hal ini sangat berbeda dengan Divisi lain di PT AuXAy dimana turnover rate berkisar pada angka 0,4 - 0,7% per tahun. Dari hasil exit interview yang dilakukan terhadap tenaga profesional teknologi informasi yang mengundurkan diri, burnout dan job satisfaction disebutkan sebagai latar belakang yang mempengaruhi fenomena turnover tersebut. Pengujian hipotesis I dilakukan dengan metode Bivariate Correlation Ae Pearson Product moment. Dari hasil pengujian diperoleh nilai R Pearson Correlation sebesar 0. 566 lebih besar dari 2542 . ilai R tabe. Maka disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang cukup kuat antara burnout dan turnover. Jurnal Psikologi Kreatif Inovatif Vol 3 No 1 Maret 2023 E-ISSN: 2808-3849 P-ISSN: 2808-4411 Pengujian hipotesis II dilakukan dengan metode Bivariate Correlation Ae Pearson Product moment. Dari hasil pengujian diperoleh nilai R Pearson Correlation sebesar - 0. 765 lebih besar dari 2542 . ilai R tabe. Maka disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima, terdapat hubungan korelasi negatif yang kuat antara job satisfaction dan turnover. Pengujian hipotesis i dilakukan dengan metode Regresi Linear Berganda (Multivariate Correlatio. Dari hasil pengujian didapatkan bahwa besarnya hubungan antara burnout dan job satisfaction . ecara simulta. terhadap turnover yang dihitung dengan koefisien korelasi adalah 0,821. Hal ini menunjukkan adanya pengaruh yang sangat kuat antara burnout dan Job satisfaction . ecara simulta. terhadap Sedangkan kontribusi atau sumbangan secara simultan variabel burnout dan Job satisfaction terhadap turnover adalah 67,5% dan 32,5% lainnya ditentukan oleh variabel yang lain. Selain itu berdasarkan tabel model summary juga diperoleh nilai probabilitas (Sig. F Chang. sebesar 0,000. Ketika nilai Sig. F Change < 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima, yaitu Burnout & Job satisfaction berpengaruh sangat kuat secara signifikan terhadap Turnover. Hasil analisa secara keseluruhan menunjukkan bahwa tingkat burnout yang tinggi dirasakan oleh posisi System Analyst/Programmer. Tingkat Burnout menengah 69% dirasakan oleh System Analyst/Programmer & Senior System Analyst/Programmer dan sisanya dirasakan oleh posisi lainnya. Sementara Tingkat burnout rendah secara mayoritas dirasakan oleh posisi IT Suport. Hal ini sesuai dengan data resign dan exit interview yang dilakukan terhadap karyawan resign dimana disebutkan bahwa burnout menjadi salah satu hal yang menjadi keputusan mereka dalam mengajukan resign. Sementara tingkat job satisfaction yang rendah dirasakan oleh posisi System Analyst/Programmer yaitu pada aspek promotion opportunities, supervision dan E-ISSN: 2808-3849 P-ISSN: 2808-4411 https://journals. upi-yai. id/index. php/PsikologiKreatifInovatif/issue/archive working conditions. Pada tenaga profesional wanita, dengan job title yang sama (System Analyst/Programmer/Business Analys. , kebutuhan akan kondisi kerja yang nyaman dan pemenuhan kebutuhan personal juga perlu menjadi perhatian. Tuntutan untuk menjalani peran ganda bagi perempuan pekerja sebagai pekerja dan Ibu rumah tangga adalah hal yang tidak dapat dihindarkan. worklife balance melalui flexible working arrangement sepertinya menjadi hal yang diidamkan oleh tenaga profesional wanita, terlebih hampir seluruh tenaga profesional wanita di Divisi IT berada dalam departemen dengan jumlah beban kerja dan deadline pekerjaan yang ketat. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang dilakukan, maka dapat ditarik kesimpulan sebagaimana berikut: Berdasarkan hasil analisis data pada hubungan atau pengaruh antara burnout dan turnover (Ha. yang diolah dengan Bivariate Correlation Ae Pearson Product moment, diperoleh hubungan dengan arah positif yang cukup kuat antara burnout terhadap turnover . Dari hasil pengujian diperoleh nilai R Pearson Correlation sebesar 0. 566 lebih besar dari 0. ilai R tabe. Maka disimpulkan bahwa Ho1 ditolak dan Ha1 diterima, burnout berpengaruh secara . ignifikansi positif cukup kua. Berdasarkan hasil analisis data pada hubungan antara job satisfaction dan turnover (Ha. yang diolah dengan Bivariate Correlation Ae Pearson Product moment, diperoleh hubungan dengan arah negatif yang kuat antara job satisfaction dan turnover . Semakin tinggi job satisfaction yang dirasakan oleh karyawan maka semakin rendah kecenderungan turnover intention yang dirasakan oleh karyawan. Dari hasil pengujian diperoleh nilai R Pearson Correlation sebesar - 0. 765 lebih besar 2542 . ilai R tabe. Maka disimpulkan bahwa Ho2 ditolak dan Ha2 diterima, job satisfaction berpengaruh . ignifikansi negatif kua. Berdasarkan hasil analisis data pada hubungan antara burnout & job bersama-sama terhadap turnover (Ha. yang diolah dengan dilakukan dengan metode Regresi Linear Berganda (Multivariate Correlatio. , diperoleh bahwa terdapat adanya pengaruh yang sangat kuat secara signifikan antara burnout dan job satisfaction bersama-sama . ecara simulta. terhadap turnover . Dari hasil pengujian didapatkan bahwa besarnya hubungan antara burnout dan Job satisfaction . ecara simulta. terhadap yang dihitung dengan koefisien korelasi adalah 0,821. Hal ini menunjukkan adanya pengaruh yang sangat kuat antara burnout dan Job satisfaction . ecara simulta. terhadap Sedangkan kontribusi atau sumbanagan secara simultan variabel burnout dan Job satisfaction terhadap turnover adalah 67,5% dan 32,5% lainnya ditentukan oleh variabel yang Selain itu berdasarkan tabel model probabilitas (Sig. F Chang. sebesar 0,000. Ketika nilai Sig. F Change < 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa Ho3 ditolak dan Ha3 diterima, yaitu burnout & job satisfaction berpengaruh secara . ignifikansi sangat kua. Jurnal Psikologi Kreatif Inovatif Vol 3 No 1 Maret 2023 https://journals. upi-yai. id/index. php/PsikologiKreatifInovatif/issue/archive DAFTAR PUSTAKA