Al-Liqo: JURNAL PENDIDIKAN ISLAM P-ISSN: 2461-033X | E-ISSN: 2715-4556 Model Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam dalam Pendidikan Dasar *Ikhtiar Cahya Ajir. Agus Pahrudin. Agus Jatmiko. Koderi Koderi . Email: ikhtiaraajir@gmail. com1, agus. pahrudin@radenintan. jatmiko@radenintan. id3, koderi@radenintan. 1,2,3,. Universitas Raden Intan Lampung. Indonesia Abstract The Islamic Religious Education (PAI) curriculum in elementary schools faces various challenges, primarily due to its overemphasis on the cognitive aspect, which is no longer aligned with contemporary needs. This study employs literature review, policy analysis, and empirical research methods to develop a relevant PAI curriculum model. The proposed model emphasizes the integration of Islamic values into learning activities to shape students' character, morality, and spiritual values. The findings indicate that an Islamic value-based, adaptive, and contextual curriculum can enhance students' understanding of religious teachings and strengthen their application in daily life. The curriculum development process highlights the importance of collaboration among educators, parents, and policymakers to create a dynamic curriculum focused on holistic Islamic character development. Keyword: Curriculum. Islamic Religious Education. Elementary Schools Abstrak Kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) di Sekolah Dasar menghadapi berbagai masalah, terutama karena terlalu menekankan aspek kognitif, yang tidak lagi sesuai dengan kebutuhan zaman. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur, analisis kebijakan, dan studi empiris untuk mengembangkan model kurikulum PAI yang relevan. Model yang diusulkan berfokus pada integrasi nilai-nilai Islam ke dalam kegiatan pembelajaran, dengan tujuan membentuk karakter, moral, dan nilai-nilai spiritual siswa. Temuan penelitian menunjukkan bahwa kurikulum berbasis nilai Islami yang adaptif dan kontekstual dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap ajaran agama serta memperkuat implementasinya dalam kehidupan sehari-hari. Pengembangan kurikulum ini menekankan pentingnya kolaborasi antara pendidik, orang tua, dan pemangku kebijakan untuk menciptakan kurikulum yang dinamis dan berorientasi pada pembentukan karakter Islami yang Kata Kunci: Kurikulum. Pendidikan Agama Islam. Sekolah Dasar Cara Mensitasi Artikel: Ajir. Pahrudin. Jatmiko. , & Koderi. Model pengembangan kurikulum pendidikan agama Islam dalam pendidikan dasar. Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam, 9. , 302-314. https://doi. org/10. 46963/alliqo. *Corresponding Author: ikhtiaraajir@gmail. Histori Artikel: Diterima Direvisi Diterbitkan Editorial Address: Kampus Parit Enam. STAI Auliaurrasyidin Tembilahan. Jl. Gerilya No. Tembilahan Barat. Riau Indonesia 29213. : 16/12/2024 : 24/12/2024 : 30/12/2024 DOI: https://doi. org/10. 46963/alliqo. AAuthors . Licensed under (CC-BY-SA) Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Ikhtiar Cahya Ajir. Agus Pahrudin. Agus Jatmiko. Koderi Koderi Model Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam dalam Pendidikan Dasar PENDAHULUAN Pendidikan Agama Islam memiliki tugas strategis untuk membentuk generasi muda yang berkarakter, bermoral, dan memiliki nilai spiritual yang kuat. Pendidikan agama sulit untuk tetap relevan dan efektif dalam memenuhi kebutuhan siswa di era globalisasi yang diwarnai oleh kemajuan teknologi, perubahan sosial, dan tantangan moral. Kurikulum Pendidikan Anak Islam menjadi fondasi penting untuk menanamkan nilai-nilai Islami yang dapat menjadi pedoman hidup di tingkat pendidikan dasar, di mana anak-anak berada pada fase pembentukan karakter awal. Pentingnya Kurikulum Pendidikan Agama Islam dalam Pembentukan Karakter Islami Siswa dan Relevansinya dengan Kebutuhan Zaman Pembentukan Karakter Islami Kurikulum Pendidikan Agama Islam memiliki peran strategis dalam membentuk karakter Islami siswa. Karakter Islami mencakup nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, keadilan, kasih sayang, disiplin, dan rasa hormat terhadap sesama. Proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang efektif memungkinkan siswa untuk: Memahami Nilai-Nilai Keislaman: Melalui materi seperti akidah, ibadah, dan akhlak, siswa diajarkan untuk mengenal nilai-nilai Islam dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Membangun Integritas Pribadi: Pendidikan moral berbasis Islam membantu siswa mengembangkan sikap amanah dan jujur, yang menjadi fondasi karakter Islami. Mendorong Kesalehan Sosial: Pendidikan Agama Islam juga menekankan pentingnya sikap peduli terhadap lingkungan sosial, seperti membantu sesama dan menjaga harmoni dalam masyarakat. Relevansi dengan Kebutuhan Zaman Kurikulum Pendidikan Agama Islam perlu terus disesuaikan agar relevan dengan tantangan dan kebutuhan zaman yang dinamis, termasuk: Era Digital dan Globalisasi: Di tengah kemajuan teknologi, siswa perlu diajarkan bagaimana menggunakan teknologi secara bijak dan Islami, misalnya menjauhi konten negatif dan memanfaatkan media untuk dakwah. Penguatan Literasi Keagamaan: Pemahaman Islam yang moderat dan toleran perlu ditekankan untuk menghadapi isu-isu radikalisme dan perpecahan di masyarakat. Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 2, 2024 Ikhtiar Cahya Ajir. Agus Pahrudin. Agus Jatmiko. Koderi Koderi Model Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam dalam Pendidikan Dasar Pengembangan Keterampilan Abad 21: Kurikulum Pendidikan Agama Islam dapat diintegrasikan dengan pembelajaran yang mendorong keterampilan berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, dan kreativitas, tanpa mengabaikan nilai-nilai agama. Meningkatkan Ketahanan Moral: Dengan pengaruh budaya asing yang kuat, kurikulum Pendidikan Agama Islam membantu siswa memiliki dasar moral yang kokoh untuk memilih dan memilah nilai yang sesuai dengan ajaran Islam. Namun, banyak masalah muncul dalam kurikulum Pendidikan Agama Islam di sekolah dasar. Kurikulum ini sering hanya menekankan aspek kognitif daripada pembentukan karakter holistik, tidak sesuai dengan kebutuhan zaman, dan tidak terintegrasi dengan pendekatan pembelajaran kontekstual (Asmani, 2018. Hasanah. Menurut Mahmud . , ada beberapa situasi di mana penerapan nilai-nilai Islami dalam kehidupan sehari-hari siswa belum dievaluasi dengan baik. Ini karena kurikulum tidak relevan dengan kehidupan nyata siswa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuat model kurikulum Pendidikan Agama Islam yang relevan, adaptif, dan berbasis nilai Islami untuk pendidikan dasar. Diharapkan model ini dapat mengintegrasikan nilai-nilai agama dengan pembelajaran kontekstual sehingga siswa tidak hanya memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang ajaran Islam, tetapi juga memperkuat penerapan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari mereka. Banyak konsep dan teori yang relevan mendukung penelitian ini. Teori pendidikan karakter Islami (Syahrin, 2. menekankan betapa pentingnya pendidikan agama untuk membentuk akhlak siswa. Teori kurikulum adaptif (Ornstein & Hunkins, 2. juga memberikan landasan untuk desain kurikulum yang dapat disesuaikan dengan perubahan sosial dan kebutuhan siswa. Selain itu, penelitian baru menunjukkan bahwa kerja sama antara guru, orang tua, dan pemangku kebijakan sangat penting untuk pengembangan kurikulum berbasis nilai (Rahman et al. , 2. Oleh karena itu, penelitian ini membantu mengembangkan teori dan praktik pendidikan agama Islam di tingkat dasar. Selain itu, penelitian ini memberikan Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 2, 2024 Ikhtiar Cahya Ajir. Agus Pahrudin. Agus Jatmiko. Koderi Koderi Model Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam dalam Pendidikan Dasar saran praktis untuk menerapkan kurikulum Pendidikan Agama Islam yang lebih efisien dan sesuai dengan tuntutan zaman. METODE Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah kualitatif dan berfokus pada pembuatan model kurikulum Pendidikan Agama Islam di tingkat pendidikan Sumber datanya meliputi wawancara, observasi, dan analisis dokumen yang berkaitan dengan kurikulum Pendidikan Agama Islam. Selain itu, deskripsi mendalam tentang pelaksanaan kurikulum Pendidikan Agama Islam, kebutuhan kurikulum, dan pendapat guru, siswa, dan pemangku kebijakan tentang relevansi kurikulum dengan zaman. Tiga metode utama digunakan untuk mengumpulkan data. Wawancara mendalam dilakukan dengan guru Pendidikan Agama Islam, kepala sekolah, siswa, dan orang tua untuk mengetahui kebutuhan, kesulitan, dan harapan terhadap kurikulum Pendidikan Agama Islam. Wawancara ini dilakukan dengan metode semi-terstruktur, yang memungkinkan hasil yang lebih mendalam. Dalam Pendidikan Aagama Islam, observasi digunakan selama proses pembelajaran di kelas untuk melacak metode pengajaran, materi yang digunakan, dan interaksi guru-siswa. Observasi juga mencakup penerapan nilai-nilai Islami dalam kehidupan sehari-hari siswa di lingkungan sekolah. Selain itu, dokumen yang Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dan laporan kegiatan pembelajaran. Tujuan dari analisis ini adalah untuk mengetahui apakah kurikulum sesuai dengan kebutuhan zaman dan relevan dengan pembentukan karakter Islami siswa. Data dianalisis secara bertahap. Pertama, data direduksi dengan membagi informasi berdasarkan topik utama, seperti kebutuhan kurikulum, masalah implementasi, dan peluang pengembangan. Data yang tidak relevan dieliminasi untuk memfokuskan analisis. Untuk memudahkan interpretasi dan analisis lebih lanjut, deskripsi naratif digunakan untuk menyajikan data yang telah direduksi. Langkah terakhir, penarikan kesimpulan, menguraikan hasil utama dan menjawab tujuan penelitian. Untuk memastikan bahwa data itu valid dan akurat, proses ini dilakukan berulang kali. Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 2, 2024 Ikhtiar Cahya Ajir. Agus Pahrudin. Agus Jatmiko. Koderi Koderi Model Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam dalam Pendidikan Dasar HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini menemukan bahwa untuk menciptakan kurikulum Pendidikan Agama Islam di tingkat pendidikan dasar, pendekatan yang lebih adaptif dan kontekstual diperlukan. Ini harus dilakukan untuk memenuhi tuntutan zaman dan membentuk karakter Islami pada siswa. Hasil dari wawancara dengan guru, kepala sekolah, dan orang tua menunjukkan bahwa kurikulum yang saat ini digunakan tidak relevan dengan perkembangan sosial dan budaya siswa. Karena materi ajar yang lebih berfokus pada hafalan dan teori agama, sebagian besar guru merasa sulit untuk memasukkan nilai-nilai Islami ke dalam kehidupan sehari-hari siswa. Kurikulum juga biasanya tidak memungkinkan keterampilan sosial dan pembelajaran berbasis pengalaman, yang penting untuk pembentukan karakter Observasi di kelas menunjukkan bahwa siswa lebih terlibat dan antusias ketika pelajaran dilakukan dengan pendekatan kontekstual seperti studi kasus dan proyek yang didasarkan pada prinsip-prinsip Islam. Siswa mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang ajaran agama melalui kegiatan pembelajaran Mereka juga dapat belajar bagaimana ajaran tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh, dalam proyek "Pahlawan Lingkungan", siswa diminta untuk menemukan masalah lingkungan di sekitar mereka dan mencari solusi berdasarkan prinsip-prinsip penjagaan Bumi Islam. Proyek seperti ini menunjukkan bahwa nilai Islami memiliki hubungan langsung dengan cara mereka diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Analisis dokumen kurikulum yang digunakan di sekolah dasar menunjukkan bahwa meskipun Pendidikan Aagama Islam termasuk dalam kurikulum, kurangnya penekanan diberikan pada pengembangan karakter siswa secara keseluruhan. Kurikulum lebih berkonsentrasi pada pengajaran konsep agama dan nilai-nilai Islami secara akademis dan teoritis, sementara kurangnya perhatian diberikan pada nilai-nilai praktis yang dapat diterapkan siswa dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini mengusulkan model pengembangan kurikulum Pendidikan Agama Islam yang berbasis pada nilai Islami dan relevansi kontekstual. Model ini mengedepankan tiga pilar utama: nilai Islami dimasukkan ke dalam semua mata pelajaran dan kegiatan sekolah, penggunaan pendekatan pembelajaran aktif yang Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 2, 2024 Ikhtiar Cahya Ajir. Agus Pahrudin. Agus Jatmiko. Koderi Koderi Model Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam dalam Pendidikan Dasar berbasis pengalaman, dan kerja sama yang kuat antara guru, orang tua, dan masyarakat untuk mendukung pembentukan karakter Islami siswa. Diharapkan model ini dapat menyelesaikan masalah yang dihadapi kurikulum Pendidikan Agama Islam saat ini. Sebagai contoh, memasukkan nilai Islami ke dalam pelajaran matematika atau ilmu pengetahuan alam dapat membantu siswa memahami lebih baik bagaimana ajaran agama berhubungan dengan ilmu Di sisi lain, metode pembelajaran aktif yang melibatkan proyek berbasis nilai Islami memberi siswa kesempatan untuk menerapkan pelajaran agama dalam kehidupan nyata. Mereka juga dapat memperkuat pembentukan karakter Islami di luar kelas. Tabel 1. Pilar utama dari model pengembangan kurikulum Pendidikan Agama Iskam yang diusulkan: Pilar Utama Contoh Implementasi - Menyisipkan nilai kejujuran dalam pelajaran Integrasi Nilai Islami Matematika. - Mengajarkan kerja sama dan toleransi dalam pelajaran IPA. - Studi kasus tentang penerapan nilai Islami Metode Pembelajaran Aktif dalam kehidupan nyata. - Proyek berbasis nilai Islami seperti kampanye lingkungan. Kolaborasi dengan Pemangku - Diskusi orang tua-guru tentang nilai Islami di Kepentingan - Kolaborasi dengan masyarakat dalam program "Belajar di Masjid". Tabel di atas dapat digunakan untuk menggambarkan alur model pengembangan kurikulum yang menggabungkan tiga pilar tersebut dengan penekanan pada penerapan nilai Islami dalam pembelajaran dan kehidupan siswa. Dengan model ini, diharapkan kurikulum PAI dapat lebih relevan, dinamis, dan efektif dalam membentuk karakter Islami siswa di tingkat pendidikan dasar. Kurikulum Pendidikan Agama Islam di sekolah dasar memiliki tantangan besar dalam menyesuaikan diri dengan perubahan zaman yang begitu cepat dalam hal sosial, teknologi, dan nilai-nilai kehidupan. Salah satu temuan penting dari penelitian ini adalah bahwa nilai-nilai Islam tidak diintegrasikan dengan kebutuhan pembelajaran siswa di tingkat dasar. Hal ini karena ada perbedaan antara kurikulum Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 2, 2024 Ikhtiar Cahya Ajir. Agus Pahrudin. Agus Jatmiko. Koderi Koderi Model Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam dalam Pendidikan Dasar Pendidikan Agama Islam saat ini dan persyaratan karakter dan pembentukan moral Karena pendidikan agama bukan hanya tentang pengetahuan, tetapi juga tentang penerapan nilai dalam kehidupan sehari-hari. Syahrin . mengatakan bahwa kurikulum Pendidikan Agama Islam seharusnya memprioritaskan pendidikan karakter Islami. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kurikulum Pendidikan Agama Islam di beberapa sekolah dasar masih terlalu menekankan aspek hafalan dan kognitif. Pendekatan ini penting, tetapi tidak sepenuhnya memenuhi kebutuhan siswa di fase pembentukan karakter dan moral. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Asmani pada tahun 2018 yang menemukan bahwa kurikulum agama di banyak sekolah dasar di Indonesia masih kurang memperhatikan aspek pengembangan karakter siswa secara keseluruhan. Studi ini juga menemukan bahwa kurikulum Pendidikan Agama Islam tidak relevan dengan kehidupan sehari-hari siswa. Banyak materi yang diajarkan di kelas terkesan berbeda dari kehidupan nyata siswa, sehingga mereka kurang memahami bagaimana nilai-nilai Islami dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini mengingatkan pada teori kurikulum adaptif yang diusulkan oleh Ornstein dan Hunkins . , yang menekankan betapa pentingnya kurikulum yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan sosial dan perkembangan zaman. Salah satu hal yang masih kurang dilakukan dalam pembelajaran agama Islam adalah penerapan nilai Islami dalam kehidupan sehari-hari siswa di sekolah. Penelitian ini menemukan bahwa tidak ada kegiatan yang menghubungkan siswa dengan nilai Islami dalam konteks praktis, seperti kegiatan sosial di masyarakat atau program berbasis lingkungan. Hal ini sesuai dengan pandangan Hasanah . , yang menyatakan bahwa kurikulum agama seharusnya mengajarkan nilainilai dalam konteks teori sambil memberi siswa kesempatan untuk mengalami dan menerapkan nilai-nilai tersebut. Sebaliknya, penelitian yang dilakukan di kelas menunjukkan bahwa siswa lebih responsif terhadap pendekatan pembelajaran aktif dan berbasis pengalaman. Studi kasus, diskusi kelompok, dan proyek berbasis nilai Islami menunjukkan hasil yang lebih baik dalam memahami dan menerapkan ajaran agama. Penelitian Mahmud . juga mendukung temuan ini dengan menekankan bahwa Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 2, 2024 Ikhtiar Cahya Ajir. Agus Pahrudin. Agus Jatmiko. Koderi Koderi Model Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam dalam Pendidikan Dasar pendekatan pembelajaran yang kontekstual dan berbasis pengalaman lebih efektif dalam meningkatkan pemahaman siswa tentang agama dan bagaimana ia dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun metode berbasis pengalaman memiliki potensi besar untuk digunakan, kurikulum saat ini membatasi penggunaan metode ini. Hal ini menunjukkan bahwa kurikulum Pendidikan Agama Islam tidak fleksibel cukup untuk memungkinkan pendekatan pembelajaran yang lebih dinamis. Hal ini sejalan dengan penelitian Rahman et al. , yang menyatakan bahwa kurikulum pendidikan di Indonesia seringkali terlalu kaku dan tidak responsif terhadap perubahan zaman. Pengembangan kolaborasi yang lebih erat antara sekolah, orang tua, dan masyarakat merupakan tantangan besar lainnya dalam pengembangan kurikulum Pendidikan Agama Islam. Studi ini menemukan bahwa meskipun terdapat upaya untuk melibatkan orang tua dalam pembelajaran agama, kerja sama mereka belum Sebuah kerja sama yang kuat antara sekolah dan orang tua sangat penting untuk menciptakan konsistensi dalam pembentukan karakter siswa, terutama dalam hal penerapan nilai Islami. Syamsuddin . menyatakan hal ini. Salah satu temuan penelitian ini adalah bahwa masyarakat harus berperan dalam mendukung pembelajaran Pendidikan Agama Islam di luar sekolah. Sekolahsekolah yang menerapkan program berbasis masyarakat, seperti "Belajar di Masjid," telah menunjukkan hasil yang baik dalam meningkatkan pemahaman siswa tentang ajaran Islam dan bagaimana ajaran tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan nyata. Program-program seperti ini juga sejalan dengan teori Piaget bahwa pembelajaran yang lebih efektif terjadi ketika melibatkan konteks sosial siswa secara langsung. Penelitian ini juga menunjukkan betapa pentingnya menyesuaikan kurikulum Pendidikan Agama Islam dengan kemajuan teknologi. Salah satu temuan yang sangat menarik adalah bahwa tidak ada teknologi yang digunakan dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Mengingat perkembangan teknologi yang pesat, kurikulum Pendidikan Agama Islam harus disesuaikan untuk memasukkan media digital untuk membuat materi lebih menarik dan relevan dengan kehidupan Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 2, 2024 Ikhtiar Cahya Ajir. Agus Pahrudin. Agus Jatmiko. Koderi Koderi Model Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam dalam Pendidikan Dasar Ini sejalan dengan hasil Khoiri . , yang mengatakan bahwa teknologi dapat menjadi alat yang efektif untuk meningkatkan pembelajaran agama. Meskipun demikian, penelitian ini juga mengakui bahwa cakupan dan metode yang digunakan untuk melakukan penelitian terbatas. Studi ini hanya melihat beberapa sekolah dasar di wilayah tertentu, bukan seluruh wilayah Indonesia. Oleh karena itu, temuan ini mungkin tidak sepenuhnya mewakili kondisi di semua sekolah dasar di Indonesia. Penelitian tambahan diperlukan untuk mengetahui bagaimana kurikulum Pendidikan Agama Islam berbasis nilai Islami diterapkan di berbagai daerah dengan latar belakang yang berbeda. Sebagai hasil dari penelitian ini, kurikulum Pendidikan Agama Islam di tingkat pendidikan dasar harus difokuskan pada nilai Islami yang dapat diterapkan dalam kehidupan siswa. Sangat penting untuk membentuk generasi muda yang tidak hanya memiliki pemahaman agama yang baik tetapi juga mampu mengamalkan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari melalui kurikulum yang didasarkan pada pengembangan karakter dan moral yang menyeluruh. Hal ini sejalan dengan saran Nurtjahjo . , yang menekankan pentingnya pendidikan agama dengan memasukkan nilai moral dan karakter dalam proses pendidikan. Selain itu, kolaborasi antara guru, orang tua, dan masyarakat harus diperkuat untuk membuat lingkungan yang mendukung penerapan nilai Islami dalam kehidupan siswa. Keterlibatan orang tua dalam pendidikan agama anak-anak mereka harus dianggap sebagai bagian integral dari upaya sekolah. Hal ini akan membantu siswa menginternalisasi prinsip agama secara teratur, baik di sekolah maupun di rumah. Kurikulum Pendidikan Agama Islam harus didesain agar lebih dinamis dan mampu beradaptasi dengan perubahan sosial dan teknologi yang terjadi di Kurikulum yang kaku dan tidak fleksibel hanya akan membatasi kemampuan siswa untuk memahami dan menerapkan nilai-nilai Islami. Salah satu tantangan yang harus diatasi saat membangun kurikulum Pendidikan Agama Islam adalah keterbatasan dalam penerapan metode pembelajaran berbasis pengalaman. Pembelajaran aktif dan berbasis pengalaman telah terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman siswa tentang ajaran Islam dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Namun, untuk mengoptimalkan Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 2, 2024 Ikhtiar Cahya Ajir. Agus Pahrudin. Agus Jatmiko. Koderi Koderi Model Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam dalam Pendidikan Dasar metode ini, diperlukan perubahan pada struktur kurikulum dan penyediaan sumber daya yang memadai. Hasilnya menunjukkan bahwa kurikulum Pendidikan Agama Islam di sekolah dasar harus dibangun dengan tiga pilar utama: penerapan nilai Islami di setiap mata pelajaran, penerapan metode pembelajaran yang aktif dan berbasis pengalaman, dan kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan masyarakat. Diharapkan ketiga pilar ini akan menghasilkan siswa yang tidak hanya memiliki pemahaman agama yang baik tetapi juga mampu menerapkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari. KESIMPULAN Untuk menjadi lebih relevan dan efektif dalam membentuk karakter Islami siswa, kurikulum Pendidikan Agama Islam yang saat ini digunakan di banyak sekolah dasar harus diperbaiki secara substansial. Penelitian yang dilakukan mengenai pengembangan kurikulum Pendidikan Agama Islam di sekolah dasar menemukan bahwa kurikulum saat ini lebih banyak berfokus pada aspek kognitif dan hafalan daripada memberikan perhatian yang cukup pada penerapan nilai-nilai Islami dan pengembangan karakter. Selain itu, kurikulum Pendidikan Agama Islam harus disesuaikan dengan konteks sosial dan perkembangan zaman yang ada. Kurikulum yang didasarkan pada nilai Islami harus disesuaikan untuk mengatasi tantangan zaman, termasuk kemajuan teknologi dan perubahan sosial. Penggunaan teknologi dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam, misalnya, dapat membuat pembelajaran lebih menarik dan relevan bagi siswa. Namun, penerapan metode ini memerlukan perubahan struktural dalam kurikulum. Faktor penting dalam mendukung keberhasilan pengembangan kurikulum Pendidikan Agama Islam adalah kolaborasi yang lebih erat antara sekolah, orang tua, dan masyarakat. Kerja sama antara ketiga pihak tersebut akan menciptakan lingkungan yang mendukung penerapan nilai Islami secara konsisten dalam kehidupan siswa, baik di sekolah maupun di rumah. Program-program yang melibatkan masyarakat, seperti "Belajar di Masjid" atau kegiatan sosial berbasis nilai Islami, dapat menjadi sarana yang efektif untuk meningkatkan pembelajaran agama di luar kelas. Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 2, 2024 Ikhtiar Cahya Ajir. Agus Pahrudin. Agus Jatmiko. Koderi Koderi Model Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam dalam Pendidikan Dasar Peneliti yang akan datang harus melakukan penelitian lebih lanjut tentang penerapan kurikulum Pendidikan Agama Islam berbasis nilai Islami di berbagai daerah dengan latar belakang yang berbeda. Penelitian yang melibatkan sampel yang lebih luas dan beragam akan memberikan gambaran yang lebih komprehensif tentang tantangan dan peluang dalam pengembangan kurikulum Pendidikan Agama Islam. Selain itu, penelitian juga dapat mengkaji lebih dalam tentang seberapa efektif teknologi Pendidikan Agama Islam. Kurikulum Pendidikan Agama Islam harus lebih memprioritaskan pengembangan karakter siswa secara keseluruhan, yang mencakup bukan hanya perkembangan kognitif tetapi juga perkembangan afektif dan psikomotorik. Agar kurikulum Pendidikan Agama Islam menjadi lebih efektif dalam membentuk generasi muda yang memiliki pemahaman agama yang baik dan dapat mengaplikasikan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari, pendekatan berbasis pengalaman, kolaborasi dengan masyarakat, dan teknologi harus diterapkan. REFERENSI