Volume 6. Nomor 2, 2023, hlm. P-ISSN: 2622-2280 | E-ISSN: 2622-4658 https://ejurnal. id/index. php/alfanar Tafsir Ilmi: Sejarah. Paradigma dan Dinamika Tafsir Mamluatun Nafisah mamluatun@iiq. Institut Ilmu Al-QurAoan (IIQ) Jakarta Abstract Talking about science and technology, the presence of interpretation with a scientific style has become one of the interpretation trends in the modern and contemporary era. The spread of various interpretive works with a scientific style in the modern-contemporary era is often attributed to the widespread influence of the emergence of Tantawijauhari's . 1358 AH/1940 AD) magnum opus, al-JawAhir f Tafsr al-Qur'an al-Karm. Talking about the dynamics of scientific interpretation in Indonesia continues to develop. In the 1960s. Hasbi ash-Shiddieqiy's tafsir al-Nur began to use scientific discoveries in interpreting several verses of the Koran, although the number was still very The 1990s were marked by the spread of books about the relationship between the Koran and science. And in the 2010s, complete works of scientific interpretation have emerged, such as the Scientific Interpretation of Water in the Perspective of the Qur'an and Science. Plants in the Perspective of the Qur'an and Science, and the Apocalypse in the Perspective of the Qur'an and Science which is the work of collaboration between Lajnah Pentashihan Mushaf al-Qur'an. Research and Development and Training Agency of the Ministry of Religion of the Republic of Indonesia and the Indonesian Institute of Sciences (LIPI), and Tafsir Salman Tafsir Ilmiah on Juz 'Amma by ITB scientists and scientists Keywords: Scientific interpretation. Indonesia, the modern-contemporary era Abstrak Berbicara mengenai sains dan teknologi, hadirnya tafsir dengan corak ilmi menjadi salah satu trend tafsir di abad modern dan kontemporer. Merebaknya berbagai karya tafsir dengan corak iilmi di era modern-kontemporer ini seringkali diatributkan karena pengaruh luas dari munculnya magnum opus Tantawi Jauhari . 1358 H/1940 M), al-JawAhir f Tafsr al-QurAoan alKarm. Berbicara mengenai dinamika geliat tafsir Aoilmi di Indonesia terus Di era 1960-an, tafsir al-Nur karya Hasbi ash-Shiddieqiy sudah mulai menggunakan penemuan sains dalam menafsirkan beberapa ayat al63 QurAoan, meskipun dengan jumlah yang masih sangat sedikit. Era 1990-an ditandai dengan merebaknya buku-buku tentang relasi al-QurAoan dan sains. Dan di era 2010-an sudah muncul karya tafsir Aoilmi yang utuh, seperti Tafsir Ilmi Air dalam Perspektif al-QurAoan dan Sains. Tumbuhan dalam Perspektif al-QurAoan dan Sains, dan Kiamat dalam Perspektif al-QurAoan dan Sains yang merupakan karya hasil kerjasama antara Lajnah Pentashihan Mushaf alQurAoan Badan Litbang dan Diklat Kementrian Agama RI dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), dan Tafsir Salman Tafsir Ilmiah atas Juz AoAmma karya para ilmuan dan saintis ITB. Pendahuluan Sebagai sebuah teks final, al-Quran tidak akan pernah mengalami penambahan atau pengurangan, baik dari segi jumlah pun redaksinya. Ia tidak akan berubah dan akan tetap seperti apa adanya ketika ditinggalkan oleh Rasulullah Muhammad ketika wafat. Akan tetapi tidak demikian dengan tafsir al-Quran. Tafsir sebagai penjelasan dan komentar terhadap sebuah teks agama yang mengusung AokesesuaianAo untuk setiap masa, akan selalu bergulir dan berkembang sesuai zaman dimana ia ditulis. Hal ini bukan lantaran tafsir merupakan salah satu bentuk usaha untuk menyesuaikan Islam dengan zaman. Namun sebaliknya, karena kehidupan umat Islam di setiap era menuntut berbagai jawaban, solusi bahkan penguatan dari al-Quran itu sendiri. Dengan demikian, tidak akan aneh jika tafsir-tafsir, sebagai salah satu bentuk usaha untuk memahami al-Quran, yang muncul akan selalu merespon hal-hal krusial yang ada pada masanya, diantaranya adalah perkembangan sains dan Berbicara mengenai sains dan teknologi, hadirnya tafsir dengan corak ilmi menjadi salah satu trend tafsir di abad modern dan kontemporer. Merebaknya berbagai karya tafsir dengan corak iilmi di era modernkontemporer ini seringkali diatributkan karena pengaruh luas dari munculnya magnum opus Tantawi Jauhari . 1358 H/1940 M), al-JawAhir f Tafsr alQurAoan al-Karm. Melalui karya tafsir yang dicetak pada tahun 1929 oleh Musasah Mushaf al-Bab al-Halab ini. Tantawi mengajak umat Islam untuk menggalakkan kembali kajian sains. Bahkan menurut kalkulasi yang dilakukan Tantawi, terdapat 750 ayat al-QurAoan yang kandungannya menjelaskan sains, dan jumlah ini lebih banyak daripada jumlah ayat yang berkenaan dengan hukum. 1 Imbauan Tantawi ini segera mendapatkan sambutan positif dengan munculnya berbagai buku yang mengulas al-QurAoan Tantowi Jauhari, al-Jawahir fi Tafsir al-QurAoan al-Karim (Beirut: Dar el-Fikr, 1. , secara ilmiah. Hanafi Ahmad menulis al-Tafsr al-AoIlm li al-AyAt alKauniyyah f al-QurAoAn. Mahmud Mahdi menulis IAojAz al-QurAoan al-AoIlm. YaAoqub Yusuf menulis LafatAt AoIlmiyyah min al-QurAoAn. Ahmad Mahmud Sulaiman mengarang al-QurAoAn wa al- AoIlm, dan berbagai buku lainnya yang terus bermunculan. Di samping tafsir Tantawi, kebangkitan tafsir Aoilm dewasa ini juga tidak bisa dilepaskan dari hadirnya buku La Bible Le Coran et La Science karya Maurice Bucaille yang terbit pada tahun 1976. Bucaille adalah seorang ahli bedah berkebangsaan Prancis yang telah mengadakan studi komparatif antara Bibel (Perjanjian Lama dan Perjanjian Bar. dengan al-QurAoan terkait kesesuainnya dengan penemuan sains modern. Setelah melakukan kajiannya. Bucaille berkesimpulan bahwa al-QurAoan yang diturunkan pada 14 abad yang lalu ternyata telah memuat dan menyinggung penemuan-penemuan ilmiah yang baru diketahui pada era modern. Sedangkan Bibel memuat banyak sekali kesalahan-kesalahan dan sangat bertentangan dengan penemuan sains 3 Buku Bucaille ini sontak langsung menimbulkan berbagai macam kontroversi di berbagai belahan dunia. Namun, tidak sedikit juga yang mengapresiasi dan mendukungnya Merebaknya karya tafsir sains dalam dewasa ini menimbulkan prokontra di kalangan para sarjana QurAoan. Perdebatan ini berpangkal dari sebuah pertanyaan, manakah yang terlebih dahulu pemahaman ilmiah baru dicarikan justifikasinya dari al-QurAoan atau pemahaman al-QurAoan yang kemudian mendorong riset pengetahuan? Pertanyaan inilah yang perlu ditelusuri baik dari aspek sejarah, paradigma maupun dinamika tafsir. Tafsir Ilmi: Perkembangan dan Pergeserannya Dalam kajian ilmu al-Quran, terma tafsir Aoilmi digunakan untuk menunjuk karya-karya tafsir yang menerapkan ilmu-ilmu yang ditemukan manusia untuk menafsirkan ayat-ayat al-Quran dan atau menjadikan ayat-ayat al-Quran sebagai dalil dan penguat atas teori-teori tersebut. 4 Pengertian ini menjelaskan bahwa tafsir ilmi bukan hanya terbatas pada tafsir-tafsir yang menggunakan corak saintifik saja. Akan tetapi juga mencakup semua tafsir dengan corak baru yang ditarik dari munculnya berbagai disiplin ilmu modern, seperti ilmu sosial, ilmu pendidikan, ilmu ekonomi, dan ilmu bahasa. Akan tetapi, dalam Abdul Manan SyafiAoi. AuPerspektif AlqurAoan tentang Ilmu PengetahuanAy dalam Media Akademika. Vol. No. 1, 2012, h. Maurice Bucaille. La Bible Le Coran et La Science, terj. Rasyidi (Jakarta: Bulan Bintang, 2. , h. 1 Amn Al-KhAAl. Al-Tafsr MaAlim HayAtih-Manhajih al-Yaum, (Beirut: DAr alKitAb al-LubnAn, 1. , h. bandingkan dengan usain al-ahab. Al-Tafsr wa alMufassirAAn, (Beirut: Dar IuyAAo al-TurAts al-AoArab, 1. , jld. 2, h. perkembangan selanjutnya, pemaknaan tafsir ilmi mengalami penyempitan dan hanya merujuk kepada tafsir-tafsir yang ditulis dengan corak saintifik saja, baik yang memfokuskan diri pada ilmu biologi, kimia, fisika, matematika, astronomi, maupun geologi. Oleh karena itu, ketika seseorang mengatakan tafsir ilmi pada masa kini, maka yang ditujunya hanyalah tafsir-tafsir yang beraroma kosmis. Pergeseran makna ini sejalan dengan pergeseran tujuan dituliskannya tafsir ilmi tersebut. Diantara yang mempopulerkan tafsir ilmi dalam perkembangan tafsir, di antaranya adalah Fakhruddn al-RAz . 606 H/1210 M) dengan MafAtu al-Ghaib. Meski secara eksplisit, al-RAz tidak mengklaim bahwa tafsirnya merupakan tafsir ilmi, akan tetapi konten dari tafsir yang ditulisnya telah menunjukkan hal itu. MafAtu al-Ghaib adalah tafsir yang begitu kaya dengan penggunaan berbagai disiplin ilmu hasil olah pikir manusia, seperti filsafat, sains, fikih dan bahasa. Bahkan, saking banyaknya disiplin ilmu yang digunakan sebagai pisau analisa oleh al-RAz, tafsirnya dikenal dengan tafsir yang mencakup segala hal. Pada fase pertama kemunculan gaya ilmi dalam penafsiran, sains hanya digunakan sekadar untuk menjembatani antara wujud alam semesta dengan keesaan serta kemahakuasaan Allah. Ketika menafsirkan tentang salah satu ayat yang berkenaan dengan alam pada QS. Al-AAorAf . : 54: a a AEaO eE a eA a AaO aEaCa EacI OA A acaI aacEa aI NA a AO a ac a aO sacI a acI e aOOA a A aO ea eA e AcEEa EacA e aA AA ca A OaEaN aa eO acOEA aA a a eI aNen a aeE EaNA s s A ac A a A aOECa aI a aOEIac a eO aI aIA a AOa eaO Eac eO aE EIac aNA a A eIA aAcEEa aac eE EaIa OeIA AeE eaECa aOeEa eI a a a aEa NA AuSesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas 'Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan . iciptakan-Nya pul. matahari, bulan dan bintang-bintang . tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah. Tuhan semesta alamAy (QS. Al-AAorAf . : . Tentang teori sains, al-RAz menggunakannya ketika menjelaskan bagian ayat yang menerangkan bagaimana siang dan malam saling berganti di muka bumi. Menurut al-RAz, siang dan malam tidak akan terjadi serempak di seluruh bumi. Akan tetapi siang dan malam saling berganti di tiap-tiap Jika salah satu wilayah barat bumi mengalami gerhana bulan saat menjelang malam, maka wilayah timur bumi akan mengalami gerhana tersebut pada pagi berikutnya. Hal itu terjadi karena bumi berbentuk bulat dan berotasi dari barat ke timur. Adanya dua kutub utara dan selatan juga membuktikan bahwa bumi kita berbentuk bulat dan bukannya datar. Demikian pula matahari. Ia berbentuk bulat dan berputar dengan dua macam putaran. Berotasi pada porosnya dalam rentang waktu satu hari satu malam dan revolusi para orbitnya yang memakan waktu satu tahun. Matahari juga memiliki gravitasi yang AumemaksaAy bumi serta planet-planet yang berdekatan dengannya untuk terus berevolusi mengelilingi matahari. Sedangkan matahari sendiri juga AudipaksaAy untuk tunduk pada gravitasi yang lebih kuat, yaitu Aoarsy. Gaya tarik menarik inilah yang sebenarnya menyebabkan munculnya kemungkinan sebuah benda langit berputar yang akhirnya menyebabkan adanya siang dan malam. Perputaran itu juga berbeda-beda di setiap benda langit yang ada, sebagaimana mereka juga memiliki jalur revolusinya masingmasing. Ada yang berputar pelan, dan ada yang cepat juga yang lebih cepat dan paling cepat. Semua perbedaan itu telah diatur sedekian rupa oleh Allah demi kemaslahatan umat manusia dan untuk menunjukkan bahwa ada yang Maha Mengatur segalanya. Selanjutnya, jika bumi berbentuk bulat sebagaimana matahari, maka, seluruh kaki manusia akan mengarah ke arah yang berbeda-beda. Ketidaksamaan arah kaki tersebut berimplikasi pada ketidakmungkinan wujud Allah di sebelah atas atau pun bawah bumi. Sebab, bagian atas selatan akan sama dengan bagian bawah wilayah utara, sebagaimana bagian bawah wilayah timur artinya adalah sebelah atas wilayah barat. Sedangkan wujud Allah di bawah hamba-Nya tidaklah masuk akal, sebab Allah memerintahkan kita untuk menengadahkan tangan ke atas ketika berdoa. Oleh karena itu, wujud Allah sebenarnya tidaklah ada di bawah atau pun di atas dalam pemahaman Allah tidaklah menempati ruang atas atau bawah. Karena siapa atau apa saja yang menempati ruang maka, wujudnya memiliki keterbatasan dan Allah Maha Suci dari segala keterbatasan. Gaya penafsiran ilmi yang dituliskan al-RAz dalam contoh di atas memberikan gambaran bahwa pada masa awal, memaparkan teori sains tidak dianggap sebagai tujuan utama. Sama sekali tidak terlihat klaim otoritas alQurAoan terhadap persoalan-persoalan sains. Sebaliknya, tafsir ilmi pada masa awal digunakan sebagai salah satu cara paling efektif untuk menerangkan bahwa seluruh alam semesta diciptakan oleh Allah untuk suatu alasan tertentu. Setelah menciptakan alam dan seisinya. Allah tidak lantas meninggalkannya begitu saja, akan tetapi Allah mengatur dan menjaganya untuk tetap eksis. Tanpa kehadiran Allah yang menciptakan sekaligus merawat dan menjaganya, alam semesta tidak akan pernah terwujud. 7 Alasan paling relevan atas tidak Fakhruddn al-RAz. MafAtu al-Ghaib, (Beirut: DAr al-Kutub al-AoIlmiyyah, 2. , jld. 14, h. Fakhruddn al-RAz. MafAtu al-Ghaib, jld 14, h. Muzaffar Iqbal. Science and Islam, (Westport: Greenwood Publishing Group, 1. , adanya artikulasi paradigma al-QurAoan atas sains pada periode ini adalah belum adanya kebutuhan untuk itu, lantaran tidak adanya klaim counter dari budaya hegemonik sains dan harapan ideologis yang mengiringi kejayaan sains modern. Tafsir ilmi pada fase pertama ini tidak memfokuskan kajiannya pada keterkaitan antara sains dan al-QurAoan. Ia hanya menggunakaan beberapa teori sains untuk lebih menjelaskan ayat al-QurAoan. Penjelasan tersebut justru diharapkan sebagai bahan perenungan pembacanya bahwa segala gejala alam yang diterangkan oleh sains dapat mengantarkan pada penetapan iman. Iman bahwa Allah Maha Kuasa dan Maha Berkehendak yang menciptakan seluruh semesta dengan aturan-aturan-Nya. Pada taraf ini, tafsir ilmi menjadi sarana untuk mencapai kepentingan teologis-ideologis. Para mufassir saat itu sama sekali tidak terlihat meneguhkan adanya kesesuaian ayat dan teori sains Sebaliknya, mereka hanya menggunakan teori sains tersebut untuk menerangkan ayat. Pada perkembangan selanjutnya, fase kedua, tafsir ilmi mulai bergeser dari karakteristik awalnya. Dalam diskursus Islam modern muncul dua kecenderungan baru: pentingnya AopengawinanAo sains modern dan al-QurAoan dan menjadikan tafsir ilmi sebagai pemantab adanya kemukjizatan sains dalam al-QurAoan. Pentingnya AopengawinanAo antara teori sains dan al-QurAoan ini muncul karena otoritas sains yang saat ini bergeser ke pihak Barat. Dengan kata lain, ide AopengawinanAo ini lahir sebagai reaksi akan kemunduran umat Islam dalam penguasaan sains. Gagasan AopengawinanAo antara Islam dan ilmu dimunculkan ke permukaan untuk memicu kembali geliat sains dalam masyarakat muslim. Sebagian kalangan pun berusaha untuk menunjukkan sisi saintifik al-QurAoan. Dari sinilah mulai muncul berbagai peneguhan bahwa penemuan-penemuan sains modern sebenarnya sudah disebutkan atau paling tidak disinggung dalam al-QurAoan. 8 Pada fase ini, tafsir ilmi dipahami sebagai suatu bentuk usaha yang dilakukan oleh seorang mufassir untuk menemukan hubungan antara ayat-ayat kauniyyah dan penemuan-penemuan ilmiah guna memperlihatkan sisi kemukjizatan al-QurAoan, baik dari segi sumber al-QurAoan maupun dari segi kesesuaian al-QurAoan untuk setiap masa dan tempat. Selain itu, generasi kedua dari tafsir ilmi kontemporer ini juga dipicu oleh buku Maurice Bucaille yang berjudul La Bible, le Coran et la Science yang diterjemahkan ke berbagai bahasa dunia pada abad ke dua puluh. Buku ini berisi tentang komparasi antara kesesuaian al-QurAoan dan Bible dengan Ahmad DallAl. AuSains dan al-QurAoAnAy, dalam Dale F. Eickelman . , al-QurAoan. Sains, dan Ilmu Sosial, (Yogyakarta: ElSAQ Press, 2. , h. Fahd AoAbdurraumAn al-RAAm. IttijAhAt al-Tafsr fi al-Qarn al-RAbiAo AoAsyar, (Beirut: MuAoassasah al-RisAlah, 1. , jld. 1, h. ilmu pengetahuan modern. Dalam buku tersebut disebutkan bahwa tidak satu pun ayat al-QurAoan yang berseberangan dengan teori sains yang baru-baru ini Al-QurAoan memuat banyak sekali obyek-obyek kajian sains modern, seperti penciptaan, astronomi, persoalan-persoalan tertentu tentang bumi, dunia hewan, tumbuhan, dan reproduksi manusia. Sebaliknya, ayat-ayat Bible sangat bertentangan dengan sains modern. Teori-teori yang dituliskan dalam Bible tentang obyek-obyek ilmiah penuh dengan kekeliruan besar. Kekeliruan yang sama sekali tidak ditemukan dalam al-QurAoan. Kenyataan tersebut mengantarkan Maurice Bucaille pada sebuah kesimpulan bahwa al-QurAoan bukanlah hasil olah pikir manusia. Sebab tidak mungkin seorang manusia dari 14 abad yang lalu mampu menuliskan fakta yang baru bisa dibuktikan keabsahannya dan kevalidannya melalui sains Kemunculan karya Maurice Bucaille sedikit banyak telah mengubah paradigma berpikir umat Islam saat itu. Perubahan yang mendorong pada AopengesahanAo munculnya mukjizat baru dari al-QurAoan. Mukjizat yang belum pernah terpikirkan pada abad-abad sebelumnya: mukjizat saintifik. Paradigma tentang mukjizat saintifik inilah sebenarnya yang bertanggungjawab atas pergeseran tafsir ilmi dalam diskursus Islam modern. Tafsir ilmi pada tahap ini lebih terkesan mengotak-atik ayat agar sesuai dengan teori sains modern. Bahkan tidak jarang, dalam beberapa kajian terlihat AopemaksaanAo makna dalam penafsiran sebuah ayat. Seringkali otoritas teks ayat dinomorduakan, demi kesimpulan akhir bahwa sebuah teori sains modern sebenarnya telah disebutkan atau disinggung dalam al-QurAoan jauh sebelum teori tersebut ditemukan manusia. Pergeseran otoritas teks inilah yang kemudian melahirkan perdebatan tentang diterima atau tidaknya tafsir ilmi. Tafsir Ilmi: Antara Tafsir Ilmiah dan Integrasi Keilmuan Tafsir ilmiah . l-tafsir al-Aoilmi/ scientific exegesi. oleh Muhammad Husain al-Dzahabi didefinisikan sebagai pembahasan tentang aspek-aspek ilmu pengetahuan yang terdapat di dalam al-QurAoan serta upaya menyingkap berbagai pengetahuan dan pemikiran yang terkandung di dalamnya. 11 Dalam pandangan al-Dzahabi tafsir ilmiah dipahami sebagai upaya memahami alQurAoan melalui temuan ilmiah, baik secara induktif ataupun deduktif. Secara induktif, al-QurAoan ditempatkan sebagai landasan untuk melakukan penelitian ilmiah, atau dalam bahasa lain data-data al-QurAoan dijadikan sebagai data Maurice Bucaille. The Bible, the QurAoan and Science. the Holy Scriptures Examined in the Light of Modern Knowledge, diterjemahkan dari bahasa Perancis oleh A. D Pannel dan Maurice Bucaille, (Indianapolis: T. p, 1. Muhammad al-Said Husain al-Dzahabi, al-Tafsr wa al-Mufassirn (Al-QAhirah: Maktabah Wahbah, tth [Maktabah Syamila. ), h. primer untuk kemudian data-data itu dibuktikan melalui penelitian ilmiah. Secara deduktif, penelitian ilmiah sebelumnya tidak berangkat dari ayat-ayat al-QurAoan, setelah terbukti secara ilmiah hasil penelitian tersebut dicarikan konfirmasinya melalui ayat-ayat al-Quran yang relevan. Pandangan ini pada dasarnya merupakan pendekatan integratif, ayat al-QurAoan di satu sisi dan temuan ilmiah di sisi lain. Secara prinsip, model ini memang tidak ada persoalan karena sains yang dinamis memiliki relevansi dengan ayat-ayat al-QurAoan. Meskipun pada akhirnya klaim kebenaran mutlak tetap ada pada kitab suci sementara kebenaran sains dicitrakan sebagai suatu yang relatif. Baik saintis maupun ulama, harus berdalih bahwa tafsir ilmiah tidak dalam rangka menjustifikasi kebenaran yang relatif itu dengan kebenaran absolut atau tafsir ilmiah tidak untuk memaksakan tafsir al-QurAoan seolah sesuai dengan temuan sains. 12 Di sinilah wilayah kerja Tafsir Ilmi berperan dalam menyingkap isyarat ilmiah dan membuktikan isyarat-isyarat itu melalui temuan sains modern. Di sini juga terlihat adanya keterbukaan umat Islam dalam menerima ilmu pengetahuan modern sebagai sesuatu yang tidak terpisah dari Islam dan bahkan ia merupakan bagian dari anugerah Tuhan yang patut disyukuri dan ditadabburi. Bagi Kuntowijoyo, proyek Islamisasi ilmu tidak mesti diterjemahkan sebagai penyangkalan warisan intelektual yang lahir dari peradaban lain, termasuk Barat. Rekonstruksi ilmu pengetahuan dalam peradaban Islam tidak berangkat dari ruang hampa. Kehadirannya adalah buah dari pertarungan Khazanah keilmuan Barat dalam hal ini dapat dimanfaatkan untuk kepentingan umat Islam, hal ini tentu setelah melewati proses seleksi dan adaptasi secara objektif. Menarik disimak adalah pemikiran Ken Wilber yang cenderung mengukuhkan paradigma posmodern sebagai landasan integrasi, di mana masing-masing ilmu diberi wewenang untuk menentukan metode validasinya masing-masing. Selain itu, baik agama maupun sains jika ingin bersama-sama tumbuh dan berkembang, maka keduanya harus membuka diri. Sebab, kemajuan ilmu pengetahuan amat ditentukan oleh sejauhmana suatu teori dapat berdialog dengan teori lainnya sehingga dapat memperkokoh bangunan Dialektika ilmiah yang berlangsung secara terus menerus dan Lajnah Pentashihan Mushhaf al-QurAoan. Hewan dalam Perspektif al-QurAoan dan Sains, hlm. AE. Priyono. AuMarginalisasi. Oposisi, dan Integrasi Islam Indonesia: Menyimak Pemikiran Dr. KuntowijoyoAy, dalam AE. Priyono . Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi (Bandung: Mizan, 2. , 62. berkesinambungan, merupakan proses transendensi menuju pemahaman kebenaran absolut-transendental. Tafsir Ilmi Kementerian Agama pada prinsipnya menggunakan pola deduktif-konfirmatif. Hal ini dapat dilihat dalam berbagai tema yang disajikan, sebagai contoh AuAdam mampu menjelaskan nama-nama bendaAy seperti firman Allah dalam QS. Al-Baqarah . : 31. Kemampuan Adam dalam menjelaskan nama-nama benda terkait dengan unsur ciptaan, ia diciptakan dari Kenyataan ini berbeda dengan malaikat yang diciptakan dari cahaya dan malaikat tidak mampu menjelaskan nama-nama benda. Untuk membuktikan ayat ini, penulis mengambil tiga ayat relevan, yakni: QS. alMuAominun . : 12 . ari pati tana. QS. al-Hijr . : 26 . dan QS. al-Rahman . : 14 . anah kering seperti tembika. Unsur pembentuk manusia berdasarkan tiga ayat di atas adalah tanah, air . umpur = tanah ai. , dan tembikar. Unsur tanah terdiri dari besi (F. , tembaga (C. , kobalt (C. Mangan (M. dan unsur air hidrogen (H), nitrogen (N), fosfor (P), dan oksigen (O). Semua unsur-unsur metal dan metaloid akan menjadi katalis dalam proses reaksi kimia dan biokimia untuk membentuk molekul yang lebih komplek, seperti ureum, asam amino, dan nukleotida yang berfungsi sebagai pendukung proses kehidupan. Sementara tembikar digunakan sebagai katalis dalam proses perpanjangan rantai kimia . dari molekul menjadi makromolekul, supramakromolekul, dan jaringan sel tubuh, termasuk sel otak, dan DNA. Sel otak inilah yang kemudian berfungsi menyimpan informasi, sementara DNA-kromosom berfungsi menyimpan informasi genetik Contoh lain dalam hal ini adalah pengungkapan beberapa fakta sains tentang Nabi Nuh, di antaranya: . QS. al-Qamar . : 13 tentang ukuran bahtera Nabi Nuh yang diperkirakan oleh ilmuwan memiliki panjang 150 meter, lebar 75, dan tinggi 15 meter. QS. Hd . : 44 mengenai tempat berlabuhnya bahtera Nabi Nuh di Gunung Judi. Pada tahun 1994 fakta ini berhasil diungkap oleh tim ekspedisi yang dipimpin oleh David Fasold, seorang ahli geofisika asal AS dan Salih Bayraktutan, direktur institut geologi Universitas Ataturk. Turki, melalui foto sebuah objek berbentuk kapal yang terkubur di kedalaman 2. 3000 meter di Gunung Judi. QS. al-AoAnkabut Fuad, dkk. AuKebenaran Ilmiah dalam Pemikiran Thomas S. Kuhn dan Karl R. Popper: Suatu Kajian Hermeneutika dan Kontribusinya bagi Masa Depan IlmuAy. Jurnal Filsafat 23, no. : 252-276, https://jurnal. id/wisdom/article/ view/12684/9119, diakses 21 Desember 2016. Lajnah Pentashihan Mushhaf al-QurAoan. Kisah Para Nabi Pra-Ibrahim dalam perspektif al-QurAoan dan Sains (Jakarta: LPMA, 2. , 32-33 Lajnah Pentashihan Mushhaf al-QurAoan. Kisah Para Nabi Pra-IbrahimA, h. Lajnah Pentashihan Mushhaf al-QurAoan. Kisah Para Nabi Pra-IbrahimA, h. : 14-15 menyangkut usia Nabi Nuh yang mencapai 950 tahun, berdasarkan pendapat Balsiger dan Sellier yang menyatakan bahwa sebelum banjir besar atmosfir masih diselimuti oleh lapisan kanopi air yang berfungsi melindungi manusia dari radiasi ultraviolet. Setelah banjir besar kanopi ini turun ke bumi yang mengakibatkan lapisan atmosfir menjadi tipis dan menyebabkan umur manusia menjadi lebih pendek, seperti Nabi Ibrahim, hanya berusia 100 tahun,18 bahkan Nabi Muhammad SAW hanya berumur 63 tahun. Sistematika penyajian seperti diuraikan di atas adalah berbentuk deduktif-konfirmatif, yang menempatkan temuan ilmiah sebagai penjelas ayat-ayat al-QurAoan yang dipandang relevan. Namun, perlu digarisbawahi bahwa tidak semua ayat-ayat al-QurAoan termasuk ayat-ayat kauniyah, dapat dijelaskan melalui sains. Hal ini bisa disebabkan oleh keterbatasan sains yang mungkin belum mampu diungkapkan. Selain itu, juga bisa disebabkan oleh sifat-sifat ayat-ayat al-QurAoan yang secara faktual tidak bisa dijelaskan secara empiris melalui sains. Dinamika Geliat Tafsir Ilmi di Indonesia Terlepas dari perdebatan pro-kontra mengenai kompatibilitas penafsiran sains atas ayat al-QurAoan, di Indonesia tafsir dengan corak ilmi mengalami perkembangan yang sangat pesat seiring dengan lajunya arus modernitas dengan ciri utamanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Perkembangan sains telah menyentuh berbagai aspek kehidupan manusia, tak terkecuali juga menyentuh Kitab Suci. Sejak tahun 1960-an hingga sekarang, tidak terhitung sekian banyak karya-karya sarjana Indonesia, baik yang berupa tafsir, buku, artikel, hingga resepsi, yang membahas tentang relasi al-QurAoan dan sains. Pada pembahasan ini, penulis mengutip dari artikel yang ditulis oleh Annas Rolli Muchlisin dan Khairun Nisa yang memetakan perkembangan tafsir ilmi di Indonesia menjadi tiga fase, yaitu: fase perkenalan . ra 1960-a. , fase perkembangan I . 0-an Ae 2000-a. , dan fase perkembangan II . 0 hingga seterusny. Fase pertama: Di tahun 1960, terbit sebuah karya tafsir yang berjudul Tafsir al QurAoan al-Madjied An Nur karya Prof. Hasbi Ash-Shiddieqy. Meskipun menurut beberapa peneliti tafsir ini bercorak umum, dalam artian tidak mengacu kepada sebuah model corak tertentu, akan tetapi ketika diperhatikan lebih mendalam beberapa penafsirannya, khususnya ayat tentang kealaman, akan terlihat corak ilmi yang digunakannya. Untuk memperkuat statement di atas akan ditampilkan beberapa contoh penafsirannya. Lajnah Pentashihan Mushhaf al-QurAoan. Kisah Para Nabi Pra-IbrahimA, 72 Ketika menafsirkan Q. al-Baqarah. : 164, ash-Shiddieqy menulis secara ringkas tentang hukum tarik menarik. e A aOA Ae a aIA a AC EacI OA a A aOeEa eA a AO AaO eE aA e AaeA a AOA a aEAa Eac eO aE aOEIac aNA e A aO eEAa ea Eac aA a AO eaEA e A acaI a ca A a e a aI eO a aN aO aA e aA aI A A aA eO aN Ia eIA ca AcEEa Ia Ia EA A aO aI en a eIa aE NA a AIaI acI s ae aO a aN eEa eA a caO eIAa a EIA s A a eE OA aA aEcaCa eO sI Oac e aCEa eOIA ca A ac a aOeIa EA ca A aOEA ac a a aOeAA e aAEa acaE a ac s n acOA a A aI a aOeEa eA a A aA a A eE aIA a AE OA AuMatahari itu diikuti oleh sedjumlah planet jang berlain-lainan ukuran dan garis edarnja jang masing-masingnja tetap berada dalam garis edarannja itu. Perhubungannja antara satu sama lainnja dipelihara dengan sunnah Ketuhanan yang kukuh jang dinamai kekuatan daja tarik menarik. Sekiranja tak ada daja tarik menarik itu, berantakanlah tjakrawala, lalu binasalah alam seluruhnja. Ay19 Masih dalam ayat yang sama, ketika menafsirkan ayat wa mA anzala AllAhu min al-samAi mAan . ir hujan yang diturunkan oleh Allah dari langi. , ash-Shiddieqy menyebutkan secara ringkas teori penguapan air laut. AuPara sardjana telah menerangkan bagaimana tjaranja terdjadi hudjan itu. Udara yang panas, menjebabkan terdjadinja penguapan air dan jang terbesar adalah penguapan air laut, jang kemudian uap-uap air itu diudara tinggi mendjadi beku dan berkumpul-kumpul mendjadi awan. Kemudian awan itu karena turun sampai ke daerah pemanasan bumi, maka tjairlah bekuan uap air . tadi menjdadi air kembali, dan itulah yang mendjadi hudjan. Ay20 Tidak hanya menyebutkan hukum tarik menarik dan teori penguapan air dalam menafsirkan Q. al-Baqarah. : 164 ini, ash-Shiddieqy juga menyebutkan teori pasang dari James Jeffreys dan teori planetisimal dari Chamberlin Moulton ketika berbicara mengenai fase pertama kehidupan di Au. Inilah phase pertama kehidupan di bumi. Alam djagat raja ini jang pada mulanja adalah satu gumpalan, baik menurut teori pasang dari James Jeffreys, maupun menurut teori planetisimal dari Chamberlin Moulton, jang kemudian berpetjah-petjah mendjadi planit, termasuk di dalamnja bumi kita ini. Keadaan bumi pada waktu itu adalah pidjar menjala, kemudian makin lama makin Unsur-unsur oksigen dan hydrogen berdjumpa mendjadi air, kemudian dari itu barulah ada kehidupan di bumi ini, baik tumbuh-tumbuhan maupun binatang. Ay21 Dalam menafsirkan satu ayat ini, ash-Shiddieqy telah menggunakan beberapa hukum dan teori yang dikenal dalam dunia fisika. Hal ini membuktikan bahwa tafsir dengan corak ilmi sudah ada di Indonesia sejak era Hasbi ash-Shiddieqy. Tafsir Al-Quran al-Madjied An Nur (Jakarta: Bulan Bintang, 1. , juz. 2, h. Hasbi ash-Shiddieqy. Tafsir Al Quran al-Madjied An Nur, juz 2, h. Hasbi ash-Shiddieqy. Tafsir Al Quran al-Madjied An Nur, juz 2, h. 1960-an. Meskipun begitu, corak ilmi dalam tafsir ash-Shiddieqy ini masih sangat kecil kuantitasnya dibandingkan dengan seluruh penafsirannya. Fase kedua: Pada tahun-tahun berikutnya, tafsir ilmi di Indonesia mengalami transformasi dan perkembangan yang luar biasa, khususnya di era 1990-an hingga 2000-an. Fase ini merupakan fase penulisan tafsir ilmi dalam bentuk buku-buku. Terdapat sekian buku tentang relasi al-QurAoan dan sains yang ditulis pada masa ini, seperti Seri Tafsir al-QurAoan bil ilmi Al-QurAoan. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi karya Ahmad Baiquni . Al-QurAoan dan Ilmu Pengetahuan Kealaman karya Ahmad Baiquni . Al QurAoan dan Energi Nuklir karya Wisnu Arya Wardhana . Metode Ayat-Ayat Sains dan Sosial karya Andi Rosadisastra . Ayat-Ayat Semesta: Sisi al-QurAoan yang Terlupakan karya Agus Purwanto . , dan sebagainya. Dalam makalah ini mengambil karya Achmad Baiquni sebagai sampel untuk mendapatkan gambaran mengenai penafsiran ilmi yang berkembang saat itu. Buku Baiquni dirasa cukup representatif karena buku ini memang ditulis oleh seorang ilmuan atom yang autoritatif. Contoh penafsiran yang ia tawarkan bisa dilihat ketika ia menjelaskan tentang perihal terjadinya kiamat dari perspektif sains. Ia mengatakan bahwa ledakan maha besar yang terjadi pada benturan komet dengan kontinen akan menyemburkan debu yang tebal ke angkasa, yang selanjutnya berterbangan di atmosfir, kemudian dipertebal oleh abu letusan gunung-gunung berapi selama berbulan-bulan, sehingga untuk waktu yang lama lapisan yang terbentuk menutup cahaya bintang-bintang serta memudarkan cahaya matahari dan menggelapkan bulan. Beginilah skenario kehancuran ummat manusia karena benturan komet yang cukup besar pada bumi. 31 Setelah memaparkan tentang deskripsi hari kiamat dari perspektif sains. Bauqini kemudian menyebutkan ayat al-QurAoan yang membincang perihal hari kiamat. Ibrahim . : 48, al-InfitAr . : 1-5. al-Zalzalah . : 1-5. al-QiyAmah. : 612, dan Q. al-Zumar . : 68-69. 32 Pola ini telah membenarkan pendapat Gusmian di atas, di mana kebanyakan penafsiran ilmi dimulai dengan pembahasan sains yang kemudian didukung oleh ayat al-QurAoan. Namun. Baiquni tidak selamanya sepakat dengan penemuan sains apalagi ketika bertentangan dengan iman kaum muslimin. Kasus menarik yang perlu diangkat di sini adalah penolakan Baiquni atas kepercayaan orang modern bahwa kebenaran hanya bisa dibuktikan melalui pengalaman yang empiris dan sesuai dengan rasio. Baiquni kemudian menyebut bahwa ia percaya dengan peristiwa isra dan miAoraj-nya Nabi Muhammad meskipun rasio sukar menerima kebenarannya. Pandangan ini bisa dilihat dalam salah satu subtema bukunya di atas. AuIsraAo dan MiAoraj sebagai MuAojizat yang Menantang IPTEKAy. Pada fase ketiga yaitu era 2010 hingga sekarang, tafsir ilmi terus mengalami perkembangan yang sangat dinamis. Tafsir ilmi pada era ini memiliki wajah baru yang cukup berbeda dengan model tafsir ilmi Apabila tafsir ilmi di era 1960-an masih dalam bentuk bagianbagian kecil dalam karya tafsir dan diera 1990-an hingga 2000-an tertulis dalam bentuk buku, maka pada tahun 2010 ke atas tafsir ilmi sudah tertulis dalam bentuk kitab tafsir yang utuh. Sejauh penelusuran penulis, terdapat dua model penulisan kitab tafsir ilmi di Indonesia pada periode ini, yaitu: . model tematik, dan . model juz Aoamma. Model ilmi tematik ini dihasilkan oleh Lajnah Pentashihan Mushaf alQurAoan Badan Litbang dan Diklat Kementrian Agama RI yang bekerja sama dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di tahun 2011. Salah satu karya mereka adalah Tafsir Ilmi Air dalam Perspektif AlQurAoan dan Sains. Tafsir ini Ae sesuai dengan namanya Ae memfokuskan kajiannya terhadap konsep air di dalam al-QurAoan yang kemudian penjelasannya menggunakan penemuan sains. Metode tafsir ini adalah dengan memecah tema umumnya, yaitu air, ke dalam subtema-subtema kecil yang meliputi eksistensi air, distribusi air, peran dan manfaat air, bencana akibat air, dan krisis air. Kemudian setiap subtema di atas diperkecil lagi. Pembahasan eksistensi air meliputi bagian ciptaan Allah dan karakteristik air. Subtema distribusi air meliputi daur air, air laut, air di permukaan bumi, air di dalam bumi, dan air di atmosfer. Subtema peran dan manfaat air meliputi stabilisator suhu bumi, asal dan penyangga kehidupan, air hujan yang menghidupkan, dan manfaat langsung air bagi kehidupan manusia. Subtema bencana akibat air meliputi banjir, luapan air laut, erosi dan longsor, pencemaran air, dan Adapun subtema krisis air meliputi krisis dan konflik air, penyebab krisis air global, dan upaya pencegahan krisis air. Satu contoh penafsiran dari tafsir ini yang penulis ingin kemukakan di sini adalah Q. al-Jatsiyah . : 5. Setelah mengemukakan ayat tersebut, tafsir ini menjelaskan: e AaOA A a ea aI eOa aNA ca AcEEa Ia Ia EA A aO aI en a eIa aE NA a AC ae Oa a aN ea eA s A aI a Ia eI a ca eA a aEAa Eac eO aE aOEIac aNA ac aA OU aECa eO sI Oac e aCE eOIA ac a a aOeAA e aOA a AE OA Achmad Baiquni. Al-QurAoan. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Yogyakarta: Dana Bakti Prima Yasa, 1. , h. Lajnah Pentashihan Mushaf al-QurAoan dan LIPI. Tafsir Ilmi Air dalam Perspektif AlQurAoan dan Sains (Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf al-QurAoan, 2. , h. AuYang dimaksud dengan tanda-tanda adalah tanda-tanda kekuasaan, keagungan dan kasih sayang Allah yang tidak terbatas. Pada prosesproses pergantian malam dan siang, hujan yang diturunkan Allah dari langit, perkisaran angin dan semua kehidupan, hanya sedikit orang yang mau memahami dan mengambil pelajaran dan manfaat darinya. Sejatinya dengan adanya proses-proses tersebut, manusia dan makhluk hidup lainnya mendapatkan manfaat darinya. Menurut Wahbah Zuuail dalam al-Tafsr al-Wasu, di dalam Al-QurAoan terjadi pengulangan penyebutan tanda-tanda yang menunjukkan eksistensi Allah, seperti penciptaan langit . an lapisan-lapisan atmosfe. , lapisan dan irisan bumi, penciptaan manusia dan hewan, perbedaan siang dan malam beserta akibat-akibatnya, turunnya hujan yang menjadi salah satu penyebab terjadinya proses ekonomi, dan pergerakan angin dari berbagai penjuru. Bagi orang beriman cukuplah tanda-tanda itu menjadi motivator untuk mengagungkan Allah. Akan tetapi bagi mereka yang ingkar dan sombong, tak ada lagi keterangan yang dapat menjelaskan dengan benar sesudah Al-QurAoan itu, yang dapat mengantarkannya menuju keimanan. Selain sebagai tanda . yang menakjubkan dan diharapkan dapat membawa kepada kemantapan iman kepada Allah, hal tersebut juga secara pragmatis dimanfaatkan oleh makhluk untuk hidup dan berpenghidupan sesuai dengan fenomena alam tersebut dengan terus melakukan penyesuaian-penyesuaian terhadap sunnatullah tersebut. Bahkan, dengan pikiran yang Allah anugerahkan kepada manusia, mereka diharuskan mengatasi berbagai masalah yang dihadapi dalam kehidupannya. bagaimana mengatasi agar air yang mengalir di sungai dapat dibendung untuk mengairi sawah yang tempatnya lebih tinggi daripada aliran sungai. Atau bagaimana membuat air supaya bisa dibekukan dan didinginkan sehingga terciptalah freezer dan kulkas. Pendek kata, manusia dapat mengontrol secara terbatas berbagai kemungkinan yang dapat dilakukan untuk menyesuaikan kehendak manusia dengan sunnatullah yang telah ada dan diciptakan oleh Yang Maha Pencipta, misalnya bagaimana manusia dapat mengontrol siklus hidrologi dengan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki manusia. Salah satu upaya kontrol manusia terhadap siklus hidrologi adalah membuat apa yang disebut hujan buatan. Proses kondensasi dalam pembentukan hujan di angkasa dipicu oleh adanya inti kondensasi, yakni titik-titik air atau partikel polutan seperti debu. Inti kondensasi itulah penyebab pembentukan kondensat air yang lebih besar dan cukup berat untuk jatuh berupa hujan. Semakin banyak inti kondensasi, semakin mudah awan atau uap air membentuk hujan. Hal ini dapat kita amati, bagaimana daerah-daerah yang dekat dengan pabrik semen sebagai sumber emisi debu halus ke angkasa, merupakan daerah yang relatif lebih sering hujan daripada tempat yang jauh dari pabrik. Selain itu, mekanisme kondensasi uap air dalam pembentukan hujan dapat dimanfaatkan untuk membuat hujan. Hujan buatan dapat dilakukan ketika air diperlukan untuk mengisi waduk dan menyirami daerah yang dilanda kekeringan. Penyebaran inti kondensasi seperti bubuk garam (NaC. dengan pesawat terbang akan mempercepat kondensasi uap yang ada menjadi hujan. Pembuatan hujan akan berhasil apabila memang masih ada cukup uap/awan, dan penyebaran inti-inti kondensasi dilakukan dengan tepat. Meski demikian, hujan buatan hanya dapat dibuat apabila jumlah uap air di atmosfer dalam bentuk kelembapan udara mencukupi. Apabila tidak maka hujan buatan tidak dapat diwujudkan. Jadi, apa yang disebut hujan buatan sebenarnya hanya merupakan proses kondensasi yang dipercepat. Setelah kondensasi terjadi, seringkali hujan buatan tersebut jatuh di daerah yang tidak diinginkan, karena meski dapat diperkirakan, namun perubahan arah dan kecepatan angin tidak dapat dikontrol. Rasulullah mencontohkan kepada kita untuk melakukan salat IstisqAAo memohon kepada Allah agar diturunkan hujan. Biasanya hal ini terkait dengan panjangnya musim kering sehingga membahayakan kehidupan tanaman, binatang, dan manusia. Ini dapat dimengerti karena hakikatnya, hujan turun adalah kehendak Allah, baik sedikit maupun banyak. Allah dalam AlQurAoan berfirman bahwa Dia-lah yang mengarahkan awan menuju daerah-daerah yang dikehendakiNya untuk menjadi hujan dan menghidupkan tanah yang mati. Ay24 Selain menulis Tafsir Ilmi Air dalam Perspektif Al-QurAoan dan Sains. Lajnah Pentashihan Mushaf al-QurAoan Badan Litbang dan Diklat Kementrian Agama RI yang bekerja sama dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) ini juga menghasilkan tafsir ilmi lainnya, yaitu Tafsir Ilmi Tumbuhan dalam Perspektif Al-QurAoan dan Sains dan Tafsir Ilmi Kiamat dalam Perspektif Al-QurAoan dan Sains dan masih banyak lainnya. Pada era ini juga, tepatnya di tahun 2014, terbit sebuah karya tafsir Aoilmi yang sangat fenomenal di kalangan sarjana Indonesia. Karya tersebut adalah Tafsir Salman Tafsir Ilmiah Atas Juz AoAmma karya para dosen dan ilmuan ITB. Kemunculan Tafsir Salman ini dilatarbelakangi oleh ketimpangan yang terjadi dalam dunia tafsir. Dr. Ir. Syarif Hidayat, ketua Pengurus YPM Salman ITB, mengatakan bahwa kegiatan penafsiran al-QurAoan selama ini masih lebih banyak menyentuh pesan-pesan sosial-politik-kemasyarakatan, padahal alQurAoan tidak kurang banyaknya berbicara mengenai alam raya, dari makrokosmos hingga mikrokosmos. Kurangnya penafsiran mengenai isyaratisyarat alam ini telah mempersulit banyak saintis dan teknologiawan Muslim untuk memaknai kitab sucinya sendiri. Semangat tafsir Salman ini adalah tetap menghormati tafsir-tafsir klasik warisan Islam yang baku, sekaligus melengkapi dan menyodorkan alternatifalternatif yang segar dan mencerahkan. 42 Para penulis Tafsir Salman ini sadar Lajnah Pentashihan Mushaf al-QurAoan dan LIPI. Tafsir Ilmi AirA. , h. Tim Tafsir Ilmiah Salman ITB. Tafsir Salman Tafsir Ilmiah atas Juz AoAmma,( Bandung: Mizan, 2. , h. betul akan adanya kontroversi mengenai status tafsir Aoilmi>di kalangan Muslim. Untuk itu, mereka menyusun sebuah metodologi agar hasil yang didapatkan bisa akurat dan tepat. Metodologi Tafsir Salman dapat dilihat dari diagram berikut: Ayat al-QurAoan Telaah Kebahasaan Tafsir Ilmiah Terdahulu Tafsir Ilmih Salman Kesimpulan Contoh penafsiran Tafsir Salman bisa dilihat ketika menafsirkan wa banainA fauqakum sabAoan syidAdan (Q. al-Naba . : . Dalam melakukan penafsiran ayat tersebut, tim penafsiran Salman melakukan tiga tahap penjelasan ayat. Pertama adalah dengan melakukan analisa kebahasaan, kedua dengan mengungkap beberapa penafsiran mufassir terdahulu, pada tahap ketiga melakukan penafsiran otentis dengan riset yang didiskusikan dalam forum ilmiyah, dan keempat menarik kesimpulan pada setiap sekmentasi ayat. Pertama, tahapan Analisis Kebahasaan. Tahapan ini meliputi. Kata BanaynA merupakan kata yang berasal dari kata bana-yabni-binaan yang bermakna Aumendirikan dindingAy. Kemudian kata ini dimaknai secara majazi dengan AuberputarAy. AuberubahAy. AudasarAy, dan Aubertambah besarAy. Kata sabAoan terambil dari kata isabAoatun yang bermakna tujuh, namun juga bisa bermakna Aubanyak sekaliAy. Kata kata syidAdan bermakna AukuatAy dan AuberatAy. Kedua, mengungkap penafsiran para mufassir terdahulu. Konsep membangun dalam ayat ke duabelas sebagaimana dalam Rh al-MaAoAn dianalogikan sebagaimana membangun kubah-kubah di atasnya. Sedangkan, menurut penafsiranlainnya, konsep membangun berhubungan dengan suatu proses atau pentahapan dalam penciptaan langit. Di dalamnya diumpamakan bahwa langit itu seperti tenda dan bukan sepertibangunan yang diratakan. Langit diciptakan sebagai atap sebagaimana dijelaskan dalam ayatyang lain. Tim Tafsir Ilmiah Salman ITB. Tafsir Salman Tafsir Ilmiah atas Juz AoAmma, h. Sedangkan dalam tafsir al-Munir, maksud dari ayat tersebut adalah pembangunan langit yang terdiri dari tujuh lapis yang tidak terpengaruh oleh zaman/masa. Katiga, tafsir Salman. Langit secara astronomis didefinisikan sebagai Aubatas pandangan manusiaAy, namun dalam ayat ini, langit yang dimaksud adalah atmosfer. Sebab langit dalam ayat ini dikaitkan . i-munasabah-ka. dengan matahari . dan hujan . Langit dianggap kukuh karena mammpu menahan benda berbahaya dari luar bumi, seperti lapisan ionosfer yang mampu menahan badai matahari. Langit juga menjadi penanda waktu dalam kalenderisasi yang sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia. Sumbu bumi berpresesi . sumbu lingkaran ekliptika selama 26 ribu tahun. Hal ini mengakibatkan posisi ekliptika kutup utara dan kutup selatan mengalami pergeseran. Fenomena ini mengakibatkan matahari bergerak lebih cepat sehingga kalender terus dirubah secara berkala mengikuti perubahan Demikianlah beberapa uraian mengenai perjalanan transformatif tafsir ilmi di Indonesia sejak era 1960-an hingga sekarang Penutup Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa paradigma Integrasi dalam Tafsir Ilmi tidak hanya ingin menunjukkan bahwa tidak ada dikotomi antara agama dan sains, lebih dari itu ia merupakan salah satu bentuk upaya memperkenalkan Tuhan kepada masyarakat modern melalui pertemuan tafsir dan sains. Hal ini dapat dilihat dari pola penerapan integrasi yang disuguhkan, teologi senantiasa hadir untuk menjelaskan berbagai makna ayat dan kemudian dipertegas melalui temuan ilmiah. Berbicara mengenai dinamika geliat tafsir Aoilmi di Indonesia terus Di era 1960-an, tafsir al-Nur karya Hasbi ash-Shiddieqiy sudah mulai menggunakan penemuan sains dalam menafsirkan beberapa ayat alQurAoan, meskipun dengan jumlah yang masih sangat sedikit. Era 1990-an ditandai dengan merebaknya buku-buku tentang relasi al-QurAoan dan sains. Dan di era 2010-an sudah muncul karya tafsir Aoilmi yang utuh, seperti Tafsir Ilmi Air dalam Perspektif al-QurAoan dan Sains. Tumbuhan dalam Perspektif al-QurAoan dan Sains, dan Kiamat dalam Perspektif al-QurAoan dan Sains yang merupakan karya hasil kerjasama antara Lajnah Pentashihan Mushaf alQurAoan Badan Litbang dan Diklat Kementrian Agama RI dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), dan Tafsir Salman Tafsir Ilmiah atas Juz AoAmma karya para ilmuan dan saintis ITB. DAFTAR PUSTAKA