HUBUNGAN MEKANISME KOPING DENGAN TINGKAT KECEMASAN PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK DI UNIT HEMODIALISA RSUD PROVINSI NTB Dian IstianaA. Zaenal ArifinA. Heni Agustini Megantari PutriA. SyamdarniatiA . Dewi Nur Sukma Purqoti AA Program Studi Pendidikan Ners Stikes Yarsi Mataram *Corresponding author : dianistiana564@gmail. ABSTRAK Survei Perhimpunan Nefrologi Indonesia terdapat 18 juta orang di Indonesia menderita gagal ginjal kronik. Gagal Ginjal Kronik merupakan gangguan fungsi ginjal yang progresif dan memerlukan pengobatan berupa transplantasi ginjal, dialisis peritoneal, hemodialisis dan rawat jalan dalam jangka waktu yang lama. Pasien yang menjalani hemodialisis mengalami berbagai masalah yang timbul akibat tidak berfungsinya ginjal. Kecemasan merupakan dampak psikologis yang sering dikeluhkan oleh pasien hemodialisis. Mekanisme koping merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kecemasan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan mekanisme koping dengan tingkat kecemasan pada pasien gagal ginjal kronik di Unit Hemodialisa RSUD Provinsi NTB. Jenis Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain penelitian korelasional menggunakan pendekatan cross sectional. Pemilihan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling dengan jumlah sampel yaitu 69 Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner HARS, dan kuesioner Jalowiec Coping Scale. Analisa data dalam penelitian ini menggunakan analisis uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan mekanisme koping dengan tingkat kecemasan pada pasien gagal ginjal kronik di Unit Hemodialisa RSUD Provinsi NTB dengan nilai signifikansi sebesar 0,009 . <0,. Dengan adanya hasil penelitian ini diharapkan keluarga dapat memberikan dukungan kepada pasien agar menggunakan koping yang adaptif sehingga dapat menurunkan tingkat kecemasan pasien. Kata Kunci : Mekanisme koping, tingkat kecemasan, gagal ginjal kronik. ABSTRACT The Indonesian Society of Nephrology survey there are 18 million people in Indonesia suffering from chronic kidney disease. Chronic kidney disease is a progressive disorder of renal function and requires treatment in the form of kidney transplantation, peritoneal dialysis, hemodialysis and long-term outpatient treatment. Patients undergoing hemodialysis experience various problems arising from kidney malfunction. Anxiety is a psychological impact that hemodialysis patients often complain about. Coping mechanism is one of the factors that affect the patient's This study aims to determine the relationship of coping mechanism with anxiety level in chronic renal failure patients in Hemodialisa Unit of NTB Provincial Hospital. This type of research is quantitative research with correlational research design using cross sectional The selection of samples was conducted by purposive sampling method with a sample count of 69 respondents. The research instruments used HARS questionnaire, and Jalowiec Coping Scale questionnaire. Analyze the data in this study using Chi-Square test The results showed that there was a link between coping mechanisms and anxiety levels in chronic renal failure patients in the Hemodialysis Unit of NTB Provincial Hospital with a significance value of 0. <0. With the results of this study, it is expected that the family can provide support to patients to use adaptive coping so as to lower the level of anxiety of Keywords: Anxiety level, chronic renal failure, coping mechanism. PENDAHULUAN Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan prevalensi gagal ginjal kronik di dunia pada tahun 2012 adalah sekitar 250 juta orang dan mengalami peningkatan pada tahun 2013 sebesar 50% yaitu menjadi 8 % dari 7 miliar penduduk dunia atau sebesar 500 juta orang. Di Amerika Serikat, kejadian dan prevalensi gagal ginjal meningkat 50% di tahun 2014. Data menunjukkan bahwa setiap tahun 200. orang Amerika menjalani hemodialisis karena penyakit ginjal kronik, artinya 1140 dalam 1 juta orang Amerika adalah pasien dialisis (Widyastuti, 2. Data Riskesdas pada tahun 2013 menyatakan angka kejadian gagal ginjal kronis 0,2% dari penduduk Indonesia. Dari survei yang dilakukan oleh Perhimpunan Nefrologi Indonesia terdapat 18 juta orang di Indonesia menderita penyakit ginjal Hanya 60% dari pasien gagal ginjal kronis tersebut yang menjalani terapi dialisis dan sisanya melakukan transplantasi ginjal (Yemima. Kanine & Wowiling, 2. Prevalensi gagal ginjal kronik di Provinsi NTB yaitu 0,1 % dari pasien gagal ginjal kronis di Indonesia (Depkes RI, 2. jumlah pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa di RSUD Provinsi NTB pada tahun 2015 mengalami peningkatan sebesar 13,6 % dari tahun 2014 dan pada tahun 2016 meningkat sebesar 0,9 % dari Tahun 2015. Jumlah pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa pada tahun 2014 sebanyak 281 pasien dari bulan Januari hingga bulan November 2014 dengan rata-rata per bulan adalah 117 pasien, pada tahun 2015 455 pasien dari bulan Januari hingga bulan November 2015 dengan ratarata per bulan adalah 133 kasus, dan pada tahun 2016 menjadi 1. 468 pasien dari bulan Januari hingga bulan November 2016 dengan rata-rata per bulan adalah 134 Hemodialisis (HD) adalah terapi yang paling sering dilakukan oleh pasien penyakit ginjal kronik di seluruh dunia (Daurgirdas et al. , 2. Hemodialisis merupakan salah satu terapi pengganti sebagian kerja atau fungsi ginjal dalam mengeluarkan sisa hasil metabolisme dan kelebihan cairan serta zat-zat yang tidak (Rahmi. Hemodialisis yang dilakukan oleh pasien hidup sekaligus akan merubah pola hidup pasien (Ignatavicus & Workman, 2. Pasien mengalami berbagai masalah yang timbul akibat tidak berfungsinya ginjal. Hal ini menjadi stressor fisik yang berpengaruh pada berbagai dimensi kehidupan pasien yang meliputi biologi, psikologi, sosial, dan spiritual (Muttaqin & Sari, 2. Kecemasan merupakan dampak psikologis yang sering dikeluhkan oleh pasien hemodialisis. Rasa cemas yang dialami pasien bisa timbul karena masa penderitaan yang sangat panjang . eumur Selain itu, sering terdapat bayangan tentang berbagai macam pikiran yang menakutkan terhadap proses penderitaan yang akan terjadi padanya, walaupun hal yang dibayangkan belum tentu terjadi. Situasi ini menimbulkan perubahan drastis, bukan hanya fisik tetapi juga psikologis (Rahmi, 2. Proses tindakan invasif merupakan salah satu faktor situasional yang berhubungan dengan kecemasan. Kondisi ini lebih dominan sehingga kadang terabaikan apalagi pada pasien gagal ginjal hemodialisis yang sangat asing bagi Pasien sering mengganggap hemodialisis merupakan suatu hal yang mengerikan terutama ruangan, peralatan dan mesin yang serba asing, sehingga pasien sering menolak dan mencari alternatif lain (Rika, 2. Berbagai teori telah dikembangkan untuk menjelaskan penyebab dari gangguan Antara lain teori psikoanalitik, teori interpersonal, teori perilaku, teori keluarga, dan faktor biologis. Pasien dapat menggunakan sumber koping di lingkungan sekitarnya (Suliswati, 2. Sumber koping tersebut adalah aset ekonomi, kemampuan menyelesaikan masalah, dukungan sosial keluarga, keyakinan, dan budaya dapat membantu individu dalam menggunakan mekanisme koping yang adaptif (Subiatmini. Mekanisme koping terdiri dari koping adaptif dan maladaptif. Koping adaptif bertujuan membuat perubahan langsung dalam lingkungan sehingga situasi dapat diterima dengan lebih efektif. Sedangkan koping maladaptif dilakukan untuk membuat perasaan lebih nyaman dengan memperkecil gangguan emosi pada gangguan stres. Bahkan bila situasi menantang dan menguntungkan, upaya mengembangkan dan mempertahankan tantangan yaitu untuk mempertahankan keuntungan positif tantangan itu dan menghilangkan semua ancaman dalam situasi yang berbahaya dan mengancam. Koping yang berhasil akan mengurangi dan menghilangkan sumber masalah dan penyembuhan akan terjadi. Jika upaya koping gagal atau tidak efektif maka keadaan tegang meningkat sehingga menjadi peningkatan kebutuhan energi lalu sumber penyakit (Mustafa, 2. METODE PENELITIAN Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan rancangan penelitian korelasional menggunakan pendekatan Cross Sectional. Penelitian menghubungkan antara tingkat mekanisme kuesioner JCS (Jalowiec Coping Scal. dengan tingkat kecemasan menggunakan kuesioner HARS (Hamilton Anxietas Range Scal. Penelitian ini telah dilaksanakan pada tanggal 7-15 Februari 2017. sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 69 orang, pengambilan sample dengan teknik purposive sampling serta uji analisa data menggunakan uji Chi-Square HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 1. Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Usia Usia Jumlah Persentase (%) 1 Remaja Akhir . sia 1725 tahu. 2 Dewasa Awal . sia 2635 tahu. 3 Dewasa Akhir . sia 3645 tahu. 4 Lansia Awal . sia 4655 tahu. 5 Lansia Akhir . sia 5665 tahu. 6 Manula . sia >65 tahu. Total Berdasarkan tabel diatas, dapat diketahui bahwa sebagian besar responden merupakan lansia akhir . sia 56-65 tahu. yaitu sebanyak 20 orang . ,0%) dan yang paling sedikit merupakan remaja akhir . sia 17-25 tahu. yaitu sebanyak 2 orang . ,9%). Tabel 2. Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Jenis Jumlah Persentase Kelamin (%) Laki-laki Perempuan Total Berdasarkan tabel diatas, dapat diketahui bahwa sebagian besar responden berjenis kelamin laki-laki yaitu sebanyak 38 orang . ,1%). Tabel 3. Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan Tingkat Jumlah Persentase Pendidikan (%) Tingkat Pendidikan Rendah (SD. SMP) Tingkat Pendidikan Tinggi (SMA. PT) Lain-lain (Tidak Putus Total memiliki tingkat pendidikan tinggi (SMA. PT) yaitu sebanyak 36 orang . ,2%), dan yang paling sedikit memiliki status tingkat pendidikan lain-lain . idak sekolah, putus sekola. yaitu sebanyak 7 orang . ,1%). Tabel 4. Distribusi Frekuensi Mekanisme Koping Pasien Gagal Ginjal Kronik di Unit Hemodialisa RSUD Provinsi NTB Tahun No Mekanisme Jumlah Persentase Koping (%) Adaptif Maladaptif Total Berdasarkan tabel diatas, dapat diketahui bahwa sebagian besar responden menggunakan koping maladaptif yaitu sebanyak 37 orang . ,6%). Tabel 5. Distribusi Frekuensi Tingkat Kecemasan Pasien Gagal Ginjal Kronik di Unit Hemodialisa RSUD Provinsi NTB Tahun 2017 Tingkat Jumlah Persentase Kecemasan (%) Tidak Ada Kecemasan Kecemasan Ringan Kecemasan Sedang Kecemasan Berat Panik Total Berdasarkan tabel diatas, dapat diketahui bahwa sebagian besar responden Berdasarkan tabel diatas, dapat diketahui bahwa sebagian besar responden memiliki kecemasan berat yaitu sebanyak 19 orang . ,5%) dan yang paling sedikit kecemasan yaitu sebanyak 7 orang . ,1%). Tabel 6. Tabulasi Silang Hubungan Mekanisme Koping Tingkat Kecemasan Pasien Gagal Ginjal Kronik di Unit Hemodialisa RSUD Provinsi NTB Tahun 2017 Tingkat Kecemasan Mekani Tidak Cemas Cemas Cemas Cema Ringan Sedang Berat Koping Oc % Oc % Oc % Oc % 18, 1 31. Adaptif 6 Malada 24, 1 37, 1 2,7 3 8,1 9 kecemasan pasien gagal ginjal kronik di unit hemodialisa RSUD Provinsi NTB. Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian Romani . , yang menunjukkan hasil analisa bivariat yaitu dari statistik Chi-Square menunjukkan p-value 0,001 < 0,05 yang berarti ada hubungan Jumlah mekanisme koping individu dengan tingkat Panik kecemasan pasien gagal ginjal kronis di Oc Unit% Hemodialisa Oc % RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten. Hasil penelitian ini juga 15, 3 5 sesuai dengan hasil 100penelitian Sula . , tentang hubungan mekanisme koping 1 dengan 27, tingkat pasien stroke di 0 RS 0 Bhayangkara Makassar Chi-Square 10, 1 18, 1 21, 1 27, 1 21, 6 Total 5 melalui 9pendekatan uji fisher exact test dengan nilai hitung p = 0,030 lebih kecil dari nilai a = 0,05 yang berarti ada hubungan Uji Chi0,009 Square Bhayangkara. Penelitian Ihdaniyati . Berdasarkan menunjukkan bahwa dari 32 responden sebanyak 6 orang . ,8%) tidak mengalami gagal jantung kongestif di Rumah Sakit kecemasan, 10 orang . ,2%) memiliki Umum Pandan Arang Boyolali. kecemasan ringan, 6 orang . ,8%) Perilaku koping maladaptif seperti memiliki kecemasan sedang, 5 . ,6%) terjadinya respon panik dapat disebabkan orang memiliki kecemasan berat dan 5 oleh salah satu faktor yaitu penilaian . ,6%) orang memiliki tingkat kecemasan individu terhadap masalah. Jika individu panik, sedangkan dari 37 responden yang meyakini bahwa situasi atau masalah yang menggunakan koping maladaptif, sebanyak dialami masih dapat diubah secara . ,7%) konstruktif maka dapat terbentuk koping kecemasan, 3 orang . ,1%) memiliki Namun jika masalah diyakini kecemasan ringan, 9 orang . ,3%) sebagai suatu yang mengancam maka akan memiliki kecemasan sedang, 14 . ,8%) terbentuk koping maladaptif (Lazarus & orang memiliki kecemasan berat dan 10 Folkman dalam Mesuri, 2. Hal ini . ,0%) orang memiliki tingkat kecemasan berarti individu menganggap bahwa gagal Berdasarkan hasil penelitian, dapat hemodialisa yang di jalani merupakan diketahui bahwa hasil uji Chi-Square situasi yang menekan dan mengancam bagi diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,009 Untuk . <0,. Responden yang menggunakan mekanisme koping adaptif cenderung koping yang dapat membantu individu sedangkan responden yang menggunakan beradaptasi dengan stresor yang ada mekanisme koping maladaptif cenderung dengan menggunakan sumber koping yang memiliki tingkat kecemasan berat. Hal ini Salah satu sumber koping yang dapat membantu individu dalam menghindari perilaku maladaptif yaitu meningkatkan dukungan sosial. Menurut Sadock & Virginia . dalam Mesuri . , dukungan sosial merupakan pendukung paling utama dalam membentuk mekanisme koping yang efektif atau adaptif. Selain itu dukungan sosial mempengaruhi kesehatan dengan cara melindungi individu dari efek negatif Sehingga dengan meningkatkan dukungan sosial maka akan dapat menurunkan perilaku maladaptif. Apabila dimanfaatkan dengan baik, maka akan dapat membantu pasien gagal ginjal kronik mengembangkan mekanisme koping yang adaptif, sehingga pasien gagal ginjal kronik ditandai dengan tingkat kecemasan yang ringan dan sedang. Penggunaan sumber koping seperti dukungan sosial, aset materi dan nilai keyakinan individu akan membantu individu mengembangkan koping yang dirasakan oleh pasien gagal ginjal kronik cenderung ringan dan sedang, dan demikian juga sebaliknya (Romani, 2. Asmadi . , mengatakan bahwa tingkat kecemasan mempunyai karakteristik atau manifestasi yang berbeda satu sama lain. Manifestasi bergantung pada kematangan pribadi, ketegangan, harga diri, dan mekanisme Menurut Wangmuba . , kemampuan seseorang menggunakan koping yang buruk atau maladaptif akan memperbesar resiko seseorang mengalami kecemasan dan meningkatkan kecemasan seseorang. Kecemasan yang dialami pasien gagal ginjal kronik yang menjalani penyesuaian dan penanganan agar individu Jika individu mempunyai koping yang efektif maka kecemasan akan diturunkan dan energi digunakan langsung untuk istirahat dan penyembuhan. Jika koping tidak efektif atau gagal maka ketidakseimbangan terjadi dan respon pikiran serta tubuh akan meningkat keseimbangan (Sula, 2. Mekanisme koping bersumber dari ego yang sering di sebut sebagai mekanisme pertahanan mental, diantaranya yaitu sublimasi atau penerimaan yakni perilaku yang ditampilkan oleh responden merupakan tindakan konstruktif dalam menyelesaikan masalah. Responden yang sebagaian besar menggunakan mekanisme pertahanan ego sublimasi atau penerimaan. Dimana ketika responden mulai menerima terhadap apa yang dialaminya secara konstruktif akan mengurangi ketegangan terhadap masalah yang dialami yang secara langsung akan berpengaruh terhadap tinggkat kecemasan (Sula, 2. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat dikemukakan kecemasan pasien gagal ginjal kronik di Unit Hemodialisa RSUD Provinsi NTB yaitu karakteristik responden berdasarkan usia yang paling banyak adalah lansia akhir . sia 56-65 tahu. , karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin yang paling laki-laki, karakteristik responden berdasarkan tingkat pendidikan yang terbanyak dengan tingkat pendidikan tinggi (SMA. PT). Mekanisme koping pasien gagal ginjal kronik di Unit Hemodialisa RSUD Provinsi NTB sebagian besar menggunakan koping Tingkat kecemasan pasien gagal ginjal kronik di Unit Hemodialisa RSUD Provinsi NTB mayoritas memiliki kecemasan berat. Berdasarkan hasil uji ChiSquare di dapatkan nilai signifikansi sebesar 0,009 . <0,. yang berarti ada hubungan mekanisme koping dengan tingkat kecemasan pasien gagal ginjal kronik di unit hemodialisa RSUD Provinsi NTB Tahun 2017. REFERENSI