Volume 8 | Nomor 2 | Tahun 2025 | Halaman 359Ai374 E-ISSN 2615-8655 | P-ISSN 2615-725X http://diglosiaunmul. com/index. php/diglosia/article/view/1198 Penggunaan analisis korpus melalui aplikasi AntConc dalam penelitian karya sastra Practice of corpus analysis through AntConc application in literary studies Ananda Bintang Purwaramdhona Universitas Padjadjaran Jalan Raya Bandung-Sumedang KM. Jatinangor. Indonesia Email: ananda22016@mail. Orcid: https://orcid. org/0009-0002-4421-250X Article History Received 16 January 2025 Revised 5 April 2025 Accepted 21 April 2025 Published 21 May 2025 Keywords corpus analysis. AntConc. systematic literature digital humanities. Kata Kunci analisis korpus. AntConc, penelitian karya sastra, kajian kepustakaan sistematis, humaniora digital. Read online Scan this QR code with your smart phone or mobile device to read online. Abstract This article aims to explore how corpus analysis patterns are applied and to demonstrate the practice of using the AntConc application in literary studies. Through a systematic literature review method, this study synthesizes ten studies that utilized AntConc to analyze various literary works, such as poetry and novels. The findings indicate that literary studies using AntConc tend to adopt four reading patterns when approaching literary texts. Furthermore. AntConc features, including word frequency, concordance, collocation, and keyword analysis, can assist researchers in identifying, analyzing, and interpreting thematic patterns, discourses, and narrative structures in literary corpora, provided the objects of study are in written form and convertible into text format . This study is expected to encourage researchers to engage in digital humanities and corpus-based literary research, which can begin with the use of AntConc, particularly in the exploration of Indonesian literary works that remain Abstrak Artikel ini bertujuan mengeksplorasi bagaimana pola analisis korpus diterapkan dan menunjukkan praktik penggunaan aplikasi AntConc dalam kajian sastra. Melalui metode kajian kepustakaan sistematis . ystematic literature revie. , penelitian ini memetakan dan menyintesiskan sepuluh studi yang memanfaatkan AntConc untuk menganalisis berbagai karya sastra, seperti puisi dan novel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penelitian sastra yang menggunakan AntConc memiliki kecenderungan menggunakan empat pola pembacaan dalam mendekati karya sastra. Selain itu, fitur-fitur AntConc, seperti frekuensi kata, konkordansi, kolokasi, dan analisis kata kunci, mampu membantu peneliti mengidentifikasi, menganalisis, dan menginterpretasi pola tematik, wacana, dan struktur naratif dalam korpus sastra selama objek yang dikaji berbentuk teks tulis dan dapat diubah ke dalam format teks . Penelitian ini diharapkan dapat memantik para peneliti untuk melakukan penelitian humaniora digital dan sastra berbasis korpus yang dapat diawali dengan menggunakan aplikasi AntConc, terutama pengkajian terhadap karya sastra Indonesia yang masih belum banyak dieksplorasi. A 2025 The Author. Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya by Universitas Mulawarman How to cite this article with APA style 7th ed. Purwaramdhona. Penggunaan analisis korpus melalui aplikasi AntConc dalam penelitian karya sastra. Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya, 8. , 359Ai374. https://doi. org/10. 30872/diglosia. Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya is an open access article under the terms of the Creative Commons Attribution-Share Alike 0 International License (CC BY-SA 4. Ananda Bintang Purwaramdhona Pendahuluan Kajian humaniora digital yang memadukan penggunaan teknologi digital dalam ilmu sosial humaniora masih menjadi perdebatan hingga saat ini. Perdebatan yang berlangsung tersebut sampai melahirkan komunitas Debates in the Digital Humanities yang menerbitkan seri bunga rampai mencakup metode, praktik, dan topik-topik terkini mengenai humaniora digital untuk dikontestasikan (Gold, 2012. Suryajaya, 2. Salah satu topik perdebatan dalam komunitas Debates in the Digital Humanities adalah mengenai penggunaan metode distant reading atau pembacaan jauh (Da, 2019. Underwood, 2. Metode pembacaan jauh yang dicetuskan Franco Moretti itu dianggap sering membuat klaim keliru berdasarkan hasil statistik yang tidak mempertimbangkan konteks lengkap teks sastra (Da, 2. Kendati demikian. Moretti . sebenarnya sudah menyanggah pernyataan tersebut dengan menekankan bahwa pembacaan jauh merupakan upaya melawan metode pembacaan dekat . lose readin. yang dianggapnya sebagai Aupraktik teologiAy dengan melanggengkan kanonisasi sastra karena hanya memilih beberapa teks sastra yang dianggap penting untuk dianalisis. Dengan kata lain, pembacaan jauh justru lebih mampu memperlihatkan konteks lengkap teks sastra karena dapat melihat konteks yang lebih besar dengan mengeksplorasi genre, tema, dan struktur dari suatu korpus atau kumpulan data berupa kata-kata dari suatu karya sastra (Moretti, 2000, 2013. Suryajaya, 2. Selain pembacaan jauh dan pembacaan dekat yang menurut Suryajaya . termasuk ke dalam pola kelangsungan akses dalam sumbu modalitas jarak untuk AumendekatiAy karya sastra, terdapat dua pola umum lain untuk mendekati suatu karya sastra. Kedua pola tersebut adalah pola cakupan objek yang dibaca . odalitas cakupan: pembacaan sempit dan pembacaan leba. dan pola pemaknaan simbol dalam objek yang dibaca . odalitas semantik: pembacaan dangkal dan pembacaan dala. Ketiga pola tersebut tidak bisa digunakan secara terpisah atau hanya satu modalitas saja, tetapi dalam mendekati karya sastra harus melibatkan minimal salah satu dari tiga pola relasi tersebut (Suryajaya, 2. Dalam konteks pembacaan jauh, peneliti yang hendak menggunakan pembacaan jauh akan secara mutlak berada pada ranah kajian humaniora digital. Hal tersebut disebabkan secara definisi pembacaan jauh merupakan pembacaan teks yang mendayagunakan tenaga komputasional untuk menunjukkan pola-pola sastrawi dari suatu korpus yang bisa mencakup ribuan sampai jutaan karya sastra (Suryajaya, 2. Dengan kata lain, pembacaan jauh merupakan metode utama dalam pendekatan humaniora digital yang tidak bisa lepas dari penggunaan alat komputasional seperti algoritma, mesin, sampai perangkat lunak. Penggunaan alat komputasional dalam tahapan teknis penelitian humaniora digital merentang dari mulai pengumpulan data, melakukan klasifikasi dan pendokumentasian data, pembersihan data, analisis data, sampai visualisasi data (Gardiner & Musto, 2. Sementara andil manusia atau peneliti humaniora digital berada pada tahap analisis interpretasi data atau meminjam istilah Suryajaya . dianggap sebagai Aupembaca orde kedua atau seorang metapembacaAy, yakni pembaca yang Auberada pada posisi termediasi oleh mesin dalam relasinya dengan karya sastra. Ay Sementara itu, dalam pembacaan dekat yang menjadi Aualat analisisAy masih sepenuhnya berada pada kuasa peneliti itu sendiri (Salmi, 2. Dari pemahaman tersebut, seorang peneliti yang hendak menggunakan pendekatan humaniora digital diharuskan setidaknya memiliki pengetahuan dasar tentang bahasa pemrograman termasuk analisis korpus. Hal itu menjadi kendala tersendiri karena sering kali akses terhadap pengetahuan tersebut sulit dan mahal sehingga beberapa peneliti (Allington et al. , 2016. Croxall & Jakacki, 2. mencurigai bahwa humaniora digital adalah alat neoliberalisme yang menjunjung komersialisasi karena mengabaikan nilai-nilai tradisional humaniora demi menarik perhatian pembuat kebijakan dan memperkuat struktur kekuasaan dominan. Meskipun begitu, kecurigaan itu ditepis Greenspan . yang menyebutkan bahwa tuduhan tersebut terlalu berlebihan karena terdapat proyek humaniora digital yang menolak komersialisasi dan berupaya untuk membuat akses penelitiannya terbuka . pen acces. Hal itu salah satunya dapat dibuktikan dengan semakin banyaknya alat komputasional yang terjangkau bahkan gratis. Beberapa di antaranya juga memiliki tampilan antarmuka . sederhana tanpa perlu memiliki Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 359Ai374 Penggunaan analisis korpus melalui aplikasi AntConc dalam penelitian karya sastra pemahaman yang komprehensif mengenai bahasa pemrograman sehingga mudah digunakan untuk menunjang penelitian dalam kajian humaniora digital. Salah satu aplikasi yang populer karena gratis dan mudah digunakan untuk melakukan analisis korpus kebahasaan termasuk karya sastra adalah aplikasi AntConc (Hui, 2023. Saad & Sarbini-Zin, 2. AntConc adalah sebuah aplikasi yang diciptakan Laurance Anthony pada tahun 2002 (Anthony, 2. Aplikasi tersebut merupakan aplikasi gratis yang dapat diunduh melalui laman resmi AntConc . ttps://w. net/software/antconc/). Aplikasi AntConc merupakan aplikasi yang mampu membuat daftar kata berdasarkan urutan abjad, frekuensi kemunculan, kata kunci, membuat konkordansi, dan kelompok kata dari sebuah teks berformat txt yang kerap digunakan dalam kajian linguistik korpus (Anthony, 2005. Salsabila et , 2. Aplikasi ini termasuk ke dalam generasi keempat dalam perkembangan perangkat lunak linguistik korpus sejak 1960-an (Anthony, 2013. McEnery & Hardie, 2. Pada umumnya, alat linguistik korpus pada generasi keempat seperti AntConc memiliki metode statistik umum, skalabilitas yang baik, dan tampilan antarmuka yang mudah digunakan untuk pengguna awam. Aplikasi AntConc awalnya diperuntukkan menunjang berbagai fitur dalam kajian linguistik Seiring perkembangan, aplikasi AntConc kemudian dapat digunakan dengan berbagai keperluan di luar kajian linguistik korpus selama basis data yang dikaji berbentuk teks tertulis . Kegiatan yang menggunakan AntConc merentang dari mulai untuk pembelajaran bahasa, penyusunan kamus, penelitian tentang semantik, sintaksis, sampai analisis wacana (Ermanto et , 2. Kendati demikian, aplikasi AntConc cenderung digunakan dalam bidang studi kajian linguistik, sementara dalam penelitian sastra yang padahal basis objeknya juga teks tertulis belum begitu diperhitungkan. Dugaan tersebut diperkuat setelah dilakukan proses pengambilan metadata dari 358 artikel penelitian yang menggunakan AntConc di Scopus dan Google Scholar melalui aplikasi Publish or Perish (PoP) dan VOSviewer sebagaimana yang dapat dilihat di Gambar 1. Gambar 1. Pemetaan secara umum penelitian yang menggunakan AntConc Dapat dilihat dari Gambar 1 bahwa penelitian-penelitian yang menggunakan aplikasi AntConc lazimnya diperuntukkan bagi penelitian yang masih berada di dalam lingkup kajian Namun, jika dilihat dari tren secara kronologis yang ditunjukkan dari perubahan warna . iru menuju kunin. , tampak pada tahun 2022 kajian-kajian yang lebih baru ditandai dengan warna kuning mulai keluar dari lingkup kajian linguistik bermunculan. Kajian tersebut merentang dari natural language processing system, social media, big data, sampai translation languages. Hal tersebut menunjukkan bahwa aplikasi AntConc mulai digunakan pada kajian yang lebih luas dari linguistik, salah satunya adalah kajian sastra. Kendati demikian, penelitian sastra yang menggunakan AntConc belum tampak secara signifikan di dalam Gambar 1 karena jumlah kajian Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 359Ai374 Ananda Bintang Purwaramdhona yang objek penelitiannya karya sastra masih terbilang sedikit. Setelah ditelusuri melalui aplikasi Publish or Perish, setidaknya hanya ada sepuluh penelitian yang berfokus menganalisis karya sastra menggunakan aplikasi AntConc dari 358 penelitian yang menggunakan AntConc. Kendati masih terbilang sedikit, adanya penelitian terhadap karya sastra yang menggunakan AntConc membuktikan bahwa aplikasi tersebut dapat diandalkan untuk mempermudah proses analisis dalam penelitian karya sastra dan berpotensi digunakan oleh lebih banyak peneliti, terutama peneliti yang masih awam dalam menjalankan alat-alat komputasional. AntConc dapat menjadi gerbang awal dalam mengeksplorasi kajian humaniora digital yang berfokus pada karya sastra. Penelitian ini bertujuan menjawab dua pertanyaan: . bagaimana pola analisis korpus diterapkan melalui aplikasi AntConc terhadap karya sastra? . bagaimana praktik analisis korpus menggunakan aplikasi AntConc terhadap karya sastra dijalankan secara teknis? Untuk menjawab dua pertanyaan tersebut, penelitian ini hendak memetakan dan menyintesiskan sepuluh penelitian yang menggunakan AntConc sebagai alat untuk menganalisis berbagai karya sastra. Sepuluh penelitian tersebut dipilih karena objeknya merupakan karya sastra, dari mulai puisi sampai novel. Hal itu dapat diketahui setelah dilakukan pembacaan terhadap metadata yang telah terkumpul dalam format CSV melalui aplikasi Publish or Perish. Dengan demikian, dari 358 penelitian yang terkumpul hanya sepuluh penelitian yang dijadikan objek penelitian dalam artikel ini. Metode yang digunakan untuk menjawab dua pertanyaan di atas dengan memetakan dan menyintesiskan sepuluh penelitian yang telah dipilih adalah metode kajian pustaka sistematis. Penelitian sastra yang menggunakan metode kajian pustaka sistematis telah banyak dilakukan. Beberapa penelitian tersebut menyintesiskan dan memetakan penelitian pada objek karya sastra novel (Irshad & Yasmin, 2022. Sudewa & Gaho, 2024. Suoth et al. , 2. , puisi (Arifin et al. , 2023. Diana et al. , 2. , sampai fenomena sastra (Abimubarok et al. , 2024. Rizal et al. , 2021. Rokhmansyah, 2. Namun, penelitian-penelitian tersebut berkecenderungan menyintesiskan penelitian yang berfokus pada objek, tema, atau fenomena yang sama dan tidak berfokus pada penelitian yang menggunakan alat komputasional seperti AntConc dalam menganalisis suatu karya sastra. Di sisi lain, penelitian yang mencoba menyintesiskan beberapa penelitian yang menggunakan AntConc sebenarnya telah dilakukan oleh Alamri & Alqarni . , tetapi penelitian tersebut berfokus pada sejumlah studi yang menggunakan AntConc untuk pembelajaran Sementara itu, penelitian (Muminovna, 2. melihat AntConc memiliki potensi besar untuk mendekati karya sastra, tetapi tidak secara signifikan menjelaskan dan menyintesiskan penelitian-penelitian sastra yang menggunakan AntConc. Oleh karena itu, artikel ini hendak memberikan penjelasan mengenai pola analisis korpus dan panduan teknis penggunaan AntConc dalam penelitian karya sastra menggunakan metode kajian kepustakaan sistematis dengan menyintesiskan sepuluh penelitian yang menggunakan AntConc untuk mendekati suatu karya sastra. Metode kajian pustaka sistematis digunakan karena metode tersebut dapat menggambarkan secara komprehensif temuan penelitian terdahulu mengenai topik tertentu yang berguna untuk mengidentifikasi celah dalam literatur sehingga dapat menyoroti area kosong yang dapat digunakan untuk penelitian selanjutnya (Rokhmansyah, 2. Dengan demikian, diharapkan penelitian ini dapat membantu dan mempermudah para peneliti yang hendak menggunakan aplikasi AntConc untuk mendekati karya sastra, terutama pada objek karya sastra Indonesia yang masih minim. Metode Penelitian ini menggunakan metode kajian pustaka sistematis. Kajian pustaka sistematis bertujuan membuktikan, mengkaji, dan menyintesiskan beberapa penelitian secara sistematis (Lame, 2019. Rokhmansyah, 2. Dalam menelusuri penelitian yang menggunakan AntConc untuk menganalisis karya sastra, penelitian ini menggunakan aplikasi Publish or Perish yang secara otomatis dapat mencari penelitian sesuai dengan kata kunci yang hendak dicari. Aplikasi PoP merupakan aplikasi untuk mempersingkat waktu dalam pencarian sumber referensi dari Google Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 359Ai374 Penggunaan analisis korpus melalui aplikasi AntConc dalam penelitian karya sastra Scholar. Web of Science. Scopus, sampai PubMed yang dilakukan secara otomatis dari 10 sampai 000 artikel (Laili & Mulyati, 2024. Rahmadani & Bakri, 2. Setelah melakukan penarikan data melalui Scopus dan Google Scholar dengan bantuan PoP terhadap penelitian yang menggunakan AntConc, didapatkan 358 artikel dari 253 jurnal yang terbit sejak tahun 2005 sampai 2024. Dari 358 artikel yang menggunakan AntConc, hanya terdapat sepuluh artikel penelitian yang objek penelitiannya berupa karya sastra. Oleh karena itu, penelitian ini hanya akan berfokus pada sepuluh artikel penelitian tersebut untuk menunjukkan pola analisis korpus yang diterapkan dan menunjukkan praktik penggunaan aplikasi AntConc dalam kajian Kesepuluh penelitian tersebut dapat dilihat dalam Tabel 1. Tabel 1. Metadata Penelitian Sastra yang Menggunakan AntConc No. Judul dan Tahun Terbit Nama Penulis Exploring Pornography in Widad BenmoussaAos Poetry Using LIWC and Corpus Tools . The Construction of Time. Place and Society in 21st Century American Dystopia Fiction: A Corpus Linguistics Analysis of Deixis . Arenas Korpus yang Diteliti 445 kata Objek Penelitian Khalil 4467 kata Research on the Rise of Digital Humanities and the Turn of Literary Study Based on AntConc . A Corpus-based Study of James JoyceAos A Portrait of the Artist as a Young Man . Corpus Based Analysis of Literary Works of A Thousand Splendid Suns . Cao 113 kata Ajmal & Shoukat 248 kata Wan 5957 kata Corpus-Assisted Analysis of Robert FrostAos Poem. AuInto My OwnAy Using AntConc . What can digital humanities do for literary adaptation studies: distant reading of childrenAos editions of Robinson Crusoe . Saad & SarbiniZin 128 kata Sajak AuInto My OwnAy Hui 000 kata & 000 kata Konkordansi (KWIC), frekuensi kata, kata pancingan, analisis plot. Rekonstruksi Sejarah dalam Kumpulan Puisi Dari Batavia sampai Jakarta melalui Pembacaan Jauh Berbasis Korpus . Figurative language and gender construction: A corpus-based analysis of similes in FaruqiAos The Mirror of Beauty . Purwaramdhona et al. 570 kata Dua novel tentang Robinson Crusoe karya Daniel Defoe dan John Farrar Buku puisi Dari Batavia sampai Jakarta Anwar et al. Novel The Mirror of Beauty Kolokasi kata, kata Unravelling Yu GuangzhongAos Identity Through His Poetic Reflections: A Corpus-Based Investigation . Li et al. 112 kata atau frasa yang 071 kata Buku puisi The Night Watchman Analisis kolokasi, kata pancingan. Enam buku puisi karya Widad Benmoussa Delapan novel (The Hunger Games Trilogy dan lima novel serial The Maze Runne. Novel The Sound and the Fury Novel A Portrait of the Artist as a Young Man Novel A Thousand Splendid Suns Fitur Analisis AntConc Analisis kata kunci, frekuensi kata, kata Kata pancingan, analisis konkordansi (KWIC). Analisis Konkordansi (KWIC), analisis plot, kata pancingan. Kata pancingan, analisis plot, frekuensi Kata pancingan, analisis kata kunci, konkordansi (KWIC), analisis plot Frekuensi kata, analisis kata kunci. Frekuensi kata, kolokasi kata, kata Dari Tabel 1 dapat dilihat bahwa besaran korpus yang diteliti memiliki keberagaman jumlah. Keseluruhan penelitian cenderung menggunakan besaran korpus yang sama dengan jumlah kata dari objek karya sastra yang diteliti. Hanya terdapat dua penelitian yang memiliki jumlah korpus yang spesifik, yakni penelitian nomor tiga dan sembilan. Kedua penelitian tersebut tidak menyertakan jumlah korpus total dari objek karya sastra yang diteliti, tetapi memilih beberapa teks dari objek karya sastra yang kemudian dijadikan korpus sesuai dengan tujuan kedua penelitian Selain itu, penelitian-penelitian sastra yang menggunakan AntConc memiliki rentang terbit yang berdekatan, yakni dari 2018 sampai 2024. Rentang tahun tersebut juga mengindikasikan adanya penambahan jumlah publikasi di setiap tahunnya. Hal ini menyiratkan potensi besar Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 359Ai374 Ananda Bintang Purwaramdhona penggunaan AntConc dalam penelitian karya sastra yang kemungkinan akan semakin banyak digunakan pada masa depan. Namun sayangnya, dari enam tahun terakhir hanya ada satu penelitian yang menggunakan objek karya sastra Indonesia. Oleh karena itu, penelitian ini diharapkan dapat memantik para peneliti untuk menggunakan aplikasi AntConc dalam mendekati karya sastra Indonesia yang masih minim. Pembahasan Pola Analisis Korpus Menggunakan AntConc dalam Penelitian Sastra Dari kesepuluh penelitian sastra yang menggunakan AntConc, terlihat bahwa ada empat pola analisis korpus untuk mendekati atau membaca suatu objek karya sastra menggunakan AntConc. Pola tersebut merujuk pada pola umum untuk mendekati suatu karya sastra yang diformulasikan oleh Suryajaya . Terdapat tiga penelitian (Ajmal & Shoukat, 2021. Cao, 2021. Saad & Sarbini-Zin, 2. yang menggunakan pola pertama, yakni penelitian yang dilakukan dengan membaca karya sastra secara sempit-jauh-dangkal. Pola kedua dilakukan oleh dua penelitian (Hui. Khalil, 2. dengan membaca karya sastra secara lebar-jauh-dangkal. Pola ketiga dilakukan oleh empat penelitian (Anwar et al. , 2024. Li et al. , 2024. Purwaramdhona et al. , 2023. Wan, 2. dengan membaca karya sastra secara sempit-jauh-dalam. Sementara pola keempat dilakukan oleh satu penelitian (Arenas, 2. secara lebar-jauh-dalam. Pemetaan modalitas tersebut dapat dilihat di Gambar 2. Gambar 2. Kuadran Pembacaan Penelitian Sastra yang Menggunakan AntConc Dari Gambar 2 tampak hanya terdapat dua variasi modalitas pembacaan yang berbeda, yakni dalam modalitas cakupan . empit-leba. dan modalitas semantik . angkal-dala. Dalam modalitas cakupan, penelitian korpus sastra yang menggunakan AntConc sering kali memiliki fleksibilitas dalam cakupan. Menurut Suryajaya . , jika pembacaan difokuskan pada satu karya atau pengarang, cakupan dianggap sempit . , tetapi jika mencakup banyak karya atau keseluruhan genre, cakupan dapat menjadi lebih luas . Variasi kedua yang ditemukan dalam penelitian sastra menggunakan aplikasi AntConc adalah modalitas semantik. Analisis korpus terhadap karya sastra dapat berada dalam kategori dangkal . dan mendalam . tergantung tujuan penelitian, apakah penelitian tersebut akan membaca teks secara harfiah sebagai teks . atau ada maksud lain . terhadap suatu teks (Suryajaya, 2. Alasan utama tidak adanya modalitas jarak dalam kuadran tersebut karenaAisebagaimana yang telah disebutkan di pendahuluanAipembacaan jauh merupakan metode utama dalam penelitian humaniora digital. Dengan kata lain, penelitian humaniora digital seperti sepuluh Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 359Ai374 Penggunaan analisis korpus melalui aplikasi AntConc dalam penelitian karya sastra penelitian di atas memiliki kecenderungan secara mutlak berada di kategori pembacaan jauh. Hal itu disebabkan suatu penelitian sastra yang menggunakan aplikasi komputasional seperti AntConc diharuskan memiliki suatu korpus terlebih dahulu. Keberadaan korpus berperan penting karena menjadi objek penelitian dalam modalitas pembacaan jauh yang hanya dapat dilakukan melalui aplikasi komputer, dalam hal ini AntConc. Hal itu tidak dimungkinkan jika menggunakan pembacaan dekat yang harus memeriksa teks dalam jumlah besar secara manual. Kendati demikian, model pembacaan jauh juga tidak melepaskan kerja teoretis begitu saja kepada mesin untuk bekerja sepenuhnya, tetapi masih ada peran manusia atau peneliti yang melakukan kerja interpretasi data dari hasil kalkulasi dan analisis yang telah dilakukan oleh suatu aplikasi komputer. Model pembacaan jauh ini memungkinkan seorang peneliti mengidentifikasi kolokasi, frekuensi kata, dan pola naratif yang berjumlah besar sehingga meminimalisasi subjektivitas peneliti dalam mengolah suatu data, dalam hal ini karya sastra. Paparan di bawah akan menjelaskan lebih detail mengenai hasil temuan dan pola pendekatan kesepuluh penelitian yang menggunakan AntConc terhadap karya sastra, terutama variasi modalitas cakupan dan semantik karena modalitas jarak sudah mutlak berada di sumbu pembacaan jauh. Pola Pertama: Sempit-Jauh-Dangkal Penelitian yang menggunakan pola pertama merupakan penelitian yang menganalisis satu buah karya sastra dan hanya melihatnya sebagai fenomena kebahasaan tanpa mengaitkannya dengan kondisi sosial, politik, budaya, sampai ekonomi yang melingkupinya. Hal itu dilakukan Ajmal & Shoukat . yang menggunakan AntConc untuk mengidentifikasi pola kata, sintaksis, dan struktur naratif dalam novel A Potrait of the Artist as a Young Man karya James Joyce. Penelitian tersebut termasuk ke dalam pembacaan sempit karena hanya berfokus pada satu karya saja. Penelitian tersebut pertama-tama memilih kata-kata yang tertera dari judul novel dan mengidentifikasi kata-kata dan frasa imperatif yang muncul dalam korpus novel tersebut. Pencarian melalui aplikasi AntConc dengan mencari kata-kata dari judul dilakukan Ajmal & Shoukat . untuk melihat keterkaitan antara judul dan cerita yang diangkat dalam novel. Hasilnya menunjukkan bahwa dalam novel tersebut kata AuartistAy menempati urutan pertama dengan 171 kemunculan yang menunjukkan bahwa novel ini bercerita tentang seorang artist, yakni tokoh utama novelnya Stephen Dedalus. Sementara itu, pencarian frasa dan kata imperatif dilakukan untuk melihat konteks yang lebih dekat terkait dengan cara tokoh dan penulis mengungkapkan perasaan (Ajmal & Shoukat, 2. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa novel A Potrait of the Artist as a Young Man banyak memunculkan kalimat imperatif seperti AuRememberAy. AuReadAy, dan AuTry toAy. Penelitian tersebut termasuk ke dalam pembacaan dangkal karena tidak mengungkapkan lebih dalam mengapa kata-kata itu muncul dan mengaitkannya dengan keseluruhan cerita dalam novel atau konteks sosio-historis penciptaan novel tersebut. Dengan demikian, penelitian yang dilakukan Ajmal & Shoukat . hanya sekadar menginventaris kemunculan kata-kata tertentu untuk dimasukkan ke dalam suatu kelas kata yang sesuai dengan kaidah dan teori tentang linguistik. Pola yang sama juga terjadi pada penelitian Cao . yang mengkaji novel The Sound and the Fury karya William Faulkner. Penelitian tersebut termasuk ke dalam pembacaan sempit karena hanya berfokus pada satu karya saja. Penelitian tersebut memperlihatkan bagaimana novel The Sound and the Fury menuturkan gaya naratif non-konvensional melalui fragmen cerita acak dan alur cerita tersebar sehingga tidak dapat dibaca dari awal sampai akhir sebagaimana lazimnya sebuah Gaya bahasa tersebut juga didukung oleh karakter tokoh utama yang memiliki keterbatasan mental sehingga memengaruhi bagaimana novel tersebut bertutur. Menariknya, gaya eksperimental tersebut dapat dianalisis dengan bantuan aplikasi AntConc. Cao . menemukan bahwa dalam novel tersebut ditemukan struktur kalimat yang lebih sederhana . imple sentence. , penggunaan konjungsi sederhana seperti kata AudanAy lebih dominan dibandingkan konjungsi yang lebih kompleks, kemudian dalam dialog lebih banyak menggunakan dialog langsung . irect speec. Temuan kebahasaan itu menunjukkan keterbatasan mental yang dialami oleh tokoh utama Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 359Ai374 Ananda Bintang Purwaramdhona ditambah tidak koherennya struktur cerita naratif yang acak. Penelitian Cao . menunjukkan bahwa aplikasi AntConc dapat menganalisis struktur karya sastra yang cukup kompleks. Dari temuan dan tujuan tersebut, penelitian Cao . masih tergolong ke dalam pembacaan dangkal karena hanya berfokus pada fenomena kebahasaan, yakni gaya bahasa. Penelitian Saad & Sarbini-Zin . menggunakan AntConc untuk mengidentifikasi tema dari sajak Into My Own karya Robert Frost. Penelitian tersebut termasuk ke dalam pola penelitian dengan pembacaan sempit karena hanya berfokus pada satu sajak dan juga termasuk ke dalam pembacaan dangkal karena menggunakan pendekatan stilistika korpus yang berfokus pada gaya bahasa saja. Menurut Saad & Sarbini-Zin . stilistika korpus berfokus pada analisis kolokasi, analisis kata kunci, dan N-gram. Penelitian tersebut menggunakan analisis kata kunci sebagai bagian dari stilistika korpus untuk mencari kata yang unik sebagai cara mengidentifikasi tema dari sajak Into My Own. Analisis kata kunci didahului dengan mencari korpus referensi yang berisikan enam juta kata bahasa Inggris yang umum untuk dibandingkan dengan sajak Into My Own karya Robert Frost. Perbandingan tersebut dilakukan untuk mencari kata-kata yang unik dan tidak biasa karena dibandingkan dengan enam juta kata yang sering muncul dalam wacana bahasa Inggris. Hasilnya ditemukan bahwa kata kunci dalam sajak tersebut adalah AuIAy. AuNotAy. AuShouldAy. AuofAy. AutheyAy. AumeAy, dan AumyAy. Kata-kata tersebut menunjukkan tiga tema utama, yakni kesepian, kebingungan, dan ketakutan akan masa depan. Pola Kedua: Lebar-Jauh-Dangkal Penelitian yang menggunakan pola kedua merupakan penelitian yang menganalisis lebih dari satu buah karya sastra dan hanya melihatnya sebagai fenomena kebahasaan tanpa mengaitkannya dengan kondisi sosial, politik, budaya, sampai ekonomi yang melingkupinya. Penelitian Hui . termasuk ke dalam pembacaan lebar karena penelitian tersebut mengidentifikasi perbedaan dua novel, yakni novel Robinson Crusoe karya Daniel Defoe dan novel adaptasi Robinson Crusoe untuk anak-anak karya Farrar. Penelitian tersebut juga termasuk ke dalam pembacaan dangkal karena fokus penelitian hanya berada pada tataran fenomena kebahasaan dari dua novel tersebut. Melalui penggunaan AntConc, penelitian Hui . menunjukkan perbedaan frekuensi kata seperti kata yang berkaitan dengan tokoh utama FridayAitermasuk kata Friday itu sendiriAilebih banyak muncul dalam karya Farrar. Hal itu menunjukkan Farrar mencoba lebih banyak menambah plot tentang Friday dalam novel adaptasinya dibandingkan yang ditulis oleh Defoe. Penambahan kata yang berkaitan dengan plot tersebut untuk memperjelas posisi dan peran tokoh karena novel karya Farrar diperuntukkan untuk anak-anak. Penelitian selanjutnya yang menggunakan pola kedua adalah penelitian Khalil . Penelitian tersebut menggunakan pola pembacaan lebar dan dangkal karena penelitian ini menganalisis aspek deiksis bahasa dalam lima buah serial novel fiksi ilmiah . ci f. , yakni The Hunger Games Trilogy karya Suzanne Collins . dan The Maze Runner karya James Dashner . Penelitian Khalil . pertama-tama melakukan klasifikasi kelas kata yang berfokus pada deiksis kata kerja, demonstrativa, adverbia, dan preposisi. Melalui analisis konkordansi dalam aplikasi AntConc. Khalil . menemukan bahwa beberapa kelas kata memiliki pengaruh terhadap cerita novel fiksi distopia. Dalam kelas kata demonstratif seperti AuthatAy misalnya, berperan penting dalam membangun citra temporal yang mendalam dalam dunia Selain itu, dalam konstruksi tempat. AuthereAy lebih mendominasi daripada AuhereAy yang menunjukkan bahwa penulis mencoba memfokuskan kesadaran pembaca pada pusat deixis yang jauh dari kenyataan . Pola Ketiga: Sempit-Jauh-Dalam Pola penelitian ketiga merupakan pola yang mendekati karya sastra secara sempit yang berarti hanya satu karya sastra, sementara pembacaan dalam berarti penelitian tersebut mengaitkannya dengan referensi teks sosial dan budaya lain yang dianggap memiliki keterkaitan dengan suatu Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 359Ai374 Penggunaan analisis korpus melalui aplikasi AntConc dalam penelitian karya sastra karya sastra yang dikaji. Penelitian Li et al. termasuk ke dalam pembacaan sempit karena penelitian tersebut menganalisis satu buku puisi, berjudul The Night Watchman karya Yu Guangzhong. Penelitian tersebut juga merupakan pembacaan dalam karena menggunakan AntConc untuk mengeksplorasi identitas penyair, dari mulai sejarahnya sampai kondisi sosial budaya yang memengaruhi penyair menciptakan puisi. Li et al. menemukan bahwa dalam buku puisi The Night Watchman. Yu Guangzhong banyak mewacanakan lima tema besar di antaranya adalah cinta, isu sosial, nostalgia, refleksi, dan persoalan situasi alam. Sementara itu, penelitian Purwaramdhona et al. memadukan metode linguistik korpus menggunakan AntConc dengan pendekatan sejarah untuk melihat bagaimana sejarah Jakarta direkonstruksi oleh Zeffry J. Alktiri melalui buku puisi Dari Batavia sampai Jakarta. Hasilnya ditemukan bahwa sejarah dalam buku puisi tersebut direkonstruksi melalui gaya bahasa naratif prosais dan tidak menggunakan kebebasannya sebagai penyair melalui licentia poetica untuk mencapai efek estetis tertentu melainkan masih didominasi penggunaan kata tugas, yaitu kelas kata preposisi, konjungsi intrakalimat, dan pronomina. Pemaduan antara dua teori tersebut sudah jelas menunjukkan bahwa penelitian tersebut merupakan pembacaan dalam karena mencoba menganalisis suatu karya sastra dengan mengaitkannya pada suatu peristiwa sejarah. Sementara itu, penelitian tersebut termasuk ke dalam pembacaan sempit karena hanya menganalisis satu buku Dua penelitian selanjutnya juga berada di sumbu pembacaan dalam karena mengaitkan dengan isu gender. Penelitian pertama yang mengaitkan isu gender dilakukan Wan . Sebelum mengaitkannya dengan isu gender. Wan . terlebih dahulu memanfaatkan AntConc untuk menganalisis struktur teks dan frekuensi kata dalam novel A Thousand Splendid Suns karya Khaled Hosseini. Wan . menemukan bahwa kata benda yang sering muncul adalah namanama tokoh dari novel tersebut, yakni Mariam dan Laila. Melalui fitur plot dalam aplikasi AntConc, kemunculan dua nama tersebut tidak saling bersinggungan. Tokoh Mariam muncul terlebih dahulu dari awal novel menunjukkan bahwa novel tersebut menjelaskan terlebih dahulu latar belakang Mariam. Setelah itu, di bagian-tengah nama Laila menjadi sering muncul menunjukkan adanya pergantian perspektif pencerita. Menjelang akhir. Laila dan Mariam masingmasing memiliki elemen yang hilang satu sama lain, yang berarti bahwa kedua karakter memiliki akhir yang berbeda. Selain nama Mariam dan Laila, kata ganti AuheAy. AuhimAy cukup banyak kemunculannya menunjukkan bahwa karakter laki-laki dalam novel ini lebih banyak dibandingkan Di sisi lain, kata ganti perempuan lebih sedikit dan dapat disimpulkan bahwa novel ini diceritakan dari perspektif perempuan. Selain berada di sumbu pembacaan dalam, penelitian tersebut juga berada di sumbu pembacaan sempit karena hanya menganalisis satu buah novel. Penelitian selanjutnya dilakukan Anwar et al. yang menggunakan AntConc untuk menemukan pola simile dalam menggambarkan gender dalam The Mirror of Beauty karya Shamsur Rehman Faruqi. Studi tersebut terfokus pada pola bahasa dan perangkat stilistika dalam teks yang melihat perumpamaan konstruksi perempuan dan laki-laki yang ditulis oleh penulis laki-laki, yakni Shamsur Rehman Faruqi. Meskipun terdapat analisis kebahasaan seperti stilistika, penelitian tersebut masih berada di sumbu pembacaan dalam karena mengaitkannya dengan isu gender yang melingkupi penciptaan karya sastra tersebut. Hal itu ditunjukkan dari hasil penelitian yang ditemukan bahwa Shamsur Rehman Faruqi sebagai penulis laki-laki menunjukkan bias dalam merepresentasikan gender dalam tokoh-tokoh di novelnya. Tokoh laki-laki diwakili sebagai perumpamaan yang tampan serta hal-hal positif lainnya sementara perempuan cenderung ditandai dan diwakili melalui kepribadian yang negatif. Di sisi lain, penelitian tersebut termasuk ke dalam pembacaan sempit karena hanya meneliti satu buah novel. Pola Keempat: Lebar-Jauh-Dalam Penelitian yang membahas gender lainnya dilakukan Arenas . dengan meneliti enam buku puisi karya Widad Benmoussa. Sama halnya dengan dua penelitian sebelumnya yang membahas gender, penelitian Arenas . berada di sumbu pembacaan dalam karena Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 359Ai374 Ananda Bintang Purwaramdhona mengaitkan isu gender dan karya sastra yang dianalisisnya. Namun, penelitian tersebut menganalisis lebih dari satu karya sastra . nam buku puis. sehingga termasuk ke dalam pola keempat, yaitu lebar dan dalam. Penelitian tersebut berada di sumbu pembacaan dalam karena hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa enam buku puisi karya Widad Benmoussa banyak mengandung unsur seksualitas yang berhubungan dengan latar belakang sosial budaya di Timur TengahAitempat karya tersebut diciptakanAiyang masih menganggap seksualitas sebagai sesuatu yang tabu. Melalui puisi-puisinya. Widad Benmoussa menyembunyikan unsur seksualitas melalui metafora sentral sebagai salah satu cara mengungkapkan aspirasi di dalam masyarakat Timur Tengah yang masih tertutup mengenai seksualitas. Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa penelitian sastra berbasis korpus yang menggunakan AntConc memiliki kecenderungan secara mutlak menggunakan modalitas pembacaan jauh sebagaimana yang telah disebutkan di awal pembahasan, tetapi dua modalitas lainnya . odalitas cakupan dan modalitas semanti. tidak secara mutlak digunakan dan masih bisa divariasikan. Tahapan Penggunaan AntConc untuk Melakukan Penelitian terhadap Karya Sastra Sebagaimana yang telah dilakukan oleh sepuluh peneliti yang menggunakan AntConc untuk meneliti karya sastra, tahapan-tahapan yang dilakukan para peneliti tersebut memiliki kemiripan dengan apa yang diformulasikan Gardiner dan Musto . serta beberapa penelitian linguistik yang menganalisis fenomena kebahasaan menggunakan AntConc (Anthony, 2005, 2013. Salsabila et al. , 2. Untuk itu, pada pembahasan ini akan dipaparkan tahapan yang kerap dilakukan ketika menggunakan AntConc untuk meneliti karya sastra seperti yang dapat dilihat dalam Tabel 2 Selain itu, fitur-fitur AntConc yang digunakan oleh sepuluh penelitian dalam Tabel 1 akan dikaitkan dengan pemaparan tahapan dalam pembahasan di bawah. Tabel 1. Tahapan Penggunaan AntConc dalam Penelitian Karya Sastra Tahapan Proses pengumpulan dan pembersihan data Proses pra-analisis Proses analisis Proses interpretasi Instruksi Data korpus harus berformat digital. Data diambil dari proses pemindaian digitalisasi . atau melalui proses pengambilan data secara daring . Setelah terkumpul, data korpus perlu dibersihkan dari format yang mengganggu. Jika data sudah dianggap bersih sesuai keperluan penelitian, format data diusahakan diubah menjadi txt. Tentukan tujuan penelitian, misalnya untuk analisis gaya bahasa, tema, atau representasi tokoh. Tentukan kata pancingan atau pola linguistik . eperti misalnya kelas kat. yang ingin dicari dan relevan dengan pertanyaan Siapkan kata henti . topword lis. untuk menghapus kata-kata umum seperti kata tugas yang dianggap tidak signifikan. Jalankan analisis frekuensi kata untuk melihat distribusi Gunakan fitur concordance untuk menganalisis konteks penggunaan kata dalam kalimat. Analisis kolokasi dengan fitur collocates untuk memahami hubungan makna antar kata dalam korpus. Interpretasikan hasil analisis berdasarkan data kuantitatif yang Hubungkan hasil analisis dengan teori atau pendekatan sastra yang relevan. Jika perlu . , validasi hasil dengan metode kualitatif seperti membaca manual. Fitur Gunakan aplikasi pemindai teks atau beberapa situs pengambilan data seperti Apify. Octoparse, atau melakukan pengambilan data melalui Python dalam Googlecolab atau Jupyter Notebook. Word List: Melihat frekuensi kata. Keyword List: Identifikasi kata kunci yang unik. Concordance (KWIC): Menampilkan konteks kata. Concordance Plot: Menampilkan visualisasi distribusi kata. Collocates: Menentukan makna kata. Clusters/N-Grams: Menganalisis pola File View: memeriksa teks asli berdasarkan temuan. Opsional: Visualisasikan hasil analisis menggunakan Wordcloud di AntConc atau perangkat lunak tambahan seperti Excel atau Tableau. Seperti yang terlihat dari Tabel 2, tahapan penggunaan AntConc dalam penelitian karya sastra dapat dibagi lebih ringkas menjadi empat tahapan. Hal ini didasari dari sepuluh penelitian yang menggunakan AntConc untuk meneliti sastra yang sudah dibahas sebelumnya. Tahap pertama melakukan proses pengumpulan dan pembersihan data. Proses pengumpulan dibagi menjadi dua Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 359Ai374 Penggunaan analisis korpus melalui aplikasi AntConc dalam penelitian karya sastra metode, pertama melalui pemindaian digitalisasi dari teks fisik ke teks digital, kemudian metode kedua melalui proses pengambilan data secara daring jika data tersebut sudah berformat digital . itus web, media sosial, dan seterusny. tetapi belum dikumpulkan ke dalam satu file. Setelah terkumpul dalam satu file dan dibersihkan menjadi suatu data yang terstruktur dan bisa dibaca melalui format spreadsheet atau excel, tahapan selanjutnya adalah tahap pra-analisis. Tahapan pra-analisis ini menjadi salah satu penentu langkah selanjutnya dalam menganalisis dan menginterpretasi data. Dalam tahapan pra-analisis, seorang peneliti harus sudah memiliki tujuan penelitian untuk menentukan fitur analisis mana yang akan digunakan dalam AntConc. Jika seorang peneliti memutuskan untuk mencari gaya bahasa atau menganalisis isu-isu yang lebih spesifik, peneliti dapat menentukan terlebih dahulu kata pancingan yang akan dicari. Maka dari itu, fitur analisis yang digunakan dalam aplikasi AntConc adalah fitur Wordlist. Hal ini dilakukan Anwar et al. yang menggunakan kata pancingan seperti Aolike aAo. Aolike anAo. Aolike theAo. Aoas*asAo. Aoas a *Ao, dan Aolike that of a/an/theAo untuk mencari majas perumpamaan yang terdapat dalam novel The Mirror of Beauty untuk melihat bagaimana karakter tokoh laki-laki dan perempuan direpresentasikan oleh penulis novel. Penelitian lain yang menggunakan metode serupa dilakukan oleh Khalil . yang menentukan terlebih dahulu kata-kata yang dapat menunjukkan pola waktu dalam bahasa Inggris seperti AuIs *ingAy. AuAre *ingAy. AuAm *ingAy. AuWas *ingAy. AuWere *ingAy. AuHave been *ingAy. AuHas been *ingAy. AuWill be *ingAy. AuShall be *ing. AuWill have been *ingAy. AuShall have been *ingAy. AuHave *edAy. AuHas *edAy. AuHad *edAy, dan Au*ed . imple pas. Ay untuk melihat bagaimana para penulis fiksi ilmiah menunjukkan konstruksi waktu dalam novelnya. Hal yang menarik dari kedua penelitian tersebut dan fitur pencarian kata AntConc adalah munculnya tanda bintang (*) dalam awalan kata sufiks. Tanda bintang (*) berfungsi untuk mencari berbagai kemungkinan karakter yang akan muncul, misalnya jika mencari kata imbuhan Aume-*Ay akan memunculkan berbagai bentuk me- yang ada pada suatu korpus. Selain mencari kata pancingan tertentu yang spesifik sesuai dengan kebutuhan peneliti, fitur Wordlist sendiri adalah fitur yang digunakan untuk mengetahui jumlah tipe kata dan token atau jumlah total kata dalam korpus. Fitur ini memungkinkan pengguna untuk mengurutkan seluruh kata dalam korpus berdasarkan frekuensi kemunculan atau urutan abjad sesuai kebutuhan penelitian. Selain mencari kata, aplikasi AntConc juga dapat membatasi suatu kata melalui fitur stop words atau kata henti. Untuk menjalankan fitur tersebut, seorang peneliti pertama-tama membuat file txt yang berisikan kata-kata yang ingin dihilangkan. Setelah itu, unggah file melalui menu Settings lalu Tool Filters kemudian klik Add File dan klik Hide words in file. Hal ini penting untuk menghilangkan kata bantu . unction word. atau kata-kata yang sering muncul dari suatu korpus seperti pronomina, numeralia, interogativa, demonstrativa, artikula, preposisi, konjungsi, interjeksi, sampai kategori fatis sehingga dapat menampilkan kata konkret yang menjadi kata unik dari suatu korpus (Cheng. Kendati demikian, dalam penelitian sastra kata bantu juga menjadi aspek penting dalam penelitian karena hal tersebut berkait dengan gaya bahasa yang menjadi aspek sentral pada suatu karya sastra (Suryajaya, 2. Tahap setelah pra-analisis adalah melakukan analisis menggunakan berbagai fitur dalam aplikasi AntConc. Berbagai fitur tersebut merentang dari Wordlist. Keyword in Context (KWIC)/Concordance. File View. Concordance Plot. N-Grams. Keyword, dan Collocate. Fitur-fitur ini dapat diakses melalui menu utama aplikasi sebagaimana yang ditampilkan dalam Gambar 2. Namun, pada praktiknya, fitur-fitur ini bisa digunakan sesuai kebutuhan dan tanpa urutan sebagaimana yang akan dijelaskan satu per satu dalam artikel ini. Kendati demikian, fitur Wordlist adalah fitur yang pertama dilakukan karena fitur ini merupakan langkah awal AntConc untuk membaca keseluruhan korpus untuk selanjutnya dapat digunakan sesuai kebutuhan penelitian. Fitur yang sering digunakan untuk meneliti karya sastra melalui aplikasi AntConc dalam tahapan analisis selain analisis kata pancingan melalui Wordlist selanjutnya adalah Keyword in Context (KWIC) atau konkordansi . Fitur KWIC membantu menampilkan kata kunci dalam konteks kalimat yang penting untuk memahami tema dan makna dalam korpus secara singkat dalam satu baris. Misalnya, dalam penelitian Wan . yang melihat konteks kata dari nama tokoh novel yang menunjukkan perlakuan tokoh sendiri atau bahkan tokoh lain kepada Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 359Ai374 Ananda Bintang Purwaramdhona nama tokoh yang dicari. Seorang peneliti juga dapat melihat konteks yang lebih luas melalui file view yang dapat mempermudah pengguna untuk melihat lokasi atau konteks penggunaan kata tertentu di dalam korpus. Jika KWIC menampilkan konteks kata per baris dan file view digunakan untuk melihat konteks keseluruhan atau masuk ke dalam file korpus aslinya, fitur concordance plot dapat memberikan visualisasi distribusi atau penyebaran suatu kata dalam korpus berdasarkan jumlah kemunculannya atau kekerapan persebaran. Semakin sering kata tersebut muncul, semakin banyak garis distribusi yang terlihat dalam grafiknya. Hal ini berguna untuk melihat kemunculan suatu kata dari awal sampai akhir teks yang hendak dicari atau bahkan suatu nama tokoh. Penelitian Hui . bertujuan melihat kemunculan nama tokoh Friday yang memiliki perbedaan kemunculan dari dua novel Robinson Crusoe yang dapat dilihat secara mudah melalui grafik diagram batang yang dihasilkan dari fitur concordance plot. Fitur terakhir yang kerap digunakan dalam penelitian sastra menggunakan AntConc adalah Collocate atau kolokasi. Fitur ini berfungsi untuk menganalisis kombinasi penggunaan kata dalam korpus serta mengidentifikasi kedekatan antara suatu kata dengan kata lainnya, baik sebelum maupun sesudahnya. Kolokasi ini penting karena menunjukkan fenomena bahasa di mana suatu kata cenderung muncul bersama dengan kata tertentu dalam konteks tertentu, membentuk makna yang khas. Menurut Astuti . , kolokasi merupakan fenomena linguistik yang menggambarkan keterkaitan erat antara kata-kata tertentu untuk menyampaikan makna dalam suatu konteks. Dalam kajian sastra, kolokasi memiliki kemiripan konsep dengan isotopi. Isotopi merujuk pada kesatuan semantik yang terbentuk dari redundansi kategori semantik dan memungkinkan pembacaan yang mendalam terhadap teks (Karnanta, 2. Menurut Greimas . , isotopi adalah medan makna yang terdiri atas unsur-unsur semantik yang berulang di sepanjang wacana. Dalam penelitian sastra yang menggunakan AntConc, istilah kolokasi lebih sering digunakan karena merupakan bagian dari fitur utama dalam aplikasi AntConc yang memungkinkan seorang peneliti mengidentifikasi kata-kata tertentu yang merujuk pada suatu tema untuk kemudian dianalisis lebih lanjut (Anthony, 2005. Astuti, 2. Penelitian yang menggunakan analisis kolokasi dilakukan Li et al. dengan mengklasifikasikan kata-kata mana saja yang termasuk ke dalam beberapa wacana yang berkaitan dengan identitas penyair Yu Guangzhong dalam buku Tahap akhir analisis melibatkan interpretasi hasil dengan menghubungkannya pada teori sastra atau konteks budaya yang lebih luas. Analisis ini memberikan pemahaman yang lebih mendalam terhadap pola tematik dan struktur narasi dalam teks sastra yang telah dianalisis melalui aplikasi AntConc dengan berbagai fitur interaktif di dalamnya. Dengan demikian, fitur-fitur dalam AntConc tidak hanya memberikan data kuantitatif, tetapi juga dapat membantu dalam proses interpretasi seorang peneliti terhadap data yang berjumlah banyak. Penutup Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan menggunakan metode kajian pustaka sistematis terhadap sepuluh penelitian karya sastra yang menggunakan AntConc, dapat disimpulkan bahwa penelitian sastra yang menggunakan AntConc memiliki kecenderungan menggunakan empat pola analisis pembacaan dalam mendekati karya sastra, yakni sempit-jauh-dangkal, lebar-jauh-dangkal, sempit-jauh-dalam, dan lebar-jauh-dalam. AntConc memiliki tampilan antarmuka dan fitur-fitur analisis yang mudah digunakan terutama bagi para peneliti yang belum terbiasa dengan penggunaan alat komputasional. Fiturfitur seperti frekuensi kata, konkordansi, kolokasi, dan analisis kata kunci dapat memudahkan analisis pola tematik, wacana, dan struktur naratif terhadap korpus sastra yang berformat teks . Dengan kemudahan tersebut dan masih luasnya peluang penelitian terhadap objek karya sastra Indonesia, temuan penelitian ini diharapkan dapat memantik penelitian-penelitian selanjutnya untuk memanfaatkan AntConc sebagai alat bantu analisis dalam kajian sastra. Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 359Ai374 Penggunaan analisis korpus melalui aplikasi AntConc dalam penelitian karya sastra Daftar Pustaka