Murai : Jurnal Papua Teologi Kontekstual ISSN : 2746-4814 Vol 6. No 2. Juli 2025 JANGAN SURUH AKU KEMBALI KE MESIR: MASA LALU DALAM TEOLOGI DAN BUDAYA Frazier Nari Institut Agama Kristen Negeri Ambon frazierjackson70@gmail. ABSTRAK Penelitian ini mengkaji tema "Jangan Suruh Aku Kembali ke Mesir" dalam konteks teologi dan budaya, dengan fokus pada kajian hermeneutik-biblika serta relevansi kontekstual dalam pemahaman masa lalu. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana teologi kontekstual dapat memberikan pemahaman baru tentang pembebasan bagi Orang Asli Papua yang mengalami diskriminasi rasial. Penelitian ini juga meneliti bagaimana pengakuan iman Gereja Kristen Injili di Tanah Papua dapat mempromosikan keadilan sosial, hak-hak asasi manusia, dan penghormatan terhadap martabat orang Papua. Pertanyaan penelitian utama yang diajukan adalah bagaimana peristiwa Mesir dalam Alkitab dapat diterjemahkan dalam konteks zaman modern, terutama dalam kaitannya dengan pembebasan dan penindasan. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan analisis tekstual terhadap teks-teks Alkitab, buku-buku dan artikel yang relevan, serta mempertimbangkan dinamika sosial yang berkembang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan kata AuMesirAy sebagai simbol dalam teks-teks biblika sering kali mencerminkan ketegangan antara pengharapan untuk pembebasan dari pengalaman penindasan. Penelitian ini menyoroti relevansi tema tersebut dalam kehidupan kontemporer, serta implikasinya terhadap pemahaman teologis dan sosial. Kata Kunci : Teologi Kontekstual. Pembebasan. Diskriminasi. Hak Asasi Manusia. Keadilan ABSTRACT This study examines the theme "Do Not Tell Me to Return to Egypt" within theological and cultural contexts, focusing on a biblical-hermeneutical approach and the contextual relevance in understanding the past. The research aims to explore how contextual theology can offer new insights into liberation for the Indigenous Papuans who experience racial discrimination. It also investigates how the confession of faith of the Evangelical Christian Church in Papua can promote social justice, human rights, and respect for the dignity of the Papuan people. The main research question addresses how the biblical event of Egypt can be interpreted in a modern context, particularly in relation to liberation and oppression. The method used is qualitative, employing textual analysis of biblical texts, relevant books, and articles, while also considering evolving social dynamics. The findings indicate that the use of AuEgyptAy as a symbol in biblical texts often reflects the tension between the hope for liberation and the experience of oppression. This study highlights the contemporary relevance of this theme, as well as its implications for theological and social understanding. Keywords : Contextual Theology. Liberation. Discrimination. Human Rights. Justice PENDAHULUAN Pada narasi Eksodus, kisah pembebasan umat Israel dari tanah Mesir menjadi titik tolak yang kuat dalam membentuk identitas iman dan teologi pembebasan (Waoma and Rusmiyanto 2023:35Ae. AuJangan suruh aku kembali ke MesirAy bukan sekadar penolakan untuk kembali secara fisik ke tanah perbudakan, tetapi juga menjadi simbol perlawanan terhadap setiap bentuk penindasan, ketidakadilan, terlebih khusus diskriminasi Dalam konteks modern, terutama di wilayah-wilayah yang mengalami sejarah panjang tentang penindasan, ketidakadilan, diskriminasi ras, dan penghapusan identitas budaya, ungkapan ini mendapatkan makna baru yang relevan dan kontekstual. Salah satu komunitas yang paling merasakan beban historis ini adalah Orang Asli Papua di Indonesia. Papua adalah sebuah wilayah yang secara geografis kaya, namun mengalami ketimpangan sosial dan ekonomi yang mencolok. Lebih dari itu, penduduk aslinya sering kali menghadapi perlakuan diskriminatif, dalam berbagai ranah kehidupan. Diskriminasi rasial terhadap Orang Asli Papua bukan hanya terjadi dalam dimensi sosial-politik, tetapi juga berdampak pada pengalaman spiritual mereka (Laksono and Hadi Wiranata 2024:3Ae. Dalam situasi seperti ini, gereja sebagai lembaga moral dan spiritual memiliki peran sentral dalam menyuarakan keadilan dan pengharapan. Gereja Kristen Injili (GKI) di Tanah Papua, sebagai bagian dari tubuh Kristus yang hadir di tengah realitas kompleks ini, dihadapkan pada tanggung jawab profetis untuk menafsir ulang ajaran-ajaran Alkitab demi kepentingan pembebasan diskriminasi rasial umatnya. Permasalahan yang melatarbelakangi penelitian ini berakar dari kegelisahan teologis dan budaya, bagaimana masa lalu masih terus mempengaruhi pemahaman umat akan keadilan dan juga pembebasan diskriminasi Narasi AukeluarAy dari Mesir sering kali dijadikan sebagai kerangka besar dalam teologi pembebasan di berbagai belahan dunia, seperti yang dilakukan oleh teolog-teolog Amerika Latin. Afrika, dan bahkan dalam konteks teologi kulit hitam di Amerika Serikat (Firmansah. Joswanto, and Simon 2022:. Namun, dalam konteks Papua, eksplorasi terhadap narasi biblika seperti AukeluaranAy belum sepenuhnya digali secara mendalam dengan pendekatan yang kontekstual. Ini menimbulkan pertanyaan penting: Bagaimana teks-teks Alkitab, khususnya yang berkaitan dengan pengalaman pembebasan dari Mesir, dapat dibaca kembali dalam terang situasi Papua saat ini? Beberapa studi sebelumnya telah membahas penggunaan narasi Eksodus sebagai simbol teologis Teolog seperti James H. Cone telah menjadikan kisah keluaran sebagai titik berangkat dalam mengembangkan teologi pembebasan dan teologi kulit hitam (Firmansah et al. Namun, dalam konteks Indonesia, khususnya Papua, pendekatan semacam ini masih sangat terbatas. Beberapa studi teologi kontekstual di Papua lebih menekankan pada inkulturasi atau integrasi nilai-nilai lokal dengan iman Kristen, tetapi belum secara spesifik memanfaatkan narasi AukeluaranAy sebagai alat hermeneutik-biblika untuk memahami perjuangan diskiminasi rasial Orang Asli Papua. Oleh karena itu, penelitian ini berupaya mengisi kekosongan tersebut dengan menafsir ulang kisah pembebasan dari Mesir sebagai simbol penolakan terhadap diskriminasi kontemporer di Papua. Penelitian ini juga ingin menyoroti peran penting Gereja Kristen Injili di Tanah Papua dalam mendampingi umat menghadapi realitas diskriminasi dan marginalisasi. Gereja bukan sekadar tempat peribadatan, tetapi juga komunitas yang hidup di tengah masyarakat yang terbelah antara kekuasaan dan ketertindasan. Dalam kerangka ini, teologi tidak lagi bersifat abstrak atau dogmatis, melainkan harus menjadi praksis yang membebaskan. Maka, membaca kembali kisah Mesir dari sudut pandang orang Papua bukanlah sebuah eksperimen hermeneutik belaka, melainkan sebuah upaya pembebasan spiritual dan sosial yang mendalam. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi bagaimana kisah pembebasan dari Mesir dapat menjadi simbol perlawanan terhadap penindasan yang dialami oleh Orang Asli Papua. Melalui kajian hermeneutik-bibika dengan pendekatan teologi kontekstual, penelitian ini berusaha menafsirkan ulang teksteks Alkitab dengan mempertimbangkan pengalaman konkret umat Papua. Dengan demikian, tulisan ini berusaha menghadirkan teologi yang berpihak, teologi yang hadir di tengah pergumulan nyata, dan bukan teologi yang netral atau mengambang. Dalam hal ini, dinamika sosial dan historis Papua juga menjadi pertimbangan penting dalam analisis, karena teologi tidak bisa dilepaskan dari konteks sosial tempat ia dihidupi dan dipraktikkan. Kebaruan dari penelitian ini terletak pada usahanya mengaitkan simbol AuMesirAy dalam Alkitab dengan pengalaman historis dan kontemporer Orang Asli Papua. Alih-alih sekadar memahami Mesir sebagai tempat fisik atau peristiwa historis semata, penelitian ini mengangkatnya sebagai metafora bagi sistem penindasan struktural dan dominasi kultural yang dialami oleh masyarakat Papua. Dengan demikian. Mesir menjadi simbol dari masa lalu yang menindas, yang terus membayangi, dan dari mana umat terus-menerus berusaha keluar. Ini adalah masa lalu yang bukan untuk dikenang sebagai nostalgia, melainkan untuk ditolak dan ditinggalkan. Dengan menegaskan bahwa AuJangan Suruh Aku Kembali ke MesirAy, memperlihatkan bahwa pembebasan bukan hanya soal masa lampau yang telah usai, tetapi merupakan proses terus-menerus dalam sejarah manusia. Bagi Orang Asli Papua, pembebasan berarti menolak kembali ke struktur-struktur lama yang menindas, menolak narasi besar yang menghapus identitas mereka, dan menolak bentuk-bentuk kekuasaan yang tidak adil. Dalam terang Injil, teologi menjadi alat pembebasan, bukan sekadar instrumen penataan moralitas individu, tetapi sebuah kekuatan untuk mengeluarkan masyarakat dari persoalan diskriminasi rasial. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis tekstual hermeneutik-biblika, yang berpijak pada paradigma teologi kontekstual dan teologi pembebasan. Pendekatan ini dipilih karena memungkinkan peneliti untuk membaca teks Alkitab secara mendalam, bukan hanya sebagai dokumen sejarah atau objek doktrin, tetapi sebagai suara profetik yang hidup dan berbicara kepada konteks nyata yang dialami umat yang tertindas, dalam hal ini Orang Asli Papua. Penelitian ini memandang teks Alkitab sebagai ruang perjumpaan antara wahyu ilahi dan realitas manusia, dan karena itu penafsiran dalam penelitian ini sangat mempertimbangkan konteks sosial, historis, dan budaya orang Papua. Secara metodologis, penelitian ini diawali dengan kajian literatur untuk membangun kerangka teoritis yang interdisipliner, mencakup kajian biblika, teologi pembebasan, teologi kontekstual, dan kajian sosialkultural mengenai Papua. Literatur yang digunakan meliputi sumber primer berupa teks Kitab dalam bahasa Ibrani khususnya Kitab Keluaran pasal 1, serta sumber sekunder berupa buku dan artikel ilmiah. Tahap berikutnya adalah analisis terhadap teks-teks Alkitab, dengan fokus pada narasi Eksodus bangsa Israel dari tanah Mesir. Penelitian ini dilakukan secara hermeneutik-biblika dengan memperhatikan struktur literer, konteks historis, serta makna simbolik dari kata dan frasa penting dalam bahasa aslinya. Pendekatan historicalbiblical digunakan untuk menempatkan teks dalam konteks sejarahnya, sementara pendekatan sociorhetorical membantu dalam mengidentifikasi relasi kuasa yang hadir dalam narasi tersebut. Setelah peneliti menemukan makna-makna penting dalam teks, hasil analisis tersebut kemudian dikontekstualisasikan dengan realitas sosial Orang Asli Papua. Proses ini dilakukan melalui pendekatan analogical imagination, sebagaimana dikembangkan oleh David Tracy, yaitu dengan membangun jembatan imajinatif dan etis antara dunia teks dan dunia umat masa kini (Tracy 1. Tahap terakhir dari penelitian ini adalah refleksi teologis. Peneliti menggali makna teologis yang terkandung dalam narasi Eksodus sebagai paradigma pembebasan, serta mengaitkannya dengan pengakuan iman Gereja Kristen Injili di Tanah Papua, khususnya kalimat terakhir dari pengakuan iman tersebut. Dengan metode ini, penelitian ini tidak hanya bertujuan untuk menafsir teks, tetapi juga untuk menyuarakan tangisan yang tersembunyi di balik teks. penelitian ini adalah bentuk usaha untuk menghidupkan kembali suara kenabian dari teks Alkitab dalam menghadapi realitas diskriminasi dan ketidakadilan yang masih terus berlangsung di tanah Papua. HASIL DAN PEMBAHASAN Mesir sebagai Simbol Diskriminasi dalam Narasi Eksodus Grafik 1. Rantai Diskriminasi Terhadap Bangsa Israel di Mesir Dalam narasi Eksodus A( AiAShemot - Keluara. pasal 1, kisah bermula dengan gambaran perkembangan dan pertumbuhan A( cA Ao o A aA uABenei YisraAoe. , yaitu bangsa Israel, di tanah Mesir. AioA i o oiyA A( ioA io ui y io A Ai io Aci io A i c Aae AaeAvayehi yom vayehi lahem vayishretzu vayirbu vayaatzmu bimAood meAoo. , yang berarti AuMereka bertambah banyak, berkembang biak dan menjadi sangat kuatAy (Keluaran 1:. (Gowan 1. Pertumbuhan jumlah ini bukan hanya kuantitatif, tetapi juga menggambarkan keberadaan komunitas yang semakin menegaskan identitasnya di tengah masyarakat Mesir. Namun, kemajuan ini segera memunculkan kekhawatiran bagi A( uo e AMelekh Chadash - Raja Bar. yang tidak mengenal Yusuf (Keluaran 1:. (Barrett 2. Firaun berkata: A( iA y cA Ao o A aA u c iA iy iAHen Aoam Benei YisraAoel rav veAoatzum mimmen. AuLihatlah, bangsa Israel itu banyak dan lebih kuat daripada kitaAy (Keluaran 1:. Dalam pernyataan ini. AAo( yAa. menandakan bukan sekadar kelompok sosial, tetapi komunitas etnik yang berbeda dan berdiri sendiri. Kekhawatiran Firaun bukan atas dasar persaingan ekonomi, melainkan karena identitas etnis yang berbeda yang dianggap mengancam keberadaan bangsa Mesir (Stuart 2006:53Ae. Penggunaan kata A( cArav Ae banya. dan A( iyAatzum Ae kua. menggambarkan bukan hanya kuantitas, tetapi juga potensi daya pengaruh dan eksistensi sosial yang signifikan. Kekhawatiran ini berujung pada kebijakan diskriminatif yang bertujuan membatasi pertumbuhan dan keberadaan bangsa Israel sebagai kelompok yang berbeda secara etnis dan sosial. Firaun kemudian mengusulkan tindakan strategis: Ai c iA Ao A eu i uA i A uoiA A( A uA i ui o Ac i iA i oi uAHavah nitchakmah lo pen yirbeh vehayah ki tichdol hamilchamah meAoala. AuMarilah kita bertindak bijaksana terhadapnya supaya mereka jangan bertambah banyak, dan jika terjadi perang, mereka dapat bergabung dengan musuh dan memerangi kitaAy (Keluaran 1:10-. Kata A( A uA iAnitchakma. berasal dari akar A( uyAcha-ka-. , yang berarti kebijaksanaan atau kecerdikan, namun konteks ini menunjukkan kebijaksanaan dalam arti manipulasi dan pengendalian. Kemudian Firaun memerintahkan untuk memberlakukan kerja keras: Aio oi uoi Ao oy uA i cA cA u yA (Vayasimu alav sarei missim lemaAoan annoto besivlota. AuMenempatkan pengawas pajak atas mereka agar menindas mereka dengan beban kerjaAy (Keluaran 1:. Kata A( iAannot. berasal dari akar kata anah (A ) iAyang berarti Aumenindas,Ay Aumenyiksa,Ay atau Aumemperlakukan dengan kejam. Ay Kata ini bukan hanya menyiratkan tekanan fisik, tetapi juga menunjukkan perlakuan yang merendahkan martabat dan identitas kelompok. Di sini, dapat dilihat bagaimana perlakuan diskriminatif secara sistematis diarahkan pada kelompok yang berbeda secara etnis, bukan atas dasar kesalahan, melainkan hanya karena AiA y a A oyA . em acheri. yang berarti mereka berbeda (Coats 1999:3Ae. Lebih jauh, diskriminasi ini juga tercermin dalam kebijakan yang membatasi bahkan kelahiran Meskipun tidak mengandung unsur kekerasan fisik langsung dalam narasi ini, sikap yang ditunjukkan oleh Firaun menunjukkan upaya pengendalian terhadap eksistensi kelompok berdasarkan kriteria etnis. Ketegasan sikap ini menegaskan adanya A( i A uoiAhaflaya. diskriminasi yang berakar pada identitas etnis, bukan kesalahan individu atau kelompok. Dalam konteks narasi biblika. Mesir sebagai tempat keberadaan bangsa Israel dalam kondisi ini bukan sekadar lokasi geografis, tetapi menjadi AA uA . yang melambangkan struktur sosial yang memisahkan, menolak, dan membatasi kelompok yang berbeda secara etnis. Mesir dalam teks ini adalah gambaran nyata dari diskriminasi yang dialami oleh suatu kelompok hanya karena asal-usul, dan identitas budaya mereka berbeda (Reapsome 2000:9Ae. Kata A( A o yAMitzrayim - Mesi. sendiri, dalam berbagai literatur rabinik, kerap dipahami bukan sekadar sebagai sebuah bangsa atau tempat, melainkan juga sebagai metafora untuk segala bentuk penghambaan dan pengekangan yang berasal dari ketidaksamaan dan ketidakadilan yang bersumber dari perbedaan etnis. Dalam A( AyoATanak. Mesir adalah gambaran dunia di mana perbedaan menjadi alasan untuk diskriminasi dan pemisahan sosial. Melalui teks ini, penting untuk melihat bahwa diskriminasi yang dialami bangsa Israel di Mesir bukan hasil dari kesalahan mereka, melainkan hasil dari prasangka dan ketakutan berdasarkan perbedaan A( oAmi. etnisitas (Wiersbe 1998:17Ae. Hal ini menjadi salah satu contoh paling awal dalam Alkitab yang menunjukkan bagaimana kelompok minoritas mengalami diskriminasi rasial, yang kemudian menjadi tema utama dalam kisah-kisah pembebasan dari diskriminasi dalam teks-teks Alkitabiah. Paradigma Teologi Pembebasan dan Teologi Kontekstual Teologi pembebasan merupakan suatu pendekatan teologi yang secara tegas menegaskan bahwa iman Kristen tidak dapat dan tidak seharusnya dipisahkan dari realitas sosial umat manusia, khususnya mereka yang hidup dalam kondisi penindasan dan marginalisasi. Pendekatan ini muncul sebagai kritik tajam terhadap tradisi teologis yang cenderung mengabstraksikan doktrin dan pengalaman iman dari konteks historis. Oleh karena itu, teologi pembebasan menuntut teologis yang tidak hanya reflektif secara konseptual, tetapi harus berorientasi pada pembebasan nyata sebagai ekspresi iman. Teologi pembebasan menegaskan bahwa iman Kristen tidak dapat dilepaskan dari realitas sosial umat yang hidup dalam ketidakadilan (Purba and Rimun 2021:112Ae. James H. Cone, sebagai pelopor teologi pembebasan kulit hitam, memandang bahwa Allah berpihak pada orang-orang yang tertindas dan bahwa kisah pembebasan umat Israel dari Mesir menjadi paradigma dasar untuk memahami tindakan Allah dalam sejarah. Dalam karyanya AuBlack Theology and Black PowerAy. Cone menekankan bahwa pengalaman penindasan rasial merupakan titik tolak yang tidak bisa diabaikan dalam penafsiran Allah yang diwahyukan dalam Kitab Keluaran adalah Allah yang hadir dan beraksi dalam pembebasan nyata dari penindasan struktural. Bagi Cone, narasi Keluaran bukan hanya cerita sejarah, melainkan suatu pola yang terus berulang dalam pengalaman umat yang terpinggirkan. Konsep ini menolak pendekatan teologi yang bersifat apolitis atau spiritualistis semata, melainkan penegasan bahwa iman yang sejati harus tercermin dalam tindakan nyata yang menentang penindasan (Cone 1. Teologi kontekstual melengkapi paradigma ini berupaya menjawab tantangan dinamika kehidupan umat beriman, dengan menegaskan bahwa setiap refleksi teologis harus dilahirkan dari dan berbicara kepada situasi konkret umat, dalam konteks historis dan budaya yang spesifik. Teologi kontekstual mengkritik kecenderungan teologi tradisional yang bersifat universalistik dan abstrak, yang cenderung memformulasikan doktrin-doktrin yang dianggap berlaku secara mutlak dan sama di berbagai tempat dan waktu tanpa memperhatikan keragaman konteks lokal. Dengan demikian, teologi kontekstual menegaskan bahwa teologi tidak boleh berdiri di atas menara gading yang terpisah dari realitas kehidupan umat, melainkan harus menjadi refleksi yang sensitif terhadap pengalaman nyata dan kondisi spesifik yang dialami oleh komunitas iman (Simatupang 2023:203Ae. Sigurd Bergmann dalam bukunya AuGod in Context: A Survey of Contextual TheologyAy menegaskan bahwa teologi sejati adalah teologi yang menanggapi konteks secara kritis dan kreatif. Ini berarti bahwa proses teologis tidak bisa dilepaskan dari dinamika kehidupan umat beriman, termasuk penderitaan dan harapan manusia dalam realitas sehari-hari. Bergmann menolak pendekatan Audari atas ke bawahAy yang sering kali melihat doktrin sebagai kebenaran statis yang harus diterapkan ke dalam semua konteks secara seragam. Sebaliknya, ia mengusulkan pendekatan Audari bawah ke atasAy, di mana pengalaman konkret umat menjadi titik tolak refleksi teologis. Pendekatan ini memungkinkan teologi berkembang secara organik, di mana iman dipahami dan diartikulasikan melalui lensa pengalaman hidup yang riil dan spesifik. Dengan kata lain, teologi kontekstual adalah sebuah usaha untuk menginkorporasikan berbagai elemen konteks sosial, politik, budaya, dan historis ke dalam proses perumusan dan pemahaman iman, sehingga teologi menjadi relevan dan responsif terhadap kebutuhan serta tantangan yang dihadapi umat di tempat dan waktu tertentu. Pendekatan ini juga mendorong adanya dialog yang konstruktif antara tradisi teologis dan realitas kontemporer, sehingga muncul interpretasi iman yang dinamis dan adaptif tanpa kehilangan akar doktrinalnya (Bergmann 2. Lebih jauh lagi, teologi kontekstual membuka ruang bagi pengakuan atas pluralitas suara dan pengalaman dalam masyarakat, termasuk suara-suara yang selama ini mungkin terpinggirkan, seperti kelompok-kelompok minoritas dan mereka yang mengalami marginalisasi sosial. Dalam hal ini, teologi tidak hanya menjadi cermin dari realitas, tetapi juga menjadi alat pembebasan dan transformasi sosial yang berakar pada pengalaman penderitaan dan harapan umat (Novalina et al. 2021:338Ae. Pendekatan ini secara implisit menolak dominasi satu perspektif tunggal yang absolut dan memberikan legitimasi bagi keragaman pemahaman teologis yang muncul dari konteks-konteks yang berbeda. Oleh karena itu, teologi kontekstual dapat dilihat sebagai sebuah upaya yang mempertemukan firman Tuhan dengan konteks konkret umat, memungkinkan sebuah dialog yang terus menerus antara iman dan budaya, tradisi dan modernitas, spiritualitas dan kehidupan sosial. Kontekstualisasi Narasi Eksodus dalam Realitas Orang Asli Papua Kisah Eksodus dalam Kitab Keluaran adalah salah satu cerita penting dalam Alkitab. Ini bukan hanya cerita tentang pembebasan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir, tetapi juga gambaran tentang bagaimana Tuhan berpihak pada orang-orang yang tertindas. Dalam teologi pembebasan, kisah ini dibaca sebagai simbol bahwa Tuhan tidak tinggal diam terhadap ketidakadilan. Tuhan ikut serta dalam sejarah manusia, terutama ketika ada kelompok yang ditindas dan tidak diperlakukan secara adil (Sinaga. Kurniawan, and Sinambela 2022:144Ae. Karena itu, kisah Eksodus sering digunakan untuk memahami berbagai bentuk ketidakadilan sosial, termasuk pengalaman diskriminasi rasial yang dialami oleh Orang Asli Papua. Kontekstualisasi narasi Eksodus dalam realitas di Papua, menurut pembacaan kitab Keluaran dengan lensa biblika, sangat menyayat hati terhadap pengalaman konkret orang Papua kontemporer. Teologi kontekstual menegaskan bahwa iman dan refleksi teologis harus lahir dari pengalaman hidup umat dalam konteks sosial dan budaya mereka (Salehuddin et al. 2023:1417Ae. Oleh karena itu, narasi pembebasan dari Mesir harus dipahami sebagai panggilan untuk pembebasan nyata dari segala bentuk penindasan yang dialami oleh Orang Asli Papua, termasuk diskriminasi rasial, marginalisasi ekonomi, dan penghilangan hak atas tanah dan budaya mereka (Vienshe 2022:199Ae. Seperti Firaun yang gemetar melihat bangsa Israel tumbuh subur di tanahnya, kekuasaan di Indonesia kerap melihat Orang Asli Papua sebagai ancaman yang harus dikendalikan. Kebijakan-kebijakan pembangunan yang tidak berpihak, eksploitasi sumber daya alam tanpa keadilan distributif, dan militerisasi yang berlebihan telah menciptakan sebuah sistem yang mirip dengan Mesir kuno: sebuah mesin penindasan yang bekerja untuk melanggengkan ketidakadilan. Ketika Firaun memerintahkan bayi-bayi Israel dibunuh, dapat dilihat refleksinya dalam kematian anak-anak Papua yang menjadi korban kekerasan tanpa penyelesaian Ketika bangsa Israel dipaksa membangun gudang-gudang bagi Firaun (Keluaran 1:. , sekali lagi dapat dilihat bahwa rakyat Papua terus menerus tergeser dari tanah leluhurnya untuk memberi jalan bagi proyek-proyek besar yang tidak pernah benar-benar menjadi milik mereka. Peneliti menyadari bahwa penelitian ini dapat melahirkan risiko bahwa kontekstualisasi narasi Eksodus dapat disalahpahami sebagai pembenaran terhadap separatisme. Peneliti ingin menekankan bahwa penelitian ini sama sekali tidak berbicara tentang pemisahan diri, melainkan pengakuan martabat orang Papua yang menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Orang Asli Papua adalah AumanusiaAy yang diciptakan setara di hadapan Allah. "Jangan suruh aku kembali ke Mesir" adalah seruan yang bergema dari padang gurun Sinai hingga tanah Papua. Ini bukan nostalgia akan masa lalu, melainkan tekad untuk tidak lagi tunduk pada sistem yang merendahkan martabat. Seperti Israel yang menyeberangi Laut Merah menuju kebebasan, dan Musa menuntun serta menemani mereka. Orang Asli Papua juga berhak menapaki jalan pembebasan akan diskriminasi dan gereja sebagai AuMusaAy di dunia, dipanggil untuk menemani perjalanan ini. Papua adalah Indonesia. Tanahnya, rakyatnya, budayanya patut untuk dijaga, dilindungi, dan diperlakukan setara dengan daerah yang lainnya. Semua ini harus dilakukan demi keadilan, persatuan, dan masa depan Indonesia yang harus merangkul semua anak bangsa tanpa terkecuali. Peran GKI di Tanah Papua: Solidaritas Pembebasan Diskriminasi Rasial Pembebasan diskriminasi rasial dalam narasi Eksodus, dapat dilihat dalam peran Gereja Kristen Injil di Tanah Papua yang dipanggil untuk berdiri di sisi umat yang tertindas, menjadi perpanjangan tangan dari karya pembebasan Allah yang hadir bukan di pusat kekuasaan, tetapi di tengah pergumulan dan air mata orang Papua (Ayatanoi 2024:464Ae. Narasi Eksodus tidak boleh direduksi menjadi sekadar kisah kuno atau bahan khotbah. Narasi Eksodus adalah narasi teologis yang memanggil gereja untuk membangun solidaritas, membangkitkan kesadaran kolektif, menginisiasi gerakan menuju keadilan dan pemulihan martabat Orang Asli Papua yang telah lama dikoyak melalui diskriminasi rasisme, dan eksploitasi tanah adat mereka (Kobak 2025:15Ae. Allah tidak bersemayam di istana kekuasaan, tetapi Allah hadir dalam tubuh yang remuk, dalam tangisan anak-anak, dalam ketakutan orang tua, dan dalam perjuangan orang Papua untuk bebas dari diskriminasi rasial (Kreuta 2024:208Ae. Sebagaimana Israel kuno harus belajar bahwa AuMesirAy bukan hanya tempat fisik tetapi juga mentalitas yang bisa bersemayam dalam diri dan struktur komunitas mereka, demikian pula gereja harus melakukan pembacaan yang jujur terhadap dirinya sendiri. Ketika gereja lebih sibuk menata tatanan, lebih nyaman memelihara lembaga daripada menyembuhkan luka umat, hal ini berisiko menjadi bentuk baru dari Mesir yang menindas: sistem religius yang kehilangan kasih dan keberanian moral. Di titik ini, narasi Eksodus bukan hanya inspirasi, tetapi panggilan untuk pertobatan struktural dan pembaruan cara gereja hadir di dunia. Peneliti tertarik untuk mengkaji pengakuan iman Gereja Kristen Injili di Tanah Papua yang tercantum dalam liturgi keempat, khususnya pada pernyataan terakhir dari pengakuan tersebut: AuAku mengaku mengusahakan dan memelihara Tanah Papua sebagai alam ciptaan Allah bagi kesejahteraan, keadilan, dan kebahagiaan umat manusia. Ay Sekilas, bagian akhir dari pengakuan ini tampak merefleksikan isu-isu ekologis. Namun, perlu disadari bahwa narasi tersebut memuat dimensi teologi kontekstual yang signifikan dan layak untuk dianalisis lebih lanjut. Pemaknaan terhadap teologi kontekstual dalam bagian ini hanya dapat dilakukan secara memadai melalui pendekatan hermeneutikabiblika. Pernyataan dalam kalimat terakhir pengakuan iman GKI di tanah Papua, bila dibaca melalui lensa hermeneutik-biblika, tidak hanya merupakan ekspresi kesadaran ekologis, melainkan juga pengakuan iman yang berakar dalam narasi pembebasan Eksodus dalam Alkitab. Pada konteks Papua, pernyataan ini perlu ditafsirkan sebagai manifestasi iman yang aktif dan berpihak, sebagaimana diperlihatkan oleh karakter Allah dalam Alkitab yang membela kaum tertindas. Konsep Tanah dalam Alkitab tidak bisa direduksi menjadi sekadar entitas fisik. Dalam kitab Kejadian 2:15. Allah menempatkan manusia di ganeden (A)eeA. AuTaman Eden,Ay dan memberinya tugas: leAoovdah uleshomrah (AAu )u c e i iu iAuntuk mengusahakannya dan memeliharanya. Ay (Keil 1. Di sini terdapat dua dimensi teologis: avodah (Acie iA, kerja/ibada. dan shamar (A A, menjaga/memelihar. , hal ini menunjukkan bahwa relasi manusia dengan tanah merupakan relasi liturgis dan etis. Tanah Papua dalam perspektif ini adalah bagian dari A( c oa oiAberiAoat YHWH) Auciptaan AllahAy (Clarke 1. , yang tidak hanya memiliki nilai guna tetapi juga nilai sakral. Maka, eksploitasi terhadap tanah dan sumber daya alam Papua, serta pengabaian terhadap hak-hak masyarakat adat Papua atas tanah leluhur mereka, merupakan pelanggaran terhadap mandat penciptaan yang bersifat teologis. Diskriminasi rasial terhadap orang Papua tidak dapat dimaknai semata sebagai pelanggaran hak asasi manusia, melainkan juga sebagai pelanggaran terhadap nilai-nilai esensial dari Kerajaan Allah A( u ui oiAmalchut YHWH) yang dalam tradisi Perjanjian Lama identik dengan perbuatan Allah untuk menegakkan keadilan dan pemulihan martabat umat-Nya (Yochai 2. Keadilan dalam Alkitab selalu bersifat relasional, dan bukan bersifat individualistik. Allah berpihak pada aniyim (A ooyA, orang miski. , gerim (Ae AoyA, pendatang/imigra. , dan dalim (Ae u oyA, yang lema. (Wright 2. Maka dalam konteks Papua, siapa yang mengklaim dirinya sebagai seorang Kristen tetapi abai terhadap penderitaan Orang Asli Papua, telah mengkhianati identitas imannya. Pernyataan AuAku mengaku. Ay dalam bahasa Ibrani dapat diterjemahkan sebagai A( ao ie iAani mode. yang berarti Aumenyatakan dengan satu suara,Ay tetapi juga berarti Aumenyatakan iman di hadapan publikAy (Steinsaltz 2. Dalam konteks gerejawi, pengakuan ini bukan hanya verbal, melainkan berakar dalam liturgi yang hidup dalam praksis keadilan (Rusli and Balang 2023:368Ae. Maka, pengakuan untuk mengusahakan dan memelihara Tanah Papua tidak boleh berhenti pada tataran narasi moral, tetapi harus terwujud dalam aksi konkrit: solidaritas dan transformasi. Sebagaimana Nehemia dan Ezra tidak hanya berdoa, tetapi juga membangun kembali tembok Yerusalem, maka umat percaya pun dipanggil untuk membangun kembali kehormatan Orang Asli Papua yang telah diruntuhkan karena diskriminasi rasial (Sualang 2020:70Ae. Melalui pendekatan hermeneutik biblika, maka terkuak makna kontekstual yang sebenarnya dalam narasi terakhir dari pengakuan iman tersebut. Teologi kontekstual memperingatkan dengan tegas kepada Gereja Kristen Injil di Tanah Papua dan seluruh jemaat bahwa panggilan gereja bukan sekadar meredakan gejolak ketidakadilan, melainkan menghadirkan suara kenabian dan tindakan nyata yang memperjuangkan pembebasan dari diskriminasi. Dalam konteks Papua hari ini, suara kenabian itu mendesak untuk diwujudkan di tengah maraknya eksploitasi terhadap tanah adat Orang Asli Papua, tanah yang bukan sekadar aset ekonomi, melainkan ruang sakral yang menyatu dengan identitas dan sejarah masyarakat adat. Alih-alih bersikap diam atau netral atas perampasan tanah demi kepentingan investasi dan industri, gereja justru dipanggil untuk berdiri teguh membela kebenaran dan keadilan. Tanah Papua adalah tanah yang diperhatikan dan dijaga oleh Allah, oleh karena itu, setiap upaya merawat dan mempertahankan tanah Papua demi tegaknya keadilan dan harkat martabat Orang Asli Papua adalah bentuk ibadah nyata kepada Allah yang hidup. KESIMPULAN Melalui pendekatan hermeneutik-biblika dan teologi kontekstual, penelitian ini menunjukkan bahwa Alkitab harus dibaca secara transformatif, dengan mempertimbangkan dinamika historis dan sosio-kultural umat beriman. Gereja Kristen Injili di Tanah Papua diposisikan sebagai aktor teologis yang memiliki mandat kenabian untuk tidak hanya menjadi tempat spiritual, tetapi juga sebagai subjek praksis yang berpihak kepada mereka yang mengalami marginalisasi. Dalam konteks ini, teologi tidak bersifat abstrak atau netral, melainkan harus menjadi kekuatan pembebasan yang menyentuh realitas konkret, menyuarakan keadilan, dan memulihkan martabat masyarakat Papua. Narasi terakhir dalam pengakuan iman Gereja Kristen Injili di Tanah Papua, yang menyatakan komitmen untuk mengusahakan dan memelihara tanah Papua sebagai ciptaan Allah bagi kesejahteraan umat manusia, harus dimaknai sebagai seruan etis-teologis yang menyatu dengan panggilan untuk membela hak-hak masyarakat adat dan melawan eksploitasi terhadap tanah serta budaya mereka. Dengan demikian, pembebasan dalam penelitian ini tidak dipahami sebagai gerakan separatis, melainkan sebagai ekspresi iman yang menyeluruh terhadap Allah yang berpihak pada kaum tertindas. Gereja diundang untuk menjadi Musa masa kini, pemimpin spiritual dan sosial yang menolak kompromi dengan sistem Seruan AuJangan Suruh Aku Kembali ke MesirAy adalah wujud komitmen teologis untuk tidak kembali pada struktur lama yang merendahkan martabat, melainkan terus bergerak menuju tatanan yang adil, dan beriman. Narasi pembebasan harus diaktualisasikan sebagai tanggung jawab etis dan spiritual gereja di tengah konteks bangsa yang plural dan multikultural. Oleh karena itu, keberpihakan gereja kepada Orang Asli Papua dalam menghadapi diskriminasi rasial bukan sekadar pilihan moral, melainkan merupakan konsekuensi logis dari pengakuan akan Allah yang berpihak kepada kaum tertindas, sebuah ekspresi iman yang tidak bisa Sebagai respons konkret terhadap seruan AuJangan Suruh Aku Kembali ke MesirAy. Gereja Kristen Injili di Tanah Papua dipanggil untuk menjalankan praksis iman yang berorientasi pada pemulihan martabat Orang Asli Papua melalui strategi pemberdayaan komunitas berbasis konteks lokal. Langkah-langkah yang dapat diambil antara lain mencakup pengembangan pendidikan teologis kontekstual yang berakar pada nilai-nilai budaya Papua, advokasi atas hak-hak tanah ulayat, pelayanan pastoral yang peka terhadap trauma akibat diskriminasi, serta reformulasi liturgi yang merefleksikan spiritualitas perlawanan terhadap ketidakadilan. Selain itu, gereja perlu membangun kolaborasi strategis dengan pemerintah daerah, lembaga adat, serta institusi sosial independen yang memiliki perhatian terhadap isu keadilan dan hak asasi manusia. Dengan demikian. Gereja Kristen Injili di Tanah Papua tidak hanya berfungsi sebagai institusi spiritual, melainkan juga sebagai agen transformatif yang secara aktif menolak reproduksi struktur-struktur penindasan dan membuka ruang bagi terwujudnya pembebasan diskriminasi yang autentik dan teologis. DAFTAR PUSTAKA