Jurnal Geosains West Science Vol. No. Juni 2026, pp. Analisis Kerentanan Kebakaran Hutan dan Lahan di Kawasan Gambut Kecamatan Dayun Kabupaten Siak Menggunakan Sistem Informasi Geografis Hardika Yoffranza1. Endah Purwaningsih2 Program Studi Geografi Universitas Negeri Padang dan hardikayoffranza23@gmail. 2 Program Studi Geografi Universitas Negeri Padang dan endahgeo@fis. Article Info ABSTRAK Article history: Penelitian ini bertujuan menganalisis pola persebaran titik panas . , mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi kerentanan kebakaran, dan memetakan tingkat kerentanan kebakaran di kawasan gambut Kecamatan Dayun. Kabupaten Siak. Metode penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG) dengan data hotspot FIRMS, citra sentinel-2, tutupan lahan, jenis tanah, curah hujan, dan sebaran Analisis menggunakan metode skoring dan pembobotan mengacu pada BNPB serta teknik overlay spasial. Hasil menunjukkan pola persebaran hotspot mengelompok di Desa Dayun dengan 107 dari 134 titik pada periode 2020-2024 . ,85%). Jenis tanah di Kecamatan Dayun di dominasi oleh tanah organosol saprik, tutupan lahan didominasi hutan rimba, perkebunan dan tegalan/lading, dan curah hujan didominasi kerentana sedang dengan rata-rata 1500-3000 mm/tahun. Pemetaan tingkat kerentanan kebakaran hutan menunjukkan 74,28% wilayah memiliki kerentanan tinggi dengan validasi Overall Accuracy 91,79% dan Kappa Coefficient 0,756, yang dapat menjadi dasar mitigasi kebakaran. Received Mar, 2026 Revised Mar, 2026 Accepted Mar, 2026 Kata Kunci: Kerentanan Kebakaran. Lahan Gambut. Hotspot. Sistem Informasi Geografis. Kecamatan Dayun Keywords: Fire Vulnerability. Peatland. Hotspot. Geographic Information System. Dayun District ABSTRACT This study aims to analyze the distribution pattern of hotspots, identify factors influencing fire vulnerability, and map the level of fire vulnerability in the peatland area of Dayun District. Siak Regency. The research method uses a quantitative descriptive approach based on Geographic Information Systems (GIS) with FIRMS hotspot data, sentinel-2 imagery, land cover, soil type, rainfall, and peat distribution. The analysis uses a scoring and weighting method referring to BNPB and spatial overlay techniques. The results show that the distribution pattern of hotspots is clustered in Dayun Village with 107 out of 134 points in the 2020-2024 period . 85%). The soil type in Dayun District is dominated by sapric organosol soil, land cover is dominated by jungle forest, plantations and dry fields/fields, and rainfall is dominated by moderate vulnerability with an average of 1500-3000 mm/year. Mapping of forest fire vulnerability levels shows that 74. of the area has high vulnerability with Overall Accuracy validation of 79% and Kappa Coefficient of 0. 756, which can be the basis for fire This is an open access article under the CC BY-SA license. Journal homepage: https://wnj. westscience-press. com/index. php/jgws/index Jurnal Geosains West Science A Corresponding Author: Name: Hardika Yoffranza Institution: Program Studi Geografi Universitas Negeri Padang Email: hardikayoffranza23@gmail. PENDAHULUAN Bencana kebakaran hutan dan lahan . merupakan masalah lingkungan yang semakin meningkat setiap tahunnya. Perubahan iklim global, peningkatan suhu, serta eksploitasi sumber daya alam yang tidak terkendali menjadi faktor utama yang memperparah kondisi ini. World Resources Institute . melaporkan bahwa setiap tahun lebih dari 4,2 juta hektare hutan tropis musnah akibat kebakaran, dengan Indonesia. Brasil, dan Kongo menjadi wilayah yang paling Di Indonesia, fenomena ini semakin menjadi perhatian karena dampaknya yang luas, baik secara lokal maupun global, terutama dalam hal emisi karbon yang mempercepat pemanasan Sebagai salah satu negara dengan tingkat kebakaran hutan dan lahan tertinggi di dunia. Indonesia mengalami kerugian ekologis, sosial, dan ekonomi yang signifikan setiap tahunnya. Menurut data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan . , pada tahun 2022 sekitar 000 hektare lahan terbakar, dengan wilayah Sumatera dan Kalimantan sebagai daerah yang paling terdampak. Kecamatan Dayun yang memiliki ekosistem gambut yang luas menjadi salah satu lokasi dengan tingkat kerentanan tinggi terhadap kebakaran. Dampak yang ditimbulkan tidak hanya berupa kerusakan lingkungan, tetapi juga polusi udara dalam bentuk kabut asap yang dapat menyebar hingga ke negara-negara tetangga. Ekosistem gambut memiliki peran penting dalam upaya mitigasi perubahan iklim karena kemampuannya menyimpan karbon dalam jumlah besar. Ketika terjadi kebakaran, karbon yang tersimpan dalam ekosistem ini dilepaskan dalam jumlah yang sangat tinggi, yang pada akhirnya meningkatkan emisi gas rumah kaca. Laporan Global Peatlands Initiative . menunjukkan bahwa kebakaran di lahan gambut menghasilkan emisi karbon dioksida sepuluh kali lebih besar dibandingkan kebakaran di hutan mineral. Oleh karena itu, memahami tingkat kerentanan kebakaran di lahan gambut sangatlah penting guna mendukung kebijakan mitigasi yang lebih Faktor penyebab kebakaran hutan dan lahan di lahan gambut dapat dibedakan menjadi faktor alami dan faktor antropogenik. Faktor alami meliputi kondisi iklim yang ekstrem seperti musim kemarau berkepanjangan, fenomena El Niyo yang meningkatkan suhu dan menurunkan curah hujan, serta karakteristik lahan gambut yang mudah terbakar. Sementara itu, faktor antropogenik berkaitan dengan aktivitas manusia seperti pembakaran lahan untuk persiapan budidaya pertanian, konversi hutan menjadi lahan perkebunan, serta lemahnya pengawasan dan penegakan hukum terhadap praktik pembakaran lahan. Sistem Informasi Geografis (SIG) telah digunakan secara luas dalam pemetaan dan analisis risiko kebakaran hutan dan lahan. Teknologi ini memungkinkan integrasi data spasial dari berbagai sumber untuk menghasilkan peta kerentanan yang lebih akurat dan dapat digunakan sebagai alat dalam pengambilan keputusan. Beberapa penelitian terdahulu menunjukkan keberhasilan penerapan SIG dalam identifikasi daerah rawan kebakaran, seperti yang dilakukan oleh Sabaraji . yang menggunakan metode overlay untuk mengintegrasikan variabel iklim, topografi, dan Vol. No. Juni 2026, pp. Jurnal Geosains West Science tutupan lahan. Selain itu, penggunaan data hotspot dari satelit seperti MODIS dan VIIRS menjadi salah satu indikator utama dalam mendeteksi titik api secara real-time. Penelitian ini dilakukan untuk memberikan kontribusi dalam upaya mitigasi kebakaran hutan dan lahan di kawasan gambut Kecamatan Dayun. Melalui analisis spasial menggunakan SIG, penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan peta kerentanan kebakaran yang dapat digunakan sebagai rujukan bagi pemerintah daerah dan instansi terkait dalam menyusun strategi pencegahan dan penanganan kebakaran. Dengan demikian, penelitian ini memiliki urgensi tinggi mengingat dampak kebakaran hutan dan lahan tidak hanya bersifat lokal, tetapi juga regional dan global. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif berbasis Sistem Informasi Geografis untuk menganalisis kerentanan kebakaran hutan dan lahan di Kecamatan Dayun. Metode ini dipilih karena kemampuannya dalam mengintegrasikan berbagai parameter spasial dan menghasilkan analisis yang komprehensif mengenai tingkat kerentanan kebakaran. 1 Lokasi Penelitian Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Dayun. Kabupaten Siak. Provinsi Riau. Kecamatan ini dipilih karena memiliki lahan gambut yang luas dan tingkat kejadian kebakaran yang tinggi berdasarkan data hotspot FIRMS periode 2020-2024. Secara astronomis. Kecamatan Dayun terletak pada koordinat 1A02'36" LU - 1A15'00" LU dan 101A39'36" BT - 101A54'00" BT dengan luas wilayah sekitar 929,99 kmA. 2 Data dan Sumber Data Data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi: . Data hotspot periode 2020-2024 dari Fire Information for Resource Management System (FIRMS). Citra Sentinel-2 tahun 2024 untuk analisis tutupan lahan. Peta administrasi Kecamatan Dayun skala 1:50. Data curah hujan dari CHIRPS (Climate Hazards Group InfraRed Precipitation with Statio. tahun 2020-2024. Peta jenis tanah semi detail skala 1:50. 000 dari KLHK. Data sebaran gambut dari Kemeterian KLHK 3 Metode Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan melalui beberapa tahap. Pertama, data hotspot diunduh dari portal FIRMS NASA dengan filter confidence level Ou80% untuk memastikan akurasi deteksi titik Kedua, citra Sentinel-2 diunduh dari Coperninus dan diolah untuk menghasilkan peta tutupan lahan melalui klasifikasi terbimbing. Ketiga, data curah hujan dari CHIRPS diunduh dan Keempat, data jenis tanah dan sebaran gambut diperoleh dari instansi terkait dan didigitasi ulang untuk disesuaikan dengan kebutuhan analisis. 4 Metode Analisis Data Analisis kerentanan kebakaran dilakukan melalui metode overlay spasial dengan sistem skoring dan pembobotan berdasarkan pedoman BNPB . Setiap parameter . enis tanah, tutupan lahan, curah hujan, dan sebaran gambu. diberikan skor dan bobot sesuai tingkat pengaruhnya terhadap kerentanan kebakaran. Jenis tanah diberi bobot tertinggi . %), diikuti tutupan lahan . %), curah hujan . %). Hasil overlay kemudian diklasifikasikan menjadi tiga kelas kerentanan: rendah, sedang, dan tinggi. Vol. No. Juni 2026, pp. Jurnal Geosains West Science Rentan Kebakaran = [. 4*Skor Tutupan Laha. 3*Skor Curah Huja. 3*Skor Jenis Tana. ] Tabel 1. Skor Kelas Tutupan Lahan Tutupan Lahan . %) Badan Air. Hutan Rimba Hutan Tanaman. Pemukiman Perkebunan. Lahan Terbuka. Tegalan. Semak Belukar Sumber: Rucker dalam (Sabaraji, 2. Kerentanan Rendah Sedang Tinggi Skor Tabel 2. Skor Kelas Curah Hujan Curah Hujan . %) < 1500 mm/ Tahun 1500 Ae 3000 mm/ Tahun > 3000 mm/ Tahun Sumber: BNPB, 2016 Skor Keterangan Tinggi Sedang Rendah Tabel 3. Skor Kelas Jenis Tanah Jenis Tanah . %) Organik/Gambut Semi Organik Non Organaik/Mineral Sumber: BNPB, 2016 Skor Validasi hasil pemetaan dilakukan menggunakan confusion matrix dengan membandingkan peta kerentanan hasil analisis dengan sebaran hotspot aktual. Parameter yang digunakan meliputi Overall Accuracy dan Kappa Coefficient. Selain itu, analisis regresi linear berganda dilakukan untuk mengidentifikasi kontribusi masing-masing faktor terhadap kerentanan kebakaran. HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Pola Persebaran Hotspot Analisis data hotspot dari citra satelit MODIS/AQUA-TERRA melalui sistem FIRMS selama periode 2020-2024 menunjukkan total 134 titik panas terdeteksi di Kecamatan Dayun dengan distribusi temporal yang berfluktuasi. Tahun 2020 tercatat 17 titik hotspot, meningkat menjadi 21 titik pada tahun 2021, kemudian menurun drastis menjadi 6 titik pada tahun 2022, melonjak tajam menjadi 48 titik pada tahun 2023, dan sedikit menurun menjadi 42 titik pada tahun 2024. Tabel 4 menunjukkan distribusi hotspot di Kecamatan Dayun pada tahun 2020-2024. Tabel 4. Hotspot Tahun 2020-2024 Klasifikasi Hotspot Total Tahun Non Fire Titik Panas Titik Api Sedang Total Sumber: Analisis Data Penelitian, 2025 Vol. No. Juni 2026, pp. Jurnal Geosains West Science Berdasarkan tabel 4 pada data FIRMS selama periode 2020-2024, terdeteksi total titik hotspot di Kecamatan Dayun. Jumlah hotspot pada tahun 2020 sebanyak 17 titik non fire/noise, 13 titik panas, dan 2 titik api sedang. Tahun 2021 mengalami peningkatan menjadi 21 titik yang terdiri dari 3 titik non fire/noise dan 18 titik panas. Penurunan drastis terjadi pada tahun 2022 dengan hanya 6 titik yang terdiri dari 1 titik non fire/noise dan 5 titik panas. Tahun 2023 mencatat lonjakan tertinggi dengan 48 titik hotspot yang terdiri dari 8 titik non fire/noise, 32 titik panas, dan 9 titik api sedang. Pada tahun 2024, jumlah hotspot sedikit menurun menjadi 42 titik yang terdiri dari 4 titik non fire/noise, 23 titik panas, dan 15 titik api sedang. 2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kerentanan Kebakaran Jenis Tanah Jenis tanah diperoleh dari Peta Jenis Tanah Detail Skala 1:50. 000 dari KLHK. Jenis tanah yang terdapat pada Kecamatan Dayun terbagi menjadi empat jenis. Jenis tanah pada Kecamatan Dayun yaitu. Kambisol Distrik. Kambisol Gleik. Organosol Saprik dan Podsolik Haplik. Dapat dilihat pada tabel 5 bahwa Kecamatan Dayun didominasi oleh tanah organosol saprik dengan luas 68735,456 ha peta jenis tanah Kecamatan Dayun dapat dilihat pada gambar 1. Tabel 5. Jenis Tanah Kecamatan Dayun Satuan Tanah Luas. Kambisol Distrik 147,91 Kambisol Gleik 891,77 Organosol Saprik 735,45 Podsolik Haplik 482,87 Sumber: Analisis Data Penelitian, 2025 Gambar 1. Peta Jenis Tanah Kecamatan Dayun Tutupan Lahan Tutupan lahan didapat dari Citra Sentinel-2 dengan menggunakan metode Random Forest, tutupan lahan diklasifikasikan menjadi tujuh kategori sesuai dengan tabel. Tabel 6. Tutupan lahan Kecamatan Dayun Jenis Luas . Area Terbuka 515,428 Badan Air 210,723 Vol. No. Juni 2026, pp. Jurnal Geosains West Science Hutan Rimba Semak Belukar 079,661 Perkebunan 045,466 Permukiman 355,926 Tegalan/Ladang 167,912 843,316 Sumber: Analisis Data Penelitian, 2025 Berdasarkan Tabel 6 Kecamatan Dayun didominasi oleh hutan rimba dengan luas 41. 183,316 Sedangkan untuk tutupan lahan yang paling sedikit yaitu semak belukar dengan luas 1. 079,661 Peta tutupan lahan pada dilihat pada gambar 2. Gambar 2. Peta tutupan lahan Kecamatan Dayun Curah Hujan Data curah hujan yang digunakan yaitu dari tahun 2020 hingga tahun 2024, data tersebut merupakan data CHIRPS yang merupakan penggabungan data observasi satelit inframerah . eperti data awan dan intensity huja. , untuk klasifikasi curah hujan Kecamatan Dayun dapat dilihat pada Tabel 7. Curah hujan Kecamatan Dayun Tahun 2020-2024 Kategori Curah Hujan . m/tahu. Luas. Sedang 1500 - 3000 908,36 Rendah >3000 141,13 Sumber: Analisis Data Penelitian, 2025 Berdasarkan dara CHIRPS tahun 2020-2024. Kecamatan Dayun memiliki rata-rata curah hujan tahunan yang bervariasi antara 1500-3000 mm/tahun dengan luas wilayah kategori kemaraupenghujan mencapai luas sebesar 89. 908,369 ha. ,9%). Curah hujan dengan rata-rata curah hujan tahunan >3000 mm/tahun dengan luas 10. 141,13 ha. ,1%). Peta curah hujan tahun 2020-2024 Kecamatan Dayun dapat dilihat pada gambar 3 Vol. No. Juni 2026, pp. Jurnal Geosains West Science Gambar 3. Peta Curah Hujan Kecamatan Dayun 3 Pemetaan Tingkat Kerentanan Kebakaran Kerentanan kebakaran hutan dan lahan Berdasarkan perhitungan indeks kerentanan kebakaran hutan dan lahan dibuat sesuai metode dari Perka BNPB Tahun 2016. Parameter penyusun bahaya kebakaran hutan dan lahan terdiri dari parameter tutupan lahan, curah hujan, dan jenis tanah. Setiap parameter diidentifikasi untuk mendapatkan kelas parameter dengan metode skoring. Hasil perhitungan ini dibagi menjadi 3 kelas, yaitu rendah, sedang, dan tinggi. Hasil analisis kerentanan kebakaran hutan dan lahan dapat dilihat pada tabel 8. Tabel 8. Tingkat kerentanan kebakaran hutan di Kecamatan Dayun Rendah Luas . 3070,52 Persentase (%) 3,07 Sedang 642,51 22,64 Tinggi 277,56 74,28 Kelas Kerentanan Sumber: Analisis Data Penelitian, 2025 Dari tabel 8 dapat dilihat bahwa Kecamatan Dayun memiliki tingkat kerentanan rendah hanya seluas sebesar 3070,523 ha dengan persentase hanya 3,07%, diikuti dengan tingkat kerentanan sedang seluas 22. 642,51 ha dengan persentase sebesar 22,64%. Kemudian tingkat kerentanan tinggi dengan luas 74. 277,56 ha dengan persentase sebesar 74,28%. Dapat diartikan bahwa Kecamatan Dayun memiliki tingkat kebakaran hutan dan lahan yang tinggi. Peta kerentanan kebakaran hutan dan lahan dapat dilihat pada gambar 4. Gambar 4. Peta kerentanan kebakaran Kecamatan Dayun Vol. No. Juni 2026, pp. Jurnal Geosains West Science Kerentanan Kebakaran per desa Kecamatan Dayun Dari hasil tabel 9 bahwa Desa Suka Mulya memiliki memiliki wilayah yang paling kritis dengan 97,11% wilayahnya dengan tingkat kerentanan tinggi. Desa Dayun, sebagai desa terluas memiliki tingkat kerentanan yang tinggi mencapai 83,88%. Kemudian Desa Merangkai dan Teluk Merbau menunjukkan kondisi yang lebih baik. Desa Merangkai tidak memiliki area dengan tingkat kerentanan tinggi, dengan 99,14% wilayahnya berada pada tingkat kerentanan sedang. Sementara Desa Teluk Merbau hanya memiliki 0,06% area tingkat kerentanan tinggi, dengan 97,75% wilayahnya juga berkategori sedang. Tabel 9. Persentase luas tingkat kerentanan kebakaran per Desa Persentase (%) Desa Rendah Sedang Tinggi Banjar Seminai 0,81 72,31 26,88 Berumbung Baru 82,64 14,47 Buana Makmur 0,18 39,25 60,57 Dayun 3,43 83,88 Lubuk Tilan 0,95 73,31 25,75 Merangkai 0,86 99,14 Pangkalan Makmur 1,20 40,92 57,88 Sawit Permai 0,74 92,08 7,18 Sialang Sakti 2,80 78,88 18,32 Suka Mulya 0,37 2,52 97,11 Teluk Merbau 2,19 97,75 0,06 Sumber: Analisis Data Penelitian, 2025 Kerentanan kebakaran di kawasan gambut Dari total luas tanah organik/gambut seluas 68. 557,658 hektare, sebanyak 68. 191,09 hektare atau 99,46% berada di Desa Dayun. Hal ini menunjukkan bahwa Desa Dayun merupakan wilayah dengan ekosistem gambut terluas dan mendominasi hampir seluruh area gambut di wilayah Sementara itu. Desa Suka Mulya memiliki luas tanah organik/gambut sebesar 215,228 hektare . ,31%) dan Desa Buana Makmur seluas 151,34 hektare . ,22%). Sebaran lahan gambut dapat dilihat pada tabel 10, kemudian peta sebaran lahan gambut dapat dilihat pada gambar 6 Tabel 10. Desa yang memiliki lahan gambut Desa Luas. Persentase (%) Dayun 68191,09 99,46 Suka Mulya 2152,28 0,31 Buana Makmur 151,34 0,22 Total 68557,66 Sumber: Analisis Data Penelitian, 2025 Vol. No. Juni 2026, pp. Jurnal Geosains West Science Gambar 5. Peta kerentanan kebakaran di kawasan gambut Pembahasan Hasil penelitian menunjukkan bahwa kejadian kebakaran hutan dan lahan di Kecamatan Dayun memiliki keterkaitan yang kuat dengan karakteristik biofisik lahan gambut serta pola pemanfaatan lahan. Pola persebaran hotspot yang dominan mengelompok . , khususnya pada tahun 2020, 2023, dan 2024, mengindikasikan bahwa kebakaran tidak terjadi secara acak, melainkan terpusat pada wilayah tertentu yang memiliki kondisi rentan dan aktivitas manusia yang Konsentrasi hotspot yang sangat tinggi di Desa Dayun dengan 107 dari 134 titik . ,85%) memperkuat indikasi bahwa luas lahan gambut yang ekstensif dikombinasikan dengan konversi lahan untuk perkebunan menjadi pemicu utama meningkatnya kejadian kebakaran. Berdasarkan hasil analisis overlay spasial menggunakan metode skoring dan pembobotan BNPB . , teridentifikasi tiga faktor utama yang mempengaruhi tingkat kerentanan kebakaran di kawasan gambut Kecamatan Dayun. Pertama, jenis tanah organosol saprik yang mendominasi 68,73% wilayah . 735,456 h. menjadi faktor kunci kerentanan tinggi. Karakteristik gambut yang kaya bahan organik, memiliki kapasitas menahan air tinggi namun bersifat irreversible drying ketika mengalami pengeringan, menyebabkan api mudah menyebar dan sulit dipadamkan. Sifat hidrologi gambut yang telah terdegradasi akibat drainase untuk perkebunan memperparah kondisi ini, karena gambut yang kering menjadi sangat mudah terbakar bahkan pada kedalaman beberapa meter di bawah permukaan tanah. Kedua, kondisi curah hujan tahunan yang didominasi kategori 1500-3000 mm/tahun . ,9% wilaya. termasuk dalam kelas kerentanan tinggi menurut klasifikasi BNPB. Meskipun curah hujan rata-rata tergolong cukup tinggi, distribusi temporal yang tidak merata dengan adanya periode kemarau berkepanjangan menyebabkan penurunan drastis kelembapan gambut. Fenomena El Niyo yang terjadi pada tahun 2023 diindikasikan menjadi pemicu lonjakan hotspot mencapai 48 titik, tertinggi dalam periode penelitian. Kondisi kering yang berkepanjangan menurunkan muka air tanah gambut dan meningkatkan potensi kebakaran secara signifikan. Ketiga, tutupan lahan berupa perkebunan . ,15%), lahan terbuka . ,08%), dan tegalan . ,00%) yang mendapatkan skor tinggi dalam klasifikasi kerentanan. Area-area ini memiliki intervensi manusia yang intensif dengan praktik pembukaan lahan yang masih menggunakan metode pembakaran. Berdasarkan hasil overlay, wilayah dengan kombinasi gambut, curah hujan kategori tinggi, dan tutupan lahan perkebunan/lahan terbuka menghasilkan tingkat kerentanan Hal ini terlihat jelas pada Desa Dayun . ,88% kerentanan tingg. Suka Mulya . ,11% kerentanan tingg. , dan Buana Makmur . ,68% kerentanan tingg. yang memiliki luas perkebunan dan lahan gambut ekstensif. Vol. No. Juni 2026, pp. Jurnal Geosains West Science A Validasi hasil pemetaan menggunakan confusion matrix menunjukkan tingkat akurasi yang baik dengan Overall Accuracy 91,79% dan Kappa Coefficient 0,756. Hal ini mengindikasikan bahwa metode overlay spasial dengan sistem skoring dan pembobotan yang digunakan cukup reliabel dalam memprediksi zona kerentanan kebakaran. Peta kerentanan yang dihasilkan menunjukkan 74,28% wilayah Kecamatan Dayun berada pada kelas kerentanan tinggi, terutama terkonsentrasi pada kawasan gambut yang telah mengalami konversi untuk perkebunan kelapa sawit dan HTI. Temuan ini menegaskan bahwa pengelolaan lahan gambut yang tidak berkelanjutan, dikombinasikan dengan faktor iklim dan karakteristik tanah, menciptakan kondisi sangat rentan terhadap kebakaran hutan dan lahan di Kecamatan Dayun. KESIMPULAN Penelitian ini menyimpulkan bahwa kebakaran hutan dan lahan di Kecamatan Dayun didominasi oleh pola persebaran hotspot yang mengelompok, dengan konsentrasi tertinggi berada di Desa Dayun. Kondisi tersebut berkaitan erat dengan dominasi tanah gambut organosol saprik, curah hujan kategori menengah, serta tutupan lahan berupa perkebunan dan lahan terbuka yang rentan terhadap kebakaran. Pemetaan tingkat kerentanan menunjukkan bahwa 74,28% wilayah Kecamatan Dayun berada pada kelas kerentanan tinggi, terutama pada kawasan gambut yang luas dan intensif Faktor jenis tanah merupakan variabel paling berpengaruh terhadap kerentanan kebakaran, diikuti oleh tutupan lahan dan curah hujan. Hasil penelitian ini menegaskan pentingnya pengelolaan lahan gambut yang berkelanjutan, pengendalian aktivitas pembukaan lahan, serta penerapan strategi mitigasi kebakaran berbasis spasial sebagai dasar perencanaan pengurangan risiko bencana. DAFTAR PUSTAKA