Vol. No. Desember 2025: 407Ae422 https://doi. org/10. 22146/kawistara. https://jurnal. id/kawistara/index The Journal of Social Sciences and Humanities ISSN 2088-5415 (Prin. | ISSN 2355-5777 (Onlin. Submitted: 28-09-2025. Revised: 30-11-2025. Accepted:02-01-2026 Politik Nicknaming dalam Dakwah Digital: Identitas dan Efektivitas Komunikasi Koh Dennis di Media Sosial Nicknaming Politics in Digital Preaching: Identity and Effectiveness of Koh Dennis Socia Media Communication Rinta Arina Manasikana1* Raditia Yudistira Sujanto2 Universitas AoAisyiyah Yogyakarta *Corresponding author: rintaarina@unisayogya. ABSTRACT The advancement of digital technology has shifted Islamic preaching . from physical spaces to digital platforms, creating more complex dynamics of This study highlights the politics of nicknaming through the case of Dennis Lim, a Chinese-Indonesian Muslim preacher publicly known as AuKoh Dennis. Ay Using a qualitative approach through netnography and indepth interviews, this research examines how nicknames function as a strategy of identity construction and how audiences interpret their symbolic meanings in the context of digital dakwah. Michael HectAos Communication Theory of Identity provides the analytical lens to explore the interplay between personal, relational, and communal layers in shaping digital religious authority. Findings indicate that the use of the nickname AuKohAy serves not only as a personal label but also as a branding strategy that strengthens intimacy, articulates identity authentically, and fosters a communal representation that challenges ethnic dominance in Islam preaching. Practically, nicknaming enables dakwah to be more inclusive, fluid, and accessible, though public reception remains mediated by cultural norms and structures of religious legitimacy. ABSTRAK Perkembangan teknologi telah menggeser praktik dakwah dari ruang fisik menuju ruang digita dengan dinamika identitas yang lebih kompleks. Penelitian ini menyoroti fenomena politik nicknaming melalui studi kasus Dennis Lim, pendakwah Tionghoa muslim yang dikenal dengan sapaan AuKoh DennisAy. Dengan pendekatan kualitatif melalui netnografi dan wawancara mendalam, penelitian ini menganalisis bagaimana nickname digunakan sebagai strategi pembentukan identitas, serta bagaimana audiens memaknai simbolik penyemataan sapaan tersebut. Kerangka Communication Theory of Identity (Michael Hec. dipakai untuk memahami keterkaitan lapisan personal, relasional, dan komunal dalam konstruksi identitas dakwah digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan sapaan AuKohAy tidak sekadar label personal, tetapi berfungsi sebagai strategi branding yang memperkuat kedekatan, mengartikulasikan identitas secara otentik, serta menciptakan representasi komunal yang menantang dominasi etnis dalam ruang dakwah Islam. Secara praksis, nicknaming memungkinkan dakwah menjadi lebih inklusif, cair, dan mudah diakses, meski penerimaan publik tetap dipengaruh oleh norma kultural serta legitimasi keagamaan yang berlaku. KEYWORDS Communication. Digital Dakwah. Identity. Koh Dennis. Nicknaming. KATA KUNCI Komunikasi. Dakwah Digital. Identitas. Koh Dennis. Nicknaming PENGANTAR ruang fisik seperti masjid atau majelis terutama selama pandemi COVID-19, telah taklim, kini berpindah ke ruang digital yang secara signifikan mengubah lanskap dakwah lebih interaktif dan terbuka. Media seperti Islam di Indonesia. Dakwah yang sebelumnya YouTube. Instagram, dan TikTok menjadi bersifat satu arah dan berlangsung di ruang- Perkembangan CopyrightA 2025 Rinta Arina Manasikana. Raditia Yudistira Sujanto. This article is distributed under a Creative Commons Attribution-Share Alike 4. 0 International license. Jurnal Kawistara is published by the Graduate School of Universitas Gadjah Mada. untuk menjangkau dan berinteraksi dengan Menurut laporan Asosiasi Penyelenggara audiens yang lebih luas, khususnya generasi Jasa Internet Indonesia (APJII) pada tahun muda (JimaAoain, 2023. Hasanah, 2. Praktik dakwah digital memungkinkan terbentuknya 212 juta pengguna internet, yang mewakili ruang interaksi yang lebih cair antara 74,6% dari total populasi dengan generasi pendakwah dan jamaah, melampaui batas z dan generasi millenial menjadi kelompok antara ruang daring dan luring (Slama, 2. pengguna internet yang paling dominan dan Transformasi ini tidak hanya mengubah berkontribusi secara signifikan terhadap media dan bentuk komunikasi dakwah, tetapi juga memunculkan aktor-aktor keagamaan Indonesia lanskap digital (APJII, 2. Contoh baru yang tidak selalu berasal dari institusi dakwah digital di Indonesia dapat ditemukan formal atau otoritas keulamaan tradisional. dalam figur Dennis Lim, seorang pendakwah Dalam konteks dakwah digital, siapa pun yang keturunan Tionghoa yang dikenal dengan memiliki akses teknologi dan kemampuan nickname Koh Dennis. Sebelum menjadi komunikasi yang menarik dapat menjadi pendakwah, ia memiliki pengalaman hidup figur religius yang berpengaruh (Slama, 2018. yang dramatis sebagai bandar judi di Thailand Campbell & Tsuria, 2. Hal ini menandai dan pengusaha kasino. Pada tahun 2017, ia terjadinya pergeseran dari otoritas berbasis memutuskan hijrah setelah terinspirasi dari institusi ke otoritas berbasis performa dan ceramah Aa Gym lalu mendalami pendidikan visibilitas di media sosial. Seiring dengan agama di Pondok Pesantren Daarut Tauhid. itu, strategi personal branding menjadi Kini ia aktif berdakwah melalui platform semakin penting sebagai cara pendakwah untuk membangun kredibilitas, menjangkau YouTube dengan gaya komunikasi yang audiens tertentu, dan menciptakan identitas santai, visual yang menarik, mudah dipahami, religius yang relevan secara kultural dan dan sangat resonan bagi generasi muda. generasional (Rachmadhani, 2. TikTok. Instagram. Identitas Koh Dennis membawa nuansa Salah satu bentuk adaptasi yang menarik yang kompleks dalam medan dakwah digital. untuk diamati adalah penggunaan nickname Sebagai pendakwah berdarah Tionghoa. Dennis Lim memanfaatkan julukan AuKohAy identitas digital mereka. Banyak pendakwah bukan sekadar sebagai sapaan akrab, tetapi juga sebagai strategi representasi diri. Dalam populer, dan bahkan jenaka seperti Ustadz budaya Tionghoa. AuKohAy berarti kakak laki- Millenial. Dai Healing, atau Dai Selebgram. laki, yang menandakan kedekatan namun Nama-nama ini bukan sekadar penanda tetap menunjukkan identitas etnis yang nama-nama Melalui Koh Dennis strategi komunikasi dan pencitraan diri secara sadar menantang stereotip dominan yang disesuaikan dengan selera audiens yang telah lama melekat dalam masyarakat media sosial yang mayoritas digunakan Indonesia yakni bahwa etnis Tionghoa oleh kaum muda (Khamis et al. , 2. identik dengan non-Muslim. Dengan tampil Kawistara. Vol. No. Desember 2025: 407Ai422 sebagai pendakwah Muslim yang terbuka, presentasi diri dalam konteks komunikasi komunikatif, dan aktif di media sosial. Dennis Lim tidak hanya memperluas audiens dakwah. Penelitian oleh Dianitami (Dianitami tetapi juga membuka ruang penerimaan et al. , 2. turut menunjukkan bahwa yang lebih inklusif terhadap keberagaman nickname dapat menciptakan identitas baru identitas Muslim. melalui fungsi sosialnya, di mana kebanyakan Di titik inilah politik penamaan menjadi nickname mencerminkan kedekatan dan penting untuk dianalisis, karena nama julukan bukan sekadar label, melainkan sarana negosiasi identitas, peneguhan otoritas, karakter, kebiasaan, atau permainan nama. sekaligus untuk memposisikan diri dalam Selain itu, penelitian oleh Oksana Nikolenko lanskap sosial-religius yang penuh stereotip (Nikolenko, 2. mengidentifikasi fungsi dan eksklusi simbolik (Adams, 2. emosional dan sosial dari nickname sebagai Fenomena ini sejalan dengan pandangan bahwa identitas religius tidak bersifat tetap, melainkan terus dinegosiasikan dalam ruang mengungkapkan berbagai emosi dan nilainilai. interaksi digital (H. Campbell, 2. Lebih Namun, dari sekadar label, nickname menjadi alat representasi yang mengandung nilai, otoritas, digital masih tergolong terbatas. Sebagian dan narasi tertentu. Ia menjadi sarana bagi besar penelitian yang ada lebih banyak pendakwah untuk menyampaikan pesan menyoroti strategi dakwah digital secara keagamaan dengan cara yang sesuai dengan umum (Heryanto, 2. , peran media sosial gaya anak muda zaman sekarang, sekaligus dalam penyebaran pesan keagamaan (Nisa, untuk membangun hubungan kuasa yang Campbell & Tsuria, 2. , serta isu otoritas dan popularitas pendakwah di ruang Dalam kerangka ini, analisis terhadap politik digital (Slama, 2. Sementara itu, aspek penamaan menjadi krusial untuk memahami simbolik dan pengalaman subjektif yang bagaimana identitas keagamaan dikonstruksi, terkait dengan pemilihan serta penerimaan dinegosiasikan, dan dipertahankan dalam era nickname masih jarang dibahas secara mediatisasi digital. Padahal, pemahaman terhadap Studi dampak signifikan terhadap identitas individu dan interaksi sosial. Sebagai contoh, studi oleh Fayyal Saoudi (Saoudi, 2. mengupas bagaimana nickname pada platform sosial membantu dalam membangun identitas diri dinamika komunikasi dakwah di era digital yang semakin kompleks dan khas, di mana identitas, performativitas, dan afiliasi religius sering kali dinegosiasikan melalui elemenelemen simbolik seperti nama dan gelar (Weintraub, 2. dan interaksi di antara kelompok religius. Penelitian ini menawarkan kebaruan menjadikannya sebagai sarana penting untuk dengan memadukan perspektif simbolik Rinta Arina Manasikana. Raditia Yudistira Sujanto Ai Politik Nicknaming dalam Dakwah Digital . dan teori identitas melalui Communication Dalam konteks fenomena penggunaan Michael nickname oleh pendakwah di ruang digital. Hecht (Hecht & Choi, 2. untuk untuk CTI relevan digunakan dalam penelitian ini menganalisis praktik penggunaan nickname karena fenomena penggunaan nickname oleh dalam dakwah digital. Teori ini berangkat pendakwah di ruang digital dapat dipahami dari pertanyaan fundamental siapa individu sebagai bentuk performa identitas yang itu dan bagaimana ia dipersepsikan oleh Pada lapisan personal, nickname orang lain. Identitas dipahami bukan sekadar refleksi diri, melainkan sesuatu yang terus melihat dirinya dan ingin menampilkan dinegosiasikan sepanjang kehidupan melalui sisi tertentu dari identitas religius maupun proses komunikasi. Menurut Hecht, identitas memiliki sifat multilapis . , yang identitas tersebut diwujudkan melalui gaya terdiri atas empat dimensi utama (Hecht & komunikasi, pilihan bahasa, dan citra diri Choi, 2. yang dibangun lewat konten dakwah di media Theory (CTI) Identity Pertama, . ersonal laye. , yaitu identitas sebagaimana individu memandang dirinya sendiri. Kedua, lapisan enactment . nactment laye. , yaitu identitas yang diekspresikan melalui bahasa, perilaku, atau gaya interaksi. Ketiga, lapisan relasional . elational terbentuk melalui interaksi dengan orang lain, termasuk bagaimana individu dilihat, diperlakukan, dan diharapkan dalam relasi Keempat, lapisan komunal . ommunal Pada Pada lapisan relasional, penggunaan kedekatan dengan audiens, menciptakan jarak tertentu, atau bahkan menegosiasikan otoritas keagamaan di hadapan publik. Sementara pada lapisan komunal, nickname sering kali terkait dengan nilai budaya, simbol etnis, atau afiliasi komunitas religius tertentu yang memperkuat legitimasi pendakwah dalam ruang digital. Melalui CTI, laye. , yaitu identitas yang bersumber dari menganalisis bagaimana nickname tidak nilai, norma, serta ikatan dalam komunitas hanya sekadar nama panggilan, melainkan atau kelompok budaya tertentu. Keempat lapisan ini tidak selalu berjalan seiring. Nickname melainkan dapat saling melengkapi maupun pendakwah untuk menegosiasikan posisi bertentangan (Hecht & Choi, 2. dirinya, membangun relasi dengan audiens. Di sinilah komunikasi berperan menjadi medium utama untuk menegosiasikan dan mengelola perbedaan antarlapisan identitas Dengan demikian. CTI menekankan bahwa identitas bukanlah sesuatu yang statis atau tunggal, melainkan dinamis, cair, dan senantiasa dikonstruksi dalam konteks interaksi sosial dan budaya. Kawistara. Vol. No. Desember 2025: 407Ai422 dan mengonstruksi representasi religius di tengah dinamika media sosial. Dengan demikian. CTI membantu melihat penggunaan nickname sebagai strategi komunikasi yang mencerminkan interaksi antara identitas komunal dalam konteks dakwah digital. Teori ini memungkinkan eksplorasi mendalam yang representasi identitas yang terdiri dari 20 terlibat, baik sudut pandang pendakwah video yang diambil dari tiga platform utama maupun audiens, termasuk bagaimana nama yaitu YouTube. Instagram, dan TikTok untuk memberikan gambaran representasi yang berperan dalam membangun relasi religius konsisten di berbagai ruang digital. Kedua, secara daring. wawancara mendalam dilaksanakan dengan lapisan-lapisan Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode netnografi dan wawancara mendalam. Pendekatan ini dipilih karena penelitian berfokus pada eksplorasi makna dan konstruksi identitas religius melalui praktik penggunaan nickname dalam dakwah digital, khususnya dalam kasus Koh Dennis. Objek penelitian adalah konten dakwah digital Koh Dennis di platform TikTok. Instagram, dan YouTube, dengan penekanan pada representasi dan pemaknaan nickname AuKohAy dalam membangun identitas Sementara itu, subjek penelitian adalah audiens yang aktif mengonsumsi konten Koh Dennis, terutama generasi muda dari kalangan generasi z dan milenial yang menjadi pengguna dominan media sosial. Pengumpulan data dilakukan melalui dua teknik utama. Pertama, netnografi yang dikembangkan oleh Robert Kozinets, digunakan untuk menyelidiki komunitas dan interaksi yang muncul di ruang digital (Kozinets, 2. Teknik ini dilakukan dengan cara mengamati, mendokumentasikan, dan menganalisis konten dakwah Koh Dennis serta interaksi audiens dalam ruang digital. Proses ini meliputi pemilihan platform utama, pengumpulan data berupa video, pencatatan reflektif melalui fieldnote digital. Data yang dikaji mencakup periode 2022Ae 2025 untuk menangkap dinamika terbaru audiens yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling, yakni mereka yang aktif menonton, membagikan ulang konten, atau teridentifikasi sebagai pengikut setia. Sampel wawancara terdiri dari 4 informan . laki-laki dan 2 perempua. dengan rentang usia 20-25 tahun. Wawancara dilakukan secara semi-terstruktur untuk memberikan keseimbangan antara panduan topik yang konsisten dan ruang bagi narasi pribadi Pertanyaan wawancara difokuskan pada persepsi audiens mengenai penggunaan nickname AuKoh,Ay kaitannya dengan identitas efektivitas dakwah. Untuk netnografi dan wawancara, serta melakukan member check dengan sebagian informan untuk mengkonfirmasi interpretasi. Peneliti mencatat posisi dan kemungkinan bias selama penelitian. Dari segi etika, identitas penggunaan pseudonim, dan persetujuan akan diminta sebelum wawancara dilakukan. Konten digital yang dianalisis berasal dari ruang publik, namun tetap diperlakukan dengan sensitivitas terhadap konteks kultural dan religius. Rinta Arina Manasikana. Raditia Yudistira Sujanto Ai Politik Nicknaming dalam Dakwah Digital . PEMBAHASAN Representasi Identitas Personal dan Enactment dalam Nickname Dalam kerangka CTI, identitas dipahami sebagai konstruksi yang berlapis, salah Identitas personal merujuk pada bagaimana individu mendefinisikan dirinya sendiri berdasarkan nilai, pengalaman, dan latar belakang kultural, sementara enactment komunikasi sehari-hari, baik dalam bentuk bahasa, simbol, maupun gaya interaksi (Hecht & Choi, 2. Dengan kata lain, identitas tidak hanya hadir sebagai kategori yang melekat . melalui tindakan simbolik yang dapat diamati publik. Kerangka ini penting untuk membaca fenomena dakwah digital Koh Dennis, khususnya terkait penggunaan nickname AuKohAy yang berfungsi sekaligus Gambar 1. Akun Media Sosial Koh Dennis Lim sebagai penanda identitas personal dan Sumber: Tangkapan Layar Pribadi, 2025 medium enactment dalam ruang komunikasi Hasil observasi netnografi menunjukkan bahwa Koh Dennis konsisten menampilkan sapaan AuKohAy dalam identitas digitalnya, deskripsi profil, serta bagaimana audiens Meskipun tidak di setiap kontennya ia menyebut dirinya sebagai AuKohAy, nickname tersebut tetap menjadi penanda identitas yang melekat dan dikenali publik lintas Visualisasi ini dapat dilihat pada gambar 1 berikut. Praktik konsistensi ini memperlihatkan bahwa nickname bukan sekadar level teknis, tetapi telah menjadi perangkat performatif Secara khusus, penggunaan AuKohAy mengisyaratkan keterhubungan dengan latar etnis Tionghoa pendakwah Muslim keturunan Tionghoa yang akrab, ramah, dan cocok bagi audiens Konsistensi dipersepsi audiens sebagai bentuk otentisitas yang selaras dengan latar belakang personal Koh Dennis dan menjadi pembeda dari Hal identitasnya tampak lebih unik serta khas Kawistara. Vol. No. Desember 2025: 407Ai422 dibandingkan figur dakwah digital pada dan tidak menghakimi menciptakan suasana Pendapat ini juga disampaikan aman serta nyaman bagi audiens. oleh informan N dalam penggalan wawancara AuSaya lebih cocok dengan model seperti ini dibanding yang penuh dengan dalil. AuAda keunikan tersendiri, kesannya lebih rasanya lebih nyaman dan aman. Pernah asik dan kasual, seolah tidak ada batasan ada seorang Gus yang viral karena antara dia dengan audiens. Kalau menyebut penjual es teh dengan nada menggunakan sapaan seperti Ustadz, arogan, seolah kalau tidak sepemikiran Kyai, atau Gus, terasa ada hierarki, dianggap rendah. Bahkan ada yang seakan pendakwah berada di posisi lebih sampai mengkafirkan pihak lain. Itu Dengan nickname, relasinya membuat suasana tidak menyenangkan. lebih setara, seperti teman, sehingga Sementara Koh Dennis berbeda, dia terasa lebih dekat. Ay (Wawancara dengan menggunakan bahasa ringan, kasual informan N, 2. mudah dicerna, serhingga lebih ramah Kutipan bagi orang-orang yang baru belajar Ay (Wawancara dengan informan dalam penerimaan nickname oleh audiens. N, 2. Sapaan AuKohAy tidak hanya berfungsi sebagai Secara linguistik. AuKohAy dalam budaya Tionghoa berarti Aukakak laki-lakiAy, yang sarat dengan nuansa kekeluargaan, keakraban, mengurangi jarak hirarkis antara pendakwah serta penghormatan tanpa jarak hierarkis dan jamaah. Dalam perspektif CTI, hal ini yang kaku. Makna ini memperkuat kesan mencerminkan relational layer, di mana bahwa Koh Dennis diposisikan bukan sebagai figur otoritatif yang jauh, melainkan sebagai melalui interaksi dengan orang lain (Hecht & AukakakAy yang mendampingi, membimbing. Choi, 2. Hal ini sejalan dengan temuan (H. sekaligus menemani proses belajar agama Campbell & Tsuria, 2. bahwa religiusitas audiensnya secara bersahabat. Pernyataan digital cenderung menekankan hubungan tersebut menggarisbawahi bahwa praktik yang personal dan dialogis, bukan sekadar nicknaming yang dijalankan Koh Dennis tidak Dengan cara ini, sapaan AuKohAy hanya mengartikulasikan simbol identitas, tidak hanya memperkuat kredibilitas Koh tetapi juga berperan dalam membuka ruang Dennis, tetapi juga membuat dakwahnya dakwah yang lebih inklusif bagi kalangan lebih mudah diterima. Lebih jauh, wawancara dengan informan Dalam N memperlihatkan bahwa gaya komunikasi strategi ini dapat dibaca sebagai bentuk Koh Dennis memiliki daya tarik khusus bagi Ausoft authorityAy (H. Campbell, 2. yang khalayak yang masih berada pada tahap awal mempelajari agama. Sapaan AuKohAy yang keakraban bahasa, dan simbol representatif dipadukan dengan bahasa ringan, kasual, ketimbang otoritas formal. Dengan kata lain. Rinta Arina Manasikana. Raditia Yudistira Sujanto Ai Politik Nicknaming dalam Dakwah Digital . nickname AuKohAy tidak sekadar menandai identitas etnis-religius, tetapi juga menjadi individu terhadap gaya pendakwah tertentu. instrumen pedagogis yang menormalisasi Ini memperkuat argumen bahwa nickname, praktik belajar agama di ruang digital tanpa tekanan hierarkis. kedekatan sosial, tidak secara universal Namun diterima sebagai sumber kredibilitas di ruang pandangan sebelumnya, informan C justru publik digital. memandang penggunaan nickname AuKohAy Relasional: Negosiasi Identitas dengan justru berpotensi mengurangi kredibilitas Bagi seorang pendakwah lebih banyak ditentukan oleh gelar-gelar formal seperti ustaz, gus, atau kiai, yang diasosiasikan dengan otoritas pengakuan sosial. AuMenurut kredibilitas ya. Soalnya adanya gelargelar formal seperti Ustadz. Gus, atau Kyai justru menambah kredibilitas. Sudah benar-benar teruji dan memang sudah biasa jadi guru kan? Pasti mereka . punya sekolah atau Jadi bisa dibilang sudah bisa dipertanggungjawabkan keilmuannya. Ya walaupun beberapa ada yang bikin kemarin-kemarin. Tapi, gelar seperti itu dudah semacam legitimasi expertise orang tersebut. Ay (Wawancara dengan informan C, 2. Hal ini merefleksikan adanya communal layer, di mana identitas religius dipengaruhi oleh norma dan ekspektasi kolektif tentang otoritas dakwah (Hecht, 1. Dengan kata lain, bagi sebagian audiens, otentisitas personal melalui nickname tidak cukup. mereka menuntut representasi identitas Pandangan C juga menunjukkan bahwa penerimaan nickname bisa sangat kontekstual, bergantung pada latar belakang. Kawistara. Vol. No. Desember 2025: 407Ai422 Audiens Identitas dakwah digital tidak berdiri sendiri, melainkan selalu dinegosiasikan melalui interaksi, persepsi, dan penilaian orang lain. Dengan demikian, sapaan AuKohAy tidak hanya berfungsi sebagai ekspresi Koh Dennis, medium relasional yang membentuk cara audiens memaknai dirinya. Berdasarkan wawancara dengan informan P, sapaan ini dianggap mampu membuka ruang baru bagi representasi etnis Tionghoa dalam media dakwah digital. AuJelas terasa membuka ruang baru yang sebelumnya tabu bagi etnis Tionghoa. Dulu saya tidak pernah membayangkan ada AoKokohAo yang menjadi Ustadz. Selama in ikan sudah terbentuk stereotip di Indonesia bahwa orang Tionghoa pasti identik dengan pengusaha kaya dan Kehadiran Koh Dennis sebagai pendakwah mematahkan stereotip itu. Bagus juga, karena membuat Indonesia lebih inklusif terhadap berbagai etnis. Jadi pendakwah tidak harus selalu keturunan Arab yang memakai gelar Habib atau orang Jawa yang besar sebagai santri. Ay (Wawancara dengan informan P, 2. Kutipan tersebut menggambarkan bahwa nickname AuKohAy tidak hanya dimaknai sebagai AoKohAo. Jadi ada rasa satu, ada ikatan. identitas personal, melainkan juga simbol Karena itu saya merasa lebih dekat dan komunal yang menantang stereotip dominan Kalau menggunakan nama mengenai etnis Tionghoa di Indonesia. Hal lain, rasanya tidak ada yang spesial. Ay ini dapat dipahami sebagai communal layer, (Wawancara dengan informan N, 2. di mana identitas individu selalu terkait Pernyataan dengan simbol-simbol kultural dan makna kolektif yang dilekatkan oleh masyarakat. Nickname dengan demikian tidak hanya tetapi juga berfungsi sebagai strategi politik representasi untuk menegosiasikan posisi relational layer, hal ini menunjukkan bahwa etnis Tionghoa dalam lanskap dakwah Islam Dalam sapaan yang dianggap memiliki keterkaitan yang sebelumnya didominasi figur dari etnis dengan audiens memperkuat ikatan simbolik antara figur publik dan audiens melalui Kondisi ini memperlihatkan kesesuaian pengalaman berbagi identitas. Relasi yang dengan argumen (H. Campbell & Tsuria, 2. terbentuk tidak hanya bersifat kognitif, bahwa ruang digital sering kali menjadi arena melainkan juga emosional, karena audiens bagi terbentuknya identitas religius yang lebih merasa terwakili oleh figur yang ada. Selaras plural dan cair. Melalui praktik nicknaming, dengan pandangan (Baym, 2. mengenai Koh Dennis secara tidak langsung membuka interaksi di media digital, bahwa identitas wacana baru bahwa otoritas keagamaan tidak dan relasi sosial terbentuk melalui praktik lagi eksklusif milik kelompok etnis dominan, simbolik yang memberi rasa keintiman dan melainkan dapat diisi oleh beragam identitas kedekatan, bahkan di ruang daring. Dengan demikian, politik penamaan Wawancara dengan informan I juga dalam kasus ini berperan sebagai medium memperlihatkan bagaimana kedekatan ini inklusif sosial sekaligus resistensi terhadap dipengaruhi oleh generasi, gaya komunikasi, dan penampilan pendakwah. Menurutnya, etnis minoritas di ruang publik keagamaan Koh Dennis dapat menghadirkan kesan Ause- (Adams, 2009. Slama, 2. Selain membuka zamanAy yang membuat audiens muda merasa ruang representasi etnis di ranah digital, lebih mudah berelasi, berbeda dengan figur- penggunaan sapaan AuKohAy juga menciptakan figur dakwah senior yang dianggap memiliki resonansi emosional yang kuat, khususnya jarak generasi. bagi audiens yang memiliki latar belakang Hal ini seperti dinyatakan oleh informan N pada wawancara berikut. AuBagi saya pribadi, jelas terasa sangat Kesannya zaman, tidak selalu harus menggunakan AuBenar, apalagi saya juga satu etnis. Saya gelar AoIslamiAo. Apakagi karena saya juga yang bermata sipit, sering dianggap satu etnis, sapaan itu membuat terasa orang Tionghoa, juga kerap dipanggil lebih dekat, seperti keluarga sendiri. Rinta Arina Manasikana. Raditia Yudistira Sujanto Ai Politik Nicknaming dalam Dakwah Digital . Sementara kalau menggunakan gelar keintiman dan relevansi. Dalam kasus Koh seperti Kyai atau Gus, ada kesan berbeda Dennis, nickname yang ia miliki dipadukan Ini semakin terasa karena saya dengan performativitas gaya dan penampilan masih dalam tahap belajar agama. Ay (Wawancara dengan informan I, 2. dimensi emosional dalam relasi dakwah. Lebih jauh. Koh Dennis dinilai mampu Dengan demikian, lapisan relasional dalam menghadirkan standar baru maskulinitas dalam dakwah, di mana menjaga penampilan jawab religius sekaligus sosial. Hal ini kasus ini menegaskan bahwa nickname tidak berdiri sendiri, melainkan beroperasi bersama atribut lain yang membentuk cara audiens memaknai kedekatan, otoritas, dan memperlihatkan bahwa nickname AuKohAy relevansi seorang pendakwah. bukan sekadar simbol etnisitas, tetapi juga Dimensi Komunal dan Politik Penamaan medium relasional yang menghubungkan nilai-nilai pengalaman mereka sehari-hari. AuKoh Dennis itu benar-benar terlihat natural sebagai Tionghoa, dengan kulit putih, gaya necis, dan penampilan anak muda yang mengikuti tren. Kesan yang muncul seperti diajak belajar Berbeda dengan pendakwah lain yang sudah embel-embel Islami lebih kaku, bahkan kadang seperti menghakimi sehingga membuat malas. Selain itu. Koh Dennis juga sangat menjaga penampilan, dan bagi saya itu nilai plus. Ay (Wawancara dengan informan I, 2. Fenomena negosiasi identitas dalam ranah relasional semata-mata dengan faktor generasi, gaya, dan gender. Sebagaimana diungkapkan oleh (Baym, 2. relasi di media digital dibangun melalui simbol-simbol Kawistara. Vol. No. Desember 2025: 407Ai422 Jika pada lapisan personal dan relasional nickname AuKohAy berfungsi dalam membangun citra diri sekaligus memperkuat kedekatan dengan audiens, maka pada tataran komunal makna yang dilekatkan menjadi lebih luas. Identitas yang diartikulasikan melalui sapaan ini tidak hanya merepresentasikan individu, tetapi juga berkelindan dengan simbol dan nilai kolektif yang dimaknai audiens. Dengan AuKohAy dimensi politik penamaan, di mana identitas personal Koh Dennis dibaca sebagai bagian Tionghoa Muslim dalam ruang dakwah digital. Hal ini tercermin dalam wawancara dengan salah satu informan yang menyatakan AuWaktu mendengar nama Koh Dennis, saya langusng membayangkan sosok AoKokohAo Tionghoa yang masih muda, bergaya gaul, dan mengikuti tren. Itu berbeda dengan pendakwah yang menggunakan sebutan seperti Ustadz, yang menurut saya justru memberi kesan kolot dan kurang menarik. Ay (Wawancara dengan informan P, 2. Kutipan ini memperlihatkan bagaimana selama ini termarjinalkan dalam ruang publik audiens memaknai nama AuKohAy bukan sekadar Representasi Koh Dennis dalam identitas personal, tetapi juga sebagai simbol dakwah Islam dapat dilihat sebagai counter- komunal yang menandai perbedaan gaya narrative terhadap stigma negatif terhadap dan otoritas. Label AuKohAy dibaca sebagai kelompok Tionghoa di Indonesia, sekaligus representasi dari generasi muda Tionghoa menunjukkan agensi dan mempengaruhi Muslim yang menghadirkan gaya komunikasi habitus dakwah, di mana identitas etnis yang lebih cair, santai, dan populer dibandingkan sebelumnya minoritas mampu menjadi modal gelar-gelar konvensional seperti Ustadz simbolik untuk memperluas inklusivitas dan atau Habib yang kerap diasosiasikan dengan keterlibatan komunitas (Hefner, 2. otoritas formal dan kesan hierarkis. Dengan Kajian kata lain, politik penamaan melalui AuKohAy tidak konteks sosiolinguistik menunjukkan bahwa hanya menantang stereotip etnis, tetapi juga nickname memiliki fungsi pragmatis yang mendestabilisasi struktur otoritas dakwah penting dalam membangun hubungan sosial. yang mapan yang seringkali diasosiasikan Misalnya, penelitian oleh Sharon Black (Black dengan figur dari etnis Arab atau Jawa. et al. , 2. menunjukkan bahwa nickname Aspek keterwakilan ini juga disinggung oleh mencerminkan karakteristik personal dan informan I dalam kutipan wawancara berikut. identitas sosial, mengindikasikan afiliasi AuSaya merasa sangat terwakili karena kelompok dan meningkatkan rasa memiliki sama-sama Tionghoa, bahkan terasa seperti keluarga sendiri. Apalagi ia sering mengadakan sesi tanya jawab melalui siaran langsung di media sosial sehingga suasananya terasa lebih nyaman dan tidak ada beban untuk bertanya. Hal ini berbeda dengan pendakwah yang menggunakan gelar Habib atau Gus, yang justru Ay (Wawancara dengan informan I. AuKohAy mencerminkan proses internalisasi identitas sosial yang lebih luas, memberikan makna baru bagi individu-individu yang merasa terpinggirkan di ruang publik. Dalam konteks ini. AuKohAy berfungsi sebagai strategi politik penamaan yang mendestabilisasi stereotip lama serta memperluas horizon inklusivitas dakwah Islam di ruang digital. Relevansi politik penamaan ini juga semakin tampak dalam salah satu segmen Kutipan dalam suatu komunitas tertentu. Di samping kebanggan, terutama bagi audiens dari latar belakang etnis serupa. Dengan demikian, nickname tidak hanya mengurangi jarak personal, tetapi juga memperkuat solidaritas komunal melalui representasi identitas yang YouTube yang dimiliki oleh Koh Dennis dengan dengan judul AuCoTaKoAy (Coba Tanya Kok. Melalui format tanya-jawab interaktif, ia menjawab pertanyaan-pertanyaan netizen seputar isu kekinian dengan gaya santai namun tetap bernuansa religius. Kehadiran segmen ini tidak hanya memperkuat citra personalnya sebagai sosok AuKohAy yang dekat Rinta Arina Manasikana. Raditia Yudistira Sujanto Ai Politik Nicknaming dalam Dakwah Digital . dan mudah diakses, tetapi juga memperluas secara menarik, egaliter, dan tetap otentik makna komunal dari nickname tersebut tanpa harus melekat pada gelar tradisional. yakni sebagai figur rujukan yang mewakili Dengan demikian, nickname AuKohAy menjadi pengalaman sekaligus aspirasi anak muda perangkat politik penamaan yang tidak Muslim lintas etnis di ruang digital. Visualisasi hanya merepresentasikan etnisitas, tetapi tersebut dapat dilihat pada gambar 2 berikut. juga mengartikulasikan model baru dakwah Identitas yang dikonstruksi lewat sapaan digital yang lebih inklusif dan dekat dengan ini beroperasi sebagai simbol kolektif yang mengasosiasikan nilai baru dalam komunitas audiens: bahwa dakwah dapat dikemas Gambar 2. Segmen CoTaKo (Coba Tanya Kok. Sumber: Tangkapan Layar Pribadi, 2025 Kawistara. Vol. No. Desember 2025: 407Ai422 kultur anak muda. Meski demikian, tidak semua audiens memandang penggunaan nickname sebagai hal yang penting atau berpengaruh signifikan. tetap berhadapan dengan norma lama yang Informan C, misalnya, menyatakan. AuNggak juga sih, kembali lagi sih ini ke masalah selera ya. Kalau kita ngomongin selera udah ke ranah personal ya jadi beda-beda pasti tiap individu. Kalau buat saya sih itu nggak pengaruh sama sekali karena balik lagi itu semua tergantung dia menyampaikan materi, seaedar nickname itu buat saya nggak lebih dari gimmick personal branding aja sih biar orang-orang menganggap dia beda dari yang lain gitu. Ay (Wawancara dengan informan C, 2. Kutipan pandangan kontra bahwa nickname tidak serta-merta pesan dakwah. Dalam perspektif ini, faktor utama yang menentukan adalah kompetensi label simbolik yang melekat pada dirinya. Pandangan adanya batasan dari politik penamaan: meskipun dapat memperkuat solidaritas komunal bagi sebagian audiens, bagi yang lain nickname justru dianggap artifisial dan tidak menambah legitimasi. Pernyataan mengakar dalam kultur religius Indonesia. Sejalan dengan studi (Howell, 2. otoritas keagamaan di Indonesia masih sangat terkait dengan pengakuan institusional, sehingga strategi personal branding berbasis nickname dapat dipersepsi sekadar sebagai gimmick atau cara instan membangun popularitas. Dengan demikian, dimensi komunal dari nickname AuKohAy memperlihatkan dinamika ganda: di satu sisi memperluas representasi etnis dan kedekatan simbolik, namun di sisi lain juga menghadapi resistensi dari audiens yang menilai kredibilitas dakwah tetap harus bertumpu pada otoritas formal yang diakui secara tradisional. Efektivitas Dakwah melalui Nicknaming Berdasarkan digunakan, penggunaan nickname AuKohAy terbukti memainkan peran signifikan dalam dakwah Koh Dennis. Dari sisi personalenactment, otentisitas yang selaras dengan identitas Tionghoa Muslim yang ia representasikan, sehingga menegaskan kohesivitas antara citra diri dan ekspresi publiknya. Pada AuKohAy kedekatan simbolik yang membuat audiens simbol komunal yang dibangun melalui merasakan interaksi yang egaliter dan bebas nickname tidak otomatis diterima secara jarak hierarkis. Sementara itu, pada dimensi komunal, sapaan ini memperluas horizon representasi etnis dalam dakwah digital struktur otoritas tradisional yang dilekatkan dan menantang eksklusivitas simbolik yang pada gelar formal seperti AuUstadz,Ay AuKyai,Ay selama ini dilekatkan pada gelar tradisional atau AuGus. Ay Dalam kerangka communal seperti Ustadz atau Habib. Sebagian layer CTI, hal ini mengindikasikan adanya negosiasi yang belum selesai: identitas baru yang dibangun melalui politik penamaan Di sisi lain, konsistensi penggunaan nickname ini dapat dipahami sebagai bentuk pemaknaan simbolik yang menyerupai praktik Rinta Arina Manasikana. Raditia Yudistira Sujanto Ai Politik Nicknaming dalam Dakwah Digital . Nickname brand marker yang konsisten muncul dalam menegosiasikan batas antara kesakralan dan popularitas dalam ruang publik digital. interaksi, sehingga memudahkan audiens sekaligus mengasosiasikannya dengan nilainilai tertentu seperti kedekatan, keterbukaan, hingga inklusivitas. Hal ini sejalan dengan (Holt, bekerja bukan hanya melalui produk, tetapi juga melalui narasi kultural yang memberi makna kolektif. Nickname AuKohAy dalam hal ini menjadi simbol yang mempertautkan audiens, membentuk penempatan diri di tengah keragaman pendakwah digital. bersifat mutlak. Sejumlah audiens justru menilai bahwa gaya populer yang dibawa Koh Dennis berpotensi mengurangi kesakralan dakwah dan melemahkan legitimasi yang biasanya ditopang oleh otoritas formal. Dengan demikian, efektivitas nickname selalu dinegosiasikan dalam ketegangan antara otentitas personal, kedekatan relasional, dan norma komunal, dan asosiasi simbolik yang terbentuk layaknya sebuah brand yang Temuan ini menegaskan bahwa politik nicknaming dalam dakwah digital bukan sekadar strategi branding, melainkan praktik simbolik yang berlapis, cair, dan Sejalan dengan (H. Campbell & Tsuria, 2. identitas religius di ruang digital tidak pernah statis, tetapi terus diproduksi ulang melalui interaksi antara pendakwah. Dengan kata lain, efektivitas nicknaming sebagai strategi dakwah terletak dinamika audiens yang beragam, sekaligus Kawistara. Vol. No. Desember 2025: 407Ai422 Studi ini menegaskan bahwa praktik nicknaming dalam dakwah digital berfungsi sebagai strategi simbolik yang tidak sekadar melekat pada identitas personal, tetapi juga beroperasi dalam relasi sosial, politik representasi, dan efektivitas komunikasi. Kasus Koh Dennis memperlihatkan bahwa sapaan AuKohAy mampu mengartikulasikan identitas Tionghoa Muslim secara otentik, memperkuat kedekatan dengan audiens, serta menghadirkan representasi komunal Namun, efektivitas nicknaming ini tidak SIMPULAN yang menentang dominasi etnis dalam ruang dakwah Islam. Penelitian ini memperlihatkan bahwa penggunaan CTI membuka cara pandang baru untuk memahami praktik penamaan dalam dakwah digital. Lapisan personal, relasional, dan komunal ternyata tidak berdiri sendiri, melainkan saling terkait dalam membentuk otoritas religius yang lebih cair dan kontekstual. Dari sisi praksis, temuan ini menyoroti bagaimana strategi branding aksesibilitas dakwah sekaligus mendorong ruang interaksi yang lebih inklusif bagi audiens digital. Namun demikian, penerimaan publik tetap ditentukan oleh norma kultural dan struktur legitimasi keagamaan yang Dengan demikian, praktik nicknaming dalam dakwah digital bukan hanya soal gaya komunikasi, melainkan juga refleksi atas dinamika identitas, representasi, dan otoritas di tengah transformasi religius pada era media digital. DAFTAR PUSTAKA