Faizah Nurcholish. Ardhian Nova Pratama. Yulianto Strategi Pemberdayaan Ekonomi Kreatif melalui Fotografi bagi Siswa SLB Negeri Sragen STRATEGI PEMBERDAYAAN EKONOMI KREATIF MELALUI FOTOGRAFI BAGI SISWA SLB NEGERI SRAGEN Faizah Nurcholish1. Ardhian Nova Pratama2. Yulianto3 1,2,3 Institut Seni Indonesia Surakarta Faizahnurcholish19@gmail. com1, ardhiannovapratama@std. isi-ska. yuliantomurni@isi-ska. ABSTRAK Penyandang disabilitas di Indonesia masih menghadapi hambatan dalam mengakses pendidikan dan peluang ekonomi secara inklusif. Artikel ini membahas strategi pemberdayaan ekonomi kreatif melalui pelatihan fotografi bagi siswa tunarungu di SLB Negeri Sragen. Kegiatan ini merupakan bagian dari program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) FSRD ISI Surakarta dengan skema Proyek Kemanusiaan, yang dirancang menggunakan metode kualitatif, pendekatan partisipatif, transfer knowledge, serta Focus Group Discussion (FGD). Selama tiga bulan pelatihan, siswa memperoleh keterampilan dasar fotografi, mempraktikkan pemotretan produk hasil karya mereka, dan menghasilkan output berupa eAckatalog sebagai media promosi. Hasil menunjukkan peningkatan kepercayaan diri, partisipasi sosial, serta munculnya minat untuk melanjutkan pendidikan di bidang Temuan ini memperkuat relevansi fotografi tidak hanya sebagai media ekspresi seni, tetapi juga sebagai sarana pemberdayaan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Kegiatan ini sekaligus mencerminkan pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi dalam konteks pendidikan seni yang berorientasi pada pengabdian masyarakat dan transformasi sosial. Kata kunci: fotografi, pemberdayaan, disabilitas, ekonomi kreatif. SLB ABSTRACT Persons with disabilities in Indonesia continue to face significant barriers in accessing inclusive education and economic opportunities. This article explores a creative economy empowerment strategy through photography training for deaf students at SLB Negeri Sragen. The program is part of the Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) initiative by the Faculty of Fine Arts and Design. ISI Surakarta, under the Humanitarian Project scheme. Employing a qualitative approach, the training integrates participatory methods, knowledge transfer, and Focus Group Discussions (FGD. Over a three-month period, students developed basic photography skills, practiced product photography of their handmade crafts, and produced a digital catalog for promotional purposes. The results indicate a significant increase in self-confidence, social participation, and emerging aspirations to pursue higher education in photography. These findings affirm that photography functions not only as a medium for artistic expression but also as a tool for inclusive and sustainable economic empowerment. Moreover, this program exemplifies the implementation of the Tri Dharma of Higher Education through art-based community service and social transformation. Keywords: photography, empowerment, disability, creative economy, special needs education Volume 17 Nomor 1 Juni 2026 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 PENDAHULUAN Penyandang disabilitas di Indonesia menjadi salah satu kelompok sosial yang menghadapi berbagai hambatan struktural dan kultural dalam mengakses pendidikan dan ekonomi secara setara. Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa angka jumlah disabilitas mencapai 22,5 juta jiwa atau lima persen dari populasi pada tahun 2020, angka ini menunjukan besar kelompok disabilitas di Indonesia namun partisipasi angkatan kerja dari kelompok penyandang disabilitas hanya sebesar 45,9%, jauh di bawah rata-rata nasional yang berada di atas 65%, data terbaru BPS di tahun 2023 menunjukkan bahwa pekerja dari kelompok disabilitas masih rendah hanya mencapai 763. 925 jiwa atau sekitar 0,55 persen dari total tenaga kerja nasional (Karomalloh, 2. Kondisi ini tidak hanya mencerminkan keterbatasan kesempatan kerja formal bagi difabel, tetapi juga minimnya upaya pemberdayaan yang inklusif dan berbasis potensi mereka. Perkembangan ekonomi kreatif Indonesia menunjukkan tren yang positif. Menurut Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, 2. , sektor ekonomi kreatif menyumbang lebih dari 7% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, dan fotografi merupakan salah satu subsektor yang mengalami pertumbuhan signifikan, terutama sejak era digitalisasi media dan e-commerce. Fotografi tidak hanya menjadi bentuk ekspresi seni, tetapi juga membuka peluang usaha seperti jasa foto produk UMKM, dokumentasi acara, hingga konten kreatif di media sosial. Fotografi memiliki karakteristik fleksibel dan adaptif, yang memungkinkan siapa saja, termasuk individu berkebutuhan khusus, untuk mengembangkan keterampilan ini dengan pendekatan yang Di kalangan penyandang disabilitas, fotografi telah digunakan sebagai media ekspresi diri, terapi visual, sekaligus alat pemberdayaan ekonomi. Penelitian oleh Wardani & Sumarsono dalam Jurnal Komunikasi Visual menunjukkan bahwa pelatihan fotografi mampu meningkatkan rasa percaya diri, komunikasi visual, serta membuka peluang kolaborasi kreatif bagi remaja difabel (Wardani, 2. Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Sragen sebagai lembaga pendidikan khusus di wilayah Jawa Tengah memiliki latar yang kuat untuk menjadi tempat pelatihan strategi pemberdayaan berbasis fotografi. Sekolah luar bias aini menampung siswa dengan berbagai Volume 17 Nomor 1 Juni 2026 Faizah Nurcholish. Ardhian Nova Pratama. Yulianto Strategi Pemberdayaan Ekonomi Kreatif melalui Fotografi bagi Siswa SLB Negeri Sragen ragam disabilitas termasuk tunagrahita, tunarungu, dan autisme ringan yang memiliki potensi dalam keterampilan praktis, seni, dan teknologi. Meskipun telah tersedia pelatihan keterampilan seperti menjahit, membatik, kriya, otomotif, dan berkebun belum banyak program yang mengintegrasikan fotografi sebagai bentuk keterampilan kewirausahaan. Hasil karya dari beberapa ketrampilan yang berada di SLB Negeri Sragen berupa Kriya, batik, dan jahit mengalami kurangnya ruang apresiasi dan ilmu pengarsipan, karyakarya tersebut hanya disimpan dan dibiarkan di ruang kelas, dalam hal ini dibutuhkan solusi untuk memperpanjang umur hasil karya dengan arsip untuk menjadikan model pembelajaran selanjutnya dan katalog sebagai media dokumentasi, promosi, dan edukasi. E-katalog menjadi solusi singkat dengan memanfaatkan platform dan fotografi sehingga memberikan nilai jual pada karya karya tersebut dan menjadi barang jual yang dikenal khalayak umum, peran fotografi dalam hal ini menjadi penting bagaimana sebuah hasil tangan dipertunjukan dan dikenalkan bagaimana karakteristik, dan kualitasnya sehingga dapat menarik daya jual. Melalui pelatihan fotografi komersial untuk siswa-siswi di SLB Negeri Sragen dapat memberikan efek jangka panjang bagi perekonomian SLB Negeri Sragen melalui E-katalog Hasil tangan siswa-siswi SLB Negeri Sragen yang di publikasikan dalam platform Instagram, pelatihan fotografi tidak hanya membawakan manfaat bagi SLB Negeri sragen tetapi juga sebagai pelatihan skill ekonomi kreatif berbasis fotografi bagi siswa, pelatihan fotografi yang diperoleh melalui materi memiliki manfaat yang signifikan bagi masa depan siswa baik dalam hal pengembangan diri, karir secara professional, maupun kontribusi sosial, hal ini didukung oleh fungsi fotografi sebgaia media komunikasi visual yang relevan di era digital Menurut Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 (Pemerintah Indonesia, 2. tentang Penyandang Disabilitas, negara berkewajiban untuk menyediakan akses keterampilan dan pelatihan kerja bagi penyandang disabilitas sebagai bentuk pemenuhan hak dan kesetaraan. Selain itu. Peraturan Presiden Nomor 68 Tahun 2020 (Pemerintah Republik Indonesia, 2. tentang Komisi Nasional Disabilitas mendorong sinergi lintas sektor dalam pemberdayaan sosial ekonomi difabel. Oleh karena itu, pelatihan fotografi di SLB bukan hanya bersifat teknis, tetapi merupakan bagian dari strategi pemberdayaan yang berdampak jangka panjang. Volume 17 Nomor 1 Juni 2026 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 Permasalahan yang akan dikaji dalam penulisan ini antara lain bagaimana fotografi dapat menjadi potensi ekonomi kreatif berdasarkan minat bakat, serta bagaimana fotografi menjadi media yang tidak hanya menekankan pada keterampilan teknis, tetapi juga pada pembentukan mindset kreatif, membentuk karakter dan menumbuhkan peran sosial siswa siswi SLB Negeri Sragen. Penelitian ini didasarkan pada beberapa penelitian terdahulu. Penelitian yang dilakukan oleh wardani pada tahun 2021 mengkaji tentang fotografi sebagai media ekspresi visual remaja difabel (Wardani, 2. , namun dalam penulisan ini tidak membahas terkait bagaimana ekonomi kreatif. Penelitian selanjutnya yang dikaji oleh (Putra & Wijaya, 2. membahas tentang pelatihan fotografi, videografi, dan menulis bertia di media sosial, namun pada artikel ini belum membahas secara merinci tentang ekonomi kreatif dan lebih terjurus ke Jurnalistik. Pembahasan mengenai ekonomi kreatif pernah diungkapkan oleh (Rusmini. Masfiah. Rohman. Amanda, & Zahro, 2. , (Pratama & Wijayanti, 2. , (Junaedi & Rojali, 2. , penelitian tersebut memberikan wawasan tentang ekonomi kreatif yang menjadi salah satu topik bahasan, namun demikian penelitian-penelitian tersebut tidak membahas tentang strategi pemberdayaan terhadap disabilitas. Oleh sebab itu, penelitian ini diharapkan dapat mengisi kekosongan kajian tentang Strategi Pemberdayaan Ekonomi Kreatif Melalui Fotografi Bagi Siswa Slb Negeri Sragen yang belum dikaji oleh peneliti METODE Artikel ini menggunakan metode kualitatif dengan transfer knowledge dan partisipasi aktif untuk menjadi pendekatan yang inklusif. Metode penelitian kualitatif menurut Prof. Dr. Lexy J. Moleong. A pada bukunya yang berjudul AuMetodelogi penelitian KualitatifAy merujuk kepada definisinya sebagai penelitian yang memanfaatkan wawancara secara terbuka untuk menelaah dan memahami sikap, pandangan, perasaan, dan perilaku individu atau sekelompok orang (Prof. Dr. Lexy J. Moleong, 2. Transfer knowledge melibatkan proses alih keterampilan dari pelatih ke peserta secara sistematis dan kontekstual,sementara pendekatan partisipatif menempatkan peserta . alam hal ini siswa SLB) sebagai subjek aktif dalam proses pelatihan. Metode partisipatif dan metode transfer knowledge bertujuan untuk Volume 17 Nomor 1 Juni 2026 Faizah Nurcholish. Ardhian Nova Pratama. Yulianto Strategi Pemberdayaan Ekonomi Kreatif melalui Fotografi bagi Siswa SLB Negeri Sragen memastikan keterlibatan aktif peserta sekaligus menjamin keberlanjutan pengetahuan yang Metode partisipatif merupakan pendekatan yang menekankan keterlibatan aktif peserta dalam seluruh proses kegiatan, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi. Tujuan dari metode ini adalah menciptakan rasa memiliki dan meningkatkan efektivitas implementasi karena peserta tidak hanya menjadi objek, tetapi juga subjek dalam kegiatan (Chamber, 1. Pelaksanaan metode partisipatif dalam kegiatan ini akan dilakukan melalui Diskusi Kelompok Terarah (FGD)untuk menggali pengetahuan lokal dan pandangan peserta. Simulasi dan Studi Kasus agar peserta terlibat langsung dalam pemecahan masalah yang kontekstual. Sesi Umpan Balik Terbuka di mana peserta dapat memberikan masukan terhadap materi maupun proses kegiatan (UNESCO, 2. Langkah-langkah penelitian yang dilakukan terdiri dari pengumpulan data, observasi, praktek, dan penyusunan fakta-fakta menjadi artikel ilmiah. Observasi dilakukan secara reflektif dengan mengamati proses, hasil karya, dan respon siswa selama pelatihan Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan model pelatihan wirausaha kreatif berbasis jasa, keterampilan fotografi yang inklusif, serta memberikan rekomendasi kebijakan bagi sekolah dan pemangku kepentingan dalam pendidikan khusus dan ekonomi kreatif. HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan pelatihan fotografi sebagai strategi pemberdayaan ekonomi kreatif bagi siswa SLB Negeri Sragen berlangsung selama tiga bulan, yakni dari Maret hingga Juni 2025. Pelatihan Fotografi ini merupakan bagian dari program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang diselenggarakan oleh Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ISI Surakarta melalui skema proyek kemanusiaan yang menjadi bentuk kongkret dalam pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi khususnya dalam aspek pengabdian kepada masyarakat. Pelatihan ini melibatkan 15 hingga 20 siswa tunarungu SMP-LB dan SMA-LB yang mengikuti rangkaian kegiatan berbasis metode observasi, transfer knowledge, partisipatori, dan Focus Group Discussion (FGD). Strategi ini dipilih agar siswa tidak hanya menjadi objek pelatihan, tetapi juga subjek aktif yang terlibat dalam proses kreatif. Volume 17 Nomor 1 Juni 2026 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 Gambar 1. Siswa tunarungu SLB Negeri Sragen mengikuti rangkaian pelatihan Fotografi . oto oleh: Tim MBKM SLB Negeri Srage. Program pelatihan ini diawali dengan riset dan studi mengenai target siswa, jumlah, dan lingkungan SLBN Sragen sehingga dapat Menyusun materi dengan tepat dan sesuai. Pada hari pertama pelatihan dimulai dengan pengenalan dasar-dasar fotografi, meliputi pemahaman terhadap fungsi peralatan fotografi, studi cahaya, dan prinsip dasar komposisi. Dalam tahap ini, metode pembelajaran dilakukan secara visual dan praktik langsung untuk menyesuaikan dengan kebutuhan komunikasi siswa tunarungu. Penyampaian materi dilakukan secara interktif dan aplikatif yang membuat siswa mudah memahami teori melalui pengamatan nyata pada hasil contoh foto, peserta juga diperkenalkan dengan studi cahaya dengan melakukan eksperimen penyinaran terhadap objek menggunakan cahaya buatan dari senter dengan cara ini peserta dapat belajar bagaimana arah, intensitas, dan sudut cahaya yang mempengaruhi bentuk, bayangan, kontras, dan suasana foto, dua pendekatan praktek ini visual terbukti efektif dalam membangun pemahaman dan memfasilitasi eksplorasi kreatif Setelah sesi pengenalan fotografi dasar melalui materi, siswa diajak melakukan sesi hunting foto bersama secara berkelompok di lingkungan sekolah baik di dalam maupun di luar ruang, dalam sesi ini peserta diajak untuk mempraktikan prinsip prinsip dasar komposisi seperti Rule Of Third. Framming. Angel, dan Point of interest. Setelah sesi hunting Bersama Focus Grup Discussion dilakukan untuk berdiskusi mengenai foto-foto yang telah diambil dengan menerapkan pemahaman dasar yang telah dipaparkan mengenai teknis dasar. Volume 17 Nomor 1 Juni 2026 Faizah Nurcholish. Ardhian Nova Pratama. Yulianto Strategi Pemberdayaan Ekonomi Kreatif melalui Fotografi bagi Siswa SLB Negeri Sragen komposisi, serta studi cahaya. Kegiatan ini tidak hanya memperkuat kemampuan teknis, tetapi juga mendorong interaksi sosial dan kerja sama antar siswa. Sesi selanjutnya adalah pelatihan fotografi komersial menggunakan studio set sederhana untuk memotret produk-produk hasil karya tangan siswa SLB, seperti kerajinan tangan, batik, dan jahit pemotretan dilakukan secara outdoor atau di luar ruangan dengan metode Mix light yaitu menggunakan cahaya buatan dan cahaya alami . serta melibakan siswa SLB Negeri Sragen sebagai model, fotografer, penata ruang, penata cahaya, dan pengarah model menjadi satu kelompokyang saling bekerja sama. Pelatihan fotografi komersial dirancang untuk melatih peserta agar mampu mengaplikasikan pengetahuan komposisi dan pengendalian cahaya ke dalam situasi pemotretan produk nyata. Tahap awal pada sesi ini peserta diperkenalkan dan diajak untuk memhami bagaimana cara menampilkan keunikan berupa detail dan tekstur pada setiap produk agar tampak menarik dan professional di foto, dengan pendekatan ini peserta belajar menyeimbangkan dan mengatur arah cahaya agar detail produk seperti motif batik, tekstur kain jahit, atau kehalusan permukaan kerajinan tangan dapat terlihat jelas, peserta juga diajak bereksperimen memotret dengan berbagai sudut pengambilan gambar, mulai dari eye level, top view, hingga detail close up, untuk memperkaya variasi foto produk. Melalui praktik ini, peserta diharapkan memahami pentingnya pengaturan cahaya campuran untuk menghasilkan gambar produk yang tampak natural, hidup, dan siap digunakan sebagai materi promosi di katalog, media sosial, atau marketplace, selain aspek komersial peserta juga diharapkan memahami peran dan nilai kerjasama dalam fotografi dari berbagai peran dan cara bekerja dari mulai kamera, pencahayaan, refleksi cahaya, model, hingga pengarah model. Dengan demikian, keterampilan ini menjadi bekal penting bagi peserta untuk mendukung industri kreatif dan usaha lokal yang memerlukan foto produk berkualitas. Volume 17 Nomor 1 Juni 2026 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 Gambar 2. Proses Pemotretan komersial produk hasil SLB Negeri Sragen untuk dijadikan E-katalog (Foto oleh: Tim MBKM SLB Negeri Srage. Kendala utama dalam pelaksanaan kegiatan ini adalah hambatan komunikasi antara fasilitator dan peserta. Perbedaan cara berkomunikasi menuntut adanya penyesuaian metode penyampaian materi agar dapat diterima dengan baik oleh seluruh peserta, fasilitator harus lebih sabar dan kreatif dalam menyampaikan instruksi praktik, sering menggunakan gerakan tangan, visual, dan contoh langsung agar peserta dapat mengikuti setiap tahap pembelajaran Untuk mengatasi hal tersebut, fasilitator berkolaborasi dengan guru SLB Negeri Sragen sebagai penerjemah Bahasa Isyarat dan juga mempelajari dasar bahasa isyarat sebagai modal utama untuk berkomunikasi secara dasar serta menyusun materi ajar yang berbasis Adaptasi ini menjadi poin penting dalam menciptakan ruang belajar yang inklusif dan Meskipun demikian, tantangan ini justru menjadi pembelajaran berharga untuk mengasah kemampuan komunikasi visual yang pada akhirnya juga menjadi inti dari fotografi itu sendiri. Hambatan ini tidak menyurutkan semangat peserta untuk belajar dan mencoba hal-hal baru, bahkan mereka menunjukkan antusiasme tinggi dalam setiap sesi praktik. Hal ini membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukan menjadi penghalang untuk berdaya secara Dengan dukungan pendampingan dan sarana yang memadai, kegiatan ini dapat menjadi fondasi kuat untuk membangun kepercayaan diri dan kemandirian ekonomi bagi Volume 17 Nomor 1 Juni 2026 Faizah Nurcholish. Ardhian Nova Pratama. Yulianto Strategi Pemberdayaan Ekonomi Kreatif melalui Fotografi bagi Siswa SLB Negeri Sragen para siswa berkebutuhan khusus, sekaligus membuktikan bahwa setiap individu memiliki potensi untuk berkontribusi dan berkarya, tanpa terkecuali. Dari keseluruhan proses pelatihan, diperoleh output berupa e-katalog produk berbasis fotografi siswa dalam akun Instagram @ananta. hasta, yang difungsikan sebagai media promosi untuk mendukung kegiatan wirausaha kreatif sekolah. Selain hasil karya, indikator keberhasilan program juga tercermin dari munculnya aspirasi pendidikan lanjutan di kalangan siswa. Beberapa peserta aktif menunjukkan minat dan bertanya mengenai kemungkinan untuk melanjutkan pendidikan di bidang fotografi di tingkat perguruan tinggi. Hal ini menandakan bahwa pelatihan tidak hanya membekali keterampilan praktis, tetapi juga membuka cakrawala berpikir dan membentuk harapan baru terhadap masa depan siswa dan siswi SLB Negeri sragen. Gambar 3. Hasil Pemotretan komersial produk hasil SLB Negeri Sragen untuk dijadikan E-katalog . oto oleh: Siswa-siswi SLBN Sragen peserta pelatiha. Keberhasilan kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa pemberdayaan ekonomi kreatif melalui fotografi sangat efektif diterapkan di lingkungan siswa-siswi SLB Negeri Sragen. Melalui keterampilan fotografi, mereka dapat diarahkan untuk mandiri, memiliki keahlian yang bernilai jual, serta membuka peluang kerja maupun usaha di bidang kreatif. Statement singkat dari guru pendamping SLB Negeri Sragen Ibu Iin Widayati, turut memperkuat temuan ini. Dalam wawancaranya, beliau menyampaikan: Volume 17 Nomor 1 Juni 2026 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 AuAnak-anak sangat senang mengikuti pelatihan ini, bukan hanya karena bisa belajar fotografi, tetapi juga karena mereka mendapatkan interaksi sosial dari lingkungan luar Beberapa siswa bahkan mulai menyadari bahwa mereka punya minat dan bakat di Ini menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi mereka. Ay Pernyataan tersebut menegaskan bahwa program ini tidak hanya berdampak pada sisi keterampilan teknis dan ekonomi, tetapi juga memberikan pengalaman sosial dan emosional yang bermakna bagi siswa. Interaksi dengan fasilitator dan proses kreatif membuka ruang dialog dan kepercayaan diri, yang penting bagi proses tumbuh-kembang anak berkebutuhan Gambar 4. Foto pra-produksi peserta . oto oleh: siswa dan sisiwi peserta pelatihan fotograf. PENUTUP Pelatihan fotografi yang diselenggarakan bagi siswa SLB Negeri Sragen telah membuktikan bahwa seni visual, khususnya fotografi, memiliki potensi besar sebagai medium pemberdayaan ekonomi kreatif yang inklusif. Melalui pendekatan transfer knowledge, metode partisipatif, serta komunikasi berbasis visual, pelatihan ini tidak hanya meningkatkan keterampilan teknis para siswa tunarungu, tetapi juga membangun kepercayaan diri, memperluas ruang interaksi sosial, serta menumbuhkan aspirasi terhadap pendidikan lanjutan di bidang fotografi. Output yang dihasilkan berupa karya-karya fotografi dan e-katalog produk siswa menjadi bukti konkret bahwa kreativitas yang diasah dengan pendekatan yang tepat mampu mendorong produktivitas dan kemandirian kelompok difabel. Pelatihan ini lebih dari sekadar teknis, program ini merupakan representasi nyata dari Volume 17 Nomor 1 Juni 2026 Faizah Nurcholish. Ardhian Nova Pratama. Yulianto Strategi Pemberdayaan Ekonomi Kreatif melalui Fotografi bagi Siswa SLB Negeri Sragen pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi khususnya dalam aspek pengabdian masyarakat yang dilaksanakan melalui skema Proyek Kemanusiaan dalam program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) FSRD ISI Surakarta. Program ini telah membentuk ruang belajar yang setara dan memberdayakan, di mana siswa tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga Faktor utama dalam proses pembelajaran yang bermakna. Berdasarkan hasil pelaksanaan dan dampak yang ditimbulkan, terdapat beberapa rekomendasi penting untuk pengembangan program serupa di masa mendatang. Pertama, pelatihan fotografi bagi siswa berkebutuhan khusus idealnya tidak berhenti sebagai kegiatan satu kali, melainkan dikembangkan dalam skema program berkelanjutan. Pembinaan lanjutan perlu dirancang secara sistematis bagi siswa yang menunjukkan potensi di bidang fotografi, sehingga keterampilan yang telah diperoleh dapat terus diasah dan diarahkan menjadi keahlian profesional yang bernilai ekonomi. Keberhasilan program ini menegaskan pentingnya kolaborasi antarlembaga, baik antara sekolah luar biasa, perguruan tinggi, maupun pelaku industri kreatif. Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci dalam menciptakan ekosistem pemberdayaan yang tidak hanya berorientasi pada pelatihan, tetapi juga menciptakan akses nyata terhadap pendidikan tinggi, magang, serta peluang kerja bagi penyandang disabilitas di sektor industri kreatif. Upaya peningkatan efektivitas pelatihan dalam pendidikan inklusif, perlu dilakukan peningkatan kapasitas fasilitator, terutama dalam penguasaan bahasa isyarat dan penggunaan metode pembelajaran berbasis visual. Hal ini menjadi sangat krusial mengingat komunikasi merupakan faktor utama dalam membangun relasi edukatif yang setara antara pelatih dan peserta pelatihan dengan hambatan komunikasi. Model pelatihan ini memiliki potensi besar untuk direplikasi dan dikembangkan secara lebih luas. Replikasi program di berbagai sekolah luar biasa di Indonesia sangat memungkinkan, terutama jika disesuaikan dengan kebutuhan lokal dan dikombinasikan dengan pendekatan seni dan teknologi. Dengan demikian, pelatihan fotografi dapat menjadi prototipe strategis untuk memperkuat pemberdayaan ekonomi kreatif bagi kelompok disabilitas secara nasional. Volume 17 Nomor 1 Juni 2026 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 DAFTAR PUSTAKA