Ada Apa Dengan Cinta? Pengelolaan KBC dalam Ekosistem Pembelajaran Mendalam Dr. Iksan. Pd. ADA APA DENGAN CINTA? PENGELOLAAN KBC DALAM EKOSISTEM PEMBELAJARAN MENDALAM Dr. Iksan. Pd. UIN Sunan Ampel Surabaya sahri@uinsa. PENDAHULUAN Paham keagamaan seseorang dipengaruhi oleh pendidikan baik formal maupun nonformal. Dengan kata lain, paham keagamaan seseorang dipengaruhi oleh buku, guru, dosen, pesantren, dai, khatib, guru ngaji/ ustadz, internet dan lingkungan. Masalahnya, tidak semua hal ini membawa pesan kedamaian, kesejukan, kasih sayang, dan persatuan. Sebaliknya, ia bisa menyulut perpecahan, tumpah darah, dan kebencian antar umat beragama, antar sesama warga Indonesia. Temuan dari Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta . mengonfirmasi bahwa setidaknya terdapat siswa dan mahasiswa terpapar Sekitar 58% memiliki opini radikal, 51,1% opini intoleransi di kalangan internal muslim, dan 34,4% beropini intoleransi di kalangan eksternal muslim (Abdallah 2. Padahal tugas utama pendidikan adalah mencegah penyebaran radikalisme dan dampak pemahaman keliru tersebut bagi perdamaian dan keamanan bangsa ini. Dalam laporan yang disampaikan Kurniawan, ditemukan buku PAI yang mengandung muatan radikalisme dan intoleransi. Materi bernuansa radikal ditemukan di buku PAI dan BP kelas 11 tingkat SMA di halaman 170. Buku itu merupakan buku paket Kurikulum 2013 yang dikirimkan dari Kemendikbud. Materinya menuliskan profil dan ajaran tokoh Islam garis keras Muhammad bin Abdul Wahab. Salah satu pendapatnya yaitu boleh membunuh orang yang tak menyembah Allah SWT (Kurniawan 2. Center for The Study of Islam and Social Transformation (CISFor. UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang bekerja sama dengan PPIM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta mengungkapkan, sebanyak 41,6 % mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam berpandangan bahwa pemerintah Indonesia adalah thaghut . esat, jauh dari kebenaran Isla. (Alawi 2. Muatan buku keagamaan yang mengandung muatan intoleransi dan radikalisme ini bertentangan dengan tujuan PAI sendiri, yaitu pembentukan karakter siswa yang saleh secara sosial dan spiritual. Artinya. PAI diharapkan melahirkan manusia yang bisa menerima perbedaan agama, suku, dan pilihan politik, sehingga tercipta kehidupan yang aman, tenteram, damai, dan harmonis. 2nd Annual Islamic Conference for Learning and Management UIN Sunan Ampel Surabaya Jl. Yani 117 Surabaya Halaman 1 2nd AICLeMA AuMenyemai Kurikulum Berbasis Cinta dalam Ekosistem Pembelajaran MendalamAu Dalam aspek SDM, guru PAI terpapar paham radikal dan intoleran. Dalam survei PPIM yang mengambil sampel 2. 237 guru Muslim. Mereka terdiri dari guru TK. Raudatul Athfal. SD. Madrasah Ibtidaiyah (MI). SMP. Madrasah Tsanawiyah (MTS). SMA, dan Madrasah Aliyah (MA) di Indonesia. Dari jumlah tersebut. PPIM menemukan sebanyak 10,01 persen guru Muslim punya opini sangat intoleran secara implisit dan 53,06 persen memiliki opini yang intoleran secara implisit. Selain itu, 6,03 persen guru Muslim memiliki opini sangat intoleran dan 50,87 persen guru memiliki opini intoleran secara eksplisit (Tim CNN Indonesia, 2. Penulisan buku yang intolerant dan mengajarkan kebencian bisa terjadi karena disengaja atau tidak disengaja oleh penulisnya. Karena itu, penulisan buku PAI harus diberi waktu yang cukup. Tidak tergesa-gesa atau mepet Demikian pula koreksi dan penilaian buku PAI harus cukup waktu, dan dinilai oleh pakar PAI, dosen dan guru senior. Penulis buku PAI harus ahli di bidang tersebut. Buku PAI yang digunakan sekolah negeri dan swasta dinilai muatannya, baik yang diterbitkan pemerintah maupun swasta. Penerbitan buku-buku keagamaan yang menampilkan wajah Islam moderat, toleransi, cinta damai, kasih sayang, rahmatan lil Aoalamin, bisa menjadi solusi alternatif. Upaya deradikalisasi di lingkungan Kementerian Agama sendiri sebenarnya sudah dimulai sejak beberapa dasawarsa lalu melalui diksi toleransi beragama dan kini melalui upaya menginginisiasi Kurikulum Berbasis Cinta. HASIL DAN PEMBAHASAN KBC: Jalan Menuju Tuhan AoBanyak jalan menuju Tuhan, tapi jalan cinta adalah jalan yang utamaAo. Istilah Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) sendiri sebenarnya debatable. Diksi kurikulum mengidealkan bahwa ia adalah satu set desain pembelajaran mulai dari perencanaan hingga evaluasi. Beberapa pertanyaan adalah apakah ini tidak bertentangan dengan Pembelajaran Mendalam yang sedang diusung oleh Abdul Mukti. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, atau apakah ini tidak menabrak Kurikulum Merdeka yang sudah diterapkan dan menjadi kurikulum nasional lewat regulasi yang ada. Terlepas dari itu semua, pembahasan awal KBC ini adalah tatkala Menteri Agama pada masa Prabowo-Gibran. Nasarudin Umar menginisiasi jalan cinta untuk agama-agama. Baginya, idealnya beragama itu menimbulkan cinta kasih dan bukan kebencian. Idealnya, beragama itu menyatukan bukan memecah Atas dasar itulah kemudian bersama berbagai tim dari Kementerian agama, dimunculkan diksi Kurikulum Berbasis Cinta. Keinginannya sederhana yaitu beragama mazhab cinta lah yang ingin direngkuh dan bukan beragama mazhab kebencian. Ia menilai bahwa sisi-sisi inilah yang harus ditonjolkan dan diajarkan kepada para siswa dan bukan sebaliknya. Halaman 2 Surabaya, 4 Desember 2025 UIN Sunan Ampel Surabaya Jl. Yani 117 Surabaya Ada Apa Dengan Cinta? Pengelolaan KBC dalam Ekosistem Pembelajaran Mendalam Dr. Iksan. Pd. Dua Sisi Mata Uang: KBC dan Pembelajaran Mendalam Secara substantif. KBC dijabarkan ke dalam lima dimensi fundamental yang disebut "Panca Cinta". Kelima dimensi ini merentang dari hubungan vertikal yang transendental hingga hubungan horizontal yang sosiologis dan Pertama, adalah Sumber Cinta, yakni Cinta. Ini adalah jangkar ontologis. Peserta didik diajak meneladani akhlak Allah yang Maha Cinta dan Rasulullah sebagai sosok teladan penuh cinta. Di sinilah letak pembeda pendidikan ia tidak sekering transfer pengetahuan, tetapi basah oleh nilai-nilai Kedua. Cinta Ilmu. Dalam tradisi intelektual Islam, ilmu adalah cahaya. KBC menekankan pemahaman bahwa ilmu adalah "cahaya cinta Allah" yang menerangi kehidupan. Mencintai ilmu bukan sekadar untuk lulus ujian, melainkan kecintaan pada sumber ilmu itu sendiri. Ketiga. Tanda Cinta yang mewujud dalam Cinta Lingkungan. Di tengah krisis iklim global, pendidikan madrasah menawarkan perspektif teologisekologis: alam adalah tanda cinta Allah yang harus dijaga. Seorang siswa yang mencintai lingkungan sesungguhnya sedang menghormati Sang Pencipta. Keempat. Tali Cinta berupa Cinta Diri dan Sesama Manusia. KBC mengajarkan bahwa mencintai diri sendiri adalah langkah awal mengenal Tuhan, dan karena manusia saling terhubung, mencintai sesama adalah niscaya. Kelima. Cinta Tanah Air. Nasionalisme dalam bingkai KBC diposisikan sebagai bagian dari iman, sebuah manifestasi syukur atas amanah negara yang harus dijaga. Jika KBC adalah "jiwa", maka tubuh pendidikannya memerlukan sebuah sistem gerak yang lincah dan adaptif. Di sinilah peran strategis Pembelajaran Mendalam (PM) atau Deep Learning. PM didefinisikan sebagai pendekatan yang memuliakan . pproach that dignifie. , dengan penekanan pada penciptaan suasana belajar yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Paradigma ini merupakan antitesis dari model pembelajaran yang dangkal dan berpusat pada hafalan semata. PM menuntut keterlibatan manusia secara utuh olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah raga secara holistik dan terpadu. Secara praksis. PM dioperasionalisasikan melalui empat kerangka kerja yang sistematis: praktik pedagogis yang inovatif, kemitraan pembelajaran yang kolaboratif, lingkungan pembelajaran yang kondusif, dan pemanfaatan digital sebagai pengungkit. Kerangka ini diadaptasi dari konsep New Pedagogies for Deep Learning yang berstandar global. Proses kognitif dalam PM tidak berhenti pada "tahu". Ia bergerak dalam siklus dinamis: Memahami. Mengaplikasi, dan Merefleksi. Dimensi refleksi di sini menjadi sangat krusial. Tanpa refleksi, pengetahuan hanya akan menumpuk 2nd Annual Islamic Conference for Learning and Management UIN Sunan Ampel Surabaya Jl. Yani 117 Surabaya Halaman 3 2nd AICLeMA AuMenyemai Kurikulum Berbasis Cinta dalam Ekosistem Pembelajaran MendalamAu tanpa menjadi hikmah. Melalui refleksi, siswa diajak memaknai pengalaman belajarnya, menghubungkannya dengan realitas, dan pada akhirnya, menemukan relevansi ilmu bagi kehidupannya. Tujuan akhirnya adalah membentuk profil lulusan yang kompeten menghadapi abad ke-21. Ini mencakup dimensi keimanan dan ketakwaan, kewargaan . , kreativitas, penalaran kritis, kolaborasi, kemandirian, kesehatan, dan komunikasi. Seringkali dalam kebijakan pendidikan, kita terjebak pada dikotomi: apakah kita fokus pada karakter atau kompetensi? Kemenag, melalui integrasi KBC dan PM, tampaknya ingin melampaui dikotomi tersebut. Keduanya memiliki distingsi yang jelas namun saling melengkapi . utually Mari kita perhatikan tabel perbandingan berikut untuk memahami demarkasi sekaligus titik temu keduanya: Tabel 1. Distingsi Kurikulum Berbasis Cinta dan Pembelajaran Mendalam Aspek Hakikat & Fokus Ruang Lingkup Peran Utama Orientasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) Pembelajaran Mendalam (PM) Jiwa . dari seluruh Fokus pada landasan nilai, filosofi, dan budaya Metodologi dalam kelas. Fokus pada proses belajar- mengajar yang Mencakup budaya, dan kebijakan Menjadi roh yang menjiwai implementasi kurikulum Cinta, kasih sayang, kemanusiaan, dan Tercermin dalam kebijakan, iklim madrasah/sekolah, dan Implementasi seluruh kegiatan pendidikan. Posisi Halaman 4 Filosofis-Kultural. Terbatas pada interaksi pembelajaran langsung di Menjadi strategi implementasi untuk menciptakan suasana belajar yang memuliakan. Kesadaran, makna, kegembiraan, serta pengolahan aspek kognitif, afektif, dan Tercermin dalam aktivitas belajar melalui olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah Praktis-Metodologis. Surabaya, 4 Desember 2025 UIN Sunan Ampel Surabaya Jl. Yani 117 Surabaya Ada Apa Dengan Cinta? Pengelolaan KBC dalam Ekosistem Pembelajaran Mendalam Dr. Iksan. Pd. Dari tabel di atas, terlihat jelas pembagian peran yang harmonis. KBC bekerja di level filosofis kultural, dan arah moral. Sementara itu. PM bekerja di level metodik dan teknis, memastikan proses transfer nilai dan ilmu tersebut terjadi secara efektif, menyenangkan, dan mendalam. KBC menjawab pertanyaan "Untuk apa kita mendidik?"-yakni untuk melahirkan insan yang berakar pada nilai cinta kasih universal dan kebangsaan. Sedangkan PM menjawab "Bagaimana kita mendidik?"-yakni melalui praktik pedagogis yang sistematis dan desain pembelajaran yang menekankan pemahaman serta Integrasi antara Kurikulum Berbasis Cinta dan Pembelajaran Mendalam sesungguhnya adalah respons peradaban dari Kementerian Agama. Di satu sisi, kita ingin menjaga identitas keislaman dan keindonesiaan yang ramah, toleran, dan penuh cinta melalui KBC. Di sisi lain, kita sadar bahwa umat Islam tidak boleh tertinggal secara intelektual. mereka harus menjadi pembelajar yang kritis, kreatif, dan mandiri melalui PM. KBC adalah upaya Kementerian agama untuk memilih jalan memahami agama dengan mengedepankan jalan sisi cinta kasih. Kemenag mengidealkan bahwa anak-anak dididik dengan moral keagamaan yang damai, toleran dan penuh cinta kasih. Tujuannya tentu tidak sekedar menghasilkan kohesi sosial di masa akan datang tapi juga sebagai representasi wajah Islam Indonesia di mata Praktiknya tentu harus kita terus awasi dan kritisi untuk perbaikanperbaikan di masa yang akan datang. 2nd Annual Islamic Conference for Learning and Management UIN Sunan Ampel Surabaya Jl. Yani 117 Surabaya Halaman 5