Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia, 6 . , 2025 p-ISSN: 2774-6291 e-ISSN: 2774-6534 Available online at http://cerdika. id/index. php/cerdika/index Analisis Pola Konsumsi Bawang Merah Rumatangga Peserta Program Keluarga Harapan Kota Pekanbaru Ella Anggraini*. Djaimi Bakce. Syaiful Hadi Universitas Riau. Indonesia Email: ella. anggraini2946@student. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola konsumsi bawang merah oleh rumahtangga peserta Program Keluarga Harapan di Kota Pekanbaru. Analisis pola konsumsi berdasarkan jumlah anggota rumahtangga, pendidikan ibu/kepala rumahtangga, dan jenis pekerjaan. Jumlah responden dalam penelitian ini sebanyak 315 responden dari penerima Program Keluarga Harapan. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini melalui analisis deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola konsumsi yang dianalisis berdasarkan jumlah anggota rumahtangga, pendidikan ibu/kepala rumahtangga, dan jenis pekerjaan, semakin banyak jumlah anggota rumahtangga, jumlah konsumsi bawang merah semakin sedikit. Semakin tinggi tingkat pendidikan ibu/kepala rumahtangga, maka jumlah konsumsi bawang merah semakin sedikit. Rumahtangga yang bekerja di sektor formal memiliki jumlah konsumsi bawang merah lebih tinggi. Pemerintah disarankan untuk memperkuat program penyuluhan gizi, meningkatkan akses pendidikan formal maupun nonformal, serta memperluas pelatihan keterampilan bagi rumahtangga penerima Program Keluarga Harapan untuk mendorong pola konsumsi pangan yang lebih efisien dan meningkatkan peluang pekerjaan yang lebih stabil untuk rumahtangga miskin. Kata Kunci: Pola Konsumsi. Program Keluarga Harapan. Rumahtangga miskin. Bawang merah Abstract This study aims to analyze the consumption patterns of shallots among households participating in the Program Keluarga Harapan (PKH) in Pekanbaru City. The analysis focuses on consumption patterns based on household size, the education level of the mother/household head, and the type of occupation. A total of 315 PKH beneficiary households were selected as respondents. The study employs a quantitative descriptive analysis method. The results show that households with a larger number of members tend to have lower shallot consumption. Higher education levels of mothers/household heads are also associated with lower shallot consumption. Additionally, households engaged in formal employment exhibit higher levels of shallot consumption. It is recommended that the government strengthen nutrition education programs, improve access to both formal and non-formal education, and expand skills training initiatives for PKH beneficiary households to promote more efficient food consumption patterns and enhance opportunities for more stable employment among low-income Keywords: Consumption Pattern. Program Keluarga Harapan. Shallot. *Correspondence Author: Ella Anggraini Email: ella. anggraini2946@student. PENDAHULUAN Konsumsi merupakan kegiatan pembelanjaan atas barang dan jasa yang dilakukan oleh rumahtangga dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup para anggotanya (Aprilia, 2019. Fielnanda & Sahara, 2018. Indrian, 2020. Sukamdiani et al. , 2. Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI, 2. , pola konsumsi pangan menggambarkan jenis dan jumlah pangan yang dikonsumsi oleh individu atau kelompok pangan dalam kurun Analisis Pola Konsumsi Bawang Merah Rumatangga Peserta Program Keluarga Harapan Kota Pekanbaru waktu tertentu. Pola ini dapat mencerminkan tingkat kesejahteraan, preferensi, serta perilaku ekonomi rumahtangga. Sejalan dengan hal tersebut. Bestari dan Noor . , serta Mayandri et al . menyatakan bahwa pola konsumsi pangan berperan penting dalam menentukan tingkat kecukupan gizi dan ketahanan pangan rumahtangga. Bawang merah memiliki peran yang sangat penting, baik dalam bidang kuliner maupun kesehatan (Aryanta, 2019. Komariah et al. , 2024. Marina et al. , 2. Sebagai bahan pangan, bawang merah tidak hanya digunakan sebagai penyedap rasa dan pemberi aroma pada berbagai hidangan, tetapi juga menjadi komponen utama dalam berbagai bumbu tradisional seperti Kandungan senyawa bioaktif, terutama allicin dan flavonoid, memberikan karakteristik rasa pedas manis yang khas sekaligus kontribusi terhadap manfaat kesehatan. Dengan demikian, fungsi preventif dan terapeutik yang mendukung kesehatan masyarakat (Aryanta. Umumnya setiap rumahtangga mengkonsumsi bawang merah sebagai bahan masakan, bukan untuk mendapatkan manfaat kesehatan. Data Pusat Statistik menunjukkan bahwa konsumsi bawang merah di Kota Pekanbaru mengalami fluktuasi namun cenderung meningkat pada tahun 2020 hingga 2024 yaitu berkisar antara 0,247 hingga 0,300 ons/kapita/minggu. Fluktuasi konsumsi bawang merah di Kota Pekanbaru berbanding lurus dengan pengeluaran bawang merah oleh di Kota Pekanbaru, yaitu berkisar antara Rp. 914 hingga Rp1. 412/Kapita/minggu pada periode yang sama. Mengingat bahwa peningkatan jumlah bawang merah yang dikonsumsi akan diikuti oleh peningkatan dalam biaya yang dikeluarkan untuk pembelian komoditi tersebut. Variasi ini mencerminkan adanya perubahan kebutuhan dan preferensi masyarakat, selain itu perubahan konsumsi dan pengeluaran tersebut juga dapat disebabkan oleh fluktuasi harga bawang merah. Data Pusat Statistik tahun 2025 menunjukkan bahwa perkembangan harga bawang merah di Kota Pekanbaru mengalami fluktuasi namun cenderung meningkat pada tahun 2020-2024, yaitu berkisar antara Rp30. 821-Rp34. Fluktuasi harga tersebut sering terjadi terutama menjelang hari besar keagamaan seperti Ramadhan dan Idul Fitri, akibat tingginya permintaan dan terbatasnya pasokan. Badan Pusat Statistik . juga menyebutkan bahwa bawang merah merupakan salah satu komoditi penyumbang inflasi di Kota Pekanbaru pada bulan Mei tahun 2025 sebesar 0,07 persen. Kondisi ini semakin diperparah karena bawang merah bukan merupakan komoditas utama di Kota Pekanbaru, sehingga mengandalkan pasokan dari daerah Hal ini menekan daya beli masyarakat, terutama kelompok berpenghasilan rendah seperti peserta Program Keluarga Harapan (PKH). Menurut Direktorat Jaminan Sosial Keluarga tahun 2021. Program Keluarga Harapan (PKH) merupakan program perlindungan sosial yang memberikan bantuan kepada rumahtangga miskin dengan tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan sekaligus memutus rantai kemiskinan antargenerasi. Penerima PKH umumnya berasal dari kelompom Desil 1 hingga Desil 4 dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS), dimana Desil 1 mencakup 10 persen keluarga dengan kesejahteraan terendah dan Desil 10 mencakyp 10 persen keluarga dengan kesejahteraan tertinggi. Sesuai Peraturan Menteri Sosial Nomor 1 Tahun 2018, sasaran PKH adalah keluarga miskin dan rentan yang tercatat dalam Basis Data Terpadu (BDT), teruta,a yang masuk Desil 1atau rumahtangga sangat miskin. Kriteria penerima meliputi aspek kesehatan . bu hamil dan anak usia dibawah dua tahu. , pendidikan . nak yang menempuh wajib belajar 12 tahu. , dan kesejahteraan sosial . ansia dan penyandang disabilita. Analisis Pola Konsumsi Bawang Merah Rumatangga Peserta Program Keluarga Harapan Kota Pekanbaru Sejak dijalankan pada tahun 2013 di Kota Pekanbaru. PKH tidak hanya memberikan bantuan finansial, tetapi juga mendorong pemenuhan kewajiban pendidikan dan kesehatan bagi Namun, jumlah rumah tangga peserta PKH dalam periode 2020Ae2024 mengalami fluktuasi cenderung menurun. Tercatat 13. 197 rumah tangga pada 2020, menurun menjadi 901 pada 2022, lalu meningkat kembali menjadi 13. 745 pada 2023, sebelum turun lagi 414 pada 2024. Pada periode yang sama jumlah penduduk miskin di Kota Pekanbaru mengalami kenaikan yaitu dari 30,40 hingga 38,17 ribu jiwa. Ketidakseimbangan antara peningkatan jumlah penduduk miskin dan menurunnya jumlah peserta Program Keluarga Harapan memperlihatkan adanya kesenjangan dalam upaya menanggulangi Penurunan jumlah peserta PKH yang tidak diiringi dengan menurunnya penduduk miskin di Kota Pekanbaru menunjukkan adanya kompleksitas permasalahan sosial ekonomi yang dihadapi masyarakat. Kondisi ini ditambah dengan kenaikan harga bawang merah yang tidak terduga dan tidak stabil memnuat anggaran belanja rumahtangga penerima PKH menjadi tidak menentu sehingga menyulitkan rumahtangga penerima PKH untuk memenuhi kebutuhan pokoknya. Urgensi penelitian ini terletak pada kebutuhan mendesak untuk memahami bagaimana rumahtangga penerima PKH mengelola konsumsi bawang merah di tengah tekanan ekonomi yang terus meningkat akibat fluktuasi harga. Kondisi ini ditambah dengan kenaikan harga bawang merah yang tidak terduga dan tidak stabil membuat anggaran belanja rumahtangga penerima PKH menjadi tidak menentu, sehingga menyulitkan rumahtangga penerima PKH untuk memenuhi kebutuhan pokoknya. Kebaruan . penelitian ini terletak pada fokus spesifik pada komoditas bawang merah dalam konteks rumahtangga penerima PKH di Kota Pekanbaru, dengan menggunakan pendekatan analisis yang mempertimbangkan tiga faktor determinan utama yaitu jumlah anggota rumahtangga, tingkat pendidikan ibu/kepala rumahtangga, dan jenis pekerjaan. Penelitian ini juga menggunakan data primer terkini yang diperoleh langsung dari responden PKH di lapangan. Situasi yang telah dijelaskan diatas memunculkan pertanyaan tentang bagaimana rumahtangga penerima PKH mengelola konsumsinya dalam menghadapi tekanan ekonomi yang terus meningkat. Sehingga penelitian ini bertujuan untuk menggali lebih dalam mengenai pola konsumsi bawang merah oleh rumahtangga peserta Program Keluarga Harapan di Kota Pekanbaru berdasarkan jumlah anggota rumahtangga, pendidikan ibu/kepala rumahtangga, dan jenis pekerjaan. METODE PENELITIAN Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer yang diperoleh melalui wawancara langsung dengan penerima PKH menggunakan kuesioner. Data sekunder yang diperoleh dari lembaga atau instansi terkait diantaranya kantor desa. Badan Pusat Statistik (BPS). Badan Pangan Nasional (BPN) Indonesia. Dinas Sosial Provinsi Riau dan literatur lainnya yang terkait dengan penelitian ini. Populasi penelitian ini adalah peserta penerima Program Keluarga Harapan di Kota Pekanbaru sebanyak 10. 414 rumahtangga. Penelitian ini dilakukan di Kota Pekanbaru. Provinsi Riau. Pemilihan lokasi dilakukan dengan sengaja karena Kota Pekanbaru sebagai ibukota Provinsi Riau sehingga menjadi barometer untuk mencapai dan mensukseskan Program Keluarga Harapan. Lokasi penelitian ditentukan menggunakan metode multistage sampling, dengan memilih Kecamatan Senapelan. Analisis Pola Konsumsi Bawang Merah Rumatangga Peserta Program Keluarga Harapan Kota Pekanbaru Sukajadi. Rumbai. Rumbai Barat. Tenayan Raya. Tuah Madani, dan Payung Sekaki. Daerahdaerah ini dipilih karena merupakan pintu masuk Kota Pekanbaru yang berbatasan langsung dengan kabupaten atau kota lain. Selanjutnya, dipilih tiga kelurahan dari masing-masing kecamatan yang merupakan kelurahan terjauh, pertengahan, dan terdekat dari pasar kecamatan. Tahap selanjutnya, dari masing-masing kelurahan ditetapkan 15 sampel dengan total sampel sebanyak 315 rumahtangga. Teknik penarikan sampel dilakukan dengan teknik simple random sampling dengan sistem pengundian. Analisis pola konsumsi bawang merah oleh rumahtangga penerima PKH menggunakan analisis deskriptif kuantitatif. Tujuan analisis ini untuk melihat pola konsumsi atau pengeluaran bawang merah rumahtangga Program Keluarga Harapan di Kota Pekanbaru berdasarkan jumlah anggota rumahtangga, pendidikan ibu/kepala rumahtangga, dan jenis pekerjaan. Menurut Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional Indonesia tahun 2020, penggolongan rumahtangga berdasarkan jumlah anggota rumahtangga dikategorikan menjadi tiga kategori, yaitu rumahtangga kecil (O 4 oran. , rumahtangga sedang . -7 oran. , dan rumahtangga besar (Ou 8 oran. Berdasarkan peraturan Menteri Pendidikan. Kebudayaan. Riset, dan Teknologi Nomor 8 Tahun 2024 tingkat pendidikan di Indonesia diklasifikasikan menjadi empat kategori, yaitu tidak sekolah, pendidikan dasar (SD/MI/Sederaja. , pendidikan menengah (SMP/MTs/Sederajat. SMA/SMK/MA/Sederaja. , dan pendidikan tinggi . iploma, sarjana, magister dan dokto. Jenis pekerjaan dapat dibedakan menjadi pekerjaan formal dan informal menurut Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia tahun 2023. HASIL DAN PEMBAHASAN Identitas rumahtangga peserta PKH memberikan gambaran umum mengenai profil sosial ekonomi penerima manfaat di Kota Pekanbaru. Karakteristik yang diamati meliputi variabelvariabel demografis dan sosial seperti umur, tingkat pendidikan, jumlah anggota rumah tangga, serta jenis pekerjaan ibu atau kepala rumah tangga. Informasi ini penting untuk memahami kondisi dan latar belakang penerima Program Keluarga Harapan yang berperan terhadap pola konsumsi rumah tangga, termasuk konsumsi bawang merah. Penelitian ini melibatkan sebanyak 315 rumahtangga penerima PKH yang tersebar di berbagai kecamatan di Kota Pekanbaru. Distribusi responden berdasarkan identitas rumah tangga peserta Program Keluarga Harapan di Kota Pekanbaru disajikan pada Tabel 1, yang memperlihatkan variasi kondisi sosial ekonomi di antara penerima program. Tabel 1. Identitas responden rumahtangga peserta Program Keluarga Harapan No. Uraian Jumlah Persentase (%) Umur Responden <15 tahun 0,00 15-64 tahun 92,70 >64 tahun 7,30 Jumlah Anggota Rumahtangga <4 orang 46,03 5-7 orang 53,02 >8 orang 0,95 Tingkat Pendidikan Ibu/Kepala Rumahtangga Tidak Sekolah/Tidak Tamat SD 2,54 Pendidikan Dasar 22,22 Pendidikan Menengah 71,43 Analisis Pola Konsumsi Bawang Merah Rumatangga Peserta Program Keluarga Harapan Kota Pekanbaru Pendidikan Tinggi Jenis Pekerjaan Formal Informal 3,81 18,41 81,58 Tabel 1 menunjukkan hampir seluruh responden tergolong dalam penduduk usia Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas penerima Program Keluarga Harapan berada pada usia yang secara teoritis masih mampu bekerja dan beraktivitas secara produktif. Namun demikian, berada pada usia produktif tidak serta merta menjamin tercapainya kesejahteraan rumah tangga, karena faktor lain seperti tingkat pendidikan, jenis pekerjaan, dan pendapatan juga turut memengaruhi kondisi ekonomi rumah tangga. Hasil penelitian ini sejalan dengan Wahyuni dan Putra . yang menyatakan bahwa penerima PKH umumnya berusia produktif namun belum sejahtera karena rendahnya pendidikan dan keterbatasan pekerjaan. Tabel 1 menunjukkan bahwa rumahtangga PKH didominasi oleh keluarga sedang. Kondisi ini menggambarkan bahwa sebagian besar penerima PKH memiliki tanggungan ekonomi yang relatif besar, sehingga tingkat kesejahteraan mereka masih tergolong rentan. Hasil ini sejalan dengan penelitian Pertiwi . yang menemukan bahwa jumlah anggota rumahtangga berpengaruh terhadap kesejahteraan, di mana semakin besar ukuran rumahtangga, maka semakin besar pula beban ekonomi yang harus ditanggung. Sebagian besar responden penerima PKH berpendidikan menengah yang menunjukkan bahwa pendidikan yang telah ditempuh responden berada pada tingkat SMP atau sederajat hingga SMA atau sederajat. Tingkat pendidikan tersebut belum mampu menjamin peningkatan kesejahteraan keluarga karena keterbatasan keterampilan dan akses terhadap pekerjaan layak. Hasil ini sejalan dengan Handayani dan Yulistiyono . yang menemukan bahwa sebagian besar penerima PKH berpendidikan menengah namun masih bergantung pada bantuan sosial untuk memenuhi kebutuhan dasar. Pekerjaan merupakan aktifitas utama yang dilakukan manusia untuk menggambarkan tanggung jawab terhadap dirinya sendiri dan keluarganya. Kementerian Ketenagakerjaan RI tahun 2023 menyebutkan bahwa Jenis pekerjaan dibagi menjadi dua kategori yaitu pekerjaan formal dan informal. Tabel 1 menunjukkan bahwa sebagian besar penerima Program Keluarga Harapan di Kota Pekanbaru bekerja di sektor informal, yaitu 81,59 persen. Kondisi ini menunjukkan ketergantungan pada pekerjaan berpendapatan tidak tetap dan tanpa jaminan sosial, sehingga kesejahteraan rumahtangga cenderung rendah. Hasil ini sejalan dengan penelitian Bestari dan Noor, . serta Mayandri et al. , . yang menemukan bahwa dominasi pekerjaan informal berhubungan dengan rendahnya kesejahteraan dan kerentanan ekonomi rumahtangga miskin. Pola Konsumsi Bawang Merah Rumahtangga Penerima Program Keluarha Harapan Berdasarkan Jumlah Anggota Rumahtangga Jumlah rumahtangga mengacu pada total individu yang tinggal bersama dalam satu Pada penelitian ini, kategori jumlah anggota rumahtangga terbagi menjadi tiga, yaitu kategori kategori keluarga kecil yang terdiri dari 1-4 orang, keluarga sedang terdiri dari 5-7 Rata-rata konsumsi bawang merah kategori jumlah anggota rumahtangga adalah 9,43 gr/kapita/hari dengan pegeluaran rata-rata Rp521,90/kapita/hari. Rata-rata jumlah anggota rumahtangga penerima PKH dalam penelitian ini berjumlah lima orang per rumahtangga. Angka tersebut lebih tinggi daripada anjuran BKKBN yang merekomendasikan struktur Analisis Pola Konsumsi Bawang Merah Rumatangga Peserta Program Keluarga Harapan Kota Pekanbaru keluarga ideal yang terdiri dari 2 orang anak. Ukuran rumahtangga yang lebih besar ini berpotensi memengaruhi kebutuhan konsumsi pangan dan alokasi belanja harian, termasuk bawang merah. Konsumsi bawang merah berdasarkan jumlah anggota rumahtangga PKH di Kota Pekanbaru dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Pola konsumsi bawang merah berdasarkan jumlah anggota rumahtangga No. Kategori Rumahtangga Keluarga Kecil Keluarga Sedang Keluarga Besar Jumlah . r/kapita/har. Pengeluaran (Rp/kapita/har. 11,17 471,18 9,65 526,45 7,47 569,06 Data pada Tabel 2 menunjukkan bahwa konsumsi bawang merah tertinggi pada kategori keluarga kecil, kemudian diikuti dengan keluarga sedang dan keluarga besar. Hal ini menunjukkan bahwa semakin banyak jumlah anggota rumahtangga, maka konsumsi bawang merah semakin rendah. Hal ini tidak sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa semakin banyak jumlah anggota rumahtangga maka konsumsinya akan semakin tinggi, begitu pula Namun penelitian ini selaras dengan penelitian yang dilakukan oleh Lailatunnazmi et al. , . yang menjelaskan bahwa jumlah anggota rumahtangga yang sedikit tidak sepenuhnya menjamin rendahnya kebutuhan konsumsi pangan. Berbeda dengan jumlah konsumsi bawang merah, untuk pengeluaran konsumsi bawang merah diketahui bahwa semakin tinggi jumlah anggota rumahtangga, maka semakin tinggi pula pengeluaran konsumsi bawang merah rumahtangga penerima PKH di Kota Pekanbaru. Ketidakselarasan antara jumlah konsumsi dengan pengeluaran konsumsi dapat disebabkan karena kenaikan harga bawang merah. Habrianto et al. , . menyebutkan bahwa kenaikan harga dapat menyebabkan penurunan konsumsi suatu komoditi namun meningkatkan pengeluaran konsumsinya. Temuan ini memberikan implikasi penting bagi pemerintah, khususnya dalam penguatan pendampingan program Keluarga Berencana (KB). Mengingat semakin besar jumlah anggota rumahtangga berpotensi meningkatkan beban pengeluaran pangan, akses dan edukasi mengenai perencanaan keluarga perlu lebih diintensifkan. Pendekatan ini bukan untuk membatasi jumlah anak secara paksa, tetapi membantu keluarga miskin merencanakan jumlah anggota keluarga sesuai kemampuan ekonomi sehingga pengelolaan konsumsi dan pengeluaran rumah tangga dapat menjadi lebih optimal. Pola Konsumsi Bawang Merah Rumahtangga Peserta Program Keluarga Harapan Berdasarkan Tingkat Pendidikan Ibu/Kepala Rumahtangga Tingkat pendidikan merupakan suatu kegiatan dalam mengembangkan kemampuan, sikap, dan bentuk tingkah lakunya, baik untuk kehidupan masa depan melalui organisasi ataupun tidak. Pada penelitian ini pendidikan ibu/kepala rumahtangga dihitung berdasarkan pendidikan formal. Sebagian besar reponden peserta Program Keluarga Harapan di Kota Pekanbaru berpendidikan menengah. Rata-rata tingkat pendidikan ibu/kepala rumahtangga peserta PKH adalah pendidikan menengah. Rata-rata konsumsi bawang merah berdasarkan kategori tingkat pendidikan ibu/kepala rumahatangga adalah 9,60 gr/kapita/hari dengan pengeluaran sebesar Rp337,28/kapita/hari. Pola konsumsi bawang merah rumahtangga Analisis Pola Konsumsi Bawang Merah Rumatangga Peserta Program Keluarga Harapan Kota Pekanbaru Program Keluarga Harapan Kota Pekanbaru berdasarkan tingkat pendidikan ibu/kepala rumahtangga dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Pola konsumsi bawang merah peserta Program Keluarga Harapan berdasarkan tingkat pendidikan ibu/kepala rumahtangga. No. Tingkat pendidikan Dasar dan/atau Tidak Sekolah Menengah Tinggi Jumlah . r/kapita/har. Pengeluaran (Rp/kapita/har. 10,56 376,38 10,02 347,28 8,21 288,18 Pola konsumsi bawang merah berdasarkan tingkat pendidikan ibu/kepala rumahtangga menunjukkan adanya perbedaan antar kelompok pendidikan. Rumahtangga dengan tingkat pendidikan dasar atau tidak sekolah cenderung memiliki tingkat konsumsi yang lebih tinggi dibandingkan dengan rumahtangga berpendidikan menengah dan tinggi. Kondisi ini mencerminkan bahwa tingkat pendidikan dapat memengaruhi cara rumahtangga dalam mengelola dan memilih bahan konsumsi. Menurut Rahmawati et al. , semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, semakin besar kecenderungan untuk melakukan pengelolaan pangan yang lebih efisien dan selektif terhadap jenis bahan pangan yang dikonsumsi. Rumahtangga dengan tingkat pendidikan rendah cenderung memiliki konsumsi bawang merah yang lebih tinggi dibandingkan rumahtangga dengan pendidikan menengah dan tinggi. Hal ini diduga karena individu dengan pendidikan rendah memiliki preferensi konsumsi yang lebih tradisional dan masih bergantung pada penggunaan bumbu alami dalam aktivitas memasak sehari-hari. Sebaliknya, rumahtangga berpendidikan tinggi umumnya memiliki akses informasi yang lebih luas serta pola konsumsi yang lebih bervariasi dan efisien. Temuan ini sejalan dengan penelitian Suryanti et al. , . serta Mayandri et al. , . yang menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan kepala rumahtangga, maka semakin rasional dan selektif pola konsumsi yang diterapkan dalam rumahtangga. Temuan ini semakin menegaskan bahwa tingkat pendidikan ibu/kepala rumahtangga berperan dalam membentuk pola konsumsi sehari-hari. Rata-rata pendidikan ibu/kepala rumah tangga penerima PKH di Kota Pekanbaru berada pada jenjang pendidikan menengah, sehingga pemahaman terkait gizi, pemilihan bahan pangan, dan pengelolaan konsumsi mungkin belum sepenuhnya optimal. Kondisi ini menunjukkan perlunya intervensi pemerintah melalui peningkatan edukasi gizi dan penyuluhan konsumsi pangan sehat bagi keluarga penerima PKH. Upaya ini diharapkan dapat memperkuat kemampuan rumah tangga dalam mengelola bahan pangan secara lebih efisien, memilih alternatif konsumsi yang lebih rasional, serta memastikan pemenuhan gizi keluarga dapat berjalan lebih baik meskipun dalam keterbatasan ekonomi. Pola Konsumsi Bawang Merah Rumahtangga Peserta Program Keluarga Harapan Berdasarkan Jenis Pekerjaan Konsumsi rumahtangga sangat dipengaruhi oleh kondisi sosial ekonomi, salah satunya adalah jenis pekerjaan kepala rumahtangga. Jenis pekerjaan menentukan tingkat pendapatan, kestabilan ekonomi, serta kemampuan rumahtangga dalam memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari. Rumahtangga dengan pekerjaan yang lebih stabil umumnya memiliki kemampuan yang lebih baik dalam mempertahankan pola konsumsi yang konsisten dibandingkan dengan mereka yang bekerja di sektor informal yang pendapatannya cenderung fluktuatif. Rata-rata Analisis Pola Konsumsi Bawang Merah Rumatangga Peserta Program Keluarga Harapan Kota Pekanbaru konsumsi bawang merah oleh rumahtangga penerima Program Keluarga Harapan di Kota Pekanbaru berdasarkan jenis pekerjaan adalah 10,39 gr/kapita/hari dengan rata-rata pengeluaran sebanyak Rp361,12kapita/hari. Pola konsumsi bawang merah berdasarkan jenis pekerjaan dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4. Pola konsumsi bawang merah peserta Program Keluarga Harapan berdasarkan jenis pekerjaan No. Jenis Pekerjaan Formal Informal Jumlah . r/kapita/har. Pengeluaran (Rp/kapita/har. 10,78 372,06 10,00 350,18 Pola konsumsi bawang merah berdasarkan jenis pekerjaan menunjukkan bahwa rumahtangga dengan pekerjaan formal cenderung memiliki tingkat konsumsi yang lebih tinggi dibandingkan dengan rumahtangga yang bekerja disektor informal. Hal ini dapat dikaitkan dengan perbedaan tingkat pendapatan, stabilitas ekonomi, dan pola pengeluaran antar kelompok pekerjaan. Rumahtangga dengan pekerjaan formal umumnya memiliki pendapatan yang lebih teratur sehingga mampu menjaga kestabilan konsumsi pangan, termasuk bawang merah, dalam kebutuhan sehari-hari. Temuan ini sejalan dengan penelitian Bestari dan Noor . yang menyatakan bahwa pekerjaan formal cenderung mendukung akses pangan yang lebih baik dan pola konsumsi yang lebih beragam. Perbedaan pola konsumsi berdasarkan jenis pekerjaan ini memperlihatkan pentingnya peningkatan kualitas sumberdaya manusia dalam rumahtangga miskin. Rendahnya tingkat pendidikan pada sebagian besar rumahtangga penerima PKH berpotensi membatasi mereka untuk memperoleh pekerjaan formal yang lebih stabil dan berpenghasilan lebih baik. Oleh karena itu, upaya peningkatan pendidikan, baik melalui pendidikan formal, program kesetaraan seperti Paket A/B/C, maupun pendidikan nonformal seperti pelatihan keterampilan menjadi sangat penting untuk memperluas peluang pekerjaan bagi keluarga miskin. Pemerintah dapat memperkuat intervensi melalui perluasan akses Program Indonesia Pintar (PIP). KIP Kuliah, serta pelatihan vokasi bagi orang dewasa agar rumahtangga miskin memiliki keterampilan yang lebih kompetitif di pasar kerja. Dengan meningkatnya taraf pendidikan dan kompetensi, rumahtangga miskin diharapkan dapat beralih ke pekerjaan yang lebih stabil sehingga berimplikasi positif terhadap ketahanan pangan dan pola konsumsi yang lebih baik di masa KESIMPULAN Hasil analisis menunjukkan bahwa pola konsumsi bawang merah rumahtangga PKH dipengaruhi oleh jumlah anggota rumahtangga, tingkat pendidikan, dan jenis pekerjaan. Keluarga kecil memiliki konsumsi lebih tinggi dibandingkan keluarga sedang dan besar, sementara rumahtangga dengan pendidikan rendah cenderung memiliki konsumsi lebih tinggi dibandingkan yang berpendidikan menengah dan tinggi. Selain itu, rumahtangga dengan pekerjaan formal memiliki konsumsi yang lebih stabil dibanding pekerja informal karena pendapatan yang lebih teratur. Temuan ini menegaskan bahwa faktor sosial ekonomi berperan penting dalam menentukan pola konsumsi rumahtangga miskin. Oleh karena itu, upaya yang perlu dilakukan meliputi peningkatan literasi pangan dan penyuluhan gizi bagi keluarga miskin, perluasan akses pendidikan formal maupun nonformal, serta penguatan pelatihan keterampilan Analisis Pola Konsumsi Bawang Merah Rumatangga Peserta Program Keluarga Harapan Kota Pekanbaru untuk membuka peluang pekerjaan formal. Intervensi tersebut diharapkan dapat meningkatkan kemampuan rumahtangga miskin dalam mengelola konsumsi dan mencapai ketahanan pangan yang lebih baik. DAFTAR PUSTAKA